“Tujuan Terakhir dari Paham Komunis” (13)
5. Memusnahkan Kebudayaan
Dari menggunakan kekerasan untuk membantai kelas elit; menghancurkan lingkungan spirit dan materi yang menjadi pegangan hidup umat manusia; sampai memusnahkan Kebudayaan Tradisional yang menjadi pembimbing perilaku manusia; semuanya merupakan pengaturan roh jahat komunis yang terencana dan terukur untuk memusnahkan umat manusia.
a. Menghancurkan Media Substansi
Setelah Revolusi Besar Kebudayaan dimulai, api kejahatan “Hancurkan Empat Kuno” telah membakar habis bumi bangsa Tionghoa. Biara, kuil Tao, patung Buddha, dan situs bersejarah; lukisan kaligrafi, barang antik, semuanya dihancurkan tanpa sisa.
‘Paviliun Anggrek’ dalam karya Wang Xizhi “Lantingji Xu” yang berumur ribuan tahun, bukan saja dihancurkan, bahkan makam Wang Xizhi sendiri juga tidak luput dari kehancuran. Bekas tempat tinggal Wu Cheng’en (penulis Perjalanan ke Barat) di provinsi Jiangsu dirusak, bekas tempat tinggal Wu Jingzi (penulis Rulin Waishi) di provinsi Anhui dirusak, prasasti “Zuiwengting Ji” yang ditulis sendiri oleh Su Dongpo dirobohkan oleh para “Jenderal Cilik Revolusi”, tulisan di atas prasasti dirusak……Semua inti sari kebudayaan bangsa Tionghoa ini merupakan hasil warisan ribuan tahun, begitu dihancurkan tidak akan bisa dikembalikan ke semula lagi.
Kota Beijing dibangun pada zaman Dinasti Yuan Agung, Pendiri Dinasti Yuan, Kubilai Khan menyuruh perdana menteri Liu Bingzhong mengatur tata letak Istana Langit, agar dibangun dengan mengadopsi bentuk diagram QianKun. Seluruh kota Beijing merupakan serapan dari pemikiran dan kebudayaan Konfusius – Tao – Buddha, penamaan gerbang kota dari Dadu-Beijing dan aula kuil Buddha, banyak yang menyerupai diagram QianKun dalam kitab Zhouyi [I Ching]. Semua kuil, biara, aula kuil, dirancang dan dibangun dengan mengikuti perubahan fenomena langit.
Gaya rumah Siheyuan yang terkenal di Beijing, halaman besar dikeliling halaman kecil, tidak saja unik, tetapi juga berisikan struktur Qiankun di dalamnya. Ada beberapa bangunan utama, megah bagaikan aula kuil. ‘Lorong Berkelok dan Tersembunyi’ adalah deskripsi terbaik untuk gang-gang di Beijing. Setelah melewati jalan setapak dan memasuki Siheyuan, seketika terpapar panorama indah, bagaikan sebuah pemandangan di dunia lain.
Bangunan manusia tak ternilai yang dibangun demikian cermat ini, dengan ditopang kepercayaan dari hati orang-orang terhadap Tuhan di atas Langit, juga prinsip tradisional ‘hidup berasimilasi dengan Langit’, semuanya lebur menjadi satu kesatuan dengan lingkungan dan bangunan sekitarnya, ini sungguh merupakan maha karya dunia. Akan tetapi, mayoritas Siheyuan telah dihancurkan dalam gerakan ‘Hancurkan Empat Kuno’ dan apa yang disebut ‘kemajuan pembangunan’ di kemudian hari.
Sebelum Revolusi Besar Kebudayaan, Beijing masih memiliki 500 kuil, aula kuil, dan biara kuno. Setelah ‘Hancurkan Empat Kuno’ saat Revolusi Kebudayaan, hampir seluruhnya hancur. Semua ini, bukan hanya menghancurkan tempat berdoa dan bertapa para pengikut kepercayaan; bangunan kuno budaya ‘hidup berasimiliasi dengan Langit’; namun lebih parah lagi, iman kepercayaan dalam hati manusia, dan pikiran lurus ‘hidup berasimilasi dengan Langit’ juga ikut hancur karenanya. Orang-orang mungkin tidak setuju dengan pendapat ini, merasa ini tidak ada sangkut pautnya dengan saya. Namun faktanya roh jahat komunis telah menyusupi semua celah, dari memusnahkan tubuh fisik hingga polusi ideologi, terus sampai pengrusakkan lingkungan dan tempat kultivasi agama ortodoks. Ia telah memutus tali kebudayaan, moralitas, dan kepercayaan bangsa Tionghoa, yang tanpa henti diwariskan selama ribuan tahun.
Ribuan kota di Tiongkok, memiliki sejarah sangat panjang, setiap kota memiliki tembok kota – kuil – biara, situs bersejarah kebudayaan dapat ditemukan di mana-mana, jika menggali tanah satu kaki, akan terlihat situs bersejarah era Modern sebelum 1949, dari 2 kaki, 3 kaki, hingga 20 kaki, akan ditemukan banyak sekali situs bersejarah dari berbagai dinasti.
Dalam alam semesta, di dunia manusia, berbagai macam teori-kepercayaan, gaya seni-literatur, bangunan, adat istiadat, dan lain-lain, selain ada manifestasi di ruang dimensi manusia ini juga ada bentuk eksistensinya di ruang dimensi lain. Ketika seorang manusia membaca sebuah buku, melakukan suatu hal, ini tidak terhitung apa-apa. namun ketika berjuta-juta orang membaca sebuah buku yang sama, melakukan sebuah hal yang sama, memiliki pemikiran yang sama, maka di ruang dimensi lain akan terbentuk medan materi raksasa, yang akan menopang hal permukaan yang ada di ruang dimensi ini, seperti bentuk ritual, bangunan, adat istiadat dan lain-lain.
Jika tidak ada medan ini di belakangnya, maka objek, bangunan, bentuk ritual dan lainnya, yang ada di ruang dimensi ini juga tidak akan memiliki energi seberapa besar. Ini juga mengapa ‘Friday the 13th’ yang dipercaya membawa sial oleh orang Barat, sebaliknya bagi masyarakat Timur sama sekali tidak berpengaruh apa pun; sedangkan adat istiadat Timur seperti mendapatkan Feng Shui bagus dan lainnya juga tidak berpengaruh besar bagi masyarakat Barat, karena medan di belakangnya tidak cukup besar dalam masyarakat Barat.
Kuil kuno, kota tua, biara, situs bersejarah, dan lainnya, melewati sejarah ribuan tahun ditambah dengan keyakinan dan minat sama dari berjuta-juta orang, memiliki unsur materi yang sangat besar di belakangnya, terutama aula kuil dari agama ortodoks, setelah di-‘Konsekrasi’ akan diperkuat energinya oleh Sang Sadar, akan melindungi dan memberkati sekelompok orang maupun khalayak ramai. Ketika perabot dan bangunan ini dihancurkan, medan di belakangnya serta makhluk Ilahi juga sudah tidak bisa lagi hadir di sana. Maka yang dihancurkan bukan hanya bangunan dan bentuk ritual di permukaan saja, namun juga kebudayaan ‘hidup berasimilasi dengan Langit’, serta medan energi lurus pemikiran dan keyakinan ortodoks yang memperkuat energi ruang dimensi manusia, ditambah hilangnya perlindungan dan berkah dengan perginya Sang Sadar.
Dengan prinsip yang sama, meskipun membangun kembali semua situs bersejarah dan bangunan ini, juga tidak mungkin dalam waktu singkat membangun kembali medan energi lurus yang sangat besar, mengundang kembalinya Sang Sadar untuk memberi perlindungan dan pemberkatan. Dalam beberapa tahun terakhir PKT melakukan konstruksi besar-besaran lagi, membangun kembali kuil dan merestorasi situs bersejarah, tetapi tujuannya adalah untuk menipu, memperoleh uang, pemalsuan, atau biar sedap dipandang saja, konsekuensi dari semua ini adalah mengundang roh jahat – setan busuk, medan energi negatif pada akhirnya menguasai tempat-tempat ini, yang sebaliknya malah membawakan bencana tanpa akhir bagi orang-orang.
Roh jahat komunis jelas dengan semua ini, ini sebabnya mereka ingin menghancurkan kaum elit kebudayaan di perkotaan juga tokoh masyarakat di pedesaan, merusak moralitas manusia di dunia, pada saat yang sama merusak kuil dan situs bersejarah ‘Kebudayaan Warisan Dewa’, adat istiadat tradisional, gaya seni-literatur, benda budaya, lukisan kaligrafi, buku-buku, rumah tradisional dan lainnya, yang menjadi media substansi dan pilar spiritual dari Kebudayaan Tradisional.
b. Merusak Pilar Spiritual
Lima ribu kata yang ditinggalkan oleh Laozi dalam “Daodejing”, merupakan kitab suci kultivasi dari aliran Tao, dan Laozi dihormati sebagai leluhur pendiri aliran Tao. Tetapi saat Revolusi Kebudayaan, Laozi dikritik sebagai munafik, dan “Daodejing” sebaliknya malah dicap sebagai takhayul feodal.
Kongzi atau Konfusius berkeliling ke banyak negara, untuk menyebarkan nilai “Ren [kasih] – Yi [kebenaran] – Li
– Zhi [kebijaksanaan] – Xin [keyakinan]” dan ajaran dalam kitab Zhong Yong, serta memperbaiki 6 kitab acuan pemerintahan Kaisar Terdahulu; juga standar bagi perilaku manusia dalam masyarakat. Karena hal inilah, oleh generasi selanjutnya disebut “Guru Purba Nabi Agung” (ref: Wikipedia). Saat Revolusi Kebudayaan, Kongzi dikritik, disebut dengan Kong Lao Er [Eufemisme dari Kong si penis]. Ren – Yi – Li – Zhi – Xin, ajaran Zhong Yong dan nilai moral lainnya, digantikan dengan pemikiran kekerasan – pertarungan – pemberontakan. Pada tahun 1966, Kang Sheng selaku anggota politbiro, menyuruh kepala faksi pemberontak Beijing — Tan Houlan, dengan mengatas-namakan ‘Kelompok Revolusi Kebudayaan’ [Cultural Revolution Group], memimpin Pengawal Merah ke Qufu [kampung halaman Konfusius], “Mengobarkan Pemberontakan di Rumah Kongzi”, di sana merusak sesuka hati, membakar habis buku kuno, menghancurkan isi makam Kongzi termasuk ribuan prasasti dari berbagai dinasti di dalamnya, menghancurkan kuil Konfusius, merusak rumah juga makam keluarga Konfusius. Yang membuat orang lebih mendidih lagi adalah, mereka bahkan menggali kuburan Konfusius, membongkar makam para penerus Kongzi, setelah jasad dilecehkan beberapa hari, kemudian dibakar habis.
Ini sudah bukan lagi persoalan sederhana merusak buku kuno dan benda budaya, karena dalam buku-buku kuno dan benda-benda budaya ini tersimpan Kebudayaan bangsa Tionghoa dan nilai tradisional yang sangat mendalam. Jika ada sedikit saja rasa hormat terhadap Kebudayaan Tradisional, maka pengrusakan seperti ini tidak akan terjadi. Pengrusakan yang dieksekusi demikian bengis dan menyeluruh, tepatnya adalah karena kebencian dan dendam PKT terhadap kebudayaan tradisional telah secara mendalam ditanamkan ke dalam hati “Pengawal Merah”.
Zaman Tiongkok kuno pernah terjadi insiden memusnahkan agama Buddha oleh “Tiga Kaisar bernama Wu”, setiap Kaisar yang memusnahkan agama Buddha, ada yang mati terbunuh, juga ada yang mati karena penyakit, namun pengikut Tuhan tahu bahwa itu adalah ganjaran karena memusnahkan agama Buddha. Kaisar Chai Rong [Shizong] dari Dinasti Zhou Akhir, pernah dengan tangan sendiri mengayunkan kapak besar ke dada patung Bodhisattva Avalokitesvara di kuil Maha Belas Kasih, pada akhirnya dirinya meninggal dengan luka bernanah di dada. Anak-anak muda yang disuruh oleh PKT untuk menghancurkan patung Buddha dan Tao itu, jika tidak bertobat dan mengaku dosa, maka peristiwa tragis seperti apa yang akan menimpa mereka?
Di tengah terjangan angin topan “Hancurkan Empat Kuno” ini, entah betapa banyak manusia yang telah berbuat dosa dan akan turun ke neraka, namun ini justru merupakan ‘Hasil Akhir’ yang dikehendaki oleh PKT. (Bersambung)
Untuk membaca bagian lain, silahkan klik di sini.
Tonton di Youtube, silahkan klik di sini.
