Tujuan Terakhir dari Paham Komunis

Tujuan Terakhir dari Paham Komunis (22): Merusak Kebudayaan Kultivasi

“Tujuan Terakhir dari Paham Komunis” (22)

a. Budaya Kultivasi dalam Kebudayaan Tradisional

Konsep tradisional Tiongkok “hidup berasimilasi dengan Langit” menggunakan “ikatan antara Langit dan manusia” sebagai inti pemikiran terhadap persoalan alam semesta dan kehidupan manusia, ia adalah semacam ‘Pandangan Dunia [World Outlook]’ dan ‘Pandangan Semesta [Universe Outlook]’. Manusia percaya dengan eksistensi dari bentuk kehidupan yang melampaui manusia, yang disebut Buddha – Tao – Dewa adalah tempat berlabuh kehidupan yang diimpi-impikan manusia.

“Hidup berasimilasi dengan Langit” telah mengakui eksistensi “Langit”, karena “Langit adalah sebutan Tuhan”, maka juga telah mengakui eksistensi “Tuhan”.

“Sang Tuhan, Asal dari Langit Bumi, Juga Menjadi Awal dari Semua Makhluk” [Shuo Yuan – Xiu Wen].

Bila nurani dan moralitas hati seseorang telah sesuai dengan prinsip Langit, maka orang ini adalah manusia yang mampu berasimilasi dengan Langit.

*Shuo Yuan adalah kumpulan cerita dan anekdot dari periode pra-Qin hingga Dinasti Han Barat. Kisah-kisah itu disusun dan dijelaskan oleh sarjana Konfusius, Liu Xiang.

Manusia Berasal dari Langit, Kembali ke Langit —- Kebudayaan Kultivasi bangsa Tionghoa mempunyai sejarah yang sangat panjang. Di mata orang-orang Tiongkok kuno, “Tao” adalah sumber dari semua makhluk dan semua kehidupan. Laozi berkata:

“Manusia mengikuti Hukum Bumi, Bumi mengikuti Hukum Langit, Langit mengikuti Hukum Tao, Tao mengikuti Hukum Alam”,

Beliau telah merinci hubungan manusia dengan Alam, mengungkap bahwa segala hal dan makhluk dalam alam semesta harus mengikuti karakteristik Alam Semesta serta pola pergerakannya yang tumbuh berkembang tanpa henti.

“Mengamati Jalan Langit, Menyesuaikan perilaku dengan Langit” [Huangdi Yifujing]

telah memberitahukan prinsip berperilaku dan menangani masalah, yaitu tindak tanduk orang-orang seharusnya sesuai dengan Jalan Langit, sehingga seluruh jiwa raga pribadi secara alami menyatu dengan Jalan Langit, dengan demikian segalanya menjadi harmonis, kolong Langit akan kembali ke sedia kala, sehingga juga membuatnya bertahan lama. Dengan menggunakan teori aliran Buddha dan Tao, kepercayaan kepada Tuhan dapat terlihat dengan jelas, Mereka aslinya adalah membimbing manusia menjalani kultivasi untuk menjadi Buddha dan Tao. Dalam sejarah banyak sekali orang bermoral tinggi yang berkultivasi Buddha dan Tao, proses kultivasi dan pencapaian kesempurnaan mereka telah memperkaya kebudayaan aliran Buddha dan Tao.

*Huangdi Yinfujing, secara harfiah Kitab Jimat Tersembunyi Kaisar Kuning, adalah tulisan suci Taoisme terkait dengan astrologi Cina dan alkimia Internal gaya Neidan.

Manusia bila ingin menyelidiki prinsip sejati alam semesta, manusia bila ingin mencari Tuhan, mencari tempat berlabuh untuk diri sendiri, pertama-tama harus tuluskan niat, menata kondisi mental dengan benar. Tuhan sama sekali tidak memandang kaya-miskin dan tinggi-rendah duniawi, hanya melihat hati manusia.

Zhang Sanfeng dalam karyanya “Dadaolun [Pandangan Maha Tao]” menjelaskan prinsip kultivasi, berkultivasi Tao harus terlebih dulu berkultivasi tubuh, berkultivasi tubuh harus terlebih dulu meluruskan hati dan tuluskan niat, rahasia Langit akan terungkap semua.

“Saya berharap manusia generasi selanjutnya berkultivasi Tao Ortodoks ini, itu sebabnya bicara terus terang. Berkultivasi Tao menganggap kultivasi tubuh paling utama, dengan demikian harus meluruskan hati dan tuluskan niat sebelum kultivasi tubuh. Niat tulus dan hati lurus, kemudian semua nafsu duniawi disingkirkan, setelahnya menekankan membangun dasar fondasi.”

Mengutamakan Moral [De] Melaksanakan Kebaikan, Berkultivasi Tubuh Meluruskan Hati, itulah hakiki dari kultivasi.

Bagi orang Tiongkok dalam sejarah, berkultivasi Buddha dan Tao tidak saja bukan takhayul, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan mereka. Kultivasi sama sekali bukan metode bagi pecundang untuk lepas dari rasa gundahnya, bahkan dalam berbagai dinasti dan generasi ketika kaisar dinasti saat itu menikmati semua kekayaan dan kekuasaan duniawi, juga masih harus berkultivasi mengikuti Tao. Huangdi [Kaisar Kuning] belajar Tao dari Guang Chengzi, Hening Berkultivasi Melatih Tubuh, ketika berumur seratus dua puluh tahun mengendarai naga dan membubung ke langit di siang bolong; Kaisar Tang Taizong [Li Shimin] secara pribadi menyambut Xuanzang sekembalinya mengambil kitab dari Xi Tian [Langit Barat] sehingga Fa Buddha tersebar luas di wilayah Tang belahan Timur dunia; Jenghis Khan tiga kali memanggil pendeta Tao Qiu Chuji, menanyakan teknik memimpin negara dan menjaga kesehatan; para kaisar yang lain juga menghormati Buddha dan Tao, memberi persembahan ke Langit.

*Guang Chengzi adalah tokoh Tao dalam kisah klasik Fengshen Yanyi, salah satu murid Yuanshi Tianzun. (Wikipedia); Qiu Chuji adalah murid utama dari Wang Chongyang, pendiri aliran Quanzhen. Dia paling terkenal di antara Tujuh Taois Sejati dari Utara, dan juga merupakan pendiri aliran Tao Gerbang Naga.

b. Bagaimana PKT Merusak Kebudayaan Tradisional

Sejarah Tiongkok sejak era Xuan Yuan Huangdi dimulai, selalu mencatat budaya kultivasi dari manusia menjadi Dewa, yaitu praktik kehidupan yang dikenal orang-orang: Balik ke Asal Kembali ke Sejati dan Berkultivasi Hati Mengarah Kebaikan. Inti sari dari Kebudayaan Tradisional inilah, yang justru berusaha dihancurkan oleh roh jahat komunis.

Roh jahat komunis membuat manusia menyangkal kepercayaan kepada Tuhan, menyangkal bahwa manusia bisa meningkat melalui kultivasi. Dengan membuat manusia tidak percaya pada Tuhan dan menguasai ruang yang ditempati kepercayaan, barulah dapat membuat orang-orang percaya pada hal-hal iblis. Kultivasi harus meluruskan hati dan berniat tulus, sedangkan sifat arogansi merupakan watak hakiki iblis, sepenuhnya bertolak belakang dengan kriteria kultivasi. Di mata roh jahat komunis tidak ada Tuhan, di tengah proses ia merusak kebudayaan kultivasi, secara khusus menanamkan sifat iblis dan keangkuhan kepada manusia, tidak membiarkan manusia bersikap rendah hati sebaliknya mendorong manusia puas dan bangga dengan dirinya, seperti slogan ‘menyerang Langit melawan Bumi’ dan ‘tidak percaya Hukum Langit’, agar manusia melangkah menuju arah yang berlawanan dan tidak sesuai dengan Tuhan.

Di zaman kuno, manusia harus meluruskan hati dan berniat tulus barulah dapat kultivasi, ketika satu sisi sifat Ilahi dalam hati telah berperan, barulah dapat menyadari karakteristik alam semesta dan Hukum yang diajarkan oleh Tuhan. Roh jahat komunis dengan merusak kebudayaan kultivasi, telah memperkuat sifat arogan manusia, sehingga manusia memasuki suatu kondisi jiwa yang sepenuhnya bertentangan dengan Tuhan. Menyebabkan manusia modern seperti layaknya radio yang tidak akurat frekuensinya, mudah menerima informasi dari paham komunis, namun sangat sulit memahami kebijaksanaan dan tuntunan dari Tuhan.

Pengrusakkan semacam ini mengakibatkan banyak orang Tiongkok zaman sekarang mungkin sudah tidak mengetahui, bahwa manusia dapat menggunakan metode kultivasi yang diwariskan oleh Dewa, sungguh-sungguh berkultivasi nyata menjadi Buddha – Tao – Dewa. Dalam sejarah Tiongkok, banyak sekali kisah kultivasi Buddha dan Tao. Namun PKT mengelabui orang Tiongkok zaman sekarang sehingga terdengar bagai sebuah cerita “Mitos”, karena Tuhan dianggap tidak eksis, maka semua cerita Mitos ini tentu saja menjadi omong kosong belaka; jika berbicara tentang kultivasi Buddha dan Tao, orang-orang kalau tidak merasa ini adalah takhayul feodalisme dan idealisme, maka akan menganggapnya “Candu Masyarakat”.

*Candu Masyarakat, “Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world, and the soul of soulless conditions. It is the opium of the people.”, Karl Marx

Ini adalah konspirasi roh jahat komunis yang secara langsung memutus jalan bagi manusia untuk menjadi Dewa, sehingga banyak sekali orang yang berjodoh kehilangan kesempatan kultivasinya yang sangat berharga. “Kisah Perjalanan ke Barat” telah mencatat sebuah kisah kultivasi yang lengkap, di dalam ada sebuah perkataan yang sangat bermakna:

“Tubuh Manusia Ini Sulit Diperoleh,
Sulit Terlahir di Daratan Pusat,
Fa Ortodoks Sulit Ditemukan:
Total Berjumlah Tiga,
Adakah yang Lebih Beruntung dari ini Semua?”

Artinya memperoleh tubuh manusia tidaklah mudah, memiliki jodoh pertemuan besar, barulah lahir di Daratan Pusat, namun karena gangguan dari roh jahat komunis, sehingga tidak percaya kultivasi, tidak mengerti kandungan makna Fa Ortodoks, dan melewatkan kesempatan memperoleh Fa Ortodoks. Jika kehidupan kali ini melewatkannya, Menyesal pun Sia-sia!

*Kisah Perjalanan ke Barat, Xi You Ji, Chapter 64: Human life is hard to obtain; it is hard to be born in the central lands; and the true dharma is hard to find. There is no greater good fortune than to have all three. WJF Jenner Translation, 1955.

Untuk membaca bagian lain, silahkan klik di sini.

Tonton di Youtube, silahkan klik di sini.