Salah satu kota terindah di Polandia adalah Krakow. Bahkan di era kekuasaan rejim komunis, bila bangunan di ibu kota Warsawa terkesan didominasi warna kelabu, kota Krakow yang memiliki banyak bangunan bersejarah, tetaplah penuh warna.
Umumnya wisatawan yang berkunjung ke Krakow akan melakukan “day trip” ke bekas Kamp Konsentrasi Nazi Jerman yang sekarang dijadikan museum yaitu Auschwitz–Birkenau. Kota Oswiecim di mana bekas kamp itu berada, sesungguhnya masih berjarak sekitar 60 km dari kota Krakow (Rejim “National-Sozialismus” Jerman saat menduduki Polandia, menyebut Oswiecim sebagai Auschwitz). Karena banyaknya kunjungan wisatawan, beberapa operator bus sekarang melayani rute ini.

Memasuki gerbangnya saja sudah membuat kita bergidik dengan kata-kata yang terasa sinis-sarkastis “Arbeit macht frei” (Bekerja membuatmu bebas / Work sets you free). Kita tentunya tahu kondisi apa yang bakal menanti para tahanan di barak-barak kematian tersebut semasa Perang Dunia ke-II. Dengan ransum makanan di bawah 700 kcal per hari, para tahanan dipaksa melakukan kerja rodi.
Berkunjung ke museum ini, kita perlu mematuhi beberapa aturan termasuk perihal pengambilan foto. Penggunaan blitz dilarang, hanya bagian-bagian tertentu dari kamp konsentrasi yang boleh difoto. Tur keliling melalui kamar gas, foto-foto sejarah, seragam tahanan, barang pribadi, barak-barak tahanan seolah mengantar kita ke masa lalu yang amat kelam dan memilukan.
Selama perang dunia ke-II diperkirakan 1,3 juta orang ditransportasi dengan kereta dan dijebloskan ke kamp konsentrasi Auschwitz-Birkenau dan sekitar 1,1 juta di antaranya mati mengenaskan, apakah karena penyiksaan, kerja paksa, atau berakhir di kamar gas. Dari sekian banyak yang mati mengenaskan, sekitar 960.000 di antaranya adalah warga keturunan Yahudi yang ditangkap oleh tentara Nazi di Jerman, Hungaria, Polandia, Perancis dan negara Eropa lainnya.
Setelah tentara Sekutu mengalahkan Hitler dalam Perang Dunia ke-II, pemerintah Polandia pada 1947 menjadikan kamp konsentrasi tersebut sebagai museum dan memorial. Di tahun yang sama, komandan kamp, Rudolf Höss dihukum gantung atas keputusan Pengadilan Tribunal Nasional Polandia. Eksekusi mati juga diterapkan kepada banyak staf kamp konsentrasi yang dinyatakan terlibat genosida serta kejahatan perang.
Museum ini sekarang menjadi saksi dan bukti kekejaman Holocaust, kekejaman rejim National-Sozialismus (Nazi), serta konsekuensi mengerikan dari ideologi ekstrem, dan juga sisi keiblisan manusia.
Perjalanan ke kamp ini juga mengingatkan kita, bahwa di jaman modern sekarang ini, ternyata masih ada banyak pula kamp-kamp “Auschwitz” baru. Rejim totaliter seperti Partai Komunis Tiongkok, dinasti Kim di Korea Utara juga memiliki kamp-kamp konsentrasi serupa, yang berbeda hanyalah namanya. ntdindonesia.com/karnadi nurtantio)
