Tag: tarif trump

  • Tenggat 1 Agustus Berakhir, Trump Kenakan Tarif Tinggi ke Berbagai Negara

    Tenggat 1 Agustus Berakhir, Trump Kenakan Tarif Tinggi ke Berbagai Negara

    China kini mendapat tenggat waktu baru untuk mencapai kesepakatan tarif, yaitu 12 Agustus. Presiden Donald Trump membuat keputusan ini hari Kamis demi memberi China lebih banyak waktu. Pada saat yang sama, Trump mengenakan tarif tinggi atas ekspor puluhan negara, termasuk Kanada, Brazil, India, dan Taiwan. Berikut selengkapnya.

    Presiden AS Donald Trump mengenakan tarif tinggi pada puluhan negara menjelang batas waktu kesepakatan perdagangan hari Jumat yang kini telah berakhir. Sebuah perintah eksekutif ditandatangani hari Kamis menetapkan tarif sebesar 35% untuk banyak produk dari Kanada, sementara Brazil dikenakan tarif sebesar 50%. Untuk semua barang dari 67 negara, Uni Eropa dan Taiwan akan dikenakan dalam waktu seminggu, 7 hari setelah batas waktu 1 Agustus. Sementara barang apa pun yang tidak ada dalam daftar akan dikenakan pajak 10%.

    Namun, tarif Kanada ditetapkan secara terpisah menjadi 35%, naik dari 25%. Trump berkata bahwa Kanada telah gagal bekerja sama dalam mengekang aliran narkotika ilegal ke AS. Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengatakan ia kecewa dengan keputusan Trump dan berjanji untuk mengambil tindakan.

    Hal ini kontras dengan Meksiko, yang diberi perpanjangan 90 hari untuk menyelesaikan kesepakatan dagang. Sementara itu China menghadapi batas waktu 12 Agustus untuk kesepakatan jangka panjang.

    Beijing dan Washington baru mencapai kesepakatan awal pada bulan Mei dan Juni untuk mengakhiri eskalasi tarif yang saling berbalas dan penghentian impor bahan tanah jarang.

    Saat Trump pertama kali mengumumkan kebijakan dagangnya pada bulan April, hal itu telah memicu aksi jual di pasar saham, namun kali ini keadaannya jauh lebih tenang. Saham dan ekuitas berjangka turun tipis pada perdagangan Jumat pagi di Asia.

    Pendapatan tarif mencapai rekor bulanan baru pada bulan Juli. Menurut data Departemen Keuangan, pendapatan mencapai 28 miliar, melampaui rekor sebelumnya sebesar 27 miliar yang ditetapkan pada bulan Juni.

  • India Dikenai Tarif 25% oleh A.S. Namun Tetap Menolak Memihak

    India Dikenai Tarif 25% oleh A.S. Namun Tetap Menolak Memihak

    Pengumuman perdagangan baru dari Presiden Trump. Ia berkata  AS akan mengenakan tarif 25% untuk India mulai 1 Agustus. Trump juga berkata India akan menghadapi penalti, meskipun tidak memberi perincian. Di saat yang sama, India tetap menjadi mitra utama AS dalam melawan pengaruh komunis China di Indo-Asia Pasifik. Mengapa India begitu penting dalam strategi Washington? Mari kita lihat.

    Dalam sebuah unggahan di media sosial pagi ini, Trump menulis, “Meskipun India adalah teman kita, selama bertahun-tahun kita relatif jarang berbisnis dengan mereka, karena tarif yang terlalu tinggi.”

    Trump mengutip hambatan perdagangan non-moneter India, menyebutnya berat dan menjengkelkan. Ia berkata India membeli peralatan militer dan minyak dari Rusia bersama dengan China, yang menurut Trump, memungkinkan terjadinya perang di Ukraina.

    Pada bulan April, Trump mengumumkan tarif hingga 27% bagi India, namun kemudian ditangguhkan. Sejak itu kedua belah pihak telah merundingkan kesepakatan.

    Di tengah meningkatnya ketegangan AS-China, India berada di posisi sulit. India mempererat hubungan di bidang pertahanan dan teknologi dengan Washington, sementara tetap menjaga pintu tetap terbuka bagi Beijing. Ini terlepas dari bentrokan perbatasan yang sengit antara India dan China beberapa tahun lalu. Apa penyebab India berusaha tidak memihak pada dua kepentingan yang saling bersaing ini? Mari kita lihat.

    India telah sangat berhati-hati di panggung dunia, mencoba membangun hubungan internasional yang lebih kuat tanpa memihak. Hubungannya dengan AS antara lain dalam latihan militer, kesepakatan teknologi, dan kontrak pertahanan. Itu termasuk drone buatan AS dan proyek mesin jet tempur besar. Perusahaan seperti Apple secara bertahap mengalihkan lebih banyak produksi ke India, mengurangi ketergantungan pada China.

    Di sisi lain, India juga masih berbisnis dengan China. Baru-baru ini, India melakukan pembelian besar-besaran minyak kedelai China. India bahkan mempertimbangkan melonggarkan beberapa pembatasan investasi teknologi China. Hubungan India-China sempat bergejolak tahun 2020 saat terjadi bentrokan mematikan di perbatasan Aksai Chin yang diklaim kedua negara. Meskipun demikian, kedua belah pihak tetap membuka pintu untuk perundingan.

    Rencana India adalah untuk bangkit sebagai kekuatan global tanpa memihak maupun tergantung pada negara mana pun. India bekerja sama dengan AS melalui Quad, sebuah aliansi mencakup Jepang dan Australia, namun juga bergabung dalam organisasi seperti BRICS dan Organisasi Kerjasama Shanghai yang mencakup China dan Rusia.

    Terlihat bahwa India ingin tetap membuka pilihannya baik dengan AS maupun China, meskipun sedang terjadi ketegangan diantara keduanya.

  • Pembicaraan AS China Berakhir, Trump Tidak Berminat Bertemu Xi Jinping

    Pembicaraan AS China Berakhir, Trump Tidak Berminat Bertemu Xi Jinping

    Selasa kemarin, pembicaraan dagang AS-China di Swedia memasuki hari kedua. Beberapa media melaporkan adanya kemungkinan Presiden Trump bertemu pemimpin China Xi Jinping akhir tahun ini. Namun, Trump menolak rumor tersebut dan berkata ia tidak berencana bertemu dengan Xi.

    Presiden mengkritik apa yang disebutnya berita palsu dan memastikan laporan itu tidak benar.

    Trump menulis di truth social bahwa ia hanya akan mengunjungi China jika Xi mengundangnya, dan jika tidak, Trump mengatakan dirinya “tidak berminat.”

    Pertemuan terakhir keduanya adalah pada tahun 2019 saat KTT G20 di Jepang.

    Pembicaraan antara AS China di Swedia selesai pada Selasa. Segera setelahnya, perwakilan China mengklaim keduanya sepakat untuk memperpanjang gencatan tarif 90 hari kedepan, namun pihak AS berkata belum ada keputusan terkait perpanjangan itu.

    Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga mengatakan belum ada kesepakatan, meski pertemuan itu dianggapnya sangat konstruktif.

    [Scott Bessent, Menteri Keuangan AS]:

    “Tidak ada kesepakatan sampai kami bicara dengan Presiden Trump. Kami akan menemuinya besok untuk membahasnya dan beliau akan memutuskan apakah perpanjangan akan berlanjut.”

    Hanya tinggal beberapa hari bagi China untuk menyelesaikan kesepakatan dengan AS atau tarif akan kembali ke level tiga digit.

    Washington menuduh China merusak pasar AS dengan membanjiri pasar dengan produk-produk murah.

    Terkait spekulasi bahwa ada kemungkinan Trump akan bertemu Xi Jinping, Menteri Bessent ditanya apakah peluang keduanya bertemu ini dibahas dalam pembicaraan kemarin.

    [Scott Bessent, Menteri Keuangan AS]:

    “Yang kami bicarakan adalah mengimplementasikan keinginan masing-masing pemimpin. bukan membahas apakah mereka akan mengadakan pertemuan.”

  • AS-UE Sepakati Kerangka Kesepakatan Dagang Usai Pertemuan

    AS-UE Sepakati Kerangka Kesepakatan Dagang Usai Pertemuan

    Amerika Serikat dan Uni Eropa tengah merancang kesepakatan dagang.

    Presiden Trump mengumumkan telah tercapainya sebuah kerangka perjanjian usai pembicaraan dengan Presiden Uni Eropa, Ursula von der Leyen, di Skotlandia.

    [Donald Trump, Presiden AS]:

    “Saya pikir kesepakatan ini akan semakin mempererat hubungan kemitraan kami.”

    [Ursula von der Leyen, Presiden Komisi Eropa] :

    “Ini adalah angka terbesar secara global yang kami buat, $1,7 triliun. Jika Anda lihat pasar kami, ini pasar yang sangat besar, bila Anda gabungkan Amerika Serikat dan Uni Eropa ada 800 juta orang. Jika ini sukses, ini akan jadi kesepakatan terbesar yang pernah kita buat.”

    Trump menyebut tarif dasar bagi 27 negara Uni Eropa akan dipatok sebesar 15%, termasuk mobil. Disamping itu, Uni Eropa juga setuju untuk membeli energi AS senilai $750 miliar serta menanam investasi $600 miliar di AS.

    Selebihnya Trump juga berkata bahwa negara-negara Uni Eropa “sepakat untuk membeli sejumlah besar peralatan militer” dan siap membuka pasar bagi AS dengan tarif nol. Pertemuan ini dilakukan untuk menghindari tarif awal 30% jika tidak tercapai kesepakamtan jelang batas waktu Jumat ini.

  • Trump: Kesepakatan Dagang ‘Terbesar’ A.S. dan Jepang

    Trump: Kesepakatan Dagang ‘Terbesar’ A.S. dan Jepang

    Presiden Trump pada hari Selasa mengumumkan kesepakatan dagang baru dengan Jepang, Filipina, dan Indonesia. Ini adalah perubahan besar dalam strategi perdagangan global Amerika, yang bukan hanya tentang ekonomi, tetapi juga hubungan AS dengan sekutu utamanya dalam melawan pengaruh China yang semakin besar. Kita mulai dengan Jepang, ekonomi terbesar keempat dunia. Presiden Trump menyebut kesepakatan dengan Tokyo sebagai salah satu kesepakatan terbesar dalam sejarah. Di luar perdagangan, Jepang tetap menjadi mitra utama AS dalam menjaga stabilitas di sekitar Taiwan dan mencegah potensi invasi China.

    Amerika Serikat mencapai kesepakatan dagang dengan Jepang pada hari Selasa.

    [Presiden Trump]:

    “Saya baru menandatangani kesepakatan dagang terbesar dalam sejarah. Mungkin yang terbesar dalam sejarah dengan Jepang.”

    Dalam kesepakatan, Jepang akan membuka diri pada perdagangan AS untuk barang-barang seperti mobil dan truk, produk pertanian, dan lainnya. Negara Asia Timur itu juga akan membayar tarif timbal balik kepada AS sebesar 15%. Trump telah mengancam akan menaikkan tarif hingga 25% jika Jepang tidak mencapai kesepakatan sebelum batas waktu 1 Agustus. Jepang juga akan berinvestasi sebesar $550 miliar di Amerika Serikat.

    [Shigeru Ishiba, Perdana Menteri Jepang]:

    “Angka itu adalah yang terendah hingga saat ini bagi negara yang punya surplus perdagangan dengan AS.”

    [Presiden Trump]:

    “Kami telah bekerja keras dengan lama, dan ini adalah kesepakatan yang bagus untuk semua orang.”

    Mobil Jepang populer di Amerika Serikat, termasuk produsen seperti Toyota, Honda dan Nissan. Negara Asia Timur itu adalah sumber impor terbesar kelima AS. Tahun lalu, Jepang mengirim barang senilai hampir 150 miliar dolar ke AS, sementara AS mengekspor barang senilai 80 miliar dolar ke Jepang.

  • Kesepakatan Dagang Terbaru A.S. dengan Filipina dan Indonesia

    Kesepakatan Dagang Terbaru A.S. dengan Filipina dan Indonesia

    Presiden Trump mengumumkan kesepakatan dagang terbaru dengan Filipina dan Indonesia. Presiden Filipina Ferdinand Marcos atau akrab dipanggil Bong Bong, adalah kepala negara dari Asia Tenggara yang pertama kali bertemu Trump. Filipina adalah mitra utama AS di Asia Pasifik, wilayah dimana China berupaya memperluas pengaruhnya. Koresponden NTD Mari Otsu melaporkan.

    Gedung Putih hari ini merilis dua kesepakatan dagang terbaru: satu dengan Filipina dan satu dengan Indonesia. Setelah pertemuannya dengan Presiden Marcos Selasa kemarin, Trump mengumumkan bahwa Filipina akan membayar tarif 19% sementara AS membayar 0%. Pengumuman ini dirilis usai kedua petinggi negara merayakan hubungan mereka dalam pertemuan Selasa di kantor oval, di mana Trump memuji upaya Marcos untuk menghentikan keberpihakan pada China.

    [Ferdinand Marcos, Presiden Filipina]:

    “Sekutu kami terkuat, terdekat, dan terhandal selalu Amerika Serikat,”

    [Donald Trump, Presiden AS]:

    “Filipina mungkin lebih condong ke China, tetapi kami bergerak cepat meluruskannya kembali. Namun, Anda tahu, negara Anda telah lama berpihak pada China, dan saya rasa itu tidak akan baik untuk Anda.”

    Pertemuan ini terjadi beberapa minggu setelah Trump mengirimkan surat kepada para pemimpin dunia berisi daftar tarif baru apabila mereka gagal mencapai kesepakatan dagang dengan AS sebelum 1 Agustus. Filipina diperkirakan akan menghadapi tarif 20% untuk pengiriman barang ke AS yang akan berlaku per Agustus—3% lebih tinggi dari tarif April sebesar 17%. Di saat bersamaan, Trump juga mengumumkan bahwa Indonesia juga akan membayar tarif 19% sementara AS membayar 0.

  • AS Tak Buru-buru Sepakati Dagang dengan China, Isu Minyak Rusia Dibahas

    AS Tak Buru-buru Sepakati Dagang dengan China, Isu Minyak Rusia Dibahas

    Senin lalu, menteri Keuangan Scott Bessent berkata pembicaraan mendatang antara AS China akan membahas beberapa topik sensitif, termasuk pembelian minyak Rusia dan Iran oleh China. Ia menyampaikan AS tidak akan terburu-buru dalam mencapai kesepakatan. Berikut detailnya.

    [Scott Bessent, Menteri keuangan AS]:

    “Negosiasi akan tetap berjalan, tetapi kami tidak akan terburu-buru. Kami lebih mengutamakan kesepakatan yang berkualitas daripada sekedar selesai sebelum batas waktu 1 Agustus.”

    1 Agustus adalah batas waktu yang ditetapkan Presiden Trump, lewat dari itu tarif baru akan berlaku.

    Bessent mengatakan pembicaraan akan berlangsung “tidak lama lagi.” Dia akan menjadi ketua negosiator AS dalam pembicaraan dagang antara keduanya. Dalam wawancara dengan CNBC, Bessent mengisyaratkan bahwa pembicaraan mendatang akan membahas topik sensitif, termasuk dukungan China untuk Rusia dalam konflik Rusia-Ukraina.

    [Scott Bessent, Menteri keuangan AS]:

    “Sangat disayangkan, China adalah pembeli terbesar minyak Iran dan Rusia. Jadi, kami akan membahasnya.”

    Trump telah mengumumkan tarif untuk pembeli minyak Rusia sebagai upaya menekan Moskow untuk segera mengakhiri perang. Negara manapun yang membeli minyak Rusia akan dikenakan tarif 100%.

    Bessent menyebut China sebagai pembeli terbesar minyak Rusia dan mendesak sekutu AS, terutama  Eropa, untuk mengikuti langkah AS untuk memberlakukan tarif.

    Dari hasil pembicaraan dagang sebelumnya antara AS-China, kedua belah pihak sepakat untuk mengurangi tarif sebelum batas waktu yang semakin dekat.

  • Ekonomi China Melambat Seiring Daya Beli Konsumen Melemah

    Ekonomi China Melambat Seiring Daya Beli Konsumen Melemah

    Ekonomi China mengalami lonjakan di kuartal kedua berkat peningkatan ekspor menjelang diberlakukannya tarif baru.. Namun, analis memperingatkan adanya risiko yang akan meningkatkan tekanan pada ekonomi China. Berikut detailnya.

    Ekonomi China mencatat pertumbuhan PDB 5,2% pada kuartal April -Juni. Angka ini sedikit menurun dari periode sebelumnya, namun melampaui perkiraan analis. Hal ini disebabkan banyak pabrik mempercepat pengiriman untuk memanfaatkan peluang tarif.

    Namun investor bersiap menghadapi potensi turunnya ekspor kedepannya. Data lain juga menunjukkan beberapa sektor ekonomi yang sedang lesu. Penjualan ritel melambat tajam pada bulan Juni, mencapai level terendah sejak awal tahun. Sektor properti yang kian terpuruk, dengan harga properti yang terus turun dalam 8 bulan. Kondisi ini memberikan tekanan bagi pemerintah untuk melakukan lebih banyak langkah stimulus. Para pembuat kebijakan telah mengambil tindakan seperti meningkatkan belanja infrastruktur, subsidi konsumen serta pelonggaran kebijakan moneter.

    Investor tengah menanti pertemuan Politbiro di akhir Juli, berharap ada keputusan stimulus tambahan. Mereka berharap pemerintah akan meningkatkan belanja jika data ekonomi terus menurun. Namun deflasi dan permintaan domestik yang lemah akan sulit mendorong aktivitas ekonomi kembali, membuat target pertumbuhan 5% menjadi tugas berat.

    Lesunya sektor properti juga belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Data terkini menunjukkan harga rumah pada Juni merosot tajam. China juga menghadapi deflasi, turunnya permintaan pasar serta konflik geopolitik dengan AS.

  • AS Kirim Senjata ke Ukraina, Ancam Rusia dengan Tarif Baru

    AS Kirim Senjata ke Ukraina, Ancam Rusia dengan Tarif Baru

    Presiden Trump berkata AS berniat mengirimkan senjata ke Ukraina melalui sekutu NATO. Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan 100% pada Rusia jika kesepakatan damai tidak tercapai dalam 50 hari. Koresponden Iris Tao melaporkan.

    [Donald Trump, Presiden AS]:

    “Kami sangat tidak puas dengan Rusia.”

    Dalam pertemuan dengan Sekjen NATO Mark Rutte pada Senin, Trump mengatakan bahwa Eropa akan membeli senjata canggih dari AS termasuk rudal Patriot, untuk dikirim ke Ukraina. Trump menekankan bahwa Eropa akan membayarnya.

    [Donald Trump, Presiden AS]:

    “Kami akan mengirimkan senjata dan mereka akan membayarnya. Masing-masing dari kita ingin membela negara kita, namun Eropa yang kuat adalah hal yang sangat bagus.”

    [Mark Rutte, Sekretaris Jenderal NATO ]:

    “Ini artinya Ukraina akan mendapatkan sejumlah besar peralatan militer. Seandainya saya adalah Putin, saya akan mempertimbangkan kembali keseriusan akan negosiasi terkait masalah Ukraina.”

    Dukungan AS atas Ukraina ini bertolak belakang dengan sikap AS sebelumnya yang menunda pengiriman senjata akibat kekhawatiran menipisnya cadangan senjata AS. Hal ini muncul lantaran Trump merasa frustrasi dengan Putin yang terus menyerang Ukraina meski telah ada pembicaraan antara keduanya.

    [Donald Trump, Presiden AS]:

    “Dan setelah tiga atau empat kali pembicaraan, pada akhirnya semua itu sia-sia. Maka harus ada tindakan. Harus ada hasil.”

    Trump juga mengancam akan mengenakan tarif tambahan 100% kepada para mitra dagang Rusia jika kesepakatan damai tidak tercapai dalam 50 hari.

    [Donald Trump, Presiden AS]:

    “Itu yang akan kami lakukan. Tarif tambahan, dan itu berat.”

    Tarif tambahan itu akan menghantam China selaku pembeli minyak Rusia terbesar, menyumbang setengah dari ekspor minyaknya. 

    Upaya Trump kini mendapatkan dukungan bipartisan. Senator Lindsey Graham dan Richard Blumenthal menulis dalam sebuah pernyataan bersama,

    “Palu pamungkas untuk mengakhiri perang ini adalah tarif untuk negara-negara seperti China yang menopang mesin perang Putin.”

    Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan pada NTD, apabila Rusia tidak menandatangani kesepakatan damai dalam 50 hari, akan ada lebih banyak tarif disamping sanksi berat. Iris Tao, NTD News.

  • Ekspor China Dapatkan Momentum Baru di Tengah Gencatan Dagang AS-China

    Ekspor China Dapatkan Momentum Baru di Tengah Gencatan Dagang AS-China

    Negara-negara dengan perekonomian terbesar punya satu bulan untuk mengamankan kesepakatan perdagangan yang langgeng dengan AS; sementara bisnis di kedua sisi Pasifik menunggu negosiasi berakhir. Eksportir China bergegas mengirim pesanan. Mari kita lihat.

    Saat ini, terdapat gencatan tarif yang rapuh antara Beijing dan Washington. Eksportir China memanfaatkan jeda ini dengan mendorong ekspor. Produsen China sedang menghadapi permintaan yang lemah di dalam negeri dan kondisi yang lebih keras di AS.

    AS adalah tempat produsen China menjual barang senilai lebih dari 400 miliar dolar setiap tahun. Data bea cukai baru mengungkapkan bahwa ekspor China kembali mendapatkan momentum bulan lalu. Pengiriman keluar negeri naik hampir 6% tahun-per-tahun di bulan Juni, yang melampaui pertumbuhan di bulan Mei.

    Pengiriman ke negara-negara Asia Tenggara sangat kuat, melonjak hampir 17%. Ekspor ke AS tumbuh sekitar 32% bulan ke bulan, tetapi pertumbuhan tahun ke tahun tetap negatif. Juni adalah bulan penuh pertama barang-barang China diuntungkan oleh pengurangan tarif AS. Kini, Beijing dan Washington memiliki waktu hingga 12 Agustus untuk mencapai kesepakatan yang lebih permanen.