Seni memahat es mungkin sudah tak asing lagi. Namun bagaimana hasilnya memahat es menjadi sebuah alat musik? Simak konser musik gletser di Italia.
Alat musik dengan balok es ternyata bisa menghasilkan irama yang harmonis, bening dan nyaring.
Kota Verme di Italia utara terletak 8.000 kaki di atas permukaan laut, dan gua gletser disini merupakan tempat yang ideal untuk sebuah konser musik.
Sebuah gua gletser di Italia disulap menjadi ruang konser dengan kapasitas tampung hingga 200 orang. Namun jumlah pengunjung sangat dibatasi, sebab suhu tubuh manusia mudah melelehkan balok es yang akan berakibat pada irama musik yang dihasilkan.
Saat berlangsungnya pertunjukan, lampu dalam gua es akan menyala dan menghasilkan cahaya warna warni yang berkilau.
Sebanyak 16 jenis alat musik dalam band ini dibuat oleh pemahat es asal Amerika, Lin Hart. Diperlukan waktu 3 bulan untuk membuatnya.
Es sangat rapuh dan peka terhadap tekanan senar. Apabila tidak hati hati, maka balok es akan mencair.
Lin Hart berkata : “Awalnya balok-balok es itu dipilih yang kondisinya sudah hampir retak, barulah dapat menghasilkan suara.”
Para pemain juga menghadapi tantangan sulit. Alat musik balok es jauh lebih besar dari alat musik biasa, terlebih karena suhunya yang dingin, membuat para pemain akan merasa kedinginan seiring bermain alat musik.
Segert, pemain cello: “Saat bermain alat musik, nafas akan terasa beku.”
Dalam musim dingin beberapa tahun ini sudah digelar lebih dari 60 konser musik. Harapannya spirit ini tak akan pudar seiring berjalannya waktu. (ntd/ajl/crl/may)
