Kisah

Pasar Malam Pnom Penh yang Semarak

Perahu wisata tengah bersandar di dermaga Sungai Mekong, Phnom Penh (Shutterstock)
Perahu wisata tengah bersandar di dermaga Sungai Mekong, Phnom Penh (Shutterstock)

Ketika Viking River Cruise kami berlabuh di Phnom Penh, saya dan istri memutuskan untuk mengunjungi Pasar Malam ibukota Kamboja yang terkenal itu. Lagipula, pasar tidak terlalu jauh dari dermaga dan merupakan salah satu atraksi terkenal yang menarik para turis. Maka kami menawar tuk-tuk untuk mengantar kami ke tujuan.

Berkeliling dengan Tuk-Tuk

Tuk-tuk menjadi solusi baik untuk mencapai suatu tempat, taksi motor ini sangat murah dan lumayan cepat, dan ada di mana-mana. Beberapa tuk-tuk terlihat menunggu di dekat dermaga, mencari tumpangan.

Kami berbagi tuk-tuk kami ke Pasar Malam dengan dua penumpang dari kapal. Menyewa tuk-tuk berempat agar harga menjadi lebih murah. Supir kami sangat ramah, dan mulai bernegosiasi. Dia mengantar kami ke pasar, mengikuti kami dari satu lokasi ke lokasi berikut, dan setelah beberapa jam keliling, ia mengantar kami kembali ke kapal. Biaya per orang tidak lebih dari 4 Dollar AS!

Ketika kembali dengan selamat ke kapal, kami pun memberikan supir tip yang bagus, dia sangat senang dan meminta kami untuk menggunakan dia lagi di hari berikutnya. Di Phnom Penh ada banyak pengemudi tuk-tuk karenanya persaingan untuk mendapatkan penumpang cukup keras.

Taksi tuk-tuk di Phnom Penh. (Shutterstock)

Pasar Malam

Ketika kami tiba di Pasar Malam, berlokasi di dekat sungai, kami menemukan itu adalah paduan dari bisingnya suara musik, pedagang kaki lima, dan penjual beragam barang dan makanan Kamboja. Di sini, anda dapat melihat warga lokal dan wisatawan berbaur saat mereka berjalan melalui jalan-jalan yang terang atau mendengarkan musik pop live, di atas panggung yang dikelilingi pengeras suara raksasa. Sungguh bising! Belum lagi suara dari tuk-tuk dan para pedagang yang menjajakan dagangan mereka.

Hembusan aroma dari berbagai macam makanan, termasuk sosis Kamboja, daging panggang, dan lumpia sangatlah menggoda. Pasar Malam adalah tempat yang bagus untuk mencicipi makanan lokal di beragam kios makanan. Ada ruang terbuka di mana anda dapat makan, alas tikar untuk duduk dan menikmati makanan. Di sana tentunya cukup ramai, tapi setiap orang sangat bersahabat. Namun, tetap hati-hati saja dengan pencopet.

Anda dapat juga lanjut berjalan-jalan keliling sambil makan, sementara tawar-menawar pakaian, barang hiasan, dan cendera mata yang ditawarkan di kios-kios.

Suasana di Pasar Malam Phnom Penh. (John M. Smith)

Pedikur Ikan yang Unik

Saat berkeliling di Pasar Malam, kami terutama terkesan dengan tempat yang menawarkan “Pijatan Ikan” — dan kami kagum pada sejumlah orang yang ingin mencobanya, termasuk beberapa penumpang kapal cruise kami.

Kami menonton orang yang duduk di sisi tangki ikan, menjulurkan kaki mereka ke dalam, dan tertawa kegelian ketika “dokter-dokter ikan” kecil (ikan garra rufa, catatan red: sejenis ikan sapu-sapu di Indonesia) mengigit dan mengemut kaki mereka. Papan di dekatnya tertulis: “Berikanlah ikan lapar kami makanan kulit mati anda.”  Orang-orang ini pada dasarnya mendapatkan pedikur seharga 5 Dollar AS! Cara yang tidak lazim untuk mengelupas kulit kaki, namun sepertinya ini merupakan atraksi yang sangat populer. Seorang pengunjung yang telah mencobanya, berkata, “Saya tidak yakin itu membuat kita rileks, tapi ini benar-benar pengalaman yang unik dan menyenangkan.”

Atraksi Lainnya

Saat di Phnom Penh, saya juga rekomendasikan kunjungan ke Istana Kerajaan, Museum Nasional, Pasar Sentral, Wat (temple) Phnom, Wat Ounalom, Choeung Ek Memorial, Monumen Kemerdekaan dan tentunya, Museum Genosida Tuol Sleng (catatan red: bekas sekolah yang pada tahun 1976-1979 dijadikan penjara dan pusat penyiksaan oleh rejim komunis Khmer Merah) (theepochtimes/mer/kar)