Tujuan Terakhir dari Paham Komunis

Tujuan Terakhir dari Paham Komunis (6): Memberi Rasa Manis Dulu, Kemudian Dibuat Menelan Kepahitan

“Tujuan Terakhir dari Paham Komunis” (6)

4. Memberi sedikit rasa manis terlebih dulu, kemudian barulah dibuat menelan penderitaan

Yang patut menjadi perhatian adalah, sebuah pola dasar yang digunakan partai komunis dalam memobilisasi rakyat agar melakukan revolusi, yaitu menggunakan apa yang disebut dengan rasa manis untuk memikat orang, lalu mencekoki kebencian dan dendam, agar mereka mengganyang apa yang disebut musuh partai, kemudian menghabisi mereka para keledai yang sudah tak berguna itu. “Ganyang Tuan Tanah, Bagi Lahan Garapan”, telah menghasut para petani untuk bergerak, namun ketika diberlakukan Kolektivisasi, para petani ini kembali dibuat kehilangan segalanya, malah menjadi tumbal untuk ajaran sesat komunis.

Saat Komune Rakyat, sama rata sama rasa, “Makan Gratis”, “Bergegas Gabung dengan Komunisme”, propaganda-proganda selama periode bagus untuk bercocok tanam ini, telah menyebabkan puluhan juta manusia mati kelaparan. Saat “Ratusan Bunga Tumbuh Bermekaran, Ratusan Aliran Berlomba Gagasan”, semua orang didorong bebas mengutarakan isi hatinya, kalangan intelektual saking gembiranya sampai lupa sedang berurusan dengan siapa.

Begitu mulai gerakan “Anti Kanan”, begitu banyak kaum elit dibuat menelan penderitaan pahit, bahkan telah kehilangan nyawa berharganya. Berpedoman pada “Revolusi Tidak Berdosa, Memberontak Sesuai Prinsip”, Pengawal Merah dengan “Semangat Revolusioner” yang fanatik tiada banding, telah memulai perusakkan besar yang tiada duanya dalam sejarah.

Ketika tiba saatnya tidak ada nilai untuk dimanfaatkan, dijalankanlah “Pemuda Intelektual Harus Dididik Ulang Sebagai Petani Miskin”, begitu turun perintah, terpaksa pergi ke Gunung, turun ke Desa, mereka dideportasi ke area perdesaan dan daerah perbatasan, secara total berhasil menyengsarakan satu generasi anak manusia.

Tragedi-tragedi tidak masuk akal ini tidak bisa hanya dikaitkan dengan perilaku berdosa seorang pemimpin, sebaliknya ini merupakan aksi roh jahat komunis dalam memanfaatkan rezim untuk merusak kebudayaan, merusak hubungan antarmanusia, dan sekaligus menghancurkan moralitas.

Setibanya hari ini, program pertunjukan semacam ini masih tetap dipentaskan. Perkembangan ekonomi telah mendatangkan rasa manis untuk manusia, orang-orang hanya menatap pada keuntungan di depan mata, sebaliknya telah lupa dengan moralitas. Dilihat secara permukaan, setiap orang hanya ingin mengejar uang saja, bahkan mengejar uang secara instan, “berapa harga 1 kg moralitas?” Semua orang tidak peduli, atau peduli pun juga tiada gunanya, memang terlalu malas untuk peduli, pokoknya sibuk mengeruk uang, itu barulah penampilan masyarakat ini yang penuh dengan vitalitas, “Daya Hidup yang Meluap”, “Masa Depan Cerah Tiada Tara”.

Di balik “rasa manis” semacam ini, adalah agar kecerdasan manusia tidak dapat dimanfaatkan pada jalan lurus, senantiasa digunakan untuk hal menyimpang. Tipu Muslihat Dagang, Barang Palsu dan Murahan, Meniru dan Menjiplak, Ambisius dan Berlebihan, Menghamburkan Sumber Daya, Merusak Lingkungan, Tidak Peduli dengan Konsekuensi, setiap aspek menampilkan orang Tiongkok yang “cerdik” dan “pintar”, namun tidak digunakan pada tempatnya.

Selama bertahun-tahun, orang-orang senantiasa bertanya-tanya, mengapa perkembangan selama tiga dekade ini tidak menghasilkan merek internasional yang terkenal? Mengapa komponen inti dari produk kelas tinggi, yang diklaim memiliki hak kepemilikan independen, faktanya kebanyakan bergantung pada impor? Mengapa kapal induk, pesawat militer, baut biasa dari rel kecepatan tinggi, semuanya mengandalkan impor? Mengapa Tiongkok yang setiap tahun menghasilkan 40 milyar bolpen, namun ujung bolpen masih harus mengandalkan impor?

Penemuan dan inovasi, serta ‘Penelitian Murni’, semuanya perlu dikerjakan dengan hati pikiran yang tenang, bergantung pada minat – keuletan – dedikasi abadi, yang diperlukan adalah sebuah kondisi mental nasional yang mantap. Orang Tiongkok dalam pikirannya telah ditanam paksa untuk mengeruk uang dengan instan, mencuri di setiap kesempatan, menghalalkan segala cara demi tujuan, jika tidak dapat menghasilkan maka curi saja. “Mencuri Teknologi” telah menjadi sebuah profesi terhormat “Kelas Tinggi”, sama sekali sudah tidak seperti bangsa Huaxia yang beretiket, bermoral dan memiliki rasa malu. Jika direnungkan, dengan hanya mengandalkan curian, yang merupakan gabungan dari Timur hingga Barat, juga tidak mungkin menciptakan sebuah sistem landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang utuh.

*Penelitian murni adalah salah satu jenis penelitian sosial yang memiliki orientasi pada bidang akademis. Jenis penelitian ini tidak bertujuan untuk memberikan solusi atas suatu masalah atau fenomena sosial tertentu. Ciri utama dari penelitian ini adalah banyak digunakan dalam lingkup akademis, memiliki tingkat abstrak yang tinggi, manfaatnya tidak dapat dirasakan secara langsung, serta mengembangkan ide, teori, atau gagasan. (wikipedia)

Roh jahat tidak bertujuan membuat manusia hidup bahagia, juga sama sekali tidak berencana membangkitkan negara ini, realitanya memberi sedikit rasa manis, padahal di belakangnya adalah penderitaan pahit. Sayap ekonomi modern yang dapat lepas landas, serta dapat terus berkembang dengan stabil adalah ——– Pemerintahan Hukum atau Rule of Law (bukannya Institusi Hukum) dan ‘Tingkat Kepercayaan’ atau Trust (bukannya Koneksi) ——– tapi ini justru merupakan dua hal yang paling kurang dari Tiongkok, sedangkan fondasi “Pemerintahan Hukum” dan “Tingkat Kepercayaan Masyarakat” justru adalah moralitas. “Karena Tidak Menekankan Moralitas, Ekonomi Barulah Dapat Meledak; Namun karena tidak memiliki Moralitas, Keruntuhan Ekonomi menjadi Tidak Terhindarkan.”

Para politisi dan pengusaha di negara Barat, bukankah semuanya juga demikian? Banyak orang begitu mencicipi sedikit rasa manisnya, langsung membenamkan seluruh kepalanya ke dalam pelukan PKT, namun itu merupakan pelukan dari roh jahat komunis. Pada saat-saat awal, para politisi dan pengusaha ini masih berjuang mempertahankan hati nurani dirinya, namun bertahap jebakan keuntungan yang diperoleh makin dalam, maka hanya dapat membiarkan PKT yang mengatur, dan membiarkan jiwa sendiri diserahkan kepada roh jahat.

(Sumber Dajiyuan)

Untuk membaca bagian lain, silahkan klik di sini.

Tonton di Youtube, silahkan klik di sini.