“Tujuan Terakhir dari Paham Komunis” (11)
3. Membantai Habis Kaum Elit
Kelas sosial tuan tanah dan tokoh masyarakat di pedesaan; serta para pedagang dan kaum elit di perkotaan; para sarjana dan kaum elit kebudayaan lainnya, berkonstribusi dalam mewariskan Kebudayaan Tradisional 5000 tahun bangsa Tionghoa. Menghancurkan para kaum elit ini, merupakan satu langkah penting untuk menghancurkan Kebudayaan Tradisional. Ini sebabnya, PKT lalu menciptakan musuh, di pedesaan mulai membantai “tuan tanah” dan tokoh masyarakat, di perkotaan membunuh para “kapitalis”. Sambil menciptakan teror juga sekaligus merampok kekayaan masyarakat.
Gerakan PKT sebelum dan sesudah merebut kekuasaan yakni “Reformasi Lahan”, atau slogan “Ganyang Tuan Tanah – Bagi Lahan Garapan”, tepatnya adalah dengan kekerasan membunuh pewaris kebudayaan di pedesaan. Jelas PKT sama sekali tidak ingin memberikan tanah garapan kepada petani. Ia masih menggunakan muslihat yang sama, yaitu memberi sedikit rasa manis terlebih dulu kepada petani, setelah selesai membantai tuan tanah dan tokoh masyarakat, serta merusak kebudayaan di pedesaan, segera dengan gerakan “Kolektivisasi” mengambil kembali tanah garapan yang dibagikan kepada petani. Hasilnya petani dalam skala besar masih tetap menelan penderitaan.
Para pemilik modal di perkotaan juga menjadi sasaran pembantaian PKT. Ini bukan hanya demi merampok kekayaan mereka saja, namun juga karena mereka adalah pencipta kekayaan masyarakat, kekuatan yang mempertahankan kestabilan ekonomi masyarakat, juga pewaris dari Kebudayaan Tradisional, bahkan merupakan kelompok masyarakat yang memiliki pemikiran tentang hak kebebasan manusia seperti di Barat.
Para biksu dan pendeta Tao dalam agama, berperan penting dalam menyebarkan kitab-kitab kultivasi Buddha dan Tao. PKT mengarahkan ujung tombak ke bagian kebudayaan yang ada hubungan langsung dengan kepercayaan kepada Tuhan, yaitu “agama”, setelah melalui pembantaian, penghukuman, cuci otak, dipaksa kembali ke duniawi, menyimpangkan inti ajaran, berandal agama yang sudah tunduk kepada PKT diangkat sebagai kepala, untuk mendirikan Asosiasi Agama Buddha, Asosiasi Agama Tao dan asosiasi lainnya, lalu Asosiasi-asosiasi ini dipakai sebagai alat PKT dalam mengendalikan dan menghancurkan agama.
Tidak peduli itu adalah para biksu dalam agama, ataupun tokoh kaum elit di dunia sekuler, begitu lenyap, maka akan terjadi pemutusan tali kebudayaan. Yang berjalan beriringan dengan pemusnahan agama adalah gerakan “Reformasi Ideologi” PKT yang ditujukan kepada kaum intelektual. Lewat didikan Materialisme, Ateisme dan teori Evolusi, para pelajar secara sistematis dicuci otak, ditanamkan doktrin kebencian terhadap Kebudayaan Tradisional. Lalu menggunakan gerakan “Anti Kanan”, semua kaum intelektual yang tidak tunduk dijebloskan ke dalam kamp kerja paksa, dibuang ke lapis terendah masyarakat, dibunuh dengan “mangkuk nasi” dan “opini publik”, agar para cendekiawan yang dulunya memegang hak berbicara, dan mendominasi opini publik, berbalik menjadi pihak yang dibenci dan dipandang rendah.
Setelah gerakan “Anti Kanan”, baik dalam keluarga, sekolah, maupun dalam masyarakat, sudah tidak dapat terdengar sedikit pun suara-suara independen. Para pelajar yang tumbuh di tengah lingkungan seperti ini, bukan saja tidak percaya Tuhan, namun terhadap seni dan Kebudayaan Tradisional juga tidak ada sedikitpun rasa hormat. Walau demikian, PKT terhadap hal ini sama sekali belum puas, biar bagaimanapun orang yang sudah agak berumur, masih menyimpan ingatan tentang Kebudayaan Tradisional, benda budaya dan situs bersejarah serta warisan Kebudayaan Tradisional lainnya, masih bebas dapat ditemukan di mana-mana, nilai-nilai tradisi masih tersebar lewat berbagai macam bentuk kesenian. Itu sebabnya, PKT dengan memanfaatkan para pelajar yang telah dicuci otak, memanfaatkan jiwa pemberontak darah muda mereka, telah meluncurkan gerakan “Hancurkan Empat Kuno”, supaya Kebudayaan bangsa Tionghoa, baik secara materi maupun spirit, seluruhnya tenggelam dalam lautan bencana.
Dalam proses membantai orang-orang ini, PKT berniat jahat ingin memperoleh banyak hasil dalam satu gebrakan: “Pertama, dengan terciptanya atmosfir teror, dapat menakuti semua upaya pemberontakan yang ada; kedua, merampok kekayaan masyarakat untuk kepentingan sendiri, dan memperkuat kekuasaan rezim; ketiga, rakyat ditempatkan dalam posisi kemiskinan dan kekacauan, agar rakyat sibuk dengan urusan pakaian dan pangan, tidak ada waktu dan semangat lagi untuk menerima didikan maupun mewarisi kebudayaan; keempat, rakyat dibuat mati rasa terhadap tindak kekerasan semacam ini, karena menghadapi kejahatan yang tidak manusiawi semacam ini, jika mental tidak dibuat mati rasa, rakyat tidak berhasil dibujuk untuk membenarkan pembunuhan, maka satu-satunya hal yang akan terjadi adalah pemberontakan. Proses ini merupakan proses menyeret moralitas manusia agar jatuh tergelincir; kelima, menciptakan pemutusan Kebudayaan Tiongkok, agar manusia kehilangan landasan kebudayaan, juga kesempatan takdir diselamatkan oleh Sang Pencipta di saat terakhir.
Dari 5 tujuan yang disebutkan di atas, sekarang sudah berapa banyak yang berhasil dicapai PKT? Tidak ada salahnya, kita dari cara-cara pembantaian yang dilakukan PKT, dan jumlah manusia yang dibunuh, melakukan analisa yang lebih mendalam.
A. Pembantaian di Pedesaan dan Perkotaan
PKT pada bulan Maret 1950 menerbitkan “Instruksi untuk Menindas Kaum Kontra-Revolusi Tanpa Ampun”, yang disingkat gerakan “Menindas Kontrarevolusioner”. Pada bulan Februari 1951, PKT menginstruksikan, “Di pedesaan, bunuh Kontrarevolusioner, rata-rata harus melampau skala 1/1000 populasi.” Pada saat itu populasi Tiongkok adalah sebanyak 600 juta orang, ini berarti setidaknya ada 600 ribu kepala manusia yang jatuh ke tanah. PKT mempublikasikan, bahwa sampai akhir tahun 1952, “Kaum Kontra-Revolusi” yang dibunuh adalah 2,4 juta orang lebih, faktanya manusia yang dibunuh paling sedikitnya mencapai 5 juta orang, angka ini hampir mencapai 1/100 populasi saat itu.
Dari satu data ini, kita dapat mengetahui bahwa pembantaian semacam ini telah menyebabkan luka betapa besar terhadap kebudayaan. “Pada tahun 1949, para pemuda di wilayah Huangdu (Shanghai), 81,4% di antaranya adalah buta huruf. Di dalam keluarga petani miskin dan kelas menengah ke bawah, tidak dapat ditemukan satu orang pun yang melek huruf. Contohnya desa Shenjiabang, pada tahun 1949, dari total 24 keluarga, ada 19 keluarga yang selama tiga generasi tidak pernah menginjakkan kaki ke sekolah, bahkan setiap rumah dan keluarga tidak dapat ditemukan sebatang kuas pena pun, untuk menulis sepucuk surat saja, harus pergi sejauh 2 km di luar desa untuk memohon bantuan”. Dengan kata lain, menghabisi mereka yang disebut tuan tanah dan petani kaya di pedesaan, juga berarti menghabisi semua orang yang melek huruf dan berpendidikan di pedesaan.
Jika “Menindas Kontrarevolusioner” dan “Reformasi Lahan” utamanya membunuh tuan tanah dan tokoh masyarakat, maka gerakan “Tiga Anti dan Lima Anti” tahap berikutnya adalah membantai tokoh pemilik modal dan aset di perkotaan, termasuk orang-orang di perkotaan yang pernah mendapat didikan tradisi, yang paham bagaimana caranya menjalankan perusahaan ataupun perdagangan, juga mengerti nilai ‘Kebebasan’ dari masyarakat Barat. Gerakan ini menciptakan atmosfir teror di perkotaan sekaligus juga merampok kekayaan.
B. Menyingkirkan Agama: Memutus Hubungan dengan Kepercayaan Tradisional
Kepercayaan tradisional adalah sumber dari Kebudayaan Tiongkok, karena biar bagaimanapun kebudayaan adalah hasil warisan Dewa kepada manusia, sedangkan prinsip kepercayaan tradisional adalah didirikan langsung oleh Tuhan.
Di Tiongkok, yang berurat akar paling mendalam adalah kepercayaan dari aliran Tao, Buddha, dan Konfusius. Mereka memberitahu orang-orang apa itu Buddha, apa itu Tao, dan bagaimana menjadi seorang manusia. Selama beribu-ribu tahun, orang-orang percaya pada Dewa dan menghormati Buddha, menjaga standar moralitas agar tidak merosot terlalu cepat terbawa oleh arus.
Pada tahun 1950, PKT mengeluarkan instruksi kepada semua pemerintah daerah, meminta mereka sepenuhnya melarang aliran Huitaomen, yang merupakan agama lokal dan organisasi masyarakat bawah tanah. Dalam gerakan kali ini yang melibatkan desa di seluruh negeri, pemerintah telah mengerahkan mereka yang disebut “Kelas Sosial yang Bisa Diandalkan”, untuk membuka serangan terhadap para anggota Huitaomen. Berbagai tingkat pemerintahan ikut berpartisipasi membubarkan organisasi yang dicap “Takhayul” seperti: agama Kristen, agama Katolik, agama Tao, agama Buddha, dan organisasi lainnya. Menuntut para anggota keagamaan tersebut, segera melapor ke pemerintahan sekaligus “bertobat dan memulai hidup baru”. Jika tidak melapor tepat waktu, sekali diperiksa dan diketahui, maka segera dihukum berat. Pada tahun 1951, pemerintah mengeluarkan hukum tertulis, yaitu bagi aktivis Huitaomen yang masih tetap bertahan, akan dijatuhi hukuman mati atau penjara seumur hidup.
Berbagai kelompok agama di Tiongkok, di tengah penganiayaan PKT dengan kekerasan, telah jatuh berguguran. Para pengikut sejati dalam komunitas agama Buddha dan Tao, dianiaya dan dibunuh dengan keji, mereka yang tersisa, banyak yang kembali ke dunia sekuler. Juga ada banyak anggota PKT terselubung, yang khusus menyamar dengan kasaya biksu atau jubah pendeta Tao, untuk menyimpangkan sutra Buddha maupun naskah Tao. Dari dalam kitab-kitab ini, dicarikan dasar-dasar acuan untuk gerakan PKT.
Semua agama ortodoks dihancurkan, sedangkan tuan tanah dan tokoh masyarakat di pedesaan, juga pedagang di perkotaan, ada yang dibunuh, juga ada yang dipenjara. Yang tersisa, dalam kondisi mental tertekan dan ketakutan, gelisah sulit melewati hari demi hari.
C. Reformasi Ideologi: Ateisme Menguasai Pendidikan
Reformasi – penganiayaan – penghancuran oleh PKT terhadap elit kaum intelektual, juga berdasarkan perencanaan yang sistematis. Menghadapi kaum intelektual, “Reformasi Ideologi” yang khusus menyasar kaum intelektual di Universitas-universitas, mulai diluncurkan pada periode awal PKT memegang kekuasaan. Terhadap ahli didik dan intelek tingkat tinggi dari pemerintahan KMT sebelumnya, tentu saja PKT tidak menaruh kepercayaan. Masalahnya jika tanpa mereka ini maka Universitas tidak bisa berjalan, para talenta teknologi juga tidak bisa dibina, oleh karena itu PKT pun mengadopsi metode yang disebut Restrukturisasi Sistem Fakultas. Mereka secara langsung menghapus Universitas pendidikan agama, karena kepercayaan agama sama sekali tidak cocok dengan Marxisme; kemudian melakukan reformasi di Universitas-universitas swasta, juga menghapus filosofi, sosiologi, dan fakultas lainnya dari Universitas, karena para sarjana hasil didikan fakultas-fakultas ini, memiliki pemikiran dan analisa tentang persoalan-persoalan sosial-politik, serta memiliki sejumlah ide tentang ‘Kebebasan’. Bagi rezim PKT, ini merupakan halangan yang sangat besar. Pada saat yang sama, PKT juga secara total meniru sistem pendidikan Soviet Rusia, dengan mengubah sistem pendidikan sebelumnya yang menjunjung tinggi pemikiran dan kebebasan akademis, secara paksa menjalankan Reformasi Ideologi, para dosen dan murid Universitas dibina menjadi generasi yang tunduk dengan perintah PKT, yang hanya mementingkan teknologi, tidak percaya Tuhan dan tidak memiliki kepercayaan.
Dari tahun 1950 sampai tahun 1953, setelah Restrukturisasi Sistem Fakultas, Universitas Komprehensif multidisipliner porsinya di antara perguruan tinggi dan universitas, adalah sebesar 24% di tahun 1949, namun pada tahun 1952 turun menjadi 11%. Sejumlah besar Universitas Komprehensif terpandang dan bersejarah telah kehilangan nilai dan status yang semestinya, dan diubah menjadi Universitas Politeknik; Jumlah Universitas Politeknik baru meningkat drastis, slogan “Belajar dari Soviet Rusia” telah sukses diimplementasikan secara menyeluruh.
Dengan mengadopsi Humaniora “model Amerika”, di pemerintahan KMT sebelumnya, telah menghasilkan sejumlah sarjana yang sangat berpengaruh dan berstandar, di bidang sejarah – filosofi – sosiologi, tidak pernah kekurangan bibit bertalenta. Kaum intelektual Humaniora yang mendapat pengaruh dan didikan “Liberalisme Inggris dan Amerika” ini, sama sekali tidak cocok dengan ideologi Marxisme, dan secara alami diberi label sebagai “kaum borjuis rendah” atau Petite bourgeoisie. Humaniora yang bertentangan dengan sistem Marxisme, semuanya dihentikan dan dihapus. Sosiologi adalah di antaranya, yang telah dihapus sepenuhnya dari daratan Tiongkok.
Tujuan lain dari Restrukturisasi Sistem Fakultas adalah untuk memecah belah Universitas warisan pemerintahan KMT sebelumnya; antar departemen Universitas, dan antar dosen selaku tulang punggungnya; dan memutus hubungan sejarah antara profesor pendiri dengan sekolahnya; juga secara besar-besaran mengambil keuntungan atas kendali dan dominasi rezim PKT terhadap kaum intelektual, agar bermanfaat untuk mendirikan dan memperkuat rezim totaliter komunis.
Mantan presiden Universitas Peking, Ma Yinchu, pada tanggal 23 Oktober 1951, di “Harian Rakyat (People’s Daily)” menerbitkan artikel berjudul “Gerakan Pembelajaran Politik untuk Pengajar Universitas Peking”, yang isinya ada perkataan: “Harus sesuai dengan kebutuhan negara, Restrukturisasi Sistem Fakultas secara total, …… dan bila ingin tujuan ini tercapai, kunci paling utamanya, adalah harus …… secara sadar dan sukarela menjalankan Reformasi Ideologi.” Singkat kata, menjalankan restrukturisasi universitas tepatnya adalah demi Reformasi Ideologi.
“Reformasi Ideologi” kali ini dengan Restrukturisasi Sistem Fakultas, yang khusus ditujukan kepada ahli didik dan intelek tingkat tinggi, dapat dihitung sebagai gerakan awal PKT setelah merebut kekuasaan, untuk memaksa kaum intelektual menyerahkan diri.
D. Menganiaya Kaum Intelektual: Seluruh Rakyat Dipaksa untuk Berbohong
Sebelum tahun 1949, Tiongkok memiliki kaum intelektual sekitar 2 juta orang, meskipun beberapa dari mereka belajar ke luar negeri di negara-negara Barat, namun masih tetap mewarisi sebagian pemikiran tradisional, seperti mengultivasi diri, menata keluarga, mengelola negara, dan perdamaian dunia. PKT tentu saja tidak akan melepaskan mereka, karena sebagai kelas cendekiawan, efek pemikiran mereka terhadap ideologi kalangan rakyat, sama sekali tidak bisa diremehkan.
Pada tahun 1957, PKT menggunakan slogan “Ratusan Bunga Tumbuh Bermekaran, Ratusan Aliran Berlomba Gagasan”, meminta kaum intelektual dan massa di Tiongkok “membantu PKT dalam Gerakan Perbaikan Yan’an”, niatnya adalah untuk memancing keluar “kaum anti partai” di antara mereka. PKT berjanji “tidak mencari-cari kelemahan, tidak mengkritik tanpa dasar, tidak memberi stigma, bahkan tidak cari perhitungan di lain hari”, dan “Orang yang berbicara tidak berdosa”, sandiwara ini kelihatannya berhasil memakan banyak korban. Kaum intelektual terkenal saat itu seperti Zhang Bojun, Long Yun, Luo Longji, Wu Zuguang, Chu Anping dan lainnya, dengan jujur berbicara terus terang, menunjukkan berbagai kekurangan PKT. Tapi dalam waktu semalam, situasi langsung berubah drastis, gerakan ‘Anti Kanan’ pun dimulai, mereka semua dicap sebagai kaum Kanan yang “anti partai – anti sosialisme”. Gerakan Anti kanan ini telah menandai 550 ribu orang sebagai “Kaum Kanan”, 270 ribu orang kehilangan jabatan, 230 ribu orang ditetapkan sebagai “kaum Kanan Tengah” juga “kaum yang anti partai – anti sosialisme”. Mangkuk nasi mereka telah direbut pergi, kehidupan menjadi terancam, hanya dapat bersikap waspada dan hati-hati, hidup dengan menahan segala hinaan.
Gerakan ini, selain membuat para kaum intelektual mendapat penganiayaan, juga telah mengirimkan sebuah pesan yang sangat jelas kepada seluruh orang Tiongkok: “Di bawah kekuasaan PKT, siapa saja yang menyampaikan kebenaran, maka dia akan menghadapi akhir tragis.” Yang lebih buruk lagi, di setiap gerakannya, PKT selalu menuntut seluruh rakyatnya ikut serta dalam “Mengungkap dan Mengkritik”, bahkan hak orang-orang untuk “tetap diam” telah direnggut.
Berkata Bohong, bagi Kebudayaan Partai, boleh dikatakan sebagai salah satu tindakan jahat yang paling mewakili “karakteristik PKT”. Melalui berkali-kali gerakan politik, PKT melatih orang Tiongkok menggunakan Kebudayaan Partai dalam menimbang masalah dan menangani persoalan, agar manusia dibuat terbiasa berkata bohong. Ketika berhadapan dengan segala tiruan, kebohongan, tipuan, baik-buruk yang terbolak-balik, bukan saja tidak merasa muak, bahkan saling berlomba untuk melakukannya.
Sampai hari ini, daratan Tiongkok di mana-mana dapat ditemukan rokok palsu, arak palsu, obat palsu, makanan palsu, ijazah palsu, surat nikah (cerai) palsu, dan lain-lain. Pemalsuan dalam segala aspek menjadi sebab timbul dan membanjirnya barang palsu, tidak bisa disangkal bahwa ini semua adalah dimulai dari kebiasaan berbohong rakyat Tiongkok, begitu meninggalkan nilai “Sejati” yang menjadi garis batas moralitas ini, kepalsuan macam apa lagi yang dapat membuat resah hati rakyat Tiongkok?
Gerakan Anti Kanan, adalah satu langkah penting yang diambil PKT untuk merusak moralitas dan Kebudayaan Tradisional Tiongkok secara menyeluruh.
Seiring dengan jatuhnya kaum elit kebudayaan, roh jahat komunis telah berhasil memutus warisan Kebudayaan Tradisional Tiongkok, yang dirajut tiap generasi, yang terus-menerus diwariskan tanpa henti. Sejak itu, generasi muda berikutnya sudah tidak dapat lagi memperoleh didikan dan wejangan dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan tetangga yang membentuk karakter mereka secara halus, sehingga berubah menjadi sebuah generasi tanpa kebudayaan.
Dengan gerakan Tiga Anti, Lima Anti, Menindas Kontrarevolusioner, Reformasi Ideologi, Restrukturisasi Sistem Fakultas dan Anti Kanan, serta serangkaian gerakan yang detail direncanakan untuk menghancurkan kebudayaan dan membantai berbagai kalangan elit kebudayaan, para kaum elit di pedesaan dan perkotaan yang mendukung Kebudayaan Tradisional Tiongkok pada dasarnya telah berhasil dihancurkan. Pada saat yang sama, generasi baru Materialisme, Ateisme, Kebudayaan Partai, telah berhasil dibina hingga matang. Pemikiran dan tindak kekerasan yang terbawa mereka, mulai merasuki sukma, siap untuk menghancurkan Kebudayaan Warisan Dewa, yang merupakan rencana langkah selanjutnya.
E. Mengubah Manusia Menjadi “Bukan Manusia”
Pada tanggal 16 Mei 1966, setelah “Pengumuman Komite Pusat Partai Komunis Tiongkok” atau “Pengumuman 16 Mei” diterbitkan, PKT meluncurkan gerakan dengan skala yang lebih besar untuk merusak Kebudayaan Tradisional, yaitu Revolusi Besar Kebudayaan. Bulan Agustus, dengan anak-anak dari kader senior sebagai tulang punggung, Pengawal Merah sekolah menengah Beijing meluncurkan aksi skala besar di Beijing, seperti menjarah harta keluarga, menganiaya, membantai dan lainnya. Pada akhir bulan Agustus 1966, di berbagai distrik kota Beijing, tercatat ada ribuan orang tewas, dan terciptalah apa yang disebut dengan teror “Agustus Merah”.
Kekejaman PKT selama Revolusi Kebudayaan, dalam buku “Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis” telah banyak diungkap. Yang perlu kita perhatikan di sini adalah, semua kekejaman ini dalam aspek kebudayaan, sampai sejauh apa telah melukai rakyat Tiongkok.
Ambillah insiden pembantaian di distrik Daxing Beijing sebagai contoh. Dari tanggal 27 Agustus sampai tanggal 1 September 1966, 13 Komune Rakyat di distrik Daxing, dengan total 48 Brigade Produksinya, berturut-turut telah membunuh 325 orang. Di antaranya, yang paling tua berumur 80 tahun, yang paling muda hanya berumur 38 hari, dan sebanyak 22 keluarga telah dihabisi. Metode pembunuhannya, ada yang dipukuli dengan tongkat, ada yang dibacok dengan golok, ada yang dicekik dengan tali tambang. Sedangkan yang masih bayi, satu sisi kakinya diinjak, kaki yang satunya lagi ditarik, hingga terkoyak menjadi dua bagian.
Pelaku kekejaman ini sama sekali tidak mempunyai hati nurani, sifat manusianya sudah punah sehingga tidak perlu dibahas lagi. Sedangkan para saksi mata, juga harus menanggalkan “belas kasih”, dengan demikian barulah dapat tahan melihatnya. Ini juga berarti harus meninggalkan nilai “Ren (kasih)” dalam Kebudayaan Tiongkok.
Orang dulu berkata:
“Jika tidak punya belas kasih lagi, berarti bukan manusia”. (Mengzi, Gong Sun Chou I)
Perilaku “Bukan Manusia” semacam ini adalah berkat dorongan segenap upaya PKT. Banyak orang justru karena “berperilaku baik” di tengah pembantaian ini, maka barulah diperbolehkan bergabung dengan PKT. Ambil provinsi Guangxi sebagai contoh, berdasarkan hitungan kasar, saat Revolusi Kebudayaan tiba-tiba banyak yang gabung ke partai, ada 9 ribu orang lebih yang bergabung dengan partai setelah membunuh orang, ada 20 ribu orang lebih yang membunuh orang setelah bergabung dengan partai, dan yang terkait dengan insiden pembunuhan masih ada 19 ribu orang lebih. Hanya satu provinsi ini saja, sudah ada 50 ribu anggota PKT yang ikut serta dalam insiden pembunuhan.
Dalam peristiwa-peristiwa selanjutnya, seperti insiden Tiananmen 4 Juni 1989, hingga “penganiayaan Falun Gong” yang dimulai tahun 1999, mereka yang banyak membunuh orang dan muslihatnya keji, semuanya telah mendapat penghormatan dan imbalan materi, bahkan promosi jabatan. Komandan paling kejam, seperti Luo Gan dan Zhou Yongkang, dipromosikan oleh Jiang Zemin ke posisi tertinggi negara yaitu “Komite Tetap Politbiro”, sebagai hadiah atas “jasa” pembunuhan, serta memusnahkan moralitas dan kebudayaan.
Dalam penganiayaan terhadap Falun Gong, PKT menghabiskan banyak sumber daya negara, memakai metode siksaan keji yang dikumpulkan dari dulu, baik dari dalam maupun luar negeri. Selain dipukul dengan kejam, juga ada pelecehan seksual yang membuat murka orang-orang; menggigil di tengah cuaca dingin, kehausan di bawah terik matahari; kerja paksa yang melampaui batas kemampuan tubuh manusia; larangan tidur dalam waktu yang sangat lama; membiarkan ular beracun, serigala, dan kerumunan nyamuk, mengigit praktisi Falun Gong; bahkan secara hidup-hidup mengambil organ praktisi Falun Gong untuk memperoleh keuntungan dan lain-lain.
Kekejaman skala besar ini sudah menjadi “kejahatan terhadap umat manusia”. Dengan kata lain, asalkan masih manusia, maka ada kewajiban untuk menentang tindak “kejahatan terhadap umat manusia” ini, sedangkan PKT memaksa semua orang ikut serta dalam pembunuhan dengan kekerasan dan penganiayaan agama ortodoks yang mereka lakukan. Juga ada yang secara pasif menyetujui dan bekerja sama dengan tindak kejahatan ini. Artinya sangat banyak orang telah dibuat kehilangan standar dalam membedakan baik-buruk, benar-salah, bajik-jahat, sekaligus telah menjadi “Bukan Manusia” yang membantu kejahatan tirani.
*”Kejahatan terhadap umat manusia” adalah istilah di dalam hukum internasional yang mengacu pada tindakan pembunuhan massal dengan penyiksaan terhadap tubuh dari orang-orang, sebagai suatu kejahatan penyerangan terhadap yang lain. Para sarjana Hubungan internasional telah secara luas menggambarkan “kejahatan terhadap umat manusia” sebagai tindakan yang sangat keji, pada suatu skala yang sangat besar, yang dilaksanakan untuk mengurangi ras manusia secara keseluruhan. (wikipedia)
Ketika Tuhan datang menyelamatkan dan menolong manusia, yang dituju adalah manusia yang masih layak disebut sebagai “Manusia”. Ketika PKT memaksa orang-orang berubah menjadi “Bukan Manusia”, itu berarti sedang menghilangkan kesempatan bagi mereka untuk diselamatkan, dengan kata lain, sedang mendorong manusia ke dalam lubang neraka.
Pada saat yang sama, ketika roh jahat komunis menghasut orang-orang mempraktikkan kekerasan dan membantai manusia di dunia, orang-orang diberitahu bahwa membunuh adalah hal yang seharusnya, bahwa belas kasih manusia sudah seharusnya dilepaskan, serta menanamkan konsep “harus dingin dan tidak berperasaan ketika menghadapi musuh”, yang menjadi sifat Kebudayaan Partai. Contoh semacam ini, terlalu banyak untuk disebutkan satu-satu. Setiap tindak kejahatan PKT adalah dilakukan secara sengaja demi membangun Kebudayaan Partai yang berguna untuk merusak Kebudayaan Tradisional serta menghancurkan moralitas manusia. Di bawah pengaruh racun Kebudayaan Partai ini, banyak manusia telah berubah menjadi tukang pukul dan algojo bagi roh jahat komunis. (Bersambung)
Untuk membaca bagian lain, silahkan klik di sini.
Tonton di Youtube, silahkan klik di sini.
