Videos

  • Perusahaan Jepang Tinggalkan China, Rekor Sepanjang Sejarah

    Perusahaan Jepang Tinggalkan China, Rekor Sepanjang Sejarah

    Berbagai perusahaan Jepang meninggalkan China dalam jumlah yang memecahkan rekor. Jumlah perusahaan Jepang yang beroperasi di China telah turun ke level terendah sepanjang sejarah. Ada lebih dari 10.000 perusahaan per Juni, menurut lembaga data Jepang. Angka tersebut turun 22% dibandingkan survei sebelumnya pada Juni 2024.

    Mengapa semakin banyak perusahaan Jepang yang meninggalkan ekonomi terbesar kedua di dunia ini? Melambatnya perekonomian China adalah salah satu alasannya, akibat sektor properti yang lesu, melemahnya konsumsi domestik, konflik perdagangan yang memanas antara China dan AS, serta ketegangan antara Jepang dan China.

  • Selangkah Lagi ke Meja Trump, RUU Terkait Perampasan Organ China Disahkan Senat AS

    Selangkah Lagi ke Meja Trump, RUU Terkait Perampasan Organ China Disahkan Senat AS

    Sebuah RUU untuk melindungi para praktisi Falun Gong dan menghentikan pengambilan organ paksa di China telah disetujui oleh Senat AS. RUU itu perlu melewati satu tahapan lagi sebelum sampai ke meja Presiden Trump.

    Undang-Undang Perlindungan Falun Gong dan Korban Pengambilan Organ Paksa memberlakukan sanksi terhadap mereka yang terlibat dalam pengambilan organ paksa di China, serta menginstruksikan Menlu AS untuk menyusun laporan tentang kebijakan dan tindakan PKC terkait perampasan organ.

    Menurut RUU, pengambilan organ paksa merujuk pada, tanda kutip, pengambilan satu atau lebih organ seseorang melalui paksaan, penculikan, penipuan, kecurangan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi yang rentan.

    Korban perampasan organ di China adalah para praktisi Falun Gong, yang juga dikenal sebagai Falun Dafa. Ini adalah latihan spiritual yang didasarkan pada tradisi Buddha dan prinsip Sejati-Baik-Sabar. PKC telah menganiaya Falun Dafa sejak 1999.

    Pusat Informasi Falun Dafa, yang mendokumentasikan penganiayaan terhadap Falun Dafa, memposting di X bahwa RUU tersebut, tanda kutip, adalah langkah besar menuju pertanggung jawaban atas pengambilan organ paksa di China. Ini adalah RUU yang mendapat dukungan bipartisan dan 11 pendukung bersama.

    Bagi mereka yang mengalami penganiayaan secara langsung dan berhasil melarikan diri, praktik pengambilan organ terjadi lebih dekat dari yang orang-orang bayangkan. Jika orang-orang berpergian ke China untuk mendapatkan transplantasi organ, Anda sebenarnya tidak tahu darimana organ itu berasal, dan ada kemungkinan sumbernya adalah seorang tahanan hati nurani yang tidak bersalah.

  • CEO Ford Peringatkan AS Soal Ancaman Mobil Listrik China: “Belajarlah dari Eropa”

    CEO Ford Peringatkan AS Soal Ancaman Mobil Listrik China: “Belajarlah dari Eropa”

    Peringatan terkait mobil-mobil China. CEO Ford Jim Farley memperingatkan AS agar tidak membuka pasarnya bagi produsen mobil China. Ia mengatakan Amerika harus belajar dari Eropa, di mana menurutnya sudah terlambat untuk menahan gelombang masuk kendaraan China.

    Penelitian dari Global Data menunjukkan, merek-merek mobil China meningkatkan pangsa pasar global mereka hampir 70% dari 2020 hingga 2025.

    Pada 2020, produsen mobil China hampir tidak terdaftar, namun pada Agustus tahun ini, perusahaan riset Jerman Data Force menyebutkan mereka telah menguasai 12% pasar Eropa.

    Pernyataan Farley ini muncul saat Ford menghadapi gelombang persaingan yang semakin besar dari produsen China. Namun di saat yang sama, Ford juga berencana bermitra dengan produsen China demi mengembangkan teknologi baterai kendaraan listrik dan bidang-bidang lainnya.

    Menteri Transportasi AS Sean Duffy  menuntut Ford Motor Company bulan lalu agar memutus hubungan dengan mitra-mitra China atas alasan keamanan nasional. Duffy menyebutkan tentang penggunaan teknologi baterai berlisensi Ford dari perusahaan China CATL dan pabriknya di Michigan. CATL telah dimasukkan dalam daftar Departemen Pertahanan AS sebagai perusahaan yang memiliki hubungan dengan militer China.

    Duffy juga menyorot kemitraan Ford dengan produsen mobil Geely di Eropa. Ford membantah hal ini, berkata pabrik baterai di Michigan adalah milik dan dioperasikan 100% oleh AS.

  • Eksekutif HSBC Bersaksi Ditipu Huawei Untuk Bisnis Iran

    Eksekutif HSBC Bersaksi Ditipu Huawei Untuk Bisnis Iran

    Pertemuan antara eksekutif senior HSBC, Alan Thomas dan CFO Huawei Meng Wanzhou menjadi fokus di persidangan. Thomas bersaksi bahwa Meng telah membohonginya terkait hubungan antara Huawei dan Skycom.

    AS menuduh Huawei memanfaatkan Skycom sebagai anak perusahaan guna menghindari sanksi dan memasok barang AS untuk Iran. Jaksa berkata Huawei berusaha menyembunyikan hubungan tersebut dengan mengklaim Skycom adalah mitra bisnis. Huawei membantah semua tuduhan.

    Pada 2013, Reuters melaporkan bahwa Skycom mencoba menjual sejumlah peralatan AS ke Iran serta mengungkap keterkaitannya dengan Huawei. Kabar ini sontak memicu kekhawatiran HSBC, hingga kepala eksekutif HSBC, Thomas, menemui Meng Wanzhou di Hong Kong.

    Thomas bersaksi bahwa Meng berani menjamin bahwa Skycom hanyalah mitra bisnis Huawei, bukan anak perusahaan. Meng mengklaim saham kepemilikan Huawei atas Skycom telah dijual ke pihak ketiga.

    Namun, AS membeberkan bukti bahwa pihak ketiga yang dimaksud sebenarnya dikendalikan Huawei, diperkuat kesaksian mantan karyawan Skycom yang mengakui Huawei sebagai bos aslinya di Iran.

    Usai pertemuan dengan Meng, Thomas menyatakan merasa lega karena Huawei telah memberikan informasi yang transparan dan tak mengira seorang CFO klien besar berani berbohong.

    Jaksa berkata bahwa setelah informasi yang diberikan Meng, HSBC melanjutkan hubungannya dengan Huawei hingga memfasilitasi layanan perbankan bagi bisnis Huawei di Iran yang jelas melanggar sanksi AS.

    Beberapa tahun kemudian, Meng mengaku sengaja memberikan pernyataan palsu kepada HSBC sebagai bentuk kesepakatan dengan jaksa agar tuduhan terhadapnya dibatalkan.

  • AS Perketat Pengawasan AI Canggih, Trump Tolak Kerja Sama dengan China

    AS Perketat Pengawasan AI Canggih, Trump Tolak Kerja Sama dengan China

    Para pimpinan Google, Anthropic, Meta, OpenAI dan XAI menandatangani kesepakatan kontrol baru kecerdasan buatan. Mereka sepakat bahwa dalam mengembangkan model AI canggih, sistem akan dipantau terhadap risiko keamanan siber, biosekuriti dan ancaman kimia, serta memastikan model-model itu tidak meretas atau mengakses sistem teknologi secara menyimpang.

    Mereka juga sepakat memastikan adanya tim keamanan internal, auditor eksternal independen, dan komite dewan direksi untuk meninjau keberlangsungan kontrol.

    Fokus dari hal ini adalah menjaga AS tetap unggul dari China adalam perlombaan AI, sekaligus mengawasi bahaya yang mungkin timbul dari perkembangan AI. Contoh kasus terjadi Juni lalu ketika OpenAI memiliki bot-bot liar yang meretas situs web pemerintah pribadi Australia.

    Presiden Trump mengatakan AS terus memimpin di atas China untuk menangkal bahaya bahwa rezim otoriter akan mengendalikan teknologi ini. Ia berkata AS tidak akan bekerja sama dengan China dalam hal AI atas kekhawatiran bahwa China akan mencuri kekayaan intelektual Amerika.

    Partai Komunis China memiliki rekam jejak mencuri hal-hal seperti ini, mulai dari chip AI hingga jet tempur F-35 dan teknologi sensor rudal.

    [Presiden Trump]:

    “Seseorang berkata, Oh, mari buat kerjasama patungan dengan China. Tapi jika kita melakukannya, kita akan memberikan rahasia yang ingin mereka miliki, atau pihak manapun. Tidak ada pihak ketiga disini, hanya kita dan China. Banyak orang berkata, Ayo lakukan bersama-sama dengan China, tapi mereka akan segera mendapat akses ke hal-hal yang kita ketahui.”

  • AI China Makin Canggih dan Manipulatif, Ahli Khawatirkan Risiko Pelarian Tak Terkendali

    AI China Makin Canggih dan Manipulatif, Ahli Khawatirkan Risiko Pelarian Tak Terkendali

    Sebuah penyelidikan Reuters terbaru memunculkan pertanyaan tentang seberapa besar kendali kita atas AI otonom yang berkembang pesat. Para peneliti menemukan agen AI oleh teknologi asal China berusaha menghindari dimatikan, melewati pembatasan dan bertindak di luar instruksi. Prilaku tersebut mencerminkan beberapa kasus yang sudah terlihat di AS. Dengan pengawasan publik yang jauh lebih sedikit di China, muncul kekhawatiran pada apa yang akan AI lakukan jika mulai bertindak sendiri.

    Agen AI China yang didukung oleh model dari Alibaba, Deepseek dan Moonshot, berbohong tentang kemampuan mereka untuk memenangkan tender bisnis simulasi. Saat disuruh mencoba lagi, penipuan itu semakin parah.

    Dalam uji coba lain, sebuah agen AI membuat salinan dirinya sendiri setelah mengetahui ia mungkin akan digantikan. Yang lain berusaha kabur dari lingkungan uji coba, bahkan ada yang terhubung ke mesin eksternal tanpa diminta dan mengalihkan daya komputasi untuk menambang mata uang kripto. Sistim keamanan menghentikan tindakan tersebut.

    Reuters meninjau lebih dari 200 dokumen dan berbicara dengan selusin spesialis, serta menemukan setidaknya 20 studi sejak 2025 yang menggambarkan prilaku ini. Di AS, insiden semacam ini telah dipublikasikan. Awal tahun ini, agen OpenAI kabur dari latoratorium dan meretas platform open-source Hugging Face.

    Tanda-tanda peringatan serupa juga muncul di sistem AI China, namun perusahaan AI China menghadapi pengawasan publik yang jauh lebih sedikit. Di AS, transparansi dan perbedaan pendapat internal berfungsi sebagai sistem peringatan dini. Namun di China, tidak ada hal serupa seperti peringatan whistleblower atau eksekutif senior yang secara terbuka menyerukan pengurangan laju pengembangan.

    Setelah KTT Trump-Xi, kedua belah pihak sepakat membangun saluran komunikasi untuk insiden terkait AI, tetapi kedua negara juga menolak mengendurkan kecepatan. Para ahli memperingatkan tanda-tanda yang dapat memicu pelarian tak terkendali sudah ada. Seiring agen-agen tersebut menjadi semakin canggih, prilaku menyimpang itu akan semakin sulit dideteksi oleh manusia.

  • KTT Trump-Xi: Upacara Besar, Hasil Terbatas Bagi Perdagangan AS-China

    KTT Trump-Xi: Upacara Besar, Hasil Terbatas Bagi Perdagangan AS-China

    Upacara besar namun hasil tak sepadan. AS dan China telah sepakat menurunkan tarif atas barang-barang non sensitif senilai $60 miliar. Mereka juga sepakat membentuk saluran komunikasi bilateral tentang AI. Inilah dua hasil paling konkret dari pertemuan Trump dan Xi.

    Penurunan tarif hanya mencakup 14% dari total perdagangan barang tahunan AS-China. Dari AS, barang-barang tersebut mencakup produk pertanian, ikan dan hasil laut, produk kayu, kosmetik dan alat kesehatan. Sementara dari China, barang-barang yang termasuk adalah peralatan rumah tangga kecil, mainan, hiasan liburan dan kursi mobil anak-anak.

    Perlu dicatat, kedelai tidak termasuk dalam pengurangan tarif ini, meski Beijing telah berjanji akan membeli 25 juta metrik ton kedelai AS tahun ini. Pemerintah China baru mencapai setengah dari target komitmennya.

    Feng Chucheng, seorang pakar China memberitahu Bloomberg bahwa langkah itu akan memberi Beijing pengaruh, terutama menjelang pemilu tengah masa jabatan. Feng berkata Beijing sangat menyadari bahwa pembelian kedelai akan berdampak langsung pada negara-negara bagian pertanian di AS, yang merupakan basis pemilih Trump.

  • Filipina Kembali Hadapi Konfrontasi Dengan China di ZEE

    Filipina Kembali Hadapi Konfrontasi Dengan China di ZEE

    Pada hari Minggu, otoritas Filipina berhasil memantau kapal Penjaga Pantai China di dalam zona ekonomi eksklusifnya. Penjaga Pantai Filipina berkata kapal tersebut berada di lokasi beserta tiga kapal perang milik China.

    Insiden ini terjadi setelah akhir pekan lalu, China menggelar latihan militer di dekat Scarborough Shoal sementara kapal-kapal penjaga pantai China menggelar latihan yang melibatkan penghadangan, penyergapan, dan penarikan paksa.

    Minggu lalu, Manila berkata kapal-kapal China menghadang misi penyuplaian ulang Filipina ke Second Thomas Shoal. Pihak Filipina menyebut tindakan tersebut ugal-ugalan dan ilegal. AS mengecam keras taktik penghadangan oleh China.

    China mengklaim tindakannya adalah demi membela kedaulatan dan hak maritimnya. Beijing juga menolak putusan arbitrase Den Haag 2016 dibawah konvensi PBB yang memenangkan Filipina atas sengketa Laut China Selatan.

  • Antek PKC Ngamuk! Serang Praktisi Falun Gong di Toronto, Kanada

    Antek PKC Ngamuk! Serang Praktisi Falun Gong di Toronto, Kanada

    Seorang praktisi Falun Gong diserang oleh seorang pria Tionghoa saat berdemonstrasi di luar Konsulat China di Toronto, Kanada, hari Selasa. Pria itu mengancam akan menembak seorang praktisi hingga tewas, saat praktisi tersebut berusaha melindungi spanduk-spanduk yang menyerukan agar China menghentikan penganiayaan Falun Gong.

    [Pria Tak Dikenal]:

    “Pergi! Saya akan melemparmu sampai mati. Saya akan menembakmu mati. Percaya atau tidak, ini adalah wilayah China! Saya harus memukulmu karena melakukan ini.”

    Pria itu kemudian menendang orang yang merekam. Ia juga mendorong seorang praktisi, Lina Li, yang berusaha melindungi spanduk. Seorang pejalan kaki berusaha menghentikan pria itu.

    [Warga Umum Kanada]:

    “Lepaskan sekarang! Ini Kanada!”

    Lina Li berkata ia mengalami luka ringan akibat insiden tersebut. Serangan serupa terjadi di lokasi lain dimana para praktisi Falun Gong membagikan selebaran, tetapi para saksi mata berkata serangan ini sangat berani. Kepolisian Toronto sedang menyelidiki insiden ini.

  • President Trump Sambut Xi Jinping Di Gedung Putih

    President Trump Sambut Xi Jinping Di Gedung Putih

    President Trump menjamu pemimpin China, Xi Jinping, di Gedung Putih hari ini sebelum pembahasan seputar fentanil, perdagangan mineral tanah jarang hingga isu hak asasi manusia.

    Trump mengatakan agenda utama pertemuan mereka akan membahas soal keamanan, teknologi, dan superintelligence. Selama beberapa hari, Trump senantiasa menekankan pentingnya AS unggul atas China di bidang AI. Sebelum pertemuan, Trump menulis di Truth Social, bahwa pembahasan utama hari ini akan berkisar seputar superintelligence. Trump berkata bahwa dirinya tidak akan mengubah regulasi AI yang ada dan ingin membiarkannya tetap seperti saat ini. Selain persaingan AI, ketegangan perdagangan masih berlanjut.

    Menteri Keuangan AS Scott Bessent baru saja mengumumkan tenggat waktu kesepakatan dagang Busan yang sebelumnya akan habis masa berlakunya pada 10 November, diperpanjang hingga 10 Januari, meski belum ada perjanjian resmi yang dicapai.

    Sementara Xi Jinping mengeluarkan strategi diplomasi lunak ala PKC dengan berjanji akan mengundang 100.000 pelajar AS untuk belajar ke China serta mengirimkan dua ekor panda. Namun, senator Partai Republik mengingatkan ada maksud tersembunyi di balik tindakan PKC.

    [Rick Scott, Senator Partai Republik AS]:

    “Saya paham Trump harus bersikap diplomatik, tapi Xi, dia adalah orang yang licik. Dia membunuh kita dengan fentanyl, membangun militer untuk mengalahkan kita. Dia, kalian tahu, presiden berada di posisi yang sulit. Dia harus tetap diplomatis. Maksud saya, kita harus lihat faktanya, bahwa presiden-presiden sebelumnya telah membuat kita kekurangan sumber tanah jarang dan banyak masalah lain. Jadi Trump harus menyelesaikan semuanya. Namun, rakyat Amerika juga harus bangun dan sadar, Berhentilah membeli barang murahan dari China.’”

    Seluruh agenda sudah diatur sedemikian rupa. Pihak China benar-benar ingin mengendalikan bukan hanya citra, tetapi juga narasinya di tanah Amerika. Kericuhan bahkan sudah terjadi sebelum kedua pemimpin tiba untuk sesi penyambutan, di mana delegasi China bentrok dengan agen Secret Service dan pers Amerika terkait posisi kamera jelang upacara penyambutan. Berikut cuplikannya.

    Kericuhan tidak hanya terjadi di luar, tapi juga di dalam. Di dalam ruang pers, kamera menangkap momen saat seorang kamerawan China mendorong seorang reporter Amerika, sementara awak kamerawan China berlomba menerobos pintu ruang pers menuju Ruang Kerja Presiden Trump. Simak.

    Kejadian serupa sebelumnya juga sempat terjadi saat presiden Trump berkunjung ke Beijing, di mana personel keamanan China bentrok dengan pengawal Gedung Putih hingga videonya viral di media sosial.