Kisah

Kisah Tragis di Balik Keindahan Nami Island

Suasana di Pulau Nami (Kadek Nia/NTD)
Suasana di Pulau Nami (Kadek Nia/NTD)

Nami Island atau Pulau Nami terletak di daerah Chuncheon, Provinsi Gangwon, Korea Selatan. Pulau Nami sebenarnya bukan sebuah pulau, awalnya hanya daratan yang kemudian terbentuk menjadi pulau akibat terendam air pada saat pembuatan waduk Cheongpyeong. 

Nama pulau tersebut berasal dari nama seorang Jenderal. Pada jaman Dinasti Joseon saat pemerintahan Raja Sejo (1441-1468) terdapat kisah yang tragis di balik pulau yang indah dan romantis tersebut. Jenderal Nami adalah seorang yang cerdas dan berbakat, ibunya adalah anak keempat dari Raja Taejong dan ayahnya adalah anggota Nam-Klan dari Ui-ryeong. Jenderal Nami sejak kecil terkenal dengan kepintarannya. Pada usia 17 tahun, Jendral Nami menempati urutan pertama lulus ujian militer. Pada usia 25 tahun, Jendral Nami kemudian diangkat menjadi Menteri Pertahanan Nasional.

Raja Sejo meninggal pada September 1468 dan digantikan Raja Yejong.
Pada saat itu rekan-rekannya yang iri pada Jenderal Nami mulai menyebarkan gosip bahwa Jenderal Nami akan memberontak dan berkhianat untuk menggantikan posisi Raja. Raja yang mendengar hal tersebut pun percaya dan akhirnya menghukum mati Jenderal Nami.

Jenderal Nami beserta 25 prajurit dan ibunya dieksekusi. Jenderal Nami dipenggal, tidak hanya itu, kaki dan tangannya juga dipotong. Masyarakat yang masih percaya dengan Jenderal Nami turut berduka, mereka lalu mengumpulkan bagian tubuh Jenderal Nami kemudian dikubur. Setiap tahunnya masyarakat memperingati kematian Jenderal Nami di pulau tersebut. Pada tahun 1818 Raja Sunjo mengetahui kesalahpahaman tersebut dan akhirnya memulihkan nama baik Jenderal Nami dengan memberi gelar “Chung-mu.”

Saat ini Pulau Nami menjadi tempat wisata yang wajib untuk dikunjungi. Masyarakat di Korea biasanya berkunjung pada saat akhir pekan untuk piknik atau jalan-jalan. Dari Seoul menuju Pulau Nami bisa dengan berbagai cara, taksi, travel atau bus. Kami berangkat dari Jongno, Seoul pada pukul 08.15 pagi menuju Gapyeong. Perjalanan sekitar 1,5 jam dengan bus. Korea Selatan hampir 70% adalah pegunungan, jadi selama perjalanan kami disuguhi pemandangan yang sangat indah. Saat itu musim gugur di mana banyak pohon dengan daun-daunnya yang mulai berubah kemerahan atau kekuningan, sehingga pegunungan diselimuti berbagai macam warna. 

Kami pun tiba di Gapyeong. Sebelum menuju Pulau Nami kami menyempatkan makan siang. Setelah makan kami pun berjalan kaki menuju pelabuhan yang letaknya tidaklah jauh. Kami menaiki ferry yang akan membawa kami menyeberang ke Pulau Nami, tetapi sebelumnya kami harus membeli tiket untuk bisa menaiki ferry seharga 10.000 won. Uniknya nama lain dari Pulau Nami adalah Naminara Republic sehingga tiket ini bisa dikatakan sebagai ‘Entry Visa’ untuk masuk mengunjungi pulau. Perjalanan dengan ferry sekitar 5-10 menit saja dan kami pun tiba di Pulau Nami. Suasana pulau sangat tenang, dengan udaranya yang sangat bersih. Walaupun ramai pengunjung tetapi kami masih bisa merasakan ketenangan di pulau tersebut.

Salah satu bangunan di Pulau Nami (Kadek Nia/NTD Indonesia)

Selain terkenal akan keindahan dan ketenangannya, Pulau Nami juga terkenal saat digunakan sebagai lokasi syuting salah satu drama Korea terkenal berjudul ‘Winter Sonata’. Selain saat musim gugur, Pulau Nami juga bisa dikunjungi saat musim salju. Setelah itu kami pun berpencar dan saya menuju ke bagian selatan pulau dan mendekati danau. Pemandangan di sekitar danau sangat sunyi dan tenang. Tidak heran banyak warga kota yang sangat menyukai tempat ini.

Foto Bunga di Pulau Nami (Kadek Nia/NTD Indonesia)

Setelah berkeliling di sekitar danau saya pun kembali ke tempat awal. Di Pulau Nami terdapat banyak taman bunga, untuk pecinta fotografi makro tentang bunga, taman bunga di Pulau Nami bisa dijadikan bahan sebagai obyek foto dengan berbagai ragam jenis bunga yang ada di sana. Saya pun tak ketinggalan mengambil beberapa foto bunga yang ada di taman tersebut.

Pemandangan Cantik disekitar Danau Pulau Nami (Kadek Nia/NTD Indonesia)

Selesai berkeliling, saya dan rombongan pun menuju dermaga untuk menunggu ferry yang akan membawa kami kembali menuju Gapyeong dan melanjutkan perjalanan untuk ke destinasi wisata selanjutnya. (nia)