Pahlawan legendaris Yue Fei (1103-1142) dari Dinasti Song adalah simbol pengorbanan diri dan pengabdian pada negara. Berkali-kali dia mengalahkan penyerang meskipun menemui rintangan besar. Sebagai seorang ahli seni bela diri, dia juga menunjukkan kebaikan kepada para prajuritnya. Dia telah dihormati selama berabad-abad sebagai teladan dalam kesetiaan dan kebajikan.
Dukungan serta penekanan kuat pada pendidikan dari Ayahnya, membantu membentuk Yue Fei menjadi seorang pemimpin besar dan akhirnya menjadi pahlawan. Ayah yang murah hati, yang mengajar anak-anaknya untuk juga menjadi seperti itu. Selama masa kelaparan, dia akan mendorong keluarganya untuk makan lebih sedikit sehingga mereka dapat membagikan sisa makanan kepada orang-orang yang membutuhkan. Jika tanaman dari ladang tetangga menyebar ke ladangnya, dia akan memanennya ketika matang dan mengembalikan hasil panen itu kepada pemiliknya yang sah. Melihat betapa lembut dan baiknya Yue He, orang-orang jahat kadang memanfaatkannya darinya, meminjam uang dan tidak membayar kembali, atau bahkan langsung mencuri darinya. Tapi Yue He akan tetap murah hati dan membiarkannya. Seiring waktu, para penduduk desa menjadi sangat menghormatinya.
Yue Fei, adalah anak yang penurut dan cerdas. Yue He menyewa seorang guru untuk mengajar Yue Fei sejarah, hal klasik kuno, serta kaligrafi — dia ingin Yue Fei menjadi kompeten dalam seni bela diri dan sastra. Dia percaya bahwa menerima pendidikan yang menyeluruh akan memperluas perspektif putranya dan memberikan peluang yang lebih besar untuk masa depannya.
Yue Fei unggul dalam pendidikannya. Dia menguasai sastra Tiongkok dan menjadi penulis yang handal. Untuk pelatihan seni bela diri, Yue Fei dikirim untuk belajar pertempuran tombak di bawah seorang guru bernama Chen Guang. Yue Fei segera menjadi sangat mahir sehingga dia tidak terkalahkan di seluruh negeri. Ayahnya kemudian mengirimnya untuk belajar dengan Zhou Tong, seorang pahlawan militer setempat. Di bawah pengawasan ketatnya, Yue Fei juga menguasai seni memanah — dia mampu menarik busur seberat 200 kg dan menembakkan anak panah dengan akurasi yang sempurna.
Segera setelah itu, Tiongkok diserbu dari Utara dan bahkan Ibukota berada dalam bahaya. Yue Fei bergabung dengan tentara dan kemudian menjadi seorang jenderal yang kuat, yang memimpin sebuah pasukan yang terkenal akan kedisiplinannya, serta memenangkan banyak pertempuran melawan penyerang.
Yue He memainkan peran penting dalam pencapaian Yue Fei. Dia menurunkan kepada Yue Fei semangat kebaikan dan cintanya pada negara serta rakyatnya. Dia juga memberi Yue Fei pendidikan lengkap dan dukungan penuhnya, membesarkannya untuk menjadi seorang yang unggul dalam sastra dan seni bela diri. Yue He membantu membimbing jalan bagi salah satu pahlawan terbesar dalam sejarah, dan telah meninggalkan untuk generasi kita, sebuah contoh yang luar biasa akan peran penting dari seorang Ayah. (id.shenyunperformingarts.org)
Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Sebagian besar masyarakat modern di seluruh dunia menilai manusia melalui pengaruh yang dimilikinya atas lingkungannya. Sukses ditentukan oleh indikator ini, yaitu seberapa mampu anda mengendalikan masyarakat. Ini adalah apa yang sebagian besar pemerintah lakukan kepada warga dan perusahaan kepada karyawan mereka. Adalah bahwa hampir mustahil untuk mengontrol dunia dengan mencoba mengontrol haluan alam.
Kita dapat menjalani hidup secara lebih sempurna dengan mempelajari seni pelepasan. Anda dapat mendominasi dunia melalui pemahaman yang mendalam tentang bagaimana dunia bekerja daripada menerapkan pemaksaan dan mencoba mengendalikan segala sesuatu di sekitar anda. Kitab Tao yang utama, yang ditulis oleh Lao Tzu, memberikan pengetahuan ini, dan ajaran ini relevan bahkan hingga hari ini. Sebagai contoh, kita dapat menjadikannya sebagai pedoman untuk mengatur suatu negara. Ini memperdalam konsep mengatur tanpa aturan.
Dalam skenario di mana sistem dipakai untuk mengendalikan dan mengontrol setiap aspek kehidupan manusia agar sesuai dengan peraturan, dengan berjalannya waktu ditemukan banyak hal telah menjadi buruk. Ketika sistem sudah mulai menyentuh privasi dan mengekang kebebasan manusia, pada saat itu rakyat akan mulai berubah menjadi pembangkang. Sebaliknya, sistem yang menggunakan pendekatan yang lebih persuasif dan santai dengan tetap memperhatikan integritas individu akan berhasil mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.
Melalui “wu wei,” atau “non-action,” Lao Tzu berbicara tentang pentingnya tidak bertindak dalam segala situasi untuk mendapatkan kendali, melainkan mengalir mengikuti situasi tersebut. Jelas sekali, umat manusia telah berkembang sejauh ini dengan menerapkan kekuatan sistem pada lingkungannya. Seharusnya tidak ada salahnya mencoba menerapkan kekuatan kharisma diri sendiri untuk mengubah lingkungan kita menjadi lebih baik. Namun, penting untuk dipahami bahwa segalanya ada batasnya dan jika terjadi di luar batas, sistem akan menghancurkan semua yang coba dilindungi dan lestarikannya.
Pohon adalah contohnya. Anda dapat memilih tempat yang bagus untuk menabur benih, menyiraminya, memberi makan dengan pupuk kandang, dan menyediakan akses ke sinar matahari, tetapi di luar itu, anda tidak memiliki kendali atas cara pohon itu bertumbuh.
Merangkul Perubahan
Tao memberitahu kita tentang cara menjalani hidup, yaitu berjalan melalui pergerakan antara dua konsep yang berlawanan, seperti terang dan gelap, tinggi dan rendah, yin dan yang. Perubahan tidak bisa dihindari. Anda hanya bisa sukses dengan belajar beradaptasi dengannya. Hidup adalah tentang menjadi lembut dan menyesuaikan sementara kematian adalah tentang menjadi kaku dan kering.
Anda harus belajar mengikuti arus dari aliran kehidupan yang alami dengan sesekali berpegangan pada batu atau cabang untuk mengontrol posisi anda, untuk melakukan introspeksi diri mencari ke dalam. Banyak sekali orang yang menyia-nyiakan waktunya untuk terus berjuang melawan arus kehidupan. Dari pada terus menerus mencoba mengatasi kelemahan anda untuk mempertahankan posisi anda dengan kaku, lebih baik memakai kelebihan anda mengikuti arus kehidupan yang terus berubah untuk melakukan penyesuaian posisi.
Aspek lain dari perubahan yang perlu dipahami adalah bahwa konsep yang baik adalah relatif. Satu konsep yang baik dalam satu situasi belum tentu baik dalam situasi yang berbeda. Penting untuk belajar meninggalkan apa yang tidak berguna dan beralih ke yang berguna.
Kunci Kebahagiaan
Kita akan menjadi paling bahagia saat kita melakukan yang terbaik tanpa memikirkan imbalan atau hasil yang mungkin diperoleh. Penting untuk memahami keseimbangan antara berada di atas dan di bawah. Kehidupan yang tidak berlebihan adalah kunci kebahagiaan dan pelepasan adalah jalan menuju tujuan itu. (visiontimes/ron/ch)
Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Di Tiongkok kuno, ada seorang juru masak istana yang pulang ke kampung halamannya dengan sejumlah besar uang setelah pensiun. Kampung halamannya berada di daerah kecil, jadi dia membuka restoran. Bisnisnya sangat bagus di sana.
Tiba-tiba sebuah wabah menyebar ke seluruh negeri. Karena daerah ini berdekatan dengan ibu kota, pihak kerajaan mengirimkan tim khusus untuk membantu mengatasi wabah tersebut. Namun mereka menemukan bahwa tidak ada perawatan yang berhasil. Mereka dengan hati-hati mempelajari wabah untuk mencari tahu tumbuhan apa yang dapat digunakan untuk mengobatinya, tetapi semua upaya gagal. Wabah bertambah parah, dan banyak orang meninggal setiap hari. Orang-orang ketakutan dan panik. Bahkan orang kaya pun tak berdaya, walaupun memiliki uang tetapi tidak dapat menemukan obatnya. Para pejabat di istana kerajaan melupakan ambisi mereka atas kekayaan dan kekuasaan dan semakin khawatir apakah mereka akan bertahan.
Melihat wabah kian mengganas, sang juru masak menutup restorannya, memutuskan semua hubungan dengan dunia luar, dan tinggal di rumah mewahnya setiap hari. Dindingnya tertutup rapat sehingga lalat pun tak bisa masuk. Namun, wabah akhirnya menghampirinya. Dia mulai merasa lemah dan pusing. Dia terus muntah dan kotorannya berlumuran darah. Merasa dirinya mendekati hari-hari kematian, dia naik ke atas rumahnya dan melihat ke jalan-jalan terpencil di kota yang dulu ramai itu. Beberapa tunawisma yang berjalan melewatinya ambruk di tanah, bergabung dengan mayat yang mengotori kota. Merasa tiba-tiba sedih dengan pemandangan itu, belas kasih si juru masak timbul dan air matanya berlinang.
“Aduh, ketenaran bukan segalanya. Saya adalah seorang juru masak kerajaan yang terkenal, tapi tetap saja saya tak kuasa melawan wabah ini. Siapa yang dapat melindungi diri dari bencana seperti ini? ” Si juru masak berpikir, “Karena saya akan mati, mengapa harus menyimpan harta? Lebih baik saya berikan uang dan gandum kepada kaum miskin dan membiarkan mereka memiliki pakaian yang layak. Tak ada yang tahu berapa lama wabah ini akan berlangsung. Jika orang-orang meninggal karena wabah, lebih baik membiarkan mereka kenyang saat mereka pergi menemui leluhur mereka di akhirat. “
Satu pikiran tulus ini memiliki efek yang sangat kuat. Ketakutan si juru masak akan wabah tiba-tiba lenyap saat pikirannya dipenuhi dengan pikiran lurus. Dia segera merasa lebih kuat dan membuat pilihan untuk membuka pintu restorannya. Dia menyuruh pelayannya memasak bubur dan sup untuk orang miskin dan membagikan pakaian kepada yang membutuhkan. Pelayan lainnya ditugaskan untuk mengubur mayat yang berserakan di jalanan.
Banyak keluarga kaya yang melihatnya mengikuti perbuatan baik sang juru masak, secara bertahap rasa takut akan wabah itu berkurang. Jalanan yang sepi menjadi hidup kembali, dan sang juru masak merasakan kesehatannya membaik sebulan kemudian. Dia kemudian bermimpi bahwa seorang Tao yang menaiki burung bangau terbang ke arahnya dan berkata, “Kebajikan yang besar adalah obat mujarab yang hebat. Saat Anda membantu orang lain yang tertimpa wabah, Langit menurunkan ramuan surgawi untuk memerangi penyakit” Ketika juru masak mengulurkan tangannya dalam mimpi, dia tiba-tiba terbangun dengan sekotak herbal di tangannya. Dia berdoa sambil berulang kali mengucapkan terima kasih.
Keesokan harinya, dia meminta orang-orang menyiapkan beberapa kuali besar berisi air dan dia memasukkan obat herbal itu di masing-masing kuali. Kemudian dia meminta orang untuk meminum ramuan tersebut. Seketika, kesehatan mereka pulih. Sang juru masak secara pribadi mengirim beberapa ramuan surgawi ke istana kerajaan di ibu kota, sehingga menghentikan wabah serius sebelum menyebar lebih jauh. Karena kebaikan sang juru masak, wabah benar-benar lenyap. Kaisar mendengar tentang asal mula ramuan surgawi dan membersihkan dirinya sendiri sebelum bermeditasi sebagai pertobatan. Kemudian, dia menulis kata-kata berikut: “Kebajikan adalah obat terbaik.” Kata-kata ini sudah eksis dalam sejarah Tiongkok hingga saat ini. (eva/shenyunshop)
Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Qin Shi Huang adalah kaisar pertama di Tiongkok dan prestasinya luar biasa. Dia mengakhiri perang antar kerajaan dan mencapai penyatuan besar pertama dalam sejarah Tiongkok. Dia menyatukan pengukuran dan tulisan, membangun Tembok Besar untuk melawan invasi asing, dan dengan demikian mendapatkan gelarnya sebagai kaisar agung.
Qin Shi Huang memang seorang tokoh yang membuat pencapaian luar biasa saat dia masih hidup. Setelah kematiannya, dia meninggalkan kekayaan warisan yang berharga untuk generasi berikutnya. Musoleum (makam) Qin Shi Huang adalah yang terbesar di Tiongkok kuno. Menurut catatan sejarah, musoleum Qin Shi Huang dibangun oleh 720.000 pekerja konstruksi selama 37 tahun. Sejumlah besar batu yang digunakan untuk membangun musoleum diangkut dari Zhongshan dan Junershan, di tepi utara Sungai Wei, ke Linyi. Proyek itu sangat sulit. Oleh karena itu, musoleum Qin Shi Huang dikenal sebagai “salah satu dari delapan keajaiban dunia”.
Saat penggalian musoleum Qin Shi Huang terjadi, selain ditemukannya lubang berisi Prajurit Terakota di dekatnya, para arkeolog juga menemukan pelita abadi. Saat kuburan dibuka, mereka sungguh terkejut dan takut, karena pelita masih menyala, menerangi isi makam yang gelap. Itu memang menakjubkan, seolah-olah telah dinyalakan ribuan tahun yang lalu. Karena inilah banyak arkeolog yang sangat penasaran: Bisakah pelita di musoleum Qin Shi Huang benar-benar menyala selama ribuan tahun?
Masyarakat pada masa Dinasti Qin menggunakan lampu minyak. Begitu minyak habis, lampu tidak akan menyala. Musoleum Qin Shi Huang dibangun ribuan tahun yang lalu, dan menurut sains modern, tidak mungkin pelita abadi ini selalu menyala. Para arkeolog telah menemukan catatan kuno perihal pelita abadi dalam beberapa buku kuno, yang menurut mereka menggunakan bahan bakar yang terbuat dari lemak ikan paus, dan dapat menyala dalam waktu lama.
Menurut kalkulasi ilmiah, jika menggunakan satu meter kubik minyak ikan paus, sebuah lampu minyak biasa bisa menyala selama hampir 5.000 hari, yaitu menyala sekitar 14 tahun. Meskipun waktu pembakaran relatif lama, tidak mungkin terbakar selama ribuan tahun, dan tidak ada kondisi yang mendukung untuk pembakaran terus menerus dalam ruang tertutup tanpa oksigen, seperti didalam makam tertutup itu.
Misteri ini akhirnya dipecahkan oleh seorang sarjana Amerika. Sarjana Amerika percaya bahwa sebenarnya lampu-lampu ini tidak menyala selama ribuan tahun tanpa adanya oksigen di dalam makam, dan karena itu pasti sudah padam. Saat para pekerja pembuat makam zaman dulu sudah selesai membangun makam, mereka menutup makamnya seingga pelita mati karena ketiadaan oksigen.
Kemudian, ketika para arkeolog membuka musoleum dan oksigen masuk ke dalam ruangan, sumbu lampu yang mengandung fosfor putih bereaksi dengan oksigen dan menyalakan kembali lampu, karena masih ada banyak sisa minyak pada lampu. Begitu pernyataan ini dikemukakan, ilmuwan Tiongkok dan asing dengan suara bulat sepakat, sehingga misteri berabad-abad telah terpecahkan. (visiontimes/bud/ch)
Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Standar untuk Menjadi Siswa dan Anak yang Baik (Di Zi Gui) adalah buku teks tradisional Tiongkok yang mengajarkan moral dan etika pada anak-anak. Buku ini ditulis oleh Li Yuxiu saat masa pemerintahan Dinasti Qing, pada masa pemerintahan Kaisar Kang Xi (1661-1722). Dalam seri ini, kami akan menyajikan beberapa cerita kuno Tiongkok yang diajarkan dalam buku Di Zi Gui untuk menjadi contoh pelajaran berharga.
Memperlakukan Orang yang Lebih Tua dengan Hormat
Di Zi Gui menjelaskan dengan sangat rinci bagaimana menunjukkan rasa hormat kepada orang yang lebih tua. Saat makan dan minum, maupun ketika berjalan dan duduk, kita harus mempersilahkan orang yang lebih tua untuk berjalan atau duduk terlebih dulu. Bila sesepuh memanggil seseorang dan tak kunjung datang, kita harus membantu mencarikan orang tersebut untuknya. Kita seharusnya tidak duduk disaat orang tua kita berdiri. Saat berbicara dengan sesepuh yang dihormati, kita harus berbicara dengan suara rendah, tapi juga tidak pantas jika terlalu rendah untuk di dengar. Kita harus melayani sesepuh seperti melayani ayah kita sendiri.
Kesopanan Adipati Xinling
Adipati Xinling (信陵君) adalah seorang pangeran dari Kerajaan Wei selama Periode Negara Berperang. Pangeran ini sangat baik hati, murah hati dan sopan kepada orang tua dan ilmuwan. Dia tidak pernah lalai dalam berlaku hormat dan sopan terhadap mereka, terlepas dari kekayaan dan kedudukannya.
Akibatnya, banyak ilmuwan yang datang dari ribuan mil di sekitarnya menjadi rekanannya dan berjanji setia kepadanya. Selama waktu itu, tidak ada kerajaan lain yang berani menyerang Wei karena kumpulan cendikia berbakat yang dimiliki oleh Adipati Xinling.
Ada seorang pria berusia tujuh puluh tahun yang sangat berbakat bernama Hou Ying (侯嬴). Ketika Adipati Xinling mendengar tentang Hou, dia mengirim bawahannya untuk menemui Hou dengan membawa hadiah mewah. Tapi Hou menolak pemberian itu dengan sopan, dengan mengatakan, “Saya selama ini menjunjung tinggi integritas. Saya tidak bisa menerima hadiah semacam itu hanya karena status saya yang miskin.”
Setelah mendengar ini, Adipati Xinling mengadakan perjamuan besar di kediamannya, dan mengundang banyak tamu penting. Ketika semua tamu duduk, Adipati Xinling berangkat dengan kereta kuda (kursi kirinya kosong yang diperuntukkan bagi Hou Ying) dan rombongannya menuju ke Gerbang Timur, untuk mengundang Hou secara pribadi.
Hou merapikan mantelnya yang tua dan lusuh, lantas masuk ke dalam kereta tanpa bersuara. Dia duduk tepat di samping Adipati Xinling dan tidak menunjukkan tanda berbasa-basi ataupun merendahkan, dan mengamati respons Adipati Xinling. Tapi Adipati Xinling bahkan lebih menghormati Hou.
Hou Ying kemudian bertanya kepada Adipati Xinling apakah dia bisa mengajaknya mengunjungi temannya di rumah jagal hewan. Adipati Xinling setuju dengan senang hati dan mengantarkan secepatnya.
Hou Ying turun dari kereta dan menyapa temannya, Zhu Hai. Dia sengaja meluangkan waktunya untuk berbincang bersama Zhu Hai sambil mengamati reaksi pangeran. Tapi ekspresi Adipati Xinling ramah dan ikut menyapa Zhu Hai.
Saat itu, rombongan sang pangeran nampak sangat marah. Karena semua jenderal, menteri, dan pejabat tinggi telah menunggunya di aula perjamuan untuk pembukaan pesta tersebut. Terlebih lagi, orang-orang di jalanan telah melihat Adipati Xinling secara pribadi mengemudikan kereta untuk Hou Ying. Saat Hou melihat sikap Adipati Xinling tidak berubah sedikit pun, akhirnya dia pamit kepada temannya.
Ketika mereka tiba di acara perjamuan tersebut, Adipati Xinling membawa Hou Ying ke tempat duduknya di meja utama, lalu memperkenalkan dan memujinya di depan para tamu. Para tamu sangat terkejut dengan tindakan Adipati Xinling. Ketika semua orang sedang minum dan bergembira, sang pangeran berdiri dan bersulang atas ulang tahun Hou.
Hou kemudian mengambil kesempatan tersebut untuk mengatakan: “Hari ini saya terlalu keras kepada Yang Mulia. Saya hanyalah seorang penjaga gerbang, namun Yang Mulia secara pribadi mengendarai kereta untuk menjemput saya, dan menyambut saya di depan begitu banyak pejabat. Seharusnya saya tidak mengunjungi teman saya, namun dengan ramah dia menyetujui permintaan saya.”
“Akibatnya, saya ingin meningkatkan reputasi Yang Mulia, jadi karena itulah saya sengaja membuatnya terus menunggu lama. Kunjungan tersebut merupakan alasan untuk mengamati bagaimana sikap beliau, tapi beliau bahkan lebih rendah hati dan hormat. Semua orang di jalanan menganggap saya sebagai orang yang sangat tidak sopan, sekaligus mengakui Pangeran sebagai orang mulia yang hormat terhadap rakyat!”
Setelah itu, Hou Ying menjadi bawahan penting Adipati Xinling. Hou Ying juga memperkenalkan Adipati Xinling kepada Zhu Hai, seorang bijak dengan kemampuan hebat. Dengan bantuan kedua orang bijak ini, Adipati Xinling diabadikan dalam sejarah Tiongkok karena berhasil mengalahkan Tentara Qin dan untuk sementara mampu menyelamatkan Kerajaan Wei dan Kerajaan Zhao yang berdekatan.
Menganggap Semua Orang sebagai Keluarga
Di Zi Gui mengajarkan kita agar memperlakukan semua orang seperti keluarga sendiri. Kita harus melayani para sesepuh seolah-olah kita melayani orang tua kita sendiri, dan kita harus memperlaku- kan rekan-rekan kita seperti layaknya saudara sendiri.
Du Huan adalah pejabat era Dinasti Ming. Ia punya teman baik, Chang Yun Gong, seorang pejabat militer bawahan. Suatu hari Chang tewas karena kecelakaan, dan ekonomi keluarganya segera menjadi sangat sulit. Ibu Chang yang masih hidup, telah berusia 60 tahun, dia ditinggalkan tanpa uang dan kehilangan tempat tinggal karena Chang sudah tidak ada untuk membayar sewa. Du Huan merawat wanita tua itu dengan kesalehan besar, memperlakukannya seperti ibu sendiri. Ketika dia meninggal dunia, Du Huan membeli sebuah peti mati dan mengadakan upacara pemakaman untuknya.
Mo NiangMembantu Para Nelayan
Ada seorang wanita bernama Lin Mo, yang tinggal di Provinsi Fujian selama Dinasti Song Utara. Ayah dan saudara Mo Niang adalah nelayan. Suatu hari, kapal mereka hancur dalam badai yang mengerikan. Dengan usaha Mo Niang penduduk desa lain, ayahnya diselamatkan, namun kakaknya hilang di laut.
Untuk mencegah tragedi ini terjadi pada orang lain, Mo Niang sering kali mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan kapal-kapal yang dalam keadaan tertekan.
Suatu kali, warga desanya bersiap-siap untuk pergi ke laut. Karena Mo Niang bisa membaca tanda-tanda perubahan cuaca yang akan datang, dia bisa tahu bahwa akan ada badai besar, dan dia memohon agar para nelayan tidak pergi.
Tanpa mengindahkan peringatan Mo Niang, penduduk desa terus pergi ke laut, karena mereka harus memberi nafkah keluarganya. Meski begitu, Mo Niang meminta warga yang melaut untuk mengarahkan kapalnya ke arah cahaya, jika mereka bertemu dengan badai nanti.
Sesuai dengan ramalannya, badai besar yang mengamuk melonjak. Pada saat itu, Mo Niang dengan berani membakar rumahnya sendiri. Api besar yang ditimbulkannya dapat menerangi laut yang gelap, dan membimbing warga desa untuk mendarat dengan selamat. Karena rasa cinta dan welas asihnya yang luar biasa, penduduk desa terhindar dari bencana tenggelam.
LSebagai peringatan terhadap Mo Niang, orang-orang Tiongkok membangun kuil yang menghormatinya di sepanjang garis pantai, dan menyebutnya sebagai Ma Zu, sang Dewi Laut. (epochtimes)
Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Ketika Li Jue berusia 17 tahun, ayahnya menyerahkan kunci bisnis keluarga dan pindah. Dalam satu malam, Li menjadi pemilik dari usaha perdagangan gandum.
Sementara banyak pengusaha akan melakukan apa saja untuk menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya, Li memilih untuk tidak melakukannya; sebaliknya, ia adalah orang yang sangat berorientasi pada pelanggan.
Fluktuasi harga gabah tidak masalah baginya – juga tidak meraup keuntungan besar. Li hanya mendapatkan beberapa sen dari setiap 10 liter beras dan ia menggunakan sebagian uang itu untuk mendukung orang tuanya.
Anehnya, entah bagaimana ia masih punya cukup uang tersisa untuk keluarganya, menjalani kehidupan yang berkecukupan. Mereka tidak pernah ingin apa pun diluar kebutuhan sehari-hari untuk makan dan pendidikan.
Suatu hari, ayahnya bertanya kepadanya bagaimana perkembangan bisnis.
“Kebanyakan orang di bisnis gandum ini menipu dengan timbangan mereka,” kata ayahnya.
“Ketika mereka membeli gandum, mereka sengaja menggunakan timbangan yang lebih besar sehingga mereka bisa mendapatkan lebih banyak gandum untuk harga yang dibayar. Ketika mereka menjual gandum, mereka menggunakan timbangan yang lebih kecil sehingga pelanggan mereka mendapatkan kurang dari harga yang dibayar.”
Ia melanjutkan, “Meskipun pejabat pemerintah memeriksa dan mengkalibrasi timbangan dua kali setahun, mereka benar-benar tidak dapat berbuat banyak untuk menghentikan praktik ini.”
“Namun, meskipun kamu tak seperti mereka, kamu masih tidak jatuh miskin. Para dewa pasti sudah berikan berkat atas kebaikan hatimu.”
Li terus melakukan bisnis sampai umur delapan puluhan. Ketika ia berumur lebih dari 100 tahun, ia masih sehat dan tidak sakit-sakitan.
Suatu hari, dia mengumpulkan semua anak-anaknya di sekelilingnya.
“Saya telah hidup untuk waktu yang sangat lama, kini saatnya saya pergi,” katanya.
Li meninggal setelah itu. Tiga hari kemudian, orang mendengar suara retak dari peti jenazahnya. Mereka membuka untuk melihat dan menemukan tubuhnya entah bagaimana menghilang, hanya meninggalkan pakaiannya di dalam.
Li telah meninggal dan menjadi dewa.
Yesus mengatakan bahwa sulit bagi orang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Orang Tiongkok kuno juga percaya bahwa sulit bagi pengusaha untuk memperoleh Tao. Namun, cerita Li mengatakan kepada kita bahwa itu bukan hal mustahil, asalkan seseorang memiliki hati yang lurus dan perilaku berbudi luhur. (id.minghui.org)
Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Han Qi adalah Adipati Weiguo dan perdana menteri selama Dinasti Song. Suatu hari, ketika dia memimpin pasukan di Ding Wu, dan ketika dia sedang menulis surat, dia meminta salah satu pengawalnya untuk memegang lilin di sebelahnya.
Pengawal itu tidak berhati-hati dengan lilin dan rambut Han Qi terbakar. Han Qi dengan cepat memadamkan api dengan lengan bajunya dan terus menulis seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Setelah beberapa saat, dia menyadari bahwa pengawal yang tadinya bertugas telah diganti. Han Qi khawatir pengawal itu akan dihukum. Jadi dia buru-buru memanggil kepala pengawal, “Jangan gantikan dia. Bawa dia kembali. Dengan kejadian sebelumnya, kini ia sudah belajar bagaimana memegang lilin dengan benar. ” Semua orang di tentara sangat mengagumi Han Qi.
Ketika Han Qi sedang tinggal Istana Da Ming, seseorang memberinya dua cangkir giok yang berharga dan mengatakan kepadanya, “Seorang petani menemukannya, sepasang batu Giok yang tak memiliki cacat sama sekali. Mereka benar-benar harta karun yang tak tertandingi.” Han Qi memberi hadiah beberapa koin emas untuk berterima kasih padanya. Han Qi sangat menyukai cangkir giok itu. Setiap kali dia mengundang tamu ke perjamuan, dua cangkir giok ini selalu digunakan untuk minum teh.
Suatu hari, seorang pejabat yang menangani transportasi air diundang untuk menghadiri jamuan makannya. Kedua cangkir itu dibawa keluar. Tapi seorang pelayan tidak sengaja menjatuhkan cangkir giok itu. Kedua cangkir giok itupun pecah.
Semua tamu tercengang dan penjaga berlutut menunggu untuk dihukum berat. Han Qi tetap tenang dan tersenyum kepada para tamu dan berkata “Semuanya sudah ditakdirkan.” Dia kemudian berkata kepada penjaga: “Kamu terpeleset dan tidak melakukannya dengan sengaja, sekarang tolong bersihkan saja” Semua tamu memuji Han Qi dan sangat mengagumi toleransinya yang besar.
Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Pada masa Kaisar Zhenzong (968-1022 M) dari Dinasti Song, dua dari kerabat Kaisar tidak setuju dengan jumlah masing-masing warisan yang telah diberikan, berdebat tentang hal itu, dan telah melaporkan tentang satu sama lain di pengadilan. Hakim telah meninjau kasus ini lebih dari sepuluh kali dan tidak bisa menyelesaikannya. Kemudian Kaisar memerintahkan perdana menteri Zhang Qixian untuk menanganinya.
Zhang Qixian memanggil kedua orang itu dan bertanya kepada salah satunya terlebih dahulu, “Apakah kamu berpendapat keluarga dia memiliki lebih dari keluargamu?”
Dia juga bertanya pada orang yang satunya lagi dan menanyakan pertanyaan yang sama.
Mereka semua menjawab, “Ya”.
Zhang Qixian meminta kedua orang itu menulis dan menandatangani surat banding, mengirim dua pejabat dan petugas pengawas sita ke masing masing keluarga, dan memindahkan mereka dari rumah yang satu ke rumah yang lain tanpa memindahkan aset atau barang apa pun. Lalu dia meminta mereka saling bertukar akta dan dokumen lain, yang menyebabkan mereka tak bisa berkata apa-apa.
Orang-orang suci telah berkata, “Meskipun perdamaian menguasai negeri, orang-orang bodoh membuat masalah untuk diri mereka sendiri”. Jika setiap orang bisa melenyapkan rasa iri, dunia akan datang jauh lebih tenang (pureinsight/bud/ch)
Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Di zaman kuno, kemampuan untuk mengenali dan memperbaiki kesalahan seseorang dianggap sebagai kebajikan yang esensial. Mereka yang memiliki keberanian untuk menghadapi kekurangan dan tekad untuk memperbaiki diri sangat dikagumi. Seperti kata pepatah, “Siapa yang tidak membuat kesalahan? Mereka yang mampu mengakui kesalahan dan membalikkan keadaan patut diberi pujian.”
Berikut adalah kisah Wang Zhongcheng dari periode Dinasti Qing, yang menyesali kesalahannya, menjadi bijak dan kehidupannya berubah. Wang Zhongcheng tinggal di Kota Yangzhou di era Dinasti Qing (1644-1912) di Tiongkok kuno. Ayahnya meninggal ketika usianya masih muda, dan keluarganya sangat miskin. Dengan keterampilan menulisnya, Wang membantu sang ibu dengan menulis laporan bagi orang lain yang ingin melakukan proses hukum di pengadilan. Ketika usianya 20 tahun, dia mencoba mengikuti ujian kekaisaran , tetapi usahanya beberapa kali mengalami kegagalan.
Mimpi yang menyedihkan
Di suatu malam Tahun Baru Imlek, Wang bermimpi di mana dia dibawa ke kantor yang tampak megah. Seorang kaisar yang mengesankan duduk di tengah. Sepasang asisten memegang daftar panjang nama untuk ditandai oleh kaisar. Asistennya menyuruh Wang mendekat.
Kaisar mengatakan kepada Wang bahwa dia seharusnya lulus salah satu ujian tinggi. Namun, pengaturan ini dibatalkan karena dia telah bekerjasama dengan salah seorang kliennya untuk menulis gugatan palsu dan membuat hidup orang yang dituntut menjadi sengsara. Kaisar bertanya kepadanya, “Apakah kamu sadar yang kamu lakukan itu tidak baik?” Wang sangat malu dan merasa bersalah saat teringat kejadian itu, terus bersujud dan memohon agar diampuni.
Kaisar berkata, “Aku akan memberimu kesempatan lagi, karena kamu telah menunjukkan rasa bakti kepada ibumu. Jika kamu segera memperbaiki kesalahan yang kamu perbuat, saya akan mengembalikan berkah kepadamu. Namun jika tidak, kamu akan membayar dengan hidupmu.”
Segera Wang terbangun dari mimpinya. Mimpi itu begitu jelas sehingga Wang terus memikirkannya, dan lalu ia menceritakan kepada istrinya. Dia bertekad untuk menebus kesalahannya, dia tidak punya uang untuk membantu orang miskin, tetapi dia berpikir untuk menggunakan kemampuan menulisnya untuk melakukan perbuatan baik. Wang mencoba menengahi pihak-pihak yang berkonflik dan menolak untuk menulis pembelaan apapun bagi mereka yang memang bersalah, jadi sekarang ia akan benar-benar mempelajari kasusnya, bukan bekerja semata-mata demi uang. Dia akan menulis laporan persuasif untuk membantu mereka yang memiliki alasan bagus tetapi tidak dapat membela diri dengan baik.
Membantu Yang Kurang Beruntung
Salah satu tetangga Wang, seorang janda, sedang mengandung. Kakak ipar di keluarga besar mendiang suaminya memfitnah sang janda, dengan mengatakan bahwa bayi dalam kandungannya bukanlah bayi suaminya. Si janda kemudian dikembalikan ke orang tuanya dan tidak diizinkan untuk mewarisi harta mendiang suaminya. Merasa dirugikan, si janda sangat sedih dan ingin bunuh diri. Orangtuanya terlalu takut untuk mengajukan gugatan atas namanya.
Wang Zhongcheng mengunjungi orang tuanya, mendorong mereka untuk mencari keadilan. Dia juga mengumpulkan saudara dan kerabat si janda untuk memberi tahu mereka bahwa dia berencana untuk menyerahkan kasus ini kepada hakim daerah, dan memerlukan mereka sebagai saksi. Beberapa dari mereka tidak nyaman terlibat karena menganggap itu bukan urusan mereka.
Wang berkata, “Ini adalah hal yang benar dan tulus untuk dilakukan demi melindungi seorang wanita yang suci dan bayinya. Saya bertanggung jawab untuk membantu, karena saya ahli di bidang ini. Saya mengajukan gugatan ini tanpa unsur kepentingan.” Yang lain tersentuh oleh niatnya yang tulus dan setuju untuk membantu si janda.
Hakim daerah menerima kasus tersebut dan memulai penyelidikan. Kakak iparnya akhirnya mengaku telah membuat tuduhan palsu kepada sang janda karena tidak ingin berbagi warisan. Reputasi si janda dipulihkan, dan ia dapat menerima warisan dari keluarga besar suaminya untuk membesarkan anaknya. Ia menawarkan hadiah uang kepada Wang untuk berterima kasih, tetapi Wang menolak menerimanya.
Keberuntungan yang Berlimpah
Tak lama kemudian Wang mengalami mimpi lagi. Kaisar yang sama mengatakan kepadanya dengan ramah, “Saya menyadari upayamu untuk segera memperbaiki perilaku yang salah. Berkahmu telah dikembalikan. Rencana awal saya adalah Anda lulus ujian tahun depan. Tapi Surga begitu tergerak oleh belas kasih Anda sehingga berkah akan datang tahun ini. Pertahankan perbuatan belas kasihmu. Berkah masa depanmu akan berlimpah.” Wang berterima kasih padanya. Saat asisten kaisar mengantar Wang keluar dari kantor, seorang pria tua dan seorang pria muda menyambutnya. Mereka adalah ayah mertua dan suami dari si janda. Mereka berterima kasih kepada Wang karena telah menyelamatkan istri dan anaknya. Sang pria tua tahu bahwa Wang tidak memiliki anak. Dia menunjuk putranya dan berkata, “Saya berencana untuk meminta pejabat yang bertugas atas kematian untuk mengutus putra saya bereinkarnasi sebagai putra Anda.”
Seperti yang telah diramalkan dalam mimpi, Wang lulus ujian dan menjadi pejabat pemerintah. Istrinya melahirkan seorang putra di tahun yang sama. Putranya tumbuh besar dan menjadi pejabat yang lulus ujian pemerintah dan dianugerahi hadiah pertama. Kemampuan menulis seseorang, serta keterampilan lainnya, dapat digunakan untuk menyelamatkan orang. Apa pun profesi kita, kita dapat menggunakan keterampilan kita untuk membela apa yang benar dan membantu orang yang membutuhkan. (eva/epochtimes)
Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Saya ada satu cerita. Setelah Lu Dongbin menjadi dewa, ia ingin mewariskan kekuatan gaibnya kepada seorang murid yang bermoral baik. Ia memikirkan sebuah rencana dan merubah dirinya menjadi seorang tua yang menjual bakpau. Ia memasang satu tulisan di kiosnya: “Satu koin, satu bakpau; dua koin, makan sepuasnya.”
Banyak orang datang membeli dagangannya hari itu, tetapi tidak ada yang membayar satu koin untuk satu bakpau. Hari semakin larut. Seorang anak muda datang dan membayar satu koin, memakan satu bakpau, dan meninggalkan tempat. Lu Dongbin sangat senang, mengejarnya dan bertanya pada anak muda itu, “Mengapa kamu tidak membayar dua koin dan bisa makan sepuasnya?” Anak muda itu menjawab dengan menyesal, “Saya hanya mempunyai sisa satu koin saja.”
Lu Dongbin mendesah dan terbang ke langit. Setelah itu ia tidak pernah menerima seorang murid pun sepanjang hidupnya. Bahkan seorang dewa pun sulit menemukan seseorang yang tidak serakah dan memikirkan orang lain sebelum melakukan sesuatu.
Di dalam kehidupan kita sehari-hari, semua orang sibuk memikirkan untuk bertahan hidup dan berusaha untuk hidup lebih baik. Orang-orang terpusat pada kepentingan dan nafsu keinginan diri sendiri, yang kemudian berubah menjadi semakin besar, kadang tak sadar bahwa tindakan atau ucapannya bisa merugikan orang lain.
Seorang yang berkultivasi moral mempunyai standar yang lebih tinggi. Kita harus berusaha meningkat sampai level di atas orang biasa dan mempertahankan kemurnian seperti bunga lotus yang mekar di atas kolam berlumpur. Kultivasi berarti melepaskan segala jenis keinginan dan keterikatan. Kita harus terus berasimilasi pada sifat sifat luhur Sejati, Baik, Sabar sampai kita mencapai pemahaman yang benar dari arti tidak mementingkan diri sendiri dan mengutamakan orang lain. (id. minghui.org)
Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.