“Tujuan Terakhir dari Paham Komunis” (10)
1. Soviet Rusia sebagai Bahan Uji Coba
Demi memusnahkan umat manusia, roh jahat komunis pertama-tama harus memusnahkan Kebudayaan bangsa Tionghoa. “Roh jahat” pun memilih tetangga dekat Tiongkok, yaitu Uni Soviet yang memiliki geografi dan populasi sangat besar, untuk dijadikan bahan uji coba. Uni Soviet terletak sangat dekat dengan Tiongkok, dalam aspek ekonomi, militer, serta politik regional, dapat menjadi tenaga pendukung yang strategis sekali bagi PKT; juga karena Uni Soviet memiliki wilayah dan populasi yang besar, barulah dapat lolos dari kepungan negara-negara Eropa yang baru saja berdiri, juga serangan dari Jerman saat Perang Dunia ke II, dengan demikian paham komunis barulah dapat bertahan di tengah ancaman kematiannya.
Ketika Uni Soviet baru saja berdiri, dengan leluasa “Ekspor Revolusi” kekuatan nasionalnya. Soviet menjadikan Tiongkok sebagai fokus Ekspor Revolusi, dengan mengirim Grigori Voitinsky ke Tiongkok untuk mendirikan kelompok kecil komunis. Kemudian melalui Mikhail Borodin, Kuomintang diatur untuk menerima kebijakan “Front Persatuan Pertama atau Aliasi KMT-PKT”, agar PKT bisa merasuk ke dalam tubuh Kuomintang dan tumbuh dengan cepat.
Ketika Uni Soviet baru saja didirikan, sudah bereksperimen membunuh manusia dengan kekerasan untuk menciptakan teror, yaitu membentuk Komisi Pembersihan Seluruh Rusia, yang disingkat Cheka. Lenin yang percaya bahwa “Kediktatoran adalah kekuasaan yang dilandasi langsung kekerasan dan tidak dibatasi oleh hukum apa pun*”, telah memberi Cheka kewenangan untuk membunuh manusia sesuka hati tanpa perlu diadili. Riset menunjukkan bahwa, dari tahun 1917 sampai tahun 1922, korban yang secara langsung digantung mati dan dieksekusi tembak oleh Cheka, mencapai angka jutaan orang. Hanya tahun 1921 itu saja, kelaparan yang diciptakan PKUS [Partai Komunis Uni Soviet] telah menewaskan sekitar 5 juta orang.
*The scientific term ‘dictatorship’ means nothing more nor less than authority untrammeled by any laws, absolutely unrestricted by any rules whatever, and based directly on force. (The Question Of The Dictatorship, V.I.Lenin)
Satu lagi uji coba penting Uni Soviet, adalah dengan kekerasan menciptakan situasi di mana seluruh negeri hanya dipimpin oleh satu ajaran sesat komunis yang berlandaskan pada “Ateisme”. Sedangkan ideologi yang lain, tidak peduli itu adalah agama atau pun kebudayaan tradisional, sedang berada dalam barisan menuju kemusnahan.
Pada tahun 1917, setelah merampok kekuasaan, Lenin segera secara besar-besaran mengeluarkan jurusnya, mulai menggunakan kekerasan dan penganiayaan untuk menyerang agama maupun kepercayaan Ortodoks, orang-orang terpaksa meninggalkan Tuhan sehingga rusak moralitasnya. Ini juga merupakan uji coba yang dilakukan demi merusak Kebudayaan Tiongkok.
Vladimir Lenin di satu sisi terus mempromosikan Ateisme, “Di dalam teori sosialisme ilmiah dan praktiknya, Ateisme adalah bagian dari Marxisme yang tak perlu diragukan sekaligus tak bisa dipisahkan”*. Dari tahun 1917, sejak hari pertama Bolshevik memegang kekuasaan, pengrusakkan kebudayaan dengan kekerasan dan pemusnahan kepercayaan kepada Tuhan, telah ditetapkan sebagai satu-satunya tujuan utama dari revolusinya.
*Atheism is a natural and inseparable part of Marxism, of the theory and practice of scientific socialism. (Religion, V.I.Lenin)
Setelah Lenin meninggal, Joseph Stalin mengikuti langkah-langkahnya, dan pada tahun 1930an dimulailah ‘Pembersihan Besar-besaran’ atau Great Purge yang sangat brutal, selain orang-orang dari internal partai komunis, kaum intelektual dan para pengikut agama juga diseret dalam barisan pembersihan.
Stalin pernah mendeklarasikan ke seluruh negeri, bahwa akan merealisasikan “Rencana Lima Tahun Ateisme”, saat rencana ini selesai dieksekusi, gereja terakhir akan ditutup tanpa sisa, pastor terakhir akan dihabisi tanpa sisa, sehingga bumi Uni Soviet akhirnya berubah menjadi “Lahan Subur Ateisme Komunis”, yang tidak dapat lagi ditemukan adanya jejak agama.
Menurut perkiraan konservatif, dalam kampanye “Pembersihan Besar-besaran”, pastor yang dianiaya hingga meninggal mencapai 42.000 orang. Hingga tahun 1939, seluruh Uni Soviet hanya tinggal 100 lebih gereja Ortodoks Timur yang terbuka untuk umum, padahal sebelum Revolusi Oktober jumlah gereja ada 40.437. Di seluruh Uni Soviet, gereja Ortodoks Timur dan ‘biara keabasan’ (Abbey) yang ditutup mencapai 98%. Pada masa periode ini, semakin banyak kaum elit kebudayaan juga kaum intelektual yang dihukum, baik itu dikirim ke kamp konsentrasi Gulag, atau pun ditembak mati.
Sejak kematian Stalin hingga Uni Soviet runtuh tercerai-berai, rezim partai komunis Soviet tetap melanjutkan serangan ke berbagai kalangan kaum elit kebudayaan dan agama. Novelis terkenal Rusia, juga seorang sejarawan, Aleksandr Solzhenitsyn memperkirakan, Stalin secara total menyebabkan 60 juta orang mati secara tidak wajar.
Karena Tiongkok adalah panggung besar pertunjukan manusia selama 5000 tahun, dan perang ‘Lurus’ – ‘Jahat’ di dunia manusia akan dipentaskan untuk terakhir kalinya di Tiongkok, maka setelah rezim komunis Uni Soviet selesai memainkan peran uji-cobanya, segera hilang bagai asap di udara, runtuh tercerai-berai. Kubu komunis yang pernah bikin gempar dalam satu periode ini, akhirnya diumumkan bubar.
2. PKT Naik ke Panggung
Setelah Perang Dunia ke II, walaupun Fasisme telah dimusnahkan, namun di lain pihak telah melahirkan “kubu komunis” yang sangat jahat. Ketika di puncak kejayaannya, kubu ini menguasai 1/3 populasi seluruh dunia dan peta wilayah bumi. Jika diukur kedalaman dan luasnya jumlah pembunuhan dan pengrusakkan kebudayaan, partai komunis Tiongkok adalah rezim paling jahat dari semua rezim komunis yang ada. Gerakannya untuk memusnahkan kebudayaan di Tiongkok adalah melalui perencanaan yang sangat sistematis dan detail.
Kebudayaan Tradisional bangsa Tionghoa adalah kebudayaan yang dibangun oleh Sang Pencipta sendiri di Tiongkok, demi menyelamatkan semua makhluk di saat terakhir. Menghancurkan Kebudayaan Tradisional bangsa Tionghoa adalah tujuan paling utama dari roh jahat komunis. Ia tahu jelas, bahwa yang dapat dimusnahkan oleh kekerasan hanyalah tubuh fisik manusia. Dengan menggunakan kekerasan dan berbagai macam cara lainnya untuk memusnahkan kebudayaan, barulah dapat memusnahkan jiwa orang-orang Tiongkok. Ini sebabnya, ketika secara terencana membantai kelas sosial kaum elit dengan kekerasan, ia juga menghancurkan pilar spiritual dan media substansi dalam kebudayaan tradisional yang menjadi pegangan hidup manusia di dunia. Langkah selanjutnya adalah memutus hubungan antara Tuhan-manusia, sehingga tujuannya untuk memusnahkan kebudayaan tradisional, lalu memusnahkan manusia pun tercapai sudah.
Dasar dari pengrusakkan dengan kekerasan ini, adalah agar para kaum elit bungkam dan mati layu dalam rangkaian gerakan ini. Roh jahat komunis selain sukses besar mengumpulkan kejahatan umat manusia, juga berhasil mematangkan jurus pembantaian dengan kekerasan, cuci otak secara paksa, penindasan dengan tipuan serta berbagai macam cara dan muslihatnya. Demi pertarungan puncak ‘Lurus’ dan ‘Jahat’ di kemudian hari, ia menjalankan serangkaian latihan penyempurnaan yang terakhir.
Pada saat yang sama, PKT juga secara terencana, secara sistematis telah mendirikan “Kebudayaan Partai” yang jahat, sekaligus menggunakannya untuk mengedukasi dan melatih manusia yang belum habis dibunuh, serta mengubah mereka menjadi alat bagi roh jahat komunis, agar dapat terus membantai lebih banyak lagi manusia di dunia.
Roh jahat komunis juga tahu jelas, bagaimana memanfaatkan segala keuntungan ekonomi, cuci otak politik dan cara lainnya, agar manusia di dunia tunduk, patuh dengan segala pengaturannya. Gerakan – penindasan – pembantaian yang dilakukan berkali-kali, membuat rezim ini makin lama makin mahir menggunakan cara-cara tersebut.
Untuk membaca bagian lain, silahkan klik di sini.
Tonton di Youtube, silahkan klik di sini.
