Tag: bermain

  • 6 Aktivitas yang Dapat Dilakukan Bersama Anak Saat Social Distancing atau Physical Distancing

    6 Aktivitas yang Dapat Dilakukan Bersama Anak Saat Social Distancing atau Physical Distancing

    Social distancing atau physical distancing, seperti yang diusulkan oleh pemerintah Indonesia baru-baru ini, telah banyak diterapkan oleh sebagian masyarakat Indonesia, termasuk di bidang pendidikan. Pada umumnya pembelajaran dialihkan melalui e-learning di rumah. Berbeda dengan anak yang lebih besar, pembelajaran e-learning untuk anak yang lebih muda, umumnya masih perlu didampingi oleh orang tua, terutama pada anak usia dini. Meski tetap dilakukan e-learning, umumnya durasi pembelajarannya lebih dipersingkat. Hal ini yang kemudian menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi orang tua. Mengingat sisa waktu yang masih panjang, orang tua perlu memiliki banyak ide untuk dilakukan bersama anak-anak agar tidak merasa bosan di rumah. Terutama jika orang tua bertekad ingin membatasi waktu anak menggunakan gadget.

    Berikut beberapa aktivitas yang mungkin dapat dipertimbangkan sebagai alternatif.

    Aktivitas di luar

    Jika memiliki halaman, inilah saatnya mengeksplorasi area ini. Anda dapat berkebun bersama anak, menyiram tanaman, bermain air, atau mencari dedaunan. Jika tidak memiliki halaman, jangan berkecil hati, Anda dapat berjalan-jalan di luar (tentu saja tetap menghindari keramaian). Berjalan sepanjang blok rumah Anda, di siang hari saat jalanan sepi. Mengamati binatang-binatang kecil yang ditemukan, memotret hal-hal yang menarik minat anak Anda, mencari tahu apa nama pohon yang dilewati. Apapun spontanitas saat itu, lakukanlah… dan biarkan anak Anda memenuhi keingintahuannya.

    Activity book

    Isi kesibukan anak dengan aktivitas yang disukainya, seperti menggambar, menempel stiker, berhitung, bermain labirin dan lain-lain. Anda dapat membeli wipe-clean activity book yang dapat digunakan berkali-kali. Jika buku aktivitas tidak dapat dihapus, iris setiap halamannya dan masukkan masing-masing ke dalam document keeper. Biarkan anak mencoret-coret diatas plastik document. Jika Anda tidak memiliki buku aktivitas, saat ini sudah tersedia sangat banyak lembar aktivitas ?printable? yang dapat diunduh secara gratis.

    Sains sederhana

    Bagaimana jika bermain sains sederhana? Puaskan rasa keingintahuan anak dengan melakukan eksperimen sederhana. Seperti “walking water” (mencampur dua warna, sehingga mendapatkan warna yang berbeda, dengan menggunakan tissue). Atau menulis pesan rahasia dengan air perasa jeruk nipis. Atau menapa balon dapat mengembang sendiri tanpa ditiup. Gunakan bahan-bahan di sekitar Anda dan carilah inspirasi dari internet.

    Membacakan buku

    Membacakan buku pada anak, telah diketahui memiliki sangat banyak manfaat. Aktivitas ini dapat merangsang daya imajinasi anak, membantu menstimulasi otak anak, menambah kosakata anak, sekaligus menciptakan momen berkualitas antara orangtua dengan anak. Pemilihan buku yang memiliki pesan moral tinggi juga dapat membantu anak mengembangkan rasa empatinya.

    Board game

    Tentu saja, bermain! Karena bermain adalah pekerjaan anak-anak. Anak perempuan Anda mungkin akan mengajak Anda bermain boneka atau congklak atau bola bekel. Bersiap-siaplah bermain perang-perangan atau bermain bola, saat anak laki-laki Anda memanggil. Namun anak-anak memiliki energi yang tidak terbatas. Saat Anda merasa kelelahan, cobalah tawarkan mereka permainan papan atau board game seperti monopoli, ular tangga, atau scrabble. Mungkin Anda dapat sedikit bernafas lega.

    Memasak

    Mereka dapat membantu menyiapkan makanan dan memasak. Selain mengajarkan anak mengeksplorasi bahan-bahan di dapur, memasak juga dapat mengembangkan keterampilan motorik halus, koordinasi mata, dan bahkan konsep awal matematika dan sains. Mereka juga akan belajar mengonsumsi sayuran yang mereka siapkan sendiri. Biarkan anak memilih makanan apa yang akan mereka buat. Atau Anda dapat memilihkan resep dengan bahan-bahan yang sudah ada. Saat ini beragam resep dapat Anda pilih di internet. (ntdindonesia/averiani)

    Lebih banyak artikel Kesehatan, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

    https://youtu.be/z0NaFShpKRc
  • Makna Bermain bagi Anak, Remaja, dan Orang Dewasa (bagian 3)

    Makna Bermain bagi Anak, Remaja, dan Orang Dewasa (bagian 3)

    Bermain dan Hubungannya dengan Pekerjaan, Hubungan Sosial, dan Kelurga

    Ketika kita membaca kata “bermain,” pikiran kita pasti langsung tertuju pada kegiatan menyenangkan yang paling disukai anak-anak. Meski tampaknya hanya bermain dan bersenang-senang, rupanya kegiatan tersebut sangat bermanfaat untuk perkembangan kognitif, kesehatan, dan sosial anak. Bahkan, tidak hanya pada anak-anak, manfaat ini juga dirasakan oleh para remaja, seperti yang telah dimuat di artikel sebelumnya. Sebenarnya, bermain tidak terbatas pada usia tertentu. Sayangnya bagi orang dewasa, bermain sering diabaikan dan dilupakan. Banyak yang menganggapnya sebagai tindakan yang kurang dewasa, tidak produktif, atau bahkan tidak disukai.

    Di dunia modern yang super sibuk dan penuh dengan teknologi, banyak diantara kita yang terlalu memusatkan perhatian pada pekerjaan, relasi, dan keluarga yang pada akhirnya membuat kita terjebak dengan rutinitas sehari-hari. Kita melupakan cara bermain yang dahulu pernah kita lakukan. Pada titik tertentu, diantara masa kanak-kanak dan dewasa, tiba-tiba kita berhenti bermain.

    Selama beberapa dekade, bermain terutama dipelajari sebagai fenomena instrumental untuk perkembangan anak dan terapi. Sangat jarang riset yang mempelajari aktivitas bermain pada orang dewasa dan manfaat yang didapatkannya. Kalaupun ada, utamanya dilakukan dalam konteks terapeutik. Namun belakangan, beberapa riset diketahui menyoroti permainan pada orang dewasa.

    Salah satu pendekatan yang secara eksplisit mengenali permainan sebagai perilaku universal yang memiliki arti penting bagi kesehatan dan kesejahteraan di sepanjang usia individu tersebut dapat ditemukan dalam teori psikoanalisis. Pendapat ini dikemukakan oleh Lieselotte van Leeuwen dan Diane Westwood, dalam jurnal berjudul “Adult play, psychology, and design.” Dalam jurnal yang sama, Leeuwen juga menyebutkan teori dari Donald W. Winnicott yang menggambarkan permainan terjadi di ruang transisi antara realitas batin seseorang dan realitas luar seseorang yang memungkinkan adanya aksi kreatif. Dalam ruang ini atribut realitas objektif dipadukan dengan atribut imajinasi membuat seseorang dapat bereksperimen dengan berbagai cara dan berhubungan dengan dunia luar. Bagi Winnicott, dasar bermain dibangun berdasarkan seluruh pengalaman manusia. Karakter permainan yang kreatif dan eksperimental inilah yang merupakan konsekuensi positif bagi kesehatan dan kesejahteraan seorang individu.

    Riset lain yang mempelajari kebutuhan bermain pada orang dewasa dan karakter kepribadian “suka bermain” pada orang dewasa ditemukan dalam sebuah jurnal karya René T. Proyer, “A multidisciplinary perspective on adult play and playfulness.” Dalam jurnal ini dia menuliskan kontribusi dari rekan-rekan peneliti yang melakukan riset dalam sudut pandang disiplin ilmu yang berbeda-beda.

    Sebenarnya, sama dengan anak-anak, bermain juga memiliki arti penting pada orang dewasa, meski dalam konteks yang berbeda. Seringkali bermain pada orang dewasa hanyalah memperpanjang permainan di masa anak-anak. Misalnya, anak-anak bermain dengan menerapkan aturan dimulai sekitar usia lima atau enam tahun. Di usia dewasa, kegiatan ini dilanjutkan dengan berbagai permainan seperti bermain bola (baseball, softball, sepak bola, atau bola basket), bermain kartu, dan permainan papan. Seiring dengan meningkatnya keterampilan kognitif seorang anak, permainan menjadi lebih kompleks. Misal permainan Go Fish atau Old Maid berganti menjadi poker atau bridge; Candy Land atau Uncle Wiggily berubah menjadi Monopoli atau catur. Orang dewasa bermain dengan kognitif yang lebih canggih. Termasuk diantaranya bermain kata-kata dan lelucon yang melibatkan manipulasi linguistik dan retorika. Permainan anak-anak seperti koboi-koboian atau polisi dan maling diterjemahkan ke dalam bentuk permainan orang dewasa seperti paintball (Garry Chick Careen Yarnal Andrew Purrington dalam jurnal “Play and Mate Preference Testing the Signal Theory of Adult Playfulness.”)

    Dalam hubungannya dengan dunia orang dewasa pada dasarnya kebutuhan bermain berkaitan dengan tiga hal, yakni pekerjaan atau karier, hubungan sosial, dan keluarga. Berikut diulas bagaimana bermain dapat meningkatkan tiga hal yang dibutuhkan orang dewasa.

    Pekerjaan atau karier

    Banyak perusahaan telah mengenali keterkaitan produktivitas karyawan dengan lingkungan menyenangkan di tempat kerja. Mungkin ada sebagian perusahaan yang berpikir jika cara terbaik untuk mengatasi beban kerja yang terus meningkat dengan mendorong karyawan untuk bekerja lebih lama dan lebih keras. Namun, tanpa jeda yang menyenangkan, kemungkinan besar karyawan akan merasa sangat kewalahan dan jenuh. Sebaliknya melalui kegiatan yang menyenangkan dapat mendorong karyawan mengambil risiko yang lebih kreatif dan menciptakan suasana kerja yang lebih ringan.

    Pada umumnya perusahaan kemudian menawarkan berbagai ruang yang dapat mewadahi “kebutuhan bermain” bagi karyawannya. Menurut Proyer, kebutuhan untuk bermain dapat diartikan sebagai kebutuhan untuk bersantai, menghibur diri sendiri, mencari pengalihan, dan mencari hiburan, tertawa, bercanda, dan bergembira. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh para manager dan pengusaha, seperti dilansir dari artikel “The Benefits of Play for Adults” karya Lawrence Robinson, Melinda Smith, M.A., Jeanne Segal, Ph.D., and Jennifer Shubin, antara lain:

    • Memberikan peluang pada para karyawan untuk berinteraksi sosial. Tawarkan beberapa permainan di sela-sela kepadatan kerja. Pasang ring basket di tempat parkir, atur turnamen golf miniatur, atau buatlah sayembara perburuan harta karun di kantor.
    • Dorong pemikiran kreatif. Cukup dengan “meringankan” suasana rapat, misalnya dengan menyimpan puzzle di meja ruang konferensi.
    • Dorong pekerja untuk beristirahat secara teratur. Biarkan mereka menghabiskan beberapa menit untuk melakukan kegiatan yang menyenangkan, seperti sudoku atau permainan kata.

    Hubungan sosial

    Bercanda dan tertawa bersama memainkan peran penting dalam membangun hubungan yang kuat dan sehat. Menciptakan ikatan yang lebih positif, merekatkan pertemanan, sekaligus membangun jembatan dalam penyelesaian konflik dan ketidaksepakatan. Sedangkan dalam hubungan yang baru, bercanda dapat menjadi alat yang efektif untuk menarik pihak lain sekaligus mengatasi kecanggungan saat berkenalan.

    Selain itu, salah satu bentuk permainan yang dapat dilakukan oleh orang dewasa, dengan berolahraga. Selain menyehatkan, olahraga juga digunakan sebagai sarana “bermain” dan bersosialisasi. Beberapa pertimbangan yang mungkin dapat Anda lakukan berkenaan dengan olahraga seperti dilansir dari artikel “Staying Young at Heart: Why Adults Should be Playing More” tulisan Caileigh Flannigan, antara lain:

    • Jangan terlalu serius. Anda bukan atlet. Alih-alih menargetkan sesuatu, jadikan olahraga sebagai suatu kegiatan yang menyenangkan. Sesekali singkirkan GPS atau penghitung langkah Anda. Tentu saja, bagi Anda yang penggemar berat olahraga, target adalah satu hal yang akan menjadi dorongan.
    • Berganti-ganti. Tidak ada salahnya mencoba beberapa jenis olahraga. Selain menghindari rasa bosan yang timbul, aktivitas ini dapat menarik dan memotivasi Anda.
    • Lepaskan naluri bermain. Cobalah aktivitas fisik yang biasa dilakukan anak-anak. Hoola hoop, lompat tali, main ayunan, jumping jacks, misalnya. Anda dapat mencoba aktivitas menyenangkan namun tetap berlatih kardio.
    • Ajak teman atau anak Anda. Berkumpul bersama teman atau keluarga melalui olahraga seperti “sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.”

    Keluarga

    Bermain sangat penting untuk perkembangan keterampilan sosial, emosional, kognitif, dan fisik anak. Oleh karena itu, bermain bersama anak, selain membantu perkembangan anak juga memperkuat ikatan orangtua-anak. Meski anak-anak membutuhkan waktu untuk bermain sendiri atau bermain bersama teman-temannya, bermain dengan orang tua juga penting. Saat kebutuhan bermain terpenuhi, kedua belah pihak akan terhindar dari tekanan yang serius. Robinson memberikan beberapa tips yang dapat Anda gunakan sebagai pertimbangan untuk bermain bersama anak. Ingatlah bahwa bermain bersama akan menguntungkan Anda berdua.

    • Tetapkan waktu bermain secara rutin. Mungkin Anda dapat menyisihkan waktu sekitar dua puluh menit sebelum makan malam atau setiap Sabtu pagi, misalnya. Berikan perhatian penuh pada anak. Matikan TV dan ponsel Anda dan luangkan waktu tanpa gangguan.
    • Sesuaikan dengan level anak. Mungkin ini berarti Anda perlu berlutut atau duduk di lantai. Sesuaikan dengan intensitas anak selama bermain, misalnya saat anak berteriak lantang dan energik, Anda juga demikian.
    • Bersabarlah dengan pengulangan. Bagi Anda melakukan permainan yang sama setiap hari, mungkin terasa membosankan, tetapi tidak bagi anak Anda. Anak-anak belajar melalui pengulangan. Biarkan anak Anda memainkan permainan yang sama berulang-ulang, hingga mereka siap berganti permainan yang lain.
    • Biarkan anak-anak yang memimpin. Jadilah bagian dari permainan mereka. Dalam permainan imajinatif (pretend play), biarkan anak menirukan suara tembakan, membuat aturan, dan menentukan kecepatan permainan. Ajukan pertanyaan dan ikuti. Tidak seberapa lama, mungkin Anda akan ditarik masuk ke dunia imajinatif yang menyenangkan bagi Anda juga. (ntdindonesia/averiani)

    Lebih banyak artikel Keluarga silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Makna Bermain bagi Anak, Remaja, dan Orang Dewasa (bagian 2) :

    Makna Bermain bagi Anak, Remaja, dan Orang Dewasa (bagian 2) :

    Remaja dan Spontanitas Bermain

    Salah satu hadiah terpenting yang dapat diberikan orang tua kepada anaknya adalah waktu untuk bermain. Karena bagi anak-anak, bermain memiliki sangat banyak manfaat, seperti meningkatkan fungsi eksekutif, mengelola depresi, bersosialisasi, dan lain sebagainya, seperti yang telah dituliskan dalam “Makna Bermain bagi Anak, Remaja, dan Orang Dewasa (bagian 1)”

    Sebenarnya, tidak hanya pada anak-anak, bermain sendiri maupun bermain bersama keluarga juga bermanfaat bagi remaja. Maka, bagi orang tua yang dapat memberikan atau menyediakan waktu bermain bersama anak remajanya, adalah kesempatan yang sangat berharga. Akan tetapi, mencari waktu untuk bermain bersama anak, tidak semudah berbicara. Baik bagi kedua orang tua yang bekerja maupun salah satu menjadi ibu rumah tangga, sama-sama memiliki tantangan tersendiri dalam hal waktu. Menyempatkan sedikit waktu di tengah-tengah tenggat waktu setiap harinya bukan hal yang mudah. Namun demikian, orang tua perlu mengingat bahwa bermain bukanlah pilihan. Itu adalah hal yang sangat diperlukan.

    Menurut Marie Hartwell-Walker, Ed.D, seorang psikolog yang juga konsultan pernikahan dan keluarga, bermain dibutuhkan untuk perkembangan otak yang sehat.75 persen otak manusia akan terus berkembang setelah dia dilahirkan hingga awal usia 20-an. Bermain di masa kanak-kanak akan merangsang otak merangkai koneksi antar sel-sel saraf. Inilah yang membantu seorang anak mengembangkan keterampilan motorik kasar (berjalan, berlari, melompat, koordinasi) dan keterampilan motorik halus (menulis, menggerakkan alat-alat kecil, mengerjakan tugas-tugas yang rumit). Lebih lanjut, artikel Walker yang berjudul “The Benefits of Play” dan dimuat dalam laman Psych Central ini menuliskan bahwa aktivitas bermain yang dilakukan di masa remaja dan saat memasuki masa dewasa akan membantu otak mengembangkan konektivitas lebih banyak lagi, terutama di lobus frontal yang merupakan pusat perencanaan dan pengambilan keputusan yang baik. Oleh karena itu, dengan bermain mereka memiliki kesempatan untuk mengembangkan praktik pengambilan keputusan dan keterampilan memecahkan masalah.

    Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua untuk mendorong anak remajanya bermain, antara lain:

    Spontanitas

    Menurut Marcy, seorang homeschool mommy dalam artikel “Why Play is Important for Teens,” menyampaikan agar memberi kesempatan pada anak remaja untuk melakukan permainan, musik, atau sport secara spontan. Melakukan olahraga terstruktur secara tim seperti basket atau bergabung dalam grup orkestra memang sangat bagus. Namun, bermain sepakbola secara spontanitas bersama teman atau keluarga atau bermain gobak sodor, atau berimprovisasi musik (jam session) bersama teman di basement akan menambah kesempatan pada remaja untuk melatih kerjasama, memecahkan masalah, dan mengekspresikan permainan secara kreatif sambil meminimalkan kompetisi. Tidak setiap anak memiliki jiwa kompetitif. Bermain secara spontan membuat permainan menjadi lebih menyenangkan.

    Jangan Selalu Menyediakan Semuanya

    Bermain secara spontan, tidak memerlukan biaya apapun. Marie Hartwell-Walker dalam artikel yang sama mengingatkan agar orang tua tidak perlu membelikan semua mainan terbaru, atau video game, atau kostum favorit dari film terkini untuk anak remaja mereka. Anak-anak yang tidak memiliki mainan atau kostum siap pakai untuk bermain akan belajar berimprovisasi. Kotak dan bantal sofa diubah menjadi benteng atau mengubah sarung menjadi jubah superhero. Anak-anak akan didorong untuk kreatif dengan menggunakan apa yang tersedia. Maka, alih-alih menyediakan apa yang ada di toko, biarkan mereka menjadi lebih kreatif.

    Bermain Bersama Anak

    Saat semua anggota keluarga sibuk dengan ponsel masing-masing, mereka akan kehilangan ikatan satu sama lain. Menyediakan waktu bermain secara spontan bersama anak-anak akan memberikan kesempatan pada orang tua untuk mengajarkan banyak hal tentang dunia mereka dan memberi masukan perilaku positif dan pemecahan masalah secara tidak langsung, kata Hartwell-Walker. Permainan keluarga seperti permainan papan (board game) membantu anak-anak yang lebih besar belajar bersabar saat menanti giliran tiba, mengikuti aturan, dan belajar menjadi pemenang yang rendah hati dan menerima kekalahan dengan lapang dada. Lebih lanjut, percakapan dan kerjasama yang dilakukan saat melakukan permainan, akan membentuk ikatan yang lebih kuat antar anggota keluarga dan mereka cenderung akan lebih mendukung satu sama lain.

    Oleh karena itu, meski tampaknya berbeda, namun bermain di masa remaja memberikan manfaat yang kurang lebih sama. Jangan merasa resah saat Anda harus mengurangi waktu bermain ponsel. Karena masa itu tidak akan terulang kembali. (ntdindonesia/averiani)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Makna Bermain Bagi Anak, Remaja, dan Orang Dewasa (Bagian 1)

    Makna Bermain Bagi Anak, Remaja, dan Orang Dewasa (Bagian 1)

    Salah satu hal yang paling melelahkan bagi orang tua adalah menemani anak-anak bermain. Bagaimana tidak, baik bermain di dalam rumah maupun di tempat terbuka, energi mereka seolah-olah tidak ada habisnya. Ini tidak mengherankan karena menurut Maria Montessori, seorang pendidik, ilmuwan, dan dokter berkebangsaan Italia, bermain adalah pekerjaan utama mereka. Play is the work of the child. Menurut Montessori bermain adalah kegiatan yang penting dalam produktivitas dan perkembangan seorang anak.

    Namun demikian, dewasa ini anak-anak dituntut sudah siap menerima program pendidikan yang lebih serius begitu memasuki sekolah dasar. Hal ini yang kemudian mendasari institusi pendidikan prasekolah memberikan program yang “lebih serius” pada anak didik mereka. Ada perdebatan, khususnya tentang kurikulum prasekolah, antara penekanan pada konten dan upaya untuk membangun keterampilan dengan memperkenalkan pengajaran “duduk manis” lebih awal dibandingkan dengan mendorong keterlibatan aktif dalam belajar melalui permainan.

    Menoleh kembali ke masa lalu, pelajaran Taman Kanak-Kanak pada 1954 berbasis permainan. Institusi tersebut menawarkan aktivitas nyata seperti menjahit, berkebun, dan memasak ; bernyanyi dan berinteraksi dengan orang lain ; dan membacakan cerita pada anak sebagai interaksi dengan buku, seperti dilansir Intellectual Takeout dalam artikel “Old Kindergarten Requirements Suggest Today’s Classrooms Are Too Much, Too Soon.” Tidak ada pelajaran membaca dan menulis.

    Melangkah lebih mundur, Henri Marrou dalam bukunya “A History of Education in Antiquity,” menyorot pendidikan orang Yunani kuno. Pada masa itu, tahun-tahun awal pertumbuhan anak utamanya adalah waktu untuk bermain. Namun dalam beberapa hal, pendidikan karakter mulai diperkenalkan. Diantaranya, bagaimana bersosialisasi, bersikap sopan santun, disiplin, dan moralitas. Pada usia ini, anak-anak juga mulai dikenalkan budayanya sendiri melalui musik, lagu anak-anak, atau bahkan sastra ?dari dongeng yang diceritakan padanya.

    Jadi mengapa anak perlu banyak bermain?

    Ilmu perkembangan otak memberikan bukti nyata kekuatan dalam permainan. Walaupun bagi orang dewasa bermain sering dianggap sebagai aktivitas yang “hanya bersenang-senang,” namun pada kenyataannya bermain adalah aktivitas vital yang digunakan anak-anak untuk belajar dan berinteraksi dengan dunia mereka, dan mendapatkan keterampilan mental, fisik, dan sosial yang diperlukan untuk berhasil dalam kehidupan di masa dewasa.

    Seperti juga Montessori, Profesor Karen Hutchison dari Rowan University menyampaikan, “Bermain adalah pekerjaan seorang anak di mana mereka mempersiapkan diri untuk peran orang dewasa dan untuk masyarakat pada umumnya.” Dilansir dari laman bostonchildrensmuseum.org dengan artikel berjudul “The Power of Play.” Bagi seorang anak, bermain adalah kendaraan untuk menjelajah dan belajar, mengembangkan keterampilan baru, dan terhubung dengan orang lain. Melalui permainan mandiri, anak-anak dapat mengikuti minat mereka, mengeksplorasi hal-hal yang ingin mereka ketahui, menghubungkan suatu hasil dengan pilihan-pilihan yang ada, menaklukkan ketakutan mereka, dan tentu saja, berteman.

    Secara garis besar Michael Yogman, MD, FAAP dan koleganya, melakukan riset yang dimuat dalam jurnal pediatrics, “The Power of Play: A Pediatric Role in Enhancing Development in Young Children” dan mendapatkan manfaat bermain yang dipetakan sebagai berikut:

    1. Peningkatan dalam fungsi eksekutif, bahasa, keterampilan matematika awal (konsep angka dan spasial), pengembangan sosial, hubungan teman sebaya, pengembangan fisik dan kesehatan, dan peningkatan rasa keagenan.
    2. Mengelola depresi yang mengganggu. Kebahagiaan bersama dan penyelarasan bersama yang dialami orang tua dan anak-anak selama bermain menurunkan regulasi respons stres tubuh. Oleh karena itu, bermain mungkin merupakan penangkal yang efektif bagi anak.
    3. Menumbuhkan kemampuan bernegosiasi. Bermain dengan teman sebaya biasanya melibatkan penyelesaian masalah tentang aturan permainan, yang membutuhkan negosiasi dan kerja sama.
    4. Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan menyelesaikan multi-tugas. Anak-anak yang aktif bermain selama 1 jam per hari lebih mampu berpikir kreatif dan melakukan banyak tugas.
    5. Manfaat kesehatan yang melibatkan aktivitas fisik. Olahraga tidak hanya membantu mencapai berat badan seimbang dan kebugaran kardiovaskular tetapi juga meningkatkan sistem kekebalan tubuh, sistem endokrin, dan sistem kardiovaskular. Bermain mengurangi stres, kelelahan, cedera, dan depresi dan meningkatkan rentang gerak, kelincahan, koordinasi, keseimbangan, dan fleksibilitas. Anak-anak lebih memperhatikan pelajaran di kelas setelah bermain sesukanya selama masa istirahat daripada setelah program pendidikan jasmani, yang lebih terstruktur.
    6. Bermain juga mencerminkan dan mentransmisikan nilai-nilai budaya. Orang tua di Amerika Serikat mendorong anak-anak untuk bermain dengan mainan dan / atau benda-benda sendirian, yang merupakan ciri khas masyarakat yang menekankan pengembangan kemandirian. Sebaliknya, di Jepang, anak-anak didorong untuk bermain dengan teman sebayanya, yang merupakan khas budaya yang menekankan saling ketergantungan.

    Dengan poin-poin inilah mengapa Hutchison menyebutkan jika bermain memiliki tautan penting untuk mengembangkan keterampilan utama yang berfungsi sebagai landasan untuk kesuksesan seumur hidup, termasuk pemikiran kritis, komunikasi, pemecahan masalah, dan kolaborasi. Sering disebut sebagai keterampilan abad ke-21, kemampuan ini melengkapi pengetahuan materi inti dan sangat dihargai di dunia yang semakin kompleks, kompetitif, dan saling berhubungan ini.

    Maka lain kali, jika anak-anak sangat marah begitu mainannya dirapikan tanpa seijin dirinya, Anda sudah harus memahami, karena itu adalah “hasil pekerjaan” mereka. (NTDIndonesia/averiani)

    Lebih banyak artikel keluarga, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Mengajarkan Anak Nilai Keberagaman: Kita Berbeda, Kita Sama

    Mengajarkan Anak Nilai Keberagaman: Kita Berbeda, Kita Sama

    Pernahkan Anda mendapatkan pertanyaan sulit dari anak Anda tentang seseorang di depan Anda, yang membuat Anda merasa canggung di hadapannya? Seperti misalnya, perihal keberagaman?

    Umumnya, reaksi orangtua akan cepat-cepat mengalihkan topik pembicaraan atau mengajaknya menyingkir secepat mungkin. Namun, cara ini umumnya akan membuat anak menjadi lebih penasaran, karena menyiratkan ada sesuatu yang salah dengan orang tersebut atau ada hal yang salah dengan pertanyaan itu.

    Berbeda dengan orang dewasa yang dapat menahan diri (atau setidaknya tidak berbicara keras di dekatnya) saat ada seseorang atau sekelompok orang yang berbeda dengan dirinya, anak cenderung menanyakan atau mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya, saat itu juga.

    Alih-alih menyingkir atau mengalihkan pertanyaan, cobalah menanggapinya secara singkat dan obyektif dengan cara yang mudah dimengerti anak.

    Seperti yang disampaikan Christy Tirrell-Corbin, Ph.D. direktur Early Childhood/Early Childhood Special Education, University of Maryland, dalam artikel How to Teach Children About Cultural Awareness and Diversity, “Sebagai contoh, jika anak Anda berkomentar tentang perbedaan warna kulit seseorang, sampaikan padanya, ‘Warna kulitnya putih karena orangtua kandungnya memiliki kulit putih.’ Jika anak Anda bertanya mengapa orang itu duduk di kursi roda, katakan padanya, ‘Dia memerlukannya karena sakit dan tidak bisa berjalan sendiri, jadi harus dibantu dengan kursi roda untuk berpindah tempat.’”

    Memperkenalkan anak dengan keberagaman akan membantu mereka memahami dan menghormati tentang persamaan maupun perbedaan. Sesungguhnya, seorang anak telah mengenal konsep perbedaan sejak usia dini.

    Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Phyllis A. Katz, seorang profesor di University of Colorado, mendapati bayi usia enam bulan, menatap jauh lebih lama pada foto-foto orang dewasa yang memiliki warna berbeda dari orangtua mereka.

    Maka tidak mengherankan jika suatu saat mungkin anak Anda akan menanyakan suatu hal pada diri seseorang yang menurutnya berbeda. Peran orangtualah yang nantinya membantu anak memahami perbedaan antropologi, sejarah, agama, atau geografi dalam konteks ras, kelompok etnis, budaya, agama, bahasa, dan sejarah.

    Berikut beberapa cara sederhana yang dapat mengenalkan keberagaman pada anak:

    • Permainan

    Anak-anak identik dengan bermain, karena bermain adalah “pekerjaan utama” mereka. Memperkenalkan keberagaman seperti ras, agama, bahasa, tradisi, dan gender melalui permainan menawarkan pengalaman baru dengan cara yang menyenangkan bagi anak-anak.

    Salah satu aktivitas yang dikenalkan Penn State Extension dalam artikel, “We are different, we are the same: Teaching young children about diversity” dalam laman extension.psu.edu adalah “Penyesuaian warna kulit.” Tujuannya membantu anak-anak belajar tentang berbagai warna kulit dan latar belakang etnis.

    Alat yang dibutuhkan:

    Stocking nilon selutut dalam berbagai warna seperti cokelat, hitam, putih, merah muda, kuning, dan merah

    Cara bermain:

    Mintalah anak-anak mencoba stocking di tangan, lengan, atau kaki mereka. Ajukan pertanyaan yang dapat membantu anak menyadari tentang warna kulit, seperti: “Apakah ada stocking yang sama dengan warna kulit kita?” Mintalah anak-anak mencoba warna lain dan tanyakan pada mereka, “Apakah ini lebih terang atau lebih gelap daripada warna kulit kalian?”

    • Buku

    Buku anak-anak adalah sumber yang sangat bagus. Untuk mengenalkan kebhinekaan, Anda dapat mengenalkan cerita rakyat Indonesia. Sedangkan untuk keberagaman di dunia, Anda dapat mencari dongeng-dongeng klasik dari manca negara. Selain anak dapat mengembangkan identitas sendiri, juga dapat membantu pemahaman mereka atas perbedaan ras, suku, budaya, kepercayaan, dan geografi.

    Ajarkan juga pada anak bahwa semua manusia adalah sama dan setara, tidak memandang rupa maupun latar belakangnya, yang terpenting adalah hati dan perilaku seseorang.

    • Budaya

    Meskipun buku dapat membuka mata anak-anak terhadap perbedaan, namun mengenalkannya secara langsung umumnya akan lebih mengena.

    • Kenalkan anak-anak dengan berbagai budaya. Hadiri pentas budaya atau acara yang dirayakan oleh kelompok atau etnis tertentu, seperti perayaan Festival karapan sapi, Sekaten, Erau Kertanegara, Pertunjukan wayang orang, Tahun Baru Imlek, dan lain sebagainya
    • Mendorong anak berteman dengan siapa saja, terlepas dari latar belakang ras, etnis, agama, atau kemampuannya.
    • Untuk anak-anak yang sedikit lebih besar, kenalkan makanan dari berbagai daerah di Indonesia atau makanan khas mancanegara.

    Jangan lupa, sampaikan pada anak Anda bahwa budaya yang berbeda akan memperkaya dan menambah khasanah dunia, jadi jangan takut dengan perbedaan.

    • Role model

    Memperkenalkan keberagaman pada anak melalui berbagai macam cara dan media memang diperlukan untuk menambah pengetahuan dan pengalaman anak, namun yang terpenting adalah Anda sendiri. Anak adalah cerminan dari orangtua. Jika Anda telah menerapkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari, niscaya anak akan melihatnya sebagi contoh nyata dalam kehidupannya. (NTD Indonesia/ averiani)