Tag: rawat

  • Kegembiraan dan Pedoman Moral Sangat Penting Dalam Pembelajaran

    Kegembiraan dan Pedoman Moral Sangat Penting Dalam Pembelajaran

    Social distancing menyoroti pentingnya hubungan bagi anak-anak

    Berbulan-bulan menjalani pembelajaran jarak jauh, sekolah daring, homeschooling dadakan, dan metode gabungan yang dimulai pada tahun ajaran ini telah menunjukkan bahwa materi pelajaran bukan satu-satunya hal penting dalam belajar.

    Struktur, konsistensi, karakter, dan -tentu saja- bermain, juga sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan belajar yang baik, seperti diketahui para guru berpengalaman.

    Guru menulis kreatif kelas delapan, Andrew Cotten, mengatakan meskipun banyak pergolakan terjadi selama setahun belakangan ini ? dari mengajar daring hingga jadwal baru yang berubah-ubah ? beberapa prinsip tertentu yang bermanfaat tetap berlaku, meski saat ini mungkin jadi lebih menantang.

     “Hal yang selalu efektif dan akan selalu efektif,” lanjutnya, “adalah memiliki hubungan erat dengan siswa. Berada disana untuk mereka? melihat mereka sebagai seorang individu, mengenali mereka.”

    Menjalin hubungan akan sulit dilakukan saat pembelajaran jarak jauh, meski kelas Cotten cukup beruntung karena sudah saling mengenal di awal tahun. Tetapi ketika para siswa masuk kembali, saling berpelukan dan bahkan, dia berkata, ada sedikit trauma, membutuhkan banyak waktu, keikhlasan, dan upaya dipihaknya untuk menumbuhkan kepercayaan dan menjalin hubungan.

    Nilai vs Bertumbuh

    Cotten, yang mengajar di Mountain Brook, Alabama, memiliki seorang mentor yang pernah mengatakan kepadanya bahwa guru tidak lagi dianggap sebagai penjaga gerbang pengetahuan, bahwa yang terpintar di kelas bukan lagi sarjana berjubah di depan papan tulis, tetapi perangkat di tangan masing-masing anak. Tetapi fokus pada anak-anak itu tanpa batas waktu, kata Cotten.

    Cotton mengajar anak-anak berusia 13 tahun, siswa ABG yang “seusia Peter Pan ? Wendy ingin dia tumbuh, the Lost Boys ingin mereka tetap muda selamanya.”

     “Masih ada sifat kanak-kanak dalam diri mereka, sekeren apapun yang mereka inginkan,” kata Cotten. “Mereka sedang di masa?masa persimpangan.” Mereka menuntut kebebasan, namun masih membutuhkan banyak bimbingan. Mereka menginginkan perhatian, tetapi mereka juga ingin tidak terlihat. Pada usia-usia ini, dalam kelas menulis kreatif, mereka tidak lagi pada tahap melatih fundamental, mereka membutuhkan sesuatu yang berbeda.

     “Ini tentang menyajikan mereka bukan menyajikan konten,” katanya. Ini tentang membantu anak-anak bertumbuh dan menyukai proses belajar.

    Seorang siswa adalah seseorang yang bertanya “Kapan saya membutuhkan ini?” dan “Apakah ini akan diujikan?” dan menjalani hari-hari sekolah dengan kecemasan akan nilai.

     “Namun seorang pembelajar adalah orang yang bersedia mengambil resiko untuk tumbuh, untuk melihat ini sebagai pengalaman holistik,” kata Cotten.

    Seorang pembelajar melihat peluang dalam segala hal yang mereka lakukan untuk meningkatkan dan mengasah keterampilan mereka, bahkan jika pelajarannya adalah belajar untuk bekerja dengan orang yang tidak sependapat dengannya, atau belajar menyaring informasi, atau pelajaran yang banyak prakteknya, hal-hal itulah yang akan menjadikannya mahir. Di kelas Cotten, esai adalah “kesempatan untuk mengekspresikan diri Anda, untuk melatih komunikasi, menjadi efektif dalam komunikasi Anda.”

     “Nilai bagus versus proses bertumbuh adalah keyakinan besar yang telah membantu saya dalam pemahaman menjadi seorang guru berkaitan dengan hubungan, bahwa siswa tidak kesini untuk mendapatkan nilai, dan jika ya, bagaimana cara saya membantu mereka dapat memperoleh sesuatu dan melihatnya sebagai peluang untuk bertumbuh?” katanya.

     “Setiap hari adalah tentang menghargai proses pembelajaran, bukan terpaku pada hasil.”

    Budaya kelas Cotten didasarkan pada “mantra” pribadinya: bersikap konyol, jujur, baik hati. Berlaku “konyol” adalah jangkauan yang paling cocok untuk anak berusia 13 tahun, kejujuran tampaknya sederhana namun bisa berubah sulit saat dihadapkan pada kejujuran emosional, dan kebaikan adalah aturan yang sangat penting dan tegas di kelas, namun dengan contoh dan antusiasme yang tak tergoyahkan, Cotten menjadi contoh yang baik dan memungkinkan para siswa melakukannya. Kekonyolan mendorong rasa ingin tahu, menghasilkan para pembelajar tidak hanya terpaku pada nilai, dan itu akan mengubah seluruh hubungan antara murid-guru.

     “Masalahnya, siswa ingin melawan guru, bukan? Tetapi mereka mulai bersandar pada guru mereka dan menggunakannya sebagai pendukung,” kata Cotten. “Jika guru tidak mempedulikan Anda, setiap kelas akan menjadi zona perang, bukan? Tetapi ketika ada budaya yang dibangun, sungguh, dibutuhkan anak yang tangguh untuk menjadi jahat di sana.”

    Gairah dan Bermain

    Salah satu deskripsi favorit Cotten tentang menulis adalah perkataan seorang professor kepadanya: “Setiap kalimat adalah taman bermain” ? dia sangat percaya pada permainan, baik di dalam maupun di luar kelas.

     “Saya meminta seorang siswa mengartikannya seperti ini: Ada perbedaan besar antara 8 ke 3 (hari sekolah) dan 3 ke 8. Apa yang akan Anda lakukan dari 3 ke 8 yang membuat Anda bahagia? Saya rasa itu akan memengaruhi apa yang Anda lakukan dari 8 ke 3,” kata Cotten. “Itu akan berdampak sepanjang hari pada Anda sebagai siswa, baik secara positif maupun negatif.”

    Aaron Benner, yang mengajar siswa kelas empat, lima dan enam, mengatakan hal paling efektif yang dia lakukan untuk membangun kepercayaan, dan, sebenarnya adalah, wewnang, dengan murid-muridnya adalah melakukan pertandingan sepak bola selama jam istirahat.

     “Strategi favorit saya adalah bermain sepak bola bersama murid-murid saya,” kata Benner. Dia menghindari makan siang di ruang guru untuk bisa menikmati waktu di luar kelas bersama murid-muridnya, dan menempati posisi sebagai gelandang. Setiap anak bisa bergabung, dan seringkali siswa dari kelas lain ikut bergabung. Peraturannya termasuk two-hand touch dan setiap orang mendapat kesempatan untuk menangkap bola.

     “Kami selalu berusaha memperhatikan semua orang, dan memastikan semuanya senang.

     “Dengan cara itu akan mengurangi banyak kebencian dan ketegangan,” kata Benner. “Seperti membuat keajaiban, dan juga membuat saya tetap bugar.”

     “Mereka lebih ingin belajar, mereka sadar, perubahannya cepat. Jika ada masalah disipliner yang muncul, rasa hormat yang mereka miliki terhadap saya sangat besar, berbeda terhadap guru yang lain,” kata Benner.

    Selama 21 tahun, Benner mengajar di sebuah sekolah dasar di St. Paul, Minnesota, dan sekolah tersebut memiliki andil dalam masalah disipliner.

    Disiplin dan Keamanan

    Benner dikenal memiliki kelas yang aman dan stabil; sering kali, dia bahkan mendapatkan siswa dari kelas atau tingkat lain dari kelas yang terlalu gaduh untuk ditempatkan di kelasnya dan ditangani sepenuhnya oleh para guru.

    Tetapi di luar kelas, berbeda cerita. Ada pelanggaran aturan terang-terangan di sekolah, gangguan, dan bahkan kekerasan. Faktanya, Benner pernah masuk dalam berita nasional beberapa tahun yang lalu ketika dia menjadi semacam whistleblower untuk jenis pelanggaran disipliner di distrik sekolahnya.

    Pada 2017, dia mengajukan gugatan terhadap distrik sekolahnya atas apa yang mereka lakukan padanya setelah dia menentang kebijakan sekolah. Sekolah tempat Benner bekerja sudah memiliki masalah tentang disipliner, tetapi ketika pada 2014 distrik tersebut mengadopsi kesetaraan rasial yang berusaha mengurangi skorsing untuk siswa kulit hitam, Benner menemukan bahwa administrator berhenti mengambil tindakan disipliner terhadap hampir seluruh siswa kulit hitam, mengabaikan rekomendasi guru. Benner menambahkan bahwa sebagai orang kulit hitam, dia sendiri pasti menentang rasisme, tetapi itu bukan cara mengatasi masalah.

    Kebijakan tersebut mengurangi jumlah skorsing, yang berarti para kepala sekolah bisa mendapatkan bonus uang tunai, tetapi tidak mengurangi perilaku buruk dan kekerasan. Sebaliknya, perilaku buruk meroket.

    Hal itu muncul ketika Benner melihat seorang anak laki-laki kelas empat memukul seorang gadis dengan sangat keras hingga dia pingsan dan melaporkan kejadian itu pada kepala sekolah. Dia berbicara dengan ibu gadis itu dua hari kemudian dan mengetahui bahwa si ibu tidak diinformasi mengenai penyerangan itu, dan ketika si ibu mempertanyakan, sekolah menempatkan Benner dalam penyidikan ? pertama dari empat.

    Benner akhirnya berbicara di televisi nasional tentang apa yang terjadi di sekolahnya, bahwa dengan mengesampingkan keselamatan para murid karena program kesetaraan rasial, dan persatuan guru malah menekannya mengakui hal-hal yang tidak dia lakukan bukannya membela dia.

     “Hal-hal yang saya lihat saat siswa-siswa saya berjalan di lorong sekolah hampir seperti kriminal,” katanya. “Saya selalu terkejut melihat betapa tangguhnya anak-anak di sekolah umum di St. Paul karena kekacauan yang mereka saksikan setiap hari.

     “Intinya adalah saya harus menjaga siswa-siswa saya tetap aman, mengajar adalah yang kedua dibandingkan keselamatan murid saya sepanjang hari di sekolah,” kata Benner.

    Tantangan tambahan adalah mempertahankan budaya kelasnya sendiri, karena para siswa sekarang mendapatkan pesan yang beragam; perkelahian dihukum di kelas Benner, tetapi mereka melihat anak-anak lain lolos begitu saja di taman bermain. Itu melelahkan bagi guru yang baik seperti Benner.

    Kasus Benner telah selesai tahun lalu, tetapi dia sudah berhenti beberapa tahun sebelumnya dan menempati posisi Dekan Siswa di sekolah menengah swasta Katolik. Dia merindukan mengajar, tetapi membawa banyak kebijaksanaan tentang perilaku siswa ke dalam peran barunya.

    Mendemonstrasikan Stabilitas

    Ketika Benner mengajar di sekolah dasar St. Paul, sejak hari pertama, dia akan memastikan pada murid-muridnya tentang ritual dan rutinitas kelas, dia akan menjelaskan dan mendemonstrasikan peraturannya.

     “Jika saya tidak ingin siswa berjalan-jalan di kelas, saya akan mencontohkannya, saya akan menjelaskannya, dan saya akan memberikan banyak rehat singkat yang memungkinkan siswa menggerakkan tubuh,” katanya. Dia juga akan meminta semua orang menyetujui perilaku di awal tahun ajaran. “Dan terkadang kelihatan konyol, seperti ‘Apakah kita akan mengizinkan siapapun untuk berkelahi di dalam kelas?’ ‘Tidak.’ ‘Apakah kita akan mengizinkan bahasa kotor?’ ‘Tidak!’”

    Benner berkata bahwa dia melakukan hal-hal menyenangkan di kelas ? seperti merayakan akhir tahun sekolah dengan membuat French toast (roti panggang Perancis) untuk para siswanya ? tetapi dia selalu sangat tegas bahwa dia adalah guru, bukan teman.

     “Dan itu akan mengejutkan murid-murid saya: ‘Saya disini bukan menjadi teman kalian.’ Mereka terkesiap,” kata Benner. “Saya akan berkata, ‘Saya disini untuk menjadi guru kalian. Aku di sini untuk menantang kalian.’”

     “Saya senang membantu orang menjadi lebih baik,” katanya. Bagi Benner, ini adalah panggilan. Dia mulai mengajar secara kebetulan ketika bekerja di rumah singgah sebagai pekerjaan pertamanya setelah mendapatkan gelar di bidang sosiologi dan peradilan pidana. Benner memiliki waktu ekstra yang dia gunakan untuk menjadi sukarelawan di sekolah, dan itu mencetuskan suatu hal dalam dirinya ketika menyadari para siswa lebih mendengarkannya dibandingkan guru reguler mereka.

    Sebagai guru bagi siswa kelas empat, lima, dan enam, Benner sangat menyadari bahwa ruang kelas adalah tempat pembentukan karakter, sekaligus tempat belajar.

     “Anda harus menjadi orang yang memiliki karakter moral yang baik,” katanya, “Anda tidak harus religius tetapi Anda harus mengajarkan apa yang benar dan salah. Anda harus memiliki kompas moral, Anda harus berbicara tentang etika, Anda harus mengajarkan siswa untuk menjadi pemikir kritis, itu adalah hal yang sangat penting.”

    Disiplin juga penting, tetapi disiplin tidak boleh menjadi pengadilan publik, dan harus sesuai dengan perilaku. Sekolah Benner ini dulunya menerapkan aturan pengusiran otomatis untuk pencurian, tetapi setelah sekelompok siswa diskors karena mencuri makanan, terjadi keributan; konsekuensinya parah, namun tidak mengatasi pencurian itu sendiri.

    Benner bertanya kepada senior yang telah lulus yang memiliki sisa uang makan siang di rekening mereka apakah mereka bersedia menyumbangkannya untuk dana uang makan siang, sehingga siswa yang kehabisan uang dapat datang kepadanya untuk mendapatkan makan siang gratis.

    Tidak ada lagi yang dikeluarkan karena mencuri makanan.

     “Anda mencoba untuk menjadi baik dan penuh kasih, tetapi Anda juga mencoba untuk mengajarkan kepada siswa bahwa ada konsekuensi atas perilaku Anda. Ada konsekuensi untuk tindakan Anda,” kata Benner.

    Orang tua dan guru yang berpikiran sama juga penting jika Anda benar-benar ingin mengajarkan tentang karakter dan perilaku yang bertahan lama. Ini menciptakan stabilitas dalam kehidupan siswa, yang diterjemahkan hampir secara konsisten menjadi perilaku yang baik.

    Misalnya, telepon pertama Benner ke rumah, selalu di awal tahun ajaran, selalu merupakan kabar baik. Dia ingin orang tua tahu bahwa dia tidak hanya akan menelepon saat ada masalah; yang mencegah orang tua memasang tembok pertahanan. Dia juga memastikan orang tua mengetahui semua aturan dan konsekuensi di awal tahun, sesuatu yang juga dilakukan sekolah barunya secara ekstensif.

    Belum lama ini, dia bertemu dengan salah satu siswa tertuanya, sekarang berusia 37 tahun, yang mengingatkannya tentang betapa berartinya kunjungannya ke rumah siswa. Itu bukan ide Benner, namun syarat sekolah ketika dia diterima, tetapi siswa itu tertawa dan berkata dia khawatir geng-geng di lingkungannya menakuti guru untuk datang ke rumahnya, dan berpikir sangat keren karena gurunya tetap datang berkunjung.

     “Dia memeluk saya dan memberitahukan pada istrinya, ‘Pria ini dahulu biasa ke rumah saya dan memantau keadaan saya,’” kata Benner.

    Otak dan Tubuh

    Leigh Bortins, Seorang homeschooling yang berbasis di Carolina Utara dan pendiri Classical Conversations, juga menulis tentang pentingnya melakukan gerakan.

     “Otak kita melekat pada tubuh dan sebagian dari kita belajar saat kita bergerak,” katanya. “Maka itu sebabnya Anda akan melihat gadis mengisap bibirnya, mondar-mandir di kamar tidurnya ketika dia mencoba berpikir apa yang harus dia tulis, atau mungkin Anda akan melihat seorang anak laki-laki yang harus keluar rumah dan bermain bola basket sebelum dia bisa memecahkan masalah matematika.

     “Bergerak sering membantu saat kita sedang berjuang. Salah satu hal baik yang bisa kita lakukan dengan anak-anak kecil adalah memberi mereka krayon, pensil, dan kertas besar ? inilah mengapa kita perlu melakukan hal yang sama dengan remaja yang berjuang dengan masalah itu ? biarkan mereka ke papan tulis, atau biarkan mereka menulis dengan kapur di jalan masuk, biarkan mereka berpikir besar,” kata Bortins.

    Perilaku dan rasa disiplin juga banyak berkaitan dengan bergerak. Sebenarnya, ini hanya kelanjutan dari semua hal baik yang Anda mulai lakukan sebagai orang tua baru pada anak kecil, kata Bortins. “Dan, tentu saja, salah satu hal yang pertama kali Anda lakukan dengan bayi Anda yang masih sangat kecil adalah mengajari mereka cara mengontrol tubuh mereka.

     “Mereka mengulurkan tangan untuk mengambil barang-barang, akhirnya berlatih memakai pispot, memasukkan makanan ke mulut mereka, membereskan tempat tidur mereka, semua hal-hal tersebut.

     “Hal yang wajar diajarkan pada anak adalah bagaimana mengendalikan diri, karena Anda tidak mau mereka menggeliat seperti cacing dalam setiap situasi yang mereka hadapi. Maka yang banyak dilupakan orang dalam persiapan terbaik untuk pelatihan akademis adalah, tentu saja, kendali seluruh tubuh. Anda harus memiliki koordinasi tangan-mata untuk memegang krayon, kuas, dan pensil Anda,” katanya.

    Ini seperti mempraktekkan keterampilan; seorang kenalannya memiliki tiga anak yang masih kecil, salah satunya sangat gaduh, tetapi beberapa ibu datang bersama membantu membawa anak itu berjalan-jalan di sekitar gedung untuk mengurangi energi ekstra anaknya sambil memberi waktu kepada ibunya menghadapi dua anaknya yang lain. Ini mengajarkan pada anak lelaki itu bahwa aturan tidak akan diabaikan hanya karena dia tidak nyaman, dan bahwa mereka tidak akan menyerah hanya karena dia tidak langsung belajar bagaimana melakukan sesuatu.

     “Anda juga memiliki gagasan untuk mengendalikan diri agar bisa bergaul satu sama lain,” kata Bortins. Salah satu hal yang dia katakan kepada anak-anaknya sendiri adalah bagaimana Anda perlu menghargai kakak Anda lebih dari lego, menghargai adik Anda lebih dari boneka.

    Hubungan antar saudara adalah tempat pertama, bahkan sebelum Anda pergi ke sekolah, bahwa anak-anak belajar mengendalikan kemauan dan keinginan mereka, dan berharap untuk berbagi.”

    Keluarga adalah tempat pertama kita belajar tentang hubungan, perilaku, dan cara berinteraksi dengan dunia. Bortins ingat bahwa ketika tumbuh dewasa, ketika dia atau saudara-saudaranya meninggalkan rumah, orang tua mereka akan berkata, “Ingat, kamu adalah keluarga Bryant!”

    “Kami berempat tumbuh dengan mengetahui bahwa kami mewakili ibu dan ayah kami, serta saudara kandung dan kakek nenek kami, serta sepupu, bibi, paman, seluruh keluarga kami,” katanya. “Itu mencerminkan bahwa kami semua adalah sebuah keluarga. Ini hanya sikap, ‘kamu tidak sendirian dalam hal ini, kami akan membantu Anda, dan ini juga berarti kamu akan menyakiti kami,’ dan itulah cinta, adalah kemampuan untuk disakiti.”

    Belajar menghargai saudara Anda sejalan dengan kepatuhan kepada orang tua, kata Bortins, seraya menambahkan bahwa mungkin tidak semua orang menyukai kata kepatuhan, tetapi memang begitulah adanya. Anda mengajar atau melatih anak-anak Anda untuk berperilaku dengan cara tertentu. Itu memungkinkan, dan menjadikan pengalaman keluarga menyenangkan.

     “Dan pelajaran karakter tidak selalu untuk anak-anak ? terkadang untuk orang tua,” kata Bortins. Pembentukan karakter adalah proses yang berlangsung seumur hidup, katanya, dan “kita semua berlatih untuk hari berikutnya.”

    Sekolah kadang-kadang membuat orang berpikir dalam hitungan minggu atau periode atau semester, tetapi kehidupan tidak seperti itu.

     “Sebagai homeschooling, kami tidak benar-benar berpikir dalam segmen kecil, kami berpikir dalam kehidupan anak kita, kehidupan keluarga kita, dan bahkan sekarang dengan cucu saya,” katanya. (chaterineyang/theepochtimes/sia/feb)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Bagaimana Membimbing Remaja Mengerjakan Tugas saat Sekolah Online

    Bagaimana Membimbing Remaja Mengerjakan Tugas saat Sekolah Online

    Kebanyakan orang tua merasa pusing terhadap bagaimana membantu para remaja menyelesaikan pekerjaan sekolah mereka dengan lancar di rumah. Berikut ini akan saya bahas beberapa cara praktis, saya yakin akan bermanfaat bagi anak Anda.

    Membangun lingkungan

    Mungkin anak remaja Anda sudah terbiasa belajar di suatu sudut ruangan rumah Anda, misalnya meja makan. Tidak peduli anak remaja Anda mengerjakan PR-nya di mana, Anda sebaiknya menyediakan sebuah meja tulis untuk dia. Meja tulis bekas atau rakitan sendiri juga boleh, karena meja itu sebagai lambang rumah ini sangat mementingkan belajar. Meja ini bisa mengembangkan fungsi untuk mengingat yang sangat besar.

    Jika di bawah meja tulis tidak memiliki laci, boleh Anda belikan kotak dokumen. Dengan demikian, laporan hasil kerja selama satu tahun penuh telah mendapatkan tempat penyimpanannya. Sebuah sistem penyimpanan arsip yang praktis dan sederhana, akan membuat dia dengan mudah dan cepat menemukan catatan, kertas ujian dan kertas laporannya.

    Jika Anda ingin menyimpan secara turun temurun hasil karya yang paling baik, sebaiknya Anda menyimpan hasil karya tersebut di dalam map dokumen plastik, di atas map diberi label nama dan tahun, dan diletakkan di tempat yang jarang sekali tersentuh.

    Pekerjaan baik, Harus Tersedia Alat yang Memadai

    Mengerjakan pekerjaan sekolah jika kekurangan alat-alat yang dibutuhkan, ibarat seperti seorang koki yang kekurangan bahan yang tepat untuk masakannya. Pada setiap awal tahun ajaran baru, tanyakan kepada anak Anda kebutuhan peralatan sekolah.

    Jika jawaban yang diberikan kepada Anda itu adalah cat warna, paku, atau bahkan bahan-bahan tekstil Anda tidak perlu heran. Pendidikan terkini masa sekarang ini menekankan praktek kerja nyata, siswa SMP juga ada banyak pelajaran prakarya, seperti memasak atau membuat peralatan.

    Mengolah waktu dengan tepat

    Ini yang terpenting: Ajarkan anak Anda kemampuan mengolah waktu dengan tepat. Jikalau pengolahan waktu Anda sendiri juga kacau balau tidak teratur, jangan khawatir, kita di sini menyediakan beberapa cara.

    Umumnya pada masa sekolah online ini, semua jadwal tugas, ujian dan remedial tertera pada Google Classroom. Tapi itu semua baru bisa terlihat apabila laptop anak sedang menyala, sedangkan laptop tidak mungkin terus-terusan menyala. Jadi ada baiknya orangtua membimbing dia untuk mencatat informasi tentang setiap pekerjaan rumah dari setiap mata pelajaran: waktu, mata pelajaran, isi, batas waktu terakhir dan waktu penyerahan pada sebuah buku agenda, dan ditulis ulang pada kalender meja yang mudah terlihat. Dengan menulis maka anak akan lebih mengingatnya, sehingga tidak ada yang terlewatkan. Buat jadwal harian belajar sesuai prioritas, kapan harus belajar dan kapan harus mengerjakan tugas.

    Jika anak tersebut mempunyai masalah dengan pengolahan waktu, maka biarkanlah dia menyelesaikan pekerjaan sekolahnya dulu baru main HP atau nonton TV.

    Menetapkan waktu mengerjakan PR

    Walaupun dia adalah seorang anak yang pandai, mungkin juga ketika dia menghadapi sebuah pekerjaan sekolah dalam jangka panjang, dia bisa mengulur waktu hingga enam sampai tujuh kali mata pelajaran itu baru diselesaikan.

    Sebagai orang tua, Anda sudah tentu mengharapkan anak Anda bisa bertanggung jawab penuh menyelesaikan pekerjaan sekolahnya secara otomatis, tidak perlu Anda membawa rotan untuk memecut dia dari belakang.

    Jika bisa berdiskusi  tentang perencanaan semester dengan anak Anda di awal semester, pasti bisa membantu. Maka berbincanglah dengan dia kapan adalah waktu yang terbaik bagi dia untuk mengerjakan pekerjaan sekolah, mungkin setelah selesai makan malam adalah waktu yang paling tepat.

    Demi membantu untuk mendirikan pola semacam ini, Anda bisa mengusulkan, walaupun sedang tidak ada pekerjaan sekolah, juga wajib mengulang apa yang dipelajari, membaca buku atau mengerjakan sesuatu yang membutuhkan otak untuk berpikir.

    Mengatasi penundaan

    Menunda sesuatu adalah kebiasaan jelek yang terpupuk dalam jangka panjang, dari masa kecil sudah dapat diamati, misalnya seperti ketika dia mengerjakan pekerjaan rumah atau belajar.  Ada sesuatu pekerjaan yang Anda tunda-tunda terus, mengharapkan pekerjaan itu bisa sirna secara otomatis. Namun ketika Anda menemukan kenyataan bertolak belakang dengan apa yang Anda harapkan, maka Anda akan dengan tergesa-gesa menyelesaikan pekerjaan itu dengan sembarangan pada saat batas waktu terakhir.

    Selama proses penyelesaian pekerjaan dalam hati Anda tidak akan merasakan senang, tidak peduli sebelum mengerjakan, sedang mengerjakan atau setelah mengerjakan pekerjaan itu.

    Di bawah ini adalah 3 alasan yang membuat anak menunda mengerjakan pekerjaan sekolah, serta saran-saran kami untuk Anda :

    1. Tidak mengerti harus bagaimana mengerjakan: jika anak sedang terjebak dalam kesulitan, semangati dia lebih awal mencari bantuan. Biasanya siswa SMP tidak pelit untuk bertanya. Jika Anda mulai lebih awal memberi bimbingan pekerjaan sekolah kepada anak Anda, itu akan lebih baik. Bisa juga mencarikan guru les bagi anak anda.

    2. Takut kurang baik mengerjakan pekerjaan: terkadang mereka takut kurang baik mengerjakan pekerjaan, maka mereka tidak mau mencoba, hal tersebut berkaitan dengan sikapnya. Di dalam masalah pelajaran sekolah jangan memberikan tekanan terlalu besar kepada anak, harus menuntun keluar keingintahuan mereka serta kesenangan mereka terhadap menangani masalah yang baru.

    4. Lebih baik melakukan yang lain: Ini merupakan masalah tentang kedisiplinan diri, saat ini harus membangun aturan untuk membantu anak. Misalkan, selesai belajar baru boleh menonton TV/Youtube atau main HP.  (The Epoch Times/lin)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Catatan di Hari Guru Nasional: Mengikuti Jejak Guru yang Hebat

    Catatan di Hari Guru Nasional: Mengikuti Jejak Guru yang Hebat

    Pada 25 November, Indonesia merayakan Hari Guru Nasional. Hari yang diperingati bersamaan dengan ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ini dirayakan sebagai bentuk penghargaan terhadap para guru.

    Melansir dari laman Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) Kemendikbud, pada peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 25 November 2020 lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim menyampaikan rasa terima kasihnya kepada semua guru, tenaga pendidikan, pemerintah daerah, serta para pemangku kepentingan pendidikan yang telah menciptakan perubahan dan inovasi yang luar biasa. Lebih lanjut Nadiem juga menyampaikan perhatiannya pada para orang tua yang saat ini begitu aktif terlibat mendampingi anaknya, bahu-membahu memotivasi dan menemani belajar serta turut menjadi guru bagi anak-anaknya di rumah.

    Ungkapan yang disampaikan Nadiem dalam peringatan tersebut tentunya sangat relevan dengan kondisi dari kebanyakan orang tua saat ini. Setelah kurang lebih delapan bulan menjadi “asisten guru dadakan” di rumah masing-masing, banyak yang akhirnya memahami betapa sulitnya menjadi seorang guru. Mungkin ada yang berdalih, mereka tidak memiliki latar belakang sebagai guru, sehingga merasakan kesulitan saat mengajar anak. Lainnya beralasan jika anak-anak umumnya lebih patuh pada orang lain ?terutama pada guru? dibanding pada orang tuanya sendiri. Sebagian lainnya merasakan kesulitan membagi waktu antara membantu anaknya belajar dengan kesibukan mereka sendiri.

    Terlepas dari semua dalih atau alasan tersebut, menjadi seorang guru tidak semudah yang dibayangkan. Tidak cukup hanya bermodalkan latar belakang pendidikan saja, namun juga diperlukan dedikasi tinggi, mental baja, maupun hati yang teguh. Meski semua bidang pekerjaan lain juga pasti menuntut karakter-karakter yang kurang lebih sama, namun profesi guru menjadi sangat relevan dengan apa yang dialami oleh para orang tua saat ini. Maka tidak ada salahnya jika mengikuti jejak para guru hebat di luar sana. Banyak cerita inspiratif dari guru-guru hebat yang pasti dapat diambil hikmahnya.

    Kriteria Guru yang Hebat

    Apakah kriteria dari “seorang guru yang bagus?” Tentu tidak jauh dari kualifikasi, pengalaman, dan kecerdasannya.

    Namun apakah yang kemudian menjadikannya sebagai guru hebat? Rusul Alrubail dalam artikelnya berjudul The Heart of Teaching: What It Means to Be a Great Teacher meyakini bahwa seorang guru yang hebat tidak hanya memiliki kualifikasi, pengalaman, dan kecerdasan tinggi, namun juga kemampuannya dalam menunjukkan kebaikan, rasa sayang, dan empati pada muridnya. Dia juga fokus membangun komunikasi yang kuat antara guru dan siswanya. Karena komunikasi inilah yang kemudian menjadi jembatan yang kuat dalam mengembangkan dan menyampaikan suatu pembelajaran.

    Tidak jauh berbeda dengan Alrubail, Jessica T. Servey dalam Teaching and Learning Moments: Remembering the Heart of a Teacher mengungkapkan bahwa mengajar adalah tentang mempelajari sesuatu, membangkitkan rasa ingin tahu, dan membentuk komunitas. Lebih lanjut dia juga menekankan bahwa seorang pengajar sebenarnya juga belajar banyak dari siswanya sebanyak siswanya mempelajari sesuatu dari dirinya.

    Mengikuti Jejak Guru Hebat

    Sebagai orang tua yang merangkap sebagai guru pendamping bagi anak-anak, tidak ada salahnya jika dapat mencontoh karakter terbaik dari seorang guru yang hebat.

    Belajar dari anak. Dikatakan, guru yang hebat akan terus belajar, tidak hanya dari buku namun juga dari lingkungan akademiknya. Mengadopsi cara belajar tersebut, sebagai guru pendamping, orang tua diharapkan juga terus belajar. Tidak hanya dari buku maupun webinar, namun juga dari anaknya sendiri. Belajar berempati melalui respon anak, keingintahuan anak, bahkan kesalahan yang dilakukan anak sekalipun. Ketika orang tua mampu menempatkan diri pada posisi anak dan melihat sesuatu dari sudut pandang anak, maka diharapkan akan berdampak kuat pada keputusan dan tindakan yang akan diambil oleh orang tua.

    Menyebarkan kebaikan. Guru yang hebat akan menunjukkan kebaikan dan rasa sayangnya tidak hanya pada anak didik, namun juga pada rekan sekerja dan orang tua siswa. Mengikuti jejak guru yang hebat, orang tua diharapkan dapat menunjukkan kebaikan dan rasa sayangnya, tidak hanya pada anak, namun juga pada lingkungan di sekitar anak, seperti pada asisten rumah tangga, pada kakek atau nenek, maupun pada tetangga. Studi menemukan bahwa kebaikan itu menjalar. Jika orang tua banyak menebarkan benih-benih kebaikan dan rasa sayangnya, maka dengan sendirinya akan beresonansi pada lingkungan di sekitar anak yang pada akhirnya akan kembali pada anak dan orang tua sendiri. Dengan demikian akan membuat anak lebih memahami lingkungan di sekitarnya. Selain itu, menunjukkan kebaikan dan rasa sayang pada anak akan membuat mereka merasa dipahami, disayang, dan diterima.

    Menjalin komunikasi. Dikatakan, guru yang hebat dapat menjembatani kesenjangan dan membangun hubungan, persahabatan, dan komunitas. Sebagai guru pendamping, orang tua juga dapat menjalin hubungan dan persahabatan yang baik pada anak, sehingga akan terjalin komunikasi yang baik tidak hanya saat melakukan pembelajaran jarak jauh, tetapi juga hal-hal pribadi lainnya. Orang tua juga dapat mendorong anak untuk selalu berperilaku jujur dan berpikir positif dalam segala hal. Anak yang melihat orang tua berperilaku demikian, dia juga akan cenderung melakukan hal yang sama pada orang tua dan orang-orang terdekatnya yang pada akhirnya akan membentuk jalinan komunitas yang lebih luas.

    Meskipun sedikit terlambat, selamat Hari Guru pada para pengajar dan para guru dadakan di seluruh Indonesia. (ntdindonesia/averiani)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Pasangan Amerika Menyelamatkan 4.000 Anak Yatim Piatu di Tiongkok (Bagian 2)

    Pasangan Amerika Menyelamatkan 4.000 Anak Yatim Piatu di Tiongkok (Bagian 2)

    Tim Baker, yang dipanggil “Papa Tim” dengan penuh kasih sayang oleh anak-anak, mengadopsi seorang anak lain bernama Philip. Dia menemukan Philip yang sedang sekarat, di salah satu panti asuhan di sekitarnya. Dia menderita bibir sumbing sejak lahir. Dia membawa Philip ke Shepherd’s Field Children’s Village dan menggunakan alat suntik untuk memberinya susu karena tidak dapat minum dari botol bayi.

    Beberapa hari kemudian, Philip berangsur-angsur memperoleh kekuatannya. Dia tertawa, bergerak, dan mengoceh. Enam bulan kemudian, Philip menjalani operasi pada bibir atasnya dan berhasil disembuhkan. Dia menjadi anak ketujuh dari pasangan Baker.

    Tak lama kemudian, jumlah anak yatim piatu di Children’s Village mencapai lebih dari 80 anak. Lebih dari 95 persen dari anak-anak tersebut menderita berbagai tingkat kecacatan fisik. Mereka tidak hanya membutuhkan perawatan yang teliti, tetapi juga membutuhkan operasi berkala, pengobatan rutin, atau bahkan keduanya. Kebutuhan biaya yang sangat besar ini menjadi fokus upaya penggalangan dana tahunan Baker. Terlepas dari semua tantangan, sikap Baker tetap teguh: “Tidak menolak” dan “Tidak menyerah.”

    Ada seorang anak berusia 6 tahun bernama Yang Yang yang menderita hidrosefalus, suatu kondisi dimana ada penumpukan cairan serebrospinal yang berbahaya di dalam otak. Ketika Yang Yang pertama kali masuk Children’s Village, dia hanya terbaring di tempat tidur dan tidak bisa makan. Setelah operasi dan dibawah pengasuhan semua orang di Children’s Village, Yang Yang mulai belajar bangun, memanjat, makan, dan bahkan tertawa dan bercanda. Setiap kali Baker berkata kepada Yang Yang “aku mencintaimu,” dia akan memutar matanya, memiringkan kepalanya, dan berkata: “Papa Tim, aku mencintaimu.” Kemudian keduanya tertawa bersama.

    Di Children’s Village, kamar tidur anak-anak bersih dan rapi serta setiap kamar dilengkapi dengan pemanas dan AC. Para asisten, semua adalah wanita lanjut usia atau dipanggil “bibi,” yang secara khusus dilatih untuk merawat anak-anak. Anak-anak memandang bibi sebagai “ibu” mereka. Secara keseluruhan, ada 67 bibi yang merawat lebih dari 80 anak. Beberapa anak masih kecil atau tidak bisa bergerak, sehingga para bibi menjaga mereka sepanjang waktu.

    Para asisten dibagi menjadi dua kelompok, satu kelompok bekerja “shift siang” dan lainnya “shift malam”. Mereka menyuapi dan merawat anak-anak di siang hari, memandikan, dan mencuci pakaian mereka menjelang malam, bahkan mencatat waktu tidur anak-anak di malam hari. Seiring berjalannya waktu, ikatan antara para bibi dan anak-anak semakin erat dan setiap kali seorang anak meninggalkan Children’s Village bersama orang tua angkatnya, para asisten merasa sedih dan menangis, meskipun mereka juga bahagia mengetahui itu demi kebaikan anak tersebut.

    Children’s Village melatih anak-anak menjadi mandiri dan memberikan mereka kemampuan untuk masuk dalam lingkungan masyarakat. Children’s Village telah memberikan rumah yang hangat kepada anak-anak yang terlantar, tetapi Baker masih merasa bahwa ini tidak cukup dan ingin berbuat lebih banyak untuk mereka.

    Children’s Village mengelola sekolahnya sendiri dan para guru menyesuaikan isi pelajaran sesuai dengan situasi dan kemampuan anak. Mereka mengajarkan aksara Mandarin, Bahasa Inggris, Matematika, dan juga mengajarkan mereka cara memasak, cara naik bus, cara berbelanja di supermarket, dan banyak lagi.

    Ketika seorang anak mampu mengurus diri sendiri, mereka dilatih untuk melakukan pekerjaan sehari-harinya secara mandiri, kecuali bagi anak-anak dengan kondisi fisik yang buruk. Di kafetaria, setelah makan, setiap anak dilatih untuk mencuci piring mereka sendiri dan memasukkannya kembali sendiri ke dalam lemari yang sudah didesinfeksi.

    Setelah semua hal baik yang telah dia lakukan, Baker masih merasa belum cukup. Dia mulai berpikir ke depan untuk anak-anak yatim piatu tersebut. Kali ini, dia berencana mendirikan pusat pendidikan vokasi di Children’s Village untuk membina kemampuan anak-anak supaya bisa bekerja mandiri dan bisa masuk ke masyarakat di kemudian hari.

    Berdasarkan hukum di Tiongkok, anak yatim piatu yang telah berusia 14 tahun tidak dapat lagi diadopsi oleh panti asuhan. Dalam kondisi normal, anak-anak yang sehat akan masuk ke lingkungan masyarakat dengan bantuan panti asuhan, sedangkan anak-anak disabilitas hanya dapat menghabiskan sisa hidupnya di panti sosial. Baker ingin memberi anak-anak ini kesempatan ? mengajarkan mereka keterampilan bertahan hidup dan cara merawat diri sendiri.

    Di taman Children’s Village, ada dinding yang penuh dengan cetakan tangan. Mereka menyebutnya “Tangan Harapan”. Ini semacam monumen yang mencatat nama dan sidik jari setiap anak yang diadopsi dan mencatat kehidupan baru mereka bersama keluarga angkat mereka. Foto-foto yang dikirim oleh keluarga angkat mereka juga ditempel di dinding satu persatu, membentuk “dinding foto” spesial. Setiap anak di foto itu terlihat sedang tersenyum cerah.

    Menurut Baker: “Saya ingin anak-anak ini mengingat dari mana mereka berasal bahkan meski mereka pergi dan tinggal di luar negeri bersama keluarga angkat mereka serta berbicara dalam bahasa yang berbeda.”

    Sejak 1996 hingga sekarang, Children’s Village telah mengatur dan berkontribusi atas operasi pada lebih dari 3.000 anak disabilitas dan menemukan keluarga angkat bagi lebih dari 900 anak.

    Hal ini membuat Baker, yang kini mendekati usia 60 tahun, sangat bangga. Dia berkata dia ingin menetap di Tiongkok dan tinggal bersama anak-anak sampai akhir hayatnya. Seseorang pernah bertanya kepadanya: “Mengapa mengadopsi anak itu sangat baik?” Baker berkata bahwa dia mencintai anak-anak angkat itu lebih dari anak-anaknya sendiri karena mereka hadir dalam hidupnya dengan cara yang istimewa.

    Baker berkata: “Anak-anak ini memberi saya lebih dari yang saya berikan kepada mereka. Merekalah yang mengubah saya, membuka hati saya, dan membiarkan saya melihat kesedihan dan rasa sakit di dunia ini. Setiap anak yang datang ke Children’s Village memiliki masa lalu menyedihkan yang berbeda, namun disini, senyuman mereka sama. Mereka sama-sama terlihat cerah, dan masa depan mereka secerah senyum mereka. Masalahnya bukan pada anak-anak ini, tetapi pada orang tua dan kerabat yang telah menelantarkan mereka tanpa kasihan.

    Mari kita berharap kebaikan dan cinta Baker dapat membantu anak-anak mengatasi tantangan fisik mereka dan di sisi lain, mengubah ketidakpedulian dan prasangka orang terhadap anak-anak ini dan menginspirasi lebih banyak rasa belas kasih dalam masyarakat Tiongkok. (visiontimes/sia/feb)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Pasangan Amerika Menyelamatkan 4.000 Anak Yatim Piatu di Tiongkok (Bagian 1)

    Pasangan Amerika Menyelamatkan 4.000 Anak Yatim Piatu di Tiongkok (Bagian 1)

    Pada 1990, Tim Baker tiba-tiba memindahkan keluarganya dari Amerika Serikat ke Tiongkok. Tiga puluh tahun kemudian, dia dikenal sebagai “ayah bule” bagi 4.000 anak yatim piatu, dimana 95 persennya adalah anak-anak penyandang disabilitas. 

    Pada Juni 2019, seorang anak perempuan berusia 8 tahun penderita kelumpuhan otak di Nanjing dibuang ke sungai oleh ayah dan kakeknya. Dia ditenggelamkan dengan tas sekolah yang diisi dua batu bata berat. Sungguh tragis gadis kecil ini meninggal karena pandangan masyarakat Tiongkok. Penduduk desa menganggap anak cacat “tidak layak dibesarkan” dan lebih baik membuang anak tersebut.

    Saat ini, masyarakat Tiongkok yang utilitarian dan dikuasai komunis, ditambah lagi dengan kebijakan satu anak, jelas berdampak pada pengabaian anak-anak disabilitas dan peningkatan “kematian yang tidak wajar.” Namun, dimata Baker, semua anak-anak ?bahkan yang cacat sekalipun? adalah harta terpendam yang cantik dan lucu.

    Sepuluh tahun lalu, seorang anak laki-laki dengan luka bakar parah ditinggalkan di ladang jagung di pinggiran kota Tianjin. Saat itu hujan deras dan lebih dari 40 orang berdiri di sana dengan payung di tangan mereka hanya menonton, tetapi tidak ada yang mengangkat bocah itu atau menaunginya dari hujan.

    Jika saja tidak ada seorang petani yang baik dan Baker, bocah itu telah kehilangan nyawanya. Bocah itu menjalani operasi selama 6 jam. Dokter mengamputasi lengan kiri, kaki kiri, semua jari kaki kanan, dan semua jari tangan kanannya. Dokter mengatakan bahwa anak laki-laki itu hanya memiliki peluang hidup 10 persen saja, tetapi anak laki-laki tersebut selamat dan sekarang berusia 16 tahun. Dia bernama Levi.

    Levi diadopsi oleh pasangan Amerika. Dia adalah atlet terkemuka dan jago bermain sepak bola selain berenang, panjat tebing, ski air, dan bahkan bersepeda. Levi juga adalah anggota tim bola basket sekolah. Melihat foto Levi, senyumannya tidak berbeda dengan anak-anak Amerika lainnya. Dia menjalani kehidupan yang luar biasa dan memiliki masa depan yang baik.

    Levi adalah atlet papan atas dan merupakan anggota tim bola basket sekolah. (Gambar: Screenshot / YouTube)

    “Jika hidup Levi berakhir sepuluh tahun yang lalu, tidak akan ada cerita tentang dia hari ini.” Baker tidak berani berpikir lebih dalam. Jauh dilubuk hatinya, dia tahu bahwa ada banyak anak terlantar seperti Levi yang menunggu dia selamatkan.

    Terdampar di Tiongkok selama sisa hidupnya

    Sebelum pindah ke Tiongkok, Baker adalah seorang general manager sebuah supermarket, berpenghasilan tinggi, mempunyai rumah dan mobil. Istrinya seorang ibu rumah tangga yang merawat kedua putri mereka yang cantik.

    Pada 1988, Baker mengalami titik balik yang sangat besar dalam hidupnya karena dia ingin melakukan suatu hal dengan sangat jelas. Akhirnya dia berhenti dari pekerjaannya, dan pindah ke Tiongkok bersama keluarganya. Dia menjadi guru bahasa Inggris di sebuah sekolah di Fushun dan anak-anak disana biasa memanggilnya “Guru Bei.” Setelah setahun, Baker dan keluarganya pindah ke Beijing. Dia berharap bisa menolong lebih banyak anak serta tidak perlu waktu lama bagi dia dan istrinya untuk menjadi sukarelawan di panti asuhan sekitarnya.

    Kali pertama Baker dan istrinya memasuki panti asuhan, mereka kaget melihat kondisi yang memprihatinkan. Di ruangan yang penuh sesak dengan jendela terbuka, ada lebih dari 30 anak yatim piatu yang sedang mengoceh terbaring di atas lantai. Dindingnya kosong hanya ada beberapa gambar yang berhubungan dengan pendidikan anak-anak permulaan sekolah dasar tergantung berdampingan di salah satu sudut ruangan. Seluruh ruangan berbau tidak sedap dan beberapa anak berbaring di atas kotoran mereka sendiri dengan lalat berdengung di sekelilingnya. Tercium bau yang sangat menyengat.

    Kali pertama Baker dan istrinya memasuki panti asuhan, mereka kaget melihat kondisi yang memprihatinkan. (Image: Screenshot / YouTube)

    Apa yang mereka saksikan membuat mereka merasa tertekan. Mereka keluar dengan cepat untuk menenangkan diri sebelum masuk kembali ke ruang itu. Kemudian mereka menggendong anak-anak tersebut, memandikan, menukar pakaian, dan kemudian bermain bersama mereka.

    Setahun kemudian, istri Baker melakukan perjalanan dengan kereta api selama lebih dari 50 jam untuk mengadopsi seorang gadis cacat berusia 5 bulan bernama Esther dari The Guiyang Social Welfare Institute. Dibawah asuhan mereka, Esther belajar membaca dan menulis. Saat ini dia berusia 26 tahun, bekerja sebagai guru di Amerika Serikat, bergabung dengan masyarakat selayaknya orang normal.

    Pada 1995, teman Baker, Philip Head, meninggal terkena serangan jantung di dalam kereta api yang membawanya kembali ke Beijing dari Changchun untuk menemui seorang anak. Ketika pasangan itu menerima kabar buruk tentang temannya, mereka merasa bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak kekal dan hidup itu singkat. Pasangan itu memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk mengubah kehidupan anak-anak tersebut meski banyak tantangan yang akan mereka hadapi.

    Langkah pertama mereka adalah mendirikan yayasan untuk menghormati teman mereka dengan menggalang dana bagi anak-anak disabilitas. Mereka menamakannya “Philip Head Foundation.” Mereka berhenti dari pekerjaannya dan memutuskan untuk membuka panti asuhan sendiri. Mereka menyewa sebuah rumah besar di Langfang dekat Beijing sehingga mereka dapat mengadopsi dan mengasuh anak-anak.

    Rumah bagi anak-anak yatim piatu penyandang disabilitas

    Untuk mendirikan panti asuhan, keluarga Baker menghabiskan tabungan mereka selama bertahun-tahun untuk membeli berbagai perlengkapan anak-anak, seperti popok, susu bubuk, boks bayi, mainan, dan sebagainya. Pasangan itu juga meminta sumbangan dari kerabat dan teman.

    Pada hari pertama setelah mereka mempersiapkan segala fasilitas untuk panti asuhan, mereka mengadopsi enam anak dari The Tianjin Children’s Welfare Institute. Maka, bersama empat anaknya sendiri, mereka membentuk sebuah keluarga besar dengan 10 anak. Baker tidak berhenti disitu, dia secara teratur mengemudikan minibus berisi 11 kursi dan mengunjungi panti asuhan di sekitarnya untuk “menjemput” anak-anak.

    Baker secara teratur mengemudikan minibus berisi 11 kursi dan mengunjungi panti asuhan di sekitarnya unutk ‘menjemput’ anak-anak. (Gambar: Screenshot / YouTube)

    Dia selalu bersedia mengasuh anak-anak yang tidak diterima atau tidak diasuh dengan baik di panti asuhan atau rumah sosial. Baker dan istrinya melakukan semua ini secara sukarela dan bahkan menangani pengeluaran anak-anak dengan memakai uang mereka sendiri.

    Baker beralih pada pengembang pinggiran kota mencari rumah untuk membuka panti asuhan dan terkejut ketika pengembang tersentuh oleh perbuatan baiknya serta setuju untuk menyewakan empat rumah kepadanya dengan harga murah. Baker mulai mengumpulkan dana, mempekerjakan pembantu wanita, dan melatih mereka merawat anak-anak. Sejak itu, Baker dan istrinya menjadi sangat sibuk.

    Meski tenaga mereka terbatas, semua anak dirawat dengan baik. Mereka berpakaian baik dan rapi. Tidak ada tempat yang berantakan di panti asuhan itu. Ini adalah persyaratan ketat dari istri Baker.

    Pasangan itu mengadopsi lebih dari 60 anak dan beberapa minibus ditambahkan ke inventaris. Mereka juga memutuskan untuk mendirikan dan mengelola sekolah sendiri serta mempekerjakan guru. Mereka bahkan mendirikan klinik sendiri.

    Langkah mereka selanjutnya adalah mencari tempat yang lebih besar dengan halaman yang luas untuk anak-anak bermain dan berolahraga di luar ruangan. Baker mengendarai minibusnya ke beberapa tempat untuk mencari lokasi baru.

    Kejutan yang ‘jatuh dari langit’

    Pada 2002, pemerintah Tianjin memberi Baker 33 hektar tanah dengan harga yang sangat murah 1 yuan. Sebidang tanah ini terletak di persimpangan Beijing dan Tianjin sehingga dapat memfasilitasi mereka mengirim anak-anak untuk perawatan medis. Dalam rangka menggalang dana untuk membangun rumah, Baker melakukan talk show dan berpartisipasi dalam acara TV yang ditayangkan di Amerika Serikat, berbagi cerita tentang lebih dari 60 anak yatim piatu kepada penonton Amerika. Kali ini, dia mengumpulkan US$ 268,000. Itu cukup untuk membangun dua buah rumah.

    Baker melakukan talk show dan berpartisipasi dalam acara TV yang ditayangkan di AS yang membantunya menggalang dana untuk membangun dua rumah. (Gambar: Screenshot / YouTube)

    Kejutan yang lebih besar lagi segera datang. Sebuah perusahan desain arsitektur di Beijing bersedia menyelesaikan seluruh desain secara gratis. Semua semen, genteng, cat, sirkuit listrik dan saklar merupakan sumbangan dari orang-orang baik hati bahkan ada yang menjual bahan bangunan seperti batu bata dengan harga grosir.

    Akhirnya, empat rumah kecil berlantai dua dengan dinding eksterior abu-abu, ujung atap kaku, dan genteng kuning mengkilap selesai dibangun dan semuanya berdesain Tiongkok.

    Pada 2006, desa anak-anak selesai dibangun dan Baker menamakannya Shepherd’s Field Children’s Village, karena tanah ini pada awalnya merupakan tempat dimana gembala setempat mengembalakan dombanya. Baker tidak pernah berpikir untuk menamai tempat itu sebagai “panti asuhan” atau “rumah sosial.”

    Dalam pandangannya, ini sama seperti sebuah rumah keluarga dan dia berharap semua anak terlantar bisa merasakan kehangatan kehidupan rumah. Dalam salah satu pembicaraannya, Baker berkata bahwa setiap anak, ketika mereka kali pertama datang, menyiratkan raut menyedihkan di wajah mereka, namun hanya dalam beberapa hari mata mereka berubah cemerlang. (visiontimes/sia/feb)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Menjaga Rumah Tampak Layak Meski Ada Anak-Anak

    Menjaga Rumah Tampak Layak Meski Ada Anak-Anak

    Memiliki anak kecil di rumah dapat menjadi sumber kerunyaman tersendiri bagi kebanyakan orangtua, terutama ketika anak-anak masih balita. Membuat orang tua merasa kewalahan dengan kekacauan yang dibuatnya. Namun, selalu ada cara untuk menjaga agar kondisi tetap stabil dan membuat rumah tetap layak bahkan dengan beberapa anak kecil yang bermain sepanjang hari. Ini hanya tentang mengadopsi pola pikir tertentu dengan cara yang sesuai dengan Anda.

    Pertama-tama, dengan ada anak-anak kecil di rumah, Anda harus dapat menerima kekacauan yang ditimbulkannya. Anak-anak identik dengan berantakan: itu bagian alami dari proses tumbuh kembang mereka. Anak-anak berlarian, menjatuhkan barang-barang, memungut segala sesuatu, membuang barang sembarangan, dan terlihat dekil sekali. Anda harus mampu beradaptasi dengan sifat dasar mereka dan menggunakan strategi yang efektif agar rumah tetap teratur dan bersih.

    Ini rumah, bukan Pinboard Pinterest

    Banyak diantara kita yang mungkin terpengaruh oleh foto-foto sempurna yang kita lihat di media sosial dan menetapkan standar pada tingkat yang luar biasa tinggi. Ini adalah rumah Anda, tempat tinggal Anda, yang dihuni bersama anak-anak Anda. Bukan hanya tatanan sempurna untuk serangkaian unggahan yang dipamerkan di Instagram. Berikan anak-anak sedikit kelonggaran dan biarkan mereka bermain di rumah alih-alih menakuti mereka untuk memungut barang-barang yang mereka jatuhkan. Tindakan Ini akan memiliki dampak negatif. Mereka ingin menikmati rumah mereka, bukan menakutinya.

    Cobalah mengatakan pada diri sendiri bahwa saat ini adalah fase dalam hidup anda dimana segala sesuatu akan menjadi sedikit berantakan. Tetapi akan membaik seiring waktu. Terimalah fase ini apa adanya dan bergerak maju dengan kerangka berpikir yang positif.

    Amati: Ikuti kecenderungan terbaru

    Pada akhirnya kita akan membelikan begitu banyak mainan untuk anak-anak karena rentang pikiran mereka cenderung sangat berubah-ubah dan minat mereka melompat dari satu mainan ke mainan lainnya dalam waktu singkat. Tetap ikuti kecenderungan terbaru dari anak-anak. Diantara segunung mainan yang berserakan di rumah, mungkin hanya 20 persen yang sering dimainkan anak-anak. Sisanya hanya tergeletak tidak terpakai.

    Metode penyisihan

    Mengamati bagaimana anak-anak bermain akan memberi Anda ide yang tepat tentang apa yang harus dilakukan. Setelah Anda dapat mengidentifikasi mainan “peringkat kedua” dari koleksi mainan mereka, Anda akan dapat menyisihkan mainan mereka sesuka Anda. Mereka tidak akan menyadarinya. Carilah badan amal di daerah Anda yang mengumpulkan mainan bekas. Masukkan mainan “peringkat kedua” itu ke dalam kotak tersendiri dan kirimkan ke badan amal pilihan Anda. Atau, Anda juga dapat menghibahkannya ke rumah sakit, perpustakaan, atau ruang-ruang publik lain yang memiliki ruang tunggu anak.

    Membatasi “kekacauan”

    Ada beberapa level pembatasan yang dapat Anda terapkan saat anak bermain untuk meminimalisir kekacauan. Beri mereka area yang cukup luas untuk mainan mereka dan cobalah untuk melakukan kegiatan tetap pada bagian utama ruang bermain. Kadang kala, akan ada mainan yang keluar dari area tersebut, namun kebanyakan anak-anak setuju dengan aturan yang masuk akal dan mereka akan taat mengikutinya selama 80% dari waktu yang ditetapkan.

    Anda juga dapat menggunakan wadah penyimpanan besar agar anak-anak dapat “melambungkan” mainannya berdasarkan kategori. Misalnya, Anda dapat menyampaikan pada anak, warna merah untuk playdough, warna biru untuk balok, warna kuning untuk boneka, dan seterusnya. Ada 2 manfaat yang akan Anda dapatkan. Pertama, memudahkan bagi mereka (dan Anda) untuk merapikan ruangan sesudah bermain dan kedua, Anda tidak perlu menghabiskan waktu mengobrak-abrik seisi rumah untuk mencari jenis mainan tertentu.

    Membangun nilai-nilai

    Anak-anak mungkin identik dengan berantakan dan keras kepala, tetapi mereka akan mengikuti aturan jika Anda menerapkannya dengan cara yang cerdas. Memberikan kompensasi setelah mereka membersihkan mainannya, salah satu caranya. Misalnya dengan menawarkan hadiah istimewa atau berjalan-jalan ke taman seminggu sekali jika mereka membersihkan ruangan setiap kali mereka selesai bermain. Pujilah mereka setiap kali mengikuti aturan. Ini mungkin sulit pada awalnya, tetapi sebagian besar anak-anak akhirnya mengikutinya seiring waktu, membuatnya menjadi lebih mudah bagi Anda untuk melakukannya dalam jangka panjang. (visiontimes/sia/feb)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI