Tag: balas

  • PODCAST Kisah Si Rubah dan Si Ayam Jantan Muda

    PODCAST Kisah Si Rubah dan Si Ayam Jantan Muda

    Alkisah di tengah hutan, hiduplah 2 sahabat. Ayam jantan muda, dan si bangau.

    PODCAST

    Di hutan yang sama, hiduplah seekor rubah yang licik, yang selalu berusaha untuk memangsa si ayam jantan muda.

    Suatu hari, si bangau ingin pergi untuk mencari makan, dan harus meninggalkan si ayam jantan muda sendirian.

    Dia khawatir, kalau si rubah akan datang dan memangsa si ayam jantan muda.

    Jadi bangau berkata: “Hai ayam jantan muda, saya akan pergi untuk mencari makan, saya khawatir saat saya pergi, si rubah akan datang memangsamu. Jadi, kamu tinggal saja di dalam rumah, dan jika ada yang datang, kecuali saya, jangan kamu bukakan pintu!”

    Si ayam jantan muda menjawab: “Ah kamu berlebihan bangau, tenang saja, saya pasti bisa menjaga diri.”

    “Bukan begitu kawan, si rubah sangat licik, saya khawatir dia akan menipumu dengan muslihatnya.”

    “Terima kasih atas perhatianmu, tapi tenang saja, saya juga tidak sebodoh itu, saya tidak akan tertipu oleh si rubah.”

    “Baiklah kalau begitu, saya pergi.”

    Kemudian pergilah si bangau mencari makan.

    Benar saja, di kejauhan si rubah sedang mengintai. Tepat setelah si bangau pergi, si rubah langsung bergegas mendatangi rumah mereka.

    Dia mengetuk pintu, dan berkata: “Ayam jantan, tolong buka pintu.”

    “Hah! Siapa kamu, mau apa datang kemari?”

    “Ini saya si bangau, ada yang tertinggal di dalam rumah, ayo cepat buka pintunya!”

    “Hmm.. tidak mungkin, suara si bangau tidak seperti itu, kamu pasti bukan si bangau!”

    “Justru, tenggorokan saya tiba-tiba sakit, saya ingin mengambil sesuatu di dalam rumah, ayo, cepat bukalah pintunya!”

    “Saya tidak percaya, kamu pasti bukan si bangau, kamu pasti si rubah, yang ingin memangsa saya kan? Saya tidak akan membuka pintunya.”

    Si rubah sadar bahwa dia sudah tidak bisa menipu si ayam jantan muda dengan berpura-pura menjadi si bangau, tapi akal liciknya segera bekerja lagi.

    “Baiklah, ya, saya memang si rubah, tapi saya datang ke sini, bukan untuk memangsamu, saya hanya ingin melihat keindahan bulumu.”

    “Hah! Apa maksudmu?”

    Hey, ayam , tahukah kamu banyak hewan di hutan ini yang berkata bahwa kamu adalah hewan tercantik di hutan ini, warna bulumu sangat indah sekali, dan banyak sekali yang iri dengan kecantikan warna bulumu.”

    Si ayam jantan muda mulai merasa senang dan bangga diri setelah mendengar sanjungan si rubah. Rubah itu lalu melanjutkan lagi:

    “Nah, saya sudah banyak mendengar tentang keindahan bulumu, tapi saya belum pernah melihatnya secara langsung. Sekarang saya datang, hanya ingin melihat keindahan juga mengagumi bulu indahmu. Bukalah pintunya, saya hanya ingin membuktikan secara langsung apa yang dikatakan hewan-hewan lain tentang keindahan bulumu, dan setelah itu, saya akan segera pergi.”

    Si ayam jantan muda yang merasa tersanjung, mulai berkurang kewaspadaannya. Dia berkata:
    “Baiklah, tapi kamu hanya ingin melihat buluku saja kan? Bukan ingin memangsaku?”

    “Oh bukan bukan bukan, saya hanya ingin melihat keindahan bulumu, dan setelah itu, saya akan langsung pergi.”

    “Baiklah.”

    Si ayam jantan muda pun membuka pintu, dan malang, tepat ketika pintu dibuka, si rubah langsung menyergap dan memangsanya.

    Waspadalah! Ujian yang sebenarnya adalah saat seseorang memuji Anda dengan kata-kata manis dan sanjungan. Jika Anda terlalu terlena dengannya, Anda akan mudah jatuh dalam petaka.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

  • PODCAST Kisah Seorang Tentara Dalam Medan Perang

    PODCAST Kisah Seorang Tentara Dalam Medan Perang

    Pada suatu peperangan, seorang tentara terpisah dari kelompoknya dan tertinggal di sebuah pulau.

    PODCAST

    Pertempuran masih berlangsung, namun dia telah kehilangan kontak dengan rekan-rekannya. Sendirian, dia bisa melihat di kejauhan, tentara musuh menuju ke arah pulau itu dan mendarat.

    Dia segera berlari masuk ke dalam hutan, lalu dengan susah payah mencari perlindungan. Dia menemukan ada beberapa gua batu kecil di atas bukit, dan segera saja, dia merangkak masuk ke dalam salah satu gua.

    Saat itu hatinya sedikit tenang, karena merasa aman, namun dia segera sadar, bahwa jika tentara musuh memeriksa semua gua di atas bukit, maka dia akan ditemukan, dan akan dibunuh.

    Dalam ketakutan, dia berdoa kepada Tuhan: “Tuhan, tolong selamatkan nyawa saya. Saya berjanji selanjutnya saya akan menjadi orang yang taat, menjalankan segala perintahMu dan menjauhi laranganMu. Apapun yang akan terjadi, saya percaya padaMu, saya serahkan jiwa dan raga ini kepadaMu, Amin.”

    Setelah berdoa, dia berbaring diam di dalam gua, sambil mendengarkan langkah kaki tentara musuh yang mulai mendekat. Dia kembali ketakutan dan berpikir: “Saya rasa Tuhan tidak akan membantu saya keluar dari masalah ini.”
    Kemudian dia melihat seekor laba-laba mulai membangun jaring di bagian atas mulut gua tersebut.

    Dia berpikir, “Yang saya butuhkan adalah dinding batu yang kokoh untuk menutup pintu gua, dan yang Tuhan kirimkan kepada saya adalah jaring laba-laba yang rapuh. Baiklah, saya mungkin sudah terlalu banyak dosa.”

    Tentara inipun pasrah.
    Saat musuh mendekat, dia melihat dari tempat persembunyiannya, para tentara musuh memeriksa gua-gua di sana satu demi satu.

    Dan, saat mereka tiba di gua tempat dia bersembunyi, dia mendengar seseorang dari tentara musuh yang berkata: “Sudah, abaikan saja gua itu, lihat, ada jaring laba-laba di mulut gua, jika ada yang masuk ke dalam gua tersebut, jaring itu pasti sudah rusak!”

    Jadi tentara musuh tidak memeriksa gua tempat dirinya bersembunyi, dan melanjutkan pencarian mereka.

    Dia terus diam, hingga akhirnya pasukan musuh pergi dari pulau tersebut.

    Saat ini, dia melihat jaring laba-laba yang rapuh di mulut gua, dan menyadari bahwa dengan adanya jaring laba-laba di atas pintu masuk, tampak seolah sudah lama tidak pernah ada yang masuk ke gua tersebut.

    Dia menyadari, itulah pertolongan yang Tuhan berikan untuknya. Dalam kuasa Tuhan, jaring laba-laba yang rapuh itu jauh lebih kuat daripada bebatuan yang keras, dalam kuasa Tuhan, jaring laba-laba yang rapuh itu mampu menyelamatkan nyawanya, dan Tuhan bisa menggunakan apapun untuk menunjukkan kuasaNya.

    Tuhan ada disamping kita dan telah mengatur segalanya yang terbaik untuk kita, yang kita perlukan hanyalah percaya padaNya.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

  • PODCAST Kasih Sayang yang Terlupakan

    PODCAST Kasih Sayang yang Terlupakan

    Di sebuah desa, tinggallah seorang Ibu dengan dua orang putrinya, Rini dan Tina.

    PODCAST

    Rini sang kakak mempunyai wajah yang biasa-biasa saja, sedangkan sang adik Tina, memiliki wajah yang sangat cantik.

    Perbedaan wajah kedua putri itu menarik perhatian banyak orang. Banyak tetangga serta saudara mereka, yang meramalkan bahwa Tina sang adik yang cantik, pasti akan menjadi model atau bintang film sukses di masa depan, namun tidak ada yang menaruh perhatian pada Rini sang kakak yang berwajah biasa saja.

    Sang Ibu, walaupun menyayangi keduanya, lama-kelamaan menjadi percaya omongan orang dan menaruh harapan besar pada Tina anaknya yang cantik untuk menjadi seorang bintang di masa depan. Tanpa sadar, ia banyak menghabiskan uang untuk les-les model dan akting bagi Tina, membelikannya baju, make-up, dan berbagai kemewahan lain untuk putri cantiknya tersebut, dan kurang memperhatikan putrinya yang lain.

    Lama-kelamaan, sang adik cantik Tina tumbuh menjadi anak yang egois dan narsistik, sementara sang kakak Rini tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri dan selalu murung dan pendendam.

    Tahun berganti tahun, kedua anak perempuan ini kini telah dewasa. Tina telah berkarir menjadi seorang model di kota besar, sementara kakaknya Rini mendapatkan pekerjaan di sebuah kantor menjadi sekretaris yang biasa-biasa saja. Kehidupan terlihat berjalan normal, sampai suatu hari sang Ibu tiba-tiba jatuh sakit dan diopname. Setelah melakukan pemeriksaan, Dokter berkata:

    “Bu, ginjal Ibu bermasalah dan tidak bisa diobati. Satu-satunya jalan keluar adalah dengan melakukan transplantasi. Apakah Ibu memiliki sanak saudara yang dapat ditest untuk kecocokan ginjalnya? Jika sanak saudara itu bersedia, kita harus segera melakukan proses transplantasi demi kesembuhan Ibu.”

    Sang Ibu sangat terkejut dan sedih mendengar hal ini. Ia pun segera menelpon kedua putrinya Rini dan Tina, dan keduanya segera datang ke rumah sakit. Setelah mendengar keterangan dokter, kedua putri ini terdiam. Ibu mereka bertanya dengan pedih:

    “Rini, Tina,… hidup Ibu akan terancam jika tidak segera transplantasi. Apakah kalian bersedia untuk melakukan pengetesan ginjal, dan jika ginjal kalian cocok, apakah kalian bersedia memberikan satu untuk Ibu? Ibu tidak bisa memaksa kalian…. Ini tergantung ketersediaan kalian…..”

    Rini dan Tina terdiam cukup lama. Mereka saling melirik.

    (Tina): “Uh… Bu…. Bagaimana kalau kak Rini dulu yang ditest ginjalnya? Kalau tidak cocok baru aku ditest…. Masalahnya… uh…. Aku lagi sibuk dengan pekerjaanku Bu… ini saja kesini aku sudah setengah mati minta cuti, bahkan sempat dimarahi bosku, Bu…”

    Sang Ibu yang mendengar hal ini pun hancur hatinya. Air matanya mengalir, dan ia mulai terisak. Ia tidak menyangka anak kesayangannya yang cantik, Tina, tega berkata seperti itu padanya. Tina pun menundukkan kepala, tidak berani melihat Ibunya.

    Ibu lalu mengalihkan pandangan pada putri pertamanya Rini, sambil mengusap airmatanya: “Rini, Nak,…. Bagaimana denganmu? Apakah kamu bersedia menjalani test ginjal itu?”

    Rini menatap Ibunya dengan pandangan kosong. Perlahan ia berkata: “Tidak masalah, Ibu. Dari dulu toh Ibu tidak pernah menyayangiku. Dari dulu aku merasa hidupku ini tidak berarti. Tidak masalah satu ginjalku atau dua ginjalku diambil untuk Ibu, karena aku ini tidak berarti apapun….”

    Mendengar kata-kata jujur dari putri pertamanya ini kembali membuat hati Ibu hancur berkeping-keping. Ia menangis terisak-isak, hingga Tina si putri kedua tidak tahan. Ia pun berdiri dan bergumam, hendak keluar menelepon seseorang. Sementara Rini tetap duduk mematung disana. Lama ia duduk menemani Ibunya menangis tanpa berkata sepatah kata pun. Setelah tangis Ibunya mereda, ia pun berkata: “Ibu, tidak usah menangis lagi. Aku bukan anak yang egois seperti Tina. Menurutku, sikap Ibu selama ini-lah yang menyebabkan hal ini. Semuanya sudah terjadi, sudah terlambat, menyesal pun sudah tidak bisa. Sekarang Ibu hanya memiliki dua putri, Tina yang egois dan aku yang pendendam.
    Sudah lama hatiku ingin memberontak seperti ini pada sikap Ibu yang pilih kasih. Tapi aku sadar diriku bukanlah siapa-siapa. Karena Tina sudah pergi, Ibu hanya bisa memilih aku, dan aku sudah bersedia untuk menyumbangkan ginjalku jika memang cocok. Terimalah diriku ini apa adanya, Bu, untuk sekali ini saja.”

    Ibunya kini hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil kembali terisak. Ia pun memeluk Rini dengan sepenuh hati. Rini yang kaku, perlahan berubah menjadi lembut dan membalas pelukan Ibunya.

    (Rini): “Sudah Bu, jangan menangis lagi. Aku akan lapor ke dokter sekarang untuk menjalani test ginjal itu ya!”

    Ibu pun mengangguk.

    Tak lama, Rini pun menjalani prosedur pengetesan ginjal, dan untunglah, ternyata ginjalnya memang cocok. Ia dan Ibunya pun menjalani operasi transplantasi ginjal, dan operasi itu dinyatakan sukses. Sang Ibu kini kembali sehat.

    Sebelum meninggalkan rumah sakit, Ibu bertanya dengan tulus pada Rini: “Rini, Nak, bolehkan Ibu menebus kesalahan Ibu di masa tua ini? Biarkan Ibu tinggal bersamamu, Ibu ingin memanjakanmu dan memasakkanmu masakan-masakan enak setiap hari! Biarkan Ibu menunjukkan padamu, bahwa dirimu berarti sangat besar bagi Ibu dan orang lain! Kamu telah memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk Ibu, jadi biarkan Ibu membalas kebaikanmu, ya!”

    Rini menatap Ibunya dengan ragu. Rasa dendam masih tersisa di dalam hatinya, tetapi kedekatannya dengan Ibunya belakangan ini telah perlahan mengobati rasa sakit hatinya. Hatinya yang selalu dingin, kini mulai dihangati oleh cinta kasih Ibunya.

    Rini pun berkata, “Baiklah Ibu. Tinggallah bersamaku.”

    Begitulah, Rini dan Ibunya kini mulai tinggal bersama, menebus kembali kasih sayang yang terlupakan dari masa kecil Rini. Sementara sang adik Tina, hanya menelepon beberapa kali menanyakan kabar Ibunya, namun tidak pernah datang menjenguk.

    Sebagai orangtua, adalah bijak untuk memberi kasih sayang yang adil tanpa membeda-bedakan. Sikap pilih kasih dari orangtua, akan memberikan dampak psikologis yang sangat besar bagi anak-anaknya di masa depan, dan akan harus ditanggung oleh orangtua mereka di masa tuanya kelak.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

  • Harga dari Aroma Roti

    Harga dari Aroma Roti

    Suatu ketika ada seorang petani yang pulang ke rumah, setelah bekerja di ladangnya. Dalam perjalanan pulang, dia melewati sebuah toko roti.

    Petani itu lelah dan lapar. Ketika dia berjalan melewati toko roti itu, ada beberapa roti yang baru saja selesai dibuat, aroma roti yang baru matang tersebar hingga ke luar toko. Dia ingin membeli roti itu, namun dia tidak punya banyak uang, jadi dia hanya berdiri diam di sana, sambil menghirup aroma roti yang baru dipanggang, dan membayangkan kalau dirinya sedang menikmati roti lezat yang baru matang.

    Ternyata si pemilik toko melihat petani itu sedang menikmati aroma rotinya, dan karena pemilik toko roti ini adalah orang yang sangat kikir, dia tidak rela membagikan, bahkan sekedar aroma rotinya, kepada orang lain dengan gratis.

    Jadi dia menghampiri si petani, dan meminta si petani untuk membayar atas aroma roti yang dia hirup.

    Petani itu kaget dan berkata, “Tapi saya sama sekali tidak memakan rotimu, mengapa saya diharuskan membayar?”

    Pemilik toko menjawab, “Sekalipun kamu tidak memakan roti saya, tapi kamu sudah menikmati aromanya, itu sama saja dengan memakannya, jadi sekarang kamu harus bayar!”

    Si petani sedikit bingung, hanya ada beberapa keping uang logam di sakunya, namun kemudian dia menemukan sebuah akal.

    Dia mengambil beberapa keping uang logam di sakunya, lalu kemudian mengocok beberapa uang logam itu di dalam genggamannya, hingga terdengar suara gemerincing.

    Dia lalu berjalan pergi.

    Si pemilik toko menghentikannya, berkata: “Berhenti! Kamu tidak boleh pergi sebelum membayar!”

    Lalu si petani menjawab lagi, “Loh saya sudah membayarnya tadi. Tadi kamu sudah mendengar suara gemerincing uang logam saya bukan?

    Kalau menghirup aroma rotimu dianggap sama seperti memakan roti, kalau begitu, mendengar suara gemerincing uang logam saya, sama juga dengan telah menerima uang logam saya.” (moralstories26/an)

    Mungkin dalam hidup, kita bertemu dengan orang yang curang dan licik seperti si tukang roti. Terkadang kita perlu memanfaatkan taktik lawan, untuk mengalahkan lawan.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • PODCAST Empat Musim Dalam Kehidupan

    PODCAST Empat Musim Dalam Kehidupan

    Di sebuah desa, ada seorang pria yang memiliki 4 orang anak. Dia ingin anaknya belajar untuk tidak menilai sesuatu dengan terlalu cepat. Jadi suatu hari, ia memberikan sebuah tantangan kepada keempat anaknya itu dan berkata: “Anak- anakku, Ayah ingin memberikan sebuah tugas yang sangat menarik untuk kalian semua.”

    PODCAST

    Kemudian salah seorang anaknya menjawab: “Baik Ayah, tapi tugas apa itu?”

    Sang Ayah pun berkata lagi:
    “Begini, ada sebuah pohon pir, yang letaknya cukup jauh dari rumah kita. Ayah ingin kalian pergi mengamati pohon pir itu, dalam empat musim yang berbeda. Dan kalian boleh memilih sendiri, di musim apakah kalian ingin mengamatinya. Apakah kalian mengerti?

    Kemudian anaknya menganggukkan kepala tanda mengerti.

    Akhirnya, keempat anaknya pun sepakat dan menetapkan bahwa anak pertama berangkat di saat musim semi, anak kedua berangkat di saat musim panas, anak ketiga berangkat di saat musim gugur, dan yang terakhir, anak keempat berangkat di musim salju.

    Ketika mereka semua kembali ke rumah, sang Ayah kemudian memanggil mereka dan berkata: “Anak- anakku, coba kalian ceritakan pada Ayah, apa yang telah kalian lihat disana.”

    Anak pertama yang melihat pohon pir di musim semi berkata:
    “Ayah, aku melihat pohon pir itu tertutup tunas- tunas pohon yang berwarna hijau, seolah penuh dengan harapan yang indah. Cantiiikkk sekali.”

    Berbeda dengan kakaknya, anak kedua yang melihat pohon pir di musim panas pun berkata:
    “Bukan begitu Ayah, aku melihat ada urat-urat kayu yang dipenuhi dengan bunga- bunga yang sedang bermekaran, baunya sangat harum dan terlihat sangat cantik. Ini adalah pemandangan terindah yang pernah aku lihat.

    Namun si anak ketiga yang melihat pohon pir di musim gugur berkata:
    “Hmmmmm….Ayah, kakak-kakak salah semua. Yang aku lihat disana, pohon pir itu sedang berbuah lebat dan juga sudah matang semuanya, ranum-ranum sekali! Ingin aku memetik buahnya untuk kubawa pulang!

    Tiba giliran si anak keempat yang melihat pohon pir di musim salju berkata: “Ayah, bukan seperti itu! Aku lihat penampilan pohon pir itu sangat jelek, batangnya aja sudah rapuh dan retak, seperti tidak ada harapan hidup.”

    Sang Ayah pun tersenyum dan kemudian menjelaskan pada anak anaknya:
    “Anak -anakku, semua pemandangan yang kalian lihat itu adalah benar, karena kalian masing-masing telah melihat satu musim dalam suatu kehidupan dari sebuah pohon. Kalian tidak dapat menilai sebuah pohon, atau orang, hanya dari satu masa atau musim saja, ingatlah hal ini ya!”

    Kegembiraan, kesenangan, cinta dari seseorang hanya dapat diukur di saat akhir, ketika semua masa sudah terlewati. Inti dari pemahaman siapakah seseorang sesungguhnya juga diukur oleh hal ini.

    Jika Anda menyerah ketika musim dingin, Anda akan melewatkan janji musim semi, keindahan musim panas dan pemenuhan janji musim gugur.

    Jangan menilai hidup seseorang dari satu musim yang sulit. Jangan biarkan kesedihan dan kesulitan dari satu musim menghapus semua kegembiraan dari musim yang akan datang.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

  • PODCAST Anak yang Lupa untuk Berbakti

    PODCAST Anak yang Lupa untuk Berbakti

    Ada seorang pria berusia 30 tahun yang tinggal berdua bersama Ayahnya yang sudah tua dan harus menggunakan kursi roda.

    PODCAST

    Pria ini sebenarnya cukup sukses, namun ia tahu Ayahnya masih menyimpan harta kekayaan yang cukup banyak. Dengan pikiran yang tamak, ia berpikir untuk memasukkan Ayahnya ke panti jompo, lalu membujuk Ayahnya untuk membiarkannya mengatur keuangan mereka.

    Di kota itu, hanya ada satu panti sosial yang menjadi panti jompo sekaligus panti asuhan. Pria ini kemudian membawa Ayahnya kesana.

    Ketika tiba, mereka disambut oleh kepala panti, yang adalah seorang pria lawas seumur Ayahnya. Anehnya, pria tua kepala panti itu terlihat sudah mengenal Ayah si pria, mereka bahkan berpelukan dan saling menanyakan kabar masing-masing dengan bersemangat.

    Dengan heran, pria ini bertanya pada si Kakek kepala panti:
    “Maaf Pak, memangnya, Anda kenal dengan Ayah saya?”

    Kepala panti pun menjawab:
    “Oh, tentu saja, saya kenal dengan pria baik ini. Dia datang ke sini 30 tahun yang lalu dan mengadopsi seorang bayi lelaki yatim piatu yang sangat sakit, yang telah ditolak oleh semua orang. Dia menyelamatkan hidup anak itu, dan berkata bahwa anak tersebut pantas untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hidup, lalu dia berkata kalau dia akan mendedikasikan hidupnya, untuk mendidik anak tersebut, menjadi seorang anak yang sukses.”

    Setelah mendengarnya, pria itu merasa sadar akan ketamakannya dan niat buruknya. Ia menangis, lalu berlutut di hadapan Ayahnya dan berkata:
    “Ayah, maafkan saya, saya telah bersalah, saya telah memiliki niat buruk, dengan mengeluarkan Ayah dari rumah dan mengirim Ayah ke panti jompo.”

    Ayahnya hanya tersenyum lalu tertawa terkekeh:
    “Hahahaha….Tidak apa-apa Nak. Sudah sejak lama, Ayah memang kepikiran sama panti ini, tempat kamu dilahirkan! Ayah sudah membuat rencana untuk menyumbangkan seluruh harta kekayaan Ayah ke panti ini. Kebetulan lah, kamu mengirim Ayah kesini untuk menghabiskan masa tua Ayah! Biarlah Ayah tinggal disini. Kamu kan sudah mandiri dan sudah bisa mencari uang sendiri, Ayah harap kamu bisa menopang dirimu dan keluargamu sendiri di masa depan!”

    Di puncak kesuksesan Anda, jangan pernah melupakan dari mana Anda berasal, jangan lupakan mereka yang telah membantu Anda sampai ke puncak. Mereka yang lupa untuk berbakti dan kehilangan pijakan moral, cepat atau lambat, akan mendapatkan balasan yang setimpal.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

  • PODCAST Percakapan Antara Pengemis dengan Pria Kaya

    PODCAST Percakapan Antara Pengemis dengan Pria Kaya

    Seorang pria muda yang kaya mengendarai mobil sedan mewah dan berhenti di pinggir jalan.

    PODCAST

    Seorang pengemis datang dan mengetuk jendela mobilnya perlahan.

    “Pak, tolong beri saya uang, sudah beberapa hari saya kelaparan.”

    Pria muda itu membuka jendela dan berkata: “Saya beri rokok mau? Ada rokok berkualitas di sini.”

    Pengemis itu menjawab: “Saya tidak merokok, saya hanya ingin uang untuk makan.”

    Pria itu berkata: “Mau minum alkohol? Saya punya anggur berkualitas di sini.”

    Pengemis itu menjawab: “Tidak. Saya juga tidak minum alkohol, saya butuh uang untuk makan.”

    Pria itu berkata lagi: “Ayo,,, ikut saya ke kasino, kita berjudi! Kalau kamu menang, maka semua uang kemenangan jadi milikmu, mau?”

    Pengemis itu mulai lelah dan berkata: “Hahh,,,saya tidak paham judi, saya hanya butuh uang Pak!”

    Pemuda itu masih tidak menyerah dan berkata: “Atau kita berkeliling merasakan nikmatnya hidup ini?”

    Pengemis itu menggelengkan kepalanya, berkata: “Tidak, tidak,,saya tidak suka bersenang-senang, saya hanya ingin uang.”

    Pria muda itu tersenyum dan berkata kepada pengemis: “Ayolah, ikut ke rumah saya! Saya ingin istri saya melihat bagaimana jadinya jika seorang pria tidak merokok, tidak minum, tidak berjudi dan tidak bersenang-senang!”

    Pengemis itu menatap pria muda tersebut, dan berkata perlahan: “Tuan, ketika masih muda, saya sama seperti Anda, suka merokok, minum, berjudi, bersenang-senang, tidak serius berusaha, pokoknya hanya suka bersenang-senang dan beginilah saya sekarang.”

    Dalam hidup, terlena akan kesenangan hidup dan terpengaruh oleh hal-hal negatif, akan mendorong Anda menuju ke jalan yang gelap. Dengan bekerja keras dan mawas diri, serta tidak mengejar kesenangan duniawi, niscaya masa depan Anda akan menjadi cerah!

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

  • PODCAST Balas Dendam Terbaik

    PODCAST Balas Dendam Terbaik

    Di suatu desa, hiduplah dua orang petani, yang satu bernama Manu, dan satunya lagi bernama Diska. 

    PODCAST

    Mereka sama-sama memiliki sawah yang luas. Mereka akan menanam padi dan memanennya di saat yang bersamaan. 

    Tahun demi tahun berlalu.

    Namun seiring berjalannya waktu, hasil panen milik Manu menjadi lebih banyak, dibandingkan hasil panen milik Diska.

    Diska yang merasa iri, akhirnya diam-diam membakar sawah milik Manu.

    Manu pun tidak bisa memanen. Ia terpaksa membayar hutang bibit padi dengan tanah sawahnya, dan harus pergi dari sana.

    Setelah beberapa waktu, Manu akhirnya mengetahui, bahwa orang yang membakar sawahnya adalah Diska. 

    Ia marah dan bersedih, dan terus memikirkan cara untuk membalas dendam.

    Pada suatu hari, Manu berjalan-jalan di pegunungan, dan beristirahat di bawah sebuah pohon jeruk. 

    Ia memetik sebuah jeruk dan memakannya karena kehausan. 

    Ternyata jeruk itu sangat manis! Manu pun membawa pulang bijinya untuk ditanam kembali.

    Terbakar oleh semangat untuk membalas dendam, Manu bekerja giat membudidayakan jeruk tersebut.

    Buah-buah jeruknya pun akhirnya panen, dan terjual laku dengan harga tinggi.

    Manu yang menjadi sangat sibuk, lupa dengan niatnya membalas dendam.

    Setelah beberapa tahun, Manu telah memiliki kebun jeruk yang sangat luas,

    kekayaannya juga telah sangat melimpah.

    Ia akhirnya menjadi sadar. Pembalasan dendam yang terbaik adalah tidak pernah melihat ke belakang, dan terus menjalani hidup yang bahagia tanpa dendam.

    Jangan habiskan waktu untuk meratapi nasib buruk di masa lalu. Gunakanlah waktu yang ada untuk meraih masa depan yang lebih baik, karena itu adalah balas dendam terbaik yang bisa Anda lakukan untuk diri sendiri.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.