“Tujuan Terakhir dari Paham Komunis” (12)
Bab 3. Membantai dengan Kekerasan: Kejahatan Menembus Kubah Semesta (Akhir)
4. Merusak Alam
Tuhan tidak hanya menciptakan umat manusia, namun juga telah mengatur lingkungan alam bagi umat manusia bertahan hidup. Terutama di daratan tengah Shenzhou, Kebudayaan Tradisional yang luas dan mendalam serta kandungan makna yang terhubung dengan Langit, juga terwujud langsung dalam lingkungan alam, ini adalah perwujudan konkret dari Kebudayaan Tradisional ‘hidup berasimilasi dengan Langit’. Di gunung ternama dan sungai besar, sebenarnya terdapat Dewa gunung dan Dewa sungai, yang menjaga lingkungan alam tempat umat manusia bertahan hidup.
Tiongkok selaku “Negara Pusat” pilihan Tuhan, gunung-gunung dan sungai-sungainya mempunyai pengaruh yang sangat besar dan mendalam bagi ekosistem di seluruh dunia. Di dalam kebudayaan Tiongkok, pengaruh dan peran dari kondisi Feng Shui dan letak geografi,sebenarnya melampaui ruang dimensi yang dapat terlihat oleh mata fisik. Dilihat dari tingkat tinggi, dalam sistem sirkulasi air seluruh dunia, Negara Pusat juga merupakan sumber asal air tawar seluruh dunia. Bila air tawar di sini telah tercemar maka akan tersebar ke seluruh mata air dunia. Ini sebabnya kerusakan lingkungan di Tiongkok, dapat mengakibatkan ekosistem di seluruh dunia menuju ke arah kepunahan. Dengan demikian, kita tidak lagi sulit memahami mengapa roh jahat komunis dengan segala rencana kejinya, berusaha merusak lingkungan alam Tiongkok.
Para Kaisar agung dari berbagai Dinasti di Zhong Yuan, semuanya menetapkan waktu memberi persembahan kepada Dewa-dewa di Langit, gunung, dan sungai, bersyukur dengan rasa hormat, karena sehari-hari telah menikmati hasil alam, yang dianugerahkan kepada umat manusia untuk kebutuhan hidup. Selama beribu-ribu tahun, bangsa Tionghoa yang percaya Langit dan menghormati Dewa, senantiasa hidup berdampingan secara harmonis dengan lingkungan alam. Sebaliknya setelah roh jahat komunis merebut kekuasaan, bukan saja menggunakan kekerasan dan tipuan untuk menjerat manusia di dunia, agar tidak mempercayai prinsip ‘hidup berasimilasi dengan Langit’, namun juga merusak lingkungan alam yang dianugerahkan oleh Tuhan, dan mendorong orang-orang menghujat Langit melawan Bumi, sehingga menampilkan sisi yang sepenuhnya jahat dari sifat manusia. Demi memperoleh uang seenaknya merusak lingkungan alam, membuat manusia berubah menjadi arogan dan angkuh, sama sekali sudah tidak memiliki rasa hormat pada lingkungan alam.
Orang dulu ketika memerlukan kayu bakar, mendirikan rumah, menebang pohon di hutan, akan selalu melindungi pohon yang masih belum tumbuh besar, mutlak tidak akan menebang sembarangan. Setelah PKT merebut kekuasaan, secara luas mengadopsi metode penebangan yang memusnahkan dan destruktif, hanya mementingkan keuntungan di depan mata dan tidak menghiraukan konsekuensi kehancuran sumber daya alam. Seperti saat penebangan hutan di wilayah Changbaishan, pohon yang belum dewasa juga ditebang tanpa pandang bulu, meski hanya pohon kecil seukuran satu inci juga tidak boleh dibiarkan, ditebang biar dipakai sebagai gagang sapu saja. Banyak sekali wilayah dengan pepohonan yang luas, hancur seperti sedang “digunduli”. Tanaman mati, air tanah kering, konsekuensinya tentu saja adalah berbagai bencana alam yang datang silih berganti, atau yang disebut “Hukuman Langit”, namun para Ateis hasil didikan PKT tentu saja tidak akan mengakui hal ini.
Alam semesta – bumi – umat manusia dan seluruh lingkungan saling bersirkulasi. Manusia di tengah siklus reinkarnasi, ketika moralitasnya tinggi, tidak memiliki karma berat. Setelah lahir bereinkarnasi lagi, juga tidak berpengaruh seberapa buruk bagi lingkungan alam. Namun ketika karma orang-orang terakumulasi semakin banyak, pada akhirnya karma juga akan terbawa ke dalam lingkungan hidup manusia, mempengaruhi segala sesuatu di sekitarnya. ‘Desertifikasi’ justru merupakan hasil buah karma manusia.
Sejak PKT menggenggam kekuasaan, moralitas orang-orang jatuh merosot dengan cepat, bergelimang karma, gila-gilaan menghamburkan dan menyia-nyiakan sumber daya alam, sehingga lingkungan alam menjadi rusak, gunung dan sungai di Tiongkok yang begitu indah menjadi bopeng, wilayah gurun bertambah luas dengan drastis. Dari tahun 1950an hingga 1970an, di Tiongkok setiap tahunnya ada lahan sebesar 1560 km persegi yang ditelan oleh gurun. Dari tahun 1970an hingga 1980an, bertambah luas menjadi 2100 km persegi. Pada tahun 1990an, telah mencapai 2460 km persegi, dan setibanya abad 21 sudah melampaui 3000 km persegi. Sejarahnya ‘Mongolia Dalam’ pernah ada ‘5 Sabana’ yang disanjung oleh orang-orang di dunia, namun sekarang 3 di antaranya sudah lenyap. Sabana Ulanqab, Sabana Khorchin, dan Sabana Ordos, 3 wilayah Sabana yang luas mengalami degenerasi menjadi gurun, hanya dalam waktu 20 tahun saja. Padang Gurun yang dikenal sebagai “Gurun Langit” di Hebei Kabupaten Huailai, sekarang ini hanya berjarak 70 km dari kota Beijing, dan Beijing mungkin akan menjadi kota selanjutnya yang lenyap ditelan gurun seperti kota kuno Loulan.
PKT secara destruktif menggunduli hutan, membendung sungai dan reklamasi, ‘Bertarung dengan Langit – Bertarung dengan Bumi’, sehingga telah menghancurkan lingkungan hidup manusia yang diciptakan oleh Tuhan. Bencana alam semakin banyak ragamnya, sungai Changjiang meluap, kabut asap meracuni manusia, badai pasir bergulung-gulung; kekeringan dan cadangan air habis, pencemaran polusi industri, meridian tanah dan sumber air pun terputus; cuaca ekstrem makin sering terjadi, bahkan berulang kali memecahkan rekor; makin banyak penyakit aneh dan menakutkan telah merenggut banyak nyawa manusia, ini sungguh Membelalakkan Mata dan Mengguncang Hati. (Bersambung)
Untuk membaca bagian lain, silahkan klik di sini.
Tonton di Youtube, silahkan klik di sini.
