Tag: partai komunis tiongkok

  • Efek Penyembuhan Falun Gong dari Kacamata Kedokteran Tionghoa

    Efek Penyembuhan Falun Gong dari Kacamata Kedokteran Tionghoa

    Falun Gong disebut juga Falun Dafa merupakan metode kultivasi (melalui pengolahan jiwa dan perombakan sifat menuju kesempurnaan) tingkat tinggi yang diajarkan oleh Mr. Li Hongzhi (baca: Li Hungze), dengan “Sejati – Baik – Sabar”, karakter tertinggi alam semesta sebagai pedoman, sekaligus berkultivasi jiwa dan raga.

    Berkultivasi jiwa berarti berkultivasi “sifat dan hati”, dengan “Sejati – Baik – Sabar” sebagai pedoman kehidupan sehari-hari untuk meningkatkan kualitas moral kultivator; berkultivasi “raga” bermakna melalui 5 perangkat latihan untuk menghalau penyakit dan menyehatkan tubuh serta memelihara kesehatan sehingga panjang umur.

    Sejak Falun Dafa dipublikasikan ke masyarakat pada bulan Mei 1992, telah menyedot jutaan para peminatnya di seluruh dunia. Tua-muda, laki-perempuan, dari suku-bangsa apapun, asalkan dengan teguh berkultivasi hati dan menempa diri semuanya telah memperoleh manfaat luar biasa. Hingga kini Falun Dafa telah tersebar di 110 lebih negara dan wilayah dan memperoleh rasa hormat serta simpati dari rakyat di berbagai belahan dunia.   

    Pada 1998,telah diadakan survei medis awal terhadap para praktisi Falun Gong di tempat latihan lokal. Hasil akhir menunjukkan: Para praktisi yang sebelumnya mengidap penyakit telah sembuh dan tingkat pemulihan kesehatan secara mendasar mencapai 70% lebih, sedangkan efektifitas penghalauan penyakit dan penyehatan tubuh mencapai 98% lebih.  

    Mengapa Falun Gong mempunyai efektifitas yang sedemikian bagus? Dari prinsip penyembuhan penyakit ala kedokteran tradisional Tiongkok, tidaklah sulit untuk memahami mujizat Falun Gong dalam hal penghalauan penyakit dan menyehatkan tubuh ini.

    Kedokteran tradisional Tiongkok beranggapan: orang bisa sakit dikarenakan 3 hal, yakni faktor dari luar, faktor dari dalam, dan faktor bukan dari luar maupun dalam. Faktor dari luar ialah: angin, hawa dingin, hawa panas, lembab, kering, api/panas; faktor dari dalam ialah 7 Qing (perasaan atau emosi) yakni: gembira, marah, cemas, kepikiran, sedih, takut, dan terkejut; yang termasuk faktor bukan dari luar atau dalam ialah: makanan dan kebiasaan gaya hidup.

    Kedokteran Tiongkok beranggapan ketika kondisi tubuh seseorang yang tentram dan damai terganggu, maka bakteri dan virus yang berada di dalam tubuh manusia dapat berubah menjadi faktor penyebab penyakit (patogen).

    Pemikiran mendasar kedokteran Tiongkok ialah: di saat hati dan tubuh Anda berada dalam kondisi tentram dan damai, pada kondisi yang bagus ini, hakikatnya manusia masih bisa hidup berdampingan secara damai dengan bakteri dan virus. Namun ketika tubuh seseorang mengalami gangguan dari luar oleh angin-dingin-panas-lembab-kering-api, dan dari dalam hatinya mengalami gangguan rasa gembira-murka-cemas-kepikiran-takut-terkejut, maka kondisi prima dari tubuh manusia tersebut telah dirusak.Saat itu bakteri dan virus dapat menemukan lingkungan dalam tubuh yang memungkinkannya berkembang-biak. Berawal dari sini bakteri dan virus berubah menjadi faktor patogen.

    Pengobatan tradisional Tiongkok bukan menangani gejala penyakit yang timbul melainkan benar-benar menyembuhkan manusianya melalui resep herbal yang direbus bersama. Dengan kata lain memanfaatkan sifat alami obat herbal (baik dingin, panas, pedas dll) untuk mengoreksi kecenderungan tubuh seseorang. Dengan mengoreksi kondisi internal tubuh yang terganggu, maka faktor penyebab penyakit tidak lagi menemukan kondisi ideal untuk berkembang biak.

    Bersamaan dengan penanganan melalui ramuan herbal dan tusuk jarum, dalam terapinya, sinshe tradisional Tiongkok menambahkan penyelarasan terhadap sisi spiritual manusia.

    Pertama-tama, sinshe mengingatkan pasien harus mengendalikan nafsu keinginan diri sendiri. Menurut teori ilmu kedokteran Tiongkok, nafsu keinginan dapat melukai sari pati Yin seseorang, sehingga mengakibatkan bermacam-macam penyakit. Dari titik tolak inilah timbul beraneka ragam penyakit. Misalnya diabetes, stroke, uremia, patah tulang dan sebagainya.  

    Kedua, sesuai dengan pedoman perilaku seorang manusia oleh Konfusius yakni: “Kebajikan, kebenaran,  kesopanan,  kebijaksanaan dan kepercayaan”. Karakter seseorang mutlak harus diperbaiki. Dimulai dari berbakti kepada orang tua. Tubuh manusia bagaikan sebuah alam semesta kecil, langit mempunyai 5 Qi (energi vital) dan bumi mempunyai 5 unsur (tanah, air, api, kayu, logam), maka manusia juga memiliki 5 sifat mulia: “Kebajikan, kebenaran, kesopanan, kebijaksanaan dan kepercayaan” ini saling berpadanan dengan lima organ dalam tubuh manusia. Dengan lain kata jika dalam melakukan sesuatu tidak disesuaikan dengan lima hal tersebut maka sistem organ dalam tubuh manusia dapat muncul penyakit yang sepadan. 

    Diantaranya, kebajikan (Ren仁) berpadanan dengan sistem organ hati, yang merupakan unsur kayu dari lima unsur, berpadanan dengan musim semi. Berpadanan dengan kondisi psikologis seseorang yakni mengasihi sesama manusia. Sama dengan welas asih dan ramah serta bisa berempati terhadap orang lain.

    Langit memiliki rahmat mencintai ‘kehidupan’, yang dimaksud dengan ‘kehidupan’ di sini ialah mengasihi manusia atau disebut kebajikan. Maka, pada hakekatnya pemeliharaan kesehatan ialah pengasuhan hati yang penuh kebajikan. Berbuat kebajikan dapat menyehatkan hati, orang yang bertindak secara bajik, sirkulasi darah hati mengalir lancar, Qi-meridian pun dalam kondisi prima, maka tentu saja panjang umur.  

    Contoh lain, orang yang rabun jauh (Myopia), kebanyakan berkarakter keras, mau menang sendiri dan tidak rela kekurangan diri sendiri dikatakan orang lain, “lebih baik tubuh mengalami penderitaan daripada muka memerah dikritik orang.” Mengerjakan sesuatu berusaha sekuat tenaga melebihi orang lain. Orang semacam ini terlalu mengutamakan perasaan sendiri, maka ia tidak mudah menyelami apa yang dirasakan orang lain. Ia akan kekurangan rasa kasih terhadap orang lain, mudah menimbulkan ego dan tidak dapat berbakti kepada orang tua secara maksimal. Karena itulah pada umumnya meridian hatinya mudah terluka. Berhubung mata adalah cermin dari organ hati, maka orang semacam ini mudah terkena penyakit rabun.

    “Yi atau kebenaran” berpadanan dengan Qi paru-paru. Yi juga berpadanan dengan saripati, yang di dalam kebudayaan tradisional Tiongkok kuno, saripati bermakna mengumpulkan, adalah musim gugur. Sedangkan pada musim gugur daun-daun betebaran dimana-mana, langit dan bumi dipenuhi oleh Qi pembasmi, maka dikatakan orang yang Qi-nya luar biasa subur, Qi pembasminya juga luar biasa berat. Diterjemahkan dengan bahasa modern, orang tersebut sangat suka mengorek kelemahan orang lain. Ia akan sangat mudah terkena penyakit yang berhubungan dengan unsur logam, terkena penyakit dalam bidang saluran paru-paru.

    Api berpadanan dengan “Li atau tata susila”, padanannya dengan musim kemarau dan dengan organ jantung. Padanan sopan santun ialah ketertiban yang paling tepat dari interaksi antar manusia. Seseorang dalam melakukan sesuatu dengan hati lurus, respek terhadap orang tua dan mencintai anak-anak, santun serta berkepribadian, sangat memperhatikan sopan-santun, kebenaran, kejujuran dan tahu rasa malu, maka Qi lurus itu bisa melindungi jantung orang tersebut, jika sebaliknya akan dapat melukai jantung. Kondisi alami dari jantung ialah pro aktif, terbuka dan terus terang, maka apakah kondisi tidak alami dari jantung? Salah satu dari kondisi paling tidak alami ialah dendam, dendam itu paling melukai jantung, bila Anda sering mendendam terhadap orang lain, maka bisa menyebabkan hati kalut dan jantung berdebar, selain itu masih ada  penyakit jantung koroner dan lain.

    “Zhi atau kebijaksanaan” berpadanan dengan organ ginjal. Jika seseorang hendak memiliki kebijaksanaan, nomor satu ia harus rendah hati, yakni dapat menerima pendapat orang lain. Dengan kata lain, mau mendengarkan pendapat orang lain akan kian jelas, maka itu telinga adalah cermin dari organ ginjal, ini logis. Qi ginjal seseorang penuh, maka telinganya dapat dengan mudah mendengarkan nasehat orang lain, orang dengan Qi ginjal penuh juga memiliki kebijaksanaan. Seseorang yang dapat mendengar nasehat orang lain, organ telinga telah berfungsi  lancar, maka Qi ginjal penuh, dengan demikian tentu saja akan memiliki kebijaksanaan.  

    Lambung dan usus berpadanan dengan “Xin atau kepercayaan (dapat dipercaya)”. Termasuk unsur tanah. Dalam 4 musim ia berpadanan dengan musim kemarau panjang, yakni periode antara musim kemarau dan musim gugur, kondisi waktu itu ialah saatnya semua makhluk mengalami perkembang-biakan. Artinya ialah seluruh perkembangan permasalahan, melambung maupun tenggelam tergantung dari ketulusan-hati seseorang. Kondisi tubuh juga demikian, seseorang yang tulus dan jujur, tenaga aksinya luar biasa kuat dan di dalam benaknya selalu tidak memperhitungkan untung-rugi, maka pencernakan lambung dan ususnya juga luar biasa baik. Sebaliknya, orang yang sering memperhitungkan untung-rugi, biasanya pencernaannya tidak baik.

    Itulah mengapa kedokteran Tiongkok beranggapan ketika seseorang telah menjalankan prinsip “ kebajikan, kebenaran, kesopanan, kebijaksanaan, kepercayaan”, setelah memulihkan 5 macam kondisi normal kejiwaan ini, maka kondisi fisiologisnya juga akan pulih normal, tentu akan memperoleh kesehatan. Itulah yang disebut dari spirit hingga materi telah mencapai kondisi kemanunggalan antara langit dan manusia.”  

    Teori-teori TCM (Traditional Chinese Medicine atau Kedokteran Tradisional Tiongkok) yang disebut diatas dapat mengilhami pemahaman kita terhadap Falun Gong. Sesungguhnya kultivasi yang dijalankan Falun Gong dengan cara yang lebih optimal dapat menyelesaikan 3 buah penyebab terjadinya sakit di dalam teori TCM. Pertama-tama, berkultivasi Falun Gong adalah memperbaiki terus menerus karakter (sifat-jiwa) seseorang. Kultivator dituntut di dalam kehidupan dan pekerjaan, di dalam perselisihan antar manusia, bisa memandang hambar aneka hawa nafsu serta berbagai hasrat, tak henti-hentinya mematut diri sendiri dengan ketat, untuk pada akhirnya dapat melepasnya secara keseluruhan.

    Di hadapan daya pikat nama-kepentingan-perasaan, tidak saling berebut dengan orang lain. Di dalam ucapan dan tindakan, di dalam setiap kejap pikiran dan batin, hapuskan hasrat dan tuntutan serta berbagai suasana hati negatif yang diakibatkan oleh semuanya ini. Dikala kepentingan diri sendiri dirugikan, bisakah hati tidak tergerak, termasuk tidak menggerakkan suasana hati negatif seperti yang disebutkan oleh para dokter TCM; dapatkah hati tidak tergerak di dalam intrik antar manusia; dapatkah manakala sahabat atau kerabat mengalami penderitaan, menyikapinya dengan benar dan hati tidak terhanyut. Dengan sungguh hati pada akhirnya mencapai penghambaran ketenaran dan keberuntungan, dapat berpikir terbuka serta bermoralitas tinggi.

    Di dalam kitab kuno Kaisar Kuning disebutkan, jika dapat mempertahankan kejernihan dan kebeningan berpikir, tanpa beban akan tuntutan dan hasrat, Qi (bentuk awal eksistensi energi) murni tersimpan baik di dalam tubuh dan spirit terjaga secara internal serta tidak terhambur percuma, dengan demikian, dari manakah penyakit mau menyerang? Para praktisi Falun Gong sejak awal berkultivasi sudah dituntut melakukan hal-hal seperti itu bahkan taraf yang lebih tinggi. Itulah mengapa dari penyebab terkena penyakit sesuai teori TCM, para praktisi dapat secara keseluruhan mencabut kondisi yang dibutuhkan oleh bakteri dan virus untuk menjadi faktor penyebab penyakit.

    Di dalam terapi penyembuhan secara spiritual oleh dokter TCM, para pasien disarankan memperbaiki karakter dan meningkatkan moral diri. Dalam hal ini, para praktisi Falun Gong dengan maksimal mematut diri sesuai dengan karakter alam semesta “Sejati-Baik-Sabar” seperti yang tertera dalam buku pembimbingnya, Zhuan Falun. Setiap tindakan diutamakan harus memikirkan orang lain, disaat menjumpai permasalahan pertama-tama harus memikirkan orang lain bisa menerimanya atau tidak, bisa melukai orang lain atau tidak; ketika terjadi perselisihan, harus mencari ke dalam, mencari kesalahan apa yang telah diperbuat sebagai akibat dari ucapan, tindakan dan pikiran kita; melangkah keluar dari keakuan untuk melihat permasalahan, mempertahankan kondisi hati yang tenteram dan damai serta memperlakukan orang lain dengan belas kasih.

    Membaca Buku Zhuan Falun, buku pedoman latihan Falun Dafa

    Maka dengan demikian mereka bisa berperilaku penuh respek terhadap orang tua dan mengasihi saudara kandung. Di dalam rumah sebagai suami/istri yang baik, sebagai anggota keluarga yang baik; di dalam pekerjaan adalah karyawan yang baik; pada setiap peran di dalam masyarakat selalu menjadi orang baik dan orang dengan integritas tinggi. Bahkan di dalam 10 tahun lebih penindasan brutal oleh PKT (Partai Komunis Tiongkok), para praktisi Falun Gong senantiasa mempertahankan pedoman berkultivasi Falun Dafa, rela menempuh mara bahaya dalam melindungi kebenaran, menyayangi keadilan dan hati nurani, memberitahukan kepada khalayak tentang fakta sebenarnya dan dengan belas kasih melakukan penyelamatan mahluk hidup.     

    Berkultivasi Falun Gong berpengaruh positif terhadap sikap dan cara hidup para kultivator, hidup mereka teratur, sebagian besar mampu berhenti dari kecanduan rokok, alkohol dan judi serta hobi negatif lainnya. Dengan meningkatnya moralitas, nurani mengalami dan peningkatan secara mendasar, karena hati sanggup memikul peningkatan kemampuan maka suasana hati menjadi stabil.

    Lantaran mampu dengan tepat melihat keuntungan-kerugian dalam kehidupan maka otomatis akan mengurangi kegelisahan. Para praktisi telah menjauhi kebiasaan buruk yang merugikan kesehatan dan lambat laun di dalam proses kultivasi telah menurunkan rasa tertekan dalam kehidupan, jiwa dan badannya semakin lama semakin sehat. Juga membawa dampak baik bagi keluarga, berpengaruh positif dalam bidang pekerjaan dan kehidupan bermasyarakat.   

    Praktisi Berlatih Falun Dafa

    Sesungguhnya, tujuan dokter TCM dalam menyembuhkan penyakit adalah memperbaiki lingkungan di dalam tubuh dan dalam melakukan penyembuhan bertitik tolak dari taraf agar bakteri dan virus tidak sampai berkembang menjadi lahan subur bagi faktor pengembang penyakit. Berkultivasi Falun Gong bertitik tolak dari taraf lebih mendalam yakni bagaimana bakteri dan virus tidak sampai terjadi, hal ini telah menyelesaikan permasalahan yang lebih mendasar.

    Pengobatan tradisional Tiongkok adalah untuk mengatur lingkungan internal tubuh dalam mengatasi salah satu atau beberapa jenis penyakit. Sedangkan berkultivasi Falun Gong adalah mencabut seluruh faktor yang mengakibatkan tubuh tidak sehat dan segenap pikiran negatif. Telah jauh melampaui lingkup penyembuhan TCM.  (Xiao Jingru / The Epoch Times / whs)

    Lebih banyak artikel Kesehatan, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Apakah Kekayaan Mendatangkan Kebahagiaan?

    Apakah Kekayaan Mendatangkan Kebahagiaan?

    Apa yang membuat kamu bahagia? Banyak orang percaya bahwa mengejar kekayaan dan ketenaran membawa kesuksesan, dan tampaknya itulah kunci kebahagiaan.

    Tetapi apakah menjadi kaya dan terkenal benar-benar membuat anda bahagia?

    Memiliki ketenaran dan kekayaan tampaknya seperti tiket pasti menuju kebahagiaan; Namun, sebenarnya, tidak ada jaminan ini akan memberi anda kebahagiaan yang anda inginkan. Bahkan bagi banyak jutawan, rasa hampa mungkin menyerang mereka di akhir hidup mereka ketika mereka menyadari semua kekayaan mereka tidak dapat dibawa bersama mereka setelah kematian.

    Dan perasaan hampa itulah yang dulu dihadapi oleh Li Dunrong, 54 tahun, seorang pengacara papan atas di firma hukum Korea.

    Li Rong ©The Epoch Times

    Meskipun Li memiliki pekerjaan tetap yang dikagumi banyak orang, dia masih merasa hampa. “Kekosongan mendorong saya untuk mencari bentuk pemenuhan lainnya,” kata Li.

    Untuk membuat hidupnya lebih menyenangkan, Li mulai banyak minum dan merokok. Dan Li selalu merenungkan tentang tujuan hidupnya di bumi. “Kadang-kadang, saya merenung arti keberadaan saya di alam semesta yang luas ini, dan sambil menghibur diri dengan harapan agar semua ini tidak lenyap setelah kematian,” katanya.

    Untuk mengisi kekosongan dalam hidupnya, Li mulai belajar metode kultivasi tubuh dan pikiran yang berbeda-beda dari banyak master terkenal. Dia melakukannya dengan penuh semangat dan karenanya, rekan-rekannya memberinya julukan “Pengacara Tao”.

    Namun, Li merasa bahwa pencariannya untuk menemukan jalan kebenaran tidak membuahkan hasil, dan perasaan hampa yang mengganggu itu semakin memburuk.

    Karakter Tionghoa Dao mengungkapkan konsep mencapai pencerahan spiritual dengan berjalan di jalan yang benar. (© The Epoch Times)

    Seperti kata pepatah, “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan.” Akhirnya, pada tahun 2004, saat Li bekerja di firma hukum Korea cabang Daejeon, seorang teman memberi tahu dia, “Saya menemukan sesuatu yang mungkin anda sukai.”

    Temannya mengatakan kepadanya bahwa dia bertemu dengan seseorang di dekat gedung pengadilan yang berlatih metode kultivasi pikiran-tubuh yang dikenal sebagai Falun Gong atau Falun Dafa, yang berasal dari Tiongkok.

    Peristiwa ini membuat Li mencari informasi tentang Falun Gong secara online. Dia menemukan situs web yang dikelola praktisi Falun Gong, yaitu Minghui.org dan melalui Minghui, dia menemukan buku ajaran utama kultivasi, yaitu Zhuan Falun.

    Saat Li membaca Zhuan Falun, dia tahu dia telah menemukan Jalan Kebenaran.

    Li Rong membaca buku Zhuan Falun ©Minghui.org

    “Dalam sekejap saya begitu tertarik dengan isi buku Zhuan Falun sehingga saya tidak bisa berhenti membacanya. Buku ini berisi pengetahuan yang saya dambakan, jawaban atas pertanyaan saya tentang kehidupan. Kekosongan di hati saya berangsur-angsur terisi,” kenangnya.

    Tak perlu dikatakan, Li kemudian menekuni latihan kultivasi Falun Gong.

    Sebelum berlatih, Li adalah seorang perokok berat dan peminum kronis, yang akan merokok satu bungkus rokok dalam sehari dan minum berlebihan setiap hari setelah bekerja. Hebatnya, segera setelah berlatih, dia melepaskan kebiasaan buruk tersebut bahkan ketika seorang teman mendesaknya untuk minum bir.

     “Saya minum sedikit dan segera mengalami sakit kepala. Saya terkejut. Sejak saat itu, saya berhenti minum. Saya bahkan tidak tahan dengan bau alkohol, ”katanya. “Sebaliknya, kecanduan saya pada rokok lebih sulit untuk dihilangkan. Meskipun saya semakin tidak menyukai bau rokok, kebiasaan itu tetap sulit dihentikan. Suatu hari ketika saya mengisap rokok, pada isapan pertama, tiba-tiba saya merasa sangat menyesal dan seketika itu juga saya berhenti merokok. “

    Sejak Li mengkultivasi dirinya sendiri sesuai dengan prinsip-prinsip Falun Gong “Sejati, Baik, dan Sabar” dia menjadi orang yang lebih sabar dan mampu menangani dengan mudah kasus yang paling sulit sekalipun.

    Li Berlatih Falun Gong ©Minghui.org

    Latihan Falun Qong juga membantu meningkatkan kesehatan mentalnya, mengurangi kelelahan dan stres yang dia derita di tempat kerja. Dan perlahan-perlahan dia tidak lagi merasa hampa. Sebaliknya, dia menjalani hari-harinya dengan “rasa puas dan bahagia.”

    Li berkata hidup berubah menjadi lebih baik setelah berkultivasi Falun Gong; perubahannya begitu jelas bahkan anaknya pun menyadarinya.

    “Ayah sekarang lebih baik dan lebih mudah didekati,” kata anaknya.

    Foto kenangan pawai di Korea, spanduk pertama berbunyi: “Falun Gong dilatih di lebih dari 100 negara dan telah memberi manfaat bagi jutaan orang.” (© Minghui.org)

    Mendapat manfaat yang luar biasa dari kultivasi Falun Gong, dia bertekad untuk berbagi latihan Falun Gong yang luar biasa ini dengan orang lain dengan melakukan latihan gerakan dan meditasi setiap minggu di tempat latihan Gunung Qingxi di Seoul.

    Selain itu, Li selalu berusaha sebaik mungkin untuk memberi tahu klien-kliennya tentang kebenaran di balik penganiayaan brutal selama dua dekade terhadap Falun Gong di Tiongkok.

    Meskipun Falun Gong saat ini dilatih oleh orang-orang di lebih dari 100 negara, akan tetapi di Tiongkok sendiri, sejak 20 Juli 1999, latihan tersebut telah difitnah dan praktisinya dianiaya karena ketakutan dan rasa iri dari mantan pemimpin Partai Komunis Tiongkok Jiang Zemin terhadap popularitas Falun Gong yang berkembang pesat.

    Bagi Li, Falun Gong adalah cahaya yang memberinya harapan di tengah kegelapan. Karena latihan kultivasi, dia telah menemukan kebahagiaan sejati dan tujuan hidupnya. Untuk alasan ini, dia sangat berterima kasih. “Kultivasi telah menjadi alasan keberadaan saya di dunia. Berkat Falun Gong, saya telah menemukan tujuan saya, kebahagiaan batin, dan kedamaian. ” (epochtimes/ron/ch)

    Untuk informasi lebih lanjut tentang latihan ini atau untuk mengunduh Zhuan Falun, kunjungi.falundafa.org. Semua buku, musik latihan, video tutorial tersedia secara gratis. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang penganiayaan yang dialami praktisi Falun Gong di Tiongkok, kunjungi http://faluninfo.net/.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Dari Murid Egois, ke Guru Rendah Hati: Sebuah Pengalaman Nyata

    Dari Murid Egois, ke Guru Rendah Hati: Sebuah Pengalaman Nyata

    Madu Sudana adalah anak kembar yang mempunyai ego yang sangat besar dalam kehidupannya sejak kecil.

    Mulai menginjak sekolah dasar ia mempunyai ambisi untuk selalu mendapatkan ranking di kelas, yang jauh berbeda dengan kakak kembarannya yang tidak suka dengan akademis. Pada suatu ketika ia pernah tidak mendapatkan ranking di kelasnya. Kekecewaannya sangat mendalam.

    Mentalitas bersaingnya terus terpupuk hingga ia di jenjang Sekolah Menengah Atas.

    Moralitasnya berubah setelah ia diberikan sebuah buku oleh ayahnya, yaitu buku Zhuan Falun.

    Madu Sudana kemudian bertanya-tanya tentang isi dari buku Zhuan Falun tersebut, apa yang terkandung di dalamnya? Akhirnya ia membaca buku itu dan berhasil menghabiskan 9 ceramah dari isi buku Zhuan Falun. Ia menemukan prinsip sejati kehidupan menjadi seorang manusia.

    Dengan mematut diri pada prinsip Sejati, Baik dan Sabar, Madu senantiasa berusaha mengharmoniskan hubungannya dengan orang lain. Dan ketika lulus SMA, ia berhasil mendapatkan universitas yang menjadi idamannya dengan mudah.

    Lulusan terbaik pun dapat diraihnya setelah menyelesaikan studinya di perguruan tinggi.

    Informasi lebih lanjut, kunjungi: www.falundafa.org

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

  • Bencana dan Prosesnya Selama 50 Tahun

    Bencana dan Prosesnya Selama 50 Tahun

    Dalam sejarah, ada banyak cerita tentang bencana dan kaitannya dengan moralitas manusia. Mereka percaya, disaat krusial, manusia yang mampu menolak kejahatan, akan memperoleh keselamatan, kemujuran dan hari esok.

    Di akhir kisah ini, penulis ingin menghubungkannya dengan berbagai bencana yang terjadi sekarang ini. Jadi penulis berharap agar pembaca membaca tulisan ini hingga akhir. 

    Ada sebab Dibalik sebuah kejadian

    Ini adalah sebuah kisah sejarah dari Dinasti Qing. Niu Shumei menjabat sebagai kepala daerah Ningyuan selama periode Daoguang dan Xianfeng (tahun 1820-1861). Dia jujur dan punya moral yang baik.

    Suatu hari, terjadi gempa yang dahsyat (gempa yang dimaksud adalah gempa bumi yang terjadi di Xichang, Tiongkok pada malam tanggal 12 September 1850 – red). Rumah di seluruh kota runtuh dan banyak orang terluka atau meninggal.

    Dalam kesedihannya, Niu Shumei menulis artikel panjang untuk mencurahkan perasaannya kepada Dewa (Pelindung) Kota. Dia mempertanyakan apakah Langit sudah berlaku tidak adil?

    Malam itu, Niu Shumei bermimpi bertemu Dewa Pelindung Kota. Dewa Pelindung berkata kepadanya, “Anda mempertanyakan saya dalam tulisan anda, tetapi anda benar-benar tidak mengerti bagaimana para Dewa bekerja.

    “The Deluge” by J. M. W. Turner

    “Semua bencana terjadi akibat karma dosa yang diakumulasikan oleh orang-orang dari waktu ke waktu, dan tidak ada yang kebetulan,” katanya kepada Niu.

    Dia mengungkapkan rahasia kepada Niu, tentang bagaimana proses gempa bumi tersebut selama 50 tahun. Dia berkata, “Ada investigasi dan pencatatan selama 50 tahun sehubungan dengan gempa bumi saat ini, dan semua orang yang tidak seharusnya menderita telah dipindahkan; jika mereka melakukan dosa-dosa baru, mereka akan dikembalikan; bahkan jika mungkin ada perubahan pada saat itu di tengah bencana, perubahan seperti itu akan dipertimbangkan.”

    “Jika demikian,” bantah Niu Shumei, “Apakah Dewa mengatakan bahwa tidak ada satu pun orang baik di seluruh kota ini?”

    “Ada tiga keluarga di kota yang tetap aman dan sehat,” kata Dewa Pelindung. “Salah satunya adalah keluarga seorang wanita yang hidup sebagai janda dan sekarang merawat cucunya. 

    Satu lagi adalah keluarga dokter. Dia tidak pernah menjual obat palsu, dan dia mendatangi pasien sebaik mungkin setiap kali ada yang membutuhkan, bahkan di tengah malam saat jalanan basah dan berlumpur. 

    Satu lagi adalah keluarga seorang wanita tua dan cucunya yang masih muda, yang mencari nafkah dengan menjual kue beras goreng. Semuanya aman dan sehat. Anda bisa pergi dan memeriksanya. Saya tidak akan berbohong.

    Singkatnya, para Dewa sangat berhati-hati ketika memberikan berkah atau hukuman. Setiap bencana atau keberuntungan memiliki alasannya sendiri.

    Setelah mendengar semua ini, Niu Shumei berterima kasih kepada Dewa Pelindung dan meminta maaf atas apa yang ditulisnya dalam artikel tersebut.

    Manusia bisa memilih kebaikan atau kejahatan 

    Setelah terjaga, Niu pergi untuk memeriksa tiga keluarga yang diceritakan oleh Dewa Pelindung. Benar saja, dia menemukan keluarga wanita dan dokter itu, meskipun butuh sedikit usaha untuk menemukan wanita tua yang menjual kue beras goreng.

    Wanita tua memberi tahu kepada Niu bahwa dia memperlakukan orang dengan adil, dan ketika dia bertemu orang-orang yang sudah tua atau cacat, dia masih akan menjual kue dengan potongan harga.

    Dia juga memberi tahu Niu bahwa dua hari sebelum gempa terjadi, dia tiba-tiba memiliki lebih banyak pelanggan dan persediaan melebihi permintaan. Jadi dia dan cucunya menghabiskan malam itu membuat kue beras goreng untuk dijual pada hari berikutnya.

    Kemudian datanglah gempa bumi dan mereka berdua tertimbun di bawah reruntuhan rumahnya selama tiga hari sebelum mereka berhasil diselamatkan. Mereka bertahan dengan memakan kue beras selama tiga hari itu.

    Niu Shumei sangat terkejut mendengar cerita ini. Ia memahami bahwa ada sebab di balik sebuah kejadian. Orang jaman dulu percaya bahwa kebaikan mendapat pahala, kejahatan akan mendapat hukuman. (sumber: id.minghui.org)

    Catatan Penulis

    Terutama di Tiongkok, saat ini terjadi banjir, hujan badai, hama belalang, tanah longsor, flu babi, dan salah satunya yang paling parah dan membawa korban nyawa dan kerugian ekonomi yang tak terhitung di seluruh dunia adalah virus corona. 

    Kenapa semua bencana ini terjadi hampir bersamaan? Seperti halnya cerita gempa bumi di atas, ada sebab di balik sebuah kejadian. Tidak ada hal yang kebetulan. Hal ini berhubungan dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT). 

    Bila ingin memahaminya, harus melihat sejarah Partai Komunis Tiongkok (PKT). Bung Karno mengatakan “Jas Merah”, jangan sekali-kali melupakan sejarah.

    Setiap pilihan (mendukung kebaikan atau kejahatan) sangatlah menentukan

    Sejak tahun 1949, PKT mengambil alih Tiongkok dan menghancurkan budaya asli Tiongkok yang luhur. Sejak saat itu hingga hari ini, PKT melakukan berbagai revolusi berdarah, yang mengakibatkan kematian lebih dari 70 juta orang Tiongkok. Jadi, orang Tiongkok adalah korban dari PKT, seperti halnya orang Indonesia adalah korban dari PKI.

    @Falun Arts

    Tidak hanya itu, PKT yang atheis telah melakukan persekusi agama, seperti kepada Muslim Uighur, Buddhist Tibet, Gereja Rumahan dan praktisi Falun Gong. Bahkan praktisi Falun Gong diambil organnya hidup-hidup, sebuah kejahatan kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah.

    Apa hubungannya dengan bencana yang terjadi sekarang?

    Orang jaman dulu percaya bahwa kebaikan mendapat pahala, kejahatan akan mendapat hukuman. Dengan semua kejahatan PKT tersebut, bagaimana mungkin bisa lolos dari ganjaran? Sayangnya banyak orang yang tidak bersalah di Tiongkok juga terkena imbasnya hanya karena mereka percaya dan mendukung PKT.

    Sekarang ini, negara-negara yang terdampak parah oleh virus corona, adalah negara-negara yang “dekat” dengan PKT. Justru beberapa negara yang lokasinya dekat dengan Tiongkok, namun menolak PKT malah terdampak kecil oleh pandemi ini (Taiwan, Mongolia, Hong Kong). Banyak kota di dunia yang terdampak parah oleh pandemi ini punya hubungan ekonomi dengan PKT, seperti misalnya sebagai “sister city” (Banyak kota di Italia dan Eropa adalah sister city dari kota di Tiongkok. Italia juga adalah negara pertama di Eropa yang menandatangani One Belt One Road. Iran adalah sekutu PKT dalam bidang militer -Red).

    Pengambilan organ hidup-hidup di Tiongkok oleh PKT

    Ada sebuah daerah di Timur AS (New York) yang terdampak parah oleh pandemi. Bila dilihat, selama puluhan tahun, daerah ini menjadi pusat ekonomi yang memompa investasi ke Tiongkok (PKT). Investor AS yang tergiur oleh keuntungan ekonomi, menanamkan modalnya ke Tiongkok, dan memasarkan barang-barang murah Tiongkok ke AS. Namun tanpa sadar, mereka telah membantu PKT [secara tidak langsung] untuk melakukan kejahatan kemanusiaan  di atas selama puluhan tahun. Karena tanpa uang, tanpa kekuatan ekonomi, PKT tidak akan leluasa melakukan kejahatannya. Ada sebab, ada akibat.

    Sebuah ungkapan bijak jaman dulu

    Orang yang berteman dengan penjual minyak wangi akan kebagian wanginya. Orang yang berteman dengan pandai besi akan terkena apinya, atau setidaknya kebagian bau asapnya. Dengan siapa kita berteman, akan mempengaruhi hidup kita, seperti halnya negara-negara yang terdampak parah oleh pandemi tersebut. Mendukung atau menolak kejahatan bisa menentukan apa yang terjadi pada seseorang.

    Apa yang bisa kita lakukan?

    Jangan dekat-dekat dengan PKT, jangan berteman, bahkan dengan tegas perlu tolak PKT. Dengan ini mungkin ada harapan tidak terkena imbas perbuatannya. Sejumlah relawan di seluruh dunia saat ini sedang melakukan Tolak PKT berikut ini: Tandatangani Petisi Tolak PKT
    Untuk petisi dalam bahasa Indonesia, pilih (select language): Bahasa Indonesia

    Setelah tandatangan, jangan lupa untuk membagikan artikel ini ke teman, keluarga dan orang-orang di sekitar Anda. Satu kebaikan kecil bisa bermanfaat bagi banyak orang. (ntdindonesia/wid)

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

  • Tujuan Terakhir dari Paham Komunis (32): Babak Akhir Pertunjukkan 5000 Tahun

    Tujuan Terakhir dari Paham Komunis (32): Babak Akhir Pertunjukkan 5000 Tahun

    “Tujuan Terakhir dari Paham Komunis” (32)

    Kesimpulan

    Pertunjukan besar 5000 tahun sudah mendekati babak akhir, dan umat manusia sudah melangkah hingga titik terakhir. Roh jahat komunis di periode ini sedang mengaduk-aduk dunia manusia, telah menyebabkan bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah umat manusia. Selain secara langsung menyebabkan kematian ratusan juta orang lebih, yang lebih menakutkan lagi adalah, unsur-unsur paham komunis memenuhi dunia, ideologi komunis telah menyebar di seluruh dunia, sehingga hati manusia berubah menjadi jahat, secara langsung menentang Tuhan dan menolak-Nya, hal ini menyebabkan manusia di dunia kehilangan kesempatan terakhir untuk diselamatkan oleh Tuhan.

    Tuhan ingin menyelamatkan manusia, sedangkan roh jahat komunis ingin memusnahkan manusia. Momen sejarah ini sangat menentukan, karena ia terkait langsung dengan keberlangsungan peradaban dan nasib umat manusia; namun pada momen ini, krisis dan harapan eksis secara bersamaan, manusia yang berada di tengah “kesesatan”, sebaliknya sangat sulit melihatnya dengan jelas.

    Buku ini telah berulang kali menunjukkan bahwa, esensi dari paham komunis adalah sesosok roh jahat, ia terbentuk dari “Kebencian” dan materi sampah tingkat rendah dari alam semesta, wujudnya adalah seekor ular, bentuk manifestasinya di ruang dimensi permukaan adalah seekor naga merah. Dikarenakan ‘Kebencian’, ia telah membantai lebih dari seratus juta orang, dan merusak peradaban gemilang yang telah berumur ribuan tahun. Dikarenakan ‘Kebencian’, ia secara merajarela merusak moralitas umat manusia, membujuk manusia agar menjauhi dan mengkhianati Tuhan, untuk mencapai tujuan terakhirnya yakni memusnahkan manusia.

    ‘Kejahatan’ di permukaan tampil buas tak terkendali, juga karena banyak orang telah meninggalkan Tuhan, telah melonggarkan kekangan moralitas pribadi. Namun segalanya pasti berbalik arah ketika klimaks! Momen yang paling gelap, juga merupakan momen yang paling dekat dengan cahaya. Tuhan memiliki rencana sendiri terhadap sejarah dan masa depan. Tuhan sedang menanti manusia agar sadar kembali, janji Tuhan sedang ditunaikan. Waktu berlalu setiap menit setiap detiknya, tatanan lama dunia ini sedang berguguran, sedangkan tatanan baru sedang didirikan; kekuatan lama sedang terpukul mundur, sebaliknya kekuatan baru sedang melangkah ke depan panggung pertunjukkan sejarah.

    “Gunung Hijau Tak Dapat Disembunyikan, Sungai Akhirnya Bermuara ke Laut” [Xin Qiji]. Kejahatan tidak dapat menaklukkan Kebaikan, semua penampilan Kejahatan yang terlihat buas tak terkendali sebenarnya hanya sementara saja, segalanya berada dalam genggaman tangan Tuhan. Pada tahun 2004, “9 Komentar Mengenai Partai Komunis” yang diterbitkan oleh “Koran EpochTimes” telah membuka gelombang besar “3 Pemunduran” di Tiongkok, dan ratusan juta orang telah mundur dari organisasi partai, liga pemuda, pionir muda PKT. Ini adalah aksi penyelamatan diri rakyat Tiongkok untuk menghalau roh jahat komunis sang perasuk tubuh. Asalkan manusia berinisiatif melakukan “3 Pemunduran”, maka dalam sekejap Tuhan akan melenyapkan roh jahat yang merasuki tubuhnya, dengan demikian kehidupan ini akan menjadi bagian dari masa depan!

    *3 Pemunduran [Santui] atau biasa disebut juga Tuidang (退党) “mundur dari Partai” merupakan aksi publik untuk mundur dari Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan organisasi afiliasinya: Pionir Muda dan Liga Pemuda Komunis; Tuidang muncul tak lama setelah surat kabar Epoch Times edisi Cina [Dajiyuan] yang berbasis di New York, menerbitkan Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis pada Oktober 2004 — yang berisikan serangkaian editorial penjelasan sejarah dan ketiranian PKT yang disensor. https://en.tuidang.org/

    Bagi rakyat Tiongkok, asalkan dapat menggunakan watak hakiki yang baik hati untuk menaklukkan godaan dan jebakan roh jahat, serta membebaskan diri dari rel kereta iblis, maka orang-orang akan dapat melihat, bahwa gunung masihlah tetap gunung bangsa Tionghoa, air masihlah tetap air bangsa Tionghoa, negara masihlah tetap negara bangsa Tionghoa, namun rakyat Tiongkok sudah bukan lagi anak cucu Karl Marx dan Lenin yang dikuasai oleh roh jahat komunis, melainkan telah menjadi rakyat Tiongkok baru dalam arti yang sesungguhnya! Rakyat Tiongkok tidak hanya dapat memiliki kehidupan makmur yang dikaruniai Tuhan, tetapi juga dapat memiliki lebih banyak ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan; Tiongkok juga akan menjadi negara yang benar-benar kuat dan makmur, menikmati kekuatan dan keagungan yang dianugerahi oleh Tuhan, serta menciptakan kembali kegemilangan dalam sejarah. Langit Bumi Selamanya Padu, Tumbuh Berkembang Tanpa Henti.

    Dalam lingkup global, sudah dimulai pembersihan terhadap paham jahat komunis dan kembalinya umat manusia ke jalur tradisional.

    Mencerai-beraikan sepenuhnya partai jahat PKT, membersihkan unsur-unsur jahat Komunisme di seluruh dunia, serta secara menyeluruh meninjau kembali degradasi moral dan kerusakan masyarakat manusia dalam 200 tahun terakhir, telah menjadi prioritas utama umat manusia di hari ini. Meluruskan kembali hati manusia, memurnikan masyarakat manusia, kembali ke jalur tradisional, membangun kembali agama kepercayaan, merenungkan kembali hubungan dengan Tuhan, dan menjalin kembali ikatan dengan Tuhan, ini merupakan tanggung jawab setiap manusia, sekaligus merupakan harapan dari setiap manusia untuk memperoleh penyelamatan! Tuhan di satu sisi berbelas kasih namun juga memiliki kewibawaan! Tuhan sedang mengamati isi hati setiap manusia. Pilihan dan tindakan dari seorang manusia pada saat ini, akan menentukan masa depannya.

    Jika ingin kembali ke jalan yang ditunjukkan Tuhan, dan memperoleh penyelamatan dari Tuhan, maka harus secara menyeluruh mengungkap Tujuan Terakhir dari Paham Komunis, agar orang-orang yang tersesat dapat tersadarkan! Ini tepatnya merupakan cita-cita dasar dari penulisan buku ini.

    Selesai

    Untuk membaca bagian lain, silahkan klik di sini.

    Tonton di Youtube, silahkan klik di sini.

  • Tujuan Terakhir dari Paham Komunis (31): Pemandangan Akhir Zaman

    Tujuan Terakhir dari Paham Komunis (31): Pemandangan Akhir Zaman

    “Tujuan Terakhir dari Paham Komunis” (31)

    4. Pemandangan Akhir Zaman

    a. Kebudayaan Lubang Kotoran

    Ketika PKT menghancurkan Kebudayaan Tradisional, serentak juga mendorong agama negara yakni ajaran sesat komunis, untuk mencuci otak rakyat Tiongkok dalam lingkungan tertutup. Setelah era 1980-an, pintu negara telah dibuka, namun PKT tidak ingin menampilkan kebudayaan arus utama luar negeri kepada rakyat Tiongkok, sebaliknya malah banyak memperkenalkan hal-hal buruk dari Barat, Jepang, Hongkong dan Taiwan. PKT melalui blokade internet, satelit TV, dan media massa, telah mengendalikan apa saja yang boleh dilihat oleh rakyat Tiongkok, dan apa saja yang perlu dihalau ke luar. Kebebasan seks, gengster, gaya hidup mutan dari Barat dan lainnya, secara sengaja diperkenalkan masuk ke Tiongkok, ditambah dengan ‘Kebudayaan Partai’ PKT, sehingga berbagai “Kebudayaan” kotor dan menjijikkan mulai mengendap di dalam sebuah lingkup lingkungan yang saling menutupi. Hal ini telah menciptakan lingkup negara berbudaya partai, persis sebuah lubang kotoran yang sudah lama sekali tidak dibersihkan, yang masuk ke dalam semuanya adalah kotoran. Seiring berlalunya waktu, telah mengendap paham komunis fundamentalis, Kebudayaan Partai yang telah berubah bentuk akibat campuran dari sana-sini, berbagai hal sampah dalam kebudayaan sejarah Tiongkok yang sengaja dikumpulkan dan disebarkan oleh PKT, gaya hidup mutan dari Barat dan lainnya, benda-benda kotor ini seiring dengan lamanya waktu endapan dan fermentasi berubah menjadi semakin tebal, sehingga orang-orang makin sulit membebaskan diri.

    Kebudayaan lubang kotoran yang tertutup ini mempunyai daya korosif yang sangat kuat, hanya segelintir rakyat Tiongkok yang berkesempatan merasakan sendiri dunia luar, atau memahami fakta melalui berbagai cara lainnya, mereka ini relatif lebih sedikit tercemar. Mayoritas rakyat Tiongkok tidak akan bisa membebaskan diri dari kebudayaan lubang kotoran ini, selama bertahun-tahun sejak lahir hingga tumbuh dewasa, semuanya dipaksa untuk hidup dalam kebudayaan lubang kotoran ini, tidak bisa menyentuh masyarakat normal umat manusia dan Kebudayaan Tradisional yang sesungguhnya.

    Ini menyebabkan banyak orang Tiongkok dalam hal penilaian, kecerdasan, pemikiran hingga luasnya visi, tidak dapat keluar dari lingkup kebudayaan lubang kotoran ini. Tanpa adanya referensi dari nilai-nilai universal dan Kebudayaan Tradisional, menyebabkan banyak rakyat Tiongkok kehilangan kemampuan untuk membedakan benar dan salah serta keberanian untuk berpikir secara independen dari perspektif moralitas; segala pemikiran-perilaku-sistem nilai dan lainnya, semuanya menggunakan kriteria kebudayaan lubang kotoran ini sebagai referensi, sama sekali tidak tahu bahwa manusia masih memiliki cara hidup yang benar. Begitu mereka melangkah keluar dari pintu negara, ketika bertemu relawan yang mengungkap kejahatan PKT dan mendorong rakyat Tiongkok mundur dari partai – liga pemuda – pionir muda, mereka bahkan tidak dapat memahami motivasi dari para relawan ini, tidak percaya ada orang tanpa peduli nama-kepentingan, rela berjerih-payah bahkan dipandang hina oleh orang-orang hanya demi menyebarkan fakta kebenaran, dan semuanya ini berasal dari hati nurani dan keyakinan.

    Berbagai perilaku menjijikkan yang menempel di atas tubuh rakyat Tiongkok sekarang ini, secara masif dikarenakan sirkulasi berulang polusi dalam lingkungan kebudayaan lubang kotoran yang tertutup rapat hasil ciptaan PKT. “Jika Masuk ke Toko Ikan Asin, Lama-Kelamaan Tidak Akan Tercium Baunya.” [Kongzi Jiayu] Karena dalam waktu lama berada dalam lingkungan semacam ini, banyak orang sepenuhnya tidak sadar akan hal ini, bahkan menikmatinya, sama sekali tidak pernah terbayang kebudayaan masyarakat yang berbeda, apalagi berkeinginan untuk membersihkan dan menyingkirkan kebudayaan lubang kotoran PKT ini.

    *Kongzi Jiayu, diterjemahkan sebagai The School Sayings of Confucius atau Family Sayings of Confucius, adalah kumpulan ucapan dari Konfusius, yang ditulis sebagai suplemen untuk Analects [Lunyu]. (Wikipedia)

    b. Mayat Berjalan

    Selain menuntut siswa SD secara kolektif bergabung dengan pionir muda dan siswa sekolah menengah bergabung dengan liga pemuda, PKT juga menuntut anggota partai agar mereka tiada hentinya “mengingat kembali Sumpah Anggota Partai”. Juga artinya menuntut mereka “menyembah roh jahat”, bahkan harus terus menyembah, sampai mereka sepenuhnya menjadi “alat partai yang jinak”, yang tidak lagi memiliki watak hakiki manusia.

    Setelah PKT menghancurkan semua kepercayaan, serentak juga menjadikan Komunisme sebagai suatu kepercayaan, dan dicekok-paksa kepada rakyat Tiongkok. Namun Komunisme adalah sebuah ajaran sesat, setelah Era Reformasi dan Keterbukaan, dari anggota biasa hingga pimpinan partai sudah tak ada seorang pun yang percaya Komunisme. Kepercayaan tradisional telah digulingkan, topeng palsu Komunisme telah terbongkar, sehingga berbagai arus pemikiran masuk memanfaatkan celah yang ada, dan berhasil menduduki hati rakyat Tiongkok.

    PKT menggunakan kebijakan dan hukumnya untuk memerangi niat Bajik terakhir manusia yang hanya tersisa sedikit ini. Ada yang memiliki nurani ingin membantu orang tua dan anak kecil, bermurah hati menyumbang, berani menegakkan keadilan, namun dikarenakan rasa takut difitnah dan ditipu, sehingga lebih memilih memandang tapi tidak kelihatan, berpura-pura tuli. Hal ini telah menyebabkan banyak orang Tiongkok sekarang ini, bukan saja tidak memiliki sifat Ilahi, bahkan watak hakiki manusia pun sudah tidak punya.

    Selaku manusia selain mengejar kehidupan materi, juga memiliki kebutuhan alami terhadap kehidupan spiritual. Tidak peduli orang itu seperti apa, hidup di dunia ini pasti akan mengeksplorasi jawaban atas pertanyaan utama mengapa saya hidup, hingga jawaban tentang kehidupan, kematian, kebahagiaan, kemalangan dan lainnya. Manusia yang berada dalam masyarakat bebas, walau tidak memiliki agama dan kepercayaan, namun dengan pengejaran terhadap “kebebasan”, “keadilan”, dan nilai sekuler normal lainnya, juga dapat memenuhi sebagian dari kebutuhan spiritual manusia. Sebaliknya dalam masyarakat yang terputus dengan nilai tradisi dan mendapat tekanan berat politik, mata orang-orang ditutupi oleh kepalsuan, imajiner, dan kejahatan, kebutuhan spiritual orang-orang terpaksa berganti menjadi putus-asa dan kemerosotan. Akibatnya banyak orang hanya menjadi cangkang kosong yang berwujud manusia, yang tidak memiliki pemikiran dan perilaku, juga etika-moral layaknya seorang manusia. Orang semacam ini, pantas disebut dengan “Mayat Berjalan”.

    Ini bukanlah “persoalan pembangunan”, lebih-lebih tidak bisa “diselesaikan dengan pembangunan lebih lanjut”; tapi ini adalah konspirasi roh jahat dalam memusnahkan umat manusia secara keseluruhan.

    c. Mentalitas Akhir Zaman

    Sebuah bangsa yang dalam hatinya tidak menaruh harapan dan sepenuhnya kehilangan kepercayaan terhadap Tuhan, bangsa yang tidak mengharapkan dan mengejar kebaikan hati dan keadilan, merupakan bangsa yang sedang melangkah ke arah kemusnahan. Segenap lingkungan sosial Tiongkok zaman sekarang adalah mengagungkan kejahatan dan menolak kebajikan. Meskipun beberapa orang berkumpul bersama, juga tak ada yang berani mengaku dirinya percaya Tuhan, karena takut akan ditertawai, ditolak, diserang oleh orang lain.

    Rakyat Tiongkok yang sudah tidak memiliki kepercayaan spiritual, mulai secara gila-gilaan menyembah emas dan uang, sehingga Fetisisme pun menjadi agama baru. Ribuan hingga jutaan anak muda menjuluki idola mereka dengan sebutan “Tuhan” [God]. Di konser beberapa “Selebriti”, para pengemar dan “fans” seperti orang mabuk, tergila-gila, dan menangis tersedu-sedu. Ada penyanyi dan bintang film yang moralnya telah rusak, namun malah disembah layaknya sosok Tuhan. Ada sejumlah anak muda yang tidak ragu menghabiskan uang, ke mana-mana mengejar idolanya. Ketika orang-orang terbiasa memanggil idola sexy pujaan mereka dengan sebutan “Tuhan”, saat anda memberitahu dia bahwa “Tuhan telah datang”, kira-kira apa komentar dia?

    Selain secara gila-gilaan mengejar uang dan materi, banyak orang juga dipenuhi sifat bobrok, putus asa, pembangkang yang mencengangkan. Mereka kecanduan alkohol, narkoba, judi, seks bebas; sibuk dengan game online dan media sosial; terlena oleh novel fantasi-horor-supranatural; sehingga mereka terlihat kacau balau dan kurang waras, karena kegilaan dan kekacauan telah menempati celah kekosongan dunia spiritnya.

    Pejabat tinggi PKT juga menganut mentalitas akhir zaman yang destruktif semacam ini. Zhu Chenghu selaku dekan PLA National Defence University mengancam: “Jika Amerika mengintervensi perang Selat Taiwan, Tiongkok akan ‘terlebih dulu’ menggunakan senjata nuklir, agar ratusan kota di Amerika menjadi rata dengan tanah, walau kota Xi’an hingga ujung timur Tiongkok harus mengalami kehancuran juga tiada keraguan sedikit pun”. Dalam pidato internal dia lebih meledak-ledak lagi: “PKT harus menimbun senjata nuklir, untuk memusnahkan separuh populasi umat manusia”. Tentu saja, yang dimaksud “tiada keraguan sedikit pun” adalah mengorbankan nyawa rakyat Tiongkok. Karena begitu ada perang nuklir, mereka dapat bersembunyi dalam bunker nuklir yang telah dipersiapkan jauh hari untuk mereka sendiri.

    *Komentar Zhu Chenghu saat wawancara dengan Reporter Wall Street Journal ini sekaligus mematahkan kebijakan senjata nuklir Tiongkok sendiri, yakni ‘No First Use’ policy.

    Mentalitas akhir zaman yang menguasai seluruh masyarakat telah menyebabkan ketidak-pedulian serius terhadap nyawa kehidupan, ini termasuk ketidak-pedulian Zhu Chenghu terhadap nyawa kehidupan orang lain, juga termasuk ketidak-pedulian banyak orang terhadap nyawa kehidupan diri sendiri. “Hanya berharap melewati hari saja”, “setelah melewati hari ini tiada hari esok”, “nikmati hidup selagi bisa”, “setelah dahaga terpuaskan boleh mati”, mengejar kesenangan duniawi tanpa batas di tengah keputus-asaan akhir zaman. Insiden keji yang terekspos pada akhir November 2017 yakni kekerasan anak di taman kanak-kanak Beijing yang mengundang kemurkaan publik, hanyalah salah satu refleksi dari mentalitas semacam ini.

    d. Tiada Kesempatan untuk Diselamatkan

    Sekarang ini banyak orang tidak mengenal Kebudayaan Tradisional Tiongkok, juga tidak mengetahui sejarah Partai Komunis Tiongkok. Mereka tidak memiliki kebudayaan, tidak mengerti sejarah, tidak mementingkan moral, tidak memiliki konsep benar-salah, tidak percaya eksistensi Tuhan, dalam otak hanya ada uang-kekuasaan-nafsu keinginan. Ketika membahas Tuhan dengan mereka, mereka akan merasa anda sudah terlalu basi. Bahkan ketika utusan Tuhan menggunakan kata-kata Bajik untuk menyadarkan mereka, mereka juga tidak akan percaya.

    Tuhan menciptakan manusia, bahkan telah menetapkan kriteria selaku seorang manusia. Jika telah kehilangan kriteria ini, di mata Tuhan tidak lebih hanyalah sesosok ‘Mayat Berjalan’ yang berwujud manusia, sama sekali tidak layak disebut manusia lagi. Roh jahat komunis justru ingin menginjak-injak martabat manusia, sekarang ini banyak sekali orang Tiongkok yang telah dimutasi oleh PKT hingga sudah tidak mirip manusia lagi, dan Tuhan pun sudah tidak menganggap orang semacam ini sebagai manusia. Tanpa adanya berkat dari Tuhan, manusia akan jatuh terdegradasi ke bawah dengan cepat, hingga pada suatu hari, ketika manusia sudah sepenuhnya tidak layak lagi, maka dengan terpaksa harus dihancurkan.

    Ini sungguh sangat berbahaya!

    ******

    Roh jahat komunis adalah terbentuk dari “Kebencian”, di tengah operasi jangka panjangnya, ia telah menanamkan selapis materi “Kebencian” ke dalam tubuh rakyat Tiongkok. “Kebencian” ini menghasilkan kekerasan, pembantaian, dan segala macam sifat keji. Hanya dengan pemulihan hati nurani dan watak hakiki manusia, barulah ada harapan untuk menyingkirkan materi “Kebencian” ini.

    Demi memusnahkan seluruh umat manusia, partai komunis telah merusak Kebudayaan Tradisional bangsa Tionghoa, mengubah manusia menjadi ‘Bukan Manusia’, dan sebuah negara yang pernah memiliki peradaban tinggi nan gemilang diubah menjadi negara yang bukan negara lagi.

    Tuhan berbelas kasih kepada manusia. Semua kehidupan berasal dari dunia Langit yang indah, Tuhan tidak berkenan melihat mereka dihancurkan begitu saja, ini sebabnya terus-menerus memberikan seruan penuh belas kasih. Yang dapat memahami fenomena Langit dan menyadari belas kasih Tuhan, barulah dapat melihat harapan untuk memperoleh penyelamatan.

    Cerai-beraikan PKT, singkirkan sepenuhnya segala bentuk manifestasi paham komunis di dunia, kembalilah ke jalur tradisional, pertahankan kebaikan dalam lubuk hati, dengan demikian semua kehidupan barulah memiliki harapan! (Bersambung)

    Untuk membaca bagian lain, silahkan klik di sini.

    Tonton di Youtube, silahkan klik di sini.

  • Tujuan Terakhir dari Paham Komunis (30): Menggunakan “Kebencian” untuk Mendirikan Negara

    Tujuan Terakhir dari Paham Komunis (30): Menggunakan “Kebencian” untuk Mendirikan Negara

    “Tujuan Terakhir dari Paham Komunis” (30)

    Bab 6. Menggunakan “Kebencian” untuk Mendirikan Negara (Akhir)

    3. Negara PKT Pasti Menjadi Dunia Serigala

    a. Sepuh Namun Tidak Terhormat

    Kongzi [Konfusius] berkata: “……ketika berumur 50, memahami Mandat Langit; ketika berumur 60, telinga patuh dengan kebenaran; ketika berumur 70, tindakan mengikuti hati tanpa melampaui batas”. [Wei Zheng, Analects] Lansia tradisional di Tiongkok, terkenal bijaksana dan berpengalaman; juga gagah dan murah hati, merupakan kelompok yang paling dihormati orang-orang dalam masyarakat.

    *…At fifty, I knew the decrees of Heaven. At sixty, my ear was an obedient organ for the reception of truth. At seventy, I could follow what my heart desired, without transgressing what was right; Wei Zheng, The Analects, Confucianism.

    Kaisar Kangxi Dinasti Qing pernah dua kali mengadakan perjamuan seribu sesepuh di Taman Changchun dan Istana Qianqing, untuk menjamu ribuan tamu pejabat sipil dan militer dari etnis Mongol – Manchuria – Han juga pensiunan pejabat yang semuanya berusia di atas 65 tahun. Dalam dua kali perjamuan di Istana Qianqing, Kangxi bersulang untuk para sesepuh yang hadir dalam perjamuan, para pangeran dan cucu kaisar ikut berdiri dan menyaksikan, bahkan menuangkan arak kepada para sesepuh. Untuk memperingati dua kali pertemuan megah ini, Kaisar Kangxi secara spontan menciptakan sajak “Perjamuan Seribu Sesepuh”, bahkan memerintahkan para pejabat “mencatat sejarah ini dalam sajak”.

    Sebaliknya hari ini, banyak perilaku para lansia yang sering membuat orang-orang mengerutkan dahinya. “Tarian Plaza” – “Grup Penerobos Jalan” mengganggu warga sehingga dikecam di mana-mana sudah bukan berita baru lagi. Bulan Juni 2017, para orang tua Tarian Plaza di Luoyang bertengkar memperebutkan lapangan basket dengan anak muda, dan tanpa ragu melayangkan pukulan ke arah anak muda pemain basket di sana. Berbagai macam dan bentuk muslihat “Tabrakan Rekayasa (Pemerasan)”, jurusnya tumbuh subur bermekaran, sang korban pemerasan sulit mengungkap ketidakadilan ini, hanya dipendam saja, sehingga tercipta fenomena aneh masyarakat “Tak ada yang berani bantu lansia” – “Tak ada yang berani lindungi anak kecil.” Ada seorang lansia sengaja menabrakan diri ke mobil, ingin memeras memperoleh kompensasi, bahkan dengan penuh percaya diri berkata, “Saya kan sudah tua!” Maksudnya adalah dirinya sudah berusia lanjut, sudah tidak sanggup mengerjakan hal lain, demi memperoleh uang maka melakukan hal jahat seperti ini, diri sendiri masih merasa ini sangat berdasar. Seorang lansia, dalam sebuah kereta di Xi’an, dikarenakan seorang gadis tidak mau memberikan tempat duduknya, dengan gilanya menaruh pantatnya duduk di atas tubuh gadis tersebut. Di sejumlah kota bahkan telah muncul pemandangan memuakkan para orang tua ramai-ramai melacur di tempat terbuka.

    *Tarian Plaza atau square dancing, plaza dancing; fenomena ibu-ibu lanjut usia berjoget dengan musik modern di lapangan. Sedangkan Grup Penerobos Jalan merupakan fenomena sekelompok orang tua berjalan di jalan raya diiringi lagu dan spanduk tanpa menghiraukan lalu lintas”.

    Ada orang dengan nada ejekan berkata: “Bukan orang tua yang telah berubah jahat, melainkan penjahat yang telah berubah menjadi tua.” Persoalan semacam ini mutlak bukanlah kebetulan. Beberapa generasi yang lahir setelah PKT berkuasa, secara bertahap telah memasuki usia lanjut. Era ketika mereka tumbuh dewasa, tepatnya adalah era ketika PKT berkali-kali meluncurkan gerakan politiknya. Orang-orang ini selain tidak pernah memperoleh didikan Kebudayaan Tradisional, mereka juga diindoktrinasi oleh teori Pertarungan Kelas [class struggle] PKT, dalam tulang mereka telah tertanam “Kebencian” roh jahat. Mereka mengalami sendiri apa itu Pukul-Rusak-Rampok semasa Revolusi Kebudayaan, ada sejumlah orang dulunya adalah “Tentara Cilik Merah” – “Pengawal Merah”. Berbagai macam tindak-tanduk mereka yang biadab, tidak lebih hanyalah kelanjutan dari pola perilaku yang dikembang-biakkan oleh PKT di masa muda mereka.

    b. Anak Kecil yang Culas dan Dewasa Sebelum Waktunya

    Banyak anak kecil Tiongkok, di bawah pengaruh buruk kepala keluarga dan masyarakat, telah menampilkan kedewasaan sebelum waktunya yang tidak sepadan dengan umur. Mereka apa pun mengerti, bahkan sangat culas. Ada anak kecil yang berkata secara blak-blakan: “Setelah tumbuh dewasa ingin jadi pejabat korup.”

    Di sebuah tayangan TV ada sepotong dialog antara anak kecil dan orang dewasa. Putra dari mantan kepala biro anti korupsi, yang masih sekolah dasar, berkata bahwa saat pelajaran olahraga bila ingin bermain sepakbola maka harus menyuap, tapi setelah menyerahkan uang, bahkan posisi pemain cadangan pun tidak dia peroleh, sehingga kesal bukan main. Dia sendiri juga punya jalan untuk menghasilkan uang, bila teman sekelas ingin menyontek PR-nya, setiap kalinya dia akan memungut 5 Yuan, ketika kondisi pasar kurang bagus, hanya memungut 3 Yuan saja. Umur yang masih sangat muda, namun sudah memiliki persepsi kehidupan yang sepenuhnya tidak sesuai dengan kepolosan seorang anak kecil ——– “Tanpa keluar uang tidak akan membereskan masalah, sekarang ini semuanya demikian.” Ini adalah isi cerita dalam drama TV, agar tidak merusak “Tema Propaganda” PKT, maka refleksi dari sisi gelapnya sangatlah terbatas, namun kisah nyatanya jauh lebih parah dari ini.

    *Tanpa keluar uang tidak akan membereskan masalah, sekarang ini semuanya demikian; merupakan kutipan dalam drama TV Cina 2017 berjudul In the Name of the People, sekaligus merupakan refleksi kehidupan di Tiongkok saat ini.

    Pertunjukan dan nyanyi seorang anak muda berumur 14 tahun sangat populer di internet, “pertunjukannya” tidak senonoh dan vulgar, netizen berkomentar bahwa pertunjukannya “seratus persen berbau busuk”. Semua orang normal yang telah melihat “pertunjukannya”, akan merasa mual dan muak. Usia 14 tahun, seharusnya murni dan tak dibuat-buat, merupakan usia pertumbuhan tubuh dan menimba ilmu, namun sebaliknya telah diinjak-injak hingga tidak seperti manusia. Yang paling menakutkan adalah, pertunjukan tak senonoh semacam ini sangat diminati orang-orang, membuat orang tidak tahan melihatnya! Baru-baru ini platform siaran langsung internet di daratan telah muncul adegan murid SD dan anak-anak bawah umur membuka pakaian dan melakukan siaran telanjang. Seorang anak SD yang mengaku lahir tahun 2005, dalam dialog dengan investigator Wechat mengaku, dia [gadis] melakukan siaran telanjang bukan demi uang, namun karena ingin “bersenang-senang”; dia bahkan berkata dengan bangga, dalam kelompoknya, fans dia adalah yang paling banyak.

    “Butuh 10 Tahun Menumbuhkan Pohon, Butuh Ratusan Tahun Membangun Manusia” [Guanzi]. Kebiasaan masyarakat yang didorong oleh pengejaran materi dan racun PKT, telah menghasilkan berjuta-juta anak muda semacam ini, lalu siapa yang mampu menghapus konsekuensi buruk ini?

    c. Moralitas Seksual Berguguran

    Kesucian dari moralitas seksual [sexual morality], hubungan lazim suami istri, adalah bagian penting dari jalan hidup manusia yang ditentukan Tuhan. Dalam “Zhong Yong” tertulis: “Jalan Seorang Budiman, Dimulai dari Hubungan Suami Istri, Ketika Sampai Puncaknya, Menerangi Langit dan Bumi.” Sebaliknya kekacauan hubungan seksual, merupakan pertanda awal jatuhnya sebuah negara.

    *The way of the superior man may be found, in its simple elements, in the intercourse of common men and women; but in its utmost reaches, it shines brightly through heaven and earth; Zhong Yong, Konfusianisme.

    Jatuhnya Kekaisaran Romawi [Roman Empire 27 SM-476 M], dan hancurnya kota kuno Pompeii, sangat besar kaitannya dengan runtuhnya moralitas seksual. Dalam Alkitab mencatat dua kota Sodom dan Gomora yang dihancurkan oleh Tuhan, juga dipenuhi oleh hal cabul dan asusila. PKT selama tiga dekade awal, mempromosikan Asketisme kepada masyarakat, namun para kader pimpinan tingkat tinggi malah berperilaku seksual kacau balau. Menurut laporan, perempuan yang pernah jadi mainan Mao Zedong mencapai angka ribuan.

    Setelah era 1980-an, meskipun dalam hal politik PKT masih menggenggam dengan erat, namun dalam domain kehidupan pribadi malah sengaja melonggarkan degradasi moral rakyat. PKT tahu dengan jelas, ketika rakyat berhasil diubah jadi individu yang egois – dingin – serakah – cabul, maka mereka tidak akan tertarik dan tidak berdaya untuk peduli urusan domain publik, dengan demikian PKT bisa dengan bebas bermain-main. Pejabat partai yang memiliki istri ke-2 dan simpanan sudah tak perlu dibahas lagi, rakyat jelata juga ikut berkonstribusi mendorong arus atas terjadinya keruntuhan moralitas seksual. Berbagai macam dan jenis tempat hiburan erotis bermekaran di mana-mana, pelacuran terselubung banyak bertebaran. Panti pijat – basuh kaki – salon – clubhouse …… di seluruh dunia tidak ada satu negara pun yang memiliki begitu banyak macam tempat hiburan erotis. Menurut statistik, pelacur Tiongkok mencapai angka 20 juta orang, dan 4 juta di antaranya merupakan pelacur profesional. Apa yang disebut situs web portal di Tiongkok, bahkan situs web pemerintah PKT seperti Xinhua News dan People’s Daily, tulisan provokatif serta gambar dan video seksi mencolok dapat ditemukan di mana saja, ingin menghindar pun tidak bisa.

    Demi merefleksikan tingkat kebusukan kehidupan seksual pejabat PKT sekarang, netizen pernah mengadakan kompetisi penghargaan untuk menyindir para pejabat Tiongkok yang beristri banyak, bahkan telah memilih 9 kategori pemenang, seperti penghargaan jumlah simpanan terbanyak, penghargaan wanita simpanan berbudaya terbaik, juga masih ada penghargaan akademis, awet muda, kemampuan manajemen, menghamburkan uang …. birokrasi PKT yang tak kenal rasa malu, dapat terlihat jelas dalam hal ini.

    Dengan kendali ketat dan ekstrem PKT terhadap masyarakat, bila sungguh ingin ‘Menyapu Pornografi’, maka mutlak tidak mungkin membiarkan hal erotis membanjir hingga sedemikian rupa. Satu-satunya penjelasan adalah, runtuhnya moralitas seksual orang Tiongkok, justru merupakan kebijakan yang ditetapkan oleh PKT, sekaligus merupakan jurus utama roh jahat komunis dalam memusnahkan manusia di saat terakhir.

    Menurut sejarawan, kekacauan seksual masyarakat dan orang Romawi yang bergelimang nafsu merupakan salah satu penyebab utama hancurnya Kekaisaran Romawi Kuno. Kekacauan seksual masyarakat Tiongkok dalam segala aspek jauh melebihi Romawi Kuno. Beberapa tahun terakhir tingkat perceraian di beberapa kota besar bahkan melampaui angka 50%. Membanjirnya penyakit seksual dan AIDS, merupakan konsekuensi langsung dari arus kebebasan seksual. Dikarenakan pemerintah menutup-nutupi, maka dunia luar hanya bisa memahami puncak dari gunung es. Bertambahnya konsekuensi sosial yang diakibatkan oleh kekacauan seksual semakin menenggelamkan masyarakat Tiongkok.

    d. Semua Bidang dan Profesi Mengalami Degradasi

    Ada sebuah pepatah yang dikenal luas, dalam masyarakat normal ada 3 golongan manusia yang tidak boleh terdegradasi: pertama adalah guru, kedua adalah dokter, ketiga adalah hakim. Guru berperan mengajar dan mengedukasi orang-orang, memberitahu generasi selanjutnya bagaimana membedakan benar salah, baik jahat, indah buruk; dokter berperan menolong dan menyembuhkan pasien; hakim berperan menyokong dan menegakkan keadilan. Tiga macam profesi ini semuanya memerlukan tingkat keimanan dan integritas pribadi, kerusakan mereka akan membuat tubuh organ masyarakat membusuk secara besar-besaran.

    Sebenarnya, kesehatan organ tubuh masyarakat tidak hanya terkait dengan 3 profesi ini saja. Karena PKT telah memonopoli seluruh sumber daya masyarakat, maka moralitas dari seluruh entitas masyarakat terseret jatuh melampaui batas. Korupsi sistematis yang mencengangkan serta pemerintahan bergaya berandal, menjadikan para pejabat PKT sebagai lembaga paling cacat dalam sejarah umat manusia. Hakim secara terbuka menyatakan di pengadilan: “Kamu tidak usah bahas hukum dengan saya!” Guru yang seharusnya menjadi teladan, malah bersikap cabul dan memperkosa muridnya; cendekiawan dan ilmuwan yang seharusnya mendorong perkembangan masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan umat manusia dengan penelitian objektif netral, malah memanfaatkan kepercayaan publik terhadap gelar akademis, mengkhianati hati nurani, dan berbuat jahat untuk membantu tirani. Dokter yang tadinya disebut “malaikat berjubah putih” malah telah menjadi iblis pembunuh yang meraup uang dari panen hidup organ manusia.

    Contohnya kaum intelektual yang dianggap “nurani masyarakat” [social conscience], tingkat moralitas mereka sudah seharusnya mewakili kalangan atas dari masyarakat ini. Namun, domain akademis sebaliknya malah menjadi area yang dirusak paling parah akibat korupsi dan pemalsuan. Tenggelamnya moralitas di domain akademis, boleh dikatakan telah menutup jalan orang Tiongkok untuk melakukan inovasi teknologi. Pada bulan Maret 2015, di antara 43 makalah palsu yang dicabut oleh BMC Publishing Inggris, ada 41 makalah yang berasal dari ilmuwan Tiongkok; pada bulan Agustus 2015, penerbit ilmiah terkenal Springer Nature mencabut 64 makalah, semua makalah ini semuanya berasal dari Tiongkok; Pada bulan Oktober 2015, penerbit ilmiah terkenal Elsevier mencabut 9 makalah ilmiah dari 5 jurnal, yang seluruhnya berasal dari Tiongkok. Pada tanggal 20 April 2017, Springer Nature secara sekaligus mencabut 107 makalah asal Tiongkok yang diterbitkan dari tahun 2012 hingga 2016 di bawah naungan majalah “Tumor Biology”, artikel-artikel ini dicurigai sebagai ‘penelaahan sejawat ilmiah palsu’ [fake peer review], juga berarti ada penipuan akademis yang teroganisir dan tersistematis.

    *Penelaahan sejawat ilmiah (juga dikenal sebagai ulasan sejawat ilmiah atau perwasitan) adalah proses penilaian karya ilmiah, penelitian, atau ide-ide seorang penulis di bawah pengawasan orang lain yang ahli di bidang yang sama, sebelum makalah yang menjelaskan karya ini diterbitkan dalam jurnal, prosiding konferensi atau sebagai sebuah buku. (Wikipedia)

    Di Tiongkok hari ini mendadak telah muncul sejumlah “profesi” yang tak pernah ada dalam sejarah, “Tabrakan Rekayasa” yang disinggung di sebelumnya hanyalah salah satu di antaranya yang relatif rendahan. Pada bulan Juli 2017, lulusan Northeastern University yakni Li Wenxing, terjebak dalam perangkap MLM dan meninggal di Tianjin, di usianya yang hanya 23 tahun. Kasus ini menyita perhatian publik, semakin banyak perangkap MLM garis keras muncul ke permukaan. Penipuan telepon, penipuan keuangan, mengeruk uang dengan menggunakan anak yang diculik dan dibuat cacat untuk mengemis, pengemis profesional dengan kode QR, mengemis dengan mesin EDC, membunuh orang untuk transaksi organ, dan berbagai kejahatan lainnya, banyak bukan main, orang-orang dibuat pucat karena mendengarnya.

    *Para pengemis profesional di Tiongkok memiliki QR code, jika ingin memberi uang cukup dengan scan kode QR saja; begitu juga mesin EDC, tinggal gesek saja jika ingin memberi uang ke pengemis.

    e. Rusak Otak Kolektif secara Periodik

    Setelah tahun 1989, demi membenahi krisis pemerintahannya yang bersifat periodik, PKT kembali mengulangi cara-cara lamanya, yaitu menciptakan musuh, memprovokasi massa ‘Bertarung’ melawan massa, menghasut “Kebencian” yang ditanamkan oleh roh jahat ke dalam tubuh rakyat Tiongkok, memprovokasi xenofobia dan sentimen anti-asing. Sebagai contoh, pada tahun 1999 dengan memanfaatkan insiden pengeboman kedubes Tiongkok di Yugoslavia, diluncurkanlah gelombang besar anti-Amerika; pada tahun 2005 anti-Jepang; pada tahun 2008 anti-Prancis; pada tahun 2012 anti-Jepang; pada tahun 2017 anti-Korsel. Anak muda dalam jumlah besar diprovokasi, bahkan di bawah dorongan terorganisir dari akar rumput PKT dan institusi agen khusus, menyerbu ke jalanan untuk Pukul-Rusak-Rampok-Bakar, menghancurkan mobil bermerk Jepang dan Korsel milik warga Tiongkok sendiri, mengepung supermarket Prancis, dan menghancurkan KFC.

    Orang-orang ini disebut sedang “Kumat Psikosis Patriotik”, media Hongkong menjuluki kelompok yang suka ricuh dan mudah memaki orang “pengkhianat” ini sebagai “Pengawal Merah Internet”, dan menyindir PKT “akhirnya melahirkan Gu” [serangga berbisa legendaris].

    Yang paling konyol dan menggelikan adalah, demi terus memegang kendali opini publik di era internet ini, PKT telah memelihara banyak sekali apa yang disebut “personel komentar internet” atau “pengarah sentimen publik”. Karena beredar kabar setiap kali melakukan posting memperoleh 50 sen [RMB], maka orang-orang ini dijuluki “pasukan 50 sen [Wumao].” Yang selangkah lebih maju dibanding Wumao adalah “Zi Gan Wu” [Wumao Ransum Sendiri] yaitu pasukan 50 sen yang tidak menerima gaji dan membawa ransum sendiri”. Dalam beberapa tahun terakhir bermunculan sebuah kelompok baru muncul lagi, yaitu para netizen muda yang secara membabi buta melindungi PKT, dan dijuluki “si cilik merah jambu”.

    Sejumlah anak muda yang menyedihkan ini, telah ditanamkan “Kebencian” oleh PKT, telah dicekoki ramuan penghilang sukma, juga tidak bisa melihat semua fakta di luar dinding merah, dan terpaksa harus menerima “Rusak Otak Kolektif” dan kumatnya “Psikosis Patriotik” secara periodik. (Bersambung)

    Untuk membaca bagian lain, silahkan klik di sini.

    Tonton di Youtube, silahkan klik di sini.

  • Tujuan Terakhir dari Paham Komunis (29): Meracuni dengan Bahasa dan Perilaku Partai

    Tujuan Terakhir dari Paham Komunis (29): Meracuni dengan Bahasa dan Perilaku Partai

    “Tujuan Terakhir dari Paham Komunis” (29)

    B. Bahasa

    i. Kosakata Vampir

    Buku “Mencerai-beraikan Kebudayaan Partai” [Dissolving The Culture of CCP] pernah secara sistematis menganalisis kondisi banjirnya kata-kata partai di bawah pemerintahan PKT, seperti saling memanggil “Kamerad”, juga ada kosakata klise ala partai, yang menopang operasi jangka panjang medan iblis Kebudayaan Partai, seperti:

    1) Spirit Kongres, haluan, laporan pemahaman dan ideologi —- merupakan cara ajaran sesat PKT mengendalikan jiwa;

    *Menyampaikan dan menguasai “Spirit Kongres XXX”; menyatukan “pemahaman”; pantang mundur mengikuti “haluan”; “laporan pemahaman dan pemikiran” merupakan bentuk inspeksi rutin terhadap anggota partai; ini semua merupakan trik PKT dalam mengendalikan jiwa rakyat Tiongkok

    2) Pemimpin tertinggi, unit kerja, organisasi, catatan arsip, investigasi politik, ‘Hukou’, —- merupakan bentuk pemantauan ketat terorganisir;

    *”Pemimpin Tertinggi” telah dipakai secara luas dalam hidup sehari-hari, bahkan dianggap sebagai istri di rumah, contoh “Hal ini harus didiskusikan dulu dengan ‘Pemimpin Tertinggi’ di rumah”; setiap orang Tiongkok dipaksa hidup bergantung pada “unit kerja”; dan dalam “unit kerja”, setiap orang memiliki catatan sejarah hidup yang disebut “catatan arsip”; “investigasi politik” adalah proses yang erat berkaitan dengan “catatan arsip”, dimana “Pemimpin Tertinggi” boleh mengakses riwayat seseorang di masyarakat; perwakilan PKT yang ditempatkan untuk mengawasi “unit kerja” disebut “organisasi”; sedangkan “Hukou” adalah sistem registrasi rumah tangga agar tercatat dalam sistem kendali PKT; ini semua merupakan bentuk pemantauan PKT terhadap rakyat Tiongkok.

    3) Propaganda, implementasi, eksekusi, himbauan, pekerja teladan, kelas elit, perwakilan, komite —- merupakan struktur hierarki organisasi yang super ketat;

    *Kehendak partai adalah yang paling tinggi, oleh sebab itu orang-orang tidak boleh mendiskusikannya, hanya boleh “propaganda”, “implementasi”, “eksekusi”; meskipun PKT menyebut dirinya pelayan rakyat, namun kebijakannya sama sekali tidak memberi manfaat kepada orang-orang. Oleh sebab itu dibutuhkan “himbauan” untuk menjalankan kebijakannya; dan orang yang tidak punya kebebasan berpikir dan melaksanakan himbauan PKT dengan baik, disebut “pekerja teladan”; di atas unit kerja ada namanya “kelas elit” unit kerja, di atas pemimpin tertinggi ada namanya “kelas elit” pemimpin tertinggi, yang paling tinggi adalah Komite Sentral; bagi kelas rendah di bawahnya, kelas elit merupakan “perwakilan” dari partai; sedangkan “Komite XXX” merupakan entiti khusus di bawah arahan langsung pimpinan puncak PKT; ini semua adalah struktur hierarki yang diawasi ketat.

    4) Berjuang, inspeksi diri, bertarung, ‘mengkritik dan kritik diri’ —- memprovokasi Pertarungan demi mengisi-ulang daya “Partai”.

    *Dalam budaya partai, rakyat Tiongkok tanpa sadar menganggap perjuangan sebagai hal lazim dalam hidup. Contoh ketika orang mencoba melakukan sesuatu, mereka sering berkata ‘Berjuang’ untuk…., setelah ‘Berjuang’ sekian tahun, akhirnya saya….; “inspeksi diri”, “mengkritik dan kritik diri” merupakan muslihat PKT untuk memprovokasi “Bertarung”. “Inspeksi diri” dan “kritik diri” PKT tentu saja berbeda dengan budaya tradisional. “Inspeksi diri” dan “Kritik diri” PKT artinya “Bertarung”, tujuannya adalah agar bertarung menyatukan pemikiran, bertarung menyingkirkan orang yang tidak sepakat.

    Dari TK hingga sekolah dasar – sekolah menengah – sekolah tinggi, orang Tiongkok sejak kecil sudah terbenam dalam kata-kata partai. Siswa SD ketika menulis karangan harus menulis “Selendang Merah selamanya melangkah bersama partai”, “Saya mencintai partai XX”, “patuh dengan kata-kata partai, melangkah bersama partai”, terus berlanjut hingga dewasa masih harus menulis laporan hasil pemahaman studi “Kongres Nasional XX”. Cobalah jalan-jalan di jalan besar dan gang kecil Tiongkok, dari era Yan’an hingga “Memasuki Era Baru”, lagu merah dari berbagai era masih digaungkan di mana-mana.

    *Selendang Merah atau Red Scarf; sebutan anggota Pionir Muda PKT

    Ada orang mungkin saja tidak setuju, merasa bahwa era telah berubah, manusia zaman sekarang walaupun masih menggunakan istilah bahasa ini, juga sudah tidak tulus mempercayainya. Namun masalahnya terletak pada: walaupun tidak tulus mempercayai, namun mutlak kebanyakan orang masih menggunakan istilah bahasa ini! Ini menjelaskan bahwa: kata-kata partai telah merasuki bahasa kalangan rakyat, sama seperti sebuah tumor ganas, yang tumbuh makin besar, orang yang dirasuki olehnya bahkan bertukar posisi menjadi tergantung pada tumor ganas ini, sehingga sudah tidak mungkin memotong dan menyingkirkannya.

    ii. Isi Mulut Semuanya Palsu

    Jadi orang haruslah berprinsip pada kejujuran. PKT mengandalkan kekerasan dan tipu muslihat untuk mempertahankan kekuasaannya, berkata bohong adalah bakat esensial dan keahlian khusus para pejabat PKT. Setelah pembantaian Tiananmen 4 Juni, sang juru bicara ketika menghadapi pertanyaan wartawan dalam dan luar negeri, berkata dengan muka datar dan santai: “Lapangan Tiananmen tidak mati satu orang pun.” Satu dekade kemudian, ketika PKT mengerahkan seluruh kekuatan negara untuk menganiaya Falun Gong, juru bicaranya kembali berkata dengan penuh sesumbar: “Situasi HAM Tiongkok sedang dalam periode terbaik sejarah.”

    Anak kecil sejak kecil sudah diajari berbohong, pelajaran politik, sejarah, literatur dan bahasa penuh dengan kata-kata bohong, dan ketika menjawab pertanyaan, mutlak tidak diperbolehkan melampaui batas yang ditentukan. Anak kecil semacam ini setelah tumbuh dewasa, ketika membuka mulut langsung berbohong, sama sekali tidak ada rasa bersalah. Dari juru bicara pemerintahan hingga media corong seperti “Xinwen Lianbo”, “Berita Fokus”; dari laporan pejabat partai di berbagai tingkat hingga penelitian akademis di bidang literatur dan sejarah; dari domain publik hingga kehidupan keluarga; masyarakat Tiongkok dipenuhi kata-kata bohong yang tak terhitung. “People’s Daily hanya tanggalnya saja yang benar, sisanya adalah palsu” Ini semuanya adalah pemahaman selama beberapa dekade terakhir. Tiongkok telah menjadi sebuah negara yang isinya penuh dengan kebohongan. Orang yang berani bicara jujur dan mengungkap fakta kebenaran langkanya bukan main, malah dipandang sebagai makhluk aneh, bahkan akan digantung bersama-sama. Ini adalah salah satu konsekuensi buruk akibat perusakan komprehensif PKT terhadap moral masyarakat.

    *Berita Fokus atau Focus Report 焦点访谈, merupakan program berita dari CCTV; Xinwen Lianbo atau News Simulcast 新闻联播, program berita dari CCTV yang disiarkan serentak di semua stasiun TV.

    iii. Perkataan Vulgar Nan Populer

    Tiongkok kuno dalam sejarah dunia mungkin adalah negara dengan tingkat pendidikan kebudayaan pejabat paling tinggi. Mulai dari dinasti Han, Tiongkok mulai memiliki sistem seleksi pejabat yang relatif lengkap. Dari dinasti Sui hingga terus berlanjut ke sistem ujian negara dinasti Qing, sejumlah besar talenta luar biasa telah dipilih untuk memasuki pemerintahan, dan membantu Kaisar dalam memerintah negara. Dilihat dari ‘Dua Puluh Empat Sejarah’ dan berbagai warisan data sejarah, tingkat peradaban dari politik dan masyarakat Tiongkok kuno telah membuat manusia modern terkesima. Bait puisi yang lembut dan tulus, ajaran kuno yang hangat dan mengundang rasa hormat, semua ini membimbing orang kuno berbicara dengan damai, toleran, rendah hati, sopan santun; sebaliknya bahasa vulgar sama sekali belum pernah mendapat tempat di masyarakat.

    *Dua Puluh Empat Sejarah adalah sekumpulan buku sejarah Tiongkok yang menjabarkan periode dari tahun 3000 SM hingga masa Dinasti Ming pada abad ke-17. Dalam kumpulan ini terdapat 3213 volume dan sekitar 40 juta kata. Dua Puluh Empat Sejarah merupakan salah satu sumber sejarah Tiongkok yang paling penting. (wikipedia)

    Setibanya partai komunis berkuasa, semua ini berbeda dengan sebelumnya. Ketika PKT didirikan, isinya kaum lumpenproletariat. Kata-kata vulgar pemimpin PKT terang-terangan dimasukkan ke dalam dokumentasi, koran, koleksi karya tulis bahkan hingga syair lagu, sehingga menjadi objek yang ditiru rakyat. “Prinsip dari Marxisme, sangat rumit, namun esensinya hanya satu kalimat: Memberontak itu Masuk Akal”, “Demi keberhasilan revolusi dunia, kami telah bersiap mengorbankan nyawa 300 juta rakyat Tiongkok”, “Kentut yang dilepas dari atas, tidak semuanya harum, di sini juga ada lawannya, ada yang harum juga ada yang bau, harus diendus-endus terlebih dulu.” Setelahnya, pemimpin PKT di setiap generasi juga memakai resep yang sama, melepaskan kata tajam, menyatakan teori sesat. Ucapan Deng Xiaoping “Bila boneka siswa tidak patuh, satu rentetan senapan mesin dapat menyelesaikan”, Slogan Jiang Zemin “Diam-diam Meraup Keuntungan Besar” dan perintahnya melawan Falun Gong “Cemarkan reputasinya – bangkrutkan ekonominya – hancurkan tubuh fisiknya”, tidak peduli itu adalah substansial atau pun cara berekspresi, semuanya jahat luar biasa. Layaknya bawahan mengikuti atasan, aura ganas juga menyelubungi seluruh masyarakat.

    *’Memberontak itu Masuk Akal’ menjadi judul salah satu Lagu Merah, liriknya adalah kutipan perkataan Mao. http://ip.lidicity.com/hj/cn/zaofanyouli.html

    *1949 Mao Zedong mengunjungi Soviet, pernah berkata kepada Stalin: “Demi keberhasilan revolusi dunia, kami telah bersiap mengorbankan nyawa 300 juta rakyat Tiongkok”. Kala itu jumlah populasi Tiongkok adalah 450 juta jiwa, ini berarti 2/3 populasi rakyat Tiongkok.

    *Kentut yang dilepas dari atas, tidak semuanya harum: merupakan kata-kata yang disampaikan dalam rapat komite partai. https://www.marxists.org/chinese/maozedong/1968/3-095.htm

    *Pada thn 2000, ketika seorang wartawan wanita HK melakukan wawancara terhadap Jiang Zemin dan menyinggung hal yang tidak enak didengar, dia menjawab: Kalian wartawan memang suka bikin ribut, terlalu naif, terlalu bodoh. Ada pepatah di Tiongkok: “Diam-diam Meraup Keuntungan Besar”, Apakah kalian tahu? Kata-kata ini adalah yang terbaik! Jiang Zemin mengerahkan seluruh perangkat mesin partai untuk menganiaya para praktisi Falun Gong. Para praktisi bukan saja dijebloskan ke dalam kamp kerja paksa, namun juga “Diam-diam” dipanen organnya secara paksa, dan diperjualbelikan untuk “Meraup keuntungan Besar”.

    iv. Umpatan Kotor yang Menyelimuti Langit dan Bumi

    Kemerosotan PKT adalah tanpa batas dasar, dan kemerosotan orang Tiongkok hasil didikan PKT juga tanpa batas dasar. Sekarang ini banyak orang Tiongkok yang merasa hampa dan putus asa, terpaksa mencaci orang lain untuk mempertahankan keseimbangan psikologi, menggunakan kata-kata kotor untuk melepaskan beban kekesalan dalam hati, dan melecehkan orang lain depan umum untuk memamerkan diri jauh lebih baik. Beberapa puluh ribu orang secara serentak dengan suara keras meneriakkan kata kotor telah menjadi pemandangan biasa di lapangan sepakbola Tiongkok; berbagai macam kata yang melecehkan orang lain telah menjadi jargon yang popular, dan digunakan jutaan kali oleh netizen setiap harinya.

    Internet bahasa Mandarin dibanjiri oleh berbagai macam umpatan yang tidak layak digunakan. Dalam kehidupan nyata, bahkan gadis remaja di tengah keramaian umum juga dapat mengucapkan kata kotor dengan bebas tanpa kekangan. Manusia yang menggunakan bahasa vulgar seperti ini, dunia batinnya betapa Kotor dan Liarnya!

    c. Perilaku Rendahan

    Tiongkok terkenal sebagai negara yang menjunjung tinggi Etika. Dalam catatan kuno pra-Qin yakni “Tiga Li” [Three Rites]: “Zhouli” [Rites of Zhou], “Yili” [Etiquette & Ceremonial], “Liji” [Book of Rites], secara detail mencatat Etika dan tata krama orang Tiongkok kuno yang sangat kaya, juga telah menggali Li [Etika] yang bersumber dari Jalan Langit dan filosofi di balik Li [Etika] tersebut. Spirit dari Li [Etika] semacam ini terus dilestarikan hingga akhirnya PKT merebut kekuasaan. Ada orang mungkin masih ingat, sebelum 1949, orang tua yang terdidik dan berpendidikan kala itu begitu santun dan menjaga Etika. Namun sayangnya, setelah beberapa dekade PKT berkuasa, semua ini telah dihancurkan secara total.

    Li [Etika] harus memiliki Jie [Ikatan], tepatnya adalah “Budaya yang Mengikat”, yang juga disebut “tata aturan”. Zaman dulu ketika mengajari anak kecil, pertama-tama yang diajarkan adalah “Menyiram dan menyapu, sesuaikan dengan datang-perginya tamu” yang menjadi tata krama dasar dalam kehidupan sehari-hari. Generasi sebelumnya sering berkata: “Selaku manusia selayaknya ada sikap manusia.” Perkataan sederhana ini di dalamnya berisikan prinsip yang sangat mendalam. Tuhan telah menetapkan norma perilaku kepada manusia, bahkan melalui catatan kuno – ritual – tradisi lokal dan lainnya, diwariskan turun-temurun setiap generasinya.

    *”Menyiram dan menyapu, sesuaikan dengan datang-perginya tamu”, artinya walau sedang menyirami tanaman, menyapu halaman atau melakukan pekerjaan rumah lainnya, juga tahu kapan menyambut dan mengantar tamu; kutipan Zi Zhang, The Analects (Konfusius)

    Aturan keluarga dan didikan keluarga adalah bagian penting dari Kebudayaan Tradisional Tiongkok. Aturan keluarga dan didikan keluarga Tiongkok telah berlangsung selama ribuan tahun, ini membuktikan eksistensinya memang bermakna sangat penting bagi keluarga dan masyarakat. Karya Zhuge Liang di periode Samkok yakni “Buku Nasihat Anak”, karya Tang Taizong “Nasihat kepada Keluarga Kaisar”, karya Kaisar Kangxi “Pegangan untuk Didikan Keluarga”, karya Yan Zhitui dari dinasti Selatan-Utara yakni “Didikan Klan Yan” dan lainnya, semuanya merupakan norma perilaku manusia dan benteng pertahanan moral keluarga. Bagi pendidikan generasi selanjutnya, etika keluarga, hubungan keluarga, pengembangan karakter diri, perilaku dalam masyarakat pembangunan karier dan keluarga, berbakti pada negara dan aspek lainnya, telah memberikan peran yang sangat besar. Sebelum PKT merebut kekuasaan, rakyat Tiongkok masih mewarisi banyak sekali aturan keluarga dan didikan keluarga, yang kemudian menjadi fondasi bagi orang-orang dalam hidup bermasyarakat. Ada orang pernah menyimpulkan didikan keluarga yang tersebar sangat luas itu dalam 30 hal, termasuk di antaranya:

    Tidak boleh menyapa orang yang lebih tua tanpa menggunakan kata ‘Anda’; tidak boleh menggoyangkan kaki; tidak boleh langsung berbicara tanpa memanggil gelar ataupun nama; tidak boleh berteriak di keramaian umum; tidak boleh omong kosong; jika tuan rumah sudah menyentuh sumpit barulah tamu boleh menyentuhnya; pulang ke rumah harus menyapa orang yang lebih tua dan lain-lain.

    *Buku Nasihat Anak, Jie Zishu 诫子书; tokoh Tiongkok suka menulis surat untuk memberi nasihat kepada anaknya, dan ini merupakan semacam pendidikan moral dalam keluarga Tiongkok kuno; Surat ini ditulis oleh Zhuge Liang kepada anaknya Zhuge Zhan yang berumur 7 tahun.

    *Nasihat kepada Keluarga Kaisar, Jie Huangshu 诫皇属; nasihat yang ditulis Tang Taizong (Li Shimin) kepada generasi penerus keluarga Kaisar.

    *Pegangan untuk Didikan Keluarga, Tingxun Geyan 庭训格言; karya Kaisar Kangxi dari Dinasti Qing, yang berisikan cita-cita, didikan moral baik dalam menjalankan pemerintahan maupun menjalani hidup, yang diwariskan kepada generasi selanjutnya.

    *Didikan Klan Yan, Yanshi Jiaxun 颜氏家训, ditulis oleh Yan Zhitui, terdiri dari 7 volume dan 20 bab.

    Meskipun kelihatannya hal sepele, namun bagi norma perilaku pribadi dan keharmonisan hubungan interpersonal, ini adalah hal yang sangat penting.

    Sikap perilaku manusia adalah perwujudan eksternal dari pendidikan, karakter moral, dan kecerdasan manusia. PKT merusak moralitas, membiarkan manusia berbicara dan bertindak mengikuti nafsu, tanpa tata aturan, dan berperilaku rendahan, sehingga sekelompok besar manusia ini berubah menjadi manusia tingkat rendah.

    Orang Tiongkok kuno memandang penting penampilan sikap manusia, meminta orang “berdiri bagai cemara, duduk bagai genta, berjalan bagai angin, berbaring bagai busur”, orang Tiongkok zaman sekarang banyak yang berbadan bungkuk pinggang miring, berjalan dan berdiri dengan gaya aneh, berpose tidak senonoh, temperamen tidak baik.

    Di dunia internasional, perilaku turis Tiongkok sering kali membuat orang-orang mengerutkan dahi. Mereka dengan suara keras membuat gaduh, merokok di tempat terkenal dan bersejarah, membuang dahak sembarangan, menyerobot antrian sesuka hati, dan memanjat situs bersejarah sesuka hati. Jumlah turis Tiongkok yang meningkat tajam namun tidak beradab, membuat orang Swiss merasa “terusik”, ada turis yang komplain kepada orang Tiongkok karena membuang dahak sembarangan di atas kereta, bahkan dioleskan ke sepatu turis lainnya. Demi menyelesaikan masalah ini, pemerintahan Swiss menambahkan “gerbong khusus” untuk turis Tiongkok.

    Lebih parahnya lagi, tahun 2015, seorang wanita Tiongkok di depan toko eksklusif merk terkenal Burberry Inggris, sedang memegangi anak kecil buang air besar. 2 Agustus 2016, dalam sebuah grup tur Tiongkok yang sedang berkunjung ke Saint Petersburg Rusia, seorang ibu demi anaknya yang sedang kebelet, langsung membiarkan anak kecil tersebut buang air kecil di atas lantai aula istana Yekaterina Rusia yang terbuat dari kayu mewah dan bernilai sejarah panjang. Insiden tersebut mengejutkan semua staf kerja istana Yekaterina, dari kurator hingga staf pelayanan biasa, semuanya bergegas ke tempat kejadian untuk mengusut masalah ini. Staf kerja mengatakan, hal semacam ini adalah untuk pertama kalinya terjadi dalam sejarah.

    Apakah kualitas orang Tiongkok sungguh demikian payah? Sebenarnya dulunya sama sekali tidak demikian. Rendahnya kualitas orang-orang di hari ini adalah hasil dari penghancuran Kebudayaan Tradisional selama beberapa dekade oleh partai komunis.

    d. Manusia Berwujud Aneh: Tidak Mirip Manusia

    ‘Rupa Terbentuk dari Hati’, perubahan hati manusia akan memengaruhi bentuk luar dan ekspresi manusia. Di bawah pengrusakan dan mutasi yang dilakukan oleh PKT, orang Tiongkok tidak hanya jiwanya berubah menjadi liar dan kasar, bahkan penampilan luar dan ekspresi pun sudah berubah dan tidak sama lagi.

    Beberapa tahun terakhir, foto-foto lama kembali populer di masyarakat, orang Tiongkok zaman sekarang mulai bernostalgia tentang kesederhanaan dan keluguan dari orang dahulu. Sosok dan sikap orang dalam foto era akhir dinasti Qing dan pemerintahan Nasionalis terlihat seperti manusia, pria seperti pria, wanita seperti wanita, mampu menampilkan sikap elegan dari dalam diri manusia dan akumulasi nilai Kebudayaan Tradisional. Banyak orang setelah melihat foto leluhur sendiri pada beberapa dekade yang lalu, satu per satu menghembuskan napas rindu ketika melihat kemurnian dan kebaikan dalam ekspresi mata manusia saat itu.

    Dalam karya film dan TV, terlepas itu tradisi Barat ataupun Timur, penampilan karakter baik umumnya adalah sedap dipandang dan membuat orang merindukannya, sebaliknya penampilan karakter jahat adalah bersifat negatif, jelek, dan rendahan. Sebelum PKT merebut kekuasaan, orang-orang tumbuh dewasa di tengah sebuah kebudayaan yang normal, banyak berisikan unsur-unsur positif, ini sebabnya penampilan luar dan ekspresinya penuh berisikan Qi positif. Aktor yang memerankan orang jahat, acap kali harus mencoba berulang kali untuk “berubah” jadi jahat, namun tetap saja kesulitan untuk meniru hingga sempurna. Sedangkan aktor Tiongkok daratan zaman sekarang adalah tumbuh dewasa di atas tanah beracun Kebudayaan Partai, penampilan luar dan ekspresinya sama sekali tidak memiliki unsur positif, sifat jahat dan Qi tumor merajalela, bergaya berandalan dan rendahan, bila berperan orang baik maka harus belajar, namun hasilnya tidak mirip; sebaliknya berperan orang jahat, tidak perlu belajar, secara otomatis akan ditiru dengan sempurna.

    Orang dulu menggunakan kata “Qi siluman” “sifat keiblisan” sebagai istilah yang merendahkan, namun seiring dengan meningkatnya unsur negatif di masyarakat, sekarang tak disangka ada orang menggunakan istilah “Memiliki Qi siluman” untuk memuji aktor yang berkelas, bertalenta, dan kreatif. Istilah “sifat keiblisan” telah berubah menjadi sebuah istilah yang positif, untuk menggambarkan sifat manusia – hal – objek yang aneh-aneh namun penuh cita rasa. Anak muda sering menggunakan kalimat “Sifat keiblisan orang ini sungguh besar”, “Suara tawa keiblisan” dan lainnya untuk mengekspresikan rasa kagum. “Memiliki Qi Siluman” telah menjadi nama situsweb manga, “Biro Siluman” telah menjadi judul serial TV, para pemain dan kru berfokus pada tema “Dalam hati setiap manusia, hidup sesosok siluman”, dan merekrut seluruh aktor global yang dianggap “Memiliki Qi Siluman”. Ini dari aspek lateral mengindikasikan, bahwa sebagai akibat perusakan kebudayaan, sudut pandang estetika orang-orang telah terjadi perubahan yang demikian besar.

    *Memiliki Qi Siluman atau You Yao Qi 有妖气, karena memiliki lafal yang hampir sama, maka disamarkan dengan u17, yaitu website manga www.u17.com.

    *Biro Siluman atau 妖怪管理局, menjadi topik cerita yang popular baik untuk serial TV maupun film; walaupun kadang-kadang diganti dengan istilah Biro Monster, Biro Hewan, Biro Alien; contohnya adalah Hanson and the Beast, Bureau of Transformer, dan lainnya.

    Banyak orang Tiongkok dalam masyarakat sekarang ini, memiliki cita rasa dan penampilan yang norak dan jelek, cara berpakaian yang tidak rapi, berminyak dan kasar, pakaian yang dikenakan mencolok dan menyilaukan, jalan-jalan dengan baju tidur telah menjadi hal lumrah dalam masyarakat. Sekarang ini banyak anak laki-laki yang tidak memiliki Qi maskulin, berbicara dengan gaya centil, kewanita-wanitaan, menganggap badan langsing sebagai keindahan, mewarnai rambut, ekspresi mata jelalatan, jalan lenggak lenggok, bukan laki juga bukan wanita. Pakaian super sempit, celana setengah tiang, rambut dicukur hingga seperti penutup teko, atau seperti sarang burung, atau ditinggalkan seonggok besar rambut seperti wig menutupi kepala. Anak perempuan mengenakan pakaian unisex, gaya rambut aneh, wajah tanpa ekspresi, pandangan mata suram dan dingin. Karena dipengaruhi oleh Filosofi Pertarungan, kelembutan dan kebaikan dalam tradisi telah digantikan oleh keganasan dan kelicinan, makin lama makin hilang “sifat feminim”-nya. “Bertingkah imut”, “Berlagak muda”, “Berlagak keren”, menjadi populer dalam masyarakat, tindak-tanduk orang dewasa seperti baru puber, tanpa membeda-bedakan situasi, bertingkah seperti anak manja dan pura-pura merajuk.

    Tak perlu dibandingkan dengan orang kuno, cukup bandingkan saja dengan beberapa dekade lalu, orang seperti ini sudah sangat jauh di bawah standar penampilan dan perilaku yang ditetapkan oleh Tuhan kepada manusia, penampilan secara permukaan seperti makhluk aneh, apakah ini masih merupakan manusia ciptaan Tuhan? Masihkah Tuhan menganggap manusia semacam ini sebagai manusia? Apakah manusia semacam ini tidak dalam bahaya? (Bersambung)

    Untuk membaca bagian lain, silahkan klik di sini.

    Tonton di Youtube, silahkan klik di sini.

  • Tujuan Terakhir dari Paham Komunis (28): Mengubah Manusia Menjadi “Bukan Manusia”

    Tujuan Terakhir dari Paham Komunis (28): Mengubah Manusia Menjadi “Bukan Manusia”

    “Tujuan Terakhir dari Paham Komunis” (28)

    2. PKT Mengubah Manusia Menjadi Bukan Manusia

    Cuci otak, penipuan, perusakan, dan mutasi yang dilakukan PKT secara terus-menerus, telah menyebabkan anak muda zaman sekarang tidak memiliki kebudayaan, tidak mempedulikan moralitas, hasilnya sejumlah orang berperilaku serigala, hanya saja berwujud manusia.

    Sejak 2004, di daratan sangat populer “Kebudayaan Serigala”. Dari novel, film, hingga buku pegangan pelatihan perusahaan, semuanya menyanjung “Kebudayaan Serigala”. Penyanjungnya mendorong, agar naluri serigala yang liar – brutal – serakah – tirani, digunakan bahkan dalam pekerjaan, dan menyebutnya “Semangat Juang”. Banyak orang beranggapan ini adalah kebudayaan “maju” sang pemenang di tengah kompetisi bertahan hidup. Dengan kata lain, manusia tidak membutuhkan konsep moralitas, di tengah kompetisi menghalalkan segala cara untuk menang, itu barulah kriteria pengukur dalam pekerjaan dan perilaku manusia.

    Seperti kata pepatah: “Berbisa Bagai Ular Kalajengking, Ganas Bagai Serigala”, ular – kalajengking – serigala tidak memiliki perasaan sedikit pun, bahkan orang tua sendiri juga boleh dikoyak-koyak dan ditelan. Sekarang ini banyak anak muda tidak memiliki konsep kebudayaan sedikit pun, melakukan sesuatu tanpa landasan moral, di rumah menganggap diri paling hebat, di tempat umum caci-pukul orang tua, parahnya lagi orang tua dianggap musuh, begitu tidak sesuai dengan kehendaknya langsung memukuli dengan ganas, orang-orang seperti ini tidak heran disebut “anak serigala”, Memang Cocok Bukan Main.

    A. Pemikiran

    i. Tidak Mengenal Kebudayaan Tradisional, Moralitas Hanya Lembaran Kosong

    Setelah PKT berkuasa, mengindoktrinasi sejarah sesat kepada beberapa generasi rakyat Tiongkok, cuci otak dengan Ateisme dan ‘Filosofi Pertarungan’, sehingga menyebabkan sekarang ini banyak orang Tiongkok yang tidak peduli dengan Kebudayaan Tradisional, ini juga menyebabkan nilai tradisional dalam hati manusia bertumbangan, moralitas tinggal lembaran kosong belaka.

    Banyak orang begitu menyinggung tentang Tiongkok kuno atau sejarah kuno, dalam hati segera terpikir ini adalah “takhayul”. Yang sedikit lebih enak didengar: “pemahaman nenek moyang purba tentang fenomena alam dan niat muluk untuk menaklukkan alam” telah menciptakan “mitos”. Dengan demikian, sejarah Tiongkok kuno seperti Da Yu menyingkirkan air bah dan lainnya, dianggap sebagai “imajinasi yang ajaib”. Ketika menyinggung tentang Kaisar zaman kuno, dalam hati segera terpikir “kediktatoran feodal”, persis seperti kekuasaan mutlak PKT yang “tidak percaya Hukum Langit”. Seperti diketahui, dalam Kebudayaan Warisan Dewa, “Putra Langit” sebagai anak dari Tuhan di Langit, harus menjaga moralitas, mengikuti aturan Langit dan Bumi. Jika tidak, Tuhan akan mencampakkan dia, dan mengutus orang yang lebih berbudi luhur untuk menggantikan. Dengan dasar ini, rakyat dapat mengkritik Kaisar berlandaskan “Prinsip Langit”. Gelar “Putra Langit” sama sekali bukan untuk menyanjung Kaisar setinggi langit, namun justru menekankan bahwa kekuasaannya adalah pemberian sekaligus dibatasi oleh Tuhan.

    Tradisi bangsa Tionghoa menganggap rasa hormat – kebaikan – lemah lembut – sederhana – mengalah sebagai nilai-nilai mulia. Sedangkan orang sekarang, menganggap pertarungan dan ‘Kebencian’ sebagai “kemuliaan”, bahkan beranggapan bahwa orang Tiongkok sejak dulu “Bertarung dengan Langit, Bertarung dengan Bumi”, biasanya demi secuil hal kecil, bertarung hingga kepala pecah darah berceceran, dan dianggap “Sesuai Prinsip Langit dan Bumi”; kenyataannya justru etiket dalam menghormati Tuhan, sopan terhadap orang lain, itu barulah benar-benar “Sesuai Prinsip Langit dan Bumi”. Ketika bepergian ke Jepang, banyak orang Tiongkok takjub dengan sikap mengalah dan sopan santun masyarakat di sana, sebenarnya ini justru adalah tradisi bangsa Tionghoa yang telah dihancurkan PKT, namun telah dilestarikan oleh Jepang hingga kini.

    ii. Manusia Bagaikan Serigala, Sanggup Melakukan Segala Kejahatan

    Orang Tiongkok yang sejak kecil telah diindoktrinasi Ateisme dan Filosofi Pertarungan yang percaya ‘Kuat makan Lemah’, yang menyaksikan langsung kebrutalan dan kebiadaban rezim PKT, setelah dewasa akhirnya percaya buta terhadap kekuatan tinju, pikiran dan perilaku dipenuhi sifat kejam dan bengis. Situs berita di Tiongkok, sering dapat ditemukan berita mengejutkan seperti ini: Membantai keluarga, membunuh ayah (ibu), membunuh istri, meracuni, mengebom, membacok, kekerasan seksual anak oleh guru TK yang tak manusiawi, berandal membunuh terang-terangan di TK, gadis diperkosa, bongkar paksa, pemerintah kota memukuli orang dan lainnya, kasusnya banyak sekali.

    Tahun 2004, PKT menugaskan Sina.com untuk melakukan survei online skala besar, terhadap pertanyaan “dalam perang apakah boleh menembak wanita dan anak-anak?”, dari 30 ribu anak muda, ada lebih dari 82,6% responden yang memberikan jawaban setuju! Setelah berkali-kali insiden serangan teroris termasuk peristiwa “9.11”, banyak sekali netizen Tiongkok bersorak-sorai merayakannya. Reaksi yang begitu biadab dan dingin, membuat orang-orang bergidik.

    Tahun 2011, mahasiswa akademi musik Xi’an, Yao Jiaxin, membawa mobil dan menabrak seorang wanita yang sedang naik sepeda listrik, Yao Jiaxin turun untuk memeriksa keadaan, namun menemukan bahwa wanita yang tertabrak sedang mencatat plat mobilnya. Yao segera masuk ke mobil dan menarik sebilah pisau, dan dengan ganas menikam wanita itu sebanyak 6 kali, hingga mati terbunuh. Adik kelas perempuan Yao, Li Mou, berkomentar di internet: “Jika saya adalah dia, saya juga akan menikam …… dasar tidak punya otak (almarhum dalam peristiwa Yao Jiaxin) sungguh tidak tahu malu, masih berani catat plat?” Kekejian dan darah dinginnya membuat orang merinding.

    Tahun 2013, Fakultas Kedokteran Universitas Fudan Shanghai, mahasiswa pascasarjana angkatan 2010, Lin Senhao, dikarenakan hal sepele terjadi konflik dengan Huang Yang teman sekamarnya, Lin Senhao mengambil bahan kimia yang sangat beracun dari laboratorium dan menaruhnya ke dalam dispenser minuman asramanya, setelah meminum air tersebut Huang Yang meninggal.

    Bulan Juli 2013, di dekat sebuah stasiun bus Distrik Daxing Beijing, hanya dikarenakan perselisihan parkir, seorang pria menarik seorang bayi perempuan usia dua tahun dari dalam kereta bayi, mengangkatnya ke atas kepala dan dibanting ke lantai, bayi perempuan itu gagal diselamatkan dan meninggal. “Insiden bayi perempuan dibanting hingga mati di jalan Beijing” telah mengejutkan masyarakat.

    Dalam kehidupan sehari-hari, langsung memukul dengan ganas karena hal sepele, sudah menjadi hal yang umum. Orang berusia lanjut tidak paham: “Apa yang terjadi dengan orang Tiongkok?” Ini dikarenakan PKT yang menjunjung tinggi kekerasan, telah menuang “Kebencian” ke dalam darah orang Tiongkok.

    iii. Antar Manusia Saling Menipu

    “Krisis integritas” mungkin menjadi topik moralitas yang paling menarik perhatian rakyat Tiongkok. Karena “krisis integritas” secara langsung merugikan kepentingan pribadi setiap orang dalam masyarakat. Dari rokok palsu – arak palsu – faktur palsu – “spekulasi pejabat” di era 80-an, orang Tiongkok sudah mulai menyerukan ‘integritas’, dengan nyaring melawan barang palsu, hingga awal milenium, penipuan sudah memenuhi semua aspek kehidupan masyarakat, “krisis integritas” menciptakan banyak perangkap dalam hidup, agar rakyat Tiongkok hidup dalam kelelahan mental dan fisik.

    Setibanya hari ini, fenomena barang palsu dan bermutu rendah banyak bertebaran: dari makanan hingga perumahan, dari produk hingga jasa pemeliharaan, pengobatan penyakit, menyewa tunangan untuk mengunjungi orang tua, di mana-mana terjadi krisis integritas. Jadi orang Tiongkok zaman sekarang sungguh tidak mudah, jika membeli sayur dan daging, harus bisa mendeteksi apakah beracun atau tidak; jika membeli rumah, harus menjadi ahli kualitas bangunan; jika anak divaksin, harus bisa mengenali apakah vaksin itu asli atau palsu; bahkan menyumbangkan uang kepada asosiasi Palang Merah dan organisasi amal lainnya, juga harus mampu menilai kredibilitasnya.

    Kepiting diberi obat kontrasepsi, telur palsu, obat penghancur lemak, Sudan Merah, kapsul beracun, susu bubuk beracun, tesis palsu, ‘Bangunan Sekolah Bagai Ampas Tahu’ …… plagiat & pemalsuan berbagai bidang ini, sekarang dijuluki “Benteng Bandit”, orang-orang sudah tidak lagi merasa aneh melihatnya. Dikarenakan penggunaan berlebih pestisida, hormon, herbisida, insektisida, obat pematang buah, obat pengawet, dan makanan palsu beracun rendahan lainnya, menyebabkan pria berubah feminin, disfungsi seksual, gangguan fisiologi wanita, tingkat kesuburan rendah, pubertas dini, malformasi bayi dan fenomena lainnya, sehingga menjadi masalah sosial yang semakin serius. Ahli medis terkenal di daratan menegaskan: beberapa dekade ke depan, pria Tiongkok tidak akan memiliki kesuburan lagi.

    *Sudan Merah, skandal pewarna industri digunakan dalam makanan

    *’Bangunan Sekolah Bagai Ampas Tahu’, skandal korupsi bahan bangunan sekolah di Sichuan; kasus mencuat setelah terjadi gempa besar 12 Mei 2008 di Sichuan.

    Mengenai “krisis integritas”, ada orang berpendapat, kunci utamanya masih tetap pada integritas pemerintah. Ini juga tidak salah, bukankah “di atas tidak benar maka di bawah juga tidak benar”? Namun akankah PKT menekankan integritas? Bisakah meminta para pejabat korup berhenti memperdagangkan jabatan? Membuka blokir internet agar orang-orang membaca buku ini dan memahami fakta? Dan mengakui pemalsuan sejarah yang dilakukan PKT? Ini seperti meminta harimau menguliti dirinya sendiri.

    Ada orang berpendapat, harus memperkuat Institusi Hukum, agar pemalsu mendapat hukuman berat dan tidak berani melakukan plagiat lagi. Namun persoalannya adalah siapa yang mengawasi dan menjalankan hukum? Siapa yang akan mengawasi personel penegak hukum? Siapa yang menjamin pejabat Biro Pengendalian Mutu tidak akan korup?

    Pada akhirnya, ada orang menyerukan agar kembali ke Kebudayaan Tradisional. PKT juga sedang menekankan pendidikan Kebudayaan Tradisional. Namun membicarakan Kebudayaan Tradisional dengan dasar Ateisme dengan ajaran moral yang telah dirusak PKT, apa bedanya? Memberitahu kutipan “Konfusius”, “Puisi Klasik” apakah orang-orang langsung teguh menjaga integritas?

    Sebagai contoh, ketika seluruh industri menambahkan melamin C3H6N6 ke dalam produk susu, namun tidak perlu bertanggung jawab terhadap konsekuensinya, maka perusahaan yang ingin menjalankan bisnis dengan jujur, akan tersapu habis dalam menghadapi persaingan biaya. Dalam kondisi ini, tantangan untuk semua orang adalah, bertekad menjaga integritas walau mengalami kerugian, ataukah mengikuti arus untuk mengeruk uang dengan mudah?

    Menghadapi masyarakat yang jelas mengerti bahwa menjadi orang baik itu merugikan, “Kebudayaan Tradisional” yang kandungan sifat Ilahinya telah dicongkel oleh PKT, tidak akan bisa menunjukkan alasan kenapa manusia harus menjaga integritasnya.

    Sebenarnya, jika kita mengembalikan nilai Kebudayaan Warisan Dewa yang telah dicongkel PKT, maka persoalan ini menjadi sederhana. Bagi orang yang dalam hatinya percaya bahwa “Tiga kaki di atas kepala ada Dewata”, akan tegar menjadi orang baik, karena sifat tulus berintegritas adalah fondasi perilaku manusia yang dianugerahkan oleh Tuhan, sama seperti tulisan yang ditemukan di dalam kuil-kuil kuno: “Anda menipu Anda sendiri, Saya tidak menipu Anda; Manusia merugikan Manusia sendiri, mana mungkin Langit merugikan Manusia?” Walaupun tidak mungkin semua orang demikian murah hati, sebab masyarakat tradisional juga ada orang berbudi luhur dan juga ada orang rendahan, namun dalam masyarakat hari ini yang “setiap orang mencelakakan saya, saya juga mencelakakan setiap orang”, asalkan ada sebagian orang bersedia menelan kerugian dan bertekad menjunjung prinsip moral, maka akan ada lebih banyak orang lagi yang terbangkitkan sifat baiknya.

    “Krisis integritas” Tiongkok, dari demonstrasi rakyat di era 80-an, hingga proposal Kongres Rakyat di era milenium, laporan pemerintah secara khusus menyatakan ingin membangun masyarakat berintegritas, sampai hari ini ahli sosiologi, psikologi, Jurisprudens, dan bidang lainnya juga sedang menelitinya. Beberapa dekade terakhir, masalah integritas sebaliknya makin lama makin krisis, ini jelas bukanlah sebuah persoalan sederhana di tengah “pembangunan”.

    Orang Tiongkok dikarenakan didikan ‘pertarungan’ dan kebohongan yang ditanamkan PKT menyebabkan hati sekelompok besar manusia menjadi tertutup dan egois. Seseorang sangat sulit untuk sepenuhnya mempercayai orang lain, telah tercipta satu kondisi mental abnormal yang curiga terhadap orang lain, merasa dunia adalah tempat yang berbahaya, hubungan antarmanusia adalah palsu. “Mengandalkan Gunung, Gunung malah tumbang” telah dianggap sebagai prinsip sejati. “Bertemu Manusia, gunakan bahasa Manusia; Bertemu Setan, gunakan bahasa Setan” ini telah menjadi norma masyarakat, orang-orang dalam menangani hubungan interpersonal yang abnormal semacam ini, merasa menderita dan kelelahan, namun juga tak berdaya melepaskan diri, setiap orang juga ikut berkonstribusi mendorong arus, sehingga kebiasaan masyarakat menjadi bertambah buruk.

    *Mengandalkan Gunung, Gunung malah tumbang; Mengandalkan orang, orangnya malah kabur; Mengandalkan diri sendiri adalah paling baik. Kata-kata motivasi yang beredar dalam masyarakat Tiongkok.

    Selama beberapa dekade, persoalan integritas yang terus dibahas dan tiada hentinya mengalami krisis ini, semua adalah akibat perusakkan nilai-nilai tradisi oleh PKT; akibat dari nilai yang gencar dipromosikan PKT yakni “Diam-diam Meraup Keuntungan Besar”; akibat dari provokasi pertarungan massa yang dilakukan PKT, orang-orang terpojok tidak saling percaya dan saling Mengungkap dan Mengkritik. Ketika orang-orang ingin menangani suatu masalah, akan menyadari bahwa semua upaya keras mereka begitu berurusan dengan PKT, akan menjadi persoalan sulit tanpa solusi, karena masalah itu sebenarnya adalah hasil ciptaan PKT sendiri.

    *”Keuntungan Besar” yang tidak berdasarkan moralitas dan hilangnya nilai tradisi, membuat rakyat Tiongkok mengalami krisis integritas; orang-orang “Diam-diam” korupsi, “Diam-diam” memalsukan bahan dasar produk, “Diam-diam” menaruh zat berbahaya, yang semuanya didasari pengejaran “Keuntungan Besar”.

    iv. Super Mata Duitan

    Beberapa tahun terakhir, berita terkait “wanita sok pamer” dan “wanita mata duitan” bermunculan, tanpa henti menjadi debat panas masyarakat. Beberapa wanita muda itu, dengan media internet, berkoar-koar dan memamerkan kelebihan gaya hidupnya, kekayaannya, harta bendanya; membagikan ke internet rumah mewahnya, mobil bermerek, tas bermerek, jam tangan, perhiasan dan lain-lain. Di suatu acara kencan buta TV, ketika seorang tamu pria yang suka bersepeda namun pengangguran bertanya kepada beberapa tamu wanita: “Di kemudian hari apakah bersedia setiap hari menemani saya bersepeda?” Seorang wanita keceplosan: “Saya mending duduk dan menangis dalam BMW saja.” Ada beberapa orang bahkan terus terang meneriakkan slogan “Ayo kobarkan sifat materialistik-mu”.

    Penyembahan uang tanpa basa-basi ini, selain telah menimbulkan protes publik, juga telah memancing banyak sekali rasa kagum. Ini adalah kondisi abnormal masyarakat, adalah indikasi penting runtuhnya sistem nilai, adalah wujud lain Kebudayaan PKT di jalur latar sejarah yang baru. Dari Materialisme yang menjadi leluhur PKT, hingga penyembahan uang terus terang zaman sekarang sebenarnya hanya terpisah satu langkah kaki saja.

    v. Era Keburukan

    Cita rasa estetika orang dan mistar moralitas erat berkaitan. Umat manusia normal menghargai kesenian yang indah, murni, baik hati, dan cerah. Ketika moralitas manusia telah terdegradasi dengan serius, maka manusia akan mulai menyukai hal-hal buruk rupa, bahkan memperlakukan hal-hal buruk rupa ini sebagai kesenian yang dipuja-puja. Kesenian semacam ini juga akan secara terbalik mendorong moralitas manusia lebih cepat terdegradasi, pada akhirnya mengubah manusia menjadi ‘Bukan Manusia’.

    Masyarakat Tiongkok selama 2 hingga 3 dekade terakhir, menyanjung hal rendahan sebagai mode, dan menganggap hal buruk rupa sebagai kesenian. Di Tiongkok ada adegan seniman memakan daging mayat anak kecil; tubuh telanjang diolesi madu dan duduk di dalam toilet, untuk menarik lalat menempeli tubuh; dimuliakan dengan sebutan “aksi kesenian”. Banyak orang berseru, Tiongkok telah memasuki era buruk rupa!

    Mainan anak-anak zaman dulu, orang-orang selalu memilih yang indah dan sedap dilihat, namun mainan zaman sekarang, semakin buruk dan aneh maka semakin laris jualannya.

    Sejumlah selebriti online demi memenangkan posisi, keburukan dianggap hal indah. Karena bergantung pada komentar dan aksi heboh, mereka menantang batas toleransi orang-orang terhadap hal jelek dan aneh, tidak dianggap memalukan, namun malah dianggap mulia. Bahkan banyak anak muda mengagumi mereka yang “tenar dalam semalam”.

    Yang lebih tidak masuk akal lagi adalah, banyak kota di Tiongkok, bermunculan restoran bertema toilet. Restoran didekorasi dengan gaya toilet, nasi-sayur ditaruh dalam perabot berbentuk urinal, bahkan menyajikan es krim berbentuk tinja. Menurut berita, tamu yang datang kebanyakan adalah anak muda. (Bersambung)

    Untuk membaca bagian lain, silahkan klik di sini.

    Tonton di Youtube, silahkan klik di sini.

  • Tujuan Terakhir dari Paham Komunis (27): Menggunakan “Kebencian” untuk Mendirikan Negara

    Tujuan Terakhir dari Paham Komunis (27): Menggunakan “Kebencian” untuk Mendirikan Negara

    “Tujuan Terakhir dari Paham Komunis” (27)

    Bab 6. Menggunakan “Kebencian” untuk Mendirikan Negara (Awal)

    Kata Pembuka: Partai Komunis Menggunakan “Kebencian” untuk Mendirikan Negara

    Inti dari roh jahat adalah terbentuk dari “Kebencian”. “Kebencian” adalah sejenis materi, ia memiliki kehidupan, atau boleh juga dikatakan “Kebencian” adalah sejenis kehidupan, juga merupakan unsur dasar yang membentuk roh jahat komunis.

    “Kebencian” dan “benci dendam” tidaklah sama. Benci dendam adalah benci yang dikarenakan dendam, ada alasannya dan ada penyebabnya, sedangkan Kebencian adalah tanpa sebab tanpa alasan. Sama seperti Kebencian Satan terhadap Tuhan dan Kebencian Karl Marx terhadap Tuhan, adalah sejenis Kebencian yang sangat jahat. Itu merupakan materi sampah dan sifat ganas yang mengandung iri hati – dendam – ambisi untuk menumbangkan Sang Pencipta, sekaligus menjadi andalan bagi roh jahat untuk mempertahankan eksistensinya.

    “Kebencian” menciptakan sifat Anti Tuhan dan menentang Tuhan. Dengan mengakui adanya hierarki kehidupan dalam alam semesta, mengakui bahwa Tuhan adalah kehidupan tingkat tinggi, barulah dapat menghormati Tuhan, sedangkan Satan dikarenakan Kebencian dan iri hati, tidak bersedia mengakui bahwa Tuhan lebih tinggi darinya, ini sebabnya menantang Tuhan, sehingga dijatuhkan ke bawah oleh Tuhan.

    Roh jahat komunis terbentuk dari Kebencian, ia juga dengan seksama menuangkan Kebencian ke dalam hati manusia. Unsur materi Kebencian dituang ke dalam lapisan mikroskopis tubuh manusia, sehingga ia menjadi salah satu bagian dari hidup manusia, agar ia menstimulasi hal jahat dari dalam sifat manusia, seperti iri hati, bersaing, kejam, haus darah dan lain-lain. Ini sebabnya, dalam medan materi komunis Tiongkok, hampir semua manusia terendam dalam Kebencian, hampir setiap orang memiliki sejenis Kebencian yang sulit dipahami akal sehat. Asalkan roh jahat komunis menghasut dan memprovokasi, materi semacam ini yang dimuntahkan, segera akan berubah menjadi energi negatif yang sangat besar, dengan cepat menutupi lingkup eksistensi manusia.

    “Kebencian” sebagai dasar motivasi, telah melahirkan kekerasan dan pembantaian. Era 1870an, Komune Paris yang didirikan para berandal untuk pertama kalinya mempraktikkan teori komunisme dalam merebut kekuasaan dengan kekerasan. Oleh Karl Marx, Engels, ketua partai komunis setelahnya seperti Lenin, Stalin hingga Mao Zedong dan lainnya, ia berulang kali dipuji-puji. Karl Marx menyimpulkan “pengalaman” Komune Paris, bahwa gagalnya Komune Paris terletak pada absennya kekerasan kaum proletariat dalam menghancurkan mesin negara. “Kaum proletariat tidak bisa begitu saja menguasai kekuasaan yang sudah ada”, “namun itu dapat tercapai melalui kekerasan menghancurkan seluruh sistem yang ada.” Ini di kemudian hari dihormati sebagai teori kekerasan kediktatoran proletariat yang menjadi prinsip dasar komunisme. Bahkan karena dorongan dari “Kebencian”, PKT masih ingin “melanjutkan Revolusi di bawah kondisi kediktatoran proletariat”

    *”But the working class cannot simply lay hold of the ready-made state machinery, and wield it for its own purposes.” (Karl Marx: The Civil War in France, The Third Address, The Paris Commune)

    *”their ends can be attained only by the forcible overthrow of all existing social conditions”. (1848: Manifesto of the Communist Party: Chapter 4, Karl Marx)

    *Teori “melanjutkan Revolusi di bawah kondisi kediktatoran proletariat” merupakan pemikiran yang mendasari Revolusi Kebudayaan. PKT beranggapan: Setelah kaum proletariat merebut kekuasaan dan mendirikan sistem sosialisme, masih harus meluncurkan sebuah Revolusi Besar politik untuk menumbangkan seluruh kelas sosial yang ada, dan jalan yang paling cocok untuk melakukan Revolusi semacam ini adalah Revolusi Kebudayaan.

    “Kebencian” semacam ini merupakan asal muasal dari paham komunis. “Kebencian” dan sifat iri hati sangat erat berkaitan, namun sifat iri hati berasal dari paham sama rata absolut, yaitu tidak memperkenankan siapa pun lebih baik dan lebih kaya dari diri sendiri, membenci semua orang yang lebih hebat dan memiliki barang yang lebih unggul. Slogan yang dipromosikan Komunisme yakni “Setiap Orang Adalah Sama”, “Di Bawah Langit Semuanya Sama” tepatnya adalah manifestasi dari “Kebencian” ini. Banyak orang Tiongkok mengajari anaknya dan mendorong orang untuk “ambisius”, semuanya menggunakan cara-cara yang memprovokasi sifat iri hati, menggunakan cara “membandingkan orang lain” sebagai daya kekuatan ambisi.

    Partai komunis menggunakan “Kebencian” untuk mendirikan negara, menggunakan kejahatan memimpin negara, “paham cinta negara” yang digaungkan olehnya, sebenarnya adalah “Paham Kebencian”. Karena dalam kamus “partai”, “cinta negara” berarti benci Amerika, benci Barat, benci Jepang, benci Taiwan, benci Tibet, benci masyarakat bebas, benci nilai-nilai universal, benci orang baik yang percaya “Sejati – Baik – Sabar”, benci semua yang dicap sebagai “musuh” oleh PKT; “cinta partai” berarti membenci semua orang atau semua hal yang diyakini dapat menyebabkan tantangan bagi partai.

    Orang-orang tidak tahu bahwa “Kebencian” adalah unsur materi yang membentuk roh jahat, adalah hal yang dituang dengan paksa ke dalam tubuh manusia oleh roh jahat, masih secara keliru menganggap “Kebencian” yang tanpa sebab tanpa alasan ini sebagai perasaan diri sendiri. Materi “Kebencian” semacam ini membuat banyak sekali orang Tiongkok zaman sekarang dipenuhi oleh Qi keji, yang mungkin meletus kapan saja dan di mana saja.

    PKT memanfaatkan pendidikan, media, kesenian dan trik lainnya, untuk menyebar-luaskan materi “Kebencian” ini, sehingga para pelajar dan rakyat berubah menjadi “anak serigala” yang ganas beracun, liar tanpa kendali.

    Jiang Zemin yang naik takhta setelah pembantaian Tiananmen 1989, lebih-lebih merupakan jelmaan “Kebencian”. Buku “The Real Story of Jiang Zemin” telah mengungkapkan asal usul Jiang Zemin. Dulu kala, adik laki-laki dari Li Shimin Raja Qin (disebut Tang Taizong setelahnya), yakni Li Yuanji, berkomplot dengan Li Jiangcheng sang abang, ingin membunuh Li Shimin di Gerbang Xuanwu namun gagal. Setelah Li Yuanji meninggal, rohnya turun ke neraka untuk menebus dosa karma, dijebloskan ke dalam Gerbang Kematian, jatuh ke neraka tanpa dasar, setelah membusuk ribuan tahun, sudah tidak memiliki tubuh bawahan sejak lahir lagi, tidak memiliki pikiran yang utuh, hanya sisa seberkas Qi kebencian dari iri hati. Tepat seberkas Qi kebencian dari iri hati inilah yang telah menanti selama ribuan tahun, yang pada akhirnya menarik perhatian roh jahat, lalu dibuatlah ia bereinkarnasi menjadi Jiang Zemin, naik menjadi ketua PKT, sekaligus menjadi penjahat utama yang menganiaya “Sejati – Baik – Sabar” Falun Dafa.

    “Kebencian” adalah sejenis materi. Perilaku yang diciptakan oleh “Kebencian” adalah kacau balau, tidak rasional, tak terkendali, gila-gilaan, tidak peduli dengan segala konsekuensi. Partai komunis ingin menggunakan “Kebencian” untuk menaklukkan dunia, dan memusnahkan segalanya termasuk umat manusia di dalamnya, di tengah proses ini, ia sendiri juga akan mengalami kemusnahan. Ini tepatnya adalah tujuan terakhir dari paham komunis beserta cara-cara untuk merealisasikannya.

    1. Penguat Kejahatan Bertenaga Super

    Gerakan politik beberapa dekade yang berintikan “Kebencian” ——– propaganda “Ateisme”, “menyerang Langit melawan Bumi”, “menggunakan Pertarungan Kelas sebagai landasan”, “mengutuk dengan penuh amarah”, “Mengungkap & Mengkritik Secara Tuntas”, hari ini menumbangkan yang ini, besok menumbangkan yang itu, melawan nilai universal “Sejati – Baik – Sabar” …… telah meninggalkan trauma seperti apa bagi Tiongkok? Yang dapat terlihat oleh orang-orang adalah tidak adanya integritas lagi, hati manusia tidak semurni dulu, polusi lingkungan, degradasi moral. Namun, yang tidak dapat terlihat oleh orang-orang adalah, PKT telah menciptakan sebuah mekanisme teror untuk Tiongkok yang berfungsi untuk menjatuhkan moralitas, atau disebut dengan “Penguat Kejahatan”, yakni mesin yang dapat memperkuat kejahatan. Fondasi dari mesin ini adalah “Ateisme”, tidak percaya “baik-buruk ada ganjarannya”, menolak nilai-nilai tradisional, dan menyanjung “Nafsu Keinginan”. Kami akan gambarkan secara sederhana mekanisme kerja dari penguat ini.

    *”mengutuk dengan penuh amarah”, istilah propaganda yang digunakan untuk menjatuhkan musuh PKT. 11 Juli 2002, People.com.cn menerbitkan artikel “kaum terpelajar dari berbagai kalangan ‘mengutuk dengan penuh amarah’ terhadap dosa kejahatan baru ajaran sesat Falun Gong”.

    *“Mengungkap dan Mengkritik Secara Tuntas” adalah istilah kupas tuntas media corong PKT, untuk memfitnah Falun Gong: seperti membahas Bakar Diri di Tiananmen, 1400 Kasus Kematian yang disebabkan oleh Falun Gong, dll.

    Yang pertama adalah, fungsi mengimpor dari penguat ini. PKT telah membuat Tiongkok berubah menjadi sebuah cekungan moralitas dunia, atau yang disebut dengan wastafel moralitas, tepatnya adalah sebuah dataran yang sangat rendah dalam hal moralitas. Tidak hanya produk lokal saja yang menghasilkan berbagai degradasi moral, hal tidak baik dari seluruh dunia juga dibuang masuk ke Tiongkok, persis seperti sebuah tong sampah raksasa internasional. Para pembaca mungkin merasa bahwa berbicara seperti ini ada sedikit tak elok, namun ini adalah fakta yang harus diterima [fait accompli] hasil ciptaan PKT. Setelah pintu negara dibuka, konsumsi narkoba, seks bebas, homoseksual, berbagai macam arus pemikiran dan perilaku mutan, satu per satu masuk membanjiri Tiongkok. Berbagai macam dan jenis degradasi moral yang diciptakan oleh PKT di negara ini, ditambah dengan sampah-sampah dari luar, telah menyebabkan gejolak kekacauan moralitas dalam masyarakat Tiongkok.

    Yang kedua adalah, fungsi penguat daya dari penguat ini. “Penguat Kejahatan” yang diciptakan oleh PKT ini, berfungsi memperkuat, memperkuat, dan memperkuat berbagai kekacauan moralitas. Dikarenakan tidak ada kekangan “Tuhan” berupa nilai Kebudayaan Tradisional, juga tidak ada semangat Pemerintahan Hukum [Rule of Law] masyarakat modern, sebaliknya semuanya dikendalikan oleh “nafsu keinginan”, maka tentu saja jatuh terdegradasi semakin dalam. Contohnya seks bebas, pada awalnya merupakan semacam arus pemikiran mutan dari masyarakat Barat pada era 1960-an, namun karena mendapat kekangan dari kalangan konservatif agama, sehingga berhasil dikendalikan sebelum berkembang pesat. Setelah PKT membuka pintu negara, seks bebas pun memasuki Tiongkok, itu sungguh telah diperkuat berkali-kali lipat, sehingga menjadi ‘Tema Propaganda’ di masyarakat, boleh dibilang pelacuran ada di mana-mana, masyarakat terbiasa menertawakan kemiskinan namun tidak menertawakan pelacuran, menikahi istri kedua – ketiga – ke-N telah menjadi ajang pamer kekayaan para pejabat, masyarakat kelas atas sampai bawah berlomba-lomba menirunya, bumi pertiwi bangsa Tionghoa telah dibuat hitam kelam. PKT telah menghasilkan keterbukaan paling menyeluruh di bidang apa? Bukan ekonomi, tentu saja juga bukan politik, satu kata, yaitu “seks [Xing]”, tiga dekade telah tuntas menyelesaikan transformasi, dari “Geming Xing [Semangat Revolusioner]” menjadi “Xing Geming [Revolusi Seks]”.

    Berbicara tentang “Penguat Kejahatan” ini, “korupsi” juga merupakan sebuah contoh yang umum terjadi. Negara mana pun juga ada korupsi, ini bukan dibuat-buat, dapat dikatakan tempat yang ada manusianya maka akan ada korupsi. Namun, korupsi yang terjadi di bawah pemerintahan PKT, saat ini tidak ada lawannya di dunia, juga tidak ada lawannya dalam sejarah umat manusia. Korupsi PKT adalah korupsi seluruh partai, juga tersistematis. Ada orang bilang India juga korup, namun India dari perdana menteri ke bawah, kendaraan para pejabatnya adalah mobil nasional yang bermerek sama, modelnya sama, warnanya juga sama. Rumah terbaik di India acap kali adalah sekolah, dan bukan bangunan kantor pemerintahan. India juga tidak menghabiskan uang rakyat dengan bersenang-senang dan ke luar negeri. Ini bukan karena India terlalu miskin, tapi parlemennya tidak akan menyetujui pengeluaran di aspek ini. India lebih-lebih tidak akan terjadi “Kasus Korupsi Masif yang Meruntuhkan”.

    Dibandingkan dengan “Korupsi Namun Tidak Meruntuhkan” di negara lain, korupsi PKT adalah korup hingga bernanah dan terlihat menjijikkan. Korupsi telah menjadi salah satu prinsip bertahan hidup masyarakat Tiongkok, dan diam-diam orang-orang telah menerimanya dalam hati.

    Mekanisme “memperkuat” ini bagaimana cara kerjanya? Coba teliti saja gerakan Menyapu Pornografi dan Anti Korupsi dari PKT, Menyapu Pornografi adalah makin menyapu makin porno, Anti Korupsi adalah makin anti makin korup. Karena selama hal itu tidak mengancam kekuasaan PKT, maka PKT sama sekali tidak ingin memberantasnya. Justru karena para pejabat PKT dari atas-bawah hingga rakyat berhasil dihasut, agar terbenam dalam lautan nafsu “Revolusi Seks” dan “korupsi” serta degradasi moral lainnya, maka roh jahat komunis barulah dapat sukses mengalihkan perhatian rakyat dari partai jahat PKT, lalu partai jahat PKT barulah dapat berbuat jahat sesuka hati, barulah dapat menindas kelompok yang ini, menganiaya kelompok yang itu, sehingga moralitas orang Tiongkok langkah demi langkah terdorong ke arah Neraka Kehancuran.

    Yang ketiga adalah, fungsi fermentasi dan sintesis dari penguat ini. Ia mampu menyintesis berbagai macam unsur buruk, agar materi-materi sampah ini berfermentasi dan menghasilkan materi dan fenomena yang jauh lebih jahat. Ambillah seks bebas dan korupsi yang dibahas di atas, banyak sekali korupsi melibatkan transaksi seks. Karena memelihara wanita simpanan, maka akan menggoda pejabat untuk korupsi; karena korupsi dan memiliki uang, maka juga akan menggoda pejabat untuk mengunjungi pelacuran meniduri wanita. Jika dua hal ini dicampur bersama, akan menghasilkan reaksi yang luar biasa. Di bumi pertiwi Tiongkok, akan menampilkan adegan-adegan tercela “kekuasaan – uang – seks” yang kotor menjijikkan dan merusak tatanan hidup manusia.

    Yang keempat adalah, penguat ini masih memiliki fungsi pemutih yang bisa merasionalisasi dan menormalisasi kejahatan. Pertama-tama adalah untuk menghilangkan fakta kebenaran, ini sebabnya PKT yang mengklaim dirinya hebat ini, harus memblokade internet, untuk melindungi diri dari fakta kebenaran, dan juga menghapus kebebasan rakyat untuk membangun perusahaan media sendiri. Setelah itu, “pemerintahan satu suara” PKT akan menggunakan dalih dan teori sesat untuk mendandani kekacauan moralitas PKT. “Burung Gagak di Kolong Langit Sama Hitamnya” adalah istilah yang sering digunakan PKT untuk mencuci-otak rakyatnya. “Korupsi, negara mana yang tidak korupsi?” “Melanggar hak cipta dan plagiat, negara mana yang ekonominya pertama kali lepas landas tidak melakukan plagiat?” “Seks bebas, negara mana yang pejabatnya tidak selingkuh?” “Pelacuran, ada negara yang bahkan melegalkannya!” “Kebebasan berbicara, negara mana yang akan membiarkan kamu berbicara sesuka hati? Bukankah ada undang-undang pencemaran nama baik?”

    Dikarenakan rakyat tidak dapat melihat fakta kebenaran, di bawah “pemerintahan satu suara”, lama kelamaan lalu menerima dalih PKT yang dibuat-buat dan timpang ini, beranggapan bahwa kekacauan moralitas itu adalah hal yang tak ada solusinya, dan tidak bisa dihindari oleh negara mana pun. Begitu kasus kejahatan dan degradasi moral telah dirasionalisasi dan dinormalisasi, maka kesempatan untuk berubah lebih baik telah lenyap untuk selamanya. Masyarakat Tiongkok setiap tahunnya berteriak “krisis integritas”, namun mengapa semakin lama semakin krisis? Justru inilah sebabnya.

    Dalih lain yang sering digunakan oleh PKT adalah penyelesaian terhadap hal buruk apa pun “membutuhkan sebuah proses”, selalu ‘Menipu’ bawah persoalan apa pun akan perlahan berubah menjadi baik. Kala itu banyak kalangan tingkat tinggi PKT menentang Jiang Zemin menganiaya Falun Gong, alasannya Falun Gong meningkatkan moralitas manusia dan menstabilkan masyarakat, Jiang Zemin membantahnya dengan mengatakan, “Setelah ekonomi meningkat ke atas, moralitas secara alami akan membaik.” Jika kita coba tinjau kembali, moralitas di dalam “lautan nafsu” perkembangan ekonomi malah terdegradasi makin cepat. “Proses” yang dimaksud PKT ini, justru adalah proses menggunakan dalih dan teori sesat untuk merasionalisasi dan menormalisasi kejahatan, yang malah mendorong kejahatan berubah makin lama makin jahat.

    Hanya menormalisasi hal-hal tidak normal ini belumlah cukup, cuci otak opini publik PKT masih harus mengubah hal normal menjadi tidak normal. Yang bagus dikatakan buruk, yang Baik dikatakan Jahat, maka barulah dapat tercapai tuntas tujuan memutarbalikkan kriteria Baik dan Jahat.

    Ini tepatnya adalah empat mekanisme utama dari prinsip kerja dasar “Penguat Kejahatan” partai komunis Tiongkok. Pertama-tama adalah menciptakan palung moralitas, agar sebidang tanah Tiongkok ini menjadi tanah buangan juga tong sampah dari kebejatan moral umat manusia; Kemudian partai komunis Tiongkok akan memperkuat efek kerusakan moral, selama itu tidak mengancam perilaku mutan dan rusak dari kepemimpinan partai, partai komunis Tiongkok akan selalu mengocehkan slogan, ikut mendorong arus dan menambah ombak; ditambah lagi dengan materi sampah yang saling berfermentasi, menyebabkan orang jahat semakin jahat, orang busuk semakin busuk, yang tanpa henti melewati batas dasar moralitas dan memperkuat arus degradasi moral, ini juga merupakan perwujudan konkret dari roh jahat komunis dalam memusnahkan moralitas umat manusia; terakhir adalah memanfaatkan dalih yang tidak masuk akal dan teori sesat untuk merasionalisasi dan menormalisasi hal jahat, pada saat yang sama mengubah hal yang aslinya normal menjadi tidak normal, bahkan diubah hingga menjadi siluman.

    Untuk membaca bagian lain, silahkan klik di sini.

    Tonton di Youtube, silahkan klik di sini.