Tag: nicolas maduro

  • China Hapus Tiga Ahli Nuklir dari Situs Web

    China Hapus Tiga Ahli Nuklir dari Situs Web

    Meningkatnya pemecatan para ahli nuklir dan rudal terkemuka di China dapat mengungkap masalah yang lebih dalam. Para ahli mengatakan hal itu menunjukkan kurangnya kepercayaan para pejabat China terhadap senjata buatan dalam negeri.

    Akademi Teknik China telah menghapus tiga akademisi terkemuka dari situs webnya. Ketiga akademisi tersebut termasuk para ahli dalam senjata nuklir, rudal, dan sistem radar. Akademi tersebut tidak memberikan alasan atas pemecatan mereka, tetapi seminggu yang lalu, sebuah surat kabar Hong Kong melaporkan bahwa mereka kemungkinan sedang diselidiki atas kasus korupsi.

    Ini bukan satu-satunya kasus. Selama 3 tahun terakhir, setidaknya enam akademisi lainnya kehilangan gelar mereka. Namun seorang ahli berpendapat pembersihan ini terkait dengan laporan-laporan terbaru tentang kegagalan senjata China di lapangan. Radar anti-pesawat mereka diduga tidak berfungsi di Venezuela ketika pasukan AS menangkap Nicholas Maduro. Sistem rudal SAM yang digunakan Iran juga dihancurkan Israel dan AS dalam satu jam pertama serangan.

    Seorang analis senior Taiwan percaya bahwa penghapusan tersebut terkait dengan penindakan militer awal tahun ini. Banyak pejabat tinggi yang disingkirkan, termasuk wakil komandan Xi Jinping, Zhang Youxia. Mereka yang ditangkap kemungkinan mengaku dan menyebutkan nama orang lain, memperluas penyelidikan.

    Penghapusan tersebut menggemakan skandal militer dari tahun 2024 ketika Bloomberg melaporkan bahwa rudal China diisi dengan air bukan bahan bakar.

  • Aksi Pemerintahan Trump di Amerika Selatan dan Timur Tengah Kacaukan Agenda Global Xi

    Aksi Pemerintahan Trump di Amerika Selatan dan Timur Tengah Kacaukan Agenda Global Xi

    Selama beberapa dekade, China bermain dengan aturan sederhana: sembunyikan kekuatan dan menunda. Namun sejak berkuasa, Xi Jinping mengubah strategi itu. Beijing kini gencar mempromosikan pandangan dunia baru, yaitu Timur bangkit dan Barat menurun. Tujuannya adalah beralih dari posisi menonton ke posisi mengemudi dalam tata kelola global. Ia ingin China berhadapan langsung dengan AS dan menulis ulang aturan tatanan global. Namun di kuartal pertama tahun 2026 ini, visi tersebut menghadapi kenyataan pahit. Dua sekutu strategis China, rezim Maduro di Venezuela dan rezim Iran pimpinan Khamenei menghadapi krisis beruntun. Bagaimana langkah-langkah pemerintahan Trump ini telah membongkar agenda global Xi Jinping? Kita telaah lebih dalam.

    Saat pasukan AS menangkap Nicolas Maduro dalam hitungan jam, Beijing, mitra strategis tertingginya, hanya mengeluarkan protes verbal tanpa intervensi militer maupun penyelamatan. Dunia menyaksikan kesenjangan antara retorika global China dan realita kekuatan kerasnya.

    Hanya beberapa jam sebelum penangkapannya, delegasi tingkat tinggi China bertemu Maduro. Mereka tak hanya dikejutkan, tapi juga terjebak dalam kekacauan berhari-hari. Sebuah fakta yang kemudian diakui dengan canggung oleh kemenlu China.

    Sistem pertahanan Venezuela yang dengan bangga dibuat di China terbukti tidak berguna. Radar anti-kapal J127A yang canggih dan sistem pengawasan jarak jauhnya tidak berpeluang melawan teknologi AS, memicu perdebatan apakah perangkat keras militer China benar-benar siap tempur.

    Pemerintah transisi Venezuela sudah condong ke AS, menandatangani kesepakatan energi besar dengan pemerintahan Trump. Ini membuat kesepakatan minyak Beijing selama beberapa dekade untuk menghindari sanksi dan mendapat minyak diskon menjadi tidak berarti. Puluhan miliar dolar investasi China dapat lenyap dalam semalam.

    Dari Amerika Selatan hingga jantung Timur Tengah, runtuhnya jaringan aliansi Beijing terus berlanjut. Serangan gabungan AS-Israel melumpuhkan kepemimpinan Iran, menewaskan pemimpin rezim Ali Khamenei dan lebih dari 40 anggota lingkaran dalamnya. Bagi China ini adalah pelajaran tentang solidaritas totaliter, persahabatan dengan banyak retorika, tetapi tidak berarti saat rudal mulai berterbangan.

    Berikut dampaknya. Meskipun bertahun-tahun membicarakan kemitraan strategis, Beijing belum menawarkan komitmen pertahanan formal kepada Tehran. Walau menlu Iran menggembar-gemborkan kerja sama militer yang erat, Beijing sebagian besar tetap berada di tepi saat tekanan meningkat.

    China dan Iran menandatangani pakta ekonomi 25 tahun pada tahun 2021. Tetapi karena perang Iran baru-baru ini, pakta tersebut secara efektif lumpuh.

    Dengan Selat Hormuz yang diblokade, jalur energi utama China sangat terpengaruh. Negara itu membeli lebih dari 90% ekspor minyak Iran atau sekitar 13% dari total pasokan tahunan China. Itu adalah pukulan serius bagi keamanan energi Beijing. Kematian Khamenei bukan hanya pukulan bagi rezim Iran, tetapi juga bencana bagi Xi Jinping. Selama bertahun-tahun, China menggunakan Iran sebagai penyeimbang strategis untuk menahan pasukan AS di Timur Tengah. Kini seluruh front anti-Amerika itu telah runtuh, meninggalkan strategi Timur Tengah Beijing dalam reruntuhan.

    Langkah-langkah yang diambil pemerintahan Trump memperjelas satu hal, bahwa keamanan dalam negeri dan halaman belakangnya telah menjadi prioritas utama. Washington menentang narasi kemunduran Barat oleh Beijing dan menegaskan kebangkitan kembali kekuatan Barat.

    [Marco Rubio, Menlu AS]:

    “Para pendahulu kita menyadari bahwa kemunduran adalah sebuah pilihan dan itu adalah pilihan yang tidak mau mereka buat. Inilah yang pernah kita lakukan sebelumnya dan ini yang ingin dilakukan Presiden Trump dan AS sekarang. Kita di Amerika tidak tertarik untuk menjadi pengurus yang sopan dan tertib dari kemunduran Barat yang terkelola.”

    Dalam permainan catur global baru ini Indo-Pasifik adalah kawasan terpenting di luar AS. Sebagian besar dari itu adalah mempertahankan keunggulan militer di Selat Taiwan untuk mencegah Beijing menyerang Taiwan. AS ingin memastikan bahwa setiap langkah China akan terlalu berisiko dan mahal, sebuah strategi yang berakar dari perdamaian melalui kekuatan. Ketika debu mereda di Venezuela dan Iran, pesan pada rezim China telah jelas, era kemunduran Amerika telah berakhir.

  • Ahli: PKC Tidak Akan Bantu Iran, Sekutu Terbesarnya di Timur Tengah

    Ahli: PKC Tidak Akan Bantu Iran, Sekutu Terbesarnya di Timur Tengah

    Serangan AS-Israel ke Iran telah melenyapkan hampir semua pemimpin senior di rezim tersebut. Namun sekutu terdekat Iran, China dan Rusia, belum menawarkan dukungan apapun selain gestur diplomatik. Analis urusan China Tang Jingyuan memberikan ulasannya tentang langkah Beijing selanjutnya serta apa arti serangan tersebut pada agenda Partai Komunis China.

    China, Iran, Rusia dan Korea Utara secara luas dipandang di Barat sebagai poros kejahatan baru. Aliansi ini telah lama berupaya menggulingkan tatanan dunia yang dipimpin AS. Pemimpin rezim China Xi Jinping berulang kali menekankan agenda globalnya sejak 2021, menyatakan timur sedang bangkit dan barat sedang melemah, dan bahwa Iran adalah sekutu terbesar China di Timur Tengah.

    Analis urusan China Tang Jingyuan berkata serangan ke Iran bisa menghancurkan rencana Beijing mencapai dominasi global.

    [Tang Jingyuan, Analis Urusan China]:

    “Iran adalah pijakan utama Beijing di Timur Tengah dan pengaruh utamanya pada AS. Perubahan rezim di Iran, terutama ke pemerintahan pro-AS, adalah pukulan besar bagi PKC, membatalkan investasi regional bertahun-tahun. Serangan AS dan Israel yang mengancam rezim Iran dapat menandai awal fragmentasi poros ini.”

    Beralih ke energi, China sangat bergantung pada impor minyak. China adalah pembeli minyak terbesar dari Venezuela, Rusia, dan Iran, yang semuanya menghadapi sanksi Barat yang serius. Data resmi menunjukkan 80% ekspor minyak Iran menuju China. Serangan pada Iran telah mempertaruhkan keamanan energi China, setelah pengambil-alihan minyak Venezuela oleh AS. Tang berkata pengetatan kontrol atas pasokan energi China dapat mengurangi kemampuan Beijing memperluas agresi globalnya.

    [Tang Jingyuan, Analis Urusan China]:

    “PKC tidak swasembada energi dan telah lama mengejar strategi diversifikasi demi menghindari ketergantungan pada satu pemasok tunggal. Pendekatan pemerintahan Trump bertujuan secara sistematis membatasi saluran impor energi China. Jika jalur dipersempit ke satu atau dua sumber, keamanan pasokan Beijing akan sangat melemah. Tanpa akses energi yang stabil, kapasitas PKC untuk ekspansi eksternal akan sangat dibatasi.”

    Tetapi akankah Beijing memberikan dukungan militer ke Iran? Tang berkata dia percaya peluangnya sangat kecil, karena China tidak ingin meningkatkan ketegangan dengan AS menjelang kunjungan Presiden Trump ke China bulan depan. Ditambah lagi sekarang sedang terjadi pembersihan militer skala besar dan terjadinya peningkatan pertikaian politik internal PKC.

    [Tang Jingyuan, Analis Urusan China]:

    “Xi Jinping menghadapi tekanan domestik dan internasional yang telah melemahkan posisinya. Undangannya ke Trump untuk mengunjungi China menunjukkan ia berharap menggunakan kunjungan itu demi memperkuat kedudukannya. Jika ia membantu Iran, ini berisiko menyebabkan keretakan langsung dengan Trump, bahkan berpotensi Trump membatalkan perjalanan tersebut. Di saat yang sama, PKC paham bahwa serangan terbaru AS-Israel ke Iran mencerminkan tekad yang kuat. Jika Trump bertindak, kemungkinan besar ia bertekad mengamankan hasil yang menentukan. Dukungan militer China yang terbatas ke Iran sepertinya tidak akan mengubah situasi, bahkan menjadi bumerang bagi Beijing.”

    Tang berkata PKC pasti akan memprioritaskan kelangsungan hidupnya sendiri daripada sekutunya di saat-saat kritis. Hanya beberapa minggu yang lalu, Beijing juga menahan dukungan bagi teman dekatnya diktator Venezuela Nicolas Maduro saat ia ditangkap oleh pasukan AS.

    Flora Hua, NTD News.

  • Militer A.S. Sita Kapal Minyak Ketiga di Samudera Hindia

    Militer A.S. Sita Kapal Minyak Ketiga di Samudera Hindia

    Militer AS telah menyita sebuah kapal tanker minyak di Samudra Hindia setelah melacaknya dari perairan Karibia. Ini adalah kapal ketiga yang dikenai sanksi yang disita di wilayah tersebut.

    Pentagon memposting di X hari Selasa bahwa misi berlangsung semalaman, dan bahwa kapal berusaha menghindari sanksi. Kapal terkait dengan Shanghai Legendary Ship Management Company Limited dan berada di bawah sanksi AS.

    Laporan perkapalan Venezuela menunjukkan kapal tersebut berlayar pada bulan Januari dari perairan Venezuela, membawa sekitar 1,9 juta barel minyak mentah berat dengan tujuan China. Pentagon memperingatkan bahwa, “Perairan internasional bukanlah tempat berlindung bagi aktor yang dikenai sanksi. Melalui darat, udara, atau laut, pasukan kami akan menemukan Anda dan menegakkan keadilan.”

  • China Diperbolehkan Beli Minyak Venezuela dengan Syarat Trump

    China Diperbolehkan Beli Minyak Venezuela dengan Syarat Trump

    AS menyambut baik pembelian minyak Venezuela oleh China, tetapi hanya dengan aturan dari Washington, dan dengan dolar.

    Meskipun ada sanksi AS, sekitar 80% minyak Venezuela dikirim ke China tahun lalu dengan diskon besar. Namun semuanya berubah sejak AS menangkap pemimpin Venezuela Nicholas Maduro, serta penindakan angkatan lautnya terhadap armada bayangan yang mengangkut minyak Venezuela. Akibatnya, China tidak menerima minyak mentah Venezuela pada bulan Januari.

    Dalam pertemuan Trump dengan para eksekutif minyak awal bulan lalu, Trump berkata bahwa AS terbuka untuk bisnis minyak di Venezuela dan negara-negara harus berurusan dengannya dalam hal ini. Beberapa ahli mengatakan pendekatan ini tak hanya meningkatkan daya tawar energi AS, tetapi juga strategi untuk mendukung stabilitas dolar.

    Partai Komunis China telah lama berupaya mengganti dolar AS dengan mata uang China, Renminbi. Melalui kerjasama ekonomi seperti BRICS, China, Rusia, Iran dan Venezuela telah memperdagangkan minyak dan komoditas lainnya dengan Renminbi hingga dapat menghindari sanksi AS.

  • Iran Blokir Starlink, Ahli Berkata Teknologi Mungkin Dipasok China atau Rusia

    Iran Blokir Starlink, Ahli Berkata Teknologi Mungkin Dipasok China atau Rusia

    Pemadaman internet di Iran telah berlangsung selama 4 hari, menyebabkan 90 juta penduduknya terperosok dalam kegelapan digital. Baik jaringan internasional maupun domestik terputus sepenuhnya. Bahkan layanan internet satelit seperti Starlink turun tajam. Menurut Iran Wire, platform berita online independen, lebih dari 80% lalu lintas internet Starlink telah terganggu. Jurnalis Israel Emily Schrader mencatat aktivitas Starlink di Iran diblokir total.

    Rezim Iran dilaporkan telah mengaktifkan pemutus sinyal bertaraf militer untuk memblokir Starlink. Para ahli berkata teknologi canggih ini mungkin dipasok oleh China atau Rusia. China telah mensimulasikan penggunaan drone untuk memblokir Starlink di area seluas Taiwan dan berinvestasi besar-besaran dalam sistem ini.

    Namun, operasi anti-GPS ofensif yang sebenarnya masih belum dikonfirmasi. Hari Minggu, Presiden Trump mengatakan ia akan berdiskusi dengan Elon Musk tentang konektivitas Starlink.

    Protes anti-komunis di seluruh Iran kini telah memasuki minggu ketiga. Setidaknya 500 orang telah tewas dan lebih dari 10.000 orang telah ditangkap, menurut sebuah kelompok HAM berbasis di AS. Gedung Putih terus menyuarakan dukungan untuk rakyat Iran yang berjuang untuk kebebasan.

    Pada 10 Januari Menlu AS Marco Rubio memposting bahwa AS mendukung rakyat Iran yang berani.

    Sekutu Presiden Trump, Senator Lindsey Graham, me-retweet postingan Rubio, menambahkan pesan ke rezim, “Kebrutalan Anda terhadap rakyat Iran yang hebat tidak akan dibiarkan begitu saja. Jadikan Iran hebat kembali.”

    Presiden Trump memposting di hari yang sama, mengutip, “Iran sedang melihat kebebasan mungkin seperti belum pernah sebelumnya. AS siap membantu.”

    Menteri Perang AS Pete Hegseth me-retweet postingan presiden beberapa jam kemudian pada hari Senin.

    Iran mengatakan siap berperang, tetapi juga siap bernegosiasi dengan AS.

    Kembali ke konektivitas Starlink. Kantor berita Iran melaporkan pasukan keamanan Iran menindak penggunaan Starlink di negara itu. Pihak berwenang menggerebek rumah-rumah dan menangkap mereka yang ditemukan memiliki peralatan satelit.

  • Serangan AS ke Venezuela Tak Akan Dicontoh China untuk Taiwan

    Serangan AS ke Venezuela Tak Akan Dicontoh China untuk Taiwan

    Keputusan Presiden Trump untuk menyerang Venezuela dan menangkap Nicholas Maduro telah memicu perdebatan di kalangan pakar kebijakan luar negeri. Mereka membandingkan ini dengan China terkait invasi Taiwan, mempertanyakan apakah Beijing akan melihatnya sebagai model. Namun yang lain berspekulasi bahwa operasi AS baru-baru ini bukanlah strategi China untuk Taiwan.

    Menurut Dewan Hubungan Luar Negeri, alasan paling mendasar China belum bergerak ke Taiwan adalah kurangnya kepercayaan secara militer. Analis juga berkata operasi AS di Venezuela berbeda dari tujuan Beijing. Meski Trump berkata AS akan mengendalikan Venezuela untuk sementara waktu, namun ia tidak berniat mengambil alih secara permanen. Berbeda dengan China yang mengklaim masalah Taiwan adalah masalah internal, bertujuan menyingkirkan kepemimpinan demokratis Taiwan dan memerintahnya tanpa batas waktu.

    Sementara itu, AS berkata akan mendukung Taiwan jika itu terkait kepentingan nasional yang vital. Sekutu AS juga berkata akan mendukung Washington di Selat Taiwan, baik untuk diri mereka sendiri maupun menjaga keseimbangan regional.

    Untuk saat ini para analis percaya Beijing akan tetap bersabar, terutama jika mereka melihat tindakan Washington di Venezuela sebagai pengalih perhatian, daripada keuntungan strategis jangka panjang.

  • Mantan Tahanan Politik era Maduro Interupsi Maduro Saat Pembacaan Dakwaan di Sidang

    Mantan Tahanan Politik era Maduro Interupsi Maduro Saat Pembacaan Dakwaan di Sidang

    Bagaimana rasanya bertahan hidup di Venezuela era Maduro sebagai kandidat dari partai oposisi? Seorang pria Venezuela yang melarikan diri ke AS menghadang mantan presiden Nicolas Maduro saat pembacaan dakwaan di New York City. Pria itu diketahui mengalami penganiayaan politik di negara asalnya semasa Maduro berkuasa.

    David Cardenas [Pengacara HAM]:

    “Pablo Escobar pernah dilatih untuk menjadi presiden suatu saat dan menguasai semua wilayah. Mimpi itu menjadi kenyataan di Venezuela.”

    Seorang aktivis anti-Maduro di AS membandingkan Nicolas Maduro dengan almarhum Pablo Escobar yang adalah gembong narkoba. Ia berkata Maduro juga seorang gembong narkoba, namun berhasil mengambil alih sebuah negara. Pedro Rojas, mantan tahanan politik di Venezuela, berteriak kepada Maduro saat pembacaan dakwaan Senin lalu.

    Pedro Rojas [Tahanan Politik di bawah era Maduro]:

    “Maduro, tatap saya. Saya tidak takut. Saya berbicara mewakili 40 juta warga Venezuela yang merasa bahagia hari ini karena Maduro telah ditangkap.”

    Rojas berkata bahwa Maduro bersalah atas semua tuduhan yang diajukan oleh Departemen Kehakiman AS. Maduro dan istrinya didakwa atas konspirasi terorisme narkoba, perdagangan narkoba, dan tuduhan kepemilikan senjata. Keduanya mengaku tidak bersalah atas semua tuduhan tersebut.

    Saat ditanya konsekuensi seperti apa yang diinginkannya untuk seorang Maduro apabila kekuatan hukum sepenuhnya diterapkan.

    Pedro Rojas [Tahanan Politik di bawah era Maduro]:

    “Hari ini Venezuela mempunyai banyak tahanan politik yang dihukum selama 14, 18, hingga 20 tahun. Banyak para ibu di Venezuela telah ditangkap karena pria haus darah ini.”

    Rojas mengatakan ia dipenjara selama hampir setengah tahun pada tahun 2019 karena dituduh mencoba mencelakai Maduro. Hal itu terjadi setelah ia mencoba mencalonkan diri sebagai anggota Kongres dari partai oposisi pada tahun 2015. Pria yang menerjemahkan untuk Rojas mengatakan bahwa mencalonkan diri untuk oposisi di Venezuela era Maduro memiliki dua kemungkinan hasil: mati atau berakhir di penjara.

    Terkait bagaimana masa depan Venezuela, Rojas punya pesan untuk Presiden Trump.

    Pedro Rojas [Tahanan Politik di bawah era Maduro]:

    “Kami warga Venezuela bersedia untuk segera kembali ke wilayah nasional kami untuk membangun kembali negara dan bekerja sama dengan Amerika Utara guna menjadikan Amerika hebat serta menjadikan Venezuela negara yang luar biasa.”

  • Trump Beri Peringatan Keras Bagi Pemimpin Sementara Venezuela

    Trump Beri Peringatan Keras Bagi Pemimpin Sementara Venezuela

    Pemerintah Venezuela mengeluarkan maklumat untuk menangkap pihak yang terlibat mendukung operasi militer AS di negaranya. Ini menandai serangan terbaru terhadap hak rakyat Venezuela oleh pemerintah.

    Perintah untuk menangkap simpatisan yang mendukung operasi AS tertuang dalam dekrit yang diterbitkan pemerintah. Dokumen itu memerintahkan aparat untuk memulai pencarian dan menangkap semua pihak yang terlibat mendukung operasi militer AS. Dekrit itu telah berlaku sejak Sabtu, tapi baru diterbitkan secara lengkap hari ini.

    Pemimpin sementara Venezuela yakni mantan Wakil Presiden Delcy Rodriguez mengecam penangkapan Maduro dan istri serta menuntut pembebasan segera keduanya. Trump mengeluarkan peringatan keras padanya.

    [Donald Trump, Presiden AS]:

    “Saya hanya bilang dia mungkin akan menghadapi situasi yang lebih buruk sebab, Anda tahu kan, Maduro menyerah.”

    Trump mengatakan kemungkinan serangan kedua jika pemimpinnya “tidak bisa bekerjasama.” Trump juga menyinggung kepemimpinan Venezuela saat berada diatas Air Force One hari ini.

    Trump: “Dan jangan tanya siapa yang memegang kendali karena jawabannya akan sangat kontroversial.”

    Reporter: “Apa maksud Anda?”

    Trump: “Kami yang memegang kendali.”

    Berbicara di acara Meet the Press, Menlu AS Marco Rubio menyinggung soal minyak dan pengaruh rival AS di kawasan tersebut:

    [Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS]:

    “Apa yang tidak bisa kami biarkan adalah industri minyak di Venezuela dikendalikan oleh rival-rival Amerika Serikat. Anda harus paham mengapa China butuh minyak mereka? Rusia butuh minyak mereka? Iran butuh minyak mereka? Negara-negara itu bahkan tidak berada di benua ini. Ini adalah belahan bumi bagian barat. Di sinilah kita tinggal. Dan kita tidak akan membiarkan belahan bumi bagian Barat menjadi pangkalan operasi bagi lawan, pesaing, dan rival Amerika Serikat.”

    Rubio berkata operasi di Venezuela tidak butuh persetujuan kongres karena merupakan operasi penegakan hukum tanpa invasi atau pendudukan. Ia menambahkan bahwa Pentagon akan mempertahankan blokade militernya di sekitar Venezuela untuk memberikan tekanan pada rezim sosialis di negara itu.

    Rubio mengkritik laporan bahwa PBB membantah keterlibatan Maduro dalam perdagangan narkoba.

    [Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS]:

    “Saya tidak peduli apa yang dikatakan PBB. PBB tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Maduro didakwa oleh dewan juri Distrik Selatan New York. Nicolas Maduro adalah terdakwa pengedar narkoba di  Amerika Serikat dan dia adalah buronan Amerika.”

    Menurut pihak berwajib Venezuela sebagian besar pasukan keamanan Maduro tewas dalam operasi militer AS.

  • Minyak Venezuela Tujuan China Masih Diblokir

    Minyak Venezuela Tujuan China Masih Diblokir

    Venezuela memuat minyak mentah untuk Chevron, tetapi ekspor minyak ke China tetap terhenti dalam hari kelima berturut-turut. Data pengiriman menunjukkan Chevron adalah satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang beroperasi di Venezuela. Lisensi Chevron membebaskannya dari sanksi yang dikenakan pada industri minyak Venezuela.

    Data pemantauan kapal menunjukkan di hari Selasa, beberapa kapal yang disewa Chevron adalah satu-satunya yang memuat minyak mentah untuk ekspor dari dua pelabuhan Venezuela. Kapal-kapal lain memuat untuk memindahkan minyak antar pelabuhan domestik. Sementara itu, operasi perusahaan minyak milik negara untuk memuat kargo bagi China tetap ditangguhkan di hari kelima.

    [Daniel Turner, Direktur Eksekutif Power the Future]:

    “Kerentanan terbesar China adalah kurangnya minyak domestik. Mereka mendapatkannya dari beberapa tempat, Rusia tentunya, Iran dan Venezuela, dan pasar-pasar itu sekarang mengering untuk China. Jadi, ada permainan kekuasaan yang terjadi disini, menggunakan minyak sebagai senjata untuk melemahkan komunis China, yang adalah ancaman dan musuh geopolitik nomor satu kita. Ini memberi peringatan pada China. China punya banyak operasi di Amerika Selatan. Jika China melemah di Amerika Selatan, itu bagus untuk AS dan dunia. Itu adalah permainan yang sama yang dilakukan presiden dengan sanksi minyak di Rusia dan Iran.”