Tag: kembang

  • Nasihat untuk Milenial untuk Unggul Menghadapi Tantangan Pekerjaan

    Nasihat untuk Milenial untuk Unggul Menghadapi Tantangan Pekerjaan

    Pada tahun 2014, Looi Qin En bersama 2 rekannya membangun Glints, portal pekerjaan berbasis di Singapura yang menargetkan milenial. Glints bertujuan untuk membantu milenial menemukan pekerjaan, magang, kursus, dan peluang lainnya, serta melakukan apa yang mereka sukai. Bagi para bos milenial ini, mereka punya tujuan dan arah yang jelas tentang apa yang ingin mereka capai.

    Glints telah mengumpulkan US$ 2 juta dalam pendanaan Seri A yang dipimpin oleh Gobi Partners dan Golden Equator Capital, Fresco Capital, Wavemaker Partners, Singapore Infocomm Investments, Pix Vine Capital, East Ventures dan Darius Cheung dari 99.co.

    Namun tidak seperti para pendiri Glints, tidak setiap anak muda optimis tentang tujuan karirnya di dunia kerja di masa depan, dengan hanya menyandarkan pada apa yang dipelajari di sekolah. Menurut survei menarik yang diprakarsai oleh Glints, mereka menemukan bahwa:

    90% dari kaum muda yang disurvei mengatakan bahwa kebutuhan tenaga di masa depan saat mereka akan lulus akan sangat berbeda dari tenaga kerja saat ini. Dan lebih dari separuh responden (56%) percaya bahwa apa yang mereka pelajari di sekolah tidak memadai untuk masa depan.

    Sehingga, 82% kaum muda bahkan rela mengorbankan waktu senggang pribadi dan waktu sosial untuk berpartisipasi dalam peluang ini.

    Berdasarkan temuan di atas, bagaimana generasi milenial dapat berkembang dalam kebutuhan kerja yang sangat berbeda di masa depan?

    Dilansir dari Epoch Times yang mewawancarai Qin En secara eksklusif, Qin En memaparkan hal-hal berikut:

    Epoch Times (ET): Berdasarkan interaksi Anda di Glints, dengan para fresh graduate pencari kerja dan juga dari sisi pihak HRD dan Headhunter perusahaan-perusahaan top, apakah generasi millennial saat ini cukup mendapat pendidikan yang memadai di sekolah?

    Qin En: Apa yang diajarkan di sekolah kurang memadai, tetapi saya pikir sekolah juga menyadari hal itu dan karenanya menciptakan lebih banyak peluang bagi milenial untuk menyelesaikan pendidikan mereka melalui dunia nyata (magang). Kami melihat banyak upaya dan inisiatif yang dilakukan oleh sekolah, politeknik dan universitas. Contoh kasusnya adalah bagaimana Program Magang Wirausaha Global mengirim para mahasiswa Singapura magang di Silicon Valley, Helsinki, Beijing, Shanghai, Ho Chi Minh dan Jakarta.

    ET: Apa saja skill terpenting yang paling dicari oleh pemberi kerja?

    Qin En: Ada lusinan keterampilan yang bergantung pada pekerjaan, tetapi yang paling penting adalah agar siswa memiliki banyak akal tanpa henti. Itulah yang saya tekankan kepada semua orang yang saya temui, serta anggota tim saya.

    Itu berarti mengatakan pada diri sendiri bahwa apa pun yang terjadi, saya harus mencapai tujuan saya (tanpa henti), dan saya akan menemukan cara dan sarana untuk mencapainya (banyak akal). Saya melihat bahwa mereka yang memiliki banyak akal cenderung berhasil karena pola pikir inilah yang membantu mereka memperoleh keterampilan dan kompetensi.

    ET: Apakah menurut Anda nilai-nilai di atas kertas penting dalam dunia saat ini? Apakah menurut Anda ini masih penting di masa depan?

    Qin En: Kualifikasi ijazah kurang penting. Tetapi proses pembelajaran untuk mencapai kualifikasi kelulusan itu sangat penting. Peranan sekolah dalam mempersiapkan siswa untuk angkatan kerja masa depan adalah sangat berguna, baik belajar di kelas dan juga magang, proyek, dll, Ini adalah proses yang penting untuk dilalui siswa.

    ET: Menurut Anda, seperti apa angkatan kerja di tahun 2020 keatas?

    Qin En: Tenaga kerja di tahun 2020 ke atas akan menjadi orang-orang yang bergerak secepat kilat. Kami tidak berbicara tentang perubahan bertahun-tahun, kita berbicara tentang detik dan menit. Dan itu berarti memiliki banyak akal tanpa henti, karena begitu cepatnya perubahan yang terjadi.

    ET: Menurut Anda, dapatkah seseorang dilatih untuk menjadi lebih inovatif? Menurut Anda, apakah budaya Singapura kita bisa melahirkan inovasi seperti di negara Barat?

    Qin En: Inovasi dapat dilatih, melalui praktik berkelanjutan untuk memecahkan masalah dunia nyata. Jika Anda berpikir tentang inovator terhebat dunia, mereka memecahkan masalah bagi umat manusia.

    Mengenai apakah budaya kita melahirkan inovasi, menurut saya ada banyak upaya yang dilakukan oleh banyak kementerian dan lembaga untuk memberikan beasiswa kepada para siswa berprestasi.

    Kita sering mengeluh bahwa kita tidak memiliki bakat inovatif, generasi milenial kita tidak berani mengambil risiko atau cukup inovatif, dan kami tidak menghasilkan cukup Steve Jobs, Elon Musks, dan Bill Gates. Tetapi jika teliti lagi, hasil akhir beasiswa diberikan dalam jumlah ratusan kepada siswa terbaik Singapura ini, kita mempunyai orang-orang yang sangat pintar di pemerintahan yang merencanakan taman kami, membuat jalur MRT baru dan membela negara (semuanya adalah peran penting), tetapi sangat sedikit pengusaha dan inovator. Pada saat mereka menyelesaikan ikatan empat hingga enam tahun mereka, ini adalah fase dalam hidup mereka ketika mereka baru saja memulai sebuah keluarga. Melompat menjadi pengusaha atau inovator sudah sulit untuk mereka lakukan. Jadi saya pikir agar budaya kita mengembangkan inovasi, kita benar-benar harus memikirkan kembali bagaimana kita memberi penghargaan dan mendorong siswa terbaik kita dari setiap kelompok. (epochtimes/ch)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

    https://youtu.be/vImP6VLJaOY
  • Bagaimana Membimbing Remaja Mengerjakan Tugas saat Sekolah Online

    Bagaimana Membimbing Remaja Mengerjakan Tugas saat Sekolah Online

    Kebanyakan orang tua merasa pusing terhadap bagaimana membantu para remaja menyelesaikan pekerjaan sekolah mereka dengan lancar di rumah. Berikut ini akan saya bahas beberapa cara praktis, saya yakin akan bermanfaat bagi anak Anda.

    Membangun lingkungan

    Mungkin anak remaja Anda sudah terbiasa belajar di suatu sudut ruangan rumah Anda, misalnya meja makan. Tidak peduli anak remaja Anda mengerjakan PR-nya di mana, Anda sebaiknya menyediakan sebuah meja tulis untuk dia. Meja tulis bekas atau rakitan sendiri juga boleh, karena meja itu sebagai lambang rumah ini sangat mementingkan belajar. Meja ini bisa mengembangkan fungsi untuk mengingat yang sangat besar.

    Jika di bawah meja tulis tidak memiliki laci, boleh Anda belikan kotak dokumen. Dengan demikian, laporan hasil kerja selama satu tahun penuh telah mendapatkan tempat penyimpanannya. Sebuah sistem penyimpanan arsip yang praktis dan sederhana, akan membuat dia dengan mudah dan cepat menemukan catatan, kertas ujian dan kertas laporannya.

    Jika Anda ingin menyimpan secara turun temurun hasil karya yang paling baik, sebaiknya Anda menyimpan hasil karya tersebut di dalam map dokumen plastik, di atas map diberi label nama dan tahun, dan diletakkan di tempat yang jarang sekali tersentuh.

    Pekerjaan baik, Harus Tersedia Alat yang Memadai

    Mengerjakan pekerjaan sekolah jika kekurangan alat-alat yang dibutuhkan, ibarat seperti seorang koki yang kekurangan bahan yang tepat untuk masakannya. Pada setiap awal tahun ajaran baru, tanyakan kepada anak Anda kebutuhan peralatan sekolah.

    Jika jawaban yang diberikan kepada Anda itu adalah cat warna, paku, atau bahkan bahan-bahan tekstil Anda tidak perlu heran. Pendidikan terkini masa sekarang ini menekankan praktek kerja nyata, siswa SMP juga ada banyak pelajaran prakarya, seperti memasak atau membuat peralatan.

    Mengolah waktu dengan tepat

    Ini yang terpenting: Ajarkan anak Anda kemampuan mengolah waktu dengan tepat. Jikalau pengolahan waktu Anda sendiri juga kacau balau tidak teratur, jangan khawatir, kita di sini menyediakan beberapa cara.

    Umumnya pada masa sekolah online ini, semua jadwal tugas, ujian dan remedial tertera pada Google Classroom. Tapi itu semua baru bisa terlihat apabila laptop anak sedang menyala, sedangkan laptop tidak mungkin terus-terusan menyala. Jadi ada baiknya orangtua membimbing dia untuk mencatat informasi tentang setiap pekerjaan rumah dari setiap mata pelajaran: waktu, mata pelajaran, isi, batas waktu terakhir dan waktu penyerahan pada sebuah buku agenda, dan ditulis ulang pada kalender meja yang mudah terlihat. Dengan menulis maka anak akan lebih mengingatnya, sehingga tidak ada yang terlewatkan. Buat jadwal harian belajar sesuai prioritas, kapan harus belajar dan kapan harus mengerjakan tugas.

    Jika anak tersebut mempunyai masalah dengan pengolahan waktu, maka biarkanlah dia menyelesaikan pekerjaan sekolahnya dulu baru main HP atau nonton TV.

    Menetapkan waktu mengerjakan PR

    Walaupun dia adalah seorang anak yang pandai, mungkin juga ketika dia menghadapi sebuah pekerjaan sekolah dalam jangka panjang, dia bisa mengulur waktu hingga enam sampai tujuh kali mata pelajaran itu baru diselesaikan.

    Sebagai orang tua, Anda sudah tentu mengharapkan anak Anda bisa bertanggung jawab penuh menyelesaikan pekerjaan sekolahnya secara otomatis, tidak perlu Anda membawa rotan untuk memecut dia dari belakang.

    Jika bisa berdiskusi  tentang perencanaan semester dengan anak Anda di awal semester, pasti bisa membantu. Maka berbincanglah dengan dia kapan adalah waktu yang terbaik bagi dia untuk mengerjakan pekerjaan sekolah, mungkin setelah selesai makan malam adalah waktu yang paling tepat.

    Demi membantu untuk mendirikan pola semacam ini, Anda bisa mengusulkan, walaupun sedang tidak ada pekerjaan sekolah, juga wajib mengulang apa yang dipelajari, membaca buku atau mengerjakan sesuatu yang membutuhkan otak untuk berpikir.

    Mengatasi penundaan

    Menunda sesuatu adalah kebiasaan jelek yang terpupuk dalam jangka panjang, dari masa kecil sudah dapat diamati, misalnya seperti ketika dia mengerjakan pekerjaan rumah atau belajar.  Ada sesuatu pekerjaan yang Anda tunda-tunda terus, mengharapkan pekerjaan itu bisa sirna secara otomatis. Namun ketika Anda menemukan kenyataan bertolak belakang dengan apa yang Anda harapkan, maka Anda akan dengan tergesa-gesa menyelesaikan pekerjaan itu dengan sembarangan pada saat batas waktu terakhir.

    Selama proses penyelesaian pekerjaan dalam hati Anda tidak akan merasakan senang, tidak peduli sebelum mengerjakan, sedang mengerjakan atau setelah mengerjakan pekerjaan itu.

    Di bawah ini adalah 3 alasan yang membuat anak menunda mengerjakan pekerjaan sekolah, serta saran-saran kami untuk Anda :

    1. Tidak mengerti harus bagaimana mengerjakan: jika anak sedang terjebak dalam kesulitan, semangati dia lebih awal mencari bantuan. Biasanya siswa SMP tidak pelit untuk bertanya. Jika Anda mulai lebih awal memberi bimbingan pekerjaan sekolah kepada anak Anda, itu akan lebih baik. Bisa juga mencarikan guru les bagi anak anda.

    2. Takut kurang baik mengerjakan pekerjaan: terkadang mereka takut kurang baik mengerjakan pekerjaan, maka mereka tidak mau mencoba, hal tersebut berkaitan dengan sikapnya. Di dalam masalah pelajaran sekolah jangan memberikan tekanan terlalu besar kepada anak, harus menuntun keluar keingintahuan mereka serta kesenangan mereka terhadap menangani masalah yang baru.

    4. Lebih baik melakukan yang lain: Ini merupakan masalah tentang kedisiplinan diri, saat ini harus membangun aturan untuk membantu anak. Misalkan, selesai belajar baru boleh menonton TV/Youtube atau main HP.  (The Epoch Times/lin)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Catatan di Hari Guru Nasional: Mengikuti Jejak Guru yang Hebat

    Catatan di Hari Guru Nasional: Mengikuti Jejak Guru yang Hebat

    Pada 25 November, Indonesia merayakan Hari Guru Nasional. Hari yang diperingati bersamaan dengan ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ini dirayakan sebagai bentuk penghargaan terhadap para guru.

    Melansir dari laman Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) Kemendikbud, pada peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 25 November 2020 lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim menyampaikan rasa terima kasihnya kepada semua guru, tenaga pendidikan, pemerintah daerah, serta para pemangku kepentingan pendidikan yang telah menciptakan perubahan dan inovasi yang luar biasa. Lebih lanjut Nadiem juga menyampaikan perhatiannya pada para orang tua yang saat ini begitu aktif terlibat mendampingi anaknya, bahu-membahu memotivasi dan menemani belajar serta turut menjadi guru bagi anak-anaknya di rumah.

    Ungkapan yang disampaikan Nadiem dalam peringatan tersebut tentunya sangat relevan dengan kondisi dari kebanyakan orang tua saat ini. Setelah kurang lebih delapan bulan menjadi “asisten guru dadakan” di rumah masing-masing, banyak yang akhirnya memahami betapa sulitnya menjadi seorang guru. Mungkin ada yang berdalih, mereka tidak memiliki latar belakang sebagai guru, sehingga merasakan kesulitan saat mengajar anak. Lainnya beralasan jika anak-anak umumnya lebih patuh pada orang lain ?terutama pada guru? dibanding pada orang tuanya sendiri. Sebagian lainnya merasakan kesulitan membagi waktu antara membantu anaknya belajar dengan kesibukan mereka sendiri.

    Terlepas dari semua dalih atau alasan tersebut, menjadi seorang guru tidak semudah yang dibayangkan. Tidak cukup hanya bermodalkan latar belakang pendidikan saja, namun juga diperlukan dedikasi tinggi, mental baja, maupun hati yang teguh. Meski semua bidang pekerjaan lain juga pasti menuntut karakter-karakter yang kurang lebih sama, namun profesi guru menjadi sangat relevan dengan apa yang dialami oleh para orang tua saat ini. Maka tidak ada salahnya jika mengikuti jejak para guru hebat di luar sana. Banyak cerita inspiratif dari guru-guru hebat yang pasti dapat diambil hikmahnya.

    Kriteria Guru yang Hebat

    Apakah kriteria dari “seorang guru yang bagus?” Tentu tidak jauh dari kualifikasi, pengalaman, dan kecerdasannya.

    Namun apakah yang kemudian menjadikannya sebagai guru hebat? Rusul Alrubail dalam artikelnya berjudul The Heart of Teaching: What It Means to Be a Great Teacher meyakini bahwa seorang guru yang hebat tidak hanya memiliki kualifikasi, pengalaman, dan kecerdasan tinggi, namun juga kemampuannya dalam menunjukkan kebaikan, rasa sayang, dan empati pada muridnya. Dia juga fokus membangun komunikasi yang kuat antara guru dan siswanya. Karena komunikasi inilah yang kemudian menjadi jembatan yang kuat dalam mengembangkan dan menyampaikan suatu pembelajaran.

    Tidak jauh berbeda dengan Alrubail, Jessica T. Servey dalam Teaching and Learning Moments: Remembering the Heart of a Teacher mengungkapkan bahwa mengajar adalah tentang mempelajari sesuatu, membangkitkan rasa ingin tahu, dan membentuk komunitas. Lebih lanjut dia juga menekankan bahwa seorang pengajar sebenarnya juga belajar banyak dari siswanya sebanyak siswanya mempelajari sesuatu dari dirinya.

    Mengikuti Jejak Guru Hebat

    Sebagai orang tua yang merangkap sebagai guru pendamping bagi anak-anak, tidak ada salahnya jika dapat mencontoh karakter terbaik dari seorang guru yang hebat.

    Belajar dari anak. Dikatakan, guru yang hebat akan terus belajar, tidak hanya dari buku namun juga dari lingkungan akademiknya. Mengadopsi cara belajar tersebut, sebagai guru pendamping, orang tua diharapkan juga terus belajar. Tidak hanya dari buku maupun webinar, namun juga dari anaknya sendiri. Belajar berempati melalui respon anak, keingintahuan anak, bahkan kesalahan yang dilakukan anak sekalipun. Ketika orang tua mampu menempatkan diri pada posisi anak dan melihat sesuatu dari sudut pandang anak, maka diharapkan akan berdampak kuat pada keputusan dan tindakan yang akan diambil oleh orang tua.

    Menyebarkan kebaikan. Guru yang hebat akan menunjukkan kebaikan dan rasa sayangnya tidak hanya pada anak didik, namun juga pada rekan sekerja dan orang tua siswa. Mengikuti jejak guru yang hebat, orang tua diharapkan dapat menunjukkan kebaikan dan rasa sayangnya, tidak hanya pada anak, namun juga pada lingkungan di sekitar anak, seperti pada asisten rumah tangga, pada kakek atau nenek, maupun pada tetangga. Studi menemukan bahwa kebaikan itu menjalar. Jika orang tua banyak menebarkan benih-benih kebaikan dan rasa sayangnya, maka dengan sendirinya akan beresonansi pada lingkungan di sekitar anak yang pada akhirnya akan kembali pada anak dan orang tua sendiri. Dengan demikian akan membuat anak lebih memahami lingkungan di sekitarnya. Selain itu, menunjukkan kebaikan dan rasa sayang pada anak akan membuat mereka merasa dipahami, disayang, dan diterima.

    Menjalin komunikasi. Dikatakan, guru yang hebat dapat menjembatani kesenjangan dan membangun hubungan, persahabatan, dan komunitas. Sebagai guru pendamping, orang tua juga dapat menjalin hubungan dan persahabatan yang baik pada anak, sehingga akan terjalin komunikasi yang baik tidak hanya saat melakukan pembelajaran jarak jauh, tetapi juga hal-hal pribadi lainnya. Orang tua juga dapat mendorong anak untuk selalu berperilaku jujur dan berpikir positif dalam segala hal. Anak yang melihat orang tua berperilaku demikian, dia juga akan cenderung melakukan hal yang sama pada orang tua dan orang-orang terdekatnya yang pada akhirnya akan membentuk jalinan komunitas yang lebih luas.

    Meskipun sedikit terlambat, selamat Hari Guru pada para pengajar dan para guru dadakan di seluruh Indonesia. (ntdindonesia/averiani)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Pasangan Amerika Menyelamatkan 4.000 Anak Yatim Piatu di Tiongkok (Bagian 2)

    Pasangan Amerika Menyelamatkan 4.000 Anak Yatim Piatu di Tiongkok (Bagian 2)

    Tim Baker, yang dipanggil “Papa Tim” dengan penuh kasih sayang oleh anak-anak, mengadopsi seorang anak lain bernama Philip. Dia menemukan Philip yang sedang sekarat, di salah satu panti asuhan di sekitarnya. Dia menderita bibir sumbing sejak lahir. Dia membawa Philip ke Shepherd’s Field Children’s Village dan menggunakan alat suntik untuk memberinya susu karena tidak dapat minum dari botol bayi.

    Beberapa hari kemudian, Philip berangsur-angsur memperoleh kekuatannya. Dia tertawa, bergerak, dan mengoceh. Enam bulan kemudian, Philip menjalani operasi pada bibir atasnya dan berhasil disembuhkan. Dia menjadi anak ketujuh dari pasangan Baker.

    Tak lama kemudian, jumlah anak yatim piatu di Children’s Village mencapai lebih dari 80 anak. Lebih dari 95 persen dari anak-anak tersebut menderita berbagai tingkat kecacatan fisik. Mereka tidak hanya membutuhkan perawatan yang teliti, tetapi juga membutuhkan operasi berkala, pengobatan rutin, atau bahkan keduanya. Kebutuhan biaya yang sangat besar ini menjadi fokus upaya penggalangan dana tahunan Baker. Terlepas dari semua tantangan, sikap Baker tetap teguh: “Tidak menolak” dan “Tidak menyerah.”

    Ada seorang anak berusia 6 tahun bernama Yang Yang yang menderita hidrosefalus, suatu kondisi dimana ada penumpukan cairan serebrospinal yang berbahaya di dalam otak. Ketika Yang Yang pertama kali masuk Children’s Village, dia hanya terbaring di tempat tidur dan tidak bisa makan. Setelah operasi dan dibawah pengasuhan semua orang di Children’s Village, Yang Yang mulai belajar bangun, memanjat, makan, dan bahkan tertawa dan bercanda. Setiap kali Baker berkata kepada Yang Yang “aku mencintaimu,” dia akan memutar matanya, memiringkan kepalanya, dan berkata: “Papa Tim, aku mencintaimu.” Kemudian keduanya tertawa bersama.

    Di Children’s Village, kamar tidur anak-anak bersih dan rapi serta setiap kamar dilengkapi dengan pemanas dan AC. Para asisten, semua adalah wanita lanjut usia atau dipanggil “bibi,” yang secara khusus dilatih untuk merawat anak-anak. Anak-anak memandang bibi sebagai “ibu” mereka. Secara keseluruhan, ada 67 bibi yang merawat lebih dari 80 anak. Beberapa anak masih kecil atau tidak bisa bergerak, sehingga para bibi menjaga mereka sepanjang waktu.

    Para asisten dibagi menjadi dua kelompok, satu kelompok bekerja “shift siang” dan lainnya “shift malam”. Mereka menyuapi dan merawat anak-anak di siang hari, memandikan, dan mencuci pakaian mereka menjelang malam, bahkan mencatat waktu tidur anak-anak di malam hari. Seiring berjalannya waktu, ikatan antara para bibi dan anak-anak semakin erat dan setiap kali seorang anak meninggalkan Children’s Village bersama orang tua angkatnya, para asisten merasa sedih dan menangis, meskipun mereka juga bahagia mengetahui itu demi kebaikan anak tersebut.

    Children’s Village melatih anak-anak menjadi mandiri dan memberikan mereka kemampuan untuk masuk dalam lingkungan masyarakat. Children’s Village telah memberikan rumah yang hangat kepada anak-anak yang terlantar, tetapi Baker masih merasa bahwa ini tidak cukup dan ingin berbuat lebih banyak untuk mereka.

    Children’s Village mengelola sekolahnya sendiri dan para guru menyesuaikan isi pelajaran sesuai dengan situasi dan kemampuan anak. Mereka mengajarkan aksara Mandarin, Bahasa Inggris, Matematika, dan juga mengajarkan mereka cara memasak, cara naik bus, cara berbelanja di supermarket, dan banyak lagi.

    Ketika seorang anak mampu mengurus diri sendiri, mereka dilatih untuk melakukan pekerjaan sehari-harinya secara mandiri, kecuali bagi anak-anak dengan kondisi fisik yang buruk. Di kafetaria, setelah makan, setiap anak dilatih untuk mencuci piring mereka sendiri dan memasukkannya kembali sendiri ke dalam lemari yang sudah didesinfeksi.

    Setelah semua hal baik yang telah dia lakukan, Baker masih merasa belum cukup. Dia mulai berpikir ke depan untuk anak-anak yatim piatu tersebut. Kali ini, dia berencana mendirikan pusat pendidikan vokasi di Children’s Village untuk membina kemampuan anak-anak supaya bisa bekerja mandiri dan bisa masuk ke masyarakat di kemudian hari.

    Berdasarkan hukum di Tiongkok, anak yatim piatu yang telah berusia 14 tahun tidak dapat lagi diadopsi oleh panti asuhan. Dalam kondisi normal, anak-anak yang sehat akan masuk ke lingkungan masyarakat dengan bantuan panti asuhan, sedangkan anak-anak disabilitas hanya dapat menghabiskan sisa hidupnya di panti sosial. Baker ingin memberi anak-anak ini kesempatan ? mengajarkan mereka keterampilan bertahan hidup dan cara merawat diri sendiri.

    Di taman Children’s Village, ada dinding yang penuh dengan cetakan tangan. Mereka menyebutnya “Tangan Harapan”. Ini semacam monumen yang mencatat nama dan sidik jari setiap anak yang diadopsi dan mencatat kehidupan baru mereka bersama keluarga angkat mereka. Foto-foto yang dikirim oleh keluarga angkat mereka juga ditempel di dinding satu persatu, membentuk “dinding foto” spesial. Setiap anak di foto itu terlihat sedang tersenyum cerah.

    Menurut Baker: “Saya ingin anak-anak ini mengingat dari mana mereka berasal bahkan meski mereka pergi dan tinggal di luar negeri bersama keluarga angkat mereka serta berbicara dalam bahasa yang berbeda.”

    Sejak 1996 hingga sekarang, Children’s Village telah mengatur dan berkontribusi atas operasi pada lebih dari 3.000 anak disabilitas dan menemukan keluarga angkat bagi lebih dari 900 anak.

    Hal ini membuat Baker, yang kini mendekati usia 60 tahun, sangat bangga. Dia berkata dia ingin menetap di Tiongkok dan tinggal bersama anak-anak sampai akhir hayatnya. Seseorang pernah bertanya kepadanya: “Mengapa mengadopsi anak itu sangat baik?” Baker berkata bahwa dia mencintai anak-anak angkat itu lebih dari anak-anaknya sendiri karena mereka hadir dalam hidupnya dengan cara yang istimewa.

    Baker berkata: “Anak-anak ini memberi saya lebih dari yang saya berikan kepada mereka. Merekalah yang mengubah saya, membuka hati saya, dan membiarkan saya melihat kesedihan dan rasa sakit di dunia ini. Setiap anak yang datang ke Children’s Village memiliki masa lalu menyedihkan yang berbeda, namun disini, senyuman mereka sama. Mereka sama-sama terlihat cerah, dan masa depan mereka secerah senyum mereka. Masalahnya bukan pada anak-anak ini, tetapi pada orang tua dan kerabat yang telah menelantarkan mereka tanpa kasihan.

    Mari kita berharap kebaikan dan cinta Baker dapat membantu anak-anak mengatasi tantangan fisik mereka dan di sisi lain, mengubah ketidakpedulian dan prasangka orang terhadap anak-anak ini dan menginspirasi lebih banyak rasa belas kasih dalam masyarakat Tiongkok. (visiontimes/sia/feb)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Pasangan Amerika Menyelamatkan 4.000 Anak Yatim Piatu di Tiongkok (Bagian 1)

    Pasangan Amerika Menyelamatkan 4.000 Anak Yatim Piatu di Tiongkok (Bagian 1)

    Pada 1990, Tim Baker tiba-tiba memindahkan keluarganya dari Amerika Serikat ke Tiongkok. Tiga puluh tahun kemudian, dia dikenal sebagai “ayah bule” bagi 4.000 anak yatim piatu, dimana 95 persennya adalah anak-anak penyandang disabilitas. 

    Pada Juni 2019, seorang anak perempuan berusia 8 tahun penderita kelumpuhan otak di Nanjing dibuang ke sungai oleh ayah dan kakeknya. Dia ditenggelamkan dengan tas sekolah yang diisi dua batu bata berat. Sungguh tragis gadis kecil ini meninggal karena pandangan masyarakat Tiongkok. Penduduk desa menganggap anak cacat “tidak layak dibesarkan” dan lebih baik membuang anak tersebut.

    Saat ini, masyarakat Tiongkok yang utilitarian dan dikuasai komunis, ditambah lagi dengan kebijakan satu anak, jelas berdampak pada pengabaian anak-anak disabilitas dan peningkatan “kematian yang tidak wajar.” Namun, dimata Baker, semua anak-anak ?bahkan yang cacat sekalipun? adalah harta terpendam yang cantik dan lucu.

    Sepuluh tahun lalu, seorang anak laki-laki dengan luka bakar parah ditinggalkan di ladang jagung di pinggiran kota Tianjin. Saat itu hujan deras dan lebih dari 40 orang berdiri di sana dengan payung di tangan mereka hanya menonton, tetapi tidak ada yang mengangkat bocah itu atau menaunginya dari hujan.

    Jika saja tidak ada seorang petani yang baik dan Baker, bocah itu telah kehilangan nyawanya. Bocah itu menjalani operasi selama 6 jam. Dokter mengamputasi lengan kiri, kaki kiri, semua jari kaki kanan, dan semua jari tangan kanannya. Dokter mengatakan bahwa anak laki-laki itu hanya memiliki peluang hidup 10 persen saja, tetapi anak laki-laki tersebut selamat dan sekarang berusia 16 tahun. Dia bernama Levi.

    Levi diadopsi oleh pasangan Amerika. Dia adalah atlet terkemuka dan jago bermain sepak bola selain berenang, panjat tebing, ski air, dan bahkan bersepeda. Levi juga adalah anggota tim bola basket sekolah. Melihat foto Levi, senyumannya tidak berbeda dengan anak-anak Amerika lainnya. Dia menjalani kehidupan yang luar biasa dan memiliki masa depan yang baik.

    Levi adalah atlet papan atas dan merupakan anggota tim bola basket sekolah. (Gambar: Screenshot / YouTube)

    “Jika hidup Levi berakhir sepuluh tahun yang lalu, tidak akan ada cerita tentang dia hari ini.” Baker tidak berani berpikir lebih dalam. Jauh dilubuk hatinya, dia tahu bahwa ada banyak anak terlantar seperti Levi yang menunggu dia selamatkan.

    Terdampar di Tiongkok selama sisa hidupnya

    Sebelum pindah ke Tiongkok, Baker adalah seorang general manager sebuah supermarket, berpenghasilan tinggi, mempunyai rumah dan mobil. Istrinya seorang ibu rumah tangga yang merawat kedua putri mereka yang cantik.

    Pada 1988, Baker mengalami titik balik yang sangat besar dalam hidupnya karena dia ingin melakukan suatu hal dengan sangat jelas. Akhirnya dia berhenti dari pekerjaannya, dan pindah ke Tiongkok bersama keluarganya. Dia menjadi guru bahasa Inggris di sebuah sekolah di Fushun dan anak-anak disana biasa memanggilnya “Guru Bei.” Setelah setahun, Baker dan keluarganya pindah ke Beijing. Dia berharap bisa menolong lebih banyak anak serta tidak perlu waktu lama bagi dia dan istrinya untuk menjadi sukarelawan di panti asuhan sekitarnya.

    Kali pertama Baker dan istrinya memasuki panti asuhan, mereka kaget melihat kondisi yang memprihatinkan. Di ruangan yang penuh sesak dengan jendela terbuka, ada lebih dari 30 anak yatim piatu yang sedang mengoceh terbaring di atas lantai. Dindingnya kosong hanya ada beberapa gambar yang berhubungan dengan pendidikan anak-anak permulaan sekolah dasar tergantung berdampingan di salah satu sudut ruangan. Seluruh ruangan berbau tidak sedap dan beberapa anak berbaring di atas kotoran mereka sendiri dengan lalat berdengung di sekelilingnya. Tercium bau yang sangat menyengat.

    Kali pertama Baker dan istrinya memasuki panti asuhan, mereka kaget melihat kondisi yang memprihatinkan. (Image: Screenshot / YouTube)

    Apa yang mereka saksikan membuat mereka merasa tertekan. Mereka keluar dengan cepat untuk menenangkan diri sebelum masuk kembali ke ruang itu. Kemudian mereka menggendong anak-anak tersebut, memandikan, menukar pakaian, dan kemudian bermain bersama mereka.

    Setahun kemudian, istri Baker melakukan perjalanan dengan kereta api selama lebih dari 50 jam untuk mengadopsi seorang gadis cacat berusia 5 bulan bernama Esther dari The Guiyang Social Welfare Institute. Dibawah asuhan mereka, Esther belajar membaca dan menulis. Saat ini dia berusia 26 tahun, bekerja sebagai guru di Amerika Serikat, bergabung dengan masyarakat selayaknya orang normal.

    Pada 1995, teman Baker, Philip Head, meninggal terkena serangan jantung di dalam kereta api yang membawanya kembali ke Beijing dari Changchun untuk menemui seorang anak. Ketika pasangan itu menerima kabar buruk tentang temannya, mereka merasa bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak kekal dan hidup itu singkat. Pasangan itu memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk mengubah kehidupan anak-anak tersebut meski banyak tantangan yang akan mereka hadapi.

    Langkah pertama mereka adalah mendirikan yayasan untuk menghormati teman mereka dengan menggalang dana bagi anak-anak disabilitas. Mereka menamakannya “Philip Head Foundation.” Mereka berhenti dari pekerjaannya dan memutuskan untuk membuka panti asuhan sendiri. Mereka menyewa sebuah rumah besar di Langfang dekat Beijing sehingga mereka dapat mengadopsi dan mengasuh anak-anak.

    Rumah bagi anak-anak yatim piatu penyandang disabilitas

    Untuk mendirikan panti asuhan, keluarga Baker menghabiskan tabungan mereka selama bertahun-tahun untuk membeli berbagai perlengkapan anak-anak, seperti popok, susu bubuk, boks bayi, mainan, dan sebagainya. Pasangan itu juga meminta sumbangan dari kerabat dan teman.

    Pada hari pertama setelah mereka mempersiapkan segala fasilitas untuk panti asuhan, mereka mengadopsi enam anak dari The Tianjin Children’s Welfare Institute. Maka, bersama empat anaknya sendiri, mereka membentuk sebuah keluarga besar dengan 10 anak. Baker tidak berhenti disitu, dia secara teratur mengemudikan minibus berisi 11 kursi dan mengunjungi panti asuhan di sekitarnya untuk “menjemput” anak-anak.

    Baker secara teratur mengemudikan minibus berisi 11 kursi dan mengunjungi panti asuhan di sekitarnya unutk ‘menjemput’ anak-anak. (Gambar: Screenshot / YouTube)

    Dia selalu bersedia mengasuh anak-anak yang tidak diterima atau tidak diasuh dengan baik di panti asuhan atau rumah sosial. Baker dan istrinya melakukan semua ini secara sukarela dan bahkan menangani pengeluaran anak-anak dengan memakai uang mereka sendiri.

    Baker beralih pada pengembang pinggiran kota mencari rumah untuk membuka panti asuhan dan terkejut ketika pengembang tersentuh oleh perbuatan baiknya serta setuju untuk menyewakan empat rumah kepadanya dengan harga murah. Baker mulai mengumpulkan dana, mempekerjakan pembantu wanita, dan melatih mereka merawat anak-anak. Sejak itu, Baker dan istrinya menjadi sangat sibuk.

    Meski tenaga mereka terbatas, semua anak dirawat dengan baik. Mereka berpakaian baik dan rapi. Tidak ada tempat yang berantakan di panti asuhan itu. Ini adalah persyaratan ketat dari istri Baker.

    Pasangan itu mengadopsi lebih dari 60 anak dan beberapa minibus ditambahkan ke inventaris. Mereka juga memutuskan untuk mendirikan dan mengelola sekolah sendiri serta mempekerjakan guru. Mereka bahkan mendirikan klinik sendiri.

    Langkah mereka selanjutnya adalah mencari tempat yang lebih besar dengan halaman yang luas untuk anak-anak bermain dan berolahraga di luar ruangan. Baker mengendarai minibusnya ke beberapa tempat untuk mencari lokasi baru.

    Kejutan yang ‘jatuh dari langit’

    Pada 2002, pemerintah Tianjin memberi Baker 33 hektar tanah dengan harga yang sangat murah 1 yuan. Sebidang tanah ini terletak di persimpangan Beijing dan Tianjin sehingga dapat memfasilitasi mereka mengirim anak-anak untuk perawatan medis. Dalam rangka menggalang dana untuk membangun rumah, Baker melakukan talk show dan berpartisipasi dalam acara TV yang ditayangkan di Amerika Serikat, berbagi cerita tentang lebih dari 60 anak yatim piatu kepada penonton Amerika. Kali ini, dia mengumpulkan US$ 268,000. Itu cukup untuk membangun dua buah rumah.

    Baker melakukan talk show dan berpartisipasi dalam acara TV yang ditayangkan di AS yang membantunya menggalang dana untuk membangun dua rumah. (Gambar: Screenshot / YouTube)

    Kejutan yang lebih besar lagi segera datang. Sebuah perusahan desain arsitektur di Beijing bersedia menyelesaikan seluruh desain secara gratis. Semua semen, genteng, cat, sirkuit listrik dan saklar merupakan sumbangan dari orang-orang baik hati bahkan ada yang menjual bahan bangunan seperti batu bata dengan harga grosir.

    Akhirnya, empat rumah kecil berlantai dua dengan dinding eksterior abu-abu, ujung atap kaku, dan genteng kuning mengkilap selesai dibangun dan semuanya berdesain Tiongkok.

    Pada 2006, desa anak-anak selesai dibangun dan Baker menamakannya Shepherd’s Field Children’s Village, karena tanah ini pada awalnya merupakan tempat dimana gembala setempat mengembalakan dombanya. Baker tidak pernah berpikir untuk menamai tempat itu sebagai “panti asuhan” atau “rumah sosial.”

    Dalam pandangannya, ini sama seperti sebuah rumah keluarga dan dia berharap semua anak terlantar bisa merasakan kehangatan kehidupan rumah. Dalam salah satu pembicaraannya, Baker berkata bahwa setiap anak, ketika mereka kali pertama datang, menyiratkan raut menyedihkan di wajah mereka, namun hanya dalam beberapa hari mata mereka berubah cemerlang. (visiontimes/sia/feb)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • PODCAST Sebuah Maha Karya

    PODCAST Sebuah Maha Karya

    Di pinggir sebuah kota, tinggal seorang seniman pematung yang sangat terkenal di seantero negeri.

    PODCAST

    Hasil karyanya yang halus, indah, dan penuh penghayatan banyak menghiasi rumah-rumah bangsawan dan orang-orang kaya di negeri itu.

    Suatu hari, datang seorang pemuda yang merasa berbakat memohon untuk menjadi muridnya. Karena niat dan semangat si pemuda, dia diperbolehkan belajar padanya.
    Bahkan, ia juga diizinkan untuk tinggal di rumah si pematung.

    Sejak hari itu, si pemuda mulai belajar dengan tekun: mengukur ketepatan bahan adonan semen, membuat rangka, cara menggerakkan jari-jari tangan, mengenali setiap tekstur bahan, dan berbagai kemampuan mematung lainnya.

    Setelah belajar sekian lama, si murid merasa tidak puas. Sebab, menurutnya, hasil patungnya belum bisa menyamai keindahan patung gurunya. Ia berpikir dalam hati,

    “Tidak mungkin! Aku sudah berusaha sekeras ini, mengapa hasil pekerjaanku tidak bisa menyamai guru? Pasti ini karena alat-alat bagus yang dipakainya! Alat-alatku kan alat bekas murid lain, jelas saja tidak bisa menyamai kehebatan alat-alat Guru!”

    Ia lalu memohon pada gurunya.

    “Guru, bolehkah saya meminjam alat-alat yang biasa Guru pakai untuk mematung? Dan sementara itu, saya minta maaf, apakah Guru tidak keberatan memakai alat-alat saya untuk menyelesaikan pekerjaan Guru?”

    Sang Guru menjawab dengan tersenyum:

    “Silakan saja ambil sendiri alat-alat itu, Nak. Kamu boleh memakainya selama yang kamu mau.”

    Namun selang beberapa hari, si murid dengan muka lesu mendatangi gurunya. Dengan putus asa ia mengembalikan alat-alat milik Gurunya dan berkata:

    “Percuma, Guru! Ternyata saya dengan memakai alat-alat Guru pun, hasil karyaku tidak bisa sebaik punya Guru. Padahal, aku sudah bekerja keras, berlatih, dan berusaha dengan tekun sesuai petunjuk Guru. Mengapa hasilnya tidak bisa bagus?”

    Setelah berpikir sejenak, murid itu pun berkata:

    “Mungkin aku tidak berbakat, Guru. Mungkin aku harus berhenti belajar dari Guru….”

    Namun sang Guru hanya tertawa terkekeh. Ia berkata:

    “Nak, nak. Kamu ini….. kamu tahu tidak, kamu baru menjadi murid Guru selama beberapa bulan. Dan kamu tahu tidak? Guru ini sudah belajar dan berlatih membuat patung selama puluhan tahun.

    Sebenarnya hingga hari ini pun, Guru masih tetap belajar dan berlatih. Untuk menjadi seorang pematung handal, bukan alat-alat canggih yang kamu perlukan, tetapi adalah talenta, pengalaman, kemauan keras, dan kerendahan hati untuk selalu belajar. Masa kamu langsung menyerah hanya dalam beberapa bulan belajar?”

    Setelah mendengar hal ini, sang murid pun menjadi tersadar. Ia segera berlutut di depan Gurunya dan berkata:

    “Guru, maafkan aku! Aku telah bersalah. Mohon biarkan aku tetap menjadi muridmu, sebab Guru tidak hanya mengajariku teknik mematung, tetapi juga sebuah pelajaran yang sangat berharga tentang kehidupan!”

    Dalam menciptakan sebuah maha karya, tidak cukup hanya mengandalkan talenta semata. Diperlukan proses belajar, ketekunan berlatih bertahun-tahun, dan kerendahan hati untuk selalu mau mengembangkan diri. Di balik prestasi yang gemilang, percayalah bahwa ada proses panjang yang ditempuh, yang tidak semudah dan sesederhana perkiraan orang lain.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

  • PODCAST Mengapa Manusia Itu Aneh?

    PODCAST Mengapa Manusia Itu Aneh?

    Tahukah Anda, mengapa manusia itu aneh? Saat kecil, mereka ingin cepat tumbuh dewasa, lalu saat dewasa, mereka meratapi masa kecil yang hilang dalam sekejap.

    PODCAST

    Mereka mengabaikan kesehatan demi uang, lalu menghabiskan uang untuk memulihkan kesehatan.

    Mereka selalu cemas dan sibuk untuk masa depan, namun acuh tak acuh dan lupa untuk menghargai masa kini.

    Mereka hidup seolah tidak akan pernah mati, lalu menghadapi hari tua dan kematian seolah tidak pernah hidup.

    Mereka sadar akan nilai dan pentingnya suatu hal, hanya setelah kehilangan hal tersebut, dan sering lupa untuk menghargai apa yang dimiliki saat ini.

    Mereka berjuang seumur hidup untuk mengejar sesuatu, hanya untuk menyadari bahwa pada akhirnya semuanya itu harus mereka tinggalkan.

    Mereka tidak sadar

    Bahwa apa yang mereka kejar hanya memuaskan keterikatan, dan konsep yang terbentuk sesudah kelahiran.

    Bahwa tidak ada bayi yang mementingkan prestise, tidak ada orang terlahir dengan gengsi.

    Bahwa mereka membeli barang yang tidak diperlukan, dengan uang yang tidak dipunyai, untuk mengesankan orang yang tidak disukai.

    Manusia itu aneh, selalu mengejar untuk mendapatkan semua, sampai mereka menyadari apa yang mereka inginkan sesungguhnya adalah kedamaian dan ketenangan pikiran.

    Sesuatu yang sebetulnya sudah mereka miliki sejak lahir.

    Jadikan masa lalu sebagai pelajaran, agar bisa menjalani hidup di masa kini dengan baik. Jalanilah hidup di saat ini dengan baik, agar bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik lagi.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

  • Menyeimbangkan Kehidupan dan Pekerjaan selama di Rumah

    Menyeimbangkan Kehidupan dan Pekerjaan selama di Rumah

    Sejak ditetapkan pembatasan pada sektor usaha karena munculnya klaster perkantoran baru, beberapa perusahaan masih memberlakukan work from home pada sebagian atau semua pegawainya hingga saat ini. Bagi sejumlah orang, menjaga produktivitas tetap efektif dan efisien selama di rumah dapat dilakukan dengan cepat tanpa banyak “drama.” Namun bagi lainnya, banyak keterbatasan yang harus dihadapi, membuat beberapa aspek -meski tidak sampai ditanggalkan- menjadi sedikit terabaikan. Bahkan sebagian masih meraba-raba bagaimana formulasi yang tepat, tanpa harus menanggalkan salah satu tugas

    Berbulan-bulan lamanya melakukan segala aktivitas di rumah, terkadang membuat seseorang menjadi jenuh. Rutinitas yang sebelumnya terbagi-bagi dalam beberapa tempat, tiba-tiba berbaur menjadi satu. Tidak hanya masalah aktivitas dan tempat, namun juga masalah waktu. Meskipun bekerja dari rumah juga memiliki keuntungannya sendiri, bahkan beberapa orang telah melakukannya jauh sebelum pandemi, namun bagi mereka yang “mendadak di rumah” tetap memerlukan adaptasi pada lingkungan dan suasana baru.

    Jika saat ini Anda tetap dapat menyelesaikan semua tugas namun merasa sangat lelah, mungkin ini saatnya Anda memerlukan strategi baru yang dapat mencakup semua hal -setidaknya hal-hal penting- tanpa merasakan kelelahan dan mengabaikan salah satu.

    Ada beberapa hal yang bisa dicatat dari para ahli. Berikut beberapa hal yang dapat kita perhatikan, antara lain:

    Membentuk Ritme

    Memasukkan ritme yang bagus dalam kehidupan sehari-hari akan membantu Anda memaksimalkan waktu dan energi, menurut Laura Vanderkam penulis “The New Corner Office,” dalam wawancara dengan The Epoch Times. Anda memerlukan “ritual” untuk membuka hari, melakukan pekerjaan “menantang” saat masih segar di pagi hari, beristirahat untuk mengisi energi kembali, dan menemukan cara untuk “mengakhiri” hari Anda.

    Membentuk ritme akan membatasi pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Lakukan seolah-olah Anda sedang bekerja di kantor. Jika sebelumnya Anda telah siap berangkat pada 07.00, maka usahakan pada saat itu Anda telah siap untuk “berangkat.” Sebagai pengganti waktu “perjalanan,” mungkin Anda dapat melakukan “pemanasan” seperti membaca email atau melakukan review pada pekerjaan sehari sebelumnya, sebelum Anda “benar-benar” bekerja. Begitu juga saat “pulang.” Saat Anda telah menemukan cara untuk mengakhiri hari, Anda tidak akan merasa bersalah saat akan bersantai-santai di rumah atau melakukan pekerjaan ruah tangga lainnya.

    Ritme ini juga membantu Anda menentukan kapan harus fokus pada pekerjaan, kapan harus melakukan pekerjaan rumah tangga, dan kapan harus beristirahat. Dengan demikian Anda akan mendapatkan hasil yang maksimal dan tidak terjebak dengan ritme yang maju mundur.

    Menjaga pikiran jernih

    Mempertahankan pikiran agar tetap jernih diperlukan untuk dapat berkonsentrasi penuh dan mengambil keputusan yang tepat. Kaisar Kangxi, salah satu kaisar terbaik dari Dinasti Qing keempat yang berbangsa Manchu melakukannya di pagi hari, pada dua jam pertama setelah bangun tidur dan empat jam sebelum tidur, seperti dituliskan dalam artikel “Emperor Kangxi, China’s First Efficiency Expert,” di laman Visiontimes.

    Belajar dari Kaisar Kangxi, setelah bangun tidur di pagi hari adalah waktu yang tepat untuk melakukan aktivitas yang bersifat menenangkan. Selain melakukan aktivitas spiritual, Anda juga dapat melakukan aktivitas seperti meditasi atau hal-hal lain yang bersifat mindfullness (kesadaran penuh) untuk mempertahankan pikiran tetap jernih. Setelah itu, Anda dapat melanjutkan pekerjaan yang lebih menantang.

    Demikian juga di malam hari, Anda dapat melakukan aktivitas menenangkan dengan membaca buku atau membuat jurnal. Jika Anda memiliki anak usia dini, maka itu adalah saat yang tepat untuk membacakannya cerita penghantar tidur. Tidur yang nyenyak akan membantu Anda memulihkan dan mengisi energi untuk pekerjaan menantang pada keesokan harinya.

    Aktivitas spritual semacam ini sangat membantu Anda dalam menyeimbangkan kehidupan Anda yang penuh dengan segala aktivitas, tugas, maupun pekerjaan yang dibebankan pada Anda dengan ketenangan penuh.

    Fokus pada satu

    Melakukan semua aktivitas di rumah sebenarnya memiliki banyak keuntungan. Menghemat waktu dan biaya, lebih fleksibel, dan meningkatkan “ikatan” antar anggota keluarga adalah beberapa hal yang dapat diambil. Namun, jika tidak pandai mengaturnya, akan mudah hanyut dan terjebak dalam “kelonggaran” itu sendiri.

    Maka, fokus pada satu tugas pada suatu waktu akan memudahkan Anda membentuk satu struktur. Ini banyak dialami oleh para wanita karier yang memiliki anak usia dini. Emma Freire dalam artikel 5 Tips for Working While Caring for Small Children dalam laman IntellectualTakeout.org, terutama menyorot pada hal “tidak bekerja dan menjaga anak di saat yang bersamaan,” Bagi Freire, hal ini kontraproduktif.

    Memang melakukan beberapa pekerjaan sekaligus seolah-olah akan menyelesaikan banyak pekerjaan. Namun kebanyakan akan terjadi kontraproduktif. Melakukan banyak pekerjaan di pagi hari akan menyisakan banyak pekerjaan di malam hari, karena umumnya tidak dapat diselesaikan bersamaan. Maka, Anda akan mengambil waktu beristirahat di malam hari. Ini tidak menguntungkan Anda, karena Anda memerlukan istirahat yang cukup untuk melakukan segala hal menantang lainnya di keesokan paginya. Jika Anda sering kali demikian, mungkin ini saatnya berubah karena Anda tidak akan mendapatkan apa-apa.

    Konsisten

    Tidak ada kata terlambat untuk melakukan perubahan. Jika Anda merasa belum memiliki ritme, segera bentuklah struktur yang sesuai dengan ritme Anda. Pastikan ritme yang telah Anda sepakati tersebut, dilakukan setiap hari secara konsisten. Memulai memang sulit, namun menjaga agar tetap konsisten juga tidak mudah.

    Namun yang pasti, segala perubahan yang dilakukan demi kebaikan, tidak akan merugikan sama sekali. Bahkan, misalpun Anda diminta kembali bekerja secara penuh besok hari, struktur dan ritme ini masih dapat Anda terapkan dalam kehidupan sehari-hari. (ntdindonesia/averiani)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Disiplin Sehat, Tanpa Membentak (Bagian 2): Strategi Disiplin Positif

    Disiplin Sehat, Tanpa Membentak (Bagian 2): Strategi Disiplin Positif

    Pada artikel sebelumnya telah kita simpulkan bahwa disiplin adalah suatu bentuk ketaatan terhadap nilai-nilai yang dipercaya orangtua, yang ingin diajarkan pada anaknya agar terus dianutnya hingga dewasa. Namun demikian, telah diketahui juga bahwa menerapkan kedisiplinan pada anak akan lebih efektif jika dilakukan melalui pendekatan personal tanpa melibatkan emosi. Maka, tidak hanya anak yang harus belajar, sebagai pengajar, orangtua pun perlu melatih diri agar dapat menerapkan kedisiplinan secara positif dan sehat, tanpa perlu membentak maupun memberikan hukuman.

    Hukuman sendiri adalah tindakan yang akan dikenakan pada anak karena berperilaku tidak baik atau melanggar nilai-nilai yang telah disepakati. Memberikan hukuman, meski berhasil diterapkan pada saat itu namun dampaknya bisa sangat merugikan. Mulai dari menimbulkan rasa sakit fisik atau emosional, atau bahkan menjadi tidak efektif dalam mengurangi perilaku buruk atau pelanggaran di masa depan,

    Sebagai alternatif, orangtua dapat menerapkan disiplin positif yang dapat melatih atau mengajarkan anak untuk mematuhi nilai-nilai yang disepakati baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang melalui pengendalian diri dan membuat pilihan yang positif. American Academy of Pediatrics (AAP) dalam laman healthychildren.org juga merekomendasikan 10 strategi disiplin positif yang secara efektif dapat mengajarkan anak-anak mengatur perilaku mereka dan menjaga mereka dari bahaya sekaligus mendukung disiplin yang sehat. Mulai dari menunjukkan dan mempraktekkan mana yang benar dan mana yang salah hingga menerapkan metode “time-out” sebagai hukuman bagi anak.

    Terlepas dari rekomendasi AAP, ada 5 hal yang perlu diingat bagi para orangtua saat menerapkan disiplin positif pada anak, antara lain:

    1. Konsisten. Anak-anak, terutama anak usia dini memang masih kanak-kanak. Terkadang mereka belum memahami sepenuhnya nilai yang ingin ditanamkan orangtuanya. Oleh karena itu orangtua perlu menyampaikan nilai atau aturan secara jelas dan konsisten. Pastikan juga orangtua menjelaskan aturan sesuai dengan usia anak agar mereka lebih mudah memahaminya.

    2. Berulang-ulang. Selain bermain, anak-anak cenderung lebih mudah melupakan hal-hal lain yang tidak menarik perhatian mereka, maka selain menyampaikan aturan secara jelas dan konsisten, sampaikan juga secara berulang. Terutama bagi anak usia dini, orangtua jangan bosan-bosannya untuk selalu mengulang hal yang sama berkali-kali hingga anak memahaminya.

    3. Feedback. Ini hal yang perlu didengar oleh anak-anak. Mereka perlu mengetahui kapan mereka melakukan sesuatu yang buruk dan kapan mereka melakukan sesuatu yang baik. Tidak hanya menegurnya saat melakukan hal yang tidak baik atau tidak sesuai dengan nilai-nilai yang disepakati saja, namun berilah juga apresiasi saat anak telah melakukan suatu hal yang baik. Orangtua perlu memberikan pujian saat anak berhasil melakukan sesuatu yang baik atau sedang berusaha untuk tidak melakukan hal buruk.

    4. Mendengarkan. Mendengarkan adalah hal yang penting. Berilah kesempatan pada anak untuk menyelesaikan cerita atau alasan mereka sebelum memberikan teguran atau membantu memecahkan masalah. Kenali pula bilamana saat anak-anak menunjukkan perilaku buruknya, apakah perilaku yang tidak baik itu muncul saat dalam pola-pola tertentu, seperti misalnya saat mereka sedang merasa iri atau saat sedang mengantuk. Diskusikan tentang hal ini pada anak, bukan hanya sekedar memberikan konsekuensi atau penalti.

    5. Time-out. Salah satu hukuman dengan metode hukuman terbaik yang dapat diterapkan pada anak-anak ketika melanggar aturan tertentu, menurut AAP. Metode ini menunjukkan pada anak bahwa mereka akan mendapatkan time-out jika tidak berhenti melakukan sesuatu yang melanggar aturan, menegur atas kesalahan yang telah mereka lakukan dengan kata-kata dan emosi sesedikit mungkin, dan membawa mereka keluar dari apapun yang sedang mereka lakukan saat itu dalam durasi tertentu. Menurut AAP durasi yang tepat adalah 1 menit per berapa tahun usia anak. Sedangkan pada anak-anak yang berusia minimal 3 tahun, Anda dapat mencoba membiarkan mereka memilih sendiri berapa lama mereka akan melakukan time-out. Orangtua dapat menyampaikan, “Pergi ke kamar dulu dan kembali lagi ke sini saat kamu telah merasa siap dan dapat mengendalikan diri.” Strategi ini sekaligus dapat membantu anak belajar dan mempraktikkan keterampilan manajemen diri. Orangtua dapat menggunakan cara ini untuk anak yang lebih besar maupun remaja. (ntd/averiani)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Disiplin Sehat, Tanpa Membentak (Bagian 1): Regulasi bagi Orangtua

    Disiplin Sehat, Tanpa Membentak (Bagian 1): Regulasi bagi Orangtua

    Jika mendengar kata disiplin, dalam benak kita mungkin akan langsung tertuju pada semacam bentuk hukuman. Konotasi ini tidak sepenuhnya salah mengingat sering ditemukannya suatu hukuman “fisik” pada anak yang tidak mematuhi aturan. Sebenarnya bentuk disiplin yang efektif pada anak membutuhkan lebih dari sekedar hukuman. Dia memerlukan perhatian, pendekatan, dan hubungan yang baik antar anak dan orang tua.

    Sebenarnya apakah arti disiplin itu sendiri? Jika kita mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesa maka kita akan mendapatkan arti: 1. tata tertib; 2. ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan. Sedangkan dalam Wikipedia disebutkan bahwa disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya merupakan tanggung jawabnya.

    Bila disimpulkan, suatu bentuk disiplin adalah bentuk ketaatan terhadap nilai-nilai yang dipercaya orangtua, yang ingin diajarkan pada anaknya agar terus dianutnya hingga dewasa. Oleh karena itu, kita sebagai orangtua perlu memahami dengan benar nilai-nilai yang akan kita ajarkan, sehingga saat mengajarkan kedisiplinan pada anak, kita dapat meyakinkan nilai-nilai itu sebelum belajar menerapkannya.

    Tom Beardshaw dari Fathers Direct menyebutkan bahwa disiplin yang efektif membutuhkan perhatian positif dan hubungan yang baik. Maka, menerapkan kedisiplinan tidak perlu dengan membentak atau memukul, karena akan berakibat negatif padanya. Beberapa penelitian telah membuktikan efek negatif ini, terutama pada anak usia dini. Namun demikian, menghadapi anak saat melakukan kesalahan atau melawan dengan kepala dingin, memang tidak semudah berbicara.

    Beberapa hal yang perlu diperhatikan para orangtua. saat akan mengajarkan nilai-nilai yang ingin ditaati oleh anak-anak.

    Regulasi emosi

    Sebagai pendidik, pertama-tama, orangtua mutlak harus belajar meregulasi emosi diri sendiri. Karena emosi tidak akan memecahkan masalah. Saat Anda merasakan emosi mulai menguasai diri, berilah ruang yang cukup pada diri sendiri, agar Anda tetap dapat berpikir dengan jernih dan kepala dingin. Diam sejenak atau meninggalkannya untuk sementara adalah beberapa cara yang dapat dilakukan saat “darah mulai meninggi”.

    Cara lain untuk melatih regulasi emosi yakni dengan melakukan aktivitas hening atau mindfullness -seperti meditasi-  secara rutin dan teratur. Isilah pikiran Anda dengan hal-hal yang baik dan menenangkan. Karena ketika kita selalu menjaga pikiran kita agar terus berada dalam kondisi tenang dan damai, saat Anda menemukan masalah, Anda telah terbiasa dan memiliki waktu yang cukup untuk berpikir dengan tenang. Cara ini tidak hanya dapat digunakan saat menghadapi masalah dengan anak Anda, namun juga saat menghadapi masalah-masalah lainnya secara umum.

    Kesepakatan kedua orangtua

    Untuk mengajarkan suatu nilai pada anak, kedua orangtua harus sepakat terlebih dahulu. Apa saja hal-hal yang harus diterapkan, bagaimana menerapkannya, atau hal-hal apa saja yang dirasa perlu menerapkan hukuman, dan lain sebagainya.

    Namun ada kalanya pasangan juga berbeda pandangan meskipun telah melakukan diskusi bersama. Maka saat salah satu orangtua menerapkan nilai yang dirasa kurang, ada baiknya pasangan tetap mendukung. Anda dapat menyampaikan keberatan setelah pasangan selesai dengan anak Anda,

    Bersedia berproses

    Orangtua juga harus siap untuk terus berproses. Karena nilai-nilai yang diajarkan pada anak umumnya berubah atau bertambah seiring dengan usia anak. Jika kita merasa telah melakukan kesalahan atau ada hal-hal yang terlewatkan saat anak masih di usia dini, jangan berkecil hati. Anda hanya perlu menerapkan secara perlahan.

    Tidak ada kata terlambat untuk melatih disiplin pada anak. Karena mengajarkan disiplin tidak hanya berhenti di masa lalu, namun juga saat ini, dan di masa depan. Cecilia H.E Sinaga pada webinar “Tips Agar Si Kecil Memahami Aturan & Disiplin Tanpa Harus Marah Atau Membentak” menyampaikan “Tidak ada kata terlambat untuk mendisiplinkan anak. Kesalahan atau segala sesuatu yang kurang tepat yang dilakukan sebelumnya, masih tetap dapat diubah. karena anak2 masih dalam usia pertumbuhan atau perkembangan, jadi pembentukan karakter tidak terjadi di belakang, tetapi sekarang, dan juga ke depan.”

    Satu hal lagi yang perlu diingat oleh orangtua adalah, anak hanya meniru orangtuanya. Segala tindakan, persepsi, maupun nilai yang kita lihat pada diri anak sebenarnya adalah cerminan dari diri kita. Maka, melatih atau mengajarkan disiplin pada anak, sebenarnya sedang melatih atau mengajarkannya pada diri sendiri. (ntdindnesia/averiani)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI