Tag: pla

  • Bukan Fiksi Lagi, Militer China Latih Robot Humanoid Dampingi PLA

    Bukan Fiksi Lagi, Militer China Latih Robot Humanoid Dampingi PLA

    China secara agresif memasukkan robot humanoid ke dalam barisan militernya. Didukung dominasi manufakturnya yang sangat besar, Tentara Pembebasan Rakyat China atau PLA mempersiapkan mesin-mesin ini untuk perang perkotaan.

    Upaya ini dimulai secara diam-diam pada 2024 ketika universitas terkemuka PLA menyelenggarakan forum tentang aplikasi militer untuk sistem humanoid. Pada 2025, lembaga-lembaga militer China mempelajari bagaimana robot humanoid dapat bekerja berdampingan dengan pasukan.

    Sebuah tinjauan Reuters terhadap lebih dari 100 dokumen militer China menemukan peningkatan penelitian tentang penggunaan robot humanoid di medan perang. Catatan pengadaan menunjukkan PLA sedang menguji robot dalam hal persepsi, manipulasi, dan kelangsungan hidup di medan perang.

    Kini, industri pertahanan China sedang mengembangkan sistem yang dapat dikendalikan dari jarak jauh oleh operator manusia. Grup Norinco China telah mengembangkan Fuxi, sebuah robot humanoid berukuran penuh yang dirancang untuk tugas penjagaan, pengintaian, patroli cerdas, dan pelaksanaan peran-peran berbahaya.

    Untuk saat ini, teknologi tersebut masih dalam tahap pengembangan. Namun para peneliti China mengatakan jika rintangan teknis utama dapat diatasi, robot humanoid pada akhirnya dapat diturunkan ke medan perang.

  • Drone Torpedo Diduga Milik China Ditemukan di Perairan Lombok

    Drone Torpedo Diduga Milik China Ditemukan di Perairan Lombok

    Sebuah drone misterius buatan China ditemukan perairan Indonesia pada hari Kamis. Para pejabat mengatakan drone tersebut mungkin adalah bagian dari upaya Beijing yang lebih luas untuk memetakan rute bawah laut utama. Seorang nelayan menarik perangkat berbentuk torpedo berwarna hitam itu di perairan dekat pulau wisata Lombok.

    Foto-foto menunjukkan bahwa itu mungkin adalah drone pengawasan bawah laut buatan China. Penemuan terjadi di dekat Selat Lambok, jalur air strategis yang menghubungkan Asia Tenggara dengan perairan dekat Australia.

    Informasi dasar laut sangat penting dan memberikan keuntungan bagi operasi kapal selam. Bahkan jika digunakan untuk penelitian sipil, informasi ini masih memiliki nilai militer dan intelijen, memberi kekuatiran bahwa kedaulatan bawah laut sebuah negara sedang diintervensi. Hal ini menyusul laporan bahwa Filipina juga telah menemukan drone bawah air China serupa dalam beberapa tahun terakhir.  

  • China Sebarkan Berita Palsu tentang Penyelamatan Pilot AS

    China Sebarkan Berita Palsu tentang Penyelamatan Pilot AS

    China menyebarkan informasi palsu tentang misi penyelamatan AS baru-baru ini di Iran. Memamerkan kekuatan militernya, AS sukses menyelamatkan dua pilot F-15 di Iran, menyoroti kemenangan operasional besar. Namun komunis China menyebarkan klaim palsu yang tampak selaras dengan narasi Iran di seluruh saluran media pemerintahannya.

    NTD menguji kata kunci pencarian seperti “pasukan AS” di mesin pencari terbesar China. Sebagian besar liputan tentang penyelamatan bernada negatif yang menggemakan narasi buatan Iran. Judul berita antara lain “mimpi dominasi udara AS hancur di Iran” dan “Iran mempublikasikan foto tentara AS yang tewas”.

    Ada juga berita yang menuduh AS menggunakan operasi tersebut sebagai pencurian bijih tambang di Iran. Tuduhan ini sepertinya didorong oleh kemenlu Iran.

    Pasukan khusus AS berhasil menyelamatkan kedua pilot yang jatuh di Iran meskipun Tehran menawarkan hadiah besar bagi yang bisa menangkapnya. Presiden Trump memerintahkan misi penyelamatan segera setelah intelijen AS memperoleh informasi. Dalam operasi militer AS kehilangan sebuah jet tempur dan beberapa pesawat lain.

    Media China menggambarkan kerugian besar mencapai ratusan juta dolar, namun banyak pengguna internet China berfokus pada fakta bahwa AS mengutamakan nyawa tentara di atas uang. Seorang pengguna berkomentar, “Bertugas di militer AS adalah sepadan” Pengguna lain memposting, “400 juta dolar ditambah risiko yang tidak dapat diprediksi hanya untuk menyelamatkan seorang tentara yang bahkan mungkin mengalami cacat permanen. Itu saja sudah lebih dari cukup untuk mendapatkan kepercayaan bangsa.”

    Sebagai perbandingan, di tahun 2020 media China melaporkan peralatan baru untuk tentara yang ditempatkan di Tibet, memungkinkan tentara melakukan bunuh diri jika tertangkap hanya dengan menekan sebuah tombol. Komandan mereka juga dapat mengaktifkan fungsi itu jika diperlukan.

  • China Perketat Peraturan Drone di Beijing

    China Perketat Peraturan Drone di Beijing

    Apakah meningkatnya penggunaan drone dan peperangan membuat Beijing gelisah? China memperketat pembatasan penerbangan drone tak berawak di Beijing. Negara tersebut mengeluarkan peraturan baru Jumat lalu, yang menyatakan bahwa mulai Mei, orang-orang akan memerlukan persetujuan sebelum menerbangkan drone tanpa awak di luar ruangan di Beijing.

    Selain itu, semua pemilik drone di Beijing harus mendaftarkan nama asli mereka kepada pihak berwenang dalam waktu satu bulan. Mereka juga diwajibkan untuk melaporkan di mana drone mereka disimpan. Rezim tersebut membatasi jumlah drone yang disimpan dalam radius 12 mil dari pusat Beijing.

    Mengapa Beijing mempermasalahkan drone begitu serius? Seorang pakar militer mengatakan kepada NTD bahwa hal itu mungkin berkaitan dengan memastikan keselamatan pemimpin China Xi Jinping mengingat drone sekarang banyak digunakan dalam peperangan.

    Analis militer Su Tzu-Yun mengatakan Beijing adalah area sensitif bagi rezim China karena di sanalah Xi Jinping bekerja. Di sanalah juga banyak lembaga utama rezim berlokasi.

    [Su Tzu-Yun, Analis Militer]:

    “Tidak seperti negara lain, peraturan drone baru China bukan hanya tentang memastikan keselamatan di dekat bandara atau jalur air. Tujuannya adalah untuk mencegah drone berubah menjadi alat untuk menyerang pemimpin rezim atau melawan otoritas China.”

    Sementara itu, drone telah terbukti menjadi alat yang berguna dalam peperangan. Pada bulan Maret, drone Iran menyerang kedutaan besar AS di Arab Saudi, menyebabkan kebakaran. Dan tahun lalu, Ukraina menggunakan drone kecil untuk menyerang puluhan pesawat pembom strategis di pangkalan udara Rusia.

    Pakar militer lainnya mengatakan kepada NTD bahwa drone juga dapat digunakan untuk mengumpulkan intelijen atau memantau area sensitif. Lebih mudah bagi drone untuk melewati sistem radar tradisional. Mereka kecil dan dapat terbang di ketinggian rendah, sehingga radar sering salah mengira mereka sebagai burung.

  • Ahli: PKC Tidak Akan Bantu Iran, Sekutu Terbesarnya di Timur Tengah

    Ahli: PKC Tidak Akan Bantu Iran, Sekutu Terbesarnya di Timur Tengah

    Serangan AS-Israel ke Iran telah melenyapkan hampir semua pemimpin senior di rezim tersebut. Namun sekutu terdekat Iran, China dan Rusia, belum menawarkan dukungan apapun selain gestur diplomatik. Analis urusan China Tang Jingyuan memberikan ulasannya tentang langkah Beijing selanjutnya serta apa arti serangan tersebut pada agenda Partai Komunis China.

    China, Iran, Rusia dan Korea Utara secara luas dipandang di Barat sebagai poros kejahatan baru. Aliansi ini telah lama berupaya menggulingkan tatanan dunia yang dipimpin AS. Pemimpin rezim China Xi Jinping berulang kali menekankan agenda globalnya sejak 2021, menyatakan timur sedang bangkit dan barat sedang melemah, dan bahwa Iran adalah sekutu terbesar China di Timur Tengah.

    Analis urusan China Tang Jingyuan berkata serangan ke Iran bisa menghancurkan rencana Beijing mencapai dominasi global.

    [Tang Jingyuan, Analis Urusan China]:

    “Iran adalah pijakan utama Beijing di Timur Tengah dan pengaruh utamanya pada AS. Perubahan rezim di Iran, terutama ke pemerintahan pro-AS, adalah pukulan besar bagi PKC, membatalkan investasi regional bertahun-tahun. Serangan AS dan Israel yang mengancam rezim Iran dapat menandai awal fragmentasi poros ini.”

    Beralih ke energi, China sangat bergantung pada impor minyak. China adalah pembeli minyak terbesar dari Venezuela, Rusia, dan Iran, yang semuanya menghadapi sanksi Barat yang serius. Data resmi menunjukkan 80% ekspor minyak Iran menuju China. Serangan pada Iran telah mempertaruhkan keamanan energi China, setelah pengambil-alihan minyak Venezuela oleh AS. Tang berkata pengetatan kontrol atas pasokan energi China dapat mengurangi kemampuan Beijing memperluas agresi globalnya.

    [Tang Jingyuan, Analis Urusan China]:

    “PKC tidak swasembada energi dan telah lama mengejar strategi diversifikasi demi menghindari ketergantungan pada satu pemasok tunggal. Pendekatan pemerintahan Trump bertujuan secara sistematis membatasi saluran impor energi China. Jika jalur dipersempit ke satu atau dua sumber, keamanan pasokan Beijing akan sangat melemah. Tanpa akses energi yang stabil, kapasitas PKC untuk ekspansi eksternal akan sangat dibatasi.”

    Tetapi akankah Beijing memberikan dukungan militer ke Iran? Tang berkata dia percaya peluangnya sangat kecil, karena China tidak ingin meningkatkan ketegangan dengan AS menjelang kunjungan Presiden Trump ke China bulan depan. Ditambah lagi sekarang sedang terjadi pembersihan militer skala besar dan terjadinya peningkatan pertikaian politik internal PKC.

    [Tang Jingyuan, Analis Urusan China]:

    “Xi Jinping menghadapi tekanan domestik dan internasional yang telah melemahkan posisinya. Undangannya ke Trump untuk mengunjungi China menunjukkan ia berharap menggunakan kunjungan itu demi memperkuat kedudukannya. Jika ia membantu Iran, ini berisiko menyebabkan keretakan langsung dengan Trump, bahkan berpotensi Trump membatalkan perjalanan tersebut. Di saat yang sama, PKC paham bahwa serangan terbaru AS-Israel ke Iran mencerminkan tekad yang kuat. Jika Trump bertindak, kemungkinan besar ia bertekad mengamankan hasil yang menentukan. Dukungan militer China yang terbatas ke Iran sepertinya tidak akan mengubah situasi, bahkan menjadi bumerang bagi Beijing.”

    Tang berkata PKC pasti akan memprioritaskan kelangsungan hidupnya sendiri daripada sekutunya di saat-saat kritis. Hanya beberapa minggu yang lalu, Beijing juga menahan dukungan bagi teman dekatnya diktator Venezuela Nicolas Maduro saat ia ditangkap oleh pasukan AS.

    Flora Hua, NTD News.

  • Pembersihan Tingkat Tinggi: China Selidiki Jendral Top Militer

    Pembersihan Tingkat Tinggi: China Selidiki Jendral Top Militer

    Jenderal tertinggi China dan orang kedua dalam komando pemimpin Partai Komunis Xi Jinping sedang diselidiki, menurut Kementerian Pertahanan Nasional di akhir pekan. Ini adalah pembersihan tingkat tinggi paling menonjol ke para pemimpin militer senior. Ini dilakukan saat Beijing memodernisasi angkatan bersenjatanya dan berupaya memproyeksikan kekuatannya, terutama di sekitar Taiwan dan di Laut Cina Selatan.

    Kementrian Pertahanan China mengumumkan mereka sedang menyelidiki jendral paling senior China. Zhang Youxia sedang diselidiki atas dugaan pelanggaran disiplin dan hukum yang serius.

    Jenderal veteran itu secara luas dianggap sebagai sekutu militer terdekat Xi Jinping. Dia adalah orang kedua dalam komando Xi sebagai wakil ketua Komisi Militer Pusat. Penyingkirannya dapat berdampak pada pekerjaan komisi dalam hal komando dan modernisasi militer Tentara Pembebasan Rakyat yang sedang berlangsung.

    Militer adalah salah satu target utama dari pemberantasan korupsi besar-besaran yang diperintahkan Xi pada 2012. Delapan jenderal tinggi disingkirkan dari Partai Komunis atas tuduhan korupsi pada 2025. Kementerian pada hari Sabtu mengatakan bahwa Liu Zhenli, kepala staf departemen gabungan komisi, juga sedang diselidiki.

    Beijing menuduh Zhang dan jenderal lainnya dengan tuduhan korupsi dan menantang struktur pemerintahan militer China. Dibawah pemerintahan Xi, tuduhan ini biasa menyasar ke orang-orang yang dianggapnya sebagai ancaman. Sementara itu, sumber-sumber internal menunjukkan banyak personel di militer China kini khawatir tentang masa depan mereka.

    Surat kabar militer China pada hari Senin berkata tidak seorang pun dapat dikecualikan dalam gerakan anti-korupsi. Itu berarti bahkan seorang jenderal top seperti Zhang Youxia, yang dulunya sekutu dekat Xi, dapat disingkirkan. Selain Zhang, sebagian besar jenderal China tidak pernah berperang. Zhang berperang melawan Vietnam dan telah membangun reputasi kuat dalam militer China selama puluhan tahun kariernya.

    Selain korupsi, tuduhan lainnya adalah ketidaksetiaan. Militer China berkata Zhang dan jendral lainnya telah merusak sistem kepemimpinan ketua komisi militer pusat. Komisi ini mengawasi seluruh militer China dan dipimpin oleh Xi Jinping. Pembersihan terbaru membuat kelompok itu hanya memiliki satu anggota selain Xi.

    Seorang pensiunan pejabat militer China menggambarkan situasinya sebagai kacau, menambahkan bahwa beberapa pejabat tingkat menengah telah mengajukan surat pengunduran diri.

    Zhang Youxia dulunya memiliki hubungan dekat dengan Xi. Keduanya berteman sejak kecil, tetapi hubungan mereka memburuk dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, Xi menyingkirkan sekutu dekat Zhang, mantan menteri pertahanan Li Shangfu. Sejak itu laporan bahwa Zhang Youxia telah berpihak pada kekuatan oposisi melawan Xi kembali meningkat. Di antara kekuatan oposisi tersebut adalah apa yang disebut faksi senior, terdiri dari para pemimpin negara China veteran, termasuk mantan Perdana Menteri Wen Jiabao.

    Menteri Pertahanan Nasional Taiwan, Wellington Koo berkata hari Senin pemerintah sedang mengamati dengan seksama perombakan baru dalam kepemimpinan militer China ini, serta akan melakukan penilaian penuh terhadap situasi tersebut. Ia berkata perencanaan militer Taiwan didasarkan pada kenyataan bahwa China tidak pernah mengesampingkan penggunaan kekuatan pada Taiwan.

    Pada hari Sabtu, otoritas China mengumumkan penyelidikan terhadap dua pejabat militer senior. Salah satunya adalah Zhang Youxia, orang kedua dalam komando Komisi Militer Pusat China, tokoh militer paling berpengaruh di bawah Xi Jinping. Yang lainnya adalah Liu Zhenli, kepala Departemen Staf Gabungan.

    Keesokan harinya, surat kabar militer resmi China, PLA Daily, menerbitkan sebuah editorial yang menuduh keduanya secara serius merusak sistem kepemimpinan militer. Artikel tersebut juga mengatakan mereka melemahkan cengkeraman Partai Komunis atas kekuasaan.

    Komentator politik Taiwan, Wang Hao, mengatakan susunan kata dalam editorial mengirimkan pesan yang jelas. Zhang Youxia digambarkan sebagai ancaman bagi sistem yang ada,  memberi Beijing pembenaran untuk menyingkirkannya atas nama menjaga ketertiban. Wang berkata bahwa bagi Xi Jinping, apa pun yang tidak dapat sepenuhnya dikendalikannya tidak dapat diterima. Ia percaya lebih baik menyingkirkan orang yang salah daripada membiarkan potensi ancaman tetap ada.

    Wang memperingatkan ketidakpastian atas keamanan Taiwan semakin meningkat, bukan menurun. Pakar pertahanan sipil Lin Pin-Yu mengatakan saat tidak ada seorang pun di Partai Komunis China yang dapat menolak Xi Jinping, maka itu bisa jadi saat militer China bertindak melawan Taiwan. Lin mengatakan tantangan teknis atau operasional tidak pernah menjadi perhatian Xi. Jika tindakan militer memperkuat kekuasaannya, itu saja sudah cukup. Lin menambahkan meskipun akan sangat sulit bagi China untuk sepenuhnya mengambil alih Taiwan, akan jauh lebih mudah untuk menyebabkan kerusakan serius.

  • Serangan AS ke Venezuela Tak Akan Dicontoh China untuk Taiwan

    Serangan AS ke Venezuela Tak Akan Dicontoh China untuk Taiwan

    Keputusan Presiden Trump untuk menyerang Venezuela dan menangkap Nicholas Maduro telah memicu perdebatan di kalangan pakar kebijakan luar negeri. Mereka membandingkan ini dengan China terkait invasi Taiwan, mempertanyakan apakah Beijing akan melihatnya sebagai model. Namun yang lain berspekulasi bahwa operasi AS baru-baru ini bukanlah strategi China untuk Taiwan.

    Menurut Dewan Hubungan Luar Negeri, alasan paling mendasar China belum bergerak ke Taiwan adalah kurangnya kepercayaan secara militer. Analis juga berkata operasi AS di Venezuela berbeda dari tujuan Beijing. Meski Trump berkata AS akan mengendalikan Venezuela untuk sementara waktu, namun ia tidak berniat mengambil alih secara permanen. Berbeda dengan China yang mengklaim masalah Taiwan adalah masalah internal, bertujuan menyingkirkan kepemimpinan demokratis Taiwan dan memerintahnya tanpa batas waktu.

    Sementara itu, AS berkata akan mendukung Taiwan jika itu terkait kepentingan nasional yang vital. Sekutu AS juga berkata akan mendukung Washington di Selat Taiwan, baik untuk diri mereka sendiri maupun menjaga keseimbangan regional.

    Untuk saat ini para analis percaya Beijing akan tetap bersabar, terutama jika mereka melihat tindakan Washington di Venezuela sebagai pengalih perhatian, daripada keuntungan strategis jangka panjang.

  • Ketegangan Baru China-Jepang di Perairan Kepulauan Senkaku

    Ketegangan Baru China-Jepang di Perairan Kepulauan Senkaku

    Perseteruan terbaru antara kapal-kapal China dan  Jepang di perairan yang disengketakan tidak jauh dari Taiwan. Jepang berkata telah mencegat dua kapal patroli penjaga pantai China di perairan kepulauan Senkaku pada hari Selasa. Ketegangan terus meningkat setelah perdana menteri Jepang berkata Tokyo dapat melakukan intervensi militer jika China menginvasi Taiwan.

    Jepang mengatakan kapal-kapal patroli China berlayar menuju sebuah kapal penangkap ikan Jepang, dan pergi setelah mendapat peringatan dari penjaga pantai Jepang. Namun China memberi penjelasan berbeda, mengatakan kapal penangkap ikan Jepang telah memasuki perairan kepulauan Senkaku secara ilegal sebelum diusir. Baik China maupun Jepang mengklaim Kepulauan Senkaku sebagai milik mereka.

    Kepulauan itu terletak sekitar 100 mil di sebelah timur Taiwan. Konfrontasi ini menyusul ketegangan China-Jepang yang meluap ke perdagangan, budaya dan pariwisata. China membatalkan 40% penerbangan ke Jepang untuk bulan Desember, yaitu sekitar 2,000 penerbangan. Ini signifikan karena Jepang menerima lebih banyak turis China dibandingkan negara lain di dunia, dan dapat merugikan Jepang lebih dari 1 miliar dolar tahun ini.

    Bukan hanya pariwisata, Jumat lalu di Shanghai, seorang penyanyi Jepang dipaksa berhenti di tengah pertunjukan, lampu dan musik dihentikan di tengah lagu. China juga membatalkan belasan konser musisi Jepang bulan lalu.

    Sebuah jajak pendapat baru menunjukkan masyarakat Jepang terbagi pendapat tentang apakah Tokyo harus melakukan intervensi militer jika China menginvasi Taiwan. 48% mendukung langkah tersebut dan 44% menentangnya. Namun, lebih dari 60% mendukung rencana perdana menteri Jepang untuk meningkatkan anggaran pertahanan. Dukungan rakyat pada perdana menteri juga tetap stabil di angka 75%, naik 1% dibanding bulan lalu.  

  • Taiwan Tingkatkan Anggaran Pertahanan Tambahan Sebesar $40 M

    Taiwan Tingkatkan Anggaran Pertahanan Tambahan Sebesar $40 M

    Perdamaian melalui kekuatan. Taiwan memperkenalkan anggaran pertahanan tambahan sebesar 40 miliar dolar demi melawan meningkatnya agresi China.

    Pada hari Rabu, presiden Taiwan Lai Ching-te mengatakan sejarah telah membuktikan mencoba berkompromi dalam agresi tidak menghasilkan apa-apa selain perbudakan. Ini terjadi saat China meningkatkan tekanan militernya.

    [Presiden Lai Ching-te, Presiden Taiwan]:

    “Ancaman China pada Taiwan dan kawasan Indo-Pasifik semakin meningkat. Baru-baru ini, berbagai jenis intrusi militer, zona abu-abu maritim, dan kampanye disinformasi telah terjadi di Jepang, Filipina, dan di sekitar Selat Taiwan. Taiwan, sebagai bagian terpenting dan paling kritis dari rantai Pulau Pertama, harus menunjukkan tekad dan mengambil tanggung jawab yang lebih besar dalam membela diri.”

    Anggaran akan berlaku dari 2026 hingga 2033 dan mencakup peralatan, termasuk rudal, drone, serta serta sistem pertahanan udara T-dome yang baru. Agustus lalu, Lai berkata ia berharap dapat meningkatkan anggaran pertahanan Taiwan menjadi 5% dari PDB pada tahun 2030. Presiden Trump telah menyerukan peningkatan anggaran tersebut hingga 10%.

  • 9 Jenderal Senior PKC Digulingkan Jelang Rapat Pleno

    9 Jenderal Senior PKC Digulingkan Jelang Rapat Pleno

    Gelombang perombakan besar tengah berlangsung dalam militer China. Jumat kemarin, beberapa hari sebelum pertemuan para petinggi negara di Beijing. PKC mencopot 9 jenderal termasuk jendral militer nomor dua dan perwira tertinggi angkatan darat. Langkah ini memicu pertanyaan akankah ini berdampak pada kemampuan China mengambil alih Taiwan.

    He Weidong, seorang petinggi di antara sembilan jenderal adalah pemimpin militer nomor dua China yang langsung berada di bawah Xi Jinping, merupakan rekan dekat sekaligus orang pilihan Xi yang mengemban misi invasi Taiwan. He Weidong duduk di jajaran Politbiro China beserta 24 lainnya, sebuah badan tertinggi kedua PKC. Ia tidak terlihat oleh publik sejak Maret. Kementerian Pertahanan China mengatakan He dan beberapa lainnya terlibat dalam pelanggaran disiplin partai dan kejahatan finansial serius.

    Pejabat lain yang dipecat, Miao Hua, adalah perwira politik tertinggi angkatan darat. Sejak tahun lalu, Miao sudah berada di bawah penyelidikan. Miao berurusan dengan militer terkait Taiwan dan Laut China Selatan. AS menganggap kedua wilayah ini sebagai titik paling mungkin terjadinya konflik dengan China. Ia dipandang dekat dengan lingkaran dalam Xi Jinping.

    Jenderal lain yang dicopot, Lin Xiangyang, bertugas memimpin komando militer yang memainkan peran dalam setiap konflik Taiwan. Partai Komunis China menganggap Taiwan sebagai bagian dari China meski tidak pernah memerintah langsung. Beijing berjanji akan menggunakan kekerasan jika perlu.

    Perkembangan terkini telah memicu spekulasi bahwa Xi Jinping mungkin kehilangan kekuasaan. Pengumuman tersebut datang hanya beberapa hari sebelum pertemuan penting para pejabat senior PKC di Beijing minggu depan.