Videos

  • Patroli Tempur Kedua China di Dekat Taiwan selama Sepekan

    Patroli Tempur Kedua China di Dekat Taiwan selama Sepekan

    Perseteruan di Selat Taiwan kembali mencuat. Dalam sepekan, Taiwan berhasil melacak patroli kesiapan tempur gabungan kedua China, dan menyebut Beijing sebagai pemicu utama ketidakstabilan kawasan.

    Kementerian Pertahanan Taiwan berkata pihaknya telah mendeteksi 29 pesawat militer dan tujuh kapal perang China beroperasi di dekat kepulauan tersebut. Sebagian besar penerbangan dilaporkan melintasi garis median Selat Taiwan, perbatasan yang memisahkan aktivitas militer China dan Taiwan. Taiwan mengatakan ini adalah patroli kedua dalam sepekan.

    Hal ini terjadi tak lama setelah pembahasan Trump dan Xi di Beijing soal Taiwan. Akhir pekan lalu, China mengerahkan lebih dari 100 kapal di sekitar rantai pulau pertama, wilayah yang membentang dari Jepang, Taiwan, hingga Filipina. Rezim China mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya meski tak pernah sekalipun memerintahnya. Presiden Taiwan menolak klaim kedaulatan Beijing dan menegaskan bahwa hanya rakyat Taiwan yang berhak menentukan masa depan mereka.

  • AS Tekor $60 Miliar! Kerahkan AI Bongkar Trik Jalur Gelap “Cuci Label” Produk China

    AS Tekor $60 Miliar! Kerahkan AI Bongkar Trik Jalur Gelap “Cuci Label” Produk China

    Menurut laporan Gedung Putih terbaru, Dewan Penasihat Ekonomi memperkirakan AS kehilangan nilai impor sekitar 60 miliar dolar tiap tahunnya melalui lintas-pengiriman ilegal. Apakah artinya ini? Sebagai contoh, ambil China yang menurut laporan memiliki rekam jejak tertinggi dalam praktik lintas pengiriman.

    China menghadapi tarif impor tinggi dari AS. Alih-alih mengirim barang langsung ke AS, China akan mengirim produknya ke negara ketiga yang bertarif lebih rendah, misalnya Vietnam. Di sana, paket-paket akan dikemas ulang secara minimal, dirakit atau diselesaikan dan diberi label “Made in Vietnam”. Dengan cara ini, produk “Made in China” dapat dikenakan tarif yang lebih rendah untuk masuk ke AS.

    Laporan menyoroti sejumlah negara yang dikatakan membantu China dalam praktik ini, termasuk sekutu terdekat AS seperti Kanada, Meksiko, Uni Eropa, Jepang, dan Korea Selatan, hingga negara-negara seperti Panama, Sri Lanka, Kenya, Vietnam, dan Thailand.

    Laporan menyebutkan praktik ilegal ini menyebabkan hilangnya lapangan kerja di sektor manufaktur AS. Diperkirakan bahwa setiap $1 miliar arus pengiriman transit ilegal setara dengan hilangnya 6.000 lapangan kerja di AS.

    Kini, Gedung Putih mengumumkan bahwa Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan sedang mengembangkan sistem berbasis AI yang mampu menganalisis tanda-tanda kontainer, pola kemasan, dan citra sinar-X,  untuk mendeteksi ketidaksesuaian antara muatan yang dilaporkan dan muatan sebenarnya.

  • Mantan PM China Zhu Rongji Wafat, Arsitek Ekonomi yang Bawa China Masuk WTO

    Mantan PM China Zhu Rongji Wafat, Arsitek Ekonomi yang Bawa China Masuk WTO

    Mantan Perdana Menteri China Zhu Rongji meninggal dunia hari Rabu di usia 97 tahun. Ia menjabat dari tahun 1998 hingga 2003, mendorong China bergabung dengan WTO pada 2001, dan membantu mengubah China menjadi pabrik dunia dengan produk-produk “Made in China”.

    Tanpa China di WTO, mungkin tidak akan ada perang dagang AS-China saat ini. Di dalam negeri, Zhu dikenal sebagai sosok tegas dalam bidang ekonomi yang mendorong reformasi besar-besaran, membantu meletakkan landasan bagi pertumbuhan pesat ekonomi China pada beberapa dekade berikutnya.

    Selain warisan reformasi ekonomi, Zhu juga dikenal karena pendekatan lunaknya pada Falun Gong sebelum penganiayaan dimulai tahun 1999. Pada 25 April tahun itu, lebih dari 10,000 praktisi Falun Gong berkumpul di dekat kantor pengaduan Dewan Negara di Beijing untuk mengajukan petisi. Ini terjadi setelah penangkapan 45 praktisi di sebuah kota dekat Beijing yang memprotes sebuah artikel majalah yang mengkritik Falun Gong.

    Zhu bertemu dengan perwakilan praktisi tersebut dan menyetujui permintaan mereka, termasuk pembebasan para praktisi yang ditangkap. Ia juga mengizinkan penerbitan buku-buku Falun Gong. Meskipun berakhir damai, pemimpin rezim China saat itu, Jiang Zemin, memutuskan untuk menganiaya Falun Gong atas popularitasnya yang makin meningkat.

  • Susah Lepas, Komponen China Masih Kuasai Jantung Drone Militer AS dan Inggris

    Susah Lepas, Komponen China Masih Kuasai Jantung Drone Militer AS dan Inggris

    Kekhawatiran terkait komponen asal China dan drone kembali disorot. Pejabat Inggris berkata kamera pada drone Angkatan Laut Inggris mengirim data kembali ke China.

    Sebuah perusahaan kontraktor pertahanan Inggris memproduksi drone-drone tersebut, namun kameranya berasal dari pemasok pihak ketiga. Walau Inggris berkata data yang dikirim ke China tidak bersifat sensitif, penemuan ini menyoroti betapa sulitnya melepaskan diri dari rantai pasokan drone China.

    Bulan lalu, militer AS menggunakan kapal drone tak berawak untuk meledakkan kapal selam Iran. Washington telah lama memperingatkan risiko drone China, mengatakan drone dapat memotret fasilitas militer AS dan infrastruktur kritis, untuk dikirim ke Beijing. Rezim China juga berpotensi memanipulasi drone tersebut.

    Tahun lalu, AS melarang produsen drone China menjual model drone baru dan komponen kritis di AS. Namun larangan tidak berpengaruh pada model drone yang sudah beredar di pasaran. Hingga tahun lalu, produsen drone China DJI masih mendominasi 90% drone yang digunakan lembaga penanggulangan darurat AS, termasuk kepolisian dan damkar.

    Drone buatan AS juga masih bergantung pada komponen tertentu dari China, seperti magnet tanah jarang yang digunakan dalam motor drone. Produsen drone di seluruh dunia juga bergantung pada China untuk baterai, kamera, dan antena drone.

    Di Taiwan, drone diwajibkan diproduksi dan dirakit di dalam negeri, dan mereka melarang penggunaan komponen buatan China.

    Beijing pun cukup ahli memainkan kartunya. Pekan lalu, Kementrian Perdagangan China memperketat kontrol ekspor drone dan komponennya ke AS, untuk membalas AS yang melarang impor lebih dari 40 perusahaan China terkait masalah tenaga kerja paksa.

  • Roket China Meledak Setelah Lepas Landas

    Roket China Meledak Setelah Lepas Landas

    Masalah kembali menimpa proyek luar angkasa China. Sebuah roket gagal meluncur sesaat setelah lepas landas di China bagian selatan pada Senin. Media pemerintah menyebutnya anomali penerbangan dan penyebabnya masih diselidiki.

    Berdasarkan rekaman video, roket yang mengangkut satelit komunikasi tersebut hancur di ketinggian rendah sehingga tidak ada puing yang mencapai orbit. Ini merupakan kegagalan pertama model tersebut sejak insiden penerbangan perdananya pada 2020, setelah sebelumnya sukses mencatat belasan peluncuran.

    Insiden ini memperpanjang tren sulit proyek luar angkasa China, setelah dua roket gagal meluncur di hari yang sama pada Januari dan dua pendorong roket gagal mendarat pada Desember. Para ahli mempertanyakan apakah ini sekadar kasus tunggal atau indikasi masalah yang lebih mendasar.

  • Dalih Isu Lingkungan, China Bikin Aturan di Laut China Selatan

    Dalih Isu Lingkungan, China Bikin Aturan di Laut China Selatan

    Ke Laut Cina Selatan, di mana AS mengecam upaya rezim China mendirikan cagar alam di sebuah pulau yang disengketakan. Pihak berwenang China awal bulan ini mengumumkan aturan baru untuk mengelola cagar alam di terumbu karang yang berlokasi di dalam Zona Ekonomi Eksklusif Filipina seluas 200 mil laut.

    Berdasarkan peraturan baru China ini, kegiatan seperti penangkapan ikan, penambangan, dan penggalian karang atau terumbu karang di dalam wilayah itu dilarang. Peraturan telah menghalangi akses nelayan Filipina ke salah satu wilayah penangkapan ikan tradisional mereka.

    Jubir Deplu AS mengatakan langkah ini adalah upaya Beijing untuk menggunakan dalih lingkungan dan hukum guna mempercepat pengambilalihan wilayah tersebut. Juru bicara tersebut juga berkata bahwa AS akan berdiri bersama sekutunya Filipina untuk mendukung kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka.

  • AS Himbau Warganya di China Waspadai Risiko Penahanan dan Tuduhan Spionase

    AS Himbau Warganya di China Waspadai Risiko Penahanan dan Tuduhan Spionase

    Senin lalu, Kedutaan Besar Amerika mengeluarkan pengumuman kepada seluruh warganya yang berada di China untuk segera mendaftar ke Smart Traveler Enrollment Program (STEP). Program ini bertujuan mempermudah pihak Kedutaan AS untuk menghubungi warganya apabila terjadi situasi darurat, seperti bencana atau kerusuhan. Saat ini, Kemelu AS menempatkan China pada status himbauan perjalanan level dua, dari total empat level risiko. Dalam himbauan tersebut, pemerintah AS menyoroti sejumlah risiko keamanan yang berpotensi dihadapi warganya mulai dari larangan keluar China secara sepihak, interogasi, hingga penahanan atas tuduhan ancaman terhadap keamanan nasional. Warga yang ditahan juga berisiko tidak mendapatkan akses layanan konsuler, dan dampak yang paling mungkin terjadi berupa pengusiran dari China.

    AS juga memperingatkan bahwa otoritas China berhak mengategorikan berbagai jenis dokumen, data atau informasi sebagai rahasia negara. Warga asing juga berisiko ditahan atas tuduhan spionase. Menurut laporan terdahulu, beberapa aktivitas bisnis yang dianggap lumrah di negara barat, seperti mengumpulkan informasi suatu perusahaan bisa dikategorikan sebagai spionase di China. Bahkan, memberi tahu publik mengenai wabah penyakit dapat membuat seseorang terjerat hukum atau masuk penjara. Hal ini sungguh terjadi saat pandemi COVID-19.

  • Pangkas Anggaran, AS Akan Tutup 5 Misi Diplomatik Termasuk Indonesia

    Pangkas Anggaran, AS Akan Tutup 5 Misi Diplomatik Termasuk Indonesia

    Departemen Luar Negeri AS memangkas representasi diplomatiknya dengan menutup lima misi diplomatik. Langkah ini memicu kritik keras karena dinilai dapat memberi celah bagi China untuk memperluas pengaruh diplomasinya.

    Adapun negara-negara yang terdampak termasuk Kanada, Jepang, Indonesia, Kamerun, dan Grenada. Deplu AS menyatakan pemangkasan ini didasarkan dari peninjauan operasional luar negeri yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi anggaran.

    Keputusan ini menyusul pemangkasan lebih dari 300 orang staff Departemen Luar Negeri AS tahun lalu. Kubu Demokrat AS menilai penutupan tersebut akan melemahkan jangkauan diplomasi AS dan memberi celah bagi China untuk memperluas pengaruhnya. Tokoh senior Demokrat di Komite Senat mengingatkan bahwa Beijing dapat memanfaatkan celah ini untuk menantang posisi AS.

    Rencana penutupan konsulat di Kanada telah memicu kritik tajam. Kantor yang beroperasi sejak 2001 itu berperan vital dalam mendukung perdagangan dan investasi bilateral. Meski demikian Deplu AS menegaskan penataan ulang ini tetap mengedepankan prosedur resmi tanpa mengurangi efektivitas diplomasi.

  • Uji Klinis Berujung Maut: Ada Apa dengan Bioteknologi China?

    Uji Klinis Berujung Maut: Ada Apa dengan Bioteknologi China?

    Industri bioteknologi China kembali disorot saat seorang anak penderita distrofi otot meninggal Agustus lalu setelah menjalani terapi gen eksperimental. Terapi HuidaGene adalah pihak di balik pengobatan tersebut. Mereka menerbitkan laporan hari Rabu menyatakan anak itu meninggal akibat reaksi imun parah yang menyebabkan masalah pernapasan serius. Perlu dicatat, perusahaan memiliki cabang yang berlokasi di New Jersey AS.

    Pasien adalah bagian dari uji klinis yang melibatkan anak laki-laki usia 4 hingga 8 tahun dengan gangguan otot langka dan seringkali fatal. Kasus ini menyusul laporan kematian seorang anak lain dan studi terapi gen terpisah tahun lalu.

    Berbagai insiden ini memicu sorotan terhadap bagaimana perawatan eksperimental China dipantau, seiring upaya Beijing yang terus memperluas industri bioteknologinya.

    Para ahli berkata kekhawatirannya adalah apakah penilaian dan pelaporan yang transparan dapat mengimbangi pertumbuhan industri tersebut.

  • Awas! Router Buatan China ini Punya “Pintu Belakang”

    Awas! Router Buatan China ini Punya “Pintu Belakang”

    Ancaman tersembunyi dari China dalam router sehari-hari. Para peneliti keamanan siber menyatakan telah menemukan pintu belakang dari 20 model router buatan China, yang dapat memungkinkan penyerang mengambil alih kendali router dan mengakses perangkat yang terhubung.

    Perusahaan keamanan VulnCheck merilis laporan pada hari Rabu, menyebutkan pintu belakang itu terintegrasi ke router dengan merk ZBT Link dan Wiflyer. VulnCheck memperkirakan lebih dari 100,000 perangkat router itu telah dipasang di seluruh dunia.

    Para peneliti mengatakan router-router itu secara otomatis terhubung ke domain internet yang terdaftar di China setiap 35 detik. Jika seseorang mengendalikan koneksi tersebut, mereka dapat mengambil alih router dan mengakses perangkat lain di jaringan yang sama. Para ahli mencatat banyak pengguna rumahan dan usaha kecil yang tidak sadar akan hal ini.

    Penemuan ini muncul di tengah peringatan oleh AS dan Uni Eropa bahwa router buatan China dapat menimbulkan risiko keamanan siber. Regulator federal telah mengambil langkah untuk membatasi impor beberapa router asing ini, namun Beijing berulang kali membantah keterlibatannya dalam spionase atau serangan siber.