Kisah

Situs Maya Terindah

Chichen Itza (cancunadventuretours.com)
Chichen Itza (cancunadventuretours.com)

Sekilas tentang Bangsa Maya

Barangkali pembaca pernah mendengar tentang Kalender bangsa Maya yang legendaris, terdiri dari 18 bulan (20 hari/bulan dengan tambahan 5 hari pada akhir tahun sehingga genap 365 hari) yang menjadi terkenal menjelang akhir tahun 2012, karena perhitungannya menyatakan berakhirnya ‘siklus besar’ pada tanggal 21 Desember tahun 2012, hal mana pernah dikaitkan dengan ramalan akan berakhirnya periode bumi masa kini.

Sejak berabad-abad, kemajuan astronomi bangsa Maya memang tak terbantahkan, mereka sudah dapat memprediksi peristiwa gerhana matahari dengan sangat akurat. Selain itu, bangsa Maya juga telah mencatat perkembangan pesat di bidang arsitektur, perdagangan dan lainnya.

Bangsa Maya dengan peradabannya yang unik, senantiasa telah menjadi magnet bagi jutaan wisatawan yang berkunjung ke Amerika Tengah. Banyak peninggalannya seperti reruntuhan kota, piramida dan lain-lain tersebar di berbagai negara, seperti di Meksiko, Guatemala, Honduras, dan El Salvador.

Dunia mencatat, Kolumbus pertama kali mendarat di Karibik, Amerika Tengah pada tahun 1492, setelah itu dalam kurun tiga ratus ke depan, antara lain karena penemuan tambang emas dan perak, telah memicu terjadinya migrasi besar-besaran orang Spanyol ke Amerika Tengah maupun ke Amerika Selatan, yang telah menuntun pada percampuran ras skala besar pada periode itu.

Tragisnya, populasi warga asli setempat (‘indigenous’, catatan: kita sering menyebutnya sebagai “suku Indian”) menurun tajam hanya dalam kurun 150 tahun sejak kedatangan conquistador Spanyol, bahkan ada yang memperkirakan turun 80% (!), korban perang kah? Bukan, utamanya karena warga lokal tidak memiliki kekebalan tubuh terhadap penyakit-penyakit baru yang para pendatang baru tersebut bawa dari benua Eropa maupun Afrika. Hal ini antara lain juga menjadi salah satu penyebab kehancuran bangsa Maya dan peradabannya. Namun sisa keturunan bangsa Maya sendiri, hingga kini masih tersebar di banyak negara terutama di Amerika Tengah, dan situs-situs sejarahnya telah ditemukan kembali dan dilestarikan sebagai warisan arkeologi dunia, salah satunya adalah Chichen Itza dan Tulum.

Chichen Itza

Temple of Kukulkan, Chichen Itza (Karnadi Nurtantio / NTD Indonesia)

Bila banyak kota-kota Maya seperti Palenque, Tikal ditinggalkan oleh penduduknya pada tahun 900-an (diduga karena bencana kekeringan), Kota Chichen Itza, yang sekarang terletak di negara bagian Yucatan, Meksiko justru berkembang dan mencapai kejayaan pada abad ke-10.

Chichen Itza, salah satu yang termegah dari situs-situs peninggalan Maya, belum lama ini dideklarasikan sebagai satu dari “The New Seven Wonders of the World”. Chichen Itza diperkirakan berkembang antara tahun 750 hingga 1250. Pusat situs sejarah tersebut adalah Temple of Kukulkan (orang Spanyol menamakannya El Castillo). Piramida megah dan bertingkat ini merefleksikan keakuratan dan kemajuan astronomi dari bangsa Maya saat itu. Temple of Kukulkan ini memiliki total 365 anak tangga, yang melambangkan satu tahun penuh dalam kalender bangsa Maya. Tepatnya, setiap sisi piramida memiliki 91 anak tangga, empat sisi berarti 364 anak tangga; ditambah satu di paling atas sehingga terbentuk angka 365.

Hanya terjadi saat Equinox, muncul bayangan ular di Piramida
Hanya terjadi saat Equinox, muncul bayangan ular di Piramida

Dua tahun sekali, saat Equinox (matahari tepat melintasi garis khatulistiwa), sekitar 20 Maret dan 22 September, sebuah bayangan matahari berbentuk ular terbentuk di puncak piramida. Saat matahari terbenam, bayangan “tubuh ular” ini seolah ikut bergerak turun meliuk-liuk bersama sinar matahari dan akhirnya menyatu dengan kepala ular di bagian bawah tangga besar di sisi piramida. Perhitungan sudut matematis yang luar biasa!

Kota Chichen Itza ini juga memiliki “Lapangan Bola” terbesar dibanding situs-situs Maya serupa di Amerika Tengah. Panjangnya hampir 170 meter, dengan lebar sekitar 70 meter. Para arkeolog menduga permainan bola saat itu adalah sebuah ritual keagamaan, jadi bukanlah olahraga atau hiburan semata. Konon pemain bola yang kalah akan dipersembahkan sebagai ‘kurban’.

Las Monjas, Chichen Itza (Karnadi Nurtantio / NTD Indonesia)

Sementara bangunan lainnya yang menarik, orang Spanyol menamakannya Las Monjas (yang bermakna ‘biara perempuan’), sebuah kompleks berstruktur klasik dalam gaya arsitektur Puuc. Namun, para arkeolog memperkirakan bangunan tersebut sesungguhnya adalah bangunan pemerintahan. Di sebelah kanannya terdapat struktur lebih kecil yang diberi nama “La Iglesia” (‘gereja’) oleh orang Spanyol, dan didekorasi dengan ikonografi maupun relief pada dinding-dindingnya.

Diperkirakan sekitar tahun 1250, Chichen Itza mengalami kemunduran, meskipun tidak sepenuhnya ditinggalkan penduduknya.

Tulum

Berbeda dengan Chichen Itza yang berada di pedalaman, situs arkeologi Tulum (yang dalam bahasa Maya bermakna ‘Tembok’) terletak di atas karang curam setinggi belasan meter, tepatnya di semenanjung Yucatan, negara bagian Quintana Roo, Meksiko. Bila karang terjal dapat melindungi kota ini dari invasi dari sisi laut, sisi yang menghadap darat dilindungi oleh tembok hingga ketinggian 5 meter, dengan panjang tembok sekitar 400 meter dan lebar 170 meter.

Tulum, situs Maya di Laut Karibik (Karnadi Nurtantio / NTD Indonesia)

Dari beberapa situs Maya yang penulis kunjungi, Tulum ini meskipun relatif kecil dibanding situs Chichen Itza, Uxmal, ataupun Palenque; namun pemandangannya adalah yang paling indah dan juga romantis, persis di tepi Laut Karibik. Pantai pasir putih menyembul di sela-sela karang curam dan deru ombak.

Tulum merupakan salah satu kota termuda dari bangsa Maya, yang baru berkembang pada abad ke-13 hingga ke-15. Dan setelah kedatangan kolonial Spanyol, hanya bertahan beberapa puluh tahun, sampai kota ditinggalkan sepenuhnya karena berjangkitnya wabah penyakit yang dibawa para pendatang.

Tulum banyak dikunjungi oleh turis dari AS, tidaklah mengherankan karena letaknya yang dekat Cancun, salah satu tujuan wisata pantai utama di Meksiko bagi turis AS. Secara geografis, di seberang Cancun terletak Kuba (di sisi timur), dan Florida, AS (di timur laut).

Akses ke Lokasi

Dari Bandara di Merida ataupun Bandara Cancun, Meksiko banyak layanan bus menuju Piste, kota kecil yang terletak hanya dua kilometer dari situs Chichen Itza. Jarak Merida – Piste sekitar 116 kilometer, sementara Cancun ke Piste 194 kilometer (sekitar 3 jam perjalanan). Bila anda datang dari negara bagian Campeche, ada banyak layanan bus antarkota Meksiko yang singgah di Piste.

Sementara situs arkeologi Tulum mudah diakses dari bandara Cancun, kota wisata di Laut Karibik. Jarak kedua lokasi sekitar 140 kilometer. Turis-turis AS yang umumnya menyewa mobil di Cancun, kadang bermurah hati memberikan kita tumpangan gratis ke Tulum atau sebaliknya.

(ntdindonesia.com/karnadi nurtantio)