Anggota parlemen AS dan FBI sedang menyelidiki dugaan peran Partai Komunis China dalam kerusuhan Los Angeles minggu ini. Satu orang jadi sorotan, miliarder Amerika yang tinggal di Shanghai, Neville Singham.
Sebelum kita membahas siapa Neville Singham dan hubungannya dengan China, mari kita lihat satu kelompok yang terlibat dalam protes anti-ICE atau Lembaga Penegak Operasi Imigrasi, partai untuk sosialisme dan pembebasan. Itu adalah partai politik komunis yang berbasis di AS yang secara terbuka mendukung rezim China. Selama bertahun-tahun, Neville Singham dilaporkan telah menyalurkan lebih dari 20 juta dolar pada Dana Keadilan dan Pendidikan, lembaga nirlaba yang memiliki hubungan kepemimpinan dengan Partai untuk Sosialisme dan Pembebasan. Dana itu juga telah mendukung beberapa kelompok pro-Marxis yang berbasis di AS.
Jadi, siapakah Neville Singham? Dia adalah seorang maestro teknologi pro-China, seorang warga Amerika yang tinggal di Shanghai bersama istrinya Jodie Evans. Singham pernah bekerja sebagai konsultan untuk Huawei, raksasa telekomunikasi China yang masuk daftar hitam AS karena terkait militer China. Selain itu, dia juga berbagi ruang kantor di Shanghai dengan sebuah firma propaganda China. Investigasi New York Times tahun 2023 mengungkapkan sebuah foto dari kantor Singham yang memperlihatkan anak-anak muda berkumpul di bawah spanduk merah bertuliskan, “Selalu Ikuti Partai.” Di dekatnya tergantung potret pemimpin komunis China, Xi Jinping.
Istri Singham adalah seorang aktivis sosialis. Dia ikut menulis buku berjudul China Bukan Musuh Kita dengan seorang peneliti yang berhubungan dengan entitas terkait Beijing. Dia juga menggambarkan orang Uighur sebagai teroris dan pengunjuk rasa pro-demokrasi Hong Kong sebagai perusuh. Dalam wawancara dengan New York Times, baik Singham maupun istrinya membantah menerima perintah dari Partai Komunis China, dan berkata tindakan mereka mencerminkan keyakinan pribadi. Pasangan ini adalah pihak yang mendanai gerakan radikal di AS.
Anggota Kongres Anna Luna berkata anggota parlemen akan menuntut Singham untuk bersaksi tentang pendanaannya dan hubungannya dengan PKC. Direktur FBI Kash Patel mengatakan kepada The Epoch Times bahwa biro tersebut sedang menyelidiki semua dukungan moneter di balik kerusuhan baru-baru ini di Los Angeles.
WATERBURY, Conn.—Ariel Baez, seorang profesor bahasa, diberi hadiah ensiklopedia oleh orang tuanya saat berusia 4 tahun dan menjadi terpesona dengan dinasti Tiongkok kuno.
Di Palace Theater di Waterbury, Connecticut, dia melihat budaya kuno ini menjadi hidup dalam Shen Yun Performing Arts.
“Saya sangat merasakan keterhubungan dengan Tiongkok,” kata Tn. Baez pada tanggal 28 Desember. “Ini sangat mengesankan karena dunia perlu mengetahui tentang akar, asal usul, latar belakang sejarah kuno, serta budaya Tiongkok. Tiongkok adalah tempat yang sangat kaya akan budaya di seluruh dunia.”
Shen Yun yang berbasis di New York adalah perusahaan tari Tiongkok klasik terkemuka di dunia, dengan misi untuk menunjukkan kepada dunia, Tiongkok sebelum komunisme.
“Komunisme ada pada tahun 1949,” kata Tn. Baez, sambil menunjuk pada sejarah singkatnya di Tiongkok. “Tiongkok memiliki mentalitas lain.”
“Orang-orang selalu berbicara tentang makanan. Makanan tidak hanya ada di Tiongkok. Tiongkok lebih dari itu. Tiongkok adalah tradisi. Tiongkok adalah budaya. Tiongkok itu indah, Tiongkok adalah seni, Tiongkok adalah musik,” kata Tn. Baez.
Dalam pertunjukan Shen Yun, dia melihat banyak daerah dan masyarakat Tiongkok, tarian dari istana kekaisaran dari berbagai dinasti, serta cerita dan legenda yang mencakup lima ribu tahun.
Budaya tradisional Tiongkok adalah budaya yang diilhami oleh Ilahi, dan Tn. Baez mengatakan bahwa ia merasa terhubung dengan spiritualitas budaya tersebut.
“Banyak orang tidak tahu. Mereka tidak tahu tentang latar belakang sejarah Tiongkok, termasuk agama-agama historis Tiongkok dan perasaan spiritual masyarakat Tiongkok,” katanya.
Dia memuji para seniman atas dedikasi dan keunggulan mereka.
“Mereka tidak hanya menunjukkan belas kasih, mereka juga menunjukkan empati kepada orang lain, mereka menunjukkan kemurahan hati, mereka menunjukkan cinta, mereka menunjukkan ketulusan hati terhadap orang lain, bagaimana membantu orang lain, tidak peduli apa pun pemerintahannya, mungkin kediktatoran pada masa itu, tidak peduli mereka, masyarakat selalu, selalu menunjukkan akar sejati masyarakat Tiongkok tentang agama, tentang spiritualitas, dan tentang tradisi, dan tentang cinta,” katanya.
Dia mengatakan bahwa pertunjukan Shen Yun adalah sebuah “karya besar.”
“Ini adalah kerja keras. Ini adalah kerja keras, kerja yang penuh dedikasi, tidak hanya selama berbulan-bulan, bertahun-tahun, mungkin seumur hidup. Ini adalah dedikasi,” katanya.
“Ucapan selamat, kekaguman saya kepada mereka, simpati saya kepada mereka, bahwa mereka menunjukkan bahwa mereka berdedikasi untuk mengirim pesan, menyampaikan pesan kepada seluruh orang di seluruh dunia tentang apa sebenarnya Tiongkok, apa sebenarnya orang-orang Tiongkok, apa isi hati, apa sebenarnya perasaan orang-orang itu,” katanya.
“Kita adalah manusia di seluruh dunia, dan kita memiliki perasaan yang sama,” katanya. “Penampilan yang luar biasa. Menakjubkan. Menakjubkan. Luar biasa. … Ini adalah program yang sangat terorganisir. Sangat akurat, terorganisasi, dan presisi.” (ntd)
Saksikan Trailer Shen Yun 2025:
Lebih banyak informasi terkait Shen Yun, silahkan kunjungi shenyun.org
Lebih banyak artikel Shen Yun, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Tirai terbuka, dan penari utama Steven Wang melompat keluar, membentangkan spanduk di tangannya. Di atasnya, lima karakter tertulis. Mereka dibaca: Fa Lun Da Fa Hao (Falun Dafa baik).
Karena berani mengucapkan beberapa kata sederhana ini, puluhan juta orang di Tiongkok, termasuk keluarga Wang, menghadapi penganiayaan berat oleh rezim komunis Tiongkok.
Wang, seorang penari Tiongkok klasik, memulai karirnya hampir dua dekade lalu ketika dia diterima di akademi tari profesional pada usia 12 tahun. Saat ini, dia adalah penari utama di Shen Yun Performing Arts, perusahaan tari Tiongkok klasik terkemuka di dunia, yang unik karena memiliki misi untuk menghidupkan kembali budaya tradisional Tiongkok yang otentik.
Selama 5.000 tahun, Tiongkok adalah tempat di mana keharmonisan antara langit, bumi, dan umat manusia adalah kepercayaan utama masyarakat. Orang-orang percaya budaya mereka diilhami secara ilahi, dan Konfusianisme, Buddhisme, serta Taoisme memiliki pengaruh kuat pada masyarakat tersebut, yang berusaha menegakkan prinsip-prinsip seperti kesetiaan, integritas, kebaikan, kebijaksanaan, dan keadilan.
Ini adalah misi yang ditanamkan secara pribadi oleh Wang.
“Ayah saya dianiaya sampai mati,” kata Wang, dalam sebuah video di situs Shen Yun Creations. Banyak seniman di perusahaan seni pertunjukan yang berbasis di New York ini, telah diprofilkan di situs video baru tersebut, menceritakan kisah tentang keyakinan dan kebebasan yang mereka cari ketika mereka bergabung dengan Shen Yun. Sebagai perusahaan Amerika, Shen Yun mengizinkan senimannya untuk mengekspresikan kepercayaan dan budaya mereka secara bebas, dan membagikannya kepada dunia.
Namun banyak yang mencatat ironi yang tragis: Sebuah perusahaan seni yang berniat menyelamatkan warisan yang diilhami ilahi dari 5.000 tahun peradaban Tiongkok bahkan tidak dapat menginjakkan kaki di Tiongkok modern yang masih diperintah oleh Partai Komunis Tiongkok.
Wang sendiri tidak bisa kembali ke Tiongkok ketika dia mengetahui kematian Ayahnya karena penganiayaan Partai, jadi dia tidak bisa menghadiri pemakaman sang Ayah.
“Saya tidak punya cara untuk kembali menemuinya untuk terakhir kalinya,” kata Wang. Sampai hari ini, Ibunya tetap di Tiongkok dan masih menghadapi penganiayaan.
Dengan menggambarkan tokoh-tokoh dari budaya Tiongkok berusia 5.000 tahun, Steven Wang berharap untuk menegakkan prinsip-prinsip tradisional seperti kesetiaan, integritas, kebaikan, kebijaksanaan, dan keadilan. (Courtesy of Shen Yun Performing Arts)
Warisan Spiritual
Para penari di Shen Yun semuanya bermeditasi, dan banyak pemain Shen Yun berlatih Falun Dafa, sebuah latihan spiritual yang mengajarkan tiga prinsip “Sejati, Baik, dan Sabar.” Tradisi penanaman spiritual ini telah menjadi bagian besar dari budaya tradisional Tiongkok sampai komunisme berkuasa pada abad terakhir, dengan maksud menghapus tradisi.
“Saya berusia sekitar 8 tahun ketika saya pertama kali menemukan kultivasi spiritual,” kata Wang. Bungsu dari empat bersaudara, dia adalah anak nakal yang sering mendapat masalah. Tapi dia ingat bahwa ketika Ibu dan Ayahnya mulai berkultivasi spiritual, mereka berubah.
“Prinsip-prinsip Falun Dafa mengajarkan orang untuk terlebih dahulu mengubah diri mereka sendiri, dan ‘melihat ke dalam.’ Setiap kali Anda mengalami masalah, jangan mempertimbangkan segala sesuatu dari sudut pandang Anda sendiri—berpikir dari sudut pandang orang lain,” kata Wang. “Akibatnya, kehidupan keluarga kami menjadi jauh lebih harmonis.”
Orang tuanya tidak lagi pemarah. Mereka mendisiplinkannya dengan alasan. Dia dan orang tuanya mulai berkomunikasi lebih banyak dan memiliki hubungan yang baik.
Namun hal itu berumur pendek: Pada tahun 1999, Partai Komunis Tiongkok, berniat untuk memberantas Falun Dafa, mengarahkan perhatiannya pada 70 juta hingga 100 juta pengikut latihan spiritual tersebut.
“Ada penangkapan massal dan penganiayaan,” kata Wang. Keluarganya juga menderita. “Polisi komunis masuk ke rumah kami, melemparkan pukulan dan tendangan yang heboh. Kemudian mereka menculik orang tua saya dan membuat kekacauan besar di rumah kami, dan mengambil semua buku ajaran Falun Dafa kami.”
Kedua orang tuanya ditahan, di penjara terpisah.
“Setiap kali kami mengunjungi mereka, mereka tampak seperti kelaparan. Mereka tidak pernah memberi tahu saya seperti apa rasanya di sana. Mereka hanya mengatakan kepada saya bahwa mereka baik-baik saja. Tapi Anda mungkin bisa membayangkan—Anda bisa tahu dari wajah mereka yang layu bahwa mereka telah disiksa,” katanya.
Sejak saat itu, Wang tidak pernah lagi mengalami kehidupan keluarga yang stabil. Jika ayahnya dibebaskan, ibunya akan ditangkap.
“Penganiayaan ini tidak pernah berhenti,” katanya. Dia ingat menghabiskan Tahun Baru dengan tiga kakak perempuannya dan tidak ada orang tua di rumah.
Akhirnya, Wang datang ke Amerika Serikat untuk melanjutkan karir menarinya. Ketika Wang berada di luar negeri, Ayahnya disiksa di penjara dan kemudian dibebaskan karena para penjaga mengira dia akan mati saat ditahan. Pada tahun 2009, Ayahnya meninggal karena komplikasi kesehatan, dan Wang baru mengetahuinya sebulan kemudian.
“Kultivasi bukanlah kejahatan,” kata Wang. “Saya tidak bisa kembali ke Tiongkok, jadi yang bisa saya lakukan hanyalah terus menggunakan seni untuk mengungkap penganiayaan ini.”
Wang, seperti anggota Shen Yun lainnya, tidak dapat pergi ke Tiongkok. Sebagai individu, mereka dapat menghadapi penganiayaan, dan sebagai sebuah kelompok, Partai Komunis Tiongkok tidak akan mengizinkan perusahaan itu masuk ke Tiongkok, karena takut akan pengaruhnya dalam menyebarkan budaya tradisional.
Dua tahun setelah kematian ayahnya, Wang memerankan seorang praktisi Falun Dafa, mengangkat spanduk di Lapangan Tiananmen, dalam salah satu karya Shen Yun.
“Tarian kami didasarkan pada peristiwa nyata, disesuaikan untuk panggung,” katanya. “Ketika penganiayaan dimulai, ada banyak praktisi yang pergi ke Lapangan Tiananmen untuk mengangkat spanduk sebagai protes.”
“Ketika saya menggambarkan praktisi yang dianiaya, saya akan memanfaatkan pengalaman masa lalu saya. Ini adalah hal-hal yang benar-benar terjadi pada orang-orang yang dekat dengan saya.”
“Saya berharap dapat menggunakan bentuk seni untuk meningkatkan kesadaran akan penganiayaan yang terjadi di Tiongkok [dan] untuk menyalakan keadilan di hati lebih banyak orang, untuk menentang penganiayaan ini.”
“Kemudian, suatu hari, penganiayaan ini akhirnya akan berakhir.”
Penonton menggambarkan Shen Yun sebagai spiritual dan penyembuhan, di Gallo Center for the Arts di Modesto, California.
Wally Herger, mantan Perwakilan AS untuk distrik kongres ke-2 California selama 26 tahun, melihat Shen Yun untuk ketiga kalinya pada 26 Oktober tahun lalu. Dia membawa istri dan dua temannya.
“Ini segalanya. Ini adalah temanya, ini adalah pesannya, itu adalah orang-orang yang luar biasa. Anda hanya merasakan Tuhan di dalamnya. Anda merasa sehat, positif,” kata Herger.
Nick Diaz, seorang atlet juara Ultimate Fighting, menghadiri pertunjukan dengan pacarnya setelah pertengkaran baru-baru ini.
“Sekarang saya baru sembuh. Senang datang ke sini, Anda tahu, dan melihat pertunjukannya. [Ini] benar-benar damai dan seperti getaran penyembuhan,” kata Diaz.
Victor Barraza adalah agen real estat dan telah menjadi anggota dewan Pusat Seni Gallo selama empat tahun terakhir. Ini pertama kalinya dia melihat Shen Yun bersama istrinya.
“Sangat aktif, sangat hidup, dan saya suka cara ceritanya mengalir,” kata Barraza. “Saya suka pria yang bernyanyi itu, astaga! Dia luar biasa!”
Penyanyi Shen Yun bernyanyi menggunakan teknik bel canto, teknik yang digunakan dalam teater Tiongkok kuno dan opera Eropa awal. Ini adalah gaya yang hampir punah.
Di bawah rezim komunis Tiongkok, banyak budaya dan nilai-nilai tradisional Tiongkok dengan sengaja dihilangkan. Misi Shen Yun adalah untuk menghidupkannya kembali, tapi rezim tidak mengizinkan pertunjukan ini di Tiongkok.
“Seperti yang mereka katakan, mereka tidak mengizinkan ini di sana [di Tiongkok]. Jadi ini adalah cara yang bagus untuk menyampaikan pesan Anda, dan kami tidak tahu,” kata Barraza. “Sehubungan dengan komunisme, dan bagaimana setiap orang … jika mereka tidak setuju dengan pandangan agama Anda, Anda tahu hal-hal yang dapat terjadi pada Anda. Dan kemudian bagaimana memiliki koneksi, dan suap, dan bagaimana uang memainkan peran besar, dan semua itu. Dan bagaimana itu akan berarti Anda berperilaku lebih baik atau sebaliknya.”
“Begitu banyak orang yang begitu duniawi,” kata Herger. “Mereka lupa tentang Tuhan, mereka keluar mengonsumsi alkohol dan berpesta, dan melakukan hal-hal yang tidak baik untuk orang lain. Dan peduli tentang orang lain dan melayani orang lain seperti yang Tuhan ingin kita lakukan. Jadi itulah mengapa sangat positif melihat penampilan ini.”
STAMFORD, Conn.—The Palace Theatre di Stamford, Connecticut dipenuhi dengan energi dan aktivitas, dengan dua pertunjukan Shen Yun Performing Arts yang memulai tur dunia perusahaan tari terkenal. Penonton sangat senang dapat menghadiri pertemuan sosial besar sekali lagi setelah penundaan terkait pandemi, beberapa bahkan melakukan perjalanan tiga jam untuk menghadiri pertunjukan di Connecticut. Karena misi Shen Yun adalah untuk menghidupkan kembali 5.000 tahun peradaban Tiongkok, pertunjukan tersebut adalah kesempatan langka untuk melihat Tiongkok sebelum komunisme mengambil alih.
“Budaya Tiongkok kuno harus kembali, dan itu harus menantang komunisme, dan mungkin suatu hari nanti akan menang atas komunisme,” kata Christopher Bob, yang melihat pertunjukan Sabtu malam bersama istrinya Tracey. Budaya tradisional Tiongkok yang disaksikan Bob pada pameran adalah “jelas merupakan gerakan yang hebat dan pertunjukan itu mendukung gerakan tersebut,” katanya. “Saya pikir itu hanya akan tumbuh dan menguntungkan, dan mungkin suatu hari, kekuatan seperti itu akan menyalip Tiongkok komunis … budaya tradisional Tiongkok harus berlaku dalam budaya Tiongkok. Itu adalah budaya yang sangat ilahi, dan itu adalah budaya yang sangat tua dan kuno, dan itu tidak boleh dilupakan.”
“Kedamaian, keindahan, kegembiraan, bakat” itu sendiri dapat menginspirasi masyarakat, tambah Tracey.
Peradaban Tiongkok kuno berpusat pada gagasan bahwa ada harmoni antara langit, bumi, dan umat manusia. Shen Yun, yang diterjemahkan menjadi “keindahan makhluk surgawi yang menari,” mengungkapkan budaya Tiongkok yang diilhami oleh dewa melalui seni.
“Saya mengalami malam yang paling indah—pertama-tama, keluar dari mentalitas pandemi…dan [saya] sangat beruntung bisa mengalami program yang indah ini,” kata Pamela, mantan pianis, yang mengagumi semua seniman Shen Yun atas dedikasi untuk kerajinan mereka. “Mereka memiliki semangat yang tinggi, setiap penarinya… Anda bisa melihat ekspresi di wajah mereka. Saya hanya berpikir bahwa mereka memiliki hasrat dan cinta total untuk apa yang mereka lakukan.”
Ivan Snook, seorang mahasiswa pascasarjana filsafat estetika, memuji kemanusiaan universal yang disampaikan melalui Shen Yun. “Saya menyukai seni, terutama opera, yang Wagner sebut sebagai ‘karya seni total’”—suatu prestasi kreasi artistik yang mencakup visual, pengalaman, dan pertunjukan—”salah satu media komunikasi terpenting yang kita miliki,” kata Snook. Karena Shen Yun menggunakan musik dan tarian, katanya, Shen Yun mampu mengomunikasikan sesuatu yang mendalam.
“Sesuatu yang sepenuhnya universal muncul dari pertunjukan seperti itu, dan itulah cara kita terhubung sebagai manusia lintas budaya—melalui ekspresi artistik,” kata Snook. “Saya pikir Shen Yun benar-benar sangat indah dalam pengertian: itu menunjukkan kemanusiaan kita bersama.”
Snook juga sangat menghargai pertunjukan tersebut yang memperpanjang perjalanan 5.000 tahun hingga zaman modern—khususnya membahas penganiayaan yang sedang berlangsung oleh Partai Komunis Tiongkok terhadap praktisi latihan spiritual Falun Gong. Sejak 1999, rezim Tiongkok telah sangat menekan kelompok spiritual tersebut, dengan jutaan orang menghadapi pelecehan, penahanan, serta penyiksaan polisi.
“Saya pikir selalu sedikit disayangkan betapa sedikit perhatian yang didapat Falun Gong,” katanya. “Anda pergi dari adegan yang sangat berwarna, sangat mengalir, sangat mitologis, indah, dan kemudian tiba-tiba Anda memiliki adegan yang didedikasikan untuk pemenjaraanFalun Gong serta pencurian organ,” mengacu pada pengambilan organ oleh rezim Tiongkok dari para tahanan hati nurani, untuk digunakan dalam operasi transplantasi.
“Itu sangat modern dan sangat tragis. Saya pikir kontras itu sangat kuat dan sangat indah, ”tambah Snook.
Ada juga adegan seperti tarian lengan air, di mana penari wanita dengan anggun melemparkan lengan sutra yang panjang, kenang Snook. Saat mereka melepaskan lengan baju mereka secara sinkron, mereka akan menerangi ruangan dengan warna.
Sejarah panjang Tiongkok yang dihidupkan di atas panggung juga mengingatkan Snook tentang cara hidup yang lebih alami dan humanistik, katanya. “Apa artinya menjadi manusia, dan kemudian semua yang kita miliki dalam masyarakat dibangun di atas itu… terkadang disertai dengan konflik. Banyak dari kita telah kehilangan kontak dengan kemanusiaan kita bersama.”
Richard Tuting, seorang akuntan, dan istrinya Elizabeth memiliki rencana untuk menonton Shen Yun di Lincoln Center Kota New York tahun lalu, tapi lockdown akibat pandemi terjadi hanya beberapa hari sebelum pertunjukan yang dijadwalkan.
“Saya merasa luar biasa, seperti saya hampir melayang di surga,” kata Tuting usai menonton pertunjukan Sabtu malam itu. Istrinya menambahkan bahwa menonton Shen Yun mungkin menjadi tradisi baru bagi mereka: “Kita harus melakukan ini setiap tahun.”
(Sally Sun, Sherry Dong, dan NTD Television, The Epoch Times)
Saksikan trailer Shen Yun 2022, Tiongkok Sebelum Era Komunisme:
Lebih banyak informasi tentang Shen Yun silahkan kunjungi: shenyun.com
Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Tiongkok pernah disebut sebagai “Tanah Ilahi.” Ada suatu masa ketika makhluk ilahi berjalan di bumi, memberikan kebijaksanaan yang melahirkan obat-obatan, tarian, musik, serta peradaban besar yang kini berusia 5.000 tahun.
Budaya Ilahi yang Hilang
Kebijaksanaan Tiongkok kuno—diresapi dengan spiritualitas dan nilai-nilai Buddha dan Tao—berkembang selama ribuan tahun sampai komunisme mengambil alih. Saat ini, banyak dari budaya yang diilhami ilahi tersebut telah dihancurkan atau dilupakan.
Dunia dalam Rasa Sakit
Selama beberapa dekade, dunia menyaksikan peradaban kuno yang terkoyak oleh komunisme. Sekarang, rasa sakit dan penderitaan itu, telah berlipat ganda dan dirasakan di seluruh dunia.
Harapan dan Pembaruan
Temukan kembali keindahan dan cahaya di masa ketidakpastian. Melalui kisah klasik cinta, keyakinan, kepahlawanan, dan ketahanan, Shen Yun membawakan kepada Anda, pesan harapan dan kekuatan untuk memerangi kegelapan dengan keberanian, mengatasi kesulitan dengan kebijaksanaan.
Keindahan dari Tarian Makhluk Dewata
Gong bergema, tirai terbuka, dan pemandangan surgawi tepat di depan mata Anda. Peri muncul dari lautan awan yang mengepul. Orang Mongolia menunggang kuda melintasi padang rumput yang seluas langit. Kisah-kisah klasik tentang cinta dan kehilangan, humor dan tindakan heroik, menjadi hidup. Anda akan terkagum-kagum dengan betapa semarak, menarik, dan mendalamnya budaya Tiongkok klasik.
Budaya Dewata yang Hilang
Melalui tarian dan musik yang menakjubkan, para seniman Shen Yun menceritakan masa ketika makhluk ilahi berjalan di atas bumi, meninggalkan budaya yang menginspirasi banyak generasi. Kebijaksanaan Tiongkok kuno, yang diresapi dengan spiritualitas serta nilai-nilai Buddhis dan Tao, melahirkan segala sesuatu mulai dari inovasi medis hingga opera, tari, arsitektur, dan bahkan seni bela diri. Namun setelah beberapa dekade pemerintahan komunis, banyak dari budaya yang diilhami ilahi ini, telah dihancurkan atau dilupakan.
Peradaban 5.000 Tahun Terlahir Kembali
Shen Yun adalah kebangkitan artistik yang brilian dan perayaan warisan budaya Tiongkok yang kaya.
Setiap pertunjukan terdiri dari sekitar 20 buah acara, dengan cepat bergerak dari satu legenda, wilayah, atau dinasti yang satu ke yang berikutnya. Tema-tema berkisar dari keanggunan halus para wanita istana Tang ke heroisme medan perang para jendral yang gagah berani, dari karya filosofis abadi dari Lao-Tzu hingga pemandangan spektakuler dari dunia magis. Beberapa karya juga menyentuh topik Tiongkok di masa kini, menjelaskan tentang banyak pengalaman penindasan karena keyakinan spiritual yang terjadi di Tiongkok, seperti yang dialami para praktisi Falun Dafa. Kisah-kisah keberanian ini sering kali merupakan apa yang paling menyentuh dan membangkitkan semangat para penonton.
Karya-karya Shen Yun menyampaikan kedalaman dan keluasan budaya Tiongkok asli yang luar biasa, dan membawa kehebatan lima ribu tahun peradaban kembali hidup di atas panggung.
Sensasi Global
Shen Yun melakukan tur ke 150 kota di seluruh dunia setiap tahun. Dari Tokyo ke Paris, Sydney ke New York, pertunjukan langsung Shen Yun mendapat tepuk tangan meriah dan pujian dari gedung teater dengan tiket terjual habis di mana-mana. Beberapa penonton berkendara ratusan km untuk melihatnya. Yang lain menonton pertunjukan yang sama sebanyak lima atau enam kali. Mengapa? Tidak ada kata-kata untuk menggambarkannya, tidak ada kata-kata yang tepat untuk menjelaskan alasannya, Anda harus menyaksikan Shen Yun dengan mata kepala sendiri untuk mengetahuinya.
Lebih banyak informasi tentang Shen Yun silahkan kunjungi: shenyun.com
Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Pertunjukan besar 5000 tahun sudah
mendekati babak akhir, dan umat manusia sudah melangkah hingga titik terakhir. Roh jahat komunis di periode ini sedang mengaduk-aduk
dunia manusia, telah menyebabkan bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya
dalam sejarah umat manusia. Selain secara langsung menyebabkan kematian ratusan
juta orang lebih, yang lebih menakutkan lagi adalah, unsur-unsur paham
komunis memenuhi dunia, ideologi komunis telah menyebar di seluruh dunia,
sehingga hati manusia berubah menjadi jahat, secara langsung menentang Tuhan
dan menolak-Nya, hal ini menyebabkan manusia di dunia kehilangan kesempatan
terakhir untuk diselamatkan oleh Tuhan.
Tuhan ingin menyelamatkan manusia,
sedangkan roh jahat komunis ingin memusnahkan manusia. Momen sejarah ini sangat
menentukan, karena ia terkait langsung dengan keberlangsungan peradaban dan
nasib umat manusia; namun pada momen ini, krisis dan harapan eksis secara
bersamaan, manusia yang berada di tengah “kesesatan”, sebaliknya sangat sulit
melihatnya dengan jelas.
Buku ini telah berulang kali menunjukkan
bahwa, esensi dari paham komunis adalah sesosok roh jahat, ia terbentuk dari
“Kebencian” dan materi sampah tingkat rendah dari alam semesta, wujudnya adalah
seekor ular, bentuk manifestasinya di ruang dimensi permukaan adalah seekor
naga merah. Dikarenakan ‘Kebencian’, ia telah membantai lebih dari seratus juta
orang, dan merusak peradaban gemilang yang telah berumur ribuan tahun.
Dikarenakan ‘Kebencian’, ia secara merajarela merusak moralitas umat manusia,
membujuk manusia agar menjauhi dan mengkhianati Tuhan, untuk mencapai tujuan
terakhirnya yakni memusnahkan manusia.
‘Kejahatan’ di permukaan tampil buas tak
terkendali, juga karena banyak orang telah meninggalkan Tuhan, telah
melonggarkan kekangan moralitas pribadi. Namun segalanya pasti berbalik arah
ketika klimaks! Momen yang paling gelap, juga merupakan momen yang paling dekat
dengan cahaya. Tuhan memiliki rencana sendiri terhadap sejarah dan masa depan.
Tuhan sedang menanti manusia agar sadar kembali, janji Tuhan sedang ditunaikan.
Waktu berlalu setiap menit setiap detiknya, tatanan lama dunia ini sedang
berguguran, sedangkan tatanan baru sedang didirikan; kekuatan lama sedang
terpukul mundur, sebaliknya kekuatan baru sedang melangkah ke depan panggung
pertunjukkan sejarah.
“Gunung Hijau Tak Dapat Disembunyikan,
Sungai Akhirnya Bermuara ke Laut” [Xin Qiji]. Kejahatan tidak dapat
menaklukkan Kebaikan, semua penampilan Kejahatan yang terlihat buas tak
terkendali sebenarnya hanya sementara saja, segalanya berada dalam genggaman
tangan Tuhan. Pada tahun 2004, “9 Komentar Mengenai Partai Komunis”
yang diterbitkan oleh “Koran EpochTimes” telah membuka gelombang
besar “3 Pemunduran” di Tiongkok, dan ratusan juta orang telah mundur dari
organisasi partai, liga pemuda, pionir muda PKT. Ini adalah aksi penyelamatan
diri rakyat Tiongkok untuk menghalau roh jahat komunis sang perasuk tubuh.
Asalkan manusia berinisiatif melakukan “3 Pemunduran”, maka dalam sekejap Tuhan
akan melenyapkan roh jahat yang merasuki tubuhnya, dengan demikian kehidupan
ini akan menjadi bagian dari masa depan!
*3 Pemunduran [Santui] atau biasa disebut juga Tuidang (退党) “mundur
dari Partai” merupakan aksi publik untuk mundur dari Partai Komunis
Tiongkok (PKT) dan organisasi afiliasinya: Pionir Muda dan Liga Pemuda Komunis;
Tuidang muncul tak lama setelah surat kabar Epoch Times edisi Cina [Dajiyuan]
yang berbasis di New York, menerbitkan Sembilan Komentar Mengenai Partai
Komunis pada Oktober 2004 — yang berisikan serangkaian editorial penjelasan
sejarah dan ketiranian PKT yang disensor. https://en.tuidang.org/
Bagi rakyat Tiongkok, asalkan dapat
menggunakan watak hakiki yang baik hati untuk menaklukkan godaan dan jebakan
roh jahat, serta membebaskan diri dari rel kereta iblis, maka orang-orang akan
dapat melihat, bahwa gunung masihlah tetap gunung bangsa Tionghoa, air masihlah
tetap air bangsa Tionghoa, negara masihlah tetap negara bangsa Tionghoa, namun
rakyat Tiongkok sudah bukan lagi anak cucu Karl Marx dan Lenin yang dikuasai
oleh roh jahat komunis, melainkan telah menjadi rakyat Tiongkok baru dalam arti
yang sesungguhnya! Rakyat Tiongkok tidak hanya dapat memiliki kehidupan makmur
yang dikaruniai Tuhan, tetapi juga dapat memiliki lebih banyak ketenangan,
kedamaian, dan kebahagiaan; Tiongkok juga akan menjadi negara yang benar-benar
kuat dan makmur, menikmati kekuatan dan keagungan yang dianugerahi oleh Tuhan,
serta menciptakan kembali kegemilangan dalam sejarah. Langit Bumi Selamanya
Padu, Tumbuh Berkembang Tanpa Henti.
Dalam lingkup global, sudah dimulai
pembersihan terhadap paham jahat komunis dan kembalinya umat manusia ke jalur
tradisional.
Mencerai-beraikan sepenuhnya partai jahat
PKT, membersihkan unsur-unsur jahat Komunisme di seluruh dunia, serta secara
menyeluruh meninjau kembali degradasi moral dan kerusakan masyarakat manusia
dalam 200 tahun terakhir, telah menjadi prioritas utama umat manusia di hari
ini. Meluruskan kembali hati manusia, memurnikan masyarakat manusia, kembali ke
jalur tradisional, membangun kembali agama kepercayaan, merenungkan kembali
hubungan dengan Tuhan, dan menjalin kembali ikatan dengan Tuhan, ini merupakan
tanggung jawab setiap manusia, sekaligus merupakan harapan dari setiap manusia
untuk memperoleh penyelamatan! Tuhan di satu sisi berbelas kasih namun juga
memiliki kewibawaan! Tuhan sedang mengamati isi hati setiap manusia. Pilihan
dan tindakan dari seorang manusia pada saat ini, akan menentukan masa depannya.
Jika ingin kembali ke jalan yang
ditunjukkan Tuhan, dan memperoleh penyelamatan dari Tuhan, maka harus secara
menyeluruh mengungkap Tujuan Terakhir dari Paham Komunis, agar orang-orang yang
tersesat dapat tersadarkan! Ini tepatnya merupakan cita-cita dasar dari
penulisan buku ini.
Ketika PKT menghancurkan Kebudayaan
Tradisional, serentak juga mendorong agama negara yakni ajaran sesat komunis,
untuk mencuci otak rakyat Tiongkok dalam lingkungan tertutup. Setelah era
1980-an, pintu negara telah dibuka, namun PKT tidak ingin menampilkan
kebudayaan arus utama luar negeri kepada rakyat Tiongkok, sebaliknya malah
banyak memperkenalkan hal-hal buruk dari Barat, Jepang, Hongkong dan Taiwan.
PKT melalui blokade internet, satelit TV, dan media massa, telah mengendalikan
apa saja yang boleh dilihat oleh rakyat Tiongkok, dan apa saja yang perlu
dihalau ke luar. Kebebasan seks, gengster, gaya hidup mutan dari Barat dan
lainnya, secara sengaja diperkenalkan masuk ke Tiongkok, ditambah dengan
‘Kebudayaan Partai’ PKT, sehingga berbagai “Kebudayaan” kotor dan menjijikkan
mulai mengendap di dalam sebuah lingkup lingkungan yang saling menutupi. Hal
ini telah menciptakan lingkup negara berbudaya partai, persis sebuah lubang
kotoran yang sudah lama sekali tidak dibersihkan, yang masuk ke dalam semuanya
adalah kotoran. Seiring berlalunya waktu, telah mengendap paham komunis
fundamentalis, Kebudayaan Partai yang telah berubah bentuk akibat campuran dari
sana-sini, berbagai hal sampah dalam kebudayaan sejarah Tiongkok yang sengaja
dikumpulkan dan disebarkan oleh PKT, gaya hidup mutan dari Barat dan lainnya,
benda-benda kotor ini seiring dengan lamanya waktu endapan dan fermentasi
berubah menjadi semakin tebal, sehingga orang-orang makin sulit membebaskan
diri.
Kebudayaan lubang kotoran yang tertutup
ini mempunyai daya korosif yang sangat kuat, hanya segelintir rakyat Tiongkok
yang berkesempatan merasakan sendiri dunia luar, atau memahami fakta melalui
berbagai cara lainnya, mereka ini relatif lebih sedikit tercemar. Mayoritas
rakyat Tiongkok tidak akan bisa membebaskan diri dari kebudayaan lubang kotoran
ini, selama bertahun-tahun sejak lahir hingga tumbuh dewasa, semuanya dipaksa
untuk hidup dalam kebudayaan lubang kotoran ini, tidak bisa menyentuh
masyarakat normal umat manusia dan Kebudayaan Tradisional yang sesungguhnya.
Ini menyebabkan banyak orang Tiongkok
dalam hal penilaian, kecerdasan, pemikiran hingga luasnya visi, tidak dapat
keluar dari lingkup kebudayaan lubang kotoran ini. Tanpa adanya referensi dari
nilai-nilai universal dan Kebudayaan Tradisional, menyebabkan banyak rakyat
Tiongkok kehilangan kemampuan untuk membedakan benar dan salah serta keberanian
untuk berpikir secara independen dari perspektif moralitas; segala
pemikiran-perilaku-sistem nilai dan lainnya, semuanya menggunakan kriteria
kebudayaan lubang kotoran ini sebagai referensi, sama sekali tidak tahu bahwa
manusia masih memiliki cara hidup yang benar. Begitu mereka melangkah keluar
dari pintu negara, ketika bertemu relawan yang mengungkap kejahatan PKT dan
mendorong rakyat Tiongkok mundur dari partai – liga pemuda – pionir muda,
mereka bahkan tidak dapat memahami motivasi dari para relawan ini, tidak
percaya ada orang tanpa peduli nama-kepentingan, rela berjerih-payah bahkan
dipandang hina oleh orang-orang hanya demi menyebarkan fakta kebenaran, dan
semuanya ini berasal dari hati nurani dan keyakinan.
Berbagai perilaku menjijikkan yang
menempel di atas tubuh rakyat Tiongkok sekarang ini, secara masif dikarenakan
sirkulasi berulang polusi dalam lingkungan kebudayaan lubang kotoran yang
tertutup rapat hasil ciptaan PKT. “Jika Masuk ke Toko Ikan Asin, Lama-Kelamaan
Tidak Akan Tercium Baunya.” [Kongzi Jiayu] Karena dalam waktu lama berada dalam
lingkungan semacam ini, banyak orang sepenuhnya tidak sadar akan hal ini,
bahkan menikmatinya, sama sekali tidak pernah terbayang kebudayaan masyarakat
yang berbeda, apalagi berkeinginan untuk membersihkan dan menyingkirkan
kebudayaan lubang kotoran PKT ini.
*Kongzi Jiayu, diterjemahkan sebagai The School Sayings
of Confucius atau Family Sayings of Confucius, adalah kumpulan ucapan dari
Konfusius, yang ditulis sebagai suplemen untuk Analects [Lunyu]. (Wikipedia)
b. Mayat Berjalan
Selain menuntut siswa SD secara kolektif
bergabung dengan pionir muda dan siswa sekolah menengah bergabung dengan liga
pemuda, PKT juga menuntut anggota partai agar mereka tiada hentinya “mengingat
kembali Sumpah Anggota Partai”. Juga artinya menuntut mereka “menyembah roh
jahat”, bahkan harus terus menyembah, sampai mereka sepenuhnya menjadi “alat
partai yang jinak”, yang tidak lagi memiliki watak hakiki manusia.
Setelah PKT menghancurkan semua
kepercayaan, serentak juga menjadikan Komunisme sebagai suatu kepercayaan, dan
dicekok-paksa kepada rakyat Tiongkok. Namun Komunisme adalah sebuah ajaran
sesat, setelah Era Reformasi dan Keterbukaan, dari anggota biasa hingga
pimpinan partai sudah tak ada seorang pun yang percaya Komunisme. Kepercayaan
tradisional telah digulingkan, topeng palsu Komunisme telah terbongkar,
sehingga berbagai arus pemikiran masuk memanfaatkan celah yang ada, dan
berhasil menduduki hati rakyat Tiongkok.
PKT menggunakan kebijakan dan hukumnya
untuk memerangi niat Bajik terakhir manusia yang hanya tersisa sedikit ini. Ada
yang memiliki nurani ingin membantu orang tua dan anak kecil, bermurah hati
menyumbang, berani menegakkan keadilan, namun dikarenakan rasa takut difitnah
dan ditipu, sehingga lebih memilih memandang tapi tidak kelihatan, berpura-pura
tuli. Hal ini telah menyebabkan banyak orang Tiongkok sekarang ini, bukan saja
tidak memiliki sifat Ilahi, bahkan watak hakiki manusia pun sudah tidak punya.
Selaku manusia selain mengejar kehidupan
materi, juga memiliki kebutuhan alami terhadap kehidupan spiritual. Tidak
peduli orang itu seperti apa, hidup di dunia ini pasti akan mengeksplorasi
jawaban atas pertanyaan utama mengapa saya hidup, hingga jawaban tentang
kehidupan, kematian, kebahagiaan, kemalangan dan lainnya. Manusia yang berada
dalam masyarakat bebas, walau tidak memiliki agama dan kepercayaan, namun
dengan pengejaran terhadap “kebebasan”, “keadilan”, dan nilai sekuler normal
lainnya, juga dapat memenuhi sebagian dari kebutuhan spiritual manusia.
Sebaliknya dalam masyarakat yang terputus dengan nilai tradisi dan mendapat
tekanan berat politik, mata orang-orang ditutupi oleh kepalsuan, imajiner, dan
kejahatan, kebutuhan spiritual orang-orang terpaksa berganti menjadi putus-asa
dan kemerosotan. Akibatnya banyak orang hanya menjadi cangkang kosong yang
berwujud manusia, yang tidak memiliki pemikiran dan perilaku, juga etika-moral
layaknya seorang manusia. Orang semacam ini, pantas disebut dengan “Mayat
Berjalan”.
Ini bukanlah “persoalan pembangunan”,
lebih-lebih tidak bisa “diselesaikan dengan pembangunan lebih lanjut”; tapi ini
adalah konspirasi roh jahat dalam memusnahkan umat manusia secara keseluruhan.
c. Mentalitas Akhir Zaman
Sebuah bangsa yang dalam hatinya tidak
menaruh harapan dan sepenuhnya kehilangan kepercayaan terhadap Tuhan, bangsa
yang tidak mengharapkan dan mengejar kebaikan hati dan keadilan, merupakan
bangsa yang sedang melangkah ke arah kemusnahan. Segenap lingkungan sosial
Tiongkok zaman sekarang adalah mengagungkan kejahatan dan menolak kebajikan.
Meskipun beberapa orang berkumpul bersama, juga tak ada yang berani mengaku
dirinya percaya Tuhan, karena takut akan ditertawai, ditolak, diserang oleh
orang lain.
Rakyat Tiongkok yang sudah tidak memiliki
kepercayaan spiritual, mulai secara gila-gilaan menyembah emas dan uang,
sehingga Fetisisme pun menjadi agama baru. Ribuan hingga jutaan anak muda
menjuluki idola mereka dengan sebutan “Tuhan” [God]. Di konser
beberapa “Selebriti”, para pengemar dan “fans” seperti orang mabuk, tergila-gila,
dan menangis tersedu-sedu. Ada penyanyi dan bintang film yang moralnya telah
rusak, namun malah disembah layaknya sosok Tuhan. Ada sejumlah anak muda yang
tidak ragu menghabiskan uang, ke mana-mana mengejar idolanya. Ketika
orang-orang terbiasa memanggil idola sexy pujaan mereka dengan sebutan
“Tuhan”, saat anda memberitahu dia bahwa “Tuhan telah datang”,
kira-kira apa komentar dia?
Selain secara gila-gilaan mengejar uang
dan materi, banyak orang juga dipenuhi sifat bobrok, putus asa, pembangkang yang
mencengangkan. Mereka kecanduan alkohol, narkoba, judi, seks bebas; sibuk
dengan game online dan media sosial; terlena oleh novel
fantasi-horor-supranatural; sehingga mereka terlihat kacau balau dan kurang
waras, karena kegilaan dan kekacauan telah menempati celah kekosongan dunia
spiritnya.
Pejabat tinggi PKT juga menganut
mentalitas akhir zaman yang destruktif semacam ini. Zhu Chenghu selaku dekan
PLA National Defence University mengancam: “Jika Amerika mengintervensi perang
Selat Taiwan, Tiongkok akan ‘terlebih dulu’ menggunakan senjata nuklir, agar
ratusan kota di Amerika menjadi rata dengan tanah, walau kota Xi’an hingga
ujung timur Tiongkok harus mengalami kehancuran juga tiada keraguan sedikit
pun”. Dalam pidato internal dia lebih meledak-ledak lagi: “PKT harus menimbun
senjata nuklir, untuk memusnahkan separuh populasi umat manusia”. Tentu saja,
yang dimaksud “tiada keraguan sedikit pun” adalah mengorbankan nyawa rakyat
Tiongkok. Karena begitu ada perang nuklir, mereka dapat bersembunyi dalam bunker
nuklir yang telah dipersiapkan jauh hari untuk mereka sendiri.
*Komentar Zhu Chenghu saat wawancara dengan Reporter Wall
Street Journal ini sekaligus mematahkan kebijakan senjata nuklir Tiongkok
sendiri, yakni ‘No First Use’ policy.
Mentalitas akhir zaman yang menguasai
seluruh masyarakat telah menyebabkan ketidak-pedulian serius terhadap nyawa
kehidupan, ini termasuk ketidak-pedulian Zhu Chenghu terhadap nyawa kehidupan
orang lain, juga termasuk ketidak-pedulian banyak orang terhadap nyawa kehidupan
diri sendiri. “Hanya berharap melewati hari saja”, “setelah melewati hari ini
tiada hari esok”, “nikmati hidup selagi bisa”, “setelah dahaga terpuaskan
boleh mati”, mengejar kesenangan duniawi tanpa batas di tengah keputus-asaan
akhir zaman. Insiden keji yang terekspos pada akhir November 2017 yakni
kekerasan anak di taman kanak-kanak Beijing yang mengundang kemurkaan publik,
hanyalah salah satu refleksi dari mentalitas semacam ini.
d. Tiada Kesempatan untuk Diselamatkan
Sekarang ini banyak orang tidak mengenal
Kebudayaan Tradisional Tiongkok, juga tidak mengetahui sejarah Partai Komunis
Tiongkok. Mereka tidak memiliki kebudayaan, tidak mengerti sejarah, tidak
mementingkan moral, tidak memiliki konsep benar-salah, tidak percaya eksistensi
Tuhan, dalam otak hanya ada uang-kekuasaan-nafsu keinginan. Ketika membahas
Tuhan dengan mereka, mereka akan merasa anda sudah terlalu basi. Bahkan ketika
utusan Tuhan menggunakan kata-kata Bajik untuk menyadarkan mereka, mereka juga
tidak akan percaya.
Tuhan menciptakan manusia, bahkan telah
menetapkan kriteria selaku seorang manusia. Jika telah kehilangan kriteria ini,
di mata Tuhan tidak lebih hanyalah sesosok ‘Mayat Berjalan’ yang berwujud
manusia, sama sekali tidak layak disebut manusia lagi. Roh jahat komunis justru
ingin menginjak-injak martabat manusia, sekarang ini banyak sekali orang
Tiongkok yang telah dimutasi oleh PKT hingga sudah tidak mirip manusia lagi,
dan Tuhan pun sudah tidak menganggap orang semacam ini sebagai manusia. Tanpa
adanya berkat dari Tuhan, manusia akan jatuh terdegradasi ke bawah dengan
cepat, hingga pada suatu hari, ketika manusia sudah sepenuhnya tidak layak
lagi, maka dengan terpaksa harus dihancurkan.
Ini sungguh sangat berbahaya!
******
Roh jahat komunis adalah terbentuk dari
“Kebencian”, di tengah operasi jangka panjangnya, ia telah menanamkan selapis
materi “Kebencian” ke dalam tubuh rakyat Tiongkok. “Kebencian” ini menghasilkan
kekerasan, pembantaian, dan segala macam sifat keji. Hanya dengan pemulihan
hati nurani dan watak hakiki manusia, barulah ada harapan untuk menyingkirkan
materi “Kebencian” ini.
Demi memusnahkan seluruh umat manusia,
partai komunis telah merusak Kebudayaan Tradisional bangsa Tionghoa, mengubah
manusia menjadi ‘Bukan Manusia’, dan sebuah negara yang pernah memiliki peradaban
tinggi nan gemilang diubah menjadi negara yang bukan negara lagi.
Tuhan berbelas kasih kepada manusia. Semua
kehidupan berasal dari dunia Langit yang indah, Tuhan tidak berkenan melihat
mereka dihancurkan begitu saja, ini sebabnya terus-menerus memberikan seruan
penuh belas kasih. Yang dapat memahami fenomena Langit dan menyadari belas
kasih Tuhan, barulah dapat melihat harapan untuk memperoleh penyelamatan.
Cerai-beraikan PKT, singkirkan sepenuhnya segala bentuk manifestasi paham komunis di dunia, kembalilah ke jalur tradisional, pertahankan kebaikan dalam lubuk hati, dengan demikian semua kehidupan barulah memiliki harapan! (Bersambung)
Bab 6. Menggunakan “Kebencian” untuk Mendirikan Negara (Akhir)
3. Negara PKT Pasti Menjadi Dunia Serigala
a. Sepuh Namun Tidak Terhormat
Kongzi [Konfusius] berkata: “……ketika
berumur 50, memahami Mandat Langit; ketika berumur 60, telinga patuh dengan
kebenaran; ketika berumur 70, tindakan mengikuti hati tanpa melampaui
batas”. [Wei Zheng, Analects] Lansia tradisional di Tiongkok, terkenal
bijaksana dan berpengalaman; juga gagah dan murah hati, merupakan kelompok yang
paling dihormati orang-orang dalam masyarakat.
*…At fifty, I knew the decrees of Heaven. At sixty, my
ear was an obedient organ for the reception of truth. At seventy, I could
follow what my heart desired, without transgressing what was right; Wei Zheng,
The Analects, Confucianism.
Kaisar Kangxi Dinasti Qing pernah dua kali
mengadakan perjamuan seribu sesepuh di Taman Changchun dan Istana Qianqing,
untuk menjamu ribuan tamu pejabat sipil dan militer dari etnis Mongol –
Manchuria – Han juga pensiunan pejabat yang semuanya berusia di atas 65 tahun.
Dalam dua kali perjamuan di Istana Qianqing, Kangxi bersulang untuk para
sesepuh yang hadir dalam perjamuan, para pangeran dan cucu kaisar ikut berdiri
dan menyaksikan, bahkan menuangkan arak kepada para sesepuh. Untuk memperingati
dua kali pertemuan megah ini, Kaisar Kangxi secara spontan menciptakan sajak
“Perjamuan Seribu Sesepuh”, bahkan memerintahkan para pejabat
“mencatat sejarah ini dalam sajak”.
Sebaliknya hari ini, banyak perilaku para
lansia yang sering membuat orang-orang mengerutkan dahinya. “Tarian Plaza”
– “Grup Penerobos Jalan” mengganggu warga sehingga dikecam di mana-mana
sudah bukan berita baru lagi. Bulan Juni 2017, para orang tua Tarian Plaza di
Luoyang bertengkar memperebutkan lapangan basket dengan anak muda, dan tanpa
ragu melayangkan pukulan ke arah anak muda pemain basket di sana. Berbagai
macam dan bentuk muslihat “Tabrakan Rekayasa (Pemerasan)”, jurusnya tumbuh
subur bermekaran, sang korban pemerasan sulit mengungkap ketidakadilan ini,
hanya dipendam saja, sehingga tercipta fenomena aneh masyarakat “Tak ada yang
berani bantu lansia” – “Tak ada yang berani lindungi anak kecil.” Ada seorang
lansia sengaja menabrakan diri ke mobil, ingin memeras memperoleh kompensasi,
bahkan dengan penuh percaya diri berkata, “Saya kan sudah tua!” Maksudnya
adalah dirinya sudah berusia lanjut, sudah tidak sanggup mengerjakan hal lain,
demi memperoleh uang maka melakukan hal jahat seperti ini, diri sendiri masih
merasa ini sangat berdasar. Seorang lansia, dalam sebuah kereta di Xi’an,
dikarenakan seorang gadis tidak mau memberikan tempat duduknya, dengan gilanya
menaruh pantatnya duduk di atas tubuh gadis tersebut. Di sejumlah kota bahkan
telah muncul pemandangan memuakkan para orang tua ramai-ramai melacur di tempat
terbuka.
*Tarian Plaza atau square dancing, plaza dancing;
fenomena ibu-ibu lanjut usia berjoget dengan musik modern di lapangan.
Sedangkan Grup Penerobos Jalan merupakan fenomena sekelompok orang tua berjalan
di jalan raya diiringi lagu dan spanduk tanpa menghiraukan lalu lintas”.
Ada orang dengan nada ejekan berkata:
“Bukan orang tua yang telah berubah jahat, melainkan penjahat yang telah
berubah menjadi tua.” Persoalan semacam ini mutlak bukanlah kebetulan. Beberapa
generasi yang lahir setelah PKT berkuasa, secara bertahap telah memasuki usia
lanjut. Era ketika mereka tumbuh dewasa, tepatnya adalah era ketika PKT
berkali-kali meluncurkan gerakan politiknya. Orang-orang ini selain tidak
pernah memperoleh didikan Kebudayaan Tradisional, mereka juga diindoktrinasi
oleh teori Pertarungan Kelas [class struggle] PKT, dalam tulang mereka telah
tertanam “Kebencian” roh jahat. Mereka mengalami sendiri apa itu
Pukul-Rusak-Rampok semasa Revolusi Kebudayaan, ada sejumlah orang dulunya
adalah “Tentara Cilik Merah” – “Pengawal Merah”. Berbagai macam tindak-tanduk
mereka yang biadab, tidak lebih hanyalah kelanjutan dari pola perilaku yang
dikembang-biakkan oleh PKT di masa muda mereka.
b. Anak Kecil yang Culas dan Dewasa Sebelum Waktunya
Banyak anak kecil Tiongkok, di bawah
pengaruh buruk kepala keluarga dan masyarakat, telah menampilkan kedewasaan
sebelum waktunya yang tidak sepadan dengan umur. Mereka apa pun mengerti,
bahkan sangat culas. Ada anak kecil yang berkata secara blak-blakan: “Setelah
tumbuh dewasa ingin jadi pejabat korup.”
Di sebuah tayangan TV ada sepotong dialog
antara anak kecil dan orang dewasa. Putra dari mantan kepala biro anti korupsi,
yang masih sekolah dasar, berkata bahwa saat pelajaran olahraga bila ingin
bermain sepakbola maka harus menyuap, tapi setelah menyerahkan uang, bahkan
posisi pemain cadangan pun tidak dia peroleh, sehingga kesal bukan main. Dia
sendiri juga punya jalan untuk menghasilkan uang, bila teman sekelas ingin
menyontek PR-nya, setiap kalinya dia akan memungut 5 Yuan, ketika kondisi pasar
kurang bagus, hanya memungut 3 Yuan saja. Umur yang masih sangat muda, namun
sudah memiliki persepsi kehidupan yang sepenuhnya tidak sesuai dengan kepolosan
seorang anak kecil ——– “Tanpa keluar uang tidak akan membereskan masalah,
sekarang ini semuanya demikian.” Ini adalah isi cerita dalam drama TV,
agar tidak merusak “Tema Propaganda” PKT, maka refleksi dari sisi gelapnya
sangatlah terbatas, namun kisah nyatanya jauh lebih parah dari ini.
*Tanpa keluar uang tidak akan membereskan masalah,
sekarang ini semuanya demikian; merupakan kutipan dalam drama TV Cina 2017
berjudul In the Name of the People, sekaligus merupakan refleksi kehidupan di
Tiongkok saat ini.
Pertunjukan dan nyanyi seorang anak muda
berumur 14 tahun sangat populer di internet, “pertunjukannya” tidak senonoh dan
vulgar, netizen berkomentar bahwa pertunjukannya “seratus persen berbau busuk”.
Semua orang normal yang telah melihat “pertunjukannya”, akan merasa mual dan
muak. Usia 14 tahun, seharusnya murni dan tak dibuat-buat, merupakan usia
pertumbuhan tubuh dan menimba ilmu, namun sebaliknya telah diinjak-injak hingga
tidak seperti manusia. Yang paling menakutkan adalah, pertunjukan tak senonoh
semacam ini sangat diminati orang-orang, membuat orang tidak tahan melihatnya!
Baru-baru ini platform siaran langsung internet di daratan telah muncul adegan
murid SD dan anak-anak bawah umur membuka pakaian dan melakukan siaran
telanjang. Seorang anak SD yang mengaku lahir tahun 2005, dalam dialog dengan
investigator Wechat mengaku, dia [gadis] melakukan siaran telanjang bukan demi
uang, namun karena ingin “bersenang-senang”; dia bahkan berkata dengan bangga,
dalam kelompoknya, fans dia adalah yang paling banyak.
“Butuh 10 Tahun Menumbuhkan Pohon, Butuh
Ratusan Tahun Membangun Manusia” [Guanzi]. Kebiasaan masyarakat yang
didorong oleh pengejaran materi dan racun PKT, telah menghasilkan berjuta-juta
anak muda semacam ini, lalu siapa yang mampu menghapus konsekuensi buruk ini?
c. Moralitas Seksual Berguguran
Kesucian dari moralitas seksual [sexual
morality], hubungan lazim suami istri, adalah bagian penting dari jalan hidup
manusia yang ditentukan Tuhan. Dalam “Zhong Yong” tertulis:
“Jalan Seorang Budiman, Dimulai dari Hubungan Suami Istri, Ketika Sampai
Puncaknya, Menerangi Langit dan Bumi.” Sebaliknya kekacauan hubungan seksual,
merupakan pertanda awal jatuhnya sebuah negara.
*The way of the superior man may be found, in its simple
elements, in the intercourse of common men and women; but in its utmost
reaches, it shines brightly through heaven and earth; Zhong Yong, Konfusianisme.
Jatuhnya Kekaisaran Romawi [Roman Empire
27 SM-476 M], dan hancurnya kota kuno Pompeii, sangat besar kaitannya dengan
runtuhnya moralitas seksual. Dalam Alkitab mencatat dua kota Sodom dan Gomora
yang dihancurkan oleh Tuhan, juga dipenuhi oleh hal cabul dan asusila. PKT
selama tiga dekade awal, mempromosikan Asketisme kepada masyarakat, namun para
kader pimpinan tingkat tinggi malah berperilaku seksual kacau balau. Menurut
laporan, perempuan yang pernah jadi mainan Mao Zedong mencapai angka ribuan.
Setelah era 1980-an, meskipun dalam hal
politik PKT masih menggenggam dengan erat, namun dalam domain kehidupan pribadi
malah sengaja melonggarkan degradasi moral rakyat. PKT tahu dengan jelas,
ketika rakyat berhasil diubah jadi individu yang egois – dingin – serakah –
cabul, maka mereka tidak akan tertarik dan tidak berdaya untuk peduli urusan
domain publik, dengan demikian PKT bisa dengan bebas bermain-main. Pejabat
partai yang memiliki istri ke-2 dan simpanan sudah tak perlu dibahas lagi,
rakyat jelata juga ikut berkonstribusi mendorong arus atas terjadinya
keruntuhan moralitas seksual. Berbagai macam dan jenis tempat hiburan erotis
bermekaran di mana-mana, pelacuran terselubung banyak bertebaran. Panti pijat –
basuh kaki – salon – clubhouse …… di seluruh dunia tidak ada satu negara pun
yang memiliki begitu banyak macam tempat hiburan erotis. Menurut statistik,
pelacur Tiongkok mencapai angka 20 juta orang, dan 4 juta di antaranya
merupakan pelacur profesional. Apa yang disebut situs web portal di Tiongkok,
bahkan situs web pemerintah PKT seperti Xinhua News dan People’s Daily, tulisan
provokatif serta gambar dan video seksi mencolok dapat ditemukan di mana saja,
ingin menghindar pun tidak bisa.
Demi merefleksikan tingkat kebusukan
kehidupan seksual pejabat PKT sekarang, netizen pernah mengadakan kompetisi
penghargaan untuk menyindir para pejabat Tiongkok yang beristri banyak, bahkan
telah memilih 9 kategori pemenang, seperti penghargaan jumlah simpanan
terbanyak, penghargaan wanita simpanan berbudaya terbaik, juga masih ada
penghargaan akademis, awet muda, kemampuan manajemen, menghamburkan uang ….
birokrasi PKT yang tak kenal rasa malu, dapat terlihat jelas dalam hal ini.
Dengan kendali ketat dan ekstrem PKT
terhadap masyarakat, bila sungguh ingin ‘Menyapu Pornografi’, maka mutlak tidak
mungkin membiarkan hal erotis membanjir hingga sedemikian rupa. Satu-satunya
penjelasan adalah, runtuhnya moralitas seksual orang Tiongkok, justru merupakan
kebijakan yang ditetapkan oleh PKT, sekaligus merupakan jurus utama roh jahat
komunis dalam memusnahkan manusia di saat terakhir.
Menurut sejarawan, kekacauan seksual
masyarakat dan orang Romawi yang bergelimang nafsu merupakan salah satu
penyebab utama hancurnya Kekaisaran Romawi Kuno. Kekacauan seksual masyarakat Tiongkok
dalam segala aspek jauh melebihi Romawi Kuno. Beberapa tahun terakhir tingkat
perceraian di beberapa kota besar bahkan melampaui angka 50%. Membanjirnya
penyakit seksual dan AIDS, merupakan konsekuensi langsung dari arus kebebasan
seksual. Dikarenakan pemerintah menutup-nutupi, maka dunia luar hanya bisa
memahami puncak dari gunung es. Bertambahnya konsekuensi sosial yang
diakibatkan oleh kekacauan seksual semakin menenggelamkan masyarakat Tiongkok.
d. Semua Bidang
dan Profesi Mengalami Degradasi
Ada sebuah pepatah yang dikenal luas,
dalam masyarakat normal ada 3 golongan manusia yang tidak boleh terdegradasi:
pertama adalah guru, kedua adalah dokter, ketiga adalah hakim. Guru berperan
mengajar dan mengedukasi orang-orang, memberitahu generasi selanjutnya
bagaimana membedakan benar salah, baik jahat, indah buruk; dokter berperan
menolong dan menyembuhkan pasien; hakim berperan menyokong dan menegakkan
keadilan. Tiga macam profesi ini semuanya memerlukan tingkat keimanan dan
integritas pribadi, kerusakan mereka akan membuat tubuh organ masyarakat
membusuk secara besar-besaran.
Sebenarnya, kesehatan organ tubuh
masyarakat tidak hanya terkait dengan 3 profesi ini saja. Karena PKT telah
memonopoli seluruh sumber daya masyarakat, maka moralitas dari seluruh entitas
masyarakat terseret jatuh melampaui batas. Korupsi sistematis yang
mencengangkan serta pemerintahan bergaya berandal, menjadikan para pejabat PKT
sebagai lembaga paling cacat dalam sejarah umat manusia. Hakim secara terbuka
menyatakan di pengadilan: “Kamu tidak usah bahas hukum dengan saya!” Guru yang
seharusnya menjadi teladan, malah bersikap cabul dan memperkosa muridnya;
cendekiawan dan ilmuwan yang seharusnya mendorong perkembangan masyarakat dan
meningkatkan kesejahteraan umat manusia dengan penelitian objektif netral,
malah memanfaatkan kepercayaan publik terhadap gelar akademis, mengkhianati
hati nurani, dan berbuat jahat untuk membantu tirani. Dokter yang tadinya
disebut “malaikat berjubah putih” malah telah menjadi iblis pembunuh yang meraup
uang dari panen hidup organ manusia.
Contohnya kaum intelektual yang dianggap
“nurani masyarakat” [social conscience], tingkat moralitas mereka sudah
seharusnya mewakili kalangan atas dari masyarakat ini. Namun, domain akademis
sebaliknya malah menjadi area yang dirusak paling parah akibat korupsi dan
pemalsuan. Tenggelamnya moralitas di domain akademis, boleh dikatakan telah
menutup jalan orang Tiongkok untuk melakukan inovasi teknologi. Pada bulan
Maret 2015, di antara 43 makalah palsu yang dicabut oleh BMC Publishing
Inggris, ada 41 makalah yang berasal dari ilmuwan Tiongkok; pada bulan Agustus
2015, penerbit ilmiah terkenal Springer Nature mencabut 64 makalah, semua
makalah ini semuanya berasal dari Tiongkok; Pada bulan Oktober 2015, penerbit
ilmiah terkenal Elsevier mencabut 9 makalah ilmiah dari 5 jurnal, yang
seluruhnya berasal dari Tiongkok. Pada tanggal 20 April 2017, Springer Nature
secara sekaligus mencabut 107 makalah asal Tiongkok yang diterbitkan dari tahun
2012 hingga 2016 di bawah naungan majalah “Tumor Biology”,
artikel-artikel ini dicurigai sebagai ‘penelaahan sejawat ilmiah palsu’ [fake
peer review], juga berarti ada penipuan akademis yang teroganisir dan
tersistematis.
*Penelaahan sejawat ilmiah (juga dikenal sebagai ulasan
sejawat ilmiah atau perwasitan) adalah proses penilaian karya ilmiah,
penelitian, atau ide-ide seorang penulis di bawah pengawasan orang lain yang
ahli di bidang yang sama, sebelum makalah yang menjelaskan karya ini
diterbitkan dalam jurnal, prosiding konferensi atau sebagai sebuah buku.
(Wikipedia)
Di Tiongkok hari ini mendadak telah muncul
sejumlah “profesi” yang tak pernah ada dalam sejarah, “Tabrakan Rekayasa” yang
disinggung di sebelumnya hanyalah salah satu di antaranya yang relatif
rendahan. Pada bulan Juli 2017, lulusan Northeastern University yakni Li
Wenxing, terjebak dalam perangkap MLM dan meninggal di Tianjin, di usianya yang
hanya 23 tahun. Kasus ini menyita perhatian publik, semakin banyak perangkap
MLM garis keras muncul ke permukaan. Penipuan telepon, penipuan keuangan,
mengeruk uang dengan menggunakan anak yang diculik dan dibuat cacat untuk
mengemis, pengemis profesional dengan kode QR, mengemis dengan mesin EDC,
membunuh orang untuk transaksi organ, dan berbagai kejahatan lainnya, banyak
bukan main, orang-orang dibuat pucat karena mendengarnya.
*Para pengemis profesional di Tiongkok memiliki QR code,
jika ingin memberi uang cukup dengan scan kode QR saja; begitu juga mesin EDC,
tinggal gesek saja jika ingin memberi uang ke pengemis.
e. Rusak Otak Kolektif secara Periodik
Setelah tahun 1989, demi membenahi krisis
pemerintahannya yang bersifat periodik, PKT kembali mengulangi cara-cara
lamanya, yaitu menciptakan musuh, memprovokasi massa ‘Bertarung’ melawan massa,
menghasut “Kebencian” yang ditanamkan oleh roh jahat ke dalam tubuh rakyat
Tiongkok, memprovokasi xenofobia dan sentimen anti-asing. Sebagai contoh, pada
tahun 1999 dengan memanfaatkan insiden pengeboman kedubes Tiongkok di
Yugoslavia, diluncurkanlah gelombang besar anti-Amerika; pada tahun 2005 anti-Jepang;
pada tahun 2008 anti-Prancis; pada tahun 2012 anti-Jepang; pada tahun 2017
anti-Korsel. Anak muda dalam jumlah besar diprovokasi, bahkan di bawah dorongan
terorganisir dari akar rumput PKT dan institusi agen khusus, menyerbu ke
jalanan untuk Pukul-Rusak-Rampok-Bakar, menghancurkan mobil bermerk Jepang dan
Korsel milik warga Tiongkok sendiri, mengepung supermarket Prancis, dan
menghancurkan KFC.
Orang-orang ini disebut sedang “Kumat
Psikosis Patriotik”, media Hongkong menjuluki kelompok yang suka ricuh dan
mudah memaki orang “pengkhianat” ini sebagai “Pengawal Merah Internet”, dan
menyindir PKT “akhirnya melahirkan Gu” [serangga berbisa legendaris].
Yang paling konyol dan menggelikan adalah,
demi terus memegang kendali opini publik di era internet ini, PKT telah
memelihara banyak sekali apa yang disebut “personel komentar internet” atau
“pengarah sentimen publik”. Karena beredar kabar setiap kali melakukan posting
memperoleh 50 sen [RMB], maka orang-orang ini dijuluki “pasukan 50 sen
[Wumao].” Yang selangkah lebih maju dibanding Wumao adalah “Zi Gan
Wu” [Wumao Ransum Sendiri] yaitu pasukan 50 sen yang tidak menerima gaji
dan membawa ransum sendiri”. Dalam beberapa tahun terakhir bermunculan sebuah
kelompok baru muncul lagi, yaitu para netizen muda yang secara membabi buta
melindungi PKT, dan dijuluki “si cilik merah jambu”.
Sejumlah anak muda yang menyedihkan ini, telah ditanamkan “Kebencian” oleh PKT, telah dicekoki ramuan penghilang sukma, juga tidak bisa melihat semua fakta di luar dinding merah, dan terpaksa harus menerima “Rusak Otak Kolektif” dan kumatnya “Psikosis Patriotik” secara periodik. (Bersambung)
Buku “Mencerai-beraikan Kebudayaan
Partai” [Dissolving The Culture of CCP] pernah secara sistematis
menganalisis kondisi banjirnya kata-kata partai di bawah pemerintahan PKT,
seperti saling memanggil “Kamerad”, juga ada kosakata klise ala partai, yang
menopang operasi jangka panjang medan iblis Kebudayaan Partai, seperti:
1) Spirit Kongres, haluan, laporan
pemahaman dan ideologi —- merupakan cara ajaran sesat PKT mengendalikan jiwa;
*Menyampaikan dan menguasai “Spirit Kongres
XXX”; menyatukan “pemahaman”; pantang mundur mengikuti
“haluan”; “laporan pemahaman dan pemikiran” merupakan
bentuk inspeksi rutin terhadap anggota partai; ini semua merupakan trik PKT
dalam mengendalikan jiwa rakyat Tiongkok
2) Pemimpin tertinggi, unit kerja,
organisasi, catatan arsip, investigasi politik, ‘Hukou’, —- merupakan bentuk
pemantauan ketat terorganisir;
*”Pemimpin Tertinggi” telah dipakai secara luas
dalam hidup sehari-hari, bahkan dianggap sebagai istri di rumah, contoh
“Hal ini harus didiskusikan dulu dengan ‘Pemimpin Tertinggi’ di
rumah”; setiap orang Tiongkok dipaksa hidup bergantung pada “unit
kerja”; dan dalam “unit kerja”, setiap orang memiliki catatan
sejarah hidup yang disebut “catatan arsip”; “investigasi
politik” adalah proses yang erat berkaitan dengan “catatan
arsip”, dimana “Pemimpin Tertinggi” boleh mengakses riwayat
seseorang di masyarakat; perwakilan PKT yang ditempatkan untuk mengawasi
“unit kerja” disebut “organisasi”; sedangkan
“Hukou” adalah sistem registrasi rumah tangga agar tercatat dalam
sistem kendali PKT; ini semua merupakan bentuk pemantauan PKT terhadap rakyat
Tiongkok.
3) Propaganda, implementasi, eksekusi,
himbauan, pekerja teladan, kelas elit, perwakilan, komite —- merupakan
struktur hierarki organisasi yang super ketat;
*Kehendak partai adalah yang paling tinggi, oleh sebab
itu orang-orang tidak boleh mendiskusikannya, hanya boleh
“propaganda”, “implementasi”, “eksekusi”;
meskipun PKT menyebut dirinya pelayan rakyat, namun kebijakannya sama sekali
tidak memberi manfaat kepada orang-orang. Oleh sebab itu dibutuhkan
“himbauan” untuk menjalankan kebijakannya; dan orang yang tidak punya
kebebasan berpikir dan melaksanakan himbauan PKT dengan baik, disebut
“pekerja teladan”; di atas unit kerja ada namanya “kelas
elit” unit kerja, di atas pemimpin tertinggi ada namanya “kelas
elit” pemimpin tertinggi, yang paling tinggi adalah Komite Sentral; bagi
kelas rendah di bawahnya, kelas elit merupakan “perwakilan” dari
partai; sedangkan “Komite XXX” merupakan entiti khusus di bawah
arahan langsung pimpinan puncak PKT; ini semua adalah struktur hierarki yang
diawasi ketat.
4) Berjuang, inspeksi diri, bertarung,
‘mengkritik dan kritik diri’ —- memprovokasi Pertarungan demi mengisi-ulang
daya “Partai”.
*Dalam budaya partai, rakyat Tiongkok tanpa sadar
menganggap perjuangan sebagai hal lazim dalam hidup. Contoh ketika orang
mencoba melakukan sesuatu, mereka sering berkata ‘Berjuang’ untuk…., setelah
‘Berjuang’ sekian tahun, akhirnya saya….; “inspeksi diri”,
“mengkritik dan kritik diri” merupakan muslihat PKT untuk
memprovokasi “Bertarung”. “Inspeksi diri” dan “kritik
diri” PKT tentu saja berbeda dengan budaya tradisional. “Inspeksi
diri” dan “Kritik diri” PKT artinya “Bertarung”,
tujuannya adalah agar bertarung menyatukan pemikiran, bertarung menyingkirkan
orang yang tidak sepakat.
Dari TK hingga sekolah dasar – sekolah
menengah – sekolah tinggi, orang Tiongkok sejak kecil sudah terbenam dalam
kata-kata partai. Siswa SD ketika menulis karangan harus menulis “Selendang
Merah selamanya melangkah bersama partai”, “Saya mencintai partai XX”, “patuh
dengan kata-kata partai, melangkah bersama partai”, terus berlanjut hingga
dewasa masih harus menulis laporan hasil pemahaman studi “Kongres Nasional XX”.
Cobalah jalan-jalan di jalan besar dan gang kecil Tiongkok, dari era Yan’an
hingga “Memasuki Era Baru”, lagu merah dari berbagai era masih digaungkan
di mana-mana.
*Selendang Merah atau Red Scarf; sebutan anggota Pionir
Muda PKT
Ada orang mungkin saja tidak setuju,
merasa bahwa era telah berubah, manusia zaman sekarang walaupun masih
menggunakan istilah bahasa ini, juga sudah tidak tulus mempercayainya. Namun
masalahnya terletak pada: walaupun tidak tulus mempercayai, namun mutlak
kebanyakan orang masih menggunakan istilah bahasa ini! Ini menjelaskan bahwa:
kata-kata partai telah merasuki bahasa kalangan rakyat, sama seperti sebuah
tumor ganas, yang tumbuh makin besar, orang yang dirasuki olehnya bahkan
bertukar posisi menjadi tergantung pada tumor ganas ini, sehingga sudah tidak
mungkin memotong dan menyingkirkannya.
ii. Isi Mulut Semuanya Palsu
Jadi orang haruslah berprinsip pada
kejujuran. PKT mengandalkan kekerasan dan tipu muslihat untuk mempertahankan
kekuasaannya, berkata bohong adalah bakat esensial dan keahlian khusus para
pejabat PKT. Setelah pembantaian Tiananmen 4 Juni, sang juru bicara ketika
menghadapi pertanyaan wartawan dalam dan luar negeri, berkata dengan muka datar
dan santai: “Lapangan Tiananmen tidak mati satu orang pun.” Satu dekade
kemudian, ketika PKT mengerahkan seluruh kekuatan negara untuk menganiaya Falun
Gong, juru bicaranya kembali berkata dengan penuh sesumbar: “Situasi HAM
Tiongkok sedang dalam periode terbaik sejarah.”
Anak kecil sejak kecil sudah diajari
berbohong, pelajaran politik, sejarah, literatur dan bahasa penuh dengan
kata-kata bohong, dan ketika menjawab pertanyaan, mutlak tidak diperbolehkan
melampaui batas yang ditentukan. Anak kecil semacam ini setelah tumbuh dewasa,
ketika membuka mulut langsung berbohong, sama sekali tidak ada rasa bersalah.
Dari juru bicara pemerintahan hingga media corong seperti “Xinwen
Lianbo”, “Berita Fokus”; dari laporan pejabat partai di berbagai
tingkat hingga penelitian akademis di bidang literatur dan sejarah; dari domain
publik hingga kehidupan keluarga; masyarakat Tiongkok dipenuhi kata-kata bohong
yang tak terhitung. “People’s Daily hanya tanggalnya saja yang benar,
sisanya adalah palsu” Ini semuanya adalah pemahaman selama beberapa dekade
terakhir. Tiongkok telah menjadi sebuah negara yang isinya penuh dengan
kebohongan. Orang yang berani bicara jujur dan mengungkap fakta kebenaran
langkanya bukan main, malah dipandang sebagai makhluk aneh, bahkan akan digantung
bersama-sama. Ini adalah salah satu konsekuensi buruk akibat perusakan
komprehensif PKT terhadap moral masyarakat.
*Berita Fokus atau Focus Report 焦点访谈, merupakan program berita dari CCTV; Xinwen Lianbo atau News Simulcast 新闻联播, program berita dari CCTV yang disiarkan serentak di semua stasiun TV.
iii. Perkataan Vulgar Nan Populer
Tiongkok kuno dalam sejarah dunia mungkin
adalah negara dengan tingkat pendidikan kebudayaan pejabat paling tinggi. Mulai
dari dinasti Han, Tiongkok mulai memiliki sistem seleksi pejabat yang relatif
lengkap. Dari dinasti Sui hingga terus berlanjut ke sistem ujian negara dinasti
Qing, sejumlah besar talenta luar biasa telah dipilih untuk memasuki
pemerintahan, dan membantu Kaisar dalam memerintah negara. Dilihat dari ‘Dua Puluh
Empat Sejarah’ dan berbagai warisan data sejarah, tingkat peradaban dari
politik dan masyarakat Tiongkok kuno telah membuat manusia modern terkesima.
Bait puisi yang lembut dan tulus, ajaran kuno yang hangat dan mengundang rasa
hormat, semua ini membimbing orang kuno berbicara dengan damai, toleran, rendah
hati, sopan santun; sebaliknya bahasa vulgar sama sekali belum pernah mendapat
tempat di masyarakat.
*Dua Puluh Empat Sejarah adalah sekumpulan buku sejarah
Tiongkok yang menjabarkan periode dari tahun 3000 SM hingga masa Dinasti Ming
pada abad ke-17. Dalam kumpulan ini terdapat 3213 volume dan sekitar 40 juta
kata. Dua Puluh Empat Sejarah merupakan salah satu sumber sejarah Tiongkok yang
paling penting. (wikipedia)
Setibanya partai komunis berkuasa, semua
ini berbeda dengan sebelumnya. Ketika PKT didirikan, isinya kaum
lumpenproletariat. Kata-kata vulgar pemimpin PKT terang-terangan dimasukkan ke
dalam dokumentasi, koran, koleksi karya tulis bahkan hingga syair lagu,
sehingga menjadi objek yang ditiru rakyat. “Prinsip dari Marxisme, sangat
rumit, namun esensinya hanya satu kalimat: Memberontak itu Masuk Akal”,
“Demi keberhasilan revolusi dunia, kami telah bersiap mengorbankan nyawa 300
juta rakyat Tiongkok”, “Kentut yang dilepas dari atas, tidak semuanya
harum, di sini juga ada lawannya, ada yang harum juga ada yang bau, harus
diendus-endus terlebih dulu.” Setelahnya, pemimpin PKT di setiap generasi
juga memakai resep yang sama, melepaskan kata tajam, menyatakan teori sesat.
Ucapan Deng Xiaoping “Bila boneka siswa tidak patuh, satu rentetan senapan
mesin dapat menyelesaikan”, Slogan Jiang Zemin “Diam-diam Meraup Keuntungan
Besar” dan perintahnya melawan Falun Gong “Cemarkan reputasinya –
bangkrutkan ekonominya – hancurkan tubuh fisiknya”, tidak peduli itu adalah
substansial atau pun cara berekspresi, semuanya jahat luar biasa. Layaknya
bawahan mengikuti atasan, aura ganas juga menyelubungi seluruh masyarakat.
*’Memberontak itu Masuk Akal’ menjadi judul salah satu
Lagu Merah, liriknya adalah kutipan perkataan Mao.
http://ip.lidicity.com/hj/cn/zaofanyouli.html
*1949 Mao Zedong mengunjungi Soviet, pernah berkata
kepada Stalin: “Demi keberhasilan revolusi dunia, kami telah bersiap
mengorbankan nyawa 300 juta rakyat Tiongkok”. Kala itu jumlah populasi
Tiongkok adalah 450 juta jiwa, ini berarti 2/3 populasi rakyat Tiongkok.
*Kentut yang dilepas dari atas, tidak semuanya harum:
merupakan kata-kata yang disampaikan dalam rapat komite partai.
https://www.marxists.org/chinese/maozedong/1968/3-095.htm
*Pada thn 2000, ketika seorang wartawan wanita HK
melakukan wawancara terhadap Jiang Zemin dan menyinggung hal yang tidak enak
didengar, dia menjawab: Kalian wartawan memang suka bikin ribut, terlalu naif,
terlalu bodoh. Ada pepatah di Tiongkok: “Diam-diam Meraup Keuntungan
Besar”, Apakah kalian tahu? Kata-kata ini adalah yang terbaik! Jiang Zemin
mengerahkan seluruh perangkat mesin partai untuk menganiaya para praktisi Falun
Gong. Para praktisi bukan saja dijebloskan ke dalam kamp kerja paksa, namun
juga “Diam-diam” dipanen organnya secara paksa, dan diperjualbelikan untuk
“Meraup keuntungan Besar”.
iv. Umpatan Kotor yang Menyelimuti Langit dan Bumi
Kemerosotan PKT adalah tanpa batas dasar,
dan kemerosotan orang Tiongkok hasil didikan PKT juga tanpa batas dasar.
Sekarang ini banyak orang Tiongkok yang merasa hampa dan putus asa, terpaksa
mencaci orang lain untuk mempertahankan keseimbangan psikologi, menggunakan
kata-kata kotor untuk melepaskan beban kekesalan dalam hati, dan melecehkan
orang lain depan umum untuk memamerkan diri jauh lebih baik. Beberapa puluh
ribu orang secara serentak dengan suara keras meneriakkan kata kotor telah
menjadi pemandangan biasa di lapangan sepakbola Tiongkok; berbagai macam kata
yang melecehkan orang lain telah menjadi jargon yang popular, dan digunakan
jutaan kali oleh netizen setiap harinya.
Internet bahasa Mandarin dibanjiri oleh
berbagai macam umpatan yang tidak layak digunakan. Dalam kehidupan nyata,
bahkan gadis remaja di tengah keramaian umum juga dapat mengucapkan kata kotor
dengan bebas tanpa kekangan. Manusia yang menggunakan bahasa vulgar seperti
ini, dunia batinnya betapa Kotor dan Liarnya!
c. Perilaku Rendahan
Tiongkok terkenal sebagai negara yang
menjunjung tinggi Etika. Dalam catatan kuno pra-Qin yakni “Tiga Li”
[Three Rites]: “Zhouli” [Rites of Zhou], “Yili” [Etiquette
& Ceremonial], “Liji” [Book of Rites], secara detail mencatat
Etika dan tata krama orang Tiongkok kuno yang sangat kaya, juga telah menggali
Li [Etika] yang bersumber dari Jalan Langit dan filosofi di balik Li [Etika]
tersebut. Spirit dari Li [Etika] semacam ini terus dilestarikan hingga akhirnya
PKT merebut kekuasaan. Ada orang mungkin masih ingat, sebelum 1949, orang tua
yang terdidik dan berpendidikan kala itu begitu santun dan menjaga Etika. Namun
sayangnya, setelah beberapa dekade PKT berkuasa, semua ini telah dihancurkan
secara total.
Li [Etika] harus memiliki Jie [Ikatan],
tepatnya adalah “Budaya yang Mengikat”, yang juga disebut “tata aturan”. Zaman
dulu ketika mengajari anak kecil, pertama-tama yang diajarkan adalah
“Menyiram dan menyapu, sesuaikan dengan datang-perginya tamu” yang
menjadi tata krama dasar dalam kehidupan sehari-hari. Generasi sebelumnya
sering berkata: “Selaku manusia selayaknya ada sikap manusia.” Perkataan
sederhana ini di dalamnya berisikan prinsip yang sangat mendalam. Tuhan telah
menetapkan norma perilaku kepada manusia, bahkan melalui catatan kuno – ritual
– tradisi lokal dan lainnya, diwariskan turun-temurun setiap generasinya.
*”Menyiram dan menyapu, sesuaikan dengan
datang-perginya tamu”, artinya walau sedang menyirami tanaman, menyapu
halaman atau melakukan pekerjaan rumah lainnya, juga tahu kapan menyambut dan
mengantar tamu; kutipan Zi Zhang, The Analects (Konfusius)
Aturan keluarga dan didikan keluarga
adalah bagian penting dari Kebudayaan Tradisional Tiongkok. Aturan keluarga dan
didikan keluarga Tiongkok telah berlangsung selama ribuan tahun, ini
membuktikan eksistensinya memang bermakna sangat penting bagi keluarga dan
masyarakat. Karya Zhuge Liang di periode Samkok yakni “Buku Nasihat
Anak”, karya Tang Taizong “Nasihat kepada Keluarga Kaisar”,
karya Kaisar Kangxi “Pegangan untuk Didikan Keluarga”, karya Yan
Zhitui dari dinasti Selatan-Utara yakni “Didikan Klan Yan” dan
lainnya, semuanya merupakan norma perilaku manusia dan benteng pertahanan moral
keluarga. Bagi pendidikan generasi selanjutnya, etika keluarga, hubungan
keluarga, pengembangan karakter diri, perilaku dalam masyarakat pembangunan
karier dan keluarga, berbakti pada negara dan aspek lainnya, telah memberikan
peran yang sangat besar. Sebelum PKT merebut kekuasaan, rakyat Tiongkok masih
mewarisi banyak sekali aturan keluarga dan didikan keluarga, yang kemudian
menjadi fondasi bagi orang-orang dalam hidup bermasyarakat. Ada orang pernah
menyimpulkan didikan keluarga yang tersebar sangat luas itu dalam 30 hal,
termasuk di antaranya:
Tidak boleh menyapa orang yang lebih tua
tanpa menggunakan kata ‘Anda’; tidak boleh menggoyangkan kaki; tidak boleh
langsung berbicara tanpa memanggil gelar ataupun nama; tidak boleh berteriak di
keramaian umum; tidak boleh omong kosong; jika tuan rumah sudah menyentuh
sumpit barulah tamu boleh menyentuhnya; pulang ke rumah harus menyapa orang
yang lebih tua dan lain-lain.
*Buku Nasihat Anak, Jie Zishu 诫子书; tokoh Tiongkok
suka menulis surat untuk memberi nasihat kepada anaknya, dan ini merupakan
semacam pendidikan moral dalam keluarga Tiongkok kuno; Surat ini ditulis oleh
Zhuge Liang kepada anaknya Zhuge Zhan yang berumur 7 tahun.
*Nasihat kepada Keluarga Kaisar, Jie Huangshu 诫皇属; nasihat yang
ditulis Tang Taizong (Li Shimin) kepada generasi penerus keluarga Kaisar.
*Pegangan untuk Didikan Keluarga, Tingxun Geyan 庭训格言; karya Kaisar Kangxi dari Dinasti Qing, yang berisikan cita-cita, didikan
moral baik dalam menjalankan pemerintahan maupun menjalani hidup, yang
diwariskan kepada generasi selanjutnya.
*Didikan Klan Yan, Yanshi Jiaxun 颜氏家训, ditulis oleh Yan Zhitui, terdiri dari 7 volume dan 20 bab.
Meskipun kelihatannya hal sepele, namun
bagi norma perilaku pribadi dan keharmonisan hubungan interpersonal, ini adalah
hal yang sangat penting.
Sikap perilaku manusia adalah perwujudan
eksternal dari pendidikan, karakter moral, dan kecerdasan manusia. PKT merusak
moralitas, membiarkan manusia berbicara dan bertindak mengikuti nafsu, tanpa
tata aturan, dan berperilaku rendahan, sehingga sekelompok besar manusia ini
berubah menjadi manusia tingkat rendah.
Orang Tiongkok kuno memandang penting
penampilan sikap manusia, meminta orang “berdiri bagai cemara, duduk bagai
genta, berjalan bagai angin, berbaring bagai busur”, orang Tiongkok zaman
sekarang banyak yang berbadan bungkuk pinggang miring, berjalan dan berdiri
dengan gaya aneh, berpose tidak senonoh, temperamen tidak baik.
Di dunia internasional, perilaku turis
Tiongkok sering kali membuat orang-orang mengerutkan dahi. Mereka dengan suara
keras membuat gaduh, merokok di tempat terkenal dan bersejarah, membuang dahak
sembarangan, menyerobot antrian sesuka hati, dan memanjat situs bersejarah
sesuka hati. Jumlah turis Tiongkok yang meningkat tajam namun tidak beradab,
membuat orang Swiss merasa “terusik”, ada turis yang komplain kepada orang
Tiongkok karena membuang dahak sembarangan di atas kereta, bahkan dioleskan ke
sepatu turis lainnya. Demi menyelesaikan masalah ini, pemerintahan Swiss
menambahkan “gerbong khusus” untuk turis Tiongkok.
Lebih parahnya lagi, tahun 2015, seorang
wanita Tiongkok di depan toko eksklusif merk terkenal Burberry Inggris, sedang
memegangi anak kecil buang air besar. 2 Agustus 2016, dalam sebuah grup tur
Tiongkok yang sedang berkunjung ke Saint Petersburg Rusia, seorang ibu demi
anaknya yang sedang kebelet, langsung membiarkan anak kecil tersebut buang air
kecil di atas lantai aula istana Yekaterina Rusia yang terbuat dari kayu mewah
dan bernilai sejarah panjang. Insiden tersebut mengejutkan semua staf kerja
istana Yekaterina, dari kurator hingga staf pelayanan biasa, semuanya bergegas
ke tempat kejadian untuk mengusut masalah ini. Staf kerja mengatakan, hal
semacam ini adalah untuk pertama kalinya terjadi dalam sejarah.
Apakah kualitas orang Tiongkok sungguh
demikian payah? Sebenarnya dulunya sama sekali tidak demikian. Rendahnya
kualitas orang-orang di hari ini adalah hasil dari penghancuran Kebudayaan
Tradisional selama beberapa dekade oleh partai komunis.
d. Manusia Berwujud Aneh: Tidak Mirip Manusia
‘Rupa Terbentuk dari Hati’, perubahan hati
manusia akan memengaruhi bentuk luar dan ekspresi manusia. Di bawah pengrusakan
dan mutasi yang dilakukan oleh PKT, orang Tiongkok tidak hanya jiwanya berubah
menjadi liar dan kasar, bahkan penampilan luar dan ekspresi pun sudah berubah
dan tidak sama lagi.
Beberapa tahun terakhir, foto-foto lama
kembali populer di masyarakat, orang Tiongkok zaman sekarang mulai bernostalgia
tentang kesederhanaan dan keluguan dari orang dahulu. Sosok dan sikap orang
dalam foto era akhir dinasti Qing dan pemerintahan Nasionalis terlihat seperti
manusia, pria seperti pria, wanita seperti wanita, mampu menampilkan sikap
elegan dari dalam diri manusia dan akumulasi nilai Kebudayaan Tradisional.
Banyak orang setelah melihat foto leluhur sendiri pada beberapa dekade yang
lalu, satu per satu menghembuskan napas rindu ketika melihat kemurnian dan
kebaikan dalam ekspresi mata manusia saat itu.
Dalam karya film dan TV, terlepas itu
tradisi Barat ataupun Timur, penampilan karakter baik umumnya adalah sedap
dipandang dan membuat orang merindukannya, sebaliknya penampilan karakter jahat
adalah bersifat negatif, jelek, dan rendahan. Sebelum PKT merebut kekuasaan,
orang-orang tumbuh dewasa di tengah sebuah kebudayaan yang normal, banyak
berisikan unsur-unsur positif, ini sebabnya penampilan luar dan ekspresinya
penuh berisikan Qi positif. Aktor yang memerankan orang jahat, acap kali harus
mencoba berulang kali untuk “berubah” jadi jahat, namun tetap saja kesulitan
untuk meniru hingga sempurna. Sedangkan aktor Tiongkok daratan zaman sekarang
adalah tumbuh dewasa di atas tanah beracun Kebudayaan Partai, penampilan luar
dan ekspresinya sama sekali tidak memiliki unsur positif, sifat jahat dan Qi
tumor merajalela, bergaya berandalan dan rendahan, bila berperan orang baik
maka harus belajar, namun hasilnya tidak mirip; sebaliknya berperan orang
jahat, tidak perlu belajar, secara otomatis akan ditiru dengan sempurna.
Orang dulu menggunakan kata “Qi siluman”
“sifat keiblisan” sebagai istilah yang merendahkan, namun seiring dengan
meningkatnya unsur negatif di masyarakat, sekarang tak disangka ada orang
menggunakan istilah “Memiliki Qi siluman” untuk memuji aktor yang berkelas,
bertalenta, dan kreatif. Istilah “sifat keiblisan” telah berubah menjadi sebuah
istilah yang positif, untuk menggambarkan sifat manusia – hal – objek yang
aneh-aneh namun penuh cita rasa. Anak muda sering menggunakan kalimat “Sifat
keiblisan orang ini sungguh besar”, “Suara tawa keiblisan” dan lainnya untuk
mengekspresikan rasa kagum. “Memiliki Qi Siluman” telah menjadi nama
situsweb manga, “Biro Siluman” telah menjadi judul serial TV, para pemain dan
kru berfokus pada tema “Dalam hati setiap manusia, hidup sesosok siluman”, dan
merekrut seluruh aktor global yang dianggap “Memiliki Qi Siluman”. Ini dari
aspek lateral mengindikasikan, bahwa sebagai akibat perusakan kebudayaan, sudut
pandang estetika orang-orang telah terjadi perubahan yang demikian besar.
*Memiliki Qi Siluman atau You Yao Qi 有妖气, karena memiliki
lafal yang hampir sama, maka disamarkan dengan u17, yaitu website manga
www.u17.com.
*Biro Siluman atau 妖怪管理局, menjadi topik
cerita yang popular baik untuk serial TV maupun film; walaupun kadang-kadang
diganti dengan istilah Biro Monster, Biro Hewan, Biro Alien; contohnya adalah
Hanson and the Beast, Bureau of Transformer, dan lainnya.
Banyak orang Tiongkok dalam masyarakat
sekarang ini, memiliki cita rasa dan penampilan yang norak dan jelek, cara
berpakaian yang tidak rapi, berminyak dan kasar, pakaian yang dikenakan
mencolok dan menyilaukan, jalan-jalan dengan baju tidur telah menjadi hal
lumrah dalam masyarakat. Sekarang ini banyak anak laki-laki yang tidak memiliki
Qi maskulin, berbicara dengan gaya centil, kewanita-wanitaan, menganggap badan
langsing sebagai keindahan, mewarnai rambut, ekspresi mata jelalatan, jalan
lenggak lenggok, bukan laki juga bukan wanita. Pakaian super sempit, celana
setengah tiang, rambut dicukur hingga seperti penutup teko, atau seperti sarang
burung, atau ditinggalkan seonggok besar rambut seperti wig menutupi kepala.
Anak perempuan mengenakan pakaian unisex, gaya rambut aneh, wajah tanpa
ekspresi, pandangan mata suram dan dingin. Karena dipengaruhi oleh Filosofi
Pertarungan, kelembutan dan kebaikan dalam tradisi telah digantikan oleh keganasan
dan kelicinan, makin lama makin hilang “sifat feminim”-nya. “Bertingkah imut”,
“Berlagak muda”, “Berlagak keren”, menjadi populer dalam masyarakat,
tindak-tanduk orang dewasa seperti baru puber, tanpa membeda-bedakan situasi,
bertingkah seperti anak manja dan pura-pura merajuk.
Tak perlu dibandingkan dengan orang kuno, cukup bandingkan saja dengan beberapa dekade lalu, orang seperti ini sudah sangat jauh di bawah standar penampilan dan perilaku yang ditetapkan oleh Tuhan kepada manusia, penampilan secara permukaan seperti makhluk aneh, apakah ini masih merupakan manusia ciptaan Tuhan? Masihkah Tuhan menganggap manusia semacam ini sebagai manusia? Apakah manusia semacam ini tidak dalam bahaya? (Bersambung)