Dalam ceramahnya, Brené Brown, seorang peneliti ilmu sosial, menyoroti tentang “kelemahan palsu” dan membagikan kisah pribadinya tentang bagaimana “ketidakpastian” menjadi inti dari pertumbuhan dan pencerahan pribadinya sendiri dalam penelitiannya.
Dalam karirnya, Brené memiliki misi untuk mendekonstruksi “rasa malu”, sebuah keyakinan yang membuat orang merasa tidak pantas untuk dicintai dan memiliki hubungan dengan orang lain. Dia ingin mengetahui alasan mengapa beberapa orang tidak suka / mau bersosial (bergaul), sementara yang lain dengan bebas bergaul (bersosial). Brené menganggapnya hal ini tidak layak dan aneh.
KETAKUTAN TIDAK ‘LAYAK’ UNTUK DIMILIKI JADI BERHENTILAH MEMILIKINYA.
Ketika Brené mengalami krisis pribadi, hidupnya terguncang keras dan mendorongnya menjadi sadar untuk mengubah hidupnya.
Setelah jeda dari krisis pribadinya, dia tiba-tiba menyadari bahwa orang-orang yang mengalami hubungan sosial yang baik merasa nyaman dengan kelemahan mereka. Sedangkan, orang yang merasa malu dan tidak berharga, dan merusak hubungan mereka dengan orang lain, mereka sebenarnya merasa sangat tidak nyaman dengan kelemahan mereka dan tidak menerimanya. Mereka mungkin mencoba untuk mengimbangi perasaan tidak nyaman ini dengan menjadi agresif, mengasingkan diri, atau menjadi terlalu menghakimi dan kritis terhadap diri mereka sendiri, sementara yang lainnya mencoba berjuang untuk menjadi sempurna, namun tidak pernah dapat memenuhinya.
Perilaku dan perasaan ini merusak harga diri dan mengganggu keterbukaan dan integritas hubungan nyata dengan orang lain.
Dari penelitiannya selama bertahun-tahun, telah mengumpulkan data dari ribuan orang, Brené mengidentifikasi ciri-ciri umum orang-orang yang dapat menerima kelemahan mereka. Dari daftar ini, kita dapat mengambil beberapa wawasan berharga.
Ciri-ciri Orang yang Menerima Kelemahan Mereka:
Mereka memiliki keberanian untuk membiarkan diri mereka tidak sempurna.
Mereka mampu bersikap baik dan berbelas kasih kepada diri mereka sendiri, serta orang lain.
Mereka apa adanya.
Mereka merangkul kelemahan mereka, dan bahkan melihat keindahan di dalamnya.
Mereka menyadari bahwa kelemahan adalah bagian penting dari kehidupan.
Mereka memahami bahwa setiap orang berjuang dengan kelemahannya.
Mereka telah melihat bahwa kelemahan dapat menjadi sumber dari banyak hal positif, seperti inspirasi dan kegembiraan.
Menerima Suatu Kebaikan Bersaman dengan Keburukannya
Dalam ceramahnya, Brené membahas bagaimana hidup mengandung perasaan positif dan negatif; Anda tidak bisa menolak yang buruk dan hanya menikmati yang baik. Dibawah ini adalah salah satu kutipannya:
ANDA TIDAK DAPAT MENGALAMI MANIS TANPA KEPAHITAN.
Oleh karena itu, bersikap selektif terhadap apa yang ingin anda rasakan akan menghilangkan semua makna hidup, serta pelajaran penting yang dapat anda pelajari di sepanjang jalan.
Tampaknya paradoks untuk berpikir bahwa untuk mengalami kekuatan dan integritas dalam diri anda, anda harus terlebih dahulu merangkul kelemahan dan ketidakpastian. Tapi saya kira jika hidup selalu mudah dan anda tidak pernah harus berjuang, anda akan jarang menemukan kesempatan untuk belajar dan tumbuh. (inspirement)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
“Gunakan sampai habis, pakai sampai aus, pakai apa pun yang ada, atau tidak usah sama sekali.”
Sebagian dari kita masih melakukan praktek berhemat dari peribahasa New England itu. Kita memakai kaus favorit sampai robek, kita berharap ada keberuntungan dengan truk pikap berusia 10 tahun untuk bertahan satu atau dua tahun lagi, kita menambal kursi malas favorit dengan lakban dan tertidur di dalamnya saat siang.
Namun, secara keseluruhan, kita adalah masyarakat yang boros. Beberapa orang membeli mobil baru setiap beberapa tahun. Yang lain membuang ponsel lama mereka setiap kali ada tipe yang baru diluncurkan. Seorang eksekutif bank membongkar lemarinya, membuang semua gaun dan rok yang masih sangat bagus, dan kemudian pergi berbelanja untuk menggantikannya.
Seringkali proses “penyingkiran” yang sama berlaku dalam hubungan kita. Seorang teman menyakiti perasaan kita, jadi kita berhenti menelepon atau menemuinya. Seorang istri menganggap suaminya tidak menghasilkan cukup uang atau tidak memberikan perhatian yang cukup, lantas meninggalkannya. Seorang bos memecat seorang karyawan karena suatu kesalahan daripada bekerja sama untuk memperbaikinya.
Kita dapat menemukan alasan yang sah untuk beberapa penyingkiran ini, tetapi mungkinkah kita terlalu mudah membuang benda-benda dan hubungan kita?
Membuang barang tak berguna: Apakah Selalu Bijaksana?
Bahwa banyak diantara kita yang memiliki benda terlalu banyak adalah hal yang tidak dapat disangkal. Lemari kita telah menyimpan sweter dan celana panjang yang sudah bertahun-tahun tidak terpakai, rak kita penuh dengan buku-buku yang tidak pernah kita baca atau sudah lama kita lupakan, serta loteng dan garasi kita menyimpan segala macam perabotan, peralatan dapur, dan “harta karun” lainnya yang kemungkinan tidak akan pernah dikeluarkan lagi.
Selama sekitar 30 tahun terakhir, beberapa buku dan artikel telah mendorong kita untuk membuang atau mendonasikan barang tak terpakai dalam hidup kita. Bersihkan ketidakrapian dan singkirkan benda-benda yang tidak berguna.
Menurut para penulis ini, kita akan menjadi lebih sehat secara spiritual dan mental. Begitulah argumen yang melandasinya, dan saya setuju dengan beberapa ide mereka.
Tetapi saya juga menemukan bahwa ketika saya telah membuang barang-barang tertentu, saya segera menyesalinya. Ketika saya membuang buku-buku tertentu, misalnya, sebulan berlalu, dan kemudian saya membutuhkan biografi atau novel tersebut. Dua tahun lalu, saya membuang mantel yang telah saya pakai selama 15 tahun. Lapisannya sudah sobek, semua kancingnya hilang, dan kantongnya sudah berlubang. Namun, datanglah dingin dan salju di musim dingin berikutnya, dan saya merindukan mantel lama itu.
Sepatu jadi Sandal
Meskipun mantel itu mungkin tidak bisa diperbaiki, terkadang kita dapat menggunakan benda-benda usang itu untuk alternatif penggunaan lain. Kemeja tua dengan noda dan kerah menjuntai sangat cocok untuk dikenakan saat mengecat dek. T-shirt dengan lubang yang lebih banyak daripada saringan akan menjadi lap debu yang ideal.
Seorang teman yang baru-baru ini mengunjungi museum di California mempelajari bahwa di masa lalu, ketika gaun atau pakaian lain sudah compang-camping dan usang, para wanita dan putri mereka akan membuat karpet dari pakaian tersebut.
Seperti pepatah New England, kita benar-benar dapat menggunakan barang-barang itu sampai aus.
Sebuah contoh: Musim panas lalu, sepasang sepatu favorit saya sudah terlalu usang untuk dipakai di depan umum. Tumitnya hampir hilang, salah satu solnya terlepas, dan tidak ada semir yang bisa menyembunyikan lecet dan lapisan kulit yang pecah-pecah. Jadi, saya pergi untuk membeli sepasang sepatu lagi. Saat memilih sepatu, saya juga mencari sandal, tetapi tidak menemukan satupun yang saya suka.
Kembali ke rumah, saya hampir membuang sepatu lama saya ke tempat sampah ketika sebuah ide bagus muncul. Saya melepas tali-tali sepatunya, dan Voila! Saya punya sandal. Bahkan saya memakainya sekarang ketika saya menulis artikel ini sambil duduk di teras depan rumah saya.
“Pakailah sampai aus,” kata pepatah. Saya pikir sandal dari sepatu saya masih memiliki masa hidup beberapa tahun lagi.
Butuh Perbaikan
Proses perbaikan mungkin perlu kerja keras. Siapa pun yang mempunyai meja atau kursi bernoda tahu bahwa proses perbaikan ini membutuhkan waktu pengamplasan berjam-jam bahkan sebelum mengoleskan kuas.
Bahkan yang lebih sulit, upaya perbaikan terkadang diperlukan untuk menjaga hubungan tetap utuh. Dalam pernikahan yang bermasalah, misalnya, salah satu pasangan, atau keduanya, mungkin percaya bahwa bercerai akan lebih mudah daripada meluangkan waktu dan upaya yang diperlukan untuk memperbaiki ikatan mereka yang rusak. Terkadang, upaya perbaikan dinilai sebagai hal yang mustahil. Ini mungkin benar.
Tetapi seiring waktu berlalu, mungkin keputusan ini dapat menimbulkan penyesalan. Faktanya, seperti yang ditunjukkan Audrey Jones kepada kita dalam artikelnya “Restore Marriage After Divorce,” 6 persen pasangan yang bercerai akhirnya menikah lagi, dan kali ini dengan peluang pernikahan mereka akan bertahan lama jauh lebih tinggi daripada yang lain.
Menjaga hubungan keluarga dan persahabatan tetap baik juga semakin sulit, terutama di zaman ini ketika begitu banyak orang percaya pada slogan, “The personal is political” (yang kurang lebih berarti “Hal pribadi merupakan hal politik.”).
Mungkin banyak diantara kita pernah mengalami atau mengenal seseorang yang mendadak penuh letupan ketika membela satu presiden atau lawannya, atau menolak untuk di vaksin, atau mempertanyakan rasisme sistemik. Akibat pertengkaran seperti itu, tiba-tiba kita mencampakkan teman lama.
Seorang wanita kenalan saya kehilangan sahabatnya karena “kedinginan hati” temannya. Teman itu terluka oleh apa yang dia anggap sebagai ketidakjujuran dan kurangnya rasa sayang untuk mencoba memulihkan hubungan.
Saya memaafkanmu,” katanya, “tapi saya tidak menginginkanmu dalam hidupku lagi.”
Perawatan
Sama seperti jarum dan benang, lem, dan alat-alat pertukangan adalah beberapa peralatan yang diperlukan untuk memperbaiki pakaian dan perabotan, alat-alat tertentu diperlukan untuk memperbaiki hubungan. Ini juga termasuk adanya kebajikan seperti harapan, cinta, toleransi, pengertian, pengampunan, dan kesabaran.
Item terakhir dari daftar ini sering diabaikan. Untuk memperbaiki persahabatan atau pernikahan yang rusak, kita harus bersedia berusaha keras dan bekerja lama jika ingin mencapai kesuksesan.
Dan kita harus memiliki visi kemana tujuan kita. Ketika kita mulai memperbaiki meja atau kursi yang disebutkan di atas, kita perlu melihat benda tersebut nantinya akan bersinar jika diletakkan di ruang kerja atau ruang tamu kita. Ketika kita mencoba untuk memperbaiki hubungan yang rusak, kita juga harus memiliki sasaran tentang tujuan kita.
Tentu saja, menopang hubungan yang retak adalah proposisi yang jauh lebih sulit daripada memperbaiki furnitur, dan tidak akan berhasil jika pasangan tidak bersedia membuat kesepakatan dengan kita. Tetapi kegagalan melakukan upaya menjamin ketidakberhasilan.
Kintsugi
Selama berabad-abad, orang Jepang telah memperbaiki tembikar yang pecah dengan emas, memuji kecacatannya sambil membuat tembikar itu menjadi lebih indah. Dalam sebuah artikel online “Kintsugi: Gold Repair of Ceramic Faults,” Curtis Benzele, seorang profesor dan pematung, mengatakan, “Kemungkinan, sebuah kapal yang diperbaiki melalui seni kintsugi akan terlihat lebih cantik, dan lebih berharga, daripada sebelum retak.”
Hal yang sama mungkin berlaku bagi kita ketika kita berlatih seni memperbaiki dan menambal, khususnya dengan teman dan keluarga kita. (jeffminich/theepochtimes/sia/feb)
Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini
Nasib dibawa secara lahiriah. Keberuntungan didapat setelah lahir. Tidak peduli apakah manusia percaya atau tidak dengan nasib, di dalam dunia fana ini tetap saja ada sebagian orang mengalami kesuksesan, usahanya berjaya, berbadan sehat, terhindar dari segala kesulitan, tidak ada sakit maupun kesedihan, suami-isteri hidup rukun, keluarga makmur.
Ada sebagian orang yang menghasilkan banyak uang tetapi uang tersebut tidak bisa dia simpan, suami-isteri selalu bertengkar, tubuh terlilit oleh penyakit, dipersulit oleh orang-orang licik, hambatan berlapis-lapis, mara bahaya selalu mengintai di empat penjuru, sulit sekali melangkah.
Dibalik fenomena ini semua, sebenarnya disebabkan pengaruh jodoh dan moralitas pada manusia. Keberuntungan, kegembiraan dan kesuksesan dalam dunia ini semua datang dari mengikat jodoh kebaikan.
Malapetaka, kesengsaraan dan kegagalan adalah balasan karma yang terjadi setelah manusia berbuat kejahatan. Manusia yang senantiasa mengikat jodoh kebaikan dengan sendirinya dia akan mengumpulkan De dari banyak orang.
Sedang manusia yang melakukan penipuan dan kejahatan walaupun bisa mendapatkan kejayaan dan kebahagiaan sesaat, namun akhirnya dia tidak akan lolos dari hukuman timbal balik karma (dosa). Ia pasti akan menelan dan merasakan buah kejahatan yang telah dia tanamkan.
Era 1960-an di AS, ada seorang Ibu kulit hitam di pinggir jalan tol sedang menahan terpaan hujan yang sangat lebat, karena mobil yang dia kendarai mogok di tengah perjalanan. Dia sangat membutuhkan bantuan, maka ia mencoba mengetuk pintu sebuah rumah di pinggir jalan.
Zaman itu sedang terjadi konflik dan diskriminasi. Yang membuka pintu ternyata seorang Ibu kulit putih. Setelah menanyakan dengan jelas duduk persoalannya, dia mempersilakan tamunya masuk ke rumah dan membantu mengeringkan pakaian serta menyiapkan sebuah kamar untuk menginap semalam.
Keesokan harinya, tuan rumah memanggil montir untuk memperbaiki mobil. Setelah mobil selesai direparasi, dia baru melepas pergi tamunya tersebut. Tindakannya ini membuat Ibu berkulit hitam tersebut terharu hingga berlinangan air mata.
Beberapa tahun telah berlalu, Ibu kulit putih tersebut seolah sudah melupakan peristiwa itu, tetapi ketika keluarganya mengalami krisis ekonomi serius yang belum pernah dialami sebelumnya, bahkan sudah sampai ke taraf hampir tidak bisa membeli beras, di luar dugaan dia menerima wesel kiriman uang dalam jumlah besar.
Di atas kertas kiriman itu tertulis kata-kata, “Mrs. Rose, saya sangat berterima kasih dengan uluran tangan Anda ketika malam itu, budi baik Anda akan saya ingat selamanya. Orang yang baik hati pasti akan mendapatkan balasan kebaikan, Tuhan memberkati Anda!”
Asalkan dalam hati selalu ada pikiran baik, pasti memiliki banyak kesempatan untuk mengikat jodoh kebaikan secara luas. Apabila segala perilakunya selalu demi kebaikan orang lain, biasanya dalam masyarakat Tiongkok akan menyebut orang tersebut sebagai Bodhisatva hidup, maha belas kasih menolong manusia dalam kesulitan dan kesengsaraan seperti seorang Bodhisatva.
Sebenarnya orang tersebut sedang melakukan hal yang sangat bermakna sekali bagi jiwanya sendiri. Jika jodoh kebaikan selalu eksis maka sebab akibat akan selalu eksis pula.
Orang tersebut tidak hanya menanamkan benih yang menghindarkan diri sendiri dari kesulitan dan kesengsaraan, juga telah menanamkan dasar yang sangat baik bagi kehidupannya di masa mendatang.
Sesungguhnya keberuntungan dalam dunia fana ini datang dari ikatan jodoh kebajikan yang kita rangkai sendiri. (epochtimes/lin)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Kehidupan yang paling membahagiakan adalah hidup dengan toleransi, berpikiran luas, dan murah hati. Jika anda tidak memiliki kualitas ini, dunia akan menjadi tempat yang kecil dan jalan yang anda lalui akan sangat sempit.
Beberapa orang kasar dan pemarah, kehilangan kesabaran karena hal-hal kecil. Yang lainnya baik hati, sabar, dan sopan, memahami niat baik orang-orang di sekitar mereka.
Mengembangkan kebajikan akan memurnikan hati anda, sementara mengendalikan amarah anda akan memurnikan tubuh anda. Seperti kata pepatah lama: “Luangkan waktu sejenak untuk merasa damai dan tenang, mundurlah selangkah dan anda akan melihat gambaran besarnya.”
Jika anda bisa murah hati dan sabar saat dipermalukan tanpa berdebat, anda tidak peduli tentang benar atau salah. Bebas dari kekhawatiran dan kecemasan akan hal-hal kecil, ini adalah kehidupan yang sangat membahagiakan.
Pepatah lama lainnya berbunyi: “Intoleransi kecil akan merusak kebenaran yang besar.”
Lin Zexu adalah gubernur provinsi Guangdong dan Guanxi. Dia adalah orang bijak, dan dia memiliki poster tentang mengendalikan amarah yang tergantung di aulanya. Suatu hari, dia kehilangan kendali atas amarahnya dan memecahkan cangkir teh dihadapan pelayannya. Ketika dia mendongak dan melihat motto-nya “Kendalikan amarah anda,” dia menyadari bahwa masalah amarah lamanya telah kembali. Dia segera minta maaf dan membersihkan kekacauan itu sendiri sebagai tanda pertobatannya.
Jika anda seorang pemarah, anda dapat mencontohi Lin Zexu. Memperhatikan perasaan anda, olahlah ketenangan (dengan meditasi), dan gunakanlah hal-hal baik dalam berkata-kata akan membuat hidup anda jauh lebih bahagia. Menjalani hidup dengan cara ini akan menghentikan anda untuk menyakiti diri sendiri dan orang lain.
Bersikaplah Tenang dan Lapang Dada Saat dibawah Tekanan
Ada banyak hal yang terjadi dalam hidup yang dapat membangkitkan amarah, tetapi selalu ada sudut pandang lain untuk melihat hal tersebut. Orang yang menyakiti anda sesungguhnya telah mempertajam pikiran anda dan membuka wawasan anda; orang yang menipu anda telah memperkuat kemampuan anda; orang yang menipu anda telah mengajari anda kebijakan; orang yang menegur anda telah mengajari anda kesabaran. Belajar bertahan dan memiliki kesabaran untuk semua yang terjadi akan membuat anda menjadi orang yang lebih kuat.
Pujian tertinggi yang bisa anda berikan kepada seorang wanita adalah dengan mengatakan bahwa dia cantik. Beberapa orang mengira kecantikan wanita berasal dari wajahnya, tubuhnya, atau pakaiannya, tetapi apakah kecantikan eksternal itu benar? Wajah dan tubuhnya akan menua. Kebaikan adalah keindahan yang akan bertahan selamanya – kebaikan terukir di hati dan tidak pudar seiring bertambahnya usia.
Setiap tindakan menunjukkan kedalaman hati seseorang yang baik hati. Dia tidak akan pernah marah atau menunjukkan penghinaan kepada orang lain – bahkan jika anda menginjak kakinya atau menabraknya, dia akan tersenyum lembut dan kecantikan aslinya akan terlihat.
Orang yang benar-benar baik akan selalu mencari cara untuk memperbaiki dirinya sendiri. Dia memahami dan terhubung dengan orang lain pada tingkat yang sangat dalam, dan inilah sumber kebaikannya. Orang yang baik hati seperti teh, memberikan makanan dan penyegaran bagi roh mereka yang paling membutuhkan.
Kebaikan adalah pesona unik yang bersinar dan memberikan keindahan bahkan pada wajah yang paling polos. Kebaikan, pengorbanan, dan dedikasi kepada orang lain akan mendapatkan rasa hormat dari orang-orang di sekitarnya. (visiontimes/ron/ch)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Suatu ketika, ada tiga pria kaya berjalan- jalan dengan kereta kudanya dan melewati sebuah desa miskin. Melihat keadaan desa miskin tersebut, mereka sepakat berbuat sesuatu untuk membantu penduduk desa tersebut.
PODCAST
Pria pertama pun berhenti, dan dengan cepat mengambil emas serta perak dari gerbong keretanya dan membagikannya kepada penduduk desa. Pria kedua yang merasa lebih tahu solusi dari masalah desa miskin itu, maka ia berhenti dan menyerahkan semua makanan serta minuman miliknya pada penduduk desa.
Ia berpikir bahwa memberi makanan jauh lebih berguna bagi penduduk desa daripada memberi kekayaan.
Berbeda dengan pria yang ketiga, ia tak bersikap seperti kedua pria kaya tersebut, ia hanya segera pergi dan berlalu dari desa itu.
Hal ini membuat dua pria kaya itu menjadi marah, kemudian pria pertama berkata pada pria kaya yang kedua: “Huhh..dia sungguh pria yang tidak punya hati!”
Pria kedua lalu menjawab: “Iya betul kawan, teman kita yang satu itu, sungguh tidak sopan dan tidak berempati.”
Lalu kedua pria kaya itu pun melanjutkan perjalanannya.
Tiga hari kemudian, mereka bertemu dengan pria kaya ketiga. Mereka terkejut melihat gerobaknya penuh dengan alat pertanian, benih serta biji-bijian dalam jumlah yang sangat banyak.
Kemudian, pria pertama berkata pada pria ketiga: “Hai, kawan, mau kemana kamu dengan begitu banyak barang di gerobakmu?”
Pria ketiga menjawab: “Oh, iya kawan, saya hendak bergegas ke desa miskin yang kemarin kita jumpai, saya ingin memberikan bantuan pada penduduk desa disana.”
Lalu pria kedua tertegun lalu berkata: “Wah, maafkan kami ya kawan! kami telah salah menilai dirimu! Ternyata kamu sangat baik dan tidak egois, seperti yang kami pikir sebelumnya!
Pria ketiga menjawab: “Hahaha, tidak apa apa kawan, kalian berdua khan sahabat baikku!” Sejak awal kita khan sudah sepakat untuk membantu penduduk desa itu, bukan? Kemarin kalian telah berbuat baik pada penduduk desa ini, nah kini adalah giliran saya ya!
Sambil tersenyum, kemudian pria ketiga itu pun pamit dan bergegas menuju desa miskin untuk memberikan bantuannya. Akhirnya, penduduk desa mulai menanam padi dan beberapa bulan kemudian, mereka berhasil memanen padi dan gandum dari ladang mereka dengan hasil yang melimpah dan desa itu tidak menjadi miskin lagi.
Ada beberapa orang yang suka memberi bantuan dengan cepat, hanya semata untuk mendapatkan pujian atau ingin dikagumi. Lalu ada orang yang juga suka membantu secara ikhlas tanpa ingin dipuji.
Seperti sebuah pepatah berbunyi: “Beri dia ikan maka dia akan kenyang selama sehari, namun jika dia di beri kail pancing untuk memancing ikan, maka dia akan kenyang seumur hidup.”
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Pada suatu hari, ada seorang anak yang bertanya pada Ibunya: “Bu, temanku tadi cerita kalau Ibunya selalu membiarkan tangannya sendiri digigit nyamuk sampai nyamuk itu kenyang supaya ia tak menggigit temanku. Apa Ibu juga akan berbuat hal yang sama?”
PODCAST
Sang Ibu langsung tertawa dan menjawab terus terang, “Tidak. Tapi, Ibu akan mengejar setiap nyamuk sepanjang malam supaya tidak sempat menggigit kamu atau keluarga kita.”
Mendengar jawaban itu, si anak tersenyum dan kembali meneruskan kegiatan bermainnya.
Tak lama kemudian, si anak teringat akan sesuatu dan bertanya lagi pada Ibunya: “Terus Bu, aku waktu itu pernah dengar sebuah cerita, bahwa ada Ibu yang rela tidak makan, supaya anak-anaknya bisa makan dengan kenyang. Kalau Ibu bagaimana?
Kali ini sang Ibu menjawab dengan suara lebih tegas: “Ibu akan bekerja keras agar kita semua bisa makan sampai kenyang. Jadi, kamu tidak harus sulit menelan karena melihat Ibumu menahan lapar.”
Si anak kembali tersenyum, dan lalu memeluk Ibunya dengan penuh sayang dan berkata: “Makasih Bu, aku bisa selalu bersandar pada Ibu sampai dewasa nanti.”
Sambil mengusap-usap rambut anaknya, sang Ibu berkata: “Tidak, nak! Tapi Ibu akan mendidikmu supaya kamu bisa berdiri kokoh di atas kakimu sendiri, agar kamu nantinya tidak sampai jatuh tersungkur ketika Ibu sudah tidak ada lagi di sisimu. Karena tidak selamanya Ibu bisa mendampingimu.”
Ada berapa banyak orangtua yang sering kali merasa rela berkorban diri demi sang buah hati? Padahal sikap seperti itu bisa membuat anak manja sekaligus menumpulkan mental mandiri si anak.
Jadi, adalah bijak bila semua Orangtua tidak hanya menjadikan dirinya tempat bersandar bagi buah hati mereka, melainkan juga mendidik anak- anaknya agar kelak menjadi pribadi yang mandiri dan bisa bersandar di bahunya serta kakinya sendiri di saat orangtuanya tidak bisa lagi mendampingi anak-anaknya di dunia.
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Pada suatu hari di di pedalaman hutan, ada seekor burung merak yang angkuh dan sombong.
PODCAST
Ia sangat membanggakan dirinya karena memiliki bulu-bulu yang indah.
Keseharian si merak selain mencari makan, ia lebih sering berjalan-jalan untuk menjumpai binatang lainnya, hanya sekedar untuk menyombongkan keindahan yang dimilikinya.
Saat sedang berjalan-jalan di tengah hutan, si merak bertemu dengan seekor bebek, dan seperti biasanya, si merak beraksi dan menyombongkan dirinya.
“Lihat bebek, lihatlah bulu indahku ini. Apakah kau punya bulu-bulu yang indah seperti diriku?”
Si bebek yang tidak suka berdebat hanya berjalan menjauh meninggalkannya.
Sesaat kemudian, hinggaplah seekor bangau di sebuah pohon yang dekat si burung merak. Dan seperti biasa, Merak mulai melakukan aksi sombongnya dengan merentangkan bulunya yang indah di hadapan burung bangau tersebut, lalu berkata:
”Hai bangau, coba kamu lihat sayapku yang indah ini! “Dapatkah kau mengalahkan keindahan buluku ini? Lihat, aku mempunyai bulu dengan warna yang indah bagaikan pelangi, sedangkan bulumu itu, terlihat kusam kelabu seperti debu.”
Si bangau yang merasa diremehkan lalu pergi terbang menjauh.
Merak yang merasa sedikit kesal karena tidak digubris pun melanjutkan acara jalan-jalannya ke arah tepi sungai. Ia merasa lapar, dan berpikir untuk mencari makanan.
Matanya segera menangkap bayangan seekor ular kecil di sungai itu, dan dia mengendap-endap berusaha menangkap si ular. Namun saat dia menerjang ke arah sungai, ia tidak menyangka sungai itu ternyata sungai yang dalam. Merak yang tidak bisa berenang, meronta-ronta di sungai hampir tenggelam.
Saat itulah, tiba-tiba muncullah entah darimana bebek yang tadi dia hina, menarik sayap si merak untuk dibawa ke darat. Namun karena Merak sangat berat, bebek kewalahan dan hampir ikut tenggelam.
Disaat mencekam itu, muncullah bantuan lain dari angkasa. Bangau yang tadi dihina si Merak, mencengkramkan kakinya ke sayap Merak yang satunya, dan bersama-sama dengan si bebek, menarik Merak ke arah darat dengan susah payah.
Sesampainya di darat, ketiganya terengah-engah dan si Merak merasa sangat malu. Kedua hewan yang tadi ia hina, kini muncul sebagai penyelamatnya.
Janganlah kita suka bersikap sombong, karena setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing – masing. Orang-orang yang kita hina, mungkin akan menjadi penyelamat kita di masa depan nanti.
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Ada seorang petani yang suka bekerja keras. Dia memiliki tanah seluas satu hektar, dan tanahnya dialiri sebuah sungai.
PODCAST
Setiap hari dia akan bekerja di sawahnya dengan giat dan penuh semangat, agar tanah pertaniannya menjadi semakin luas.
Suatu hari, ada seorang pengembara yang datang, dan dia berkata kepada si petani:
“Hey petani. Tahukah kamu, saya sedang mencari suatu tempat di sekitar sini yang saya dengar dipenuhi dengan berlian. Apakah kamu tahu dimana tempat itu?”
Petani itu tidak pernah mendengar soal hal ini sebelumnya. Ia pun menggelengkan kepalanya. Si pengembara kembali berkata:
“Sayang sekali. Saya dengar ada batu berlian besar-besar di daerah itu, dan harganya sangat mahal. Pastinya kamu bisa membeli lahan pertanian yang jauh lebih luas dengan berlian sebesar itu.”
Setelah berkata demikian, si pengembara itu pun melanjutkan perjalanannya.
Si petani yang telah mendengar hal ini, menjadi gelisah. Walaupun ia suka bekerja keras, tetapi alangkah senangnya jika bisa mendapatkan tanah pertanian yang lebih luas lagi dengan batu-batu berlian itu.
Malamnya, ia terus memikirkan tentang hal itu. Beberapa hari kemudian, ia membulatkan tekadnya untuk menjual tanah pertaniannya, dan dengan uang hasil penjualan, ia mulai mengembara untuk mencari tanah dengan batu berlian yang dimaksud.
Setelah berbulan-bulan berkeliling, ia pun mengalami kelelahan fisik dan mental. Semua uangnya habis, dan dalam keputus-asaannya, ia menjadi gelandangan. Ia pun memutuskan untuk kembali ke daerah asalnya.
Sesampainya di desa asalnya, ia melihat bahwa tanah pertanian yang telah ia jual, ternyata telah dijadikan tempat peternakan ikan oleh pemilik barunya. Pemilik baru memanfaatkan aliran sungai di tanah untuk tempat beternak ikan.
Kelelahan, ia duduk termenung di samping sungai disana, menyesali dirinya sendiri, saat tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang berkilauan di dasar sungai. Ia pun memungut benda berkilauan itu dari dasar sungai, yang ternyata adalah sebuah batu berkilauan yang sangat indah. Terkagum-kagum, ia memandangi batu itu di tangannya.
Namun tiba-tiba, dari belakang muncullah si peternak ikan, pemilik tanah yang dialiri sungai itu. Ia tidak mengenali si petani yang berpakaian lusuh seperti gelandangan, jadi ia menghardiknya:
“Hei pergi kamu gelandangan! Sedang apa kamu di tanah saya!”
Si petani menoleh dengan kaget. Ia pun lalu berkata pada si peternak ikan.
“Hey peternak ikan! Kamu lupa ya! Saya adalah petani, yang menjual tanah ini kepadamu! Saya tidak bermaksud apa-apa, saya hanya melihat ada batu berkilauan di dasar sungaimu. Saya sangat terpesona karenanya. Bolehkah saya menyimpannya?”
Si peternak ikan pun kaget melihat keadaan si petani yang sudah seperti gelandangan. Sikapnya melunak, dan ia pun bertanya:
“Batu apa yang kau pegang itu kawan? Bentuknya memang sangat indah! Jangan-jangan, itu batu berlian?”
Si peternak ikan memandangi dasar sungai itu baik-baik dan memperhatikan bahwa batu-batu itu terhampar di sana dengan jumlah yang banyak. Mereka akhirnya mengambil beberapa, lalu mengirim batu itu untuk dianalisa.
Hasilnya menunjukkan, bahwa batu-batuan itu memang adalah berlian asli, dan kisah mengenai wilayah yang dipenuhi berlian, sesungguhnya adalah tanah pertanian tersebut.
Kesempatan selalu ada dimana saja, hanya saja, kita sering kali gagal melihat bahwa kesempatan itu ada di sekeliling kita, karena kita terlalu sibuk mencarinya di luar sana.
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Roy adalah seorang salesman. Umurnya telah melewati setengah baya, namun entah kenapa bisnis yang dikelolanya tidak sesuai dengan harapan. Berkali-kali, ia mengalami kegagalan.
PODCAST
Semangatnya pun menurun, sehingga dia menjadi stress. Roy sering kali marah-marah tanpa sebab dan selalu mengeluh bahwa orang lain telah merugikannya.
Suatu hari, Roy bertekad ingin pindah rumah karena ia merasa rumahnya yang lama membawa kesialan padanya. Ia pun berhasil menemukan rumah kecil yang bagus untuk ditinggali, lalu memindahkan semua barang-barangnya ke rumah barunya itu.
Namun baru saja ia pindah, pada malam harinya, mendadak listrik di rumah tersebut padam sehingga seluruh ruangan menjadi gelap gulita. Roy mengumpat kesal dan berpikir bahwa rumah kedua itu pun pasti akan membawa kesialan padanya.
Karena sadar ia tidak memiliki lilin atau sumber penerangan lain, Roy hanya bisa duduk termenung, marah pada dirinya dan semua orang.
Saat itu tiba-tiba di luar pintu terdengar ada suara ketukan. Roy berjalan dalam kegelapan menuju ke arah pintu sambil meraba-raba, lalu berkata:
“Siapa itu?”
Rupanya, di depan pintunya berdiri seorang gadis kecil. Gadis kecil itu berkata:
“Ma..maaf Tuan, saya adalah tetangga Anda, apakah Anda punya lilin?”
Roy menjawab dengan nada marah.
“Tidak ada!”
Ia pun membanting pintu dihadapan gadis kecil itu. Dengan menggerutu, ia berkata pada dirinya sendiri:
“Bah! Baru saja pindah, sudah ada yang datang untuk pinjam barang. Memang dimana-mana orang sama saja kelakuannya!”
Ketika ia sedang menggerutu tak berkesudahan, tiba- tiba di pintu terdengar lagi suara ketukan.
Roy segera membuka pintu rumahnya, dan dia melihat gadis kecil yang sama sedang berdiri disana, kali ini membawa dua batang lilin yang menyala di tangannya.
Gadis kecil itu berkata:
“Tuan, Nenek bilang, kami telah kedatangan penghuni baru dan mungkin tidak membawa lilin, jadi lalu Nenek meminta saya agar membawakan dua batang lilin ini untuk Anda.”
Seketika itu juga Roy tertegun. Dengan diam ia menyambut lilin dari tangan si gadis kecil itu dan mengucapkan terima kasih dengan terbata-bata. Gadis kecil itupun pamit dari hadapannya.
Sejak saat itu, tiba-tiba Roy menyadari banyak hal. Ia telah menemukan akar permasalahan dari kemalangan yang kerap menimpa dirinya, yaitu terletak pada sikapnya yang kasar, suka menggerutu, dan suka mengeluh. Ia berjanji bahwa ia akan mencoba untuk mengubah dirinya demi nasib yang lebih baik.
Dalam kehidupan ini, banyak orang mengira kemalangan adalah hasil dari nasib yang buruk atau kesialan. Dengan mengubah sudut pandang atau kacamata kita saat melihat suatu situasi, berhenti mengeluh dan menganggap semua kejadian sebagai hal baik, niscaya kita akan selalu ‘bernasib baik.’
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Di suatu desa, hiduplah seorang Ibu Guru yang sangat ramah dan baik hati. Ia selalu memikirkan bagaimana caranya untuk memberikan pendidikan moral bagi siswa-siswinya.
Saat mengajar, ia sering melihat beberapa siswanya saling bertengkar dan membenci satu sama lain.
Hati nuraninya terpanggil, ia menyadari harus memberikan sebuah pendidikan moral untuk memperbaiki watak buruk dari para siswanya tersebut.
Suatu hari, saat mengajar di kelas, Ibu Guru berkata pada siswanya: “Murid-muridku, Ibu ada sebuah permainan baru nih untuk kalian semua.”
Karena penasaran lalu salah satu murid pun bertanya: “Wah asyik, permainan apa itu Bu Guru?”
Sambil tersenyum, Ibu Guru berkata: “Ya, ini permainan yang sangat sederhana dan kalian pasti bisa menyelesaikannya dengan baik. Besok pagi, saat berangkat ke sekolah, kalian masing – masing bawalah sebuah kantong plastik yang berisi kentang, tapi ingat, jumlah kentang yang dibawa itu, harus sesuai dengan jumlah teman yang kalian benci dalam kelas ini. Mengerti?”
Sambil mengganggukan kepalanya, murid pun menjawab: “Mengerti Bu Guru!”
Jadi keesokan harinya, para siswa datang ke sekolah dengan membawa sebuah kantong plastik yang berisi kentang sesuai permintaan gurunya tersebut.
Setiba di dalam kelas, Ibu Guru tersenyum sambil memperhatikan kantong- kantong plastik yang dibawa oleh murid – muridnya. Ia melihat, ada murid yang hanya membawa 1 buah kentang, 3 buah kentang, bahkan ada juga murid yang membawa 5 buah kentang dalam kantong plastiknya.
Kemudian sang Guru berkata: “Bagus sekali, kalian telah melaksanakan tugas dari Bu Guru, nah sekarang permainan ini dimulai ya! Kantong plastik yang berisi kentang ini, kalian bawalah selalu kemanapun kalian pergi, selama seminggu.
Para murid berkata: “Mengerti Bu Guru!“
4 hari berlalu dan kondisi kentang – kentang tersebut pun mulai membusuk dan menimbulkan aroma yang sangat bau, sehingga para siswanya mulai mengeluh, khususnya siswa yang membawa 5 buah kentang dalam kantong plastiknya.
Setelah seminggu, permainan pun berakhir dan semua siswa merasa lega.
Kemudian, sang Guru pun bertanya kepada semua siswanya: “Murid-muridku, bagaimana perasaan kalian saat membawa kentang-kentang itu selama satu minggu ini?”
Murid – murid lalu menjawab: “Bu Guru, kentang – kentang yang kami bawa selama seminggu itu membusuk dan aromanya juga bau, uhhh,,,, kami benar – benar tidak menyukainya!”
Sambil tersenyum sang Guru berkata: “Kentang – kentang busuk itu, sama situasinya, ketika kalian membenci seseorang, di dalam hati kalian. Bau busuk dari kebencian itu akan terus mencemari kemurnian hati kalian. Sesungguhnya kebencian itu akan terus menjadi pengganggu di dalam hati kalian dan juga menyebabkan gangguan bagi orang lain di sekitar kalian.”
Ibu Guru kemudian berkata lagi: “Sekarang pikirkanlah, jika kalian sudah begitu terganggu dan tidak bahagia dengan semua kentang busuk itu hanya dalam waktu satu minggu, bisakah kalian bayangkan bagaimana rasanya hidup dengan kebencian di hati, dalam waktu yang jauh lebih lama lagi?”
Muridpun tersenyum dan menjawab: “Baiklah Ibu Guru, kami sudah mengerti, dan kami berjanji untuk tidak saling membenci serta bertengkar lagi.”
Kebencian terhadap seseorang hanya akan mendatangkan kerugian dan penderitaan bagi diri sendiri, bagaikan sebuah benda busuk yang akan terus mencemari pikiran dan hati kita. Semakin lama kita menggenggam erat kebencian itu, semakin lama pula kita akan menderita.
Karena itu, lepaskanlah hati yang penuh benci dan dendam itu, belajarlah untuk memaafkan kesalahan orang lain, sesungguhnya, itu bukan hanya berkah bagi orang lain, namun juga adalah berkah bagi diri kita sendiri.
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.