Tag: konfusius

  • Kisah Zigong, Murid Konfusius

    Kisah Zigong, Murid Konfusius

    Zaman dulu di Tiongkok, siswa-siswa sekolah sangat menghormati guru. Karena mereka percaya bahwa jika seseorang ingin mengembangkan diri, proses belajarnya harus dilakukan dengan hati yang tulus. Menurut pepatah Tiongkok kuno, “Guru sehari adalah ayah seumur hidup” —ini adalah bukti tingkat rasa hormat siswa terhadap gurunya.

    Zigong, salah satu murid Konfusius adalah sebuah contoh. Rasa hormat dan kesetiaannya terhadap gurunya, serta dukungannya terhadap nilai-nilai lurus, telah membuatnya mendapat tempat terkemuka dalam catatan sejarah Tiongkok.

    Menghormati Gurunya

    Zigong, bermarga Duanmu (sekitar 520 SM – 456 SM), adalah salah satu murid Konfusius yang paling berprestasi. Meskipun ia bukan murid favorit Konfusius, ia sangat menghormati Konfusius.

    Zigong lahir di negara bagian Wei pada akhir Zaman Musim Semi dan Gugur. Ia menjadi murid Konfusius ketika berusia 17 tahun.

    Zigong mewarisi bisnis keluarganya pada usia 20-an, dan kemudian menjabat sebagai perdana menteri di negara bagian Lu dan Wei. Sepanjang pemerintahannya, ia sangat pandai bicara, berkemampuan, dan berpengalaman dalam menangani berbagai urusan. Bahkan Konfusius pernah menggambarkannya sebagai orang dengan bakat luar biasa yang mampu memikul tanggung jawab besar.

    Konfusius berhenti dari jabatan resminya ketika berusia sekitar 50 tahun dan meninggalkan negara bagian Lu. Dalam 14 tahun setelah pensiun, ia melakukan perjalanan ke berbagai negara bagian, termasuk Wei, Chen, Song, Cao, Zheng, Cai, dan Chu untuk menyebarkan ajarannya, dan Zigong mensponsori Konfusius sehingga ia dapat mendirikan sekolah selama ia tinggal di setiap negara. Dalam Catatan Sejarah Sima Qian menyebutkan bahwa Zigong adalah murid terkaya di antara lebih dari 70 murid Konfusius yang berprestasi.

    Berbeda dengan apa yang kita lihat dalam masyarakat saat ini, di mana orang-orang selalu berusaha memaksimalkan laba atas investasi mereka, Zigong mensponsori gurunya hanya karena rasa hormatnya terhadap Konfusius dan komitmennya untuk menyebarkan prinsip-prinsip yang akan membawa masyarakat menjadi lebih baik.

    Adipati Jing dari Qi pernah bertanya kepada Zigong tentang kebajikan dan bakat Konfusius. Zigong berkata, “Konfusius adalah orang bijak, bukan hanya orang yang berbudi luhur.”

    “Dalam hal apa ia seorang bijak?” tanya Adipati.

    “Saya tidak tahu,” jawab Zigong, yang sangat mengejutkan Adipati.

    Zigong melanjutkan, “Sepanjang hidup, saya mempunyai langit di atas kepala, namun tidak mengetahui ketinggiannya; Saya mempunyai bumi di bawah kaki, tetapi tidak mengetahui kedalamannya. Dalam pengabdian kepada Konfusius, saya bagaikan orang kehausan yang pergi membawa kendi ke sungai, di sana saya minum sepuasnya tanpa pernah mengetahui kedalaman sungai.”

    Adipati Jing menghela nafas dengan terharu setelah mendengar apa yang dikatakan Zigong tentang gurunya. Zigong membandingkan kesucian Konfusius dengan langit dan bumi, dengan sungai dan laut, sambil mengimplikasikan bahwa Zigong sendiri, dengan segala pengetahuannya, hanyalah setetes air di lautan.

    Shusun Wushu, yang menjabat sebagai menteri di negara Lu, pernah mengatakan kepada pejabat istana, “Zigong lebih berpengetahuan dari pada Konfusius.”

    Zifu Jingbo, seorang pejabat yang mendengar komentar tersebut, memberi tahu Zigong tentang hal itu. Tanggapan Zigong sekali lagi menunjukkan rasa hormatnya kepada gurunya.

    “Dinding sekeliling rumah saya hanya setinggi bahu saya, sehingga siapa pun bisa melihat apa yang ada di dalamnya, sedangkan dinding sekeliling rumah guru saya tingginya puluhan meter,” ujarnya. “Mereka yang tidak dapat menemukan pintunya, pasti tidak akan dapat melihat kemegahan kuil leluhur di dalamnya.”

    Kemudian, ketika Shusun Wushu berusaha mendiskreditkan Konfusius lagi, Zigong berkata kepadanya dengan nada yang sangat serius, “Jangan lakukan ini, karena tidak ada seorang pun yang berhasil melakukannya. Kebajikan orang lain bagaikan bukit kecil yang bisa dilewati, namun kecemerlangan Konfusius bagaikan matahari dan bulan. Bagaimana seseorang bisa melampaui Konfusius?”

    Setelah Konfusius meninggal, semua muridnya menjalani masa berkabung selama tiga tahun—kecuali Zigong, yang berkabung selama enam tahun.

    Mengamati Tao dalam Berbisnis

    Di Tiongkok kuno, moralitas lebih dihargai dari pada keuntungan. Konfusius berkata, “Pikiran manusia superior mengenal kebenaran; pikiran manusia kejam mengenal keuntungan.” Ia jarang menyebutkan “keuntungan” dalam ajarannya. Namun, di antara murid-muridnya ada salah satu menjadi nenek moyang pengusaha, dan orang ini tidak lain adalah Zigong.

    Bagaimana ia bisa menjadi salah satu dari sedikit pedagang kaya dan berkuasa selama Zaman Musim Semi dan Gugur? Dan bagaimana akumulasi kekayaannya berhubungan dengan Konfusianisme?

    Zigong pernah berbisnis antara negara bagian Cao dan Lu, dan menghasilkan banyak uang dari bisnis ini. Ia dikenal sebagai orang terkaya di antara murid-murid Konfusius. Generasi selanjutnya sering berbicara tentang “legasi Duanmu,” yang menyebut bagaimana Zigong menetapkan standar integritas dan kepercayaan seorang pengusaha yang bijaksana.

    Menurut Catatan Sejarah oleh Sima Qian, Zigong pernah memimpin armada yang terdiri dari ratusan kereta, penuh dengan emas dan harta karun, untuk bertemu dengan raja dari berbagai negara. Ke mana pun ia pergi, ia diperlakukan dengan sangat sopan dan hormat. Ia memang seorang pria dengan kekayaan yang sangat besar.

    Dikatakan bahwa salah satu rahasia kesuksesan Zigong adalah ia akan “mengambil apa yang ditelantarkan orang lain, dan menelantarkan apa yang mau diambil orang lain.”

    Fan Li (536 SM – 448 SM), seorang ahli strategi militer kuno, politisi, dan pengusaha dari Zaman Musim Semi dan Gugur, juga mengikuti alur pemikiran serupa. Ia mengatakan bahwa perahu harus dibeli saat musim kekeringan, dan kereta harus dibeli saat banjir. Dengan wawasan ini, ia menjadi begitu sukses sehingga orang-orang memujanya sebagai “Dewa Kekayaan.”

    Catatan Sejarah Sima Qian mengkonfirmasi bagaimana Zigong menghasilkan uang dengan melakukan bisnis antara Cao dan Lu. Juga tercatat bahwa ia sering bepergian antar negara bagian untuk berbisnis, dan bekerja tanpa kenal lelah. Ia memperlakukan kliennya dengan ketulusan dan kepercayaan, dan memastikan bahwa ia selalu jujur dalam perkataannya dan tegas dalam perbuatannya. Gaya perilakunya memberinya reputasi yang sangat baik dan bisnisnya segera berkembang. Menurut Sima Qian, di antara para pedagang Konfusianisme kuno, Fan Li adalah yang paling terampil, dan Zigong berada di urutan kedua.

    Menjadi Kaya Tanpa Sombong

    Apa yang terjadi ketika seseorang menjadi kaya di Tiongkok kuno? Ini bervariasi tergantung orangnya. Ada yang mengincar kuda yang bagus dan kereta yang mewah, ada yang menikmati minuman dan pesta, dan ada pula yang dikelilingi oleh banyak selir. Mereka mungkin juga menganggap diri mereka lebih unggul dari orang lain, mencari bantuan orang-orang yang berkuasa untuk melakukan hal-hal politik, atau menipu masyarakat dengan kebohongan. Orang-orang seperti itu sering berakhir dengan sengsara.

    Ada seorang kaya bernama Shi Chong di dinasti Jin Barat (265 – 317). Rumahnya mempunyai pelayan yang tak terhitung jumlahnya dan dilengkapi perabotan seperti istana mewah. Namun, ia meninggal secara tragis pada usia 52 tahun, dan 15 anggota keluarganya juga dieksekusi—akhir yang tragis bagi seseorang yang kaya tapi bengis.

    Sebaliknya, Zigong selalu mengingat ajaran Konfusius dan berperilaku berdasarkan nilai-nilai tradisional “Kebaikan, keramahan, kesopanan, penghematan, dan kemurahan hati.” Ia berhasil dalam bisnis dengan menerapkan ajaran Konfusius, setia dan dapat dipercaya. Ia mendapat profit dengan benar dan terkendali, dan tidak pernah menipu siapa pun. Setelah menjadi kaya, ia tidak pernah berbuat jahat dan selalu berusaha memberi manfaat bagi masyarakat dan membantu orang miskin.

    Ada cerita dalam Lüshi Chunqiu— atau Sejarah Musim Semi dan Gugur karya Guru Lü— tentang Zigong yang membebaskan seorang budak. Menurut peraturan di negara bagian Lu saat itu, jika penduduk asli Lu menjadi budak di negara bagian lain, siapa pun yang menebusnya dapat mendapat penggantian dari kas negara.

    Suatu ketika, Zigong menebus seorang pria dari Lu yang telah diperbudak di tempat lain. Zigong menolak menerima kompensasi karena ia percaya tindakannya berdasarkan moralitas dan keadilan. Tindakan seperti itu, kata dia, tidak perlu mendapat kompensasi.

    Tentu saja, sikap baik Zigong bukanlah sesuatu yang ia miliki sejak lahir. Sebaliknya, itu adalah hasil dari pengembangan diri yang terus menerus dalam kehidupan sehari-hari.

    Menurut Catatan Sejarah, suatu hari saat menunggang kuda tinggi dan mengenakan pakaian mewah, Zigong terjebak di pintu masuk gang yang terlalu sempit untuk keretanya.

    Saat itu, ia melihat mantan teman sekelasnya Yuan Xian, yang berpakaian compang-camping dan berjalan terpincang-pincang dengan bantuan tongkat. Zigong tidak bisa menahan ketawa. “Lama tidak bertemu, sobat lama,” katanya. “Bagaimana kamu bisa menjadi kondisi yang memalukan seperti ini?”

    Yuan Xian berkata dengan penuh wibawa, “Saya pernah mendengar bahwa tidak punya uang hanya membuat kantong seseorang kosong, namun gagal menempuh jalan yang benar adalah hal yang benar-benar memalukan! Saya hanya sedikit miskin saat ini, jadi bagaimana kamu bisa mengatakan saya dalam keadaan yang memalukan?”

    Mendengar ini, Zigong merasa sangat malu pada dirinya sendiri.

    Pencerahan dari Dua Percakapan dengan Konfusius

    Suatu ketika, Konfusius mengajak Zigong mengunjungi kuil leluhur di negara bagian Lu. Dia meminta Zigong untuk menuangkan air ke dalam bejana yang disebut 宥卮 (yòu zhī), juga dikenal sebagai 欹器 (qíqì)—sebuah penemuan negara bagian Lu untuk irigasi. Jika bejana ini sudah penuh, maka akan dimiringkan agar airnya bisa keluar.

    Zigong menuangkan air ke dalamnya. Ketika bejana itu kosong, bejana itu miring sedikit, dan akan tegak kembali setelah terdapat sejumlah air di dalamnya. Konfusius meminta Zigong untuk terus menuangkan air ke dalamnya melewati titik ini. Tiba-tiba, begitu air mencapai bibir bejana, bejana terjatuh.

    Zigong merasa bingung dan bertanya pada Konfusius mengapa benda itu terjatuh.

    Konfusius menjelaskam, “Segala sesuatu di dunia akan mengalami kemunduran ketika telah mencapai sangat makmur. Dari kemalangan muncullah kebahagiaan; senja tiba setelah matahari terbenam, dan bulan akan memudar setelah bersinar. Oleh karena itu, orang bijak harus belajar menjadi sedikit bodoh, dan orang berbakat harus belajar menjadi rendah hati. Mereka yang kuat dan berani harus belajar untuk merasa kagum pada orang lain, sedangkan mereka yang kaya dan mulia harus memahami prinsip-prinsip menjadi sederhana dan biasa.”

    Apa yang dikatakan Konfusius selaras dengan Zigong dan dia sangat menghargai pengaturan gurunya yang dihormati.

    Konfusius juga bercerita kepada Zigong bahwa ketika dia masih muda, dia pernah bertanya kepada Lao Zi (Lao Tzu) apa yang dimaksud dengan “kesopanan”. Lao Zi berkata bahwa hanya ketika orang dapat menahan diri di saat-saat yang baik, mereka dapat berumur panjang. Kata-kata ini sederhana namun maknanya sangat mendalam.

    Ada pepatah yang mengatakan “baik kemiskinan maupun kondisi yang rendah tidak dapat membuat seseorang menyimpang dari prinsip,” karena seseorang dapat berpegang teguh pada moralnya dengan mengertakkan gigi melalui kesulitan. Pepatah lain mengatakan “kekayaan dan kehormatan tidak dapat merusak”—artinya seseorang harus menganggap ringan keinginan dan kekuasaan. Seseorang harus baik hati dan hemat meskipun dia kaya dan berkecukupan, namun tetap tenang dan rendah hati. Itulah berbagai wujud pengendalian diri yang akan membuat orang bahagia dalam jangka panjang.

    Zigong sangat cerdas dan bersemangat untuk belajar. Dia mulai memikirkan apa yang dikatakan Konfusius kepadanya setelah dia kembali. Beberapa saat kemudian, dia pergi meminta nasihat dari gurunya lagi.

    “Apa pendapat Guru tentang orang yang meskipun miskin namun tidak menyanjung, dan orang yang meskipun kaya namun tidak sombong?” dia bertanya pada Konfusius.

    Konfusius menjawab, “Mereka bisa melakukannya, tapi mereka tidak setara, meskipun miskin, namun merasa puas, dan orang yang, meskipun kaya, mematuhi aturan kesopanan.”

    Zigong sangat senang mendengar apa yang dikatakan Konfusius kepadanya, merasa dia selangkah lebih dekat pada kebenaran.

    “Seperti yang dikatakan dalam Buku Puisi, ‘Saat anda memotong dan mengarsipkan, saat anda mengukir dan kemudian memoles,’” kata Zigong kepada gurunya, mengacu pada bagaimana seseorang perlu terus-menerus menyempurnakan diri dalam mengultivasi diri.

    Konfusius senang dengan pemahaman Zigong, dan berkata, “Dengan orang seperti Ci (Zigong), saya bisa mulai berbicara tentang syair pujian. Saya katakan padanya satu hal, dan dia tahu urutan yang tepat.”

    Mengenalkan Yang Baik, Mengungkap Yang Buruk

    Sepanjang hidupnya, Konfusius berusaha mengendalikan diri dan kembali ke kesopanan, percaya bahwa dunia akan kembali ke kebaikan setelah orang-orang menjalankan pengendalian diri dan kesopanan dan bahwa seseorang tidak dapat memantapkan dirinya dalam masyarakat tanpa mempelajari norma kesopanan.

    Rasa hormat Zigong terhadap moralitas Konfusianisme dan pencarian karakter sempurna memberinya karakter mulia dengan esensi spiritual. Dia selalu mempromosikan apa yang baik dalam diri orang dan tidak pernah menyembunyikan apa yang secara moral salah.

    Zigong mengemukakan banyak proposisi politik mengenai “kesopanan”, dan banyak di antaranya yang akhirnya menjadi standar etiket antar manusia dan bahkan antar negara sepanjang zaman. Beberapa dari aksioma ini masih terkenal sampai sekarang, seperti “Orang yang berpengetahuan mengenal orang lain, orang yang baik hati mencintai orang lain,” dan “Jangan lakukan kepada orang lain apa yang anda tidak ingin dilakukan terhadap diri anda sendiri.”

    Zigong juga mengatakan, “Kesopanan adalah masalah hidup dan mati.” Ia memandang kesopanan sebagai sesuatu yang terkait erat dengan pengelolaan masyarakat.

    Setelah Konfusius meninggal, Raja Ai dari Lu pergi untuk menyampaikan belasungkawa tetapi ditolak oleh Zigong, “Ketika guru saya masih hidup, anda tidak mengangkatnya ke posisi penting. Sekarang dia sudah pergi, untuk apa anda datang ke sini? Bukankah anda munafik? Apakah ini sejalan dengan kesopanan?”

    Memang benar, Zigong adalah seorang negarawan yang jujur, yang akan menjunjung tinggi kesopanan bahkan ketika berbicara dengan raja yang gagal melakukannya.

    Zigong juga menentang perlakuan kasar penguasa terhadap rakyat. Dia memuji pemerintahan Zichan yang baik hati di negara bagian Zheng, yang memenangkan hati masyarakat. Zichan menjabat sebagai menteri utama selama bertahun-tahun dan ketika dia meninggal karena sakit, “pejabat menangis di istana, pedagang menangis di tokonya, dan petani menangis di ladang.”

    Dia percaya bahwa jika mereka yang berkuasa secara membabi buta menghukum orang tanpa mendidik mereka dengan kesopanan, itu akan menjadi tindakan yang kejam, seperti yang pernah dikatakan oleh gurunya, Konfusius, “menghukum orang tanpa mendidik mereka terlebih dahulu adalah tindakan berandal.”

    Konfusius juga pernah berkata, “Pemerintahan yang baik harus memiliki cadangan pangan yang cukup, persenjataan yang cukup, dan kepercayaan rakyat.”

    Zigong bertanya “Jika harus melepaskan salah satu dari ketiganya, mana yang harus ditinggalkan terlebih dahulu?”

    Konfusius menjawab, “Tinggalkan persenjataan.”

    “Jika masih harus mengeluarkan satu, mana yang harus dilepaskan?” Zigong bertanya lagi.

    Gurunya menjawab, “Lepaskan cadangan makanan. Sejak zaman dahulu, semua manusia pada akhirnya akan mati, namun tanpa kepercayaan masyarakat, pemerintah tidak akan mampu bertahan.”

    Dikatakan bahwa ada tiga jenis orang yang dibenci Zigong: Pertama, mereka yang meniru orang lain tetapi menganggap dirinya pintar; kedua, mereka yang tidak rendah hati tetapi menganggap dirinya berani; dan ketiga, mereka yang menyerang orang lain dan menganggap dirinya jujur. Namun salah satu kekurangan Zigong bisa dikatakan adalah kurangnya empati. Menurut Analects, Konfusius mengingatkannya tiga kali untuk lebih “memaafkan.”

    Kesimpulan

    Zigong mempraktikkan kebajikan dalam Konfusianisme, tidak hanya untuk mengultivasi diri tetapi juga untuk memberi manfaat bagi masyarakat. Ia sangat ahli dalam bidang politik dan bisnis—menggabungkan kebajikan dan kebijaksanaan, prestasi dan kebaikan sosial, perdebatan yang fasih, dan penciptaan perdamaian.

    Dia melakukan bisnis antara negara bagian Cao dan Lu, bepergian ke berbagai negara bagian dan membantu banyak orang. Ia juga menjadi politisi dan pengusaha terkemuka yang terkenal karena sifat baik hati, dapat dipercaya, dan bijaksana.

    Pada tahun ke-27 Kaiyuan (739 M) pada dinasti Tang, Zigong secara anumerta dianugrahi gelar Marquis of Li. Pada masa Dinasti Song, pada tahun 1009 M, ia selanjutnya dianugerahi gelar Raja Liyang dan Raja Li, yang diubah menjadi “Sage Duanmu Zi” pada tahun kesembilan Jiajing di Dinasti Ming.

  • Jalan Tengah Konfusius untuk Pulihkan Ketertiban Dunia

    Jalan Tengah Konfusius untuk Pulihkan Ketertiban Dunia

    Mungkin orang bijak Tiongkok kuno yang paling terkenal, Konfusius mengabdikan hidupnya untuk menghidupkan kembali dan mentransmisikan nilai-nilai abadi untuk memandu perilaku manusia.

    Dia melakukan perjalanan ke banyak negara bagian yang membentuk Tiongkok pada zamannya, berharap untuk menyelaraskan keluarga dan masyarakat melalui moralitas dan kultivasi diri.

    Walaupun ajaran Konfusius sering diabaikan dan bahkan ditekan, kebijaksanaannya diturunkan oleh ribuan muridnya, dan membentuk budaya Tiongkok dan negara tetangganya.

    Gagasan Konfusius, termasuk tatanan antar generasi, hubungan keluarga yang baik, dan Doktrin Tengah, tetap menjadi inti peradaban Asia Timur selama ribuan tahun, memberikan stabilitas dan komunitas bagi masyarakat kuno ini.

    Konfusius sendiri adalah pembelajar sekaligus guru, tetap rendah hati dan berpikiran terbuka sepanjang hidupnya. Pencariannya untuk memperbaiki dunia yang rusak disertai dengan pengejaran terus-menerus akan peningkatan spiritual, yang diperoleh dari pertemuannya yang singkat namun menentukan dengan Lao Zi, orang bijak Taoisme yang legendaris.

    Putra yang Disayang

    Dikenal dengan hormat dalam bahasa Tionghoa sebagai Kong Fuzi atau Kong Zi, yang berarti “Guru Kong”, Konfusius lahir dengan nama Kong Qiu di negara bagian Lu, bagian dari Provinsi Shandong saat ini di Tiongkok timur. Namanya yang dikenal sebagai “Konfusius” di negara-negara Barat, adalah terjemahan Latin dari sebutan kehormatan di Tiongkok tersebut.

    Zaman di mana Konfusius hidup adalah saat salah satu era perselisihan antar kekuatan kepemimpinan. Ia lahir pada 28 September 551 SM, pada akhir masa Periode Musim Semi dan Musim Gugur (770 SM – 481 SM). Tiongkok saat itu diperintah oleh kerajaan Zhou, tetapi otoritas pusat telah melemah hingga negara-negara feodal bertindak seperti negara merdeka, berperang satu sama lain dalam mengejar kekuasaan politik.

    Konfusius tidak datang ke dunia dengan mudah. Ayahnya Kong He, juga disebut Shuliang He, telah berusia 72 tahun saat ia lahir. Meskipun cendekiawan dan perwira militer itu telah memiliki sembilan anak dari istri utamanya Shi, semuanya adalah perempuan dan tidak dapat melanjutkan garis keluarga Kong.

    Sebagai upaya terakhirnya untuk mendapatkan anak laki-laki, Kong yang sudah tua meyakinkan kepala keluarga Yan untuk mengizinkannya menikahi salah satu putrinya (Nyonya Shi telah meninggal pada saat itu).

    Anak bungsu dari tiga putri keluarga Yan, Yan Zhengzai, akhirnya menjadi istri Kong He. Khawatir dia tidak akan bisa hamil tepat waktu karena usia suaminya, Yan pergi ke Gunung Ni, berdoa kepada dewa gunung untuk memberkati dia dengan seorang putra. Kesalehannya dihargai, dan dia mengandung Kong Qiu.

    Kong tua meninggal ketika Konfusius baru berusia tiga tahun. Ibunya yang menjanda membesarkannya dalam kondisi kemiskinan yang parah. Karena Yan berasal dari keluarga terpelajar, dia mewariskan kepada Konfusius apa yang dia ketahui, menabur benih aspirasi ilmu pertama dalam dirinya. Namun, Yan tidak hidup cukup lama untuk melihat pria hebat yang akan menjadi Konfusius, karena hidupnya berakhir ketika dia berusia 33 tahun dan putranya 17 tahun.

    Kong Qiu memastikan bahwa ibunya dimakamkan di kuburan leluhur keluarganya, dan memulai misinya untuk memperbaiki keadaan dunia. Periode Musim Semi dan Musim Gugur adalah masa ketika berbagai aliran pemikiran bersaing untuk mendapatkan pengaruh, dengan banyak pemikir hebat menawarkan solusi untuk kekacauan yang merajalela.

    Kelahirannya sendiri merupakan keberuntungan yang diperoleh dengan susah payah oleh ayahnya yang tua dan ibunya yang setia. Kong Qiu menghargai upaya orang tuanya. Dia percaya bahwa akar dari semua keharmonisan sosial adalah keharmonisan dalam keluarga, sesuatu yang dapat dicapai melalui xiao, atau berbakti.

    Mengembara di Negara Bagian Zhou

    Konfusius menyesalkan melemahnya kerajaan Zhou, yang telah berfungsi berdasarkan sistem kehormatan yang disepakati bersama antara keluarga kerajaan dan bangsawan setempat. Dia percaya bahwa masalah kerajaan terletak pada hilangnya perilaku moral dan perilaku ritual yang menjadi ciri periode awal pemerintahan Zhou.

    Dia sangat sadar bahwa perilaku moral harus dimulai dengan sikap individu, faktor penting di dalamnya adalah berbakti. Seperti yang kemudian dikatakan Konfusius kepada salah satu muridnya yang terkemuka:

     “Untuk membangun karakter kita dan mempraktikkan Jalan, dengan demikian mewariskan nama baik kita kepada generasi mendatang dan memuliakan ayah dan ibu kita, ini adalah pencapaian tertinggi dalam berbakti.”

    Pada usia 19 tahun, Kong Qiu menikah dengan Lady Qiguan. Memperoleh seorang putra Kong Li dan seorang putri.

    Di Tiongkok feodal, ada beberapa kasta. Keluarga Konfusius termasuk dalam kasta shi atau sarjana-pejuang, agak mirip dengan samurai Jepang di kemudian hari. Shi juga menjabat sebagai pejabat pemerintah.

    Seperti ayahnya, Konfusius menjadi seorang pejabat setelah mempelajari Enam Seni Tatacara, musik, memanah, mengemudikan kereta, kaligrafi, dan matematika. Pemuda itu memegang berbagai posisi pemerintahan, tetapi kecewa dengan korupsi bangsawan Negara Bagian Lu yang dia layani. Terkadang, konflik dalam kelompok membuat Kong Qiu dan yang lainnya di kasta shi menganggur.

    Namun, karena para penguasa feodal mengutamakan gengsi dan kekuasaan, mereka melihat pentingnya mempertahankan orang-orang terpelajar di sisi mereka. Penguasaan tradisi aristokrat dapat memungkinkan penguasa daerah untuk mengadopsi ritual istana Zhou dan lembaga lainnya, yang selain menjaga sisa-sisa tatanan kerajaan juga berguna dalam diplomasi dan intrik politik.

    Muak dengan penyelewengan yang dia lihat di tanah kelahirannya, Konfusius akhirnya meninggalkan jabatannya dan meninggalkan Negara Bagian Lu, memulai perjalanan melintasi Tiongkok untuk memperkaya pengetahuannya dan menyebarkan pemikirannya.

    Konfusius mencari pendengar dari penguasa daerah, berharap mereka akan mengikuti nasihat moralnya. Dia juga menganjurkan pendidikan universal tanpa memandang kelas sosial, percaya bahwa siapa pun dengan bakat yang tepat dapat memperoleh manfaat dari pendidikan. Konfusius mengajar ribuan siswa selama hidupnya.

    Ketika Konfusius memperoleh reputasi dan pengikut, banyak yang menyetujui tujuannya untuk memulihkan tata cara Zhou dan pemerintahan nasional yang bersandar pada kehormatan daripada peraturan, tetapi meragukan peluang keberhasilannya.

    Misalnya, ketika seorang murid Konfusius memasuki sebuah kota dan menyebutkan nama gurunya, bangsawan setempat berkata, “itulah orang yang bersikeras melakukan apa yang dia sendiri tahu tidak dapat dilakukan”.

    Memang, beberapa bangsawan yang terlibat dengan Konfusius dengan tulus tertarik untuk memulihkan nilai-nilai yang pernah membawa kekuatan dan kemakmuran Dinasti Zhou. Dalam beberapa dekade setelah kematian Konfusius, perselisihan antara negara-negara feodal semakin meningkat dan berubah menjadi perang total. Periode Negara Berperang tidak akan berakhir sampai penyatuan Tiongkok oleh Kaisar Pertama pada tahun 221 SM.

    Tetap saja, Konfusius tetap bersemangat dan menghargai kesempatan yang dimilikinya untuk berbagi pengetahuan dan belajar dari orang lain.

    Salah satu kalimatnya yang terkenal berbunyi, “Dalam kelompok yang terdiri dari tiga orang, saya pasti dapat menemukan guru diantara mereka. Saya mengambil apa yang mereka lakukan dengan benar dan mengikuti teladan mereka; Saya melihat apa yang mereka lakukan itu salah, dan memperbaiki kesalahan itu [dalam diri saya].”

    Ajaran Moral untuk Kehidupan Sekuler

    Sementara para elit ragu ragu tentang ajaran Konfusius, banyak orang biasa menemukan nilai yang tinggi dalam pelajarannya. Konfusius mengajar sekitar 3.000 siswa.

    Konfusius percaya bahwa tujuan pendidikan adalah untuk menghasilkan individu-individu berbudi luhur yang akan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai tradisional dan standar moral. Mengikuti cita-cita manusia unggul yang belajar demi belajar dan bertindak benar demi kebenaran, Konfusius membangun sistem perilaku yang dipandu oleh prinsip-prinsip pengembangan moral pribadi.

    Inti dari ajarannya adalah Tiga Ikatan Mendasar dan Lima Kebajikan Konstan (Sangang Wucháng). Filsuf itu menjelaskan bahwa tiga ikatan adalah antara ayah dan anak, tuan dan hamba, serta suami dan istri adalah dasar dari masyarakat yang harmonis. Namun, penanaman ikatan semacam itu sangat bergantung pada penyempurnaan karakter setiap orang dengan mengikuti lima unsur kebajikan yaitu kebajikan (Rén), kebajikan (Yì), kesopanan (Li), kebijaksanaan (Zhì), dan sifat dapat dipercaya (Xìn).

    Guan Yu, seorang jenderal militer Tiongkok pada akhir dinasti Han Timur, sering dianggap sebagai perwujudan tertinggi dari Yi. Kata-katanya yang abadi terus menginspirasi orang hingga hari ini: “Jika tembok kota runtuh, itu berarti kematian, itu saja. Batu giok dapat dihancurkan, tetapi anda tidak dapat mengubah warna putihnya. Bambu bisa hangus, tapi sambungan ruasnya tidak bisa dihancurkan. Tubuhnya mungkin musnah, tetapi namanya akan hidup sampai anak cucu.”

    Kebajikan mencakup rasa kebajikan mementingkan orang lain. Ini menyiratkan memenuhi tanggung jawab seseorang kepada orang lain tanpa memperhatikan keuntungan pribadi. Dalam arti luas, itu didefinisikan sebagai kemanusiaan, empati dan pengertian terhadap orang lain. Menurut Konfusius, kebajikan dikembangkan dengan mewujudkan kebajikan dasar keseriusan, kemurahan hati, ketulusan, ketekunan, dan kebaikan.

    Sering diterjemahkan sebagai kebajikan atau kewajiban, kebajikan Yi menyiratkan kemampuan untuk mempertahankan kebajikan dan keadilan dalam segala keadaan. Mencakup sifat-sifat seperti kehormatan, kesetiaan, dan persaudaraan, kebajikan adalah konsep sentral dalam budaya tradisional Tiongkok.

    Ritual dan kesopanan adalah landasan lain dalam pemikiran Konfusianisme. Sang Filsuf percaya bahwa ritual dan bentuk kesopanan adalah metode paling efektif bagi orang untuk mendamaikan keinginan mereka. Dengan menahan sifat tidak senonoh seseorang dan memperkuat kesopanan seseorang, adalah mungkin untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang lain dan mematuhi perilaku sosial yang tepat.

    Kebijaksanaan mensyaratkan pemahaman yang tepat dan penerapan kebajikan lainnya serta kemampuan untuk menilai karakter seseorang dalam pencerahan yang tepat. Nilai kepercayaan atau iman, disisi lain, menyiratkan kehandalan, tanggung jawab dan kemampuan untuk berkomitmen, yang kondusif untuk hubungan interpersonal yang kuat dan harmonis.

    Tata Kelola Pemerintahan yang Baik

    Bagi Konfusius, etika dan moralitas adalah dasar dari kepemimpinan yang baik. Dia adalah orang pertama yang mengistimewakan pencapaian keterampilan penilaian diatas pengetahuan pada aturan, menjelaskan bahwa moral yang baik lebih efektif dalam mengatur perilaku orang daripada hukum. Konfusius percaya bahwa cara terbaik bagi seorang penguasa untuk menanamkan moralitas pada rakyatnya adalah dengan menjadi teladan moralitas.

     “Jika orang-orang dipimpin oleh hukum, dan keseragaman berusaha diberikan kepada mereka dengan hukuman, mereka akan berusaha menghindari hukuman, tetapi tidak memiliki rasa malu. Jika mereka dipimpin oleh kebajikan, dan keseragaman dicari untuk diberikan kepada mereka dengan aturan kesopanan, mereka akan memiliki rasa malu, dan terlebih lagi akan menjadi baik.” (Analek Konfusius).

    Ditengah kekacauan dan perang tak berkesudahan antar negara bagian feodal, Konfusius ingin mengembalikan Amanat Langit untuk mempersatukan bangsa. Menengok ke tradisi dinasti Xia, Shang, dan Zhou, sang filsuf percaya bahwa pemerintahan terpusat akan jauh lebih efektif dalam membawa perdamaian dan kemakmuran bagi rakyat, dibandingkan dengan sistem feodal yang mengakibatkan erosi dan terus bersaing pada masa hidup sang filsuf.

    Namun penguasa harus mendapatkan kekuasaannya berdasarkan jasa moralnya, bukan berdasarkan garis keturunan. Dengan demikian, hubungan antara penguasa dan rakyatnya akan menyerupai hubungan antara seorang ayah dan putranya, dengan penguasa yang berbakti kepada rakyatnya dan rakyatnya menghormati pimpinan mereka dan bekerja sama tanpa syarat.

    Selain itu, kata Konfusius, pemerintahan yang benar-benar efektif akan menempatkan peningkatan moral bahkan diatas kebutuhan materi sebelum memikirkan ekonomi dan pertahanan.

    Seorang murid bertanya kepadanya: “Misalkan suatu negara harus berjalan tanpa tentara, makanan, atau kepercayaan. Mana yang harus dilupakan terlebih dahulu?”

    Sang Guru menjawab, “Lupakan dahulu tentaranya, lalu makanannya. Tidak ada bangsa yang bisa bertahan hidup di dunia ini tanpa kepercayaan.”

    Sentimen ini bergema dalam percakapan antara Mencius, salah satu murid Konfusius yang paling terkenal, dan Raja Hui dari Negara Bagian Liang. Raja menyesali hilangnya wilayah negaranya karena direbut musuh-musuhnya, dan berusaha menebus rasa malunya kepada leluhurnya.

    Mencius mencatat bahwa semua negara bagian disekitar mereka membebani rakyatnya dengan pajak dan hukuman yang berat, yang menyebabkan kebencian dan tragedi diantara masyarakat. “Jika Yang Mulia menerapkan kebijakan kebajikan diantara rakyat,” katanya, “rakyat akan memiliki kesempatan untuk memupuk berbakti dan rasa hormat.” Masyarakat seperti itu tidak hanya akan mampu mempertahankan diri, tetapi juga mengalahkan negara saingan yang korup sebagai hal yang seharusnya.

    Bersamaan dengan nasihat moralnya, Konfusianisme mengajarkan Doktrin Jalan Tengah. Menurut Konfusius, “kebajikan yang diwujudkan dalam Doktrin Jalan Tengah adalah urutan tertinggi. Tapi sudah lama jarang dilakukan di masyarakat”

    Juga disebut Jalan Tengah, gagasan ini disusun dengan sistematis oleh cucu Konfusius, Kong Ji. Ia berpendapat bahwa jalan menuju perdamaian baik dalam hubungan keluarga atau antarpribadi dan dalam politik adalah dengan menghindari hal-hal yang ekstrem. Dia yang bisa menyeimbangkan semua hal dengan baik dalam kehidupan dan masyarakat, tanpa bertindak berlebihan, akan menikmati umur panjang dan kemakmuran.

    Mempelajari Tao

    Pengetahuan mendalam Konfusius dibentuk oleh pertemuannya dengan Lao Zi, Guru Taoisme.

    Pertemuan pertama terjadi ketika Konfusius, yang saat itu berusia tiga puluhan, mengunjungi ibu kota untuk mempelajari sistem pengamatan seremonial Zhou, dari orang bijak yang terhormat yang saat itu bekerja sebagai sejarawan di arsip kerajaan. Konfusius tahu bahwa hanya Lao Zi yang dapat mengungkapkan kepadanya sumber musik ritual dan esensi moralitas.

    Setelah menerima pelajaran dari Lao Zi dan bersiap untuk pergi, Konfusius menyatakan keprihatinan terbesarnya kepada sang bijak:

     “Saya khawatir Jalan itu tidak berfungsi. Kebajikan dan kebenaran tidak dipraktikkan, perang dan kekacauan tidak ada habisnya, dan negara berada dalam kekacauan.” Dia kemudian menyatakan apa yang menjadi tujuan utamanya dan ketakutan utamanya: “Saya mengeluh bahwa hidup ini singkat, dan saya tidak dapat berguna bagi dunia dan masyarakat.”

    Mengetahui niat Konfusius, Lao Zi melanjutkan dengan menunjukkan kekurangan muridnya dalam upaya untuk membantunya berkembang. Karena itu, dia mengajari Konfusius tentang kebajikan air.

    Sang bijak menjelaskan bahwa air mewujudkan keutamaan kesederhanaan, karena bermanfaat bagi semua hal tanpa bersaing. Menjadi lunak dan lemah, air tidak melawan apapun dan menyesuaikan diri dengan segalanya. Mengalir rendah dan tidak mengejar ketinggian, air menjinakkan semua biji-bijian dan tanaman dengan sifat tunduknya.

    Kemudian dia memberikan nasehat yang blak-blakan kepada Konfusius: “Kamu harus menyingkirkan kesombongan dan keinginanmu, singkirkan ambisi yang sangat kamu sukai, karena hal-hal ini sama sekali tidak baik untukmu.”

    Konfusius berterima kasih kepada sang bijak atas kebajikannya, berjanji untuk menyimpan pelajaran ini didalam hatinya. Dia kemudian memulai perjalanan pulang.

    Sekitar 17 tahun kemudian, Konfusius mengetahui bahwa Lao Zi telah kembali ke Pei dari Negara Bagian Song untuk hidup dalam pengasingan. Karena itu, dia memutuskan untuk mengunjunginya.

    Lao Zi menyapanya dengan ramah dan bersiap untuk mendengarkan. Dengan hati yang gelisah, Konfusius mengatakan kepada sang bijak bahwa dia belum memperoleh Tao, meskipun belajar dengan rajin dan menempuh perjalanan yang sangat jauh. Karena itu, dia kembali untuk meminta nasihat.

    Sang bijak berkata: “Tao sedalam laut, setinggi gunung, di seluruh dunia dan dimana-mana. Tao mengalir tanpa henti dan mencapai segalanya. Ketika anda mencarinya, itu tidak mungkin diperoleh; ketika anda mendiskusikannya, itu tidak dapat dicapai! Tao menciptakan Langit dan Bumi tanpa memudar, dan menanggung segala sesuatu tanpa layu. Karena Tao, langit menjadi tinggi, bumi menjadi tebal, matahari dan bulan bergerak, empat musim menjadi teratur, dan segala sesuatu terbentuk.”

    Dia kemudian menguraikan tentang bagaimana perilaku manusia dapat diselaraskan dengan Tao. Dia menjelaskan bahwa mengikuti jalan alam adalah jalan orang bijak, dan orang yang membiarkan sesuatu terjadi secara alami tanpa bergantung pada hal-hal yang berubah adalah orang yang telah mencapai Jalan.

    Kata-kata Guru Tua yang bersahaja namun mendalam mengguncang Konfusius sampai ke intinya: “Pada usia 15, saya menetapkan hati saya untuk belajar; pada usia 30, saya telah berpijak dengan kuat di tanah; pada usia 40, saya tidak lagi bingung. Sekarang di usia 51 tahun, saya telah mempelajari apa itu penciptaan!”

    Dia kemudian mengabdikan dirinya untuk mengajar siswa, menulis buku dan memperbaiki buku yang ada, meninggalkan sistem filosofis yang nantinya akan disusun dengan sistematis dan diajarkan dari generasi ke generasi.

    Konfusianisme Sepanjang Zaman

    Ide-ide Konfusius populer tetapi diterima tidak tanpa perlawanan. Era dimana Konfusius hidup dikenal sebagai masa ketika “seratus aliran pemikiran bersaing” untuk mendapatkan pengaruh.

    Beberapa cendekiawan, seperti Mohis, mengkhotbahkan doktrin “cinta yang setara” sebagai lawan dari “cinta universal” yang dibicarakan oleh Konfusius. Karena Konfusius mengajarkan bahwa wajar bagi orang untuk lebih mencintai keluarga dan teman mereka daripada orang lain, pendukung Mohisme pembangun keyakinan Mo Zi mencela Konfusianisme karena tidak mendorong kesetaraan.

    Tantangan terbesar terhadap gagasan Konfusius adalah Legalisme, sebuah ideologi totaliter yang menyatakan bahwa manusia, yang pada dasarnya egois, harus diatur oleh hukum yang ketat untuk memakmurkan negara dan memperkuat militer. Filsuf legalis menganggap filsafat independen dan bahkan ajaran moral sebagai cara berpikir yang menyesatkan yang berbahaya yang akan “memecah belah” negara.

    Raja-raja negara Tiongkok tertarik pada Legalisme, yang menempatkan semua kekuasaan di tangan penguasa. Akhirnya, tanah Tiongkok disatukan oleh Ying Zheng, raja Negara Bagian Qin, yang mendirikan dinasti kekaisaran pertama di Tiongkok. Buku-buku Konfusius dibakar bersama dengan tulisan-tulisan aliran pemikiran lain yang pernah berkembang di seluruh negeri. Kecuali untuk Yi Jing (Buku Perubahan), yang digunakan untuk ramalan, semua buku filosofis lainnya dilarang. Hanya dengan upaya khusus dari beberapa cendekiawan, yang menyembunyikan ajaran sang guru besar dalam perabotan pernis, yang memungkinkan gagasan Konfusius dapat bertahan.

    Pada tahun 206 SM, kekaisaran Qin runtuh di bawah beban hukum yang kejam segera setelah kematian Kaisar Pertama. Dinasti berikutnya (Han) mengambil pendekatan Taois sebagai laissez-faire (doktrin yang menentang pengaruh pemerintah dalam ekonomi diatas batas minimum untuk menjaga kedamaian dan kekayaan intelektual) untuk memerintah, mendorong pertumbuhan birokrasi dan ekonomi yang terbatas.

    Konfusianisme mengalami kebangkitan pada masa pemerintahan Kaisar Wu dari Han. Kaisar telah berjuang untuk mengendalikan kepentingan pribadi yang korup yang telah ditanamkan dimasa nenek moyangnya, dan membutuhkan filosofi baru untuk membimbing rakyat dan memperkuat pemerintahannya.

    Berkonsultasi dengan cendekiawan Dong Zhongshu, Kaisar Wu memutuskan untuk menetapkan Konfusianisme sebagai ideologi negara, menyatakan bahwa hanya melalui pemerintahan yang bijak seorang kaisar dapat mengklaim Mandat Langit. Setiap raja yang menentang kehendak Dewa bisa dan harus digulingkan. Pemerintahan Kaisar Wu adalah salah satu zaman keemasan utama dalam sejarah Tiongkok.

    Kaisar Wu dari Dinasti Han, yang memimpin zaman keemasan dalam sejarah Tiongkok 2.000 tahun yang lalu, menetapkan Konfusianisme sebagai ideologi negara. (Gambar: You Zi/The Epoch Times)

    Pada masa Dinasti Song, para cendikiawan membahas lebih jauh tentang makna inti dari ajaran Konfusius, yang mengarah pada penciptaan apa yang dikenal dalam bahasa Inggris sebagai “neo-Konfusianisme” tetapi mungkin lebih akurat diterjemahkan menjadi “studi prinsip” atau hanya “Rasionalisme.” Sementara para filsuf neo-Konfusianisme berusaha menjembatani kebijaksanaan sang bijak dengan yang ditemukan dalam Taoisme dan Buddhisme untuk mencari kebenaran filosofis, tren intelektual baru ini akhirnya tereduksi menjadi formalitas.

    Isi ujian kekaisaran menjadi semakin misterius dan samar untuk tujuan menyaring hampir semua calon cendekiawan dari kelas elit, sementara interpretasi doktrin Konfusianisme yang hambar atau ekstrem menjadi arus utama.

    Sistem kekaisaran dan Konfusianisme tetap berlaku selama 2.000 tahun hingga penurunan kaisar terakhir pada tahun 1911. Pemikiran Konfusianisme melampaui batas ruang dan waktu, memberikan pengaruh yang luar biasa pada budaya Asia Timur dan tetap berpengaruh hingga hari ini.

    Konfusius sendiri dihormati sebagai “guru teladan dari semua generasi”, dan keturunannya dianugerahi gelar bangsawan kehormatan di setiap dinasti. Saat ini, cucunya generasi ke-79, Kong Tsui-chang, memegang gelar kehormatan pemerintah Republik Tiongkok sebagai Pejabat Upacara kepada Konfusius di Taiwan.

    Penyalahgunaan oleh Partai

    Partai Komunis Tiongkok (PKT), telah lama mengkritik Konfusius dalam perang salibnya melawan “masyarakat tua yang jahat” dimasa Tiongkok kuno, tetapi telah menggunakan namanya untuk meningkatkan nasionalisme di dalam negeri dan menyebarkan narasi propagandanya ke luar negeri.

    Inti dari ideologi Partai Komunis adalah gagasan ateisme dan materialisme, yang berakar pada filosofi perjuangan Marxis. Setelah merebut kekuasaan pada tahun 1949, Partai Komunis Tiongkok (PKT) berbalik melawan budaya dan kepercayaan tradisional, melabelinya sebagai “takhyul feodal”. Konfusius, salah satu yang mewakili budaya tradisional terbesar, dikecam sebagai “menyederhanakan masalah, menonjolkan ketinggian ilmunya, dan feodal” oleh Mao Zedong, pendiri komunis “Tiongkok Baru”.

    Selama Revolusi Kebudayaan (1966-1976), Pengawal Merah bertindak atas perintah Mao untuk membersihkan “empat tua” yaitu ide lama, budaya lama, kebiasaan lama, dan kebiasaan lama.

    Kuil Konfusius di kampung halamannya di Qufu dihancurkan dan kuburannya dirusak. Sebagai penghinaan terakhir terhadap sang guru, bagian tubuh yang tersisa dari beberapa keturunan digali, dinodai, dan dibakar.

    Ajaran moral sang filsuf digantikan oleh kultus sekuler Partai Komunis. Melalui kampanye yang kuat, PKT memaksa rakyat untuk percaya bahwa penghancuran budaya kuno sama saja dengan menyelamatkan orang dari kehidupan dimasa lalu yang kuno dan terbelakang.

    Dengan demikian nilai-nilai seperti berbakti dan hidup rukun ditolak dan ditentang secara ekstrem. Anak-anak didorong untuk mencela orang tua mereka jika orang tua mereka tidak setuju dengan partai, dan kultus uang serta kesetiaan kepada partai menjadi nilai dasar masyarakat.

    Dalam beberapa tahun terakhir, PKT mengumumkan akan memadukan ajaran Konfusianisme ke dalam ideologi sosialisnya untuk membuat bangsa Tiongkok lebih percaya diri terhadap budayanya sendiri dan melawan dampak budaya lain. Untuk tujuan ini, Partai telah dengan sengaja menghapus apa yang disebutnya sebagai “bagian-bagian yang tidak mencerahkan dan feodal” dari Konfusianisme, dan memilih ide-ide Konfusianisme yang didefinisikan secara sempit.

    Gagasan harmoni adalah contoh kasus. Menurut sang bijak kuno, masyarakat yang harmonis adalah masyarakat yang setiap individu didalamnya memenuhi tanggung jawabnya secara moral. Namun, menurut Partai, masyarakat yang harmonis adalah masyarakat dimana tidak ada perbedaan pendapat terhadap pemerintahan komunis, yang pada gilirannya membenarkan penindasan sewenang-wenang terhadap minoritas dan tahanan hati nurani.

    Gagasan Konfusius tentang kepatuhan dan rasa hormat kepada pimpinan juga telah digunakan oleh PKT untuk menuntut kesetiaan dan dukungan terhadap pemerintahan otoriternya. Dengan mewajibkan untuk bergabung dengan organisasi Partai seperti Liga Pemuda Komunis atau dan Pionir Muda Komunis, semua warga negara Tiongkok diharuskan bersumpah untuk mengabdikan hidup mereka untuk mengabdi dibawah kekuasaan PKT. Prasyarat Konfusius bagi rakyat untuk menghormati dan bekerja sama tanpa syarat dengan penguasa mereka, seperti penguasa membuktikan dirinya sebagai teladan yang baik, jelas dibuang.

    PKT juga telah memutarbalikkan kata-kata Konfusius untuk menampilkan Marxisme ateisnya sebagai budaya Tiongkok kuno. Tidak seperti praktik spiritual, Konfusianisme sebagian besar mementingkan moralitas sekuler. Konfusius sendiri berkata, “Saya menghormati dewa dan roh tetapi menjaga jarak dari mereka”, sesuatu yang dipromosikan oleh propaganda Partai sebagai Konfusius tidak percaya pada Yang Maha Kuasa.

    Tetapi Konfusius tidak menyangkal keberadaan dewa, dan bahkan mengatakan dalam pengamatannya tentang berbakti bahwa “ketika berbakti dan rasa hormat persaudaraan selesai, mereka selaras dengan rahmat Yang Kuasa, menerangi empat lautan, tidak meninggalkan satu tempatpun dalam kegelapan.”

    Dengan kata lain, Konfusius, seperti orang suci lainnya, mengajarkan iman dan kebajikan di alam fana diberkati oleh kemurahan Yang Kuasa.

    PKT melihat semua keyakinan dan moralitas sebagai penghalang bagi kekuasaannya, atau sebagai alat politik yang berguna. Sejak tahun 2004, Tiongkok telah membuka lebih dari 1.600 Institut Konfusius dan Ruang Kelas Konfusius terkait di seluruh dunia untuk mempromosikan bahasa, budaya, dan sejarah Tiongkok versi komunis.

    Ditampilkan sebagai memfasilitasi pertukaran budaya yang ramah, lembaga-lembaga ini melarang profesor mereka mendiskusikan topik yang dianggap kontroversial oleh PKT, seperti hubungan Tiongkok-Taiwan, pelanggaran hak asasi manusia yang sedang berlangsung, atau pembantaian Tiananmen 1989.

    Sebuah film dokumenter, Atas Nama Konfusius, menggambarkan bagaimana Sonia Zhao, seorang praktisi Falun Gong yang tinggal di Kanada, dilarang bekerja sebagai guru bahasa Mandarin untuk Institut Konfusius di Universitas McMaster karena dia menolak menandatangani perjanjian yang mengatakan bahwa dia akan menghindari diskusi tentang keyakinannya atau penganiayaan yang dihadapinya di Tiongkok.

    Untungnya, baik pembuat kebijakan dan masyarakat secara bertahap belajar melihat banyak cara Komunis Tiongkok untuk mempengaruhi dan menyusup ke Barat. Sementara itu, jutaan orang di Tiongkok dan luar negeri menemukan kembali keindahan dan kearifan budaya tradisional Tiongkok selama lima milenium.

    Melalui seni visual, seni pertunjukan, dan kebangkitan spiritualitas, dunia diingatkan akan kebenaran tentang kehidupan dan alam semesta yang diketahui dengan jelas oleh nenek moyang kita, tetapi banyak yang terpaksa melupakannya. (visiontimes)

    Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

    VIDEO REKOMENDASI

  • Harmoni: Elemen Berharga Dalam Budaya Tradisional Tiongkok

    Harmoni: Elemen Berharga Dalam Budaya Tradisional Tiongkok

    Dalam sejarah panjang peradaban Tiongkok, keharmonisan selalu menjadi kebajikan yang sangat dihargai.

    Orang Tionghoa selalu mengutamakan keharmonisan. Ini mencakup prinsip-prinsip dasar alam, masyarakat, dan kemanusiaan.

    Harmoni juga merupakan prasyarat untuk mengkultivasikan moralitas seseorang, melindungi keluarga seseorang, mengatur bangsa, dan menstabilkan dunia. Harmoni adalah inti dari budaya tradisional Tiongkok.

    Harmoni itu Berharga

    Harmoni dapat diartikan sebagai konsep ideologis tentang kesadaran, kerukunan, kedamaian, dan kelembutan. Keharmonisan dan kedamaian adalah inti dari budaya tradisional Tiongkok. Keharmonisan yang ideal antara alam dan manusia mengisyaratkan bahwa manusia harus menghormati dan menghargai alam, serta mengikuti prinsip-prinsip tuntunan alam semesta.

     Selain menghormati dan melindungi alam, kita harus memahami bahwa keharmonisan kondusif bagi semua generasi makhluk hidup.

    Ketika mengkultivasikan diri sendiri, kita harus memiliki pikiran yang damai, ketika berurusan dengan orang lain kita harus mengikuti prinsip harmonis, bukan keseragaman atau konsensus yang tidak masuk akal, dan ketika mengatur negara kita harus memahami sepenuhnya bahwa jika pemerintahan berfungsi dengan baik, keharmonisan akan tercapai diantara manusia dan antara alam dan manusia.

    Ketika berbicara tentang harmoni, Konfusius mengatakan bahwa orang harus berperilaku sesuai dengan prinsip:

    “Menjadi dekat dan belajar dari orang-orang yang berbudi luhur dan welas asih, memperhatikan orang sambil bergaul dengan mereka.” Di dalam Da Xue, kita dapat belajar bahwa: “Dari pemimpin hingga ke masyarakat, semua harus menganggap kultivasi (pengolahan diri ke arah yang semakin baik) sebagai akar dari segalanya.”

    Dengan kata lain, orang harus mengkultivasi dirinya dengan sungguh-sungguh, sopan di rumah, hormat dalam menjalankan bisnis, setia dalam berurusan dengan orang, dan memperlakukan orang lain sebagaimana mereka ingin diperlakukan.

    Konfusius mengatakan bahwa hanya setelah seseorang berkultivasi kebajikan, dia dapat benar-benar menjadi seorang pria terhormat daripada sebagai pria rendah, dan mencapai keadaan harmonis tanpa keseragaman dan merangkul semua alih-alih menjadi partisan.

    Dengan kata lain, kesopanan harus mengutamakan harmoni. Hanya setelah kita menaklukkan diri kita sendiri dan kembali ke kesopanan, kita dapat memiliki dunia yang damai. Kesopanan dianggap sebagai norma sosial dalam sejarah Tiongkok.

    Norma sosial memiliki dua karakteristik. Yang pertama adalah pengendalian diri. Pengendalian diri sangat penting sehingga ini adalah sesuatu yang tidak dapat kita lakukan tanpanya dalam hal kesopanan. Dengan demikian, kita dapat menghindari konflik kepentingan dan kekacauan sosial akibat kurangnya batasan.

    Karakteristik kedua adalah harmoni, yang merupakan elemen inti dari kesopanan. Kesopanan adalah manifestasi dari keharmonisan, itu sesuai dengan prinsip moralitas dan keadilan.

    Misalnya, di zaman kuno, Kaisar Shun senang membantu orang lain, jadi kebaikannya yang besar bermanfaat bagi banyak masyarakat biasa. Dia bergaul dengan orang bijak dan menjauh dari orang yang tidak jujur. Dia pernah bertani di Gunung Li, dan membiarkan orang lain bertani di tanah subur. Dia memancing di Danau Lei, dan membiarkan orang lain memancing di tempat pemancingan yang dikelola dengan baik.

    Dia memimpin para pengrajin keramik di sepanjang tepi sungai untuk menghasilkan barang-barang yang sangat indah alih-alih membuat barang-barang berkualitas rendah. Dia menerapkan strategi damai, menaklukkan tiga suku Miao berdasarkan kebajikan, dan mengajari mereka untuk menekan kejahatan dan mendorong kebaikan.

    Karena kerendahan hati dan ketelitiannya, serta kualitas kejujuran dan kasih sayang yang dimilikinya sehingga rakyatnya menjadi santun. Semua orang memiliki kesadaran untuk hidup dengan standar moral yang dapat diterima, jadi setelah masyarakat hidup bersama selama satu tahun, terbentuklah komunitas, dan desa didirikan pada tahun kedua, sedangkan kota didirikan pada tahun ketiga. Karena pemerintah jujur dan politik transparan, semua kelompok dan negara bagian hidup berdampingan dengan damai.

    Keadaan Seimbang dan Harmonis

    Keseimbangan dan harmoni sangat dihargai oleh orang-orang di zaman kuno. The Doctrine of the Mean menyatakan:

     “Keseimbangan ini adalah akar besar yang menumbuhkan semua tindakan manusia di dunia, dan harmoni ini adalah jalan universal yang harus mereka tempuh. Biarlah keadaan keseimbangan dan harmoni berada dalam kesempurnaan, dan tatanan bahagia akan berlaku diseluruh langit dan bumi, dan segala sesuatu akan terpelihara dan berkembang.”

    Konfusianisme menekankan pentingnya kejujuran, kebenaran, dan prinsip kultivasi moralitas, melindungi keluarga, mengatur bangsa, dan menstabilkan dunia. Kualitas-kualitas ini berkembang dari dalam ke luar, dari diri kita sendiri ke orang lain, dari manusia ke substansi, dari dekat ke jauh, menekankan bahwa kita harus mengkultivasi diri kita terlebih dahulu dan kemudian memiliki dunia yang damai.

    Jika setiap orang terus-menerus dapat meningkatkan standar moralnya dan menyempurnakan kualitas kepribadiannya untuk menjadi orang yang lemah lembut, sederhana, rendah hati, rajin, teliti, cermat, teliti, setia, dan santun, maka masyarakat pasti akan menjadi lebih harmonis dan damai.

    “Mengejar harmoni” mengacu pada sikap tidak berlebih-lebihan, kesesuaian, keseimbangan, dan harmoni. Dari kalimat “Keharmonisan bermanfaat untuk semua hal” di dalam Buku Perubahan, keseimbangan yin dan yang sangat penting untuk keempat musim, semua hal, dan stabilitas negara dalam jangka panjang.

    Dari pepatah “Dendam harus diselesaikan melalui harmoni” oleh Zhang Zai, seorang filsuf di Dinasti Song Utara, orang harus berusaha keras untuk meredakan konflik dan menyelesaikan perang dengan cara damai. Dia berkata:

     “Qian dipanggil sebagai ayah dan Kun sebagai ibu. Orang tidak penting. Energi vital terisi di mana-mana.”

    Artinya, manusia dilahirkan dari esensi langit dan bumi, dan tubuhnya dipenuhi dengan energi vital. Esensi langit dan bumi menentukan sifat manusia. Harmoni adalah kekuatan yang mengendalikan, membimbing segala sesuatu untuk tumbuh dan berubah.

    Harmoni adalah keadaan yang menentukan keseimbangan antara manusia, makhluk, dan alam. Harmoni berlandaskan moralitas dan keadilan, menghadirkan cita-cita yang lebih besar seperti lautan yang berisi ribuan sungai kecil.

    Carilah Harmoni Tapi Pertahankan Perbedaan

    Orang Tiongkok kuno akan mencari harmoni, tetapi menjaga perbedaan. Tidak ada perbedaan, tidak ada harmoni. Mencari harmoni, tetapi menjaga perbedaan, digunakan sebagai standar untuk membedakan pria terhormat dari pria rendah dalam Konfusianisme.

    “Harmoni tapi berbeda” adalah mengejar keseimbangan batin, bukan kesepakatan di permukaan. Itu mengakui perbedaan dan keragaman diantara segala sesuatu. “Konsensus tanpa harmoni” adalah sebaliknya, untuk menekan perbedaan pendapat dan menghilangkan perbedaan, yang mengarah pada stagnasi dan kerugian.

    Contohnya, Qi Jing-Gong, Raja negara Qi pada Periode Musim Semi dan Gugur (770-476 SM), pernah berkata bahwa hanya Liang Qiuju dan dia yang memiliki hubungan yang harmonis. Menteri lain, Yanzi, mengatakan:

     “Saya rasa tidak, karena Liang Qiuju memujimu tanpa alasan. Itu bukan harmoni, tapi konsensus. Seperti halnya dalam membuat semangkuk sup favorit anda, anda harus menyeimbangkan saus, menambahkan garam jika menjadi hambar atau menambahkan air jika menjadi asin. Hubungan antara penguasa dan subjek harus mengikuti jalan yang sama ini.

    Jika Raja melakukan hal yang baik, menteri harus membantunya. Jika Raja melakukan hal yang buruk, para menteri harus menunjukkan hal ini juga. Hanya dengan cara ini negara dapat menikmati perdamaian dan stabilitas. Tetapi untuk Liang, untuk menyenangkan anda, dia selalu mengikuti anda tidak peduli apakah anda benar atau salah.

    Menolak untuk menunjukkan perbedaan pendapat adalah tidak mencari harmoni. Apa manfaatnya bagi anda dan negara? Kata-katanya membosankan dan tidak menarik, seperti hanya menambahkan air ke dalam air dan hanya memainkan satu nada. Tidak ada seorangpun yang ingin seperti ini.”

    Yanzi menjelaskan perbedaan esensial antara “harmoni” dan “konsensus.” Para penguasa dan menteri harus mengejar harmoni berdasarkan kebebasan berekspresi. Ini adalah kondisi yang ideal untuk memerintah negara. Dia menjelaskan:

     “Carilah harmoni tetapi pertahankan perbedaan. Seorang pria harus berpikiran terbuka dan toleran terhadap orang lain. Dia harus menikmati kebersamaan dengan semua orang dan tidak pernah ikut melakukan perbuatan buruk.

    Seorang pria tanpa kebajikan akan membuat keuntungan dengan cara apapun adil atau kotor, dia tidak akan mendengarkan pendapat yang berbeda dan akan meninggalkan orang-orang yang tidak setuju dengannya. ”

    Konfusius menyebut mereka yang setuju dengan segalanya tanpa memikirkan sesuatu yang serius sebagai “Xiang Yuan.” Dia berkata, “Xiang Yuan adalah pencuri kebajikan.” Dia juga berpendapat bahwa orang-orang yang rendah itu adalah orang-orang munafik, selalu ditolak dengan cemoohan. Adapun untuk menilai moralitas seorang pria, dia berkata:

     “Seharusnya tidak didasarkan pada suka dan tidak suka, tetapi pada kebajikan. Seorang pria terhormat tidak akan pernah berkompromi pada masalah moral yang penting tentang benar dan salah.”

    Selama berabad-abad, “Harmoni harus dihargai,” “Bersikap baik kepada orang lain,” “Yang Baik hati mencintai yang lain,” dan filosofi tradisional lainnya umumnya diterima oleh orang-orang Tionghoa dalam semangat kemanusiaan dan prinsip etika.

    Saat ini, Partai Komunis Tiongkok (PKT) menahan kritik dan saran, mengarang kebohongan sensasional, dan memaksa orang-orang untuk berkepala kosong untuk berkumpul di sekitar Komite Sentral PKT.

    PKT mendorong orang-orang Tiongkok untuk saling berkelahi, dan itu merusak hubungan normal antara manusia dan manusia, manusia dan alam, dan manusia dan masyarakat.

    PKT telah menghancurkan budaya, moralitas, dan kepercayaan tradisional Tiongkok, dan mendorong orang untuk berperang melawan surga, bumi, dan alam, dalam upaya untuk membawa orang ke kondisi tanpa keberadaan Tuhan.

    Pada saat penting dalam sejarah ini, hanya melalui pemunduran dari PKT dan organisasi afiliasinya dan memulihkan budaya tradisional Tiongkok kita maka orang-orang akan memiliki masa depan yang cerah. (nspirement)

    Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

    VIDEO REKOMENDASI

  • Jalan Air

    Jalan Air

    Air dapat mengajarkan kita pelajaran mendalam tentang bagaimana menjalani kehidupan yang bermartabat.

    Air jatuh dari langit, mengalir di sekitar kita, dan sangat penting bagi keberadaan kita. Air memurnikan, membersihkan, memelihara, dan memberi kehidupan.

    Air tidak hanya mengelilingi kita; tetapi juga ada di dalam diri kita. Para ilmuwan memperkirakan bahwa air merupakan 65 persen hingga 75 persen dari tubuh manusia dewasa, bahkan lebih tinggi hingga sekitar 85 persen untuk bayi. Bukankah sangat menakjubkan ketika anda memikirkannya.

    Sama pentingnya dengan air bagi kehidupan, tidak mengherankan jika air telah memberikan inspirasi dan wawasan dari zaman kuno hingga saat ini.

    Keutamaan Air

    Air merupakan lebih dari dua pertiga (71 persen) dari permukaan bumi. Air terus bergerak dan berubah dalam berbagai bentuknya di lautan, danau, awan, udara, tanaman, gletser, dan salju; belum termasuk apa yang ada di bawah tanah.

    Air memiliki beberapa karakteristik yang unik. Misalnya, sementara zat dapat mengambil berbagai bentuk padat, cair, atau gas, air itu tidak biasa karena tidak memerlukan suhu ekstrem. Sebaliknya, air berubah dalam kondisi yang dapat ditoleransi oleh kehidupan.

    Selain itu, ketika suatu zat berbentuk padat, atom-atom biasanya saling mendekat untuk membuat zat tersebut lebih padat. Di sisi lain, molekul air membentuk cincin ketika membeku, menyebabkan zat menjadi kurang tebal. Dengan demikian, air padat (es) dapat tetap mengapung sementara sebagian besar benda padat tenggelam dalam air.

    Keutamaan uniknya memungkinkannya ada di mana-mana dan memengaruhi segalanya, termasuk tubuh dan kesehatan kita. Sifat-sifat air juga yang memberinya makna simbolis yang lebih dalam.

    Misalnya, air tidak pernah hilang; air hanya berubah bentuk. Air “beradaptasi” dengan lingkungannya dengan cara yang meningkatkan kehidupan semua makhluk. Misalnya, di bawah panas, air membumbung dan memunculkan awan yang memberikan visi surgawi yang telah menggerakkan orang selama ribuan tahun. Dan ketika membeku menjadi es yang mengapung, air memberikan isolasi bagi kehidupan ikan dan tanaman yang berada di bawahnya.

    Pentingnya Air untuk Kesehatan

    Air adalah dasar dari setiap sel, setiap organ, dan tubuh secara keseluruhan. Dua pertiga dari air dalam tubuh adalah intraseluler (di dalam sel), sedangkan sepertiga sisanya adalah diluar sel. Namun, konsentrasinya di berbagai bagian tubuh berbeda-beda.

    Contohnya, menurut penelitian, otak dan jantung terdiri dari sekitar 73 persen air, kulit 64 persen air, dan paru-paru 83 persen air. Bahkan bagian tubuh yang paling menantang, tulang, mengandung 31 persen air.

    Di satu sisi, kesederhanaan air adalah bagian dari potensinya. Ini adalah penambah dan pengaktif utama. Dengan demikian, ia melayani banyak fungsi di dalam tubuh.

    Air melindungi sumsum tulang belakang, otak, dan organ lainnya, melumasi dan bertindak sebagai peredam kejut untuk persendian, membantu mengatur suhu tubuh melalui pernapasan dan keringat, membuang limbah dan racun dari tubuh, membawa oksigen ke sel, dan membantu untuk memecah makanan menjadi nutrisi yang dapat diserap tubuh.

    Dan siapa pun yang pernah berkumur dengan air garam untuk meredakan sakit tenggorokan, dapat membuktikan kemampuannya untuk menyembuhkan.

    Menjaga tubuh kita terhidrasi dengan baik memainkan peran penting dalam mengingat dan fokus, meningkatkan energi dan tingkat suasana hati kita dan menjaga tekanan darah yang tepat. Air juga membantu mengurangi efek penuaan, membantu mencegah sembelit dan penyakit pencernaan, dan meningkatkan kinerja fisik kita.

    Tetapi seperti semua hal dalam hidup, keseimbangan sangatlah penting. Terlalu banyak air dalam tubuh dapat menyebabkan masalah seperti gagal jantung kongestif, mual, diare, atau rendahnya natrium dan elektrolit lainnya. Sebaliknya, terlalu sedikit air –masalah yang umum terjadi–dapat menyebabkan gagal ginjal akut, nyeri sendi, kram otot, dan kelebihan natrium dan elektrolit lainnya.

    Air memiliki dampak yang luar biasa pada kesehatan fisik kita. Tetapi jika kita melambat cukup lama untuk menghargai keajaiban air, keajaiban yang belum hilang dari para penyair, filsuf, dan dunia yang tercerahkan secara spiritual, pelajaran hidup yang diajarkannya juga dapat berdampak signifikan pada bagaimana kita melihat dunia, yang dapat memiliki efek mendalam pada kesehatan mental kita.

    Pelajaran dari Air: Relakan dan Mengalir

    Air mengalir di seluruh alam di lautan, danau, sungai, anak sungai, dan sungai. Air tidak membiarkan benda benda menghalangi jalannya atau mengganggu jalannya. Air juga tidak menolak siklus perubahan alaminya–dari siklus penguapannya ke kondensasi ke hujan atau dari perubahan wujudnya dari cair ke gas ke padat, sesuai dengan situasi yang memerlukan.

    Sama seperti air beradaptasi dan mengambil bentuk yang berbeda, demikian pula kita harus terus-menerus melepaskan keadaan kita saat ini untuk berubah dan tumbuh.

    Konfusius berkata, “Sebagaimana air membentuk dirinya sesuai dengan wadah yang menampungnya, orang bijak menyesuaikan diri dengan keadaan.”

    Perubahan adalah salah satu dari sedikit hal yang dapat kita andalkan dalam hidup, tetapi bagi kebanyakan dari kita, hanya dengan memikirkan perubahan dapat menimbulkan stres. Namun, jika segala sesuatunya dimaksudkan untuk berubah, tidak ada perlawanan yang dapat menghentikannya.

    Jika kita terlalu kaku dan membiarkan pikiran kita membentuk gagasan-gagasan tetap tentang bagaimana segala sesuatu seharusnya, maka kita lebih cenderung goyah dalam menghadapi kesulitan, dan tidak suka sesuatu yang tidak lancar. Tetapi ketika kita cair, pikiran kita terbuka, dan kita fleksibel, beradaptasi, dan tumbuh.

    Ketika kita memahami bahwa kita paling baik hidup mengalir dengan apa yang akan datang namun tetap melakukan yang terbaik yang kita bisa, akan lebih mudah untuk melepaskan apa yang lalu dan menerima apa yang baru. Dan ketika kita melakukannya, kita bahkan mungkin menemukan bahwa hidup telah menawarkan beberapa peluang fantastis!

    Jadilah Kuat Namun Lembut

    “Tidak ada di dunia ini yang selembut dan mengalah seperti air, namun untuk melarutkan yang keras dan tidak fleksibel, tidak ada yang bisa melampauinya.” – Lao Tzu, Tao Te Ching

    Air memiliki banyak bentuk; dalam bentuk-bentuk itu, air bisa padat dan kuat atau lembut dan lentur. Bahkan ketika air mengalir, ia dapat memiliki kekuatan yang luar biasa. Pada konsisi paling diam dan jinak, air bisa mengandung kedalaman yang luar biasa. Air memiliki kekuatan dan daya tahan di tengah kondisi yang paling menantang tetapi akan tetap tenang sebagai keadaan alam yang tak terhindarkan.

    Pada manusia, kecenderungan ke arah ketenangan adalah atribut karakter yang baik. Sementara air dapat menguasai sekitarnya, seperti dalam gelombang pasang besar, ini bukan sifatnya, tetapi akibat dari lingkungannya. Air, secara alami, rendah hati dan tenang.

    Namun, seperti yang dikatakan oleh orang bijak Taois, Lao Tzu: “Semua aliran mengalir ke laut karena lebih rendah darinya. Kerendahan hati memberinya kekuatan. Jika manusia, untuk memberi, anda harus menempatkan diri anda di bawah mereka. Jika anda ingin memimpin orang, anda harus belajar bagaimana mengikuti mereka.”

    Kelembutan ini bukan tanpa kekuatan. Sama seperti orang yang tenang dapat bernalar dengan lebih baik dengan orang lain dan mencairkan ketidaksepakatan, air dapat melarutkan lebih banyak zat daripada cairan lainnya.

    Cermin

    Saat air tenang, ia dapat mencerminkan gambaran yang jelas tentang apa pun yang disapanya. Air dapat menunjukkan kepada pengamat apa yang mungkin tidak dia lihat. Namun jika bergolak atau keruh, maka apa yang dipantulkan akan kabur dan tidak jelas.

    Demikian pula, ketika pikiran kita bergejolak, ketika kita marah, kesal, dendam, atau digerakkan oleh emosi yang kuat, kita tidak dapat merenungkan diri kita sendiri dan apa yang terjadi. Hal ini membuat tidak mungkin untuk melihat situasi dengan jelas, dan pandangan kita terdistorsi. Ketika kita bisa tetap tenang, kita bisa merenungkan hal-hal dengan lebih tepat dan akurat.

    Refleksi diri selalu penting, tetapi mungkin lebih penting saat ketika kita mengalami kesulitan, ketika kita melakukan kesalahan atau ketika seseorang telah berbuat salah kepada kita. Tetapi ketika segala sesuatunya tidak berjalan seperti yang kita inginkan, kita tidak boleh mengeluh, marah, atau menjadi kesal. Sebaliknya, kita harus menenangkan diri, mengambil waktu sejenak untuk merenung, dan melihat apa yang dapat kita pelajari dari situasi tersebut.

    Filsuf dan penyair telah lama mengatakan bahwa apa yang ada di luar kita hanya mencerminkan apa yang ada di dalam.

    Seperti kata kakak ipar saya: “Apa yang hidup di hati keluar dari mulut.”

    Misalkan ada sesuatu yang mengganggu ketenangan kita, seperti ketika seseorang mengganggu kita, mungkin ada baiknya menanyakan apa yang menggerakkan kita. Apakah karena kita melihat sesuatu di dalam mereka yang kita miliki dalam diri kita bersembunyi di kedalaman kita yang lebih gelap? Atau mungkin untuk bertanya pada diri sendiri mengapa hal itu mengganggu kita sehingga kita merenung dan menyucikan diri. Mungkin itu sebabnya kita memperhatikan sesuatu atau merasa jengkel karenanya.

    Dengan cara yang sama seperti gerakan air mengungkapkan kekuatan di bawah permukaan, reaksi kita dapat mengungkapkan aspek diri kita yang mungkin tetap tersembunyi.

    Dengan mengamati jalan air, kita dapat menghargai banyak manfaat yang dibawanya bagi kesehatan fisik kita dan segudang pelajaran yang dapat diajarkan yang dapat membantu kesehatan mental kita.(nspirement)

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini

    Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

    VIDEO REKOMENDASI

  • Berterima Kasih dan Jangan Lupa Membalas Kebaikannya

    Berterima Kasih dan Jangan Lupa Membalas Kebaikannya

    Di negara barat orang mengucapkan rasa terima kasih setelah dibantu orang lain sebagai suatu ungkapan syukur, namun di kebudayaan Tiongkok berpendapat bahwa rasa terima kasih harus ditunjukkan secara aktif dalam bentuk balas budi atas kebaikan.

    Konfusius selalu menganjurkan “menjadi pria yang unggul (jun zi )” dan salah satu aspek terpenting dari menjadi orang yang unggul adalah membalas kebaikan dan mengingat bantuan yang pernah diterima.

    Semangat mengucap syukur ini tertanam kuat dalam tradisi Tionghoa seperti yang ditunjukkan dalam pantun terkenal. Misalnya, frasa “membalas buah persik dengan buah prem” secara luas digunakan untuk mengartikan “bersyukur dan membalas budi.”

    Ungkapan tersebut berasal dari kumpulan puisi tertua di Tiongkok The Classic of Poetry, yang berasal dari abad ke-11 hingga ke-7 SM. “Kamu memberi buah persik kepadaku, dan aku memberimu buah prem sebagai balasannya (tou tao bao li),” artinya kita harus selalu membalas niat baik dengan kebaikan yang sama atau lebih besar.

    Orang Tiongkok kuno juga berkata, “Biarkan satu tetes kebaikan dibalas dengan air mancur balas budi.” Konsep ini dicontohkan dengan sempurna oleh Han Xin, seorang jenderal besar yang membantu membangun Dinasti Han, 202 SM-220 M.

    Han Xin, Teladan Membalas Budi

    Han Xin hidup lebih dari 2.000 tahun yang lalu, sekitar 200 tahun sebelum Kristus. Di masa mudanya, dia sangat miskin dan tidak mampu membeli makanan, tapi dia sangat rajin belajar.

    Satu tempat yang sering dia kunjungi adalah rumah kepala desa setempat, yang simpati atas kondisi Han Xin dan berkata padanya ia boleh datang ke rumahnya apabila merasa lapar.

    Namun setelah beberapa kali kedatangan Han Xin, Istri kepala desa mulai kesal dan memasak lebih awal agar keluarga mereka mulai makan sebelum Han Xin tiba. Ketika Han Xin datang dan melihat bahwa keluarga itu sudah makan, dia memahami hal itu, bahwa ada yang tidak senang dengan kedatangannya, dan ia berhenti berkunjung.

    Han Xin kemudian mencoba memancing di sungai untuk memberi makan dirinya sendiri. Di sungai, banyak wanita pencuci serat kapas untuk bahan tekstil. Itu adalah pekerjaan berat, dan mereka membawa makanan untuk istirahat mereka. Salah satu dari mereka melihat pemuda miskin yang lemas dan hampir pingsan kelaparan itu dan mengasihaninya, memberi Han Xin makanannya sendiri untuk dimakan.

    Setiap kali wanita itu datang untuk mencuci kapas, dia membawa makanan untuk Han Xin dan dirinya sendiri, hal ini terjadi beberapa bulan. Kemudian suatu hari dia berkata kepadanya, “Pekerjaan ini sudah selesai dan saya akan pensiun. Saya tidak akan datang besok dan seterusnya ke sungai ini. ” Han Xin menjawab, “Bibi telah dengan baik hati menawariku makanan selama selama ini. Saya harus membayar budi Anda di masa depan. ”

    Wanita itu skeptis: “Anak muda, kamu bahkan tidak bisa memberi makan dirimu sendiri. Tidak perlu membayar saya. ”

    Seiring berlalunya waktu, Han Xin menyelesaikan pendidikannya dan karena kecerdasannya, ia diangkat menjadi pejabat negara. Sesuai dengan kata-katanya, dia kembali ke kampung halamannya dan mencari orang-orang yang membantunya sebelumnya.

    Dia menemukan wanita tukang cuci yang pernah memberinya makan dan memberinya seribu tael emas. Kisah ini telah berkembang menjadi sebuah idiom yang dikenal sebagai “Bayar kembali sekali makan dengan seribu tael emas (yi fan qian jin),” yang memberitahu kita untuk tidak pernah lupa dan membalas budi baik orang yang telah membantu kita di masa lalu.

    Orang kedua yang dicari Han Xin adalah kepala desa yang pernah menawari memberi makan seorang pemuda yang miskin dan kelaparan, walaupun kebaikannya tidak bertahan lama karena pengaruh isterinya. Ia memberikan seratus koin tembaga untuk kepala desa tersebut. (visiontimes)

    Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

    VIDEO REKOMENDASI

  • Guan Zhong: Dari Tahanan Menjadi Perdana Menteri

    Guan Zhong: Dari Tahanan Menjadi Perdana Menteri

    Beberapa generasi sebelum Konfusius lahir, Guan Zhong menganjurkan prinsip-prinsip sosial yang serupa tentang perilaku lurus sebagai dasar pemerintahan yang adil dan efektif.

    Masa Musim Semi dan Musim Gugur (770?475 SM) adalah salah satu episode besar yang membentuk sejarah dan budaya Tiongkok. Itu adalah masa ketika para pemikir seperti Konfusius dan Lao Zi menyebarkan ajaran mereka, tetapi juga era perpecahan, ketika para pemimpin negara feodal Tiongkok bersaing untuk mendapatkan pengaruh atas istana kerajaan yang lemah.

    Ada pendapat berbeda tentang penguasa mana yang pantas mendapat tempat dalam daftar Hegemoni. Tetapi semua setuju bahwa yang pertama diantara mereka adalah Adipati Huan dari Negara Bagian Qi, dan bahwa orang yang memungkinkan pencapaiannya adalah pembuat undang-undang, ahli strategi, dan filsuf terkenal: Perdana Menteri Guan Zhong.

    Persahabatan Sepanjang Masa

    Bakat Guan Zhong mungkin tidak akan pernah tercium jika bukan karena persahabatan seumur hidupnya dengan Bao Shuya, yang merupakan putra dari keluarga kaya tetapi tidak memandang rendah Guan Zhong yang berasal dari latar belakang yang miskin.

    Saat menggambarkan ikatannya dengan Bao, Guan dengan terkenal berkomentar: “Orang tua saya melahirkan saya, tetapi Bao yang paling mengenal saya.”

    Derajat dukungan dan kesetiaan Bao kepada temannya dijelaskan dalam Shiji, salah satu catatan sejarah tertua dan terinci di Tiongkok.

    Ketika mereka melakukan bisnis bersama, Guan Zhong meminta izin mengambil lebih banyak dari bagian keuntungannya. Tapi Bao Shuya tidak menganggapnya serakah, karena dia tahu bahwa Guan miskin dan membutuhkan uang lebih dari dia. Kadang-kadang Guan Zhong membuat rencana bisnis yang merugi. Bao tidak berpikir dia bodoh, tetapi menerima bahwa seorang pria akan memiliki kesuksesan dan kegagalan tidak peduli seberapa cerdas atau pekerja keras.

    Bao Shuya juga memahami Guan sebagai rekan dalam perang. Guan Zhong melarikan diri dari pertempuran tiga kali, tetapi Bao tidak melihatnya sebagai seorang pengecut, karena dia mengerti bahwa Guan memiliki ibu yang sakit yang harus dia rawat.

    Persahabatan mereka begitu tak tergoyahkan sehingga kemudian menjadi ungkapan dalam bahasa Mandarin, “persahabatan Guan dan Bao”

    Kemana pun Guan Zhong pergi, Bao ada disana untuk mendukungnya, karena dia percaya pada kemampuan dan potensinya. Untuk Bao Shuya, Guan akan berutang karir dan hidupnya.

    Memulai Karir Politik

    Negara Bagian Qi terletak di pantai timur Tiongkok, di tempat yang sekarang menjadi Provinsi Shandong. Leluhur pendirinya adalah menteri legendaris Jiang Ziya, tetapi pada masa Guan Zhong hidup, kepemimpinan negara berantakan.

    Selama krisis suksesi, dua pewaris bangsawan Qi berjuang satu sama lain untuk mendapatkan kendali. Ketika yang lebih kuat dari keduanya menang, yang kalah melarikan diri ke Lu, negara tetangga.

    Seperti sudah ditakdirkan, Guan Zhong tidak hanya dipekerjakan oleh penantang yang gagal, tetapi selama perjuangan politik tersebut, dia bahkan mencoba membunuh saingan pemimpinnya, yang naik takhta sebagai Adipati Huan.

    Hal pertama yang dilakukan Adipati Huan setelah mengamankan kekuasaan adalah menuntut agar Negara Bagian Lu membunuh pewaris saingan yang melarikan diri itu. Khawatir akan invasi, pemerintah Lu menurut. Sedangkan Guan Zhong diekstradisi kembali ke Qi sebagai penjahat berbahaya. Dia dirantai dan dikirim melintasi perbatasan dalam kurungan.

    Guan Zhong mengira hidupnya sudah tamat. Tapi bukannya dikirim ke penjara atau algojo, dia dibawa ke hadapan adipati Huan, yang menerima Guan Zhong dengan hormat sebagai guru.

    Ternyata Bao Shuya melayani Adipati Huan selama ini. Pada awalnya, sang adipati sangat marah dan menuntut kepala Guan Zhong. Tapi Bao, seperti biasa, membela kasus Guan Zhong dan adipati mendengarkan. Lebih penting lagi, Bao Shuya sangat percaya diri dengan kemampuan temannya sehingga dia memberi tahu adipati yang ambisius itu dengan kata-kata berikut:

     “Jika anda ingin memerintah hanya satu negara bagian, maka saya, Bao Shuya, cukup mampu. Tetapi jika anda ingin menguasai dunia, maka anda harus mempekerjakan Guan Zhong.”

    Bangsa yang Kaya dan Tentara yang Kuat

    Adipati dan menteri-menteri barunya segera bekerja. Adipati Huan sangat ingin menstabilkan negaranya setelah bertahun-tahun kekacauan politik. Namun, untuk mewujudkannya, ia membutuhkan dukungan rakyat.

    Guan Zhong merekomendasikan dimulai dengan memakmurkan bangsa.

     “Ketika orang hidup berkecukupan, mereka akan mudah diatur. Sering terjadi bahwa negara yang damai itu kaya sedangkan negara yang kacau balau itu miskin. Ini adalah kebenaran yang terbukti dengan sendirinya,” ujarnya.

     “Tetapi dengan orang-orang yang gemuk dan bahagia, bagaimana kita akan merekrut tentara untuk pasukan kita?” Adipati bertanya.

    “Kita harus menghargai kualitas pasukan kita daripada jumlah mereka,” kata Guan Zhong. “Dengan moral yang tinggi dan pelatihan yang baik, kita tidak perlu khawatir mereka kekurangan kemampuan dalam pertempuran.”

    Guan Zhong percaya bahwa dengan memakmurkan rakyat dan memiliki militer yang kuat, akan mungkin untuk mendapatkan kekuatan besar.

    Adipati sangat senang dengan prospek mendominasi seluruh daratan China, tetapi Guan memperingatkan agar tidak melakukan tindakan gegabah.

    “Prioritas terbesar kita sekarang adalah untuk meningkatkan kehidupan rakyat kita dan memperkaya bangsa. Jika kita tidak bisa melakukan itu, tidak ada gunanya memikirkan kekuasaan atas apa pun.”

    ‘Mengelola gunung dan laut’ dengan Hukum Moral

    Guan Zhong bertekad untuk menjalankan negara Qi seperti usaha bisnis raksasa. Tetapi pada saat yang sama, dia memahami pentingnya moralitas dalam membangun masyarakat yang damai dan stabil.

    Beberapa generasi sebelum Konfusius lahir, Guan Zhong menerapkan prinsip-prinsip sosial yang serupa tentang perilaku lurus, yang dikenal oleh orang Tionghoa sebagai li yi lian chi atau “ritual, keadilan, kesopanan, dan kehormatan.”

    Standar moral ini menopang sistem hukum yang digunakan Guan Zhong untuk mengatur negara. Pada saat itu, sebagian besar negara memiliki bentuk pemerintahan yang sederhana dan seringkali sewenang-wenang, dengan raja, bangsawan, dan pejabat hanya memberi perintah kepada rakyatnya. “Legalitas” adalah konsep baru.

    Sementara Guan dan Adipati mendorong pertumbuhan bisnis dan perdagangan untuk mendatangkan kekayaan, mereka juga mendorong administrasi pemerintah dalam upaya mereka untuk “mengelola gunung dan laut” (kekayaan negara), menerapkan peraturan yang tidak hanya memperhitungkan keuntungan, tetapi juga sesuai dengan kondisi geografis, sumber daya alam, dan keamanan nasional Negara Qi.

    Ibukota dibagi menjadi distrik, yang sebagian besar terdiri dari dua jenis: distrik dagang, yang bertanggung jawab untuk menghasilkan pendapatan komersial negara, dan distrik pembantu yang dimaksudkan untuk menyediakan tenaga kerja untuk tentara negara. Administrator ditunjuk untuk semua tingkatan diseluruh negeri untuk memastikan komunikasi yang efektif antara rakyat dan pemerintah pusat.

    Memperkuat Negara Tanpa Membebani Rakyat

    Bertujuan untuk meningkatkan pendapatan pemerintah tanpa mempengaruhi rakyat miskin dengan membebankan pajak, Guan melakukan monopoli sumber daya alam untuk mengelola harga pasar. Dibawah kebijakannya, perusahaan yang mengekstrak besi dari gunung dan garam dari air laut akan menjual hasilnya kepada pemerintah, yang akan menjual kembali produk olahan ke rumah tangga dengan harga yang wajar, sedikit lebih tinggi untuk pemasukan negara.

    Guan juga mengubah undang-undang pajak, membebankan biaya ini berdasarkan keluarga individu bukan kepada perkumpulan rumah. Selain itu, tanah diseluruh negeri dikenakan pajak sesuai dengan produktivitasnya, sehingga meninggalkan sistem “distribusi tanah” yang sudah berusia seabad, yang sebagian besar bergantung pada ladang yang dimiliki secara pribadi.

    Ide-idenya sangat efektif dalam mengembalikan ekonomi, seperti masyarakat miskin yang membawa barang dengan berjalan kaki tidak dikenakan tarif, sehingga mendorong perdagangan. Dibawah kepemimpinannya, harga pangan juga diatur, yang memungkinkan produk-produk tertentu tersedia di pasar bahkan selama masa paceklik.

    Selain itu, Guan menciptakan empat kategori sosial berdasarkan bakat orang: sarjana-pejabat, petani, pekerja, dan pedagang, yang menjadi empat pekerjaan tradisional di Tiongkok kuno. Kelas-kelas ini, yang tidak hierarkis atau turun-temurun, meletakkan dasar bagi metode yang efektif untuk memilih orang-orang berbakat untuk posisi pemerintahan.

    Dengan cara ini, administrasi Qi bergeser dari aristokrasi turun-temurun tradisional ke birokrasi profesional sebagai metode baru pengangkatan pejabat.

    Negara Qi juga menjadi salah satu negara pertama di dunia yang melakukan sensus warga untuk tujuan administratif. Desa dan komunitas dihitung dan didaftar sehingga pada saat perang atau krisis, orang dapat dengan mudah dimobilisasi. Nilai-nilai moral dan budaya nasional yang ditekankan Guan Zhong juga membantu menumbuhkan rasa persatuan diantara seluruh rakyat.

    ‘Hormati Raja, Usir Orang-Orang Barbar’

    Dengan cara yang sama bahwa Bao dikenang karena kesetiaannya kepada teman-teman, Guan dipuji karena kesetiaannya kepada negara, dan memberikan segalanya untuk meningkatkan statusnya diantara negara-negara feodal China, menciptakan Hegemoni Qi yang terkenal.

    Ratusan tahun sebelum Guan Zhong lahir, Tiongkok bersatu dibawah dinasti kerajaan Zhou. Tetapi raja Zhou menjadi lemah dan memerintah sebagai boneka belaka. Adipati negara-negara bagian feodal memerintah seperti kerajaan mereka sendiri. Sementara itu, suku-suku asing sering menyerbu Tiongkok dan bahkan terkadang mengancam keberlangsungan peradabannya.

    Pencapaian besar Guan Zhong adalah mengembalikan kehormatan raja Zhou dan menciptakan titik temu diantara negara-negara bagian Tiongkok sehingga mereka dapat melawan invasi barbar, yang dikenal dengan pepatah Tionghoa “hormati raja, usir orang barbar”. Untuk melakukan ini, ia mengandalkan mengamankan kepercayaan dari raja dan negara-negara bagian lain.

    Contoh yang relatif utama dicatat dalam Guanzi, sebuah karya yang merinci filosofi Guan Zhong yang disusun setelah kematiannya.

    Pada awal pemerintahan Adipati Huan, sang adipati mengadakan jamuan makan dengan para pejabat dari tetangga Qi, Lu. Tiba-tiba seorang pejabat Lu menghunus belati dan mengarahkannya ke tenggorokan Adipati Huan, menuntut agar sebidang tanah yang telah direbut oleh Qi dikembalikan kepada Lu. Dihadapkan dengan pilihan hidupnya atau kehormatan Qi, sang adipati berjanji untuk mengembalikan tanah itu, dan pejabat Lu melepaskannya.

    Marah dan terhina, Adipati Huan ingin mengingkari janjinya. Tapi Guan Zhong menghentikannya. Jika Qi menarik kembali kata-katanya, itu akan menghancurkan kredibilitasnya dengan negara-negara bagian lain.

    Guan Zhong juga bersikeras bahwa, sebagai ritual yang tepat, Adipati Huan menunjukkan rasa hormat kepada raja Zhou setiap saat, meskipun raja memiliki sedikit kekuatan nyata. Akibatnya, rasa hormat Negara Qi membuatnya terkenal diseluruh Tiongkok dan negara-negara bagian feodal lainnya bersedia bekerja sama dengan Qi. Secara keseluruhan, negara Qi berhasil mengatur sembilan pertemuan aliansi para penguasa feodal.

    Bahkan pada tahun 651 SM, ketika status Qi di Tiongkok tidak tertandingi dan Adipati Huan sudah lanjut usia, Guan Zhong masih memintanya untuk berlutut dihadapan raja Zhou. Melakukan hal itu merupakan tanda penghormatan bagi seluruh bangsa Tionghoa dan contoh bagi anak cucu.

    Warisan Guan Zhong

    Guan Zhong juga menulis Guanzi, salah satu teks filosofis dan ekonomi terpanjang di Tiongkok kuno. Meliputi berbagai topik seperti sistem keuangan, perbankan, perpajakan dan perdagangan; buku ini memberikan deskripsi pertama tentang teori kuantitas uang serta artikulasi yang jelas tentang apa yang akan dikenal berabad-abad kemudian sebagai hukum penawaran dan permintaan.

    Apa yang membuat buku ini lebih unik adalah kombinasi ide-ide Konfusianisme dan Taois sebagai kebutuhan bagi setiap pemimpin politik. Dalam salah satu bab tulisannya, ia menulis:

    Ketika anda memperbesar pikiran anda dan melepaskannya,

    Saat anda mengendurkan napas vital [Qi] dan mengembangkannya,

    Saat tubuh anda tenang dan tidak bergerak:

    Dan anda dapat mempertahankan Yang Esa dan membuang banyak sekali gangguan.

    Anda akan melihat keuntungan dan tidak terpikat olehnya,

    Walau melihat bahaya dan tidak takut karenanya.

    Santai dan tidak terluka, namun sangat sensitif,

    Dalam kesendirian anda senang dengan diri anda sendiri.

    Ini disebut “memutar Qi”:

    Pikiran dan perbuatan anda tampak surgawi. (24, tr. Roth 1999:92)

    Namun untuk semua hukum dan nasihat moralnya yang tajam, keberhasilan Guan Zhong tidak akan mungkin terjadi tanpa karakternya yang kuat dan persahabatan legendarisnya dengan Bao Shuya.

    Lebih jauh lagi, toleransi dan kemurahan hati Adipati Huan juga berperan penting untuk mengamankan posisinya dan Guan Zhong dalam sejarah.

    Sayangnya, keadaan tidak berlanjut seperti ini setelah Guan Zhong dan Bao Shuya meninggal. Adipati tidak dapat menemukan pengganti yang cocok untuk perdana menteri yang setia dan cakap. Para pengkhianat masuk ke dalam pemerintahan dan merebut kekuasaan pada tahun 643 SM, mengunci adipati di dalam tembok istananya sendiri sampai dia mati kelaparan. Negara bagian Qi dilemahkan oleh kekacauan dan tidak akan pernah mendapatkan kembali tempatnya seperti dibawah hegemoni Adipati Huan.

    Namun demikian, Guan Zhong menonjol sebagai sosok unik dalam sejarah awal Tiongkok. Sementara pandangan moralnya dapat digambarkan mirip dengan Konfusius yang hadir kemudian, ia kadang-kadang dikritik karena mengandalkan hukum dan kontrol pemerintah untuk mencapai hasil. Beberapa cendekiawan juga menyebutnya munafik karena berpindah pihak diawal kariernya ketimbang setia pada pimpinan pertamanya.

    Namun, Konfusius dikemudian hari memuji Guan Zhong sebagai orang yang bisa menelan penghinaan dan kesulitan demi tujuan yang lebih tinggi. Guan menyelamatkan Tiongkok dari kehancuran, dan merupakan pahlawan yang menempatkan kehormatan negaranya diatas reputasi pribadinya sendiri.

    Sementara itu, Guan tahu bahwa dia bukan pria yang sempurna, dan menyebutkan posisi itu untuk teman setianya Bao Shuya. Jika Guan adalah model untuk pejabat yang efektif dan jujur, Bao adalah teladan kejujuran, kepercayaan, dan kemauan tanpa kompromi.

    Pada tahun-tahun setelah kematiannya, Bao memantapkan dirinya dalam budaya Tiongkok sebagai model kesetiaan diantara teman-teman.(visiontimes)

    Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

    VIDEO REKOMENDASI

  • ‘Pria Terhormat, Wanita Rendah Hati’: Kebenaran tentang Idiom Tradisional Tiongkok

    ‘Pria Terhormat, Wanita Rendah Hati’: Kebenaran tentang Idiom Tradisional Tiongkok

    Pepatah Tiongkok kuno yang banyak disalahartikan, nan zun nü bei (男尊女卑), sering diartikan sebagai “pria superior, wanita inferior.” 

    Namun, bahasa dan interpretasi Tiongkok modern telah mengaburkan arti kata-kata tersebut, menyebabkan kebingungan tentang bagaimana budaya tradisional Tiongkok memandang hubungan antara pria dan wanita. 

    Di permukaan, karakter zun (尊) berarti penghormatan atau pengagungan, sedangkan bei (卑) menyiratkan kerendahan hati dan kerendahan hati. Mengingat cara kedua karakter tersebut digunakan untuk membentuk kata-kata dalam bahasa Tiongkok modern, hal ini membuat pepatah lama tampak seperti meremehkan wanita. 
    Terutama di Tiongkok saat ini, yang mengalami perubahan radikal selama dan setelah revolusi komunis, konotasi otentik dan kebijaksanaan di balik idiom telah makin disalahpahami.

    Arti sebenarnya dari ungkapan ‘seksis’

    Hubungan antara suami dan istri dalam budaya tradisional Tiongkok didasarkan pada keharmonisan antara yin dan yang — dengan yang mewakili apa yang terang atau eksplisit, sedangkan yin mewujudkan apa yang tersembunyi atau tersirat. Yin dan yang dapat dianggap sebagai konsep filosofis dasar di sebagian besar budaya Tiongkok, seperti Taiji, Kitab Perubahan ( Yi Jing ), dan metode yang digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok atau feng shui.
    Menurut prinsip yin dan yang, maskulinitas mewujudkan kekuatan yang, yang diimbangi dan diseimbangkan oleh sifat yin dalam feminitas. Tanpa kepentingan yang sama antara yang berlawanan, harmoni akan hilang. 

    Diagram heksagram I Ching (Yi Jing) milik matematikawan dan filsuf Jerman Gottfried Wilhelm Leibniz. Kisi di tengah menyajikan heksagram dalam Fuxi atau urutan biner, membaca melintang dan turun. Urutan yang sama digunakan di luar, membaca dari bawah ke atas di sebelah kanan, lalu naik lagi di kiri ke atas. (Gambar: Domain Publik Wikimedia Commons)

    Oleh karena itu, sementara perempuan umumnya tidak diharapkan untuk fokus bersaing dengan laki-laki dalam kehidupan publik atau pekerjaan, norma-norma gender tradisional Tiongkok melihat perempuan sebagai pelengkap laki-laki, bukan inferior. 
    Terlepas dari makna modern mereka, dua karakter zun dan bei berasal dari Kitab Perubahan , di mana mereka menggambarkan keseimbangan antara yin dan yang. Karena perbedaan antara laki-laki dan perempuan, mereka umumnya cocok untuk peran yang berbeda dalam keluarga dan masyarakat. Ketika pria dan wanita mematuhi kecenderungan alami mereka, umat manusia akan berkembang. 

    Ungkapan nan zun nü bei — “pria terhormat dan wanita rendah hati” — sebenarnya menandakan harmoni yang saling melengkapi antara jenis kelamin, bukan merendahkan wanita di hadapan pria. 
    Zun dan bei mengacu pada polaritas; langit di atas dan bumi di bawah. Kitab Perubahan menyatakan, “Karena langit di atas bermartabat dan bumi di bawah rendah, posisi langit dan bumi, qian dan kun (乾坤), ditentukan. Dalam posisi rendah dan tinggi, yang rendah hati dan yang bermartabat masing-masing memiliki tempatnya sendiri…. Laki-laki mewarisi jalan qian[surga] dan perempuan mewarisi jalan kun [bumi].”

    Harmoni dalam keseimbangan

    Menurut Kitab Perubahan dan karya filsafat Taois Tiongkok lainnya, umat manusia mengikuti pola langit dan bumi untuk makmur; menyimpang dari jalan alam membawa kesengsaraan dan bencana. 
    Konfusius berbicara tentang jun zi (君子) atau “pria” yang mencapai tingkat pemurnian moral yang tinggi. Menurut Kitab Perubahan, “langit bergerak tanpa henti; jun zi mengerahkan diri mereka terus-menerus. ” “Sifat bumi ini murah hati dan toleran; jun zi menanggung segalanya dengan kebajikan.” Wanita, juga diharapkan bermoral shu nü (淑女) — seorang wanita yang bermartabat, sederhana, hormat, dan gigih. 
    Ini dicontohkan oleh tiga ratu Tai Jiang, Tai Ren, dan Tai Si, istri dari tiga raja berturut-turut 3.000 tahun yang lalu. “Tiga Tais” membantu suami mereka yang saleh dalam membangun fondasi Dinasti Zhou yang berusia 800 tahun (1046 – 256 SM).

    Dinasti Zhou berlangsung selama 800 tahun—lebih lama dari yang lain dalam sejarah Tiongkok. Itu melihat perkembangan filsafat moral yang sekarang kita kenal sebagai Konfusianisme. (Gambar: pixabay / CC0 1.0 ) 

    Tai Si, yang digambarkan dalam Puisi Klasik sebagai pola dasar shu nü dan cocok untuk suaminya, Raja Wen dari Zhou, menyibukkan diri dengan mengasuh 10 pangeran pasangan kerajaan dan mengelola harem. 
    Menurut Catatan Wanita Teladan (列女傳), ini memungkinkan raja untuk fokus pada pemerintahannya dan membudayakan negara. Tai Si dihormati sebagai wen mu (文母), “ibu yang berbudaya,” dan dikatakan tentang pasangan kerajaan bahwa “Raja Wen memerintah urusan eksternal sementara Wen Mu mengatur urusan internal.” 
    Ketika laki-laki lurus dan mulia dan perempuan rendah hati dan toleran, keluarga secara alami akan harmonis. Masyarakat yang bekerja menurut prinsip ini akan menghormati dan menghargai perempuan. 

    Kearifan tradisional dibuang

    Sebelum dan sesudah berkuasa, komunis Tiongkok menganjurkan “pembebasan” perempuan. Mao Zedong, pendiri Komunis Tiongkok, menyatakan bahwa “wanita memegang separuh langit.” 
    Meski sering dipandang sebagai pernyataan yang mendukung hak dan kesetaraan perempuan, sikap ini sebenarnya berusaha menghapus perbedaan, dan karenanya keseimbangan, antara laki-laki dan perempuan. Selama Revolusi Kebudayaan dan kampanye komunis lainnya, wanita Tionghoa dijauhi atau dihukum karena berpakaian modis; panutan perempuan yang digambarkan dalam seni “revolusioner” bersuara lantang dan kasar. 

    Kerusakan indoktrinasi semacam itu sangat dalam. Partai Komunis Tiongkok, jauh dari “membebaskan” perempuan, menggantikan nilai-nilai tradisional keluarga dengan budaya perjuangan, mengadu domba laki-laki dan perempuan satu sama lain dan melemparkan masyarakat ke dalam kekacauan. 

    Banyak orang yang tumbuh selama Revolusi Kebudayaan menjadi terbiasa dengan perilaku kasar dan tidak beradab, benar-benar berlawanan dengan nilai-nilai yang ditemukan dalam peradaban Tiongkok kuno.
    Kebijakan satu anak PKT, yang bertanggung jawab untuk mencegah sekitar 400 juta kelahiran, semakin memperburuk tren tersebut. Jutaan anak laki-laki dan perempuan akhirnya dibesarkan sebagai “kaisar kecil” atau “putri” yang dimanjakan oleh orang tua mereka, dengan sedikit perhatian yang diberikan pada pendidikan moral mereka.

    Di Tiongkok saat ini, perceraian dan perselingkuhan merajalela — negara ini diperkirakan memiliki 20 hingga 30 juta pekerja seks. Pejabat tinggi dikenal karena banyak simpanan dan gaya hidup mereka yang bejat. Menikah dan mempunyai keturunan menjadi semakin berkurang, membuat prospek suram untuk masa depan demografis China. (visiontimes)

    Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Ujian Kekaisaran Tiongkok

    Ujian Kekaisaran Tiongkok

    Peradaban Tiongkok telah lama memandang keunggulan di bidang akademis baik sebagai kebutuhan pragmatis maupun penanaman moral.

    Konfusius, guru dan filsuf kuno, menasihati murid-muridnya untuk belajar sehingga upaya mereka dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

    Penekanan pada pendidikan ini mungkin paling terkenal dimanifestasikan dalam ujian kekaisaran. Dirancang sebagai sistem ujian kekaisaran untuk mengumpulkan talenta terbaik di seluruh negeri untuk bertugas di birokrasi negara, ujian tersebut memiliki dampak besar pada budaya dan pemerintahan Tiongkok kuno.

    Ratusan tahun kemudian, sistem ujian kekaisaran ini memengaruhi tes pegawai negeri standar yang dirancang di negara-negara Eropa, dan yang digunakan oleh sekolah dan universitas di seluruh dunia. Di Kerajaan Inggris, pegawai negeri disebut “mandarin” mengacu pada pejabat di Cina yang menjalankan peran serupa dalam birokrasi.

    Apa yang Diuji?

    Sebagai tolok ukur untuk menguji para pejabat yang mengelola wilayah Tiongkok yang luas, ujian kekaisaran selalu didasarkan pada Konfusianisme dan komentar mereka tentang hukum dan pemerintahan.

    Dengan mewajibkan semua siswa negara untuk belajar untuk ujian ini, negara mampu menyatukan kekaisaran dengan budaya umum berdasarkan ajaran Konfusianisme dan memperkuat tatanan moral masyarakat.

    Pada Dinasti Tang (618-907), Kaisar Gaozu menambahkan beberapa butir ujian di luar ajaran Konfusianisme.

    Pengetahuan tentang dekrit kekaisaran, keputusan pemerintah, dan keputusan pengadilan sangat penting. Calon pejabat diuji seberapa baik mereka dapat memahami dan menyusun dokumen semacam itu.

    Terkait hal ini, para sarjana harus menunjukkan kemampuan menulis esai berbentuk delapan bagian, yang disebut ba gu wen. Ini adalah presentasi gagasan yang diformalkan dengan frasa dan struktur yang ditetapkan, yang satu menanggapi yang lain, kata demi kata, frasa demi frasa, kalimat demi kalimat.

    Di Tiongkok kuno, matematika berkembang dengan baik, dibagi menjadi “aritmatika internal”, atau perhitungan yang dapat dilakukan secara mental, dan “aritmatika eksternal” yang harus dilakukan dengan bantuan rumus dan algoritma. Statistik dan akuntansi menjadi kebutuhan bagi pemerintah mana pun, matematika juga sangat perlu diuji dalam ujian kekaisaran.

    Terlepas dari ujian pilitik yang umum, pihak berwenang juga berusaha mengukur kualitas moral dan spiritual pelamar. Cara utama yang dilakukan adalah dengan menilai puisi mereka, yang diyakini sebagai jendela karakter sejati seseorang. Puisi-puisi yang dibawakan bertemakan yang tidak berhubungan dengan politik, misalnya yang umum adalah moralitas dan kesucian.

    Demikian juga, reformasi Dinasti Tang juga menguji keterampilan kaligrafi peserta ujian. Diyakini bahwa bukan hanya sekadar menyampaikan informasi, kualitas tulisan tangan seseorang mencerminkan temperamen dan karakter penulis.

    Gelar Kelulusan

    Ujian kekaisaran reguler diadakan setiap tahun, menarik hingga 2.000 kandidat per tahun, menghasilkan berbagai tingkat sarjana-pejabat, termasuk Xiucai (bakat), Mingjing (ahli klasik) dan Jinshi, atau sarjana kekaisaran penuh.

    Orang yang lulus tingkat tertinggi, Jinshi, akan menjadi orang terpenting di kelas terpelajar Tiongkok, dan memegang posisi penting di istana kekaisaran. Dengan demikian, level ini adalah yang paling sulit, dengan hanya satu atau dua yang lulus ujian di antara ratusan kandidat.

    Pengetesan secara acak yang dilakukan secara spontan oleh kaisar sendiri, yang akan bertindak sebagai Kepala Pemeriksa. Kaisar juga dikenal sebagai “guru besar” di Tiongkok kuno. Kebijaksanaan, kebajikan, serta karakter berbakti dan jujur seseorang adalah apa yang akan dicari Kaisar dalam ujian ini.

    Selama Dinasti Song, pemeriksaan lebih disempurnakan menjadi empat tingkat: Tingkat terendah adalah ujian daerah: kandidat yang berhasil menjadi Xiucai (bakat terkemuka), dan memenuhi syarat untuk mengikuti ujian kedua di tingkat provinsi, menghasilkan Juren (lulusan yang direkomendasikan). Juren akan menjadi pejabat provinsi dan memegang kekuasaan yang sangat besar di tingkat provinsi.

    Xiucai akan memegang posisi kepemimpinan di desa mereka atau menjadi guru yang memelihara sistem pendidikan. Tingkat ketiga adalah ujian Akademi yang menghasilkan Gongshi (siswa terhormat), yang memenuhi syarat untuk mengikuti ujian Istana (tingkat tertinggi) yang menghasilkan para sarjana yang dikenal sebagai Jinshi.

    Siapa yang bisa mengikuti ujian?

    Ujian kekaisaran terbuka untuk laki-laki saja, dan orang-orang dari latar belakang yang tidak baik, seperti penjahat dan anak-anak pelacur, tidak bisa mengikuti ujian.

    Terlepas dari ini, bagaimanapun, ujian kekaisaran sipil tidak membeda-bedakan berdasarkan kelas, bahkan memungkinkan anak-anak dari keluarga miskin berkesempatan untuk menjadi pejabat pemerintah.

    Di Dinasti Song, pihak berwenang memperkenalkan penilaian anonim, mengidentifikasi kandidat berdasarkan nomor daripada nama untuk menghindari bias dan korupsi.(visiontimes)

    Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Filosofi Pemerintahan yang Bijak dari Tiongkok Kuno

    Filosofi Pemerintahan yang Bijak dari Tiongkok Kuno

    Percaya bahwa budaya Tiongkok dianugerahkan oleh ilahi kepada Tiga Raja dan Lima Kaisar, orang-orang Tiongkok menganggap diri mereka sebagai keturunan Kaisar Yan dan Huang.

    Filosofi dan ranah yang berkuasa berkembang dari waktu ke waktu, bergerak dari Penguasa kuno ke Kaisar dan kemudian Raja.

    Penguasa (Huáng)

    Penguasa dikatakan setengah dewa. Mereka memerintah berdasarkan wawasan mendalam mereka tentang hukum surga yang mencakup segalanya (Jalan Surgawi). Mereka memahami keseimbangan harmonis Yin dan Yang, rotasi empat musim, dan bagaimana manusia menyatu dengan Langit dan Bumi. Menurut catatan sejarah, Penguasalah yang membantu memperkenalkan penggunaan api, mengajari orang membangun rumah, dan mengembangkan pertanian.

    Pada periode Tiga Penguasa, orang tinggal di gua, memakai bulu binatang, dan minum dari mata air pegunungan. Mereka tanpa beban dan tanpa keinginan. Harta karun seperti emas, mutiara, dan batu giok ditinggalkan di alam liar. Tidak ada aturan atau hukuman. Orang-orang berinteraksi secara sederhana dan alami dengan roh Langit dan Bumi.

    Penguasa memerintah menurut Jalan Surgawi. Tidak perlu mempertimbangkan kebajikan karena segala sesuatu di mana-mana ada secara setara. Jalannya sederhana dan mulus, dan ada keindahan yang melampaui kata-kata ketika orang-orang mengikuti Jalan Surgawi.

    Konfusius berkata, “Apa yang dikatakan Surga? Empat musim sedang bergerak, dan segala sesuatu lahir.” Surga menggunakan kata-kata yang tak terucapkan sebagai pelajaran yang mendalam dan berjangkauan luas bagi manusia dan semua makhluk. Karena Surga telah mempersembahkan yang terbaik dari segala sesuatu kepada dunia, segala sesuatu lahir sesuai dengan kodratnya, dan manusia tumbuh sesuai dengan kodratnya.

    Kaisar (Dì)

    Tingkat dibawah Penguasa adalah Kaisar, yang memerintah berdasarkan moralitas. Kaisar masih menganut Jalan Surgawi tetapi menambahkan konsep kebajikan dan dunia.

    Manusia memperoleh Hukum Surga untuk membimbing perilakunya. Kebajikan (De) didapat seseorang dengan mematuhi hukum tersebut, melenceng darinya akan mendapatkan karma. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mampu memperoleh kebajikan, dan hanya manusia yang dapat menghargainya.

    Semakin tinggi tingkat moral seseorang, semakin dalam pemahaman dan wawasannya. Ketika orang mampu memahami sifat dasar segala sesuatu, mereka lebih mampu menangani situasi sulit dan menavigasi tantangan hidup. Ketika orang dibebani dengan keinginan dan kekhawatiran, mereka merasa sulit untuk mencapai sesuatu.

    Raja (Wáng)

    Raja-raja yang umumnya disebut sebagai “anak-anak Surga”, mengikuti para kaisar. Tiga garis horizontal karakter (Wáng) mewakili Jalan Surga, Jalan Bumi, dan Jalan Umat Manusia. Garis vertikal di tengah mewakili kesatuan dari ketiganya.

    Jalan para Raja adalah kebajikan, bertujuan untuk pemenuhan segala sesuatu dan keselarasan bagi semua orang; dan Kebenaran, menunjukkan akal, kebenaran, dan keadilan.

    Menghayati Tradisi Kuno untuk Mengembalikan Moralitas Manusia

    Di era penguasa, kaisar, dan raja, orang-orang hidup dengan menjunjung moralitas. Wawasan mereka dalam mengungkap misteri alam tidak dapat dipahami oleh pikiran modern. Ketika orang-orang saat ini melihat masyarakat kuno dari perspektif teknologi moderen dan teori evolusi, mereka menganggap kurangnya teknologi dan pengetahuan ilmiah sebagai kebodohan. Ini karena kebijaksanaan mereka sendiri tidak mencukupi.

    Mitos dan legenda yang melewati 5000 tahun sejarah Tiongkok adalah cerminan dari orang-orang pada waktu itu. Karena aturan seseorang ditentukan oleh tingkat penguasaannya terhadap hukum surga, maka mereka yang diperintah harus memiliki kemampuan untuk merasakan, berkomunikasi, dan berintegrasi dengan medan energi alam semesta secara bebas. Hanya mereka yang memiliki tingkat moral tertinggi yang dapat menjadi penguasa, kaisar, atau raja, karena hanya mereka yang dapat menunjukkan kesatuan antara surga dan manusia.

    Seiring waktu, sifat penguasa kuno yang diilhami oleh Sang Ilahi menjadi disalahpahami oleh keturunan manusia mereka yang standar moralnya terus menurun. Dengan bertambahnya pengetahuan ilmiah manusia, ia telah mengembangkan pengejaran tanpa henti untuk mengendalikan alam dan mengumpulkan harta duniawi. Karena naluri bawaannya untuk berkomunikasi dengan Langit dan Bumi telah menurun dan hilang, orang-orang menganggap teladan moral leluhur mereka hanya sebagai mitos dan legenda.

    Orang bijak seperti Lao Tzu dan Konfusius sama-sama menganjurkan retrospeksi. Taois Lao Tzu mengusulkan jalan untuk kembali ke dasar, yang disebutnya “kembali ke kemurnian bayi,” sementara Konfusianisme berpendapat bahwa seseorang harus menggunakan sejarah untuk mengevaluasi orang dan peristiwa. Mereka berdua melihat bahwa hanya dengan kembali, manusia dapat membalikkan lintasan “kemajuan” ke bawah dan lolos dari kepunahan.

    Orang sering diingatkan untuk tidak melupakan akarnya, melepaskan diri dari belenggu godaan dan keinginan, dan berperilaku secara moral dan lurus. Ini adalah nasihat yang akan memungkinkan mereka untuk kembali ke jalan yang selaras dengan Langit dan Bumi.(visiontimes)

    Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Semangat Menuntut Ilmu

    Semangat Menuntut Ilmu

    Konfusius membawa muridnya ke hutan, mereka melihat adalah seorang kakek bungkuk sedang membawa sebuah bambu untuk menangkap jangkrik, kakek ini menangkap jangkrik segampang memungut batu.

    Konfusius bertanya kepada kakek bungkuk ini, “Kakek, saya melihat Anda begitu gampang menangkap jangkrik, apakah ada rahasia cara menangkap jangkrik ?”

    Kakek bungkuk berkata: ”Anda harus memegang bambu dengan prediksi yang menyakinkan, kepala bambu harus diselaraskan dengan sayap jangkrik, lalu dengan cepat menutup bambu, kemampuan ketrampilan dasar ini harus dilatih sampai ahli.”

    Konfusius bertanya lagi: ”Dengan cara bagaiman Anda berlatih?”

    Kakek berkata,: ”Saya meletakkan 2 buah batu kecil di kepala bambu, setelah berlatih beberapa bulan, ketika batu tidak akan terjatuh dari kepala bambu, maka saya akan pergi menangkap jangkrik dengan cara ini saya jarang mengalami kegagalan. 

    Berikutnya, saya melatih dengan meletakkan 3 buah batu di kepala bambu, lalu terus melatih sampai 5 buah batu di kepala bambu tidak akan terjatuh, dengan demikian menangkap jangkrik segampang memungut batu.”

    Konfusius berkata kepada murid-muridnya, “Dengan semangat ini berlatih dan menuntut ilmu, mana mungkin bisa gagal.”(minghui school)

    Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI