Kisah

Keindahan Torres del Paine

Torres del Paine (Foto: Matt Gross/Unsplash)
Torres del Paine (Foto: Matt Gross/Unsplash)

Tiga puncak gunung granit yang termasuk dalam gugusan pegunungan Cordillera Paine, tidaklah begitu tinggi, paling tinggi hanya sekitar 2500 meter di atas permukaan laut, namun bentuknya yang bagai karang menjulang vertikal ke atas, sekali dilihat sulit dilupakan.

Dari kiri ke kanan, itulah Torres d’Agostini, Torres Central dan Torres Monzino, yang sekaligus menjadi ikon dari Taman Nasional Torres del Paine di Provinsi Ultima Esperanza, Cili, Amerika Selatan. Puncak-puncak gunung massif tersebut, dikelilingi oleh lembah, danau dan sungai es sehingga pemandangan alamnya sangatlah spektakuler dan elok. Tidaklah heran, National Geographic pernah menominasi taman nasional ini sebagai tempat kelima tercantik di dunia.

Penulis berkunjung ke Taman Nasional tersebut melalui Kota Puerto Natales, yang berjarak sekitar 110 kilometer. Bus berangkat dari Puerto Natales jam 7.30 pagi, hari itu bus penuh dengan trekker dari Israel. Sekitar jam 11, kami tiba di Laguna (Danau) Amarga, sepanjang perjalanan kami melihat banyak burung flamingo, sangat cantik.

Jalur hiking di taman nasional ini sudah diberikan tanda, demi keamanan – para pengunjung juga tidak diperkenankan berjalan ke luar jalur yang telah ditetapkan. Ada rute hiking untuk satu, tiga, lima hingga sembilan hari. Di beberapa lokasi tersedia tempat camping di mana para hikers dapat bermalam.

Dari Laguna Amarga, kami hiking menuju Camp Chileno, jalur naik cukup terjal. Ketika tiba sudah sore jam 3, kami basah setelah diguyur hujan terus-menerus. Beberapa danau dengan air berwarna hijau terlihat di sepanjang perjalanan. Dari lembah di mana kami berkemah ini, tiga “torres” sudah terlihat jelas. Di camp kami segera mengisi ransum air minum kami dari sungai yang mengalir, airnya sangat jernih, dingin dan segar, meskipun ada trekker yang bertutur, air itu tidak mengandung mineral. Sore itu, kami bersyukur membawa lilin yang cukup untuk penerangan.

Hiking hari berikutnya, kami melihat banyak hewan Guanacos (sejenis Llama). Perjalanan hari kedua ke Camp Italiano tidaklah terlalu terjal, tetapi jalan basah dan sempit, kaki penulis sempat terjerembab ke lumpur, cukup sukar keluar dari lumpur yang bagaikan hidup: semakin kita panik bergerak semakin ia menyedot ke bawah. Penulis menenangkan diri terlebih dahulu, beruntung kawan perjalanan asal Jepang, Akira membantu penulis keluar dari lumpur.

Penulis sesungguhnya baru bertemu Akira saat berbagi kamar bertiga di Puerto Natales, teman sekamar satu lagi berasal dari Madrid. Awalnya penulis hendak trekking bersama pasangan dari Israel, namun di Puerto Natales, pasangan Israel ini bertemu lagi enam trekker dari Israel, membentuk grup yang besar. Akhirnya penulis putuskan hiking berdua dengan Akira saja, kami segera sepakat, kemudian bergegas meminjam peralatan tenda, membeli ransum kering dan membeli map Taman Nasional sambil menyepakati rute trek kami malam itu.

Camp Italiano terletak di Glacier (Sungai Es) Frances yang sangat indah, kami dirikan tenda dan sore itu kami makan daging kornet kalengan, meskipun tidak dimasak (karena penggunaan api dilarang selama di taman nasional), kami makan kornet dingin dengan amat lahap. Cerro Paine Grande (2884 m), puncak tertinggi dari gugusan pegunungan Cordillera Paine ini, dapat terlihat dengan jelas dari lokasi camping.

Matahari menyinari Cerro Paine Grande, 2884 m, yang merupakan puncak tertinggi di gugusan pegunungan Cordillera Paine (Foto: Hector Marquez/Unsplash)

Hari ketiga kami balik kembali ke Puerto Natales. Jalur dari Camp Italiano ke Camp Britanico berbatu-batu, tambahan ada luka pada kaki dari hari sebelumnya, agak mengganggu tetapi perasaan hati sangatlah gembira. Kami mengejar perahu jam 2 untuk kembali ke Puerto Natales.

Sekitar jam 6 sore, kami tiba kembali di Puerto Natales, segera mengembalikan tenda, perlengkapan hiking lainnya, kemudian bersama Akira makan malam bersama, sangat lahap setelah makan ‘dingin’ terus-menerus selama beberapa hari. Kami pesan sup “Sopa Carne con Verduras”, wah terasa sangat lezat, ditambah Royal Cerveza dan Papas Fritas, perutpun kembung, kekenyangan.

Penulis cukup beruntung, Akira meskipun baru kenal, ternyata kawan perjalanan yang menyenangkan, hanya sayang bahasa Inggrisnya terbatas, sehingga komunikasi kami sangatlah ‘basic’, tetapi menikmati gunung dan keindahan alam sesungguhnya juga tidak membutuhkan banyak kata-kata, …

Di Puerto Natales, penulis sebelumnya sempat melewatkan suatu senja di Teluk Ultima Esperanza (yang artinya “Harapan Terakhir”). Terletak di ujung selatan bumi kita, di tempat yang sepi ini dengan curah hujan tinggi dan berangin kencang, nama tersebut saat itu terasa sangatlah bermakna… Kata ‘Harapan Terakhir’ terulang dan seolah terpatri di hati.

Keesokan harinya, penulis berpisah dari Akira, dan melanjutkan perjalanan ke Punta Arenas, kota yang tergolong ‘besar’ untuk Patagonia… Tapi itu barangkali kisah lain.

(ntdindo.com/karnadi nurtantio)