Tag: militer china

  • Taiwan Bersorak Atas UU Baru Trump, China Protes

    Taiwan Bersorak Atas UU Baru Trump, China Protes

    Taiwan bersyukur dan China kesal atas langkah Presiden Trump hari Rabu. Ia menandatangani undang-undang baru yang mengatur interaksi antara AS dan Taiwan. Undang-Undang Implementasi Jaminan Taiwan kini mewajibkan Departemen Luar Negeri untuk secara berkala meninjau dan memperbarui pedoman tentang interaksi dengan Taiwan setidaknya 5 tahun sekali. Taiwan berkata undang-undang tersebut adalah simbol kuat dari nilai bersama kedua negara, yaitu demokrasi, kebebasan dan penghormatan terhadap HAM. Undang-undang sebenarnya berlaku sejak 2020, tapi hanya mewajibkan peninjauan satu kali, bukan setiap 5 tahun.

    Menteri luar negeri Taiwan berkata peninjauan yang lebih sering akan memungkinkan pejabat Taiwan sering bertemu dengan lembaga federal AS. Ini membuat Beijing kesal. Mereka menentang segala bentuk kontak resmi AS-Taiwan, dan menyebut pulau itu sebagai wilayah Taiwan milik China. China juga berkeras Taiwan adalah garis merah yang tidak boleh dilanggar dalam hubungan AS-China.

    Ini bukan langkah pertama oleh AS. Dalam beberapa tahun terakhir, tepatnya pada 2021, di bawah pemerintahan Trump pertama, Menteri Luar Negeri saat itu, Mike Pompeo, mencabut pembatasan kontak antara pejabat AS dan rekan-rekan mereka di Taiwan.

    Hal ini membatalkan batasan yang diberlakukan setelah Washington mengakui Komunis China setengah abad yang lalu.

  • Ketegangan Baru China-Jepang di Perairan Kepulauan Senkaku

    Ketegangan Baru China-Jepang di Perairan Kepulauan Senkaku

    Perseteruan terbaru antara kapal-kapal China dan  Jepang di perairan yang disengketakan tidak jauh dari Taiwan. Jepang berkata telah mencegat dua kapal patroli penjaga pantai China di perairan kepulauan Senkaku pada hari Selasa. Ketegangan terus meningkat setelah perdana menteri Jepang berkata Tokyo dapat melakukan intervensi militer jika China menginvasi Taiwan.

    Jepang mengatakan kapal-kapal patroli China berlayar menuju sebuah kapal penangkap ikan Jepang, dan pergi setelah mendapat peringatan dari penjaga pantai Jepang. Namun China memberi penjelasan berbeda, mengatakan kapal penangkap ikan Jepang telah memasuki perairan kepulauan Senkaku secara ilegal sebelum diusir. Baik China maupun Jepang mengklaim Kepulauan Senkaku sebagai milik mereka.

    Kepulauan itu terletak sekitar 100 mil di sebelah timur Taiwan. Konfrontasi ini menyusul ketegangan China-Jepang yang meluap ke perdagangan, budaya dan pariwisata. China membatalkan 40% penerbangan ke Jepang untuk bulan Desember, yaitu sekitar 2,000 penerbangan. Ini signifikan karena Jepang menerima lebih banyak turis China dibandingkan negara lain di dunia, dan dapat merugikan Jepang lebih dari 1 miliar dolar tahun ini.

    Bukan hanya pariwisata, Jumat lalu di Shanghai, seorang penyanyi Jepang dipaksa berhenti di tengah pertunjukan, lampu dan musik dihentikan di tengah lagu. China juga membatalkan belasan konser musisi Jepang bulan lalu.

    Sebuah jajak pendapat baru menunjukkan masyarakat Jepang terbagi pendapat tentang apakah Tokyo harus melakukan intervensi militer jika China menginvasi Taiwan. 48% mendukung langkah tersebut dan 44% menentangnya. Namun, lebih dari 60% mendukung rencana perdana menteri Jepang untuk meningkatkan anggaran pertahanan. Dukungan rakyat pada perdana menteri juga tetap stabil di angka 75%, naik 1% dibanding bulan lalu.  

  • Taiwan Tingkatkan Anggaran Pertahanan Tambahan Sebesar $40 M

    Taiwan Tingkatkan Anggaran Pertahanan Tambahan Sebesar $40 M

    Perdamaian melalui kekuatan. Taiwan memperkenalkan anggaran pertahanan tambahan sebesar 40 miliar dolar demi melawan meningkatnya agresi China.

    Pada hari Rabu, presiden Taiwan Lai Ching-te mengatakan sejarah telah membuktikan mencoba berkompromi dalam agresi tidak menghasilkan apa-apa selain perbudakan. Ini terjadi saat China meningkatkan tekanan militernya.

    [Presiden Lai Ching-te, Presiden Taiwan]:

    “Ancaman China pada Taiwan dan kawasan Indo-Pasifik semakin meningkat. Baru-baru ini, berbagai jenis intrusi militer, zona abu-abu maritim, dan kampanye disinformasi telah terjadi di Jepang, Filipina, dan di sekitar Selat Taiwan. Taiwan, sebagai bagian terpenting dan paling kritis dari rantai Pulau Pertama, harus menunjukkan tekad dan mengambil tanggung jawab yang lebih besar dalam membela diri.”

    Anggaran akan berlaku dari 2026 hingga 2033 dan mencakup peralatan, termasuk rudal, drone, serta serta sistem pertahanan udara T-dome yang baru. Agustus lalu, Lai berkata ia berharap dapat meningkatkan anggaran pertahanan Taiwan menjadi 5% dari PDB pada tahun 2030. Presiden Trump telah menyerukan peningkatan anggaran tersebut hingga 10%.

  • AS Tunjukkan Solidaritas ke Jepang di Tengah Tekanan China

    AS Tunjukkan Solidaritas ke Jepang di Tengah Tekanan China

    Washington menunjukkan solidaritas dengan Jepang seiring meningkatnya ketegangan Tokyo dengan China terkait Taiwan. Duta Besar AS untuk China, David Purdue, mengunggah foto bersama rekan-rekan dari Jepang dan Korsel hari Selasa, mengatakan mereka berkomitmen bekerja sama guna melindungi rantai pasokan dan menjaga Indo-Asia Pasifik yang bebas terbuka.

    Hubungan China-Jepang memburuk setelah Perdana Menteri Jepang mengatakan Tokyo dapat melakukan intervensi militer jika China menginvasi Taiwan.

    Pada hari Senin, duta besar AS untuk Jepang mengunggah foto bersama menteri pertahanan Jepang, mengatakan AS selalu mendukung sekutu terpentingnya di Indo-Pasifik. Ini muncul setelah Jepang memutuskan memindahkan rudal jarak menengah ke Yonaguni, pulau di selatan Jepang dengan jarak hampir 70 m dari Taiwan. Jepang berkata ini dapat mengurangi kemungkinan serangan bersenjata dari musuh asing.

    Jepang juga berkata hanya akan  menggunakan kekuatan untuk membela diri. Duta Besar Jepang untuk PBB menegaskan hal tersebut dalam suratnya ke PBB hari Senin setelah China mengirim surat mereka ke PBB minggu lalu.

    Dalam suratnya ke PBB, duta besar China menuduh Perdana Menteri Jepang Takaichi telah menyatakan ambisinya untuk campur tangan militer dalam masalah Taiwan. Ia mengisyaratkan bahwa Jepang mungkin akan menggunakan kekuatan bahkan tanpa diprovokasi. Surat juga menambahkan bahwa pernyataan Takaichi tentang kontingensi Taiwan adalah ancaman kekuatan pada China. Tuduhan ini muncul saat Partai Komunis China mengklaim Taiwan sebagai miliknya, klaim yang ditolak keras oleh Taiwan.

    Duta besar Jepang untuk PBB juga menolak klaim China karena tidak sesuai dengan fakta dan tidak berdasar. Dubes tersebut menambahkan bahwa kebijakan fundamental Jepang tetap berorientasi pada pertahanan semata, dan bahwa Jepang harus dengan tegas membantah klaim China.

  • Pertikaian Memanas, Dubes China Blokir Jepang di Majelis Umum PBB

    Pertikaian Memanas, Dubes China Blokir Jepang di Majelis Umum PBB

    Perdana Menteri Jepang Takaichi baru-baru ini menyampaikan kepada parlemen bahwa keamanan Taiwan berkaitan erat dengan keselamatan Jepang, dan China segera bersikap konfrontatif. China menunda pertemuan menteri kebudayaan minggu depan dengan Jepang dan Korea Selatan. Hari Kamis, seorang jubir Kemenlu China berkata komentar Takaichi telah merusak fondasi kerjasama antara ketiga negara.

    Di saat yang sama, kementrian China melanjutkan latihan tembak langsung di Laut Kuning dekat Semenanjung Korea, yang semakin meningkatkan ketegangan dengan Jepang dan tampaknya menyeret Korea Selatan dalam perselisihan.

    China meningkatkan tekanan pada Jepang, minggu ini di Majelis Umum PBB duta besar China menyatakan Jepang sama sekali tidak memenuhi syarat bergabung dengan Dewan Keamanan sebagai anggota tetap, yang adalah serangan langsung pada Tokyo.

    Di China, agen perjalanan juga membatalkan berbagai tur grup  dan individu ke Jepang. Sichuan Airlines baru saja mengumumkan akan membatalkan semua penerbangan langsung antara Chengdu dan Hokkaido mulai Januari hingga Maret tahun depan.  Makanan laut Jepang juga dilaporkan diblokir di bea cukai China. Namun kepala sekretaris kabinet Jepang mengatakan mereka belum menerima pemberitahuan resmi dari China dan akan terus berdialog.

    Duta Besar AS untuk Jepang, George Glass, mengecam langkah Beijing sebagai paksaan dan menekankan bahwa AS mendukung Jepang. Sementara itu, di Taiwan, Presiden Lai Ching-te mengunggah makan siangnya pada Kamis, yaitu sepiring sashimi Jepang, Kagashima, ekor kuning, dan kerang Hokkaido dengan sentuhan Taiwan. Ia berkata, sekarang adalah waktu yang tepat untuk menikmati makanan Jepang”, menunjukkan jelas solidaritas Taiwan pada Jepang.

    Awal bulan ini, Perdana Menteri Jepang Takaichi mengatakan pada parlemen bahwa Jepang mungkin akan merespon secara militer jika China menyerang Taiwan. Beijing menuntut agar ia menarik kembali pernyataannya.

    [Stephen Nagy, Profesor Politik dan Studi Internasional, Universitas Christian International]:

    “Kami pahami bahwa keberhasilan ini meresahkan China. Mereka merasa ia akan jadi perdana menteri berumur pendek dan tidak berhasil, tetapi dengan penampilan kebijakan luar negeri yang sukses ini, mereka merasa ini waktu yang penting untuk mulai memberi tekanan pada Jepang. Saat ia berkomentar bahwa tentang ancaman keamanan bagi Taiwan dan Jepang harus intervensi secara militer, ini kesempatan bagi China untuk meningkatkan tekanan secara ekonomi pada Jepang. Saya rasa kita belum ada di titik puncak, kita baru saja memulai tekanannya pada Jepang.”

    Seorang utusan Jepang pergi ke Beijing minggu ini dengan tiga pesan tegas. Pertama, perdana menteri tidak akan mencabut pernyataannya tentang Taiwan. Kedua, berhenti mengklaim Jepang telah menjadi tidak aman, dan itu bukan alasan untuk menakuti turis China. Ketiga, Jepang mengecam keras postingan diplomat China yang mengancam akan memenggal kepala perdana menteri Jepang.

    Setelah pertemuan, China merilis foto-foto yang membuatnya tampak seperti Jepang datang untuk meminta maaf. Tokyo langsung mengecam foto-foto tersebut.

    [Stephen Nagy, Profesor Politik dan Studi Internasional, Universitas Christian International]:

    “Seluruh insiden ini adalah narasi palsu dari luar. Dari sudut pandang China, Partai Komunis China benar-benar telah memberikan narasi pada rakyat bahwa ini adalah contoh lain dari upaya Jepang untuk menindas dan menekan China.”

  • Alibaba Bantu Militer Tiongkok, AS Jadi Target Utama

    Alibaba Bantu Militer Tiongkok, AS Jadi Target Utama

    Gedung Putih menyampaikan kekhawatiran baru atas peran raksasa e-commerce  China, Alibaba. Berdasarkan catatan yang diperoleh Financial Times bahwa selama ini Alibaba telah menyediakan bantuan bagi teknologi militer China dengan target utama AS. Catatan itu menyebut bahwa Alibaba memberikan akses data pelanggan, seperti alamat IP, detail Wi-Fi, dan riwayat pembayaran kepada pemerintah China.

    Alibaba segera membantah semua tuduhan tersebut, namun setelah berita tersebut tersiar, saham Alibaba jatuh 4,5%.

    Catatan tertanggal 1 November itu muncul tepat setelah Trump bertemu dengan presiden Xi di Korea Selatan. Gedung Putih tidak berkomentar soal rencana mereka terkait tuduhan tersebut.

    Ini bukan pertama kalinya parlemen AS menyuarakan kekhawatiran. Beberapa pihak telah mendesak pemerintah AS untuk mengambil langkah tegas terhadap Alibaba.

  • Negara G7 Khawatir Pesatnya Militer dan Nuklir China, Serukan Perdamaian

    Negara G7 Khawatir Pesatnya Militer dan Nuklir China, Serukan Perdamaian

    Peringatan dari tujuh negara demokrasi utama dunia pada Partai Komunis China. Dalam pernyataan bersama hari Rabu, para menlu G7 menyatakan kekuatiran atas peningkatan militer dan ekspansi nuklir China yang pesat. Mereka mendesak Beijing untuk lebih transparan, serta menentang segala upaya China mengubah status quo dengan kekerasan di Laut China Selatan dan Timur atau Selatan Taiwan. Ini berarti, peringatan agar China tidak bertindak agresif pada Taiwan atau perairan yang disengketakan.

    G7 menyatukan tujuh negara demokrasi utama. Dua dari Amerika Utara, AS dan Kanada, dan empat dari Eropa yaitu Inggris, Prancis, Jerman dan Italia. Jepang adalah satu-satunya anggota dari Asia. Uni Eropa juga bergabung, meski bukan satu negara. Pertemuan G7 tahun ini diadakan di Kanada pada hari Selasa dan Rabu dengan beberapa negara tamu seperti Ukraina, India, Arab Saudi, Meksiko dan Korea Selatan.

  • PM Jepang Pertama Kali Memecah Ambiguitas Soal Taiwan

    PM Jepang Pertama Kali Memecah Ambiguitas Soal Taiwan

    Kembali di China in Focus, saya Tiffany Meier. Perdana Menteri Jepang yang baru terpilih, Sanae Takaichi, memecahkan ambiguitas strategis negara selama puluhan tahun. Ia adalah pemimpin Jepang pertama yang secara langsung mengaitkan keamanan Taiwan dengan Jepang, dan secara terbuka menyatakan Jepang akan membantu Taiwan secara militer jika China menyerang. Komentarnya memicu balasan diplomatik pekan lalu, diplomat China di Osaka mengancam akan memenggal kepala Takaichi dalam unggahan yang kini telah dihapus di X. Berikut selengkapnya.

    Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi telah memicu perselisihan diplomatik dengan Beijing setelah berkata bahwa jika China menyerang Taiwan, itu akan memicu respon militer dari Tokyo.

    Saat itu Takaichi ditanyai oleh anggota parlemen oposisi tentang kemungkinan situasi yang mengancam kelangsungan hidup, sebuah istilah hukum yang memungkinkan perdana menteri Jepang mengerahkan pasukan militer negara. Sebagai tanggapan, Takaichi memberi contoh bahwa upaya membuat Taiwan berada di bawah kendali Beijing dengan kapal perang dan kekuatan militer, akan menyebabkan situasi seperti itu.

    Ia kemudian menambahkan bahwa serangan terhadap kapal perang AS yang dikirim untuk mematahkan blokade China pada Taiwan akan membuat Tokyo harus campur tangan secara militer guna mempertahankan diri dan sekutunya.

    Situasi yang mengancam kelangsungan hidup didefinisikan secara luas dalam undang-undang kontroversial tahun 2015; yang memperluas cakupan militer negara itu.

    Takaichi juga membuat marah Beijing dengan mempublikasikan pertemuannya dengan seorang perwakilan Taiwan pada pertemuan puncak regional di Seoul pada awal November.

    China mengklaim Taiwan yang diperintah secara demokratis sebagai wilayahnya sendiri, dan bersumpah akan menguasainya dengan kekerasan jika perlu. Taiwan sangat menentang klaim kedaulatan China dan mengatakan hanya rakyat Taiwan yang dapat menentukan nasib Taiwan.

    Pernyataan Takaichi memicu postingan ancaman dari seorang diplomat China di Jepang yang menulis, “kepala kotor yang nekat ikut campur harus dipenggal tanpa ragu.”

    Seorang jubir Kemenlu China berkata Beijing telah meluncurkan protes resmi pada apa yang disebutnya campur tangan terang-terangan dalam urusan internalnya.  

    Taiwan menyebut pernyataan diplomat China pada Takaichi tersebut tidak sopan dan tidak tepat. Menanggapi protes China, Jepang mengatakan pihaknya memahami dan menghormati posisi Beijing pada Taiwan dan berharap masalah Taiwan akan diselesaikan secara damai melalui dialog.

  • 9 Jenderal Senior PKC Digulingkan Jelang Rapat Pleno

    9 Jenderal Senior PKC Digulingkan Jelang Rapat Pleno

    Gelombang perombakan besar tengah berlangsung dalam militer China. Jumat kemarin, beberapa hari sebelum pertemuan para petinggi negara di Beijing. PKC mencopot 9 jenderal termasuk jendral militer nomor dua dan perwira tertinggi angkatan darat. Langkah ini memicu pertanyaan akankah ini berdampak pada kemampuan China mengambil alih Taiwan.

    He Weidong, seorang petinggi di antara sembilan jenderal adalah pemimpin militer nomor dua China yang langsung berada di bawah Xi Jinping, merupakan rekan dekat sekaligus orang pilihan Xi yang mengemban misi invasi Taiwan. He Weidong duduk di jajaran Politbiro China beserta 24 lainnya, sebuah badan tertinggi kedua PKC. Ia tidak terlihat oleh publik sejak Maret. Kementerian Pertahanan China mengatakan He dan beberapa lainnya terlibat dalam pelanggaran disiplin partai dan kejahatan finansial serius.

    Pejabat lain yang dipecat, Miao Hua, adalah perwira politik tertinggi angkatan darat. Sejak tahun lalu, Miao sudah berada di bawah penyelidikan. Miao berurusan dengan militer terkait Taiwan dan Laut China Selatan. AS menganggap kedua wilayah ini sebagai titik paling mungkin terjadinya konflik dengan China. Ia dipandang dekat dengan lingkaran dalam Xi Jinping.

    Jenderal lain yang dicopot, Lin Xiangyang, bertugas memimpin komando militer yang memainkan peran dalam setiap konflik Taiwan. Partai Komunis China menganggap Taiwan sebagai bagian dari China meski tidak pernah memerintah langsung. Beijing berjanji akan menggunakan kekerasan jika perlu.

    Perkembangan terkini telah memicu spekulasi bahwa Xi Jinping mungkin kehilangan kekuasaan. Pengumuman tersebut datang hanya beberapa hari sebelum pertemuan penting para pejabat senior PKC di Beijing minggu depan.

  • Rusia Latih Pasukan China: Siap Skenario Invasi Taiwan 2027

    Rusia Latih Pasukan China: Siap Skenario Invasi Taiwan 2027

    Rusia dilaporkan setuju memberikan dorongan militer bagi China, melatih tentara China untuk diterjunkan medan perang dari pesawat, penyediaan peralatan, serta berbagi pengalaman dalam penerjunan kendaraan lapis baja. Itu menurut RUSI, lembaga pemikir pertahanan tertua di dunia. Mereka berkata berbagi keahlian dapat meningkatkan kemampuan Beijing merebut Taiwan.

    Pemimpin China Xi Jinping telah meminta militer untuk mempersiapkan diri menginvasi Taiwan pada 2027. Salah satu tantangan yang akan dihadapi Beijing dalam invasi ini adalah mengerahkan pasukan di pulau itu.

    Taiwan memiliki sangat sedikit pelabuhan laut dalam dan pantai yang cocok untuk pasukan pendaratan yang besar. Di situlah keahlian Rusia berpotensi mengisi kesenjangan. Pelatihan untuk komando dan kendali pasukan udara adalah pengalaman yang tidak dimiliki China. Jika China dapat menekan pertahanan udara Taiwan, menerjunkan pasukan khusus dan kendaraan lapis baja, China dapat dengan cepat mentransfer kekuatan tempur ke Taiwan.

    Dokumen tersebut menunjukkan bahwa pada 2023, Rusia setuju untuk menyediakan peralatan khusus bagi militer China untuk infiltrasi udara. Pada tahun 2024, Rusia setuju untuk menjual senjata ke Angkatan Udara China, termasuk senjata anti-tank dan pengangkut personel lapis baja.

    Rusia juga setuju untuk melatih pasukan terjun payung China untuk menggunakan peralatan. Lembaga itu meninjau 800 halaman kontrak dan materi jaminan yang diperoleh dari sebuah kelompok aktivis. Laporan menyatakan bahwa dengan membeli senjata dari China, Beijing terus berkontribusi pada perang Rusia di Ukraina.