Tag: nilai

  • PODCAST Nilai dari Sebuah Ketulusan

    PODCAST Nilai dari Sebuah Ketulusan

    Suatu kali selama liburan, seorang murid di asrama sekolah, meminta ijin untuk pulang ke desanya.

    Di dalam perjalanan, dia menemukan sebuah sumur yang airnya sangat jernih, kebetulan saat itu dia juga kehausan, jadi dia meminum air dari sumur tersebut.

    Ternyata airnya sangat menyegarkan dan terasa manis.

    Dia langsung teringat pada gurunya di asrama, dan bermaksud ingin membawakan air sumur itu untuk gurunya.

    PODCAST

    Jadi dia mengeluarkan sebuah kantong kulit, dan mengisinya dengan air sumur tersebut.

    Dia kemudian berjalan kembali ke asrama sekolahnya.

    Sampai di asrama, dia menceritakan semuanya kepada gurunya di sana, lalu kemudian menawarkan kantong kulit berisi air segar itu pada gurunya.

    Sang guru meminumnya, tersenyum, lalu berkata: 

    “Luar biasa, sungguh air ini terasa manis dan menyegarkan. Setelah meminumnya, saya merasa segar kembali.”

    Sang murid merasa senang mendengar pujian gurunya. Lalu dia kembali meminta ijin untuk pulang ke desanya.

    Setelah murid itu pergi, seorang murid lain di asrama yang mendengar percakapan mereka, datang menghampiri sang guru, dan menyatakan keinginannya untuk meminum air yang menyegarkan tersebut.

    Sang guru kemudian memberikan kantong kulit itu kepadanya.

    Segera setelah hanya sedikit meminumnya, murid itu berkata pada gurunya: 

    “Guru, air ini sangat pahit, dan tidak menyegarkan sama sekali. Mengapa tadi guru memuji dia untuk air ini?”

    Sang guru menjawab: 

    “Nak, tidak penting apakah air ini manis dan menyegarkan atau tidak. Yang terpenting adalah perasaan dan ketulusan hati dari orang yang memberinya. Saat dia meminum air itu, dan merasakan kalau airnya manis dan menyegarkan, dia langsung teringat pada guru, dan ingin membagikan kesegaran air itu kepada guru. Perasaan dan ketulusan hatinyalah yang penting. Sama sepertimu, guru juga tahu air itu rasanya pahit, tapi mungkin saja perubahan air itu karena dia menaruhnya di sebuah kantong kulit. Dan karena jarak dari sumur itu ke tempat ini cukup jauh, mungkin saja rasa airnya berubah di tengah jalan. Tadi itu, guru bukan memuji air yang diberikan, tadi guru berterima kasih dan memuji ketulusan yang dia berikan untuk gurunya.” 

    Dalam memberikan suatu benda kepada orang lain, ketulusan dan keikhlasan, adalah lebih penting dari benda itu sendiri.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Saksikan video kami:

    Youtube ☛ www.youtube.com/ntdkehidupan
    Dailymotion ☛ www.dailymotion.com/ntdkehidupan
    Facebook ☛ https://web.facebook.com/ntdkehidupan​
    Terhubung dengan kami di Twitter ☛ twitter.com/indonesia_ntd
    Youmaker ☛ https://www.youmaker.com/c/ntdkehidupan

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

    VIDEO REKOMENDASI

  • Bagaimana Saya Mengajar Anak-Anak Mengikuti Jejak Saya Menjadi Pengusaha

    Bagaimana Saya Mengajar Anak-Anak Mengikuti Jejak Saya Menjadi Pengusaha

    Dengan empat strategi ini, Anda dapat memberi pengaruh secara langsung dalam pembentukan generasi wirausahawan sukses melalui pola asuh.

    Tidak hanya ingin menjadi pemimpin dalam bisnis, tetapi Anda juga ingin membesarkan anak-anak yang mampu melakukan hal yang sama atau bahkan lebih baik untuk diri mereka sendiri. Masalahnya, tentu saja, ketika Anda harus bekerja 16 jam sehari karena tuntutan bisnis, maka waktu untuk keluarga tentunya berada dalam urutan kedua. Hal tersebut wajar, namun tidak sehat.

    Coba Anda pikirkan: waktu Anda bersama anak saat mereka masih kanak-kanak hanya sementara. Dalam sekejap mata, mereka telah memiliki kehidupan sendiri, dan Anda telah kehilangan banyak hal jika tidak berpartisipasi secara aktif dalam tumbuh kembangnya.

    Triknya adalah mencari cara untuk menyertakan keluarga Anda dalam seluruh kehidupan Anda, bahkan saat mendedikasikan diri untuk bisnis. Ketika saya menengok kembali masa-masa saat membesarkan anak-anak, saya mengenali empat strategi utama dalam pola pengasuhan yang membantu mereka menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan sukses seperti sekarang ini.

    ⦁ Tepati ucapan Anda

    Jika Anda mengatakan akan melakukan sesuatu, lakukanlah. Jangan membuat ancaman kosong atau janji-janji “palsu.” Anak-anak suka kepastian, bukan menduga-duga bagaimana reaksi ibu atau ayah mereka dalam situasi baru. Jangan katakan padanya Anda akan mengambil semua mainan mereka dan kemudian hanya mengambil truk pemadam kebakaran; jangan katakan mereka tidak punya waktu bermain katakan saja, mereka harus membantu ibu mencuci pakaian. Jangan katakan jika mereka tidak membersihkan kamar, mereka akan menghabiskan waktunya sepanjang hari Sabtu di dalam kamar hingga kamarnya dibersihkan.

    Hal itu akan menghukum Anda juga! Hanya berikan ancaman hukuman yang pasti akan Anda lakukan. Bahkan, terkadang lebih baik tidak mengancam sama sekali. Cukup dengan konsisten dan berikan konsekuensi yang dapat diprediksi.

    Lakukan apa yang Anda katakan dan katakan apa yang Anda maksudkan, setiap saat. Ketika mereka tahu apa yang diharapkan dari Anda sebagai orangtua, Anda akan melihat anak-anak Anda lebih nyaman mendekati Anda dengan kejujuran dan rasa hormat. Ini memberi mereka kepastian dan mengajarkan pada mereka cara menepati janji adalah penting, bahkan ketika hal itu sulit.

    Juga, jadilah orang yang dapat diandalkan ketika anak-anak melewatkan waktu bersama Anda, seperti menjadikan makan malam keluarga sebagai prioritas. Berusaha agar ikut bergabung dengan keluarga saat makan malam memberi Anda waktu yang dapat diandalkan sekitar satu jam atau lebih atau waktu untuk saling bercerita pengalaman masing-masing.

    Manfaatkan waktu yang dijadwalkan seperti ini setiap hari. Berusaha selalu ada saat makan malam juga mengajarkan pada anak kehormatan dan integritas karena mereka akan menyadari bahwa Anda menepati janji. Dan ini memberikan mereka bonus yang lebih besar yakni: prediksi.

    ⦁ Libatkan mereka saat Anda bekerja

    Jika bisnis Anda menjauhkan diri Anda dari anak-anak, buatlah anak-anak lebih terlibat dalam bisnis Anda. Biarkan mereka menyapu, merapikan kotak, membersihkan meja, atau menempelkan stiker pada barang-barang. Jika mereka dapat menangani lebih banyak tanggung jawab, tingkatkan levelnya, biarkan mereka mengemas pesanan atau melakukan beberapa entri data.

    Mulailah ketika mereka masih kecil, dan pada saat mereka lulus SMA, mereka akan memiliki pengalaman dalam pengiriman, penerimaan, jalur produksi, administrasi kantor, komputer berbagai macam pekerjaan yang berbeda.

    Bagaimana Anda akan menjawab pertanyaan “Anda ingin menjadi apa kalau sudah besar?” jika belum mencoba apa pun? Ketika saya masih muda, ibu saya memiliki salon, dan saya membantunya membuat janji dan menjual produk kepada pelanggannya, sebuah pengalaman yang mengajarkan pada saya bahwa saya pandai berurusan dengan orang lain.

    Saya melakukan hal yang sama untuk anak-anak saya, dan sekarang, setelah dewasa, tidak ada kegagalan pada mereka. Bukan karena mereka tidak pernah gagal, tetapi karena setidaknya ada 10 pekerjaan lain yang bisa mereka lakukan, dan mereka beradaptasi dengan kegagalan tanpa berhenti.

    ⦁ Beri mereka tanggung jawab di luar pekerjaan

    Membuat anak melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai seperti memasukkan pasak persegi ke dalam lubang bundar. Daripada memaksanya, biarkan anak-anak menemukan kesukaan mereka dengan memberi mereka tanggung jawab di sekitar rumah. Biarkan mereka membantu Anda mengganti ban atau mencuci mobil.

    Mereka mungkin tidak melakukannya persis seperti yang Anda inginkan, tetapi intinya adalah mereka mendapatkan pengalaman dan membiarkan bakat mereka muncul secara alami. Jika mereka menyukai keterampilan itu, mereka akan meminta untuk melakukannya lagi keesokan harinya.

    Semakin Anda memupuk keinginan mereka untuk berkembang di suatu area, semakin banyak keterampilan yang akan mereka kembangkan. Setelah Anda mengetahui apa yang mereka sukai, biarkan mereka benar-benar menggalinya. Mungkin mereka senang membantu Anda mengemasi barang belanjaan saat Anda pergi ke supermarket, jadi tanyakan kepada manajer apakah mereka mungkin dapat mempertimbangkan mempekerjakan anak Anda untuk membantu dalam pengemasan.

    Ini bukan posisi yang paling glamor, tetapi mungkin menuntunnya untuk menjalankan toko kelontong suatu hari nanti. Jika dia tidak menyukainya setelah satu bulan, tidak masalah — lanjutkan ke tugas berikutnya. Ada banyak keterampilan yang berbeda untuk dipelajari sepanjang “perjalanan” mereka, masing-masing tugas akan membantu anak Anda mengetahui apa yang dia suka dan bagaimana melakukannya dengan baik.

    ⦁ Bantu anak-anak mempelajari nilai dari usaha mereka

    Melibatkan anak-anak dalam perkerjaan itu bagus, tetapi ini hanya setengah dari tugas Anda. Anda perlu memberi mereka penghargaan atas segala usaha yang mereka lakukan. Ini mengajarkan mereka apapun pekerjaan yang mereka lakukan itu berharga, dan bisa dalam berbagai bentuk — bisa uang, tetapi juga bisa hadiah, pergi berbelanja ke toko atau janji untuk melakukan kegiatan favorit bersama mereka. Tentu saja, dengan mempertimbangkan adanya prediksi, aspek terpenting bagi Anda sebagai orangtua adalah menindaklanjuti komitmen Anda, bahkan ketika Anda tidak ingin melakukannya.

    Misalnya, cucu saya. Dia sangat suka naik sepeda motor saya, lebih dari apapun. Setelah beberapa hari berperilaku buruk, saya menjanjikannya naik sepeda motor jika dia berperilaku baik sepanjang hari, dan dia melakukan perilaku sempurna selama tiga hari berturut-turut. Saya lelah di hari ketiga, tetapi saya menepati janji saya.

    Bahkan membelikannya mainan seharga 40 ribu yang pada akhirnya akan rusak, namun tetap mengakui usahanya dan ini akan sangat berharga baginya. Anak-anak yang mempelajari nilai mereka, akan tumbuh menjadi orang dewasa yang tahu bagaimana menghasilkan nilai yang baik juga.

    Inti pentingnya

    Tidak pernah terlalu dini untuk mulai mengajarkan anak-anak Anda nilai kerja keras. Beri mereka alat yang mereka butuhkan untuk menjadi sukses segera setelah mereka mampu menanganinya. Mereka pasti akan membuat kesalahan, tetapi setiap kegagalan akan membawa mereka lebih dekat pada kesuksesan saat mereka terus berusaha untuk mencapai apa pun yang mereka rencanakan. Ketika anak-anak mempelajari pelajaran ini di usia muda, mereka cenderung mengingatnya dan membawanya pada masa dewasa dan karier mereka.

    Jangan hanya meminta anak-anak menggunakan “alat” tersebut. Luangkan waktu untuk menunjukkan cara menggunakannya. Berilah contoh. Kemudian, biarkan mereka mencoba menggunakan apa yang telah mereka pelajari dari Anda.

    Bahkan saat terasa tidak nyaman atau saat Anda melakukannya sendiri, pekerjaan akan lebih cepat selesai, namun Anda perlu menahan diri untuk tidak menghilangkan kontribusi anak-anak hanya agar Anda dapat menyelesaikan sesuatu dengan lebih efisien.

    Jika anak Anda mendapat tugas mencuci piring dan masih kotor, cucilah kembali nanti saat anak Anda tidak melihat. Jika anak Anda terlalu lama mengganti ban, tunggulah dengan sabar dan biarkan dia menyelesaikannya. Anak-anak yang merasa diperbolehkan untuk berkontribusi akan memiliki kepercayaan diri dan kemauan untuk berkontribusi kepada masyarakat setelah dewasa.

    Semakin Anda mendorong kontribusi tersebut, semakin Anda memberi mereka kesempatan untuk membantu dan mengajari mereka bagaimana menjadi sukses dengan mencontoh nilai-nilai dan perilaku yang benar, semakin jauh anak-anak Anda akan melangkah menuju karir apa pun yang mereka pilih nantinya. (theepochtimes/chrisestey/sia/feb)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • PODCAST Seekor Elang dan Seekor Penguin

    PODCAST Seekor Elang dan Seekor Penguin

    Seekor penguin sedang berdiri di tepi air ketika dia menatap seekor elang yang sedang terbang membumbung tinggi di angkasa.

    PODCAST

    Dia berpikir: “Sungguh burung yang luar biasa, dia bisa terbang tinggi di angkasa. Betapa beruntungnya menjadi seekor elang, hhh…..”

    Dia mengamati elang tersebut dengan sangat kagum selama beberapa saat dan kemudian menatap sayapnya sendiri dengan sedih dan penuh kekecewaan.

    “Pasti akan sangat luar biasa jika saya juga bisa terbang tinggi di angkasa seperti si elang. Andai saya menjadi seekor elang… Ah sudahlah, lebih baik saya segera mencari makanan saja, daripada terus bersedih.”

    Si penguin kemudian melompat ke air, dan dengan gesit berenang, memburu ikan-ikan kecil yang ada di sana, berkat kegesitannya di dalam air, si penguin langsung berhasil mendapat seekor ikan kecil.

    Tanpa disadari oleh si penguin, jauh di atas sana, si elang sedang menunduk dan melihat seekor penguin yang berenang dengan begitu anggun dan gesit di dalam air, yang dapat dengan mudah menangkap ikan kecil untuk dimakan.

    Elang itu berpikir:

    “Luar biasa sekali si penguin itu, dia mampu berenang dengan begitu anggun dan gesit di dalam air, dan dengan mudah saja menangkap mangsa, tidak seperti saya harus kepanasan dan harus berupaya keras untuk bisa menangkap mangsa.”

    Elang itu mengamati si penguin dengan penuh kekaguman selama beberapa saat, lalu melihat sayapnya sendiri, bertanya-tanya pada diri sendiri apakah sayapnya juga bisa berfungsi di dalam air. Elang itu kemudian berpikir lagi:

    “Pasti akan sangat luar biasa, jika saya juga bisa berenang segesit itu. Andai saya menjadi seekor penguin… Ah sudahlah, lebih baik saya segera mencari makanan.”

    Lalu si elang terbang pergi menjauh mencari mangsa.

    Kadang, kita melihat kelebihan orang lain yang menjadi iri hati, namun siapa yang tahu bahwa mungkin orang lain sesungguhnya merasa iri pada suatu kelebihan yang kita miliki.

    Penguin menjadi penguin karena suatu alasan, elang juga menjadi elang karena suatu alasan. Mereka diciptakan sempurna dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Karena itu, yakinlah bahwa Anda juga diciptakan sempurna dengan segala kekurangan dan kelebihan Anda. Syukurilah diri Anda apa adanya.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

  • PODCAST Petugas Pembersih yang Belajar Menerbangkan Pesawat

    PODCAST Petugas Pembersih yang Belajar Menerbangkan Pesawat

    Seorang pembersih pesawat sedang membersihkan kokpit pilot, saat itu dia melihat sebuah buku berjudul, “Bagaimana Menerbangkan Pesawat untuk Pemula Volume 1” di bawah kursi pilot.

    PODCAST

    Merasa tertarik, dia mengambil buku tersebut. Setelah hanya melihat sampulnya, dia langsung yakin bahwa dia akan mampu menerbangkan pesawat dengan bantuan buku itu.

    Jadi dia mulai membaca buku tersebut.

    Dia membuka halaman pertama yang menjelaskan:

    “Untuk menghidupkan mesin, tekan tombol merah!”

    Dia melakukannya, dan mesin pesawat mulai hidup.

    Dia merasa senang dan segera membuka bagian petunjuk selanjutnya.

    “Untuk membuat pesawat bergerak, dorong maju tuas di tengah kursi!”

    Dia melakukannya, dan pesawat itu mulai bergerak maju.

    Lalu kini, dia merasa ingin benar-benar terbang, jadi dia membuka bagian berikutnya yang menjelaskan:

    “Untuk membuat pesawat terbang, tarik tuas kemudi ke belakang!”

    Dia melakukannya dan pesawat mulai terbang.

    Dia sangat senang dan penuh semangat.

    Setelah sekitar tiga puluh menit terbang, dia merasa puas, dan ingin mendarat, jadi dia memutuskan untuk membaca bagian terakhir.

    Ternyata di bagian akhir buku, tertulis:

    “Untuk mengetahui cara mendaratkan pesawat, silahkan beli Volume 2 di toko buku terdekat!”

    Kadang, mengetahui hanya sebagian informasi, lebih berbahaya daripada tidak mengetahuinya sama sekali.

    Jadi, pastikan Anda sudah memiliki cukup informasi, sebelum mengambil sebuah langkah yang besar!

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

  • PODCAST Nilai dari Sebuah Batu

    PODCAST Nilai dari Sebuah Batu

    Suatu hari, seorang anak laki-laki bertanya kepada ayahnya tentang nilai dari hidupnya. Alih-alih menjawab, sang Ayah justru mengeluarkan sebuah batu yang terlihat unik, dan menyuruh putranya membawa batu tersebut dan menjualnya di pasar.

    PODCAST

    Ayahnya berpesan pada anaknya:
    “Nak, jika ada yang bertanya berapa harganya, angkat saja dua jarimu dan jangan katakan apa-apa ya, lalu bawa pulang lagi batu itu kesini. Apakah kamu mengerti?”

    Anak itu pun mengangguk.

    Di pasar, ia bertemu dengan seorang wanita. Wanita ini memperhatikan batu unik di tangan anak ini, lalu bertanya:
    “Hai bocah, batu yang kamu pegang itu kelihatannya bagus. Berapa harganya? Saya ingin memakainya untuk hiasan di kebun saya!”

    Sang anak tidak mengatakan apa-apa, dan hanya mengangkat dua jarinya.
    Wanita itu lalu berkata:
    “Oh, dua puluh ribu rupiah ya, boleh juga, baiklah, saya beli.”

    Tapi anak itu pun segera kabur dari hadapan si wanita. Ia lari pulang ke rumah, dan memberitahu Ayahnya bahwa ada seorang wanita ingin membeli batu itu dengan harga dua puluh ribu rupiah.

    Ayah pun berkata lagi:
    “Sekarang, coba kamu bawa batu itu ke museum, dan jika ada yang ingin membelinya, jangan ucapkan sepatah katapun, cukup angkat dua jarimu!”

    Anak itu kemudian pergi ke museum. Disana, ada seorang pria yang ingin membeli batu itu. Anak itu tidak mengatakan sepatah katapun dan hanya mengacungkan dua jari. Pria itu lalu berkata,
    “Dua juta? Boleh, saya beli, batu itu akan menjadi koleksi yang bagus di museum ini.”

    Anak itu terkejut dan berlari pulang, lalu dia memberitahu ayahnya bahwa seorang pria ingin membeli batu itu seharga dua juta rupiah!
    Ayahnya kemudian berkata:
    “Nah, terakhir Ayah ingin kamu membawa batu itu ke toko batu-batu berharga. Tunjukkan batu itu, dan jika ada yang menanyakan harganya, jangan ucapkan sepatah katapun, cukup angkat dua jari!”

    Anak itu kemudian pergi ke toko batu berharga. Dia menunjukkan batu itu kepada pemiliknya. Pemilik toko berkata:
    “Wah Nak, dimana kamu menemukan batu ini? Ini adalah salah satu batu paling langka di dunia, saya harus memilikinya. Berapa kamu mau menjualnya?”

    Anak itu tidak berkata apa-apa, dan hanya mengangkat dua jarinya.

    “Dua ratus juta, baiklah, itu harga yang pantas untuk sebuah batu langka. Saya beli.”

    Sang Anak sangat terkejut, dia lalu berlari ke rumah menemui Ayahnya lagi.
    Dia menjelaskan bahwa ada yang ingin membeli batu itu seharga dua ratus juta rupiah.

    Kini Ayahnya tersenyum, lalu berkata: “Nah Nak, apakah kamu sudah tahu nilai hidupmu sekarang?”

    Setiap orang itu unik, dan memiliki nilai yang luar biasa dalam dirinya sendiri, asalkan ia mampu dan ditempatkan di posisi yang tepat. Kita dapat memilih sendiri hendak menempatkan diri di sekeliling orang-orang yang menganggap kita senilai dua puluh ribu rupiah, atau dua ratus juta rupiah. Pilihlah hal itu dengan bijak, karena itu akan membuat perbedaan besar dalam hidup kita. Seperti sebuah ungkapan bahasa Inggris: The Right Man on The Right Place.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

  • PODCAST Nilai Uang Seratus Ribu Rupiah

    PODCAST Nilai Uang Seratus Ribu Rupiah

    https://youtu.be/6ZRsLfHUAxM

    Seorang pembicara terkenal memulai seminar dengan memegang selembar uang baru seratus ribu rupiah yang masih kaku dan sangat bersih.

    PODCAST

    Dalam ruangan yang penuh dengan orang-orang, dia bertanya:
    “Apakah ada yang mau memiliki uang 100 ribu rupiah ini? Silahkan angkat tangan Anda jika mau!”

    Semua orang mengangkat tangan di ruangan tersebut.
    Dia kemudian meremas uang kertas itu dan mengubah bentuknya menjadi bola kecil, lalu bertanya lagi kepada orang-orang di ruangan:
    “Apakah ada yang mau memiliki uang 100 ribu rupiah ini? Silahkan angkat tangan Anda jika mau!”

    Semua orang di dalam ruangan, kembali mengangkat tangannya.
    Dia kemudian menjatuhkan uang itu ke lantai dan mulai menginjak-injak uang tersebut. Kemudian dia mengambil uang kertas yang sudah kotor dan kusut tersebut, lalu bertanya lagi: “Apakah ada yang mau memiliki uang 100 ribu rupiah ini? Silahkan angkat tangan Anda jika mau!”

    Kembali, semua orang di dalam ruangan mengangkat tangannya.
    Pembicara itu kemudian berkata:
    “Hari ini kita semua telah memetik pelajaran yang berharga. Apa pun yang saya lakukan pada uang kertas tersebut, Anda tetap menginginkannya karena uang itu tidak pernah kehilangan nilainya.”

    “Sering kali dalam hidup kita, kita dijatuhkan, diperlakukan tidak adil, dan bahkan dihina oleh karena keputusan yang kita buat atau keadaan yang menghadang kita. Kita mungkin merasa seperti tidak berharga dan tidak berdaya, tetapi tidak peduli apa yang terjadi atau apa yang akan terjadi, Anda tidak akan pernah kehilangan nilai Anda sendiri, asalkan Anda menyadari bahwa diri Anda berharga.”

    Manusia adalah mahluk hidup yang paling berharga di dunia ini. Sesama manusia pada prinsipnya memiliki nilai yang sama, tidak memandang suku, ras ataupun agamanya. Yang membuat perbedaan adalah kesadaran dari masing masing orang yang menambahkan nilainya dalam kehidupan. Semakin bernilai seseorang, dibuktikan dengan kehidupannya yang semakin bermanfaat bagi orang lain. Namun sebaliknya, semakin kecil nilai seseorang, semakin kurang bermanfaat orang tersebut dalam kehidupan.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

  • Nilai dari Berpikiran Luas

    Nilai dari Berpikiran Luas

    Selama periode Musim Gugur dan Musim Semi ( 770 – 476 SM), Raja Liang tidak bisa memutuskan bagaimana untuk menangani sebuah kasus. Dia dan pejabat-pejabatnya terbelah antara menjatuhi hukuman pada terdakwa atau membebaskan mereka.

    Sang Raja pun memanggil Fan Li, seorang pria yang terkenal akan kebijaksanaannya, untuk meminta nasihat.

    “Saya hanya seorang manusia biasa,” kata Fan. “Saya tidak tahu bagaimana untuk mengadili sebuah kasus.”

    “Tetapi saya memiliki dua buah potong giok di rumah. Kedua-duanya berwarna sama, dan memiliki berat dan tinggi yang sama. Tetapi, satunya bernilai ribuan keping emas dan yang satunya hanya 500 keping emas.”

    “Kenapa?” tanya sang raja.

    “Karena satunya lebih lebar, dan dua kali lebarnya dari yang satunya.”

    Sang raja memahami pesan dari Fan, dan membebaskan si terdakwa.

    Sejak itu, Raja Liang akan memaafkan orang bilamana alasannya bisa diterima dan menghadiahkan mereka yang pantas menerimanya. Alhasil, rakyatnya merasa sangat bahagia.

    Membakar Surat Pembangkang

    Cao Cao bertarung melawan Yuan Shao dalam perang besar pada masa akhir Dinasti Han. Yuan Shao memiliki jumlah pasukan lebih banyak, tetapi Cao Cao bisa mengalahkannya.

    Tentara Cao Cao menemukan beberapa surat dari para pejabat militer Cao-Cao yang berniat untuk membelot ke Yuan, dan melaporkan keberadaan surat-surat tersebut kepada Cao-Cao.

    Cao Cao memerintah tentara yang menemukan surat-surat itu untuk membakar surat-surat tersebut tanpa membacanya.

    Para tentara itu tidak memahaminya.

    “Kenapa Anda tidak memeriksa surat-surat itu dan membunuh para pembangkang?” tanya mereka.

    “Yuan Shao sangat hebat bahkan saya tidak tahu apakah bisa memenanginya. Bagaimana saya berharap orang yang waras bisa sepenuhnya setia kepada saya?”

    Mereka sangat tersentuh dan cerita itu tersebar luas. Bahkan pada akhirnya, sejumlah kota dibawah kekuasaan Yuan Shao menyerah kepada Cao Cao.

    Membalas Kejahatan dengan Kebaikan

    Song Jiu adalah seorang Bupati dari Kerajaan Liang selama Periode Musim Gugur dan Musim Semi. Kabupaten yang dia pimpin berada di sebelah Kerajaan Chu.

    Kedua kerajaan itu mengirimkan pasukan di perbatasan.

    Tentara dari kedua pihak menanam melon. Akan tetapi, melon dari tentara Liang tumbuh subur karena para tentara menyiraminya setiap hari. Melon-melon tentara Chu tidak tumbuh subur karena tidak disirami.

    Pihak eksekutif Kabupaten Chu memarahi tentara mereka karena tidak merawat melon mereka sebaik tentara Liang.

    Untuk merespon hal ini, tentara Chu sering pergi ke kamp militer Liang pada malam hari untuk menghancurkan melon-melon mereka.

    Tentara Liang mengetahui apa yang terjadi, dan meminta Song Jiu agar memperbolehkan mereka pergi ke kamp Chu untuk membalas dendam.

    “Itu bukan solusi yang bagus,” balas Song. “Membangun kebencian hanya akan menciptakan masalah bagi diri kalian sendiri. Kalian tidak bisa melakukan hal-hal jahat hanya karena orang lain melakukan kejahatan.”

    Dia melanjutkan, “Biarkan saya memberikan solusi baik kepada kalian. Mulai sekarang, kirimkan seseorang ke kamp Chu setiap malam untuk menyirami melon mereka. Tetapi jangan sampai ketahuan oleh mereka.”

    Tentara Liang melakukan apa yang diperintahkan, dan tidak lama kemudian, tentara Chu melihat bahwa melon-melon mereka tumbuh lebih baik. Akhirnya, mereka mengetahui bahwa hal itu dikarenakan tentara Liang yang sering menyirami melon mereka setiap malam.

    Kepala Kabupaten Chu melaporkan kejadian ini kepada Raja Chu, yang merasa sangat malu.

    Dia pun mengirim setumpuk hadiah kepada Song Jiu sebagai tanda permintaan maaf dan menandatangani perjanjian damai dengan Raja Liang.

    Laozi berkata, “Membalas perbuatan jahat dengan perbuatan baik.” Sebuah pepatah Tionghoa memberitahu kita untuk “mengubah kekalahan menjadi kemenangan” dan “mendapatkan keberuntungan dari kesialan.”

    Kebijaksanaan ini sudah sangat jarang ditemukan di zaman sekarang ini.

    Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • PODCAST Apakah Anda Istri Tuhan?

    PODCAST Apakah Anda Istri Tuhan?

    Suatu hari, di musim yang sangat dingin, ada seorang bocah perempuan yang bertelanjang kaki, kotor dan kedinginan, sedang berdiri di luar sebuah toko sepatu sambil menatap sepatu yang dipajang.

    PODCAST

     Tak lama kemudian, pemilik toko menyadari kehadiran si bocah di depan tokonya, lalu keluar menghampirinya dan berkata:

    “Mengapa kamu memandangi jendela itu, nak?”

     Bocah itu menjawab:

    ”Ma,,maaf Tante, saya tidak memiliki sepatu, jadi saya sedang berdoa untuk meminta sepasang sepatu kepada Tuhan.”

     Wanita pemilik toko tersebut merasa kasihan, lalu membawanya masuk ke dalam toko. Ia pun membersihkan tubuh sang bocah yang kotor, lalu memilihkan sepasang sepatu yang cantik untuknya. Sambil tersenyum, ia berkata pada sang bocah:

     “Apakah kamu merasa lebih nyaman sekarang, nak?”

     Sang bocah tersenyum dan menjawab:

     “Terima kasih Tante, sekarang saya merasa hangat dan nyaman.”

     Kemudian, tiba-tiba sang bocah meraih tangan si wanita dan bertanya dengan sungguh-sungguh:

     “Apakah Anda istri Tuhan? Kini saya semakin percaya bahwa Tuhan itu ada, dan Tuhan itu baik.”

     Sang wanita tersenyum dan berkata:

    “Nak, saya bukan istri Tuhan. Saya adalah pembantunya. Kamu kan tadi meminta sepatu kepada Tuhan, nah, Tuhan lalu memberikan sepatu itu padamu lewat saya. Jadi, terimalah dan bersyukurlah pada Tuhan ya.”

    Jangan pernah berhenti  dan ragu untuk melakukan kebaikan pada orang lain, sekalipun itu hanya kebaikan kecil. Terkadang hal kecil itu justru menempati bagian terbesar di hati orang yang menerimanya, juga mampu mengubah semangat dalam hidupnya.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

  • PODCAST Pelajaran dari Persamaan yang Salah

    PODCAST Pelajaran dari Persamaan yang Salah

    Dalam satu pelajaran, seorang Ibu guru berkata: “Anak-anak, hari ini Ibu akan mengajarkan sebuah pelajaran penting untuk kalian.”

    PODCAST

    Selesai berkata, Ibu guru menulis di papan tulis:

    2×2 = 5

    2×3 = 6

    2×4 = 8

    2×5 = 10

    Setelah selesai menulis, dia melihat ke arah murid-muridnya. Sebagian besar muridnya tertawa.

    “Ada apa? Apa yang lucu? Mengapa kalian tertawa?”

    Satu orang murid berkata sambil tertawa:

    “Hahaha, Ibu guru salah tuh, lihat persamaan yang pertama, dua kali dua bukan lima Bu, tapi empat.”

    Ibu guru bertanya lagi:

    “Oh, lalu bagaimana dengan persamaan yang lain?”

    “Persamaan yang lain benar semua Bu, hanya satu itu saja yang salah.”

    Sang guru tersenyum, lalu berkata:

    “Ibu menulis persamaan pertama yang salah dengan sengaja. Ibu ingin kalian mengetahui bagaimana dunia nyata akan memperlakukan kalian. Kalian melihat bahwa tiga persamaan adalah benar, kecuali yang pertama. Tapi, tidak ada yang memuji Ibu karena sudah benar tiga.

    Kalian semua justru tertawa dan mengkritik Ibu karena satu kesalahan yang Ibu buat… Kalian tahu? Manusia memang cenderung hanya melihat kesalahan orang lain.

    Karena itu, jika suatu hari kalian menemui situasi seperti ini, jangan berkecil hati! Kalian harus bisa bangkit dan berbesar hati. Dengan begitu, kalian akan dapat menjalani hidup ini dengan kuat dan penuh percaya diri!”

    Dunia mungkin tidak akan memuji ribuan kebaikan yang kita lakukan, namun dunia akan mengkritik satu kesalahan yang kita buat. Kebesaran hati kita dalam menerima hal itu dan memaafkan kesalahan orang lain, akan membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

  • PODCAST Surat dari Seorang Terpidana Mati

    PODCAST Surat dari Seorang Terpidana Mati

    Seorang terpidana mati meminta ballpoin dan selembar kertas pada petugas kepolisian sebagai permintaan terakhirnya.

    PODCAST

    Sebelum eksekusi dilakukan, dia ingin meninggalkan beberapa kata.

    Selesai menulis, dia meminta petugas untuk mengirimkan surat yang ditulisnya itu kepada Ibunya.

    Surat itu berbunyi:

    “Ibu, jika ada keadilan di dunia ini, Ibu juga bersalah.

    Ibu juga harus bertanggung jawab atas apa yang telah saya lakukan.

    Ingatkah Ibu, ketika saya mencuri sepeda tetangga?

    Ibu tidak memarahi dan melarang saya, bahkan membantu saya menyembunyikannya, sehingga Ayah tidak tahu.

    Ingatkah Ibu, ketika saya mencuri uang dari sebuah toko?

    Ketika  polisi menginterogasi saya, Ibu tidak memberikan informasi yang sebenarnya,  bahkan membantu saya dengan memberikan kesaksian dan pernyataan palsu?

    Saya berbuat curang berulang kali saat ujian, dan membuat banyak masalah di sekolah, namun Ibu selalu membantu saya lepas dari rasa tanggung jawab itu, sampai sekolah mengeluarkan saya.

    Saat itu, Ayah sangat marah sampai ingin memberi saya pelajaran.

    Namun, lagi-lagi Ibu membantu saya menghindarinya.

    Semuanya terjadi sewaktu saya masih kecil.

    Lalu saya tumbuh menjadi seorang remaja yang memiliki segala kebiasan buruk.

    Dan kini, disinilah saya, menunggu eksekusi.

    Ibu, sejujurnya, yang saya butuhkan dalam hidup ini  adalah pelajaran untuk bisa membedakan benar dan salah, baik dan buruk.

    Namun, apa daya Bu, kini sudah terlambat, segalanya telah berakhir!

    Saya ingin menulis surat ini, supaya para Orangtua yang lain juga bisa membacanya.

    Semoga, mereka paham dan sadar akan pentingnya pendidikan moral untuk anak- anak  mereka di masa depan.

    Supaya kelak anak-anak mereka tidak tumbuh menjadi seorang pribadi dengan watak yang buruk, seperti saya.

    Terima kasih Ibu, telah memberi dan mengambil kehidupan saya!”

    Dari putramu yang terkasih.

    ———–

    Sebagai Orangtua, hendaknya kita sadar pentingnya memberi serta membekali pendidikan moral bagi anak -anak kita, sejak dari usia dini.

    Dengan moralitas yang baik, seseorang akan mampu membedakan baik – jahat, benar – salah, hal ini adalah berkah yang tak ternilai bagi seorang manusia untuk menjalani kehidupannya, dan itu akan membuat dunia disekitarnya semakin baik dan bermakna.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu