Tahun 2010, saat penulis pertama kali berkunjung ke Pulau Samosir, pulau vulkanik yang berada di tengah Danau Toba, Sumatera Utara – sebuah band berseragam biru putih dengan lambang bertuliskan Tianguo Marching Band tengah membawakan beberapa lagu di halaman rumput yang luas, di sebuah hotel di Tomok. Saat itu cuaca berkabut tebal, menampilkan suasana yang cenderung melankolis, namun lagu-lagu yang dibawakan band itu – entah bagaimana – membawakan kesejukan di hati serta keceriaan di tengah kabut. Pemandangan tersebut meninggalkan kesan indah dan mendalam bahkan setelah bertahun-tahun.
Ketika Februari tahun ini, ada wisatawan hendak berlibur beberapa hari ke Danau Toba, sekadar menikmati keindahan alam di sekitar danau terbesar di Indonesia tersebut, penulis dengan gembira menyanggupi untuk mendampinginya. Dalam hati kecil gembira menyongsong pertemuan kedua dengan Danau Toba dan Pulau Samosir.
Cuaca yang sejuk, dan similir angin saat menumpang perahu penyeberangan, sudah menghadirkan suasana gembira di hati. Saat itu bukanlah musim liburan, hanya ada beberapa wisatawan lokal maupun mancanegara yang menumpang perahu. Kami seperti keluarga kecil saling berbincang-bincang. Ada pasangan campuran, istri asal Samosir, suami orang Perancis; ada pula keluarga kecil dari Jakarta dan lainnya. Singkat kata perjalanan sekitar sejam menuju hotel kami, terasa rileks dan kekeluargaan.
Ada banyak obyek wisata menarik di Pulau Samosir, mulai dari berkunjung ke desa adat, sumber air panas, museum, menonton tarian tradisional dan pembuatan tenun tradisional, makam raja, dan lainnya.

Wisatawan yang saya tengah dampingi, hendak melihat rumah adat setempat, sering disebut pula sebagai rumah bolon. Maka kami pun berangkat ke Huta Siallagan. Dari penginapan kami di Tuk-Tuk dengan kendaraan barangkali hanya sekitar 15 menit, melintasi bukit-bukit hijau yang indah. Setibanya di gerbang “Huta Siallagan”, pengunjung diminta melapor ke pos warga, dan memberikan donasi sebagai pengganti tiket masuk.
Desa tersebut tidaklah besar, hanya terdiri dari beberapa rumah bolon yang masih dapat dihitung dengan jari. Di lapangan tengah, ada kursi dan meja dari batu, peninggalan megalit. Konon tempat tersebut digunakan sebagai tempat rapat raja dan para pemuka adat.
Beberapa rumah adat tersebut hingga kini masih dihuni warga, hanya satu rumah yang ditinggalkan kosong. Rumah kosong itu dapat dikunjungi oleh para wisatawan. Umumnya bagian bawah dari rumah panggung tersebut digunakan sebagai kandang ternak, tungku (dapur) terletak di bagian tengah belakang, dan bagian dalam rumah adalah terbuka (tanpa dinding sekat). Sedangkan lumbung padi (sopo) ditempatkan terpisah.

Di bagian belakang desa, terdapat lapangan terbuka dengan kursi batu dan batu cekung yang digunakan sebagai tempat persidangan dan eksekusi, di mana para pelanggar hukum adat menerima vonis dari raja, mulai dari pemasungan hingga hukuman penggal. Pemandu wisata setempat akan menceritakan banyak tradisi dan kisah menarik, serta memeragakan proses eksekusi di atas batu cekung, yang akan mencengangkan sebagian pengunjung. Tetapi itu adalah kisah lain, barangkali suatu hari pembaca dapat berkunjung sendiri ke sana, menikmati keindahan alam Danau Toba sekaligus belajar sedikit tentang budaya tetangga/saudara kita.
Akses:
Dengan ditingkatkannya Bandara Silangit di Siborong-borong menjadi Bandar Udara Internasional pada tahun 2017, akses wisatawan dalam maupun luar negeri ke Danau Toba pun menjadi semakin mudah dan dekat. Dari bandara banyak ditawarkan jasa taksi ke Parapat dan tempat-tempat lainnya. Kemudian di Kota Parapat, wisatawan yang tidak membawa kendaraan pribadi – dapat mengambil kapal penyeberangan reguler dari Dermaga Tigaraja, tergantung lokasi penginapan yang dipesan, ada kapal yang melayani rute Tigaraja ke Tomok, ataupun Tuk-Tuk. Tarif penyeberangan awal tahun ini sekitar 20.000 Rupiah / penumpang, dan kita akan diturunkan di dermaga masing-masing hotel (umumnya hotel-hotel besar di Pulau Samosir memiliki dermaga sendiri). Jalur alternatif adalah dari Medan/Bandara Kualanamu via Tebing Tinggi dan Pematang Siantar. (Karnadi Nurtantio)
