Kisah

Indahnya Keragaman Budaya

Indahnya Keragaman Budaya

Jalan-jalan bukan sekadar melihat atau menikmati pemandangan indah, tetapi juga mengasah kepekaan kita akan budaya yang berbeda-beda. Perbedaan ini bukanlah sesuatu yang dipertentangkan, tetapi justru untuk membangun rasa saling pengertian kita.

Beberapa kenangan perjalanan berikut, barangkali dapat mengilustrasikan hal ini.

Mahal Kalee

Perempuan Quechua (Persnickety Prints/Unsplash)

Suatu ketika, saat berada di La Paz, Bolivia, penulis hendak membeli buah-buahan dan keperluan sehari-hari lainnya, maka pergilah ke pasar tradisional setempat. Para pedagang umumnya perempuan ‘Indian’ setempat yang berbahasa Quechua dan Spanyol tentunya.

Penulis bertanya pada seorang pedagang tua, berapa harga pepaya. Dia menyebut suatu angka, penulis tanpa banyak pikir berujar, “Muy caro (mahal sekali).” Tidak sadar, bahwa ucapan itu telah melukainya. Setelah berkeliling ternyata harga pedagang perempuan tua itu adalah yang termurah, maka kembalilah penulis hendak membeli pepayanya. Apa jawabnya? “Muy caro!” Dia tidak mau menjual pepayanya lagi. Kini giliran penulis yang terdiam. Kebudayaan tawar-menawar di Indonesia yang penulis terapkan di sana, ternyata telah menyinggung perasaannya.

Makan Jangan Berbunyi

Backpacking di Selandia Baru amatlah menyenangkan, hampir di setiap kota maupun tempat wisata terdapat youth hostel yang harganya terjangkau. Umumnya youth hostel menyediakan fasilitas dapur bersama, sehingga para turis bisa membeli bahan makanan di supermarket dan memasak ala kadarnya. Dapur bersama juga menjadi ajang para backpacker untuk saling berinteraksi dan bertukar informasi perjalanan.

Mungkin karena kendala bahasa, umumnya backpacker asal Asia bercengkerama dengan sesama Asia, sementara yang asal Barat juga bersama turis Barat lainnya.

Hari itu penulis makan siang bersama dengan backpacker laki-laki asal Jepang dan Korea. Dalam bahasa Inggris seadanya saling bertukar sapa, kami bertiga semua masak makanan yang sama: mie instan. Saat makan, mendengar si Jepang mengunyah mie dengan lahap sambil “berbunyi”, si Korea mengingatkannya, berkata, “Di sini, orang makan tidak “berbunyi”. Si Jepang pun mengangguk-angguk menyimak. Kami pun lanjut makan, apa yang terjadi, si Korea dengan sumpitnya menghirup mie dan kuahnya, yang tentu saja terlihat nikmat namun juga tidak kalah “bunyinya”…

Goyangan Kepala Orang India

Budaya, Keragaman Budaya, jalan jalan, backpacking, jalan ke india
Ini artinya “Ya” atau “Tidak” ya?
(Photo: Youtube: Indian Nod: Explained)

Bagi yang gemar menonton film Bollywood, barangkali sudah mengenal bahwa orang India memiliki gelengan/anggukan kepala yang berbeda makna dari orang Indonesia.

Suatu hari di Metropolitan Mumbai, penulis hendak berkunjung ke “Gateway of India”, monumen yang dibangun pada abad ke-20 untuk mengenang kunjungan Raja Inggris George V beserta ratu ke India pada tahun 1911.

Gateway of India, Mumbai (Parth Vyas/Unsplash)

Maka penulis pun naik bus nomor tertentu atas anjuran warga setempat. Di tengah perjalanan, penulis meminta tolong kepada seorang penumpang agar memberi tahu bila bus melintas di “Gateway of India”. Dia pun menggoyangkan kepalanya, penulis tidak yakin apa maknanya tetapi berpikir positif pria itu akan memberi tanda saat tiba di tujuan.

Bus pun melaju berbelok ke kanan, ke kiri, lurus dan seterusnya. Tiba-tiba di satu perhentian, pria itu turun. Penulis pun panik dan terpaksa bertanya lagi ke penumpang lainnya, beruntung tujuan masih belum terlewati, tetapi anggukan kepala yang khas itu sungguh tidak mudah dimaknai untuk pendatang yang baru pertama kali ke India.

***

Budaya kita memang berbeda-beda, inilah yang membuat dunia kita menjadi indah. Sambil melancong, mari buka wawasan kita dan bertoleransi atas perbedaan. (Karnadi Nurtantio / NTD Indonesia)