Tag: militer china

  • Inggris Peringatkan China, Rusia, Iran Adalah Ancaman Siber Paling Serius

    Inggris Peringatkan China, Rusia, Iran Adalah Ancaman Siber Paling Serius

    Inggris memperingatkan bahwa ancaman siber kini bukan lagi sekadar ulah peretas kriminal, melainkan melibatkan negara-negara rival. Richard Horne, Kepala Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris mengatakan saat ini pihaknya mengalami beberapa insiden tiap minggunya dan diperkirakan  akan terus meningkat. Ia berkata China khususnya adalah rival siber terbesar.

    [Richard Horne, Kepala Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris]:

    “Kita tahu bahwa badan intelijen dan militer China melakukan operasi siber yang luar biasa. Hal ini, dikombinasikan dengan pendekatan menyeluruh dari pemerintah mereka, mereka bukan lagi sekadar ancaman yang handal, melainkan pesaing berat yang setara di ruang siber.”

    Pejabat berkata serangan paling serius melibatkan negara-negara seperti Iran dan Rusia, terutama seiring meningkatnya ketegangan dan ancaman siber yang kian canggih. Meski peretasan masih marak, serangan yang didalangi oleh negara kini menjadi ancaman yang paling mengkhawatirkan.

    Pejabat Inggris memperingatkan bahwa serangan siber skala luas mampu membuat infrastruktur vital lumpuh total serta mengakibatkan sistem tidak dapat berfungsi kembali.

    Pemerintah kini mendesak perusahaan teknologi untuk memperkuat pertahanan berbasis AI, serta mengalokasikan ratusan juta poundsterling untuk melindungi sistem krusial dan sektor bisnis.

  • Trump Ancam Tarif 50% Bagi Negara yang Bantu Persenjataan Iran

    Trump Ancam Tarif 50% Bagi Negara yang Bantu Persenjataan Iran

    Washington sedang mengamati dengan saksama apakah Beijing memasok senjata ke Iran. Ini menyusul laporan media yang mengutip intelijen AS mengatakan hal itu mungkin terjadi.

    Hari Minggu Presiden Trump memperingatkan pengenaan tarif 50% pada negara mana pun jika hal itu terjadi, termasuk China.

    China belum memberikan bantuan militer langsung kepada Iran sejak konflik dimulai, dan Presiden Trump mendesak Beijing untuk mempertahankan hal itu.

    [Reporter]: “Ada laporan China sedang bersiap mengirim senjata ke Iran…”

    [Presiden Trump]: “Jika China melakukannya, China akan menghadapi masalah besar.”

    Peringatan Trump menyusul laporan CNN yang mengutip intelijen AS, yang mengatakan China sedang bersiap untuk mengirim sistem pertahanan udara tambahan ke Iran dalam beberapa minggu mendatang. Pengiriman termasuk rudal anti pesawat yang ditembakkan dari bahu, dikenal sebagai Manpads.

    Dalam wawancara Fox News hari Minggu, Trump berkata ia telah melihat laporan tersebut dan memperingatkan konsekuensi serius bagi negara mana pun yang terlibat.

    Laporan CNN menambahkan Beijing berupaya untuk mengirimkan pasokan pertahanan melalui negara ketiga untuk menyembunyikan asal-usulnya.

    Secara lebih luas, pasukan Iran telah menggunakan Manpads untuk menargetkan pesawat AS.

    Pejabat AS dan Eropa telah menuduh Beijing menyediakan Iran dengan peralatan dwiguna, yaitu peralatan yang dimaksudkan untuk penggunaan sipil tetapi dapat diadaptasi untuk tujuan militer.

    Para ahli berkata dukungan China mungkin berasal dari kebutuhan ekonominya untuk mempertahankan hubungan dekat dengan Iran. China sangat bergantung pada pengiriman minyak Iran yang murah sambil mempertahankan pengaruh ekonomi atas Iran. Sejak perang dimulai, harga bensin di China telah melonjak sekitar 11% yang berdampak pada berbagai sektor dan telah memperburuk perekonomian China.

  • Drone Torpedo Diduga Milik China Ditemukan di Perairan Lombok

    Drone Torpedo Diduga Milik China Ditemukan di Perairan Lombok

    Sebuah drone misterius buatan China ditemukan perairan Indonesia pada hari Kamis. Para pejabat mengatakan drone tersebut mungkin adalah bagian dari upaya Beijing yang lebih luas untuk memetakan rute bawah laut utama. Seorang nelayan menarik perangkat berbentuk torpedo berwarna hitam itu di perairan dekat pulau wisata Lombok.

    Foto-foto menunjukkan bahwa itu mungkin adalah drone pengawasan bawah laut buatan China. Penemuan terjadi di dekat Selat Lambok, jalur air strategis yang menghubungkan Asia Tenggara dengan perairan dekat Australia.

    Informasi dasar laut sangat penting dan memberikan keuntungan bagi operasi kapal selam. Bahkan jika digunakan untuk penelitian sipil, informasi ini masih memiliki nilai militer dan intelijen, memberi kekuatiran bahwa kedaulatan bawah laut sebuah negara sedang diintervensi. Hal ini menyusul laporan bahwa Filipina juga telah menemukan drone bawah air China serupa dalam beberapa tahun terakhir.  

  • Pemetaan Laut China Menimbulkan Kekhawatiran Militer: Laporan

    Pemetaan Laut China Menimbulkan Kekhawatiran Militer: Laporan

    Laporan baru mengungkapkan bahwa China diam-diam sedang memetakan lautan dunia. Pejabat AS memperingatkan bahwa hal itu mungkin sebagai persiapan untuk konflik di masa depan dengan Washington.

    Puluhan kapal penelitian China dan ratusan sensor mengumpulkan data terperinci di Samudra Pasifik, Samudra Hindia, dan bahkan Samudra Arktik. Informasi ini dapat memberi China keuntungan besar dalam peperangan kapal selam.

    Sebuah laporan Reuters pada hari Selasa mengatakan upaya China mencakup beberapa perairan paling strategis di dunia. Itu termasuk daerah dekat Taiwan, Jepang, dan pusat militer AS di Guam. Satu kapal penelitian berulang kali berlayar melalui wilayah ini dan dekat Selat Malaka, jalur perdagangan global yang penting. Meskipun China mengatakan misi tersebut berfokus pada penelitian ilmiah seperti studi iklim dan survei dasar laut, para ahli mengatakan data yang sama memiliki nilai militer yang jelas, peta terperinci dasar laut beserta sensor bawah air dapat membantu kapal selam bergerak lebih mudah, tetap tersembunyi, dan melacak kapal musuh.

    Para pejabat intelijen AS mengatakan bahwa China telah meningkatkan operasi ini dalam beberapa tahun terakhir, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang potensi penggunaan militernya.

    Pemetaan ini juga meluas melampaui Pasifik. Ini mencakup jalur energi vital di Samudra Hindia dan bahkan mencapai Arktik, di mana China memiliki ambisi untuk menjadi kekuatan besar. Dan seiring China terus mengumpulkan data, para ahli memperingatkan bahwa hal itu dapat mengubah keseimbangan di beberapa perairan yang paling diperebutkan di dunia.

  • China Hapus Tiga Ahli Nuklir dari Situs Web

    China Hapus Tiga Ahli Nuklir dari Situs Web

    Meningkatnya pemecatan para ahli nuklir dan rudal terkemuka di China dapat mengungkap masalah yang lebih dalam. Para ahli mengatakan hal itu menunjukkan kurangnya kepercayaan para pejabat China terhadap senjata buatan dalam negeri.

    Akademi Teknik China telah menghapus tiga akademisi terkemuka dari situs webnya. Ketiga akademisi tersebut termasuk para ahli dalam senjata nuklir, rudal, dan sistem radar. Akademi tersebut tidak memberikan alasan atas pemecatan mereka, tetapi seminggu yang lalu, sebuah surat kabar Hong Kong melaporkan bahwa mereka kemungkinan sedang diselidiki atas kasus korupsi.

    Ini bukan satu-satunya kasus. Selama 3 tahun terakhir, setidaknya enam akademisi lainnya kehilangan gelar mereka. Namun seorang ahli berpendapat pembersihan ini terkait dengan laporan-laporan terbaru tentang kegagalan senjata China di lapangan. Radar anti-pesawat mereka diduga tidak berfungsi di Venezuela ketika pasukan AS menangkap Nicholas Maduro. Sistem rudal SAM yang digunakan Iran juga dihancurkan Israel dan AS dalam satu jam pertama serangan.

    Seorang analis senior Taiwan percaya bahwa penghapusan tersebut terkait dengan penindakan militer awal tahun ini. Banyak pejabat tinggi yang disingkirkan, termasuk wakil komandan Xi Jinping, Zhang Youxia. Mereka yang ditangkap kemungkinan mengaku dan menyebutkan nama orang lain, memperluas penyelidikan.

    Penghapusan tersebut menggemakan skandal militer dari tahun 2024 ketika Bloomberg melaporkan bahwa rudal China diisi dengan air bukan bahan bakar.

  • Taiwan Akan Segera Terima Kiriman Jet Tempur AS

    Taiwan Akan Segera Terima Kiriman Jet Tempur AS

    Kabar baik bagi Taiwan, pengiriman jet tempur gelombang pertama dari Amerika Serikat akan segera tiba paling cepat bulan September setelah sebelumnya sempat tertunda selama beberapa tahun. Pentagon menegaskan bahwa konflik di Iran tidak akan mengubah komitmen AS terhadap Taiwan. Koresponden NTD Flora Hua punya detailnya.

    Senin kemarin menteri pertahanan Taiwan, Wellington Koo, mengonfirmasi pengiriman senjata oleh AS akan dimulai akhir tahun ini. Sebagian besar kiriman adalah jet tempur F-16V yang dirancang khusus bagi Taiwan untuk menghadapi militer China. Taiwan akan memiliki total 200 unit jet tempur F-16 setelah seluruh pengiriman rampung. Pesanan ini disetujui AS pada 2019, dan hingga kini telah lewat 7 tahun, Anggota parlemen AS dan Taiwan telah lama mendesak penyelesaian pesanan tersebut. Pemasok peralatan perang AS, Lockheed Martin menyatakan bahwa produksi tengah berjalan dengan kapasitas penuh.

    Kabar baik ini datang menyusul dengar pendapat anggota parlemen pekan lalu di mana perwakilan administrasi Trump memberikan kesaksian terkait penjualan senjata ke Taiwan. Flora, apa yang menjadi kekhawatiran anggota parlemen AS saat ini?

    Ya, memang ada kekhawatiran dari para bipartisan bahwa operasi militer di Timur Tengah dapat memecah fokus pertahanan AS di Indo-Pasifik dan memperlambat penjualan senjata ke Taiwan. Nyatanya, pemerintahan Trump bisa mematahkan dugaan tersebut. Simak penjelasan seorang perwakilan pada sidang parlemen.

    [Stanley Brown, Wakil Utama Asisten Sekretaris Negara, Dewan Urusan Politik-Militer]:

    Saya ingin sampaikan bahwa dalam 90 hari terakhir, kami telah memproses dana sebesar $11,1 miliar kepada Taiwan. Jika ditanya apakah kami menunda pengiriman ke Taiwan? Sudah tentu tidak. Pemberian kerja sama dan bantuan keamanan bagi Taiwan adalah prioritas utama kami”

    Wakil utama Asisten Sekretaris Negara, Stanley Brown, menambahkan bahwa pemerintah sedang mempercepat pengiriman yang tertunda. Pada Senin, Lockheed Martin menyatakan sedang menyelesaikan produksi jet F-16 terbaru dan diperkirakan siap kirim ke Taiwan pada September. Terima kasih Flora.

  • China Kembali Tekan Militer Taiwan Setelah Sempat Vakum

    China Kembali Tekan Militer Taiwan Setelah Sempat Vakum

    Di tengah aksi militer AS di Iran, situasi geopolitik di Pasifik Barat juga ikut berubah. China telah melakukan aktivitas militer rutin di sekitar Taiwan namun aktivitas sempat terhenti selama dua minggu, memicu spekulasi di Taipei. Pada hari Minggu, Taiwan kembali melaporkan adanya aktivitas angkatan udara China dalam skala besar di wilayahnya.

    Pada hari Sabtu, Taiwan mendeteksi 26 pesawat dan 7 kapal militer China di sekitar wilayah mereka, dengan 11 pesawat melintasi garis median Selat Taiwan. Padahal sejak 27 Februari, aktivitas militer China sempat menurun drastis dan hanya terjadi sesekali dalam skala kecil. Pihak Beijing tidak memberikan penjelasan terkait penurunan aktivitas ini sehingga memicu berbagai spekulasi di Taipei tentang maksud dan tujuan Beijing.

    [Hu Zhendong, Mantan Pejabat Departemen Pertahanan AS]:

    “Saat saya masih di militer, sebelum latihan besar atau pengerahan pasukan, kami biasa menghentikan kegiatan sementara untuk fokus memperbaiki semua persenjataan dan alutsista. Hanya pesawat yang baru selesai diperbaiki yang boleh uji terbang. Sisanya tidak boleh karena kami sedang bersiap untuk latihan tempur atau persiapan perang.”

    [Tzu Yunsu, Direktur Divisi Strategi Pertahanan dan Sumber Daya, INDSR Taiwan]:

    “Pengurangan aktivitas militer China ini sifatnya politis karena berkenaan dengan pertemuan penting pemerintah China dan evaluasi anggaran pertahanan Taiwan. China menangguhkan semua aktivitas guna memberi kesan seolah Taiwan tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk pertahanan.

    Sejumlah ahli menilai berkurangnya aktivitas militer ini bisa jadi taktik Beijing untuk menyusun ulang siasat terhadap Taiwan jelang rencana kunjungan Presiden Trump pada 31 Maret atau karena akibat pembersihan personil oleh Xi Jinping.

  • Sekutu AS di Asia Khawatir Sumber Daya AS Teralihkan ke Perang Iran

    Sekutu AS di Asia Khawatir Sumber Daya AS Teralihkan ke Perang Iran

    AS berada di posisi sulit antara Timur Tengah dan China ketika Israel melancarkan serangan baru ke Iran. Sekutu AS di Asia menyatakan kekhawatirannya, tentang apakah perang di Iran akan mengalihkan sumber daya AS yang dibutuhkan untuk menghadapi China. Seorang anggota parlemen di Taiwan mendesak Washington untuk mengalihkan fokusnya kembali ke kawasan Asia-Pasifik.

    [Chen Kuan-Ting, Anggota Parlemen DPP Taiwan]:

    “Kami harap operasi di Iran akan berlangsung cepat dan terbatas, dan sumber daya militer AS dapat segera dialihkan kembali ke Asia.”

    Chen menyatakan kekuatirannya bahwa rezim China dapat meningkatkan pelecehan pada Taiwan saat AS berfokus ke Timur Tengah. Kekhawatiran serupa muncul di kalangan anggota parlemen Jepang, yang bertemu hari Senin untuk membahas serangan AS-Israel pada Iran. Seorang politisi memberitahu Reuters bahwa kekuatiran muncul tentang bagaimana pertahanan Asia Timur jika Washington mengalihkan aset militer yang ditempatkan disana ke Timur Tengah. Ia juga berkata Tokyo telah meminta jaminan dari Washington tentang hal ini.

    Saat ini sekitar 40% kapal perang AS yang siap beroperasi ditempatkan di Timur Tengah. Kapal induk yang ditempatkan di Asia sedang menjalani perawatan. Brian Clark seorang mantan pejabat pertahanan AS berkata Angkatan Laut AS kekurangan sumber daya dan jika perang di Timur Tengah berlarut-larut, AS dapat mengurangi sumber dayanya di Asia untuk memperkuat operasi melawan Iran.

    Sementara perang di Iran juga menguras amunisi AS. Beberapa ahli berkata serangan AS ke Iran dapat membendung China dengan melemahkan dua sekutu Beijing: Iran dan Venezuela. Namun yang lain berpendapat semakin lama perang di Iran berlangsung, semakin banyak keuntungan yang diperoleh Beijing.

    Dan di Taiwan, seorang diplomat AS berpangkat tinggi mengunjungi pulau itu hari Senin dan Selasa. Casey Mace mewakili AS sebagai pejabat senior AS untuk pertemuan APEC, yang akan diadakan akhir tahun ini di China. Beijing telah menolak mengizinkan Taiwan berpartisipasi sebagai negara berdaulat, dan selalu memblokir atau membatasi partisipasinya di banyak konferensi internasional lainnya.

  • Jepang Komitmen Siapkan Rudal Dekat Taiwan

    Jepang Komitmen Siapkan Rudal Dekat Taiwan

    Eskalasi lebih lanjut dalam perseteruan berbulan-bulan antara China dan Jepang tentang Taiwan. Jepang akan mengerahkan rudal di dekat Taiwan dalam beberapa tahun mendatang.

    Hari Selasa, para pejabat Jepang berkata rudal-rudal akan ditempatkan di Pulau Yonaguni. Ini adalah pulau paling barat Jepang, sekitar 70 mil dari Taiwan. Di hari yang cerah, garis pantai Taiwan terlihat dari Yonaguni. Pengerahan akan selesai pada 2031, menandai pertama kalinya Jepang mengumumkan jadwal spesifik untuk penempatan rudal di pulau tersebut.

    Ini dilakukan setelah Beijing menjatuhkan sanksi pada 40 perusahaan dan lembaga Jepang. Setengahnya dimasukkan ke dalam daftar kontrol ekspor, melarang eksportir China menjual barang-barang yang dapat digunakan untuk tujuan sipil dan militer. Perusahaan-perusahaan sisanya ditambahkan ke daftar pengawasan yang mengharuskan eksportir China mendapatkan izin sebelum menjual. Ini bertujuan untuk membatasi kemampuan Jepang mengembangkan militernya.

    Beijing telah meningkatkan ancaman militernya terhadap Taiwan dalam beberapa tahun terakhir. Pemimpin Partai Komunis China, Xi Jinping, telah memerintahkan militer untuk bersiap menghadapi potensi pengambilalihan Taiwan pada 2027, kurang dari setahun lagi. Walau bukan berarti China akan langsung menyerang Taiwan saat itu, tetapi jangka waktu tersebut telah menimbulkan kekhawatiran serius di Jepang, negara tetangga dan sekutu Taiwan.

    November lalu, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi berkata Jepang dapat merespon secara militer jika China menyerang Taiwan. Pernyataan ini dikritik keras oleh Beijing.  

  • Narasumber : Perlawanan Pasif Meluas di Jajaran Militer China

    Narasumber : Perlawanan Pasif Meluas di Jajaran Militer China

    Perlawanan senyap terhadap pemimpin PKC, Xi Jinping sedang berlangsung. Seorang informan mengatakan kepada media Epoch Times bahwa pemberontakan pasif di militer China kini menjalar ke birokrasi sipil. Hal ini mempersulit Xi untuk menegakkan instruksinya.

    Seorang sumber yang akrab dengan elit partai mengatakan bahwa perubahan ini bermula dari pencopotan Zhang Youxia, wakil ketua Komisi Militer Pusat yang disusul pencopotan Liu Zhenli, kepala departemen staf gabungan.

    Langkah Xi Jinping telah mengakibatkan guncangan di jajaran militer dan berdampak luas bagi Partai Komunis China. Demi keamanan, para sumber meminta agar identitasnya dirahasiakan. Namun, gambaran yang muncul menimbulkan pertanyaan serius mengenai kendali Xi atas militer China.