Wilayah China Selatan tengah dilanda wabah flu tulang atau dikenal dengan chikungunya dan disebarkan oleh nyamuk. Virus yang sama juga menyebar di Prancis dan beberapa negara di kepulauan Samudra Hindia. WHO mendesak negara anggota agar meningkatkan kewaspadaan.
Wabah chikungunya dua dekade lalu menyerang hampir setengah juta penduduk. WHO berkata pihaknya memperkirakan sejarah dapat terulang kembali.
Shunyang, pejabat kesehatan China mengatakan wabah chikungunya cukup parah. Penduduk lokal mengatakan pada Epoch Times bahwa pihak berwenang memaksa karantina.
Meski tingkat kematian minim, penyakit ini bisa berakibat fatal, khususnya bagi bayi dan lansia. Saat ini belum ditemukan antivirus. Media negara melaporkan lebih dari 4.000 kasus dalam waktu kurang dari sebulan. Namun dengan sejarah rezim menutup-nutupi data, jumlah sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi.
Sebagian besar kasus terpusat di Provinsi Guangdong, China Selatan. Sekitar 50 rumah sakit telah ditunjuk sebagai tempat perawatan dan karantina. Chikungunya menular lewat gigitan nyamuk. Gejalanya meliputi demam, nyeri sendi dan otot yang parah, sakit kepala, serta kelelahan. Sementara itu, Prancis juga melaporkan 800 kasus sejak Mei.
WHO menyarankan agar membersihkan tempat penampungan air secara teratur dan membuang sampah basah guna mencegah sarang nyamuk.
