Tag: menjalar

  • Keterampilan Sosial Sangat Diperlukan Bagi Perkembangan Anak Usia Dini

    Keterampilan Sosial Sangat Diperlukan Bagi Perkembangan Anak Usia Dini

    Jika anak-anak dapat mengembangkan keterampilan sosial dengan baik di usia dini, mereka lebih cenderung sukses di masa depan. Setiap orang tua pasti ingin anaknya menjadi sukses.

    Lantas apa saja kunci utama yang dibutuhkan untuk membantu perkembangan anak usia dini agar dapat menjadi orang dewasa yang sukses? Apakah kinerja akademis, karier, atau situasi keuangan orang tua?

    Para orang tua yang ingin mengetahui apakah anaknya akan memiliki masa depan yang menjanjikan, hanya perlu melihat keterampilan sosial anaknya.

    Universitas Harvard telah melakukan penelitian terhadap 1.000 siswa kanak-kanak usia dini (taman kanak-kanak hingga Prasekolah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan interpersonal yang ditunjukkan oleh anak-anak di usia dini sangat menentukan keberhasilan dan pencapaian masa depan mereka sebagai orang dewasa.

    Ada pepatah Tiongkok yang mengatakan: “Saya melihat masa dewasa pada anak usia tiga tahun.” Ini artinya, Anda dapat memprediksi karakter, kepribadian, dan kesuksesan seseorang ketika dewasa di masa depan hanya dengan mengamatinya di masa kanak-kanak.

    Banyak hal dapat ditemukan dengan mengamati seorang anak kecil selama bermain dan melalui interaksi mereka dengan orang lain. Tanggapan anak-anak, terhadap masalah, selama permainan interpersonal, dapat mengungkapkan apakah mereka memiliki kemampuan atau memiliki teknik pribadi yang unik untuk mengelola dan menyelesaikan konflik.

    Semua ini dapat mengungkapkan lebih lanjut apakah mereka menunjukkan kualitas kepemimpinan atau tidak dan apakah mereka memiliki keyakinan serta mempertahankan apa yang benar bagi mereka.
    Waktu terbaik untuk mengembangkan komunikasi interpersonal adalah ketika anak berusia 2-6 tahun. Jika orang tua dapat menghargai tahap ini dan memupuk keterampilan sosial anak-anak, mereka akan dapat berinteraksi penuh percaya diri dengan orang lain di dalam masyarakat.

    Berikut adalah keterampilan sosial fundamental yang sangat diperlukan untuk perkembangan anak usia dini.

    Mendengarkan

    Orang tua harus mendengarkan anak-anak mereka dengan penuh perhatian ketika mereka berbicara dan menahan diri untuk tidak menginterupsi mereka dalam menyatakan pendapat atau sudut pandang mereka. Hanya dengan memberikan contoh seperti ini kepada anak-anak, mereka dapat memahami bahwa “mendengarkan” adalah menunjukkan rasa hormat terhadap orang lain.

    Ketika seorang anak telah membentuk kebiasaan mendengarkan ini, dia akan memerankan karakter rendah hati, diterima dengan tulus oleh teman-temannya, dan menunjukkan lebih banyak pengendalian diri dan rasa hormat terhadap orang lain selama berinteraksi dengan mereka.

    Kebebasan

    Seseorang yang senantiasa ragu dalam membuat keputusan akan dicap “tidak tegas,” yang akan sulit dihargai oleh orang lain. Orang tua hendaknya memupuk kemampuan berpikir mandiri anak sejak dini agar menjadi individu yang lebih tegas, mandiri, dan mampu menyesuaikan diri secara sosial.

    Untuk melakukan ini, orang tua dapat membiarkan anak-anak mereka berlatih membuat pilihan dan mengajari mereka untuk menganalisis pro dan kontra dari situasi tertentu. Begitu anak membuat keputusan, orang tua harus mencoba mendukung anak-anak mereka untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam membuat pilihan pribadi dan mandiri.

    Meminta bantuan

    Mampu meminta bantuan merupakan pertanda dari orang yang percaya diri. Orang yang percaya diri biasanya dapat mengenali kekurangannya sendiri dan secara terbuka akan meminta bantuan orang lain, yang lebih berpengetahuan,. Ini menunjukkan bahwa mereka menghargai pengetahuan dan kemampuan orang lain. Ini adalah sifat individu yang bisa menyesuaikan diri secara sosial, percaya diri, dan berpengetahuan luas.

    Orang tua yang mendidik anaknya, sebelum masuk Taman Kanak-kanak, untuk proaktif meminta bantuan dari guru atau teman sekelasnya ketika menghadapi kesulitan akan membantu menumbuhkan dan membangun sifat positif ini pada anak mereka.

    Kemampuan anak untuk meminta bantuan secara tepat waktu tidak hanya membantu mereka memecahkan masalah mereka, tetapi juga secara efektif mempersempit jarak sosial yang diakibatkan kesalahpahaman negatif dan membangun hubungan yang lebih bersahabat.

    Bergaul secara rukun dan damai

    Selama tahun-tahun awal, orang tua akan lebih bijaksana jika mengajarkan anak-anak bagaimana berperilaku dalam lingkungan sosial yang berbeda. Menumbuhkan kebiasaan komunikasi yang efektif akan sangat membantu anak-anak, sebagai orang dewasa, di tahun-tahun berikutnya.

    Orang tua yang mengekspos anak-anak mereka ke lingkungan sosial yang berbeda dan memperlihatkan cara berbicara dan bertindak yang sopan akan mengembangkan keterampilan yang sama pada anak-anak mereka.

    Berkomunikasi dan berdiskusi dengan anak-anak mereka tentang berbagai skenario yang dapat terjadi pada mereka di sekolah atau di lingkungan masyarakat akan membantu orang tua dan anak-anak menemukan solusi yang tepat. Misalnya, Anda dapat bertanya kepada anak Anda apa yang akan mereka lakukan dalam skenario berikut: “Jika Anda disalahpahami oleh teman sekelas Anda, atau jika teman sekelas Anda secara tidak sengaja mengambil barang milik Anda atau orang lain, bagaimana Anda memperlakukan mereka?” Dalam hal ini, orang tua dapat membimbing anak mereka untuk bergaul secara rukun dan damai dengan orang lain dengan mencontohkan cara-cara komunikasi yang efektif

    Rasa tanggung jawab

    Menumbuhkan rasa tanggung jawab pada anak bisa dimulai sejak dini di rumah sebelum mereka masuk Taman Kanak-kanak. Orang tua dapat memberi anak-anak mereka tugas-tugas yang sesuai dengan usia untuk dilakukan di rumah yang mendorong melakukan sesuatu secara mandiri dan menumbuhkan rasa tanggung jawab pribadi. Mereka akan belajar menerima tanggung jawab keluarga sejak usia dini.

    Agar orang tua dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab anak, mereka perlu mempercayai dan membiarkan mereka melakukan sesuatu secara mandiri, meskipun tidak selalu sesuai dengan keinginan dan standar mereka.

    Jangan ikut campur secara negatif, karena anak mungkin menyerah dan berhenti mencoba; alih-alih, usahakan untuk menciptakan lingkungan yang menyenangkan, karena anak-anak suka bermain. Mereka akan belajar menangani berbagai hal dengan baik sendiri, mandiri dan dengan rasa tanggung jawab. (emmalu/visiontimes/sia/feb)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Kejujuran Berdampak Positif pada Kesehatan, Menurut Studi

    Kejujuran Berdampak Positif pada Kesehatan, Menurut Studi

    Banyak anak-anak yang beranggapan bahwa kejujuran atau jujur itu berarti tidak berkata bohong – dan mengatakan hal yang sebenarnya memerankan bagian terbesar dalam bersikap jujur.

    Saat mereka beranjak remaja barulah memahami bahwa kejujuran tidak hanya berkaitan dengan perkataan namun juga melibatkan kejujuran hati dan kejujuran dalam melakukan tindakan. Maka tidak mengherankan jika anak-anak umumnya tidak mengenal istilah white lies. Mereka hanya mengenal berkata jujur atau berbohong – hitam atau putih – mereka tidak mengenal bagian abu-abu.

    Namun demikian, anggapan anak-anak tersebut tidak sepenuhnya salah. Terbukti bahwa sebuah riset yang berkaitan tentang berkata jujur atau berbohong – tanpa melibatkan tindakan – juga memiliki dampak positif pada kesehatan maupun hubungan pribadi atau sosial peserta.

    Meminimalisir kebohongan dikaitkan dengan peningkatan kesehatan yang signifikan, menurut hasil dari sebuah riset yang dilakukan Anita Kelly, seorang profesor psikologi dari University of Notre Dame. “Kami menemukan bahwa para peserta dapat secara sadar mengurangi kebohongan yang biasa dilakukannya sehari-hari secara drastis, yang pada akhirnya dikaitkan dengan peningkatan kesehatan yang signifikan,” kata Anita Kelly yang penelitiannya juga termasuk studi rahasia dan pengungkapan diri, dilansir dalam laman news.nd.edu

    Dalam artikel yang sama juga mengungkapkan bahwa peserta dalam kelompok yang “tidak berbohong” melaporkan adanya dampak positif pada peningkatan hubungan pribadi dan interaksi sosialnya, ketika mereka tidak berbohong.

    “Analisis statistik menunjukkan bahwa peningkatan dalam hubungan ini secara signifikan berkontribusi pada peningkatan kesehatan yang dikaitkan dengan mengurangi kebohongan,” kata Lijuan Wang, yang merupakan seorang ahli statistik.

    Sebuah artikel lain dalam laman orbitermag memuat ringkasan hasil studi yang berbeda, dengan dampak yang kurang lebih sama. Dalam ringkasan tersebut disebutkan bahwa kejujuran dapat meningkatkan harga diri, kemampuan untuk menyayangi, kemampuan untuk menjalin keakraban, serta hubungan sosial. Kejujuran juga diketahui dapat menurunkan ketegangan otot, sakit tenggorokan, sakit kepala, serta mual.

    Penemuan-penemuan ini seolah menjadi salah satu bukti bahwa menerapkan kejujuran juga berdampak nyata dalam kesehatan seseorang, bukan hanya sebatas tuntutan moralitas dan spiritual. Kejujuran yang umumnya mengacu pada aspek karakter atau moral, serta memiliki konotasi positif seperti integritas ternyata juga berdampak positif dalam kesehatan. (ntdindonesia/averiani)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Mengajarkan Anak Berbuat Baik pada Anggota Keluarga dan Orang Lain

    Mengajarkan Anak Berbuat Baik pada Anggota Keluarga dan Orang Lain

    Sebagai orang tua, Anda tidak hanya memberi dan mengajarkan anak-anak nilai-nilai utama kehidupan dan pengetahuan, namun Anda juga perlu mengajarkan mereka bagaimana menjadi baik dan berperilaku baik.

    Saat membekali anak-anak dengan keterampilan hidup dan pendidikan, seringkali perkembangan kecerdasan emosional terabaikan. Anak-anak secara alami mengembangkan kasih sayang, empati, kebaikan, dan nilai-nilai lainnya saat mereka tumbuh dewasa.

    Namun demikian, penelitian menemukan kecerdasan emosional adalah faktor penentu dalam mencapai kesuksesan dalam kualitas hidup, kesehatan, dan sebuah hubungan.

    Oleh karena itu, akan lebih bijaksana jika Anda mengambil inisiatif dan mengenalkan si kecil pada kecerdasan emosional dan kesadaran diri, serta membantu mereka belajar menjadi orang baik, tidak hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk dunia yang lebih luas sehingga dapat menjadi tempat yang lebih baik dan lebih ramah di masa depan.

    Saat mengasuh, perlu juga memandu imajinasi anak – dengan berbagai cara – agar mereka dapat berbuat baik pada orang di sekitar mereka. Caranya, dengan mencontohkannya tanpa dipaksa.

    Belajar menjadi baik dengan memberi contoh
    Berikut langkah bertahap yang dapat Anda lakukan untuk membesarkan anak-anak yang mampu menyesuaikan diri secara emosional, sehingga akan tumbuh menjadi generasi manusia yang lebih baik dan lebih sensitif.

    Kebaikan adalah kebajikan yang perlu ditumbuhkan pada diri setiap anak dan memerlukan dorongan dari orang tua. Ajarkan pada mereka tentang besarnya kekuatan batin dengan menjadi orang baik. Anak-anak memiliki perasaan alami dalam mengekspresikan emosi mereka dan menunjukkan empati pada orang lain. Sebagai orang tua, Anda harus menunjukkan kepada mereka bahwa ini adalah salah satu nilai yang mutlak harus dimiliki oleh setiap orang.

    Kata ramah sederhana, seperti: “Saya bantu ya?” dapat menjadi awal dari tumbuhnya kebaikan dari anak Anda.

    Kebaikan dan rasa empati adalah memahami kesulitan atau situasi buruk yang dihadapi orang lain. juga mengetahui hal yang tepat untuk dilakukan, atau tidak dilakukan, sesuai dengan keadaan. Empati adalah kemampuan untuk menempatkan diri Anda pada posisi orang lain. Orang tua harus mengajarkan pada anak bagaimana meminta bantuan dan membantu orang lain.

    Saat di sekolah atau di taman bermain, kenalkan pada anak bagaimana memahami emosi dan situasi anak lain, dan dekati mereka untuk menawarkan bantuan. Kalimat sederhana seperti “Saya bantu ya?” dapat menjadi awal dari menumbuhkan kebaikan anak Anda. Bahkan kebaikan ini dapat dilakukan pada adik laki-laki atau perempuan yang selalu merasa tersisih, yang sedang melalui masa-masa sulit, dan mungkin membutuhkan uluran tangan.

    Pengenalan sopan santun dasar
    Seorang anak yang terbiasa dengan sopan santun sejak usia dini lebih percaya diri dan memiliki harga diri yang lebih tinggi. Seiring berjalannya waktu, seiring anak akan dapat mengembangkan perasaannya mengenai kapan dan bagaimana menyapa orang, dia tidak hanya akan berperilaku baik terhadap orang lain, tetapi juga akan memiliki kebaikan terhadap orang lain dan mudah didekati oleh orang lain.

    Anak-anak sangat cepat mencontoh kebiasaan dan ajaran-ajaran dari orang tua mereka. Orang tua harus memberikan contoh yang positif dengan mempraktekkan kata “maaf,” “tolong,” dan “terima kasih” jika diperlukan. Anda bukan teman anak Anda. Anak Anda sangat pintar dan menggemaskan.

    Mereka sangat mengenal Anda dan dapat membuat Anda melakukan apapun yang mereka inginkan. Anda sedang mengajari mereka disiplin yang dapat membangun kehidupannya kelak. Anda sedang mengajari anak-anak Anda cara menjadi orang yang selalu siap, kuat, dan sehat dalam rutinitas mereka. Terkadang Anda harus tegas dan berkata: “Tidak!” Ini pada gilirannya akan mengajarkan pada mereka kapan dan bagaimana berkata “tidak”.

    Penting juga diingat agar orang tua tetap bersabar dengan adaptasi kecepatan dan waktu mereka menumbuhkan kebiasaan ini. Sesekali memuji atau mengapresiasi perbuatan baik saat anak-anak menunjukkannya. Siapa yang tidak suka pujian?

    Ajari mereka cara meminta bantuan jika diperlukan dan menerima kritikan
    Belajar dari kritik membangun adalah cara anak Anda dapat mengembangkan pemahaman tentang beberapa pelajaran hidup yang paling penting. Namun, itu tidak semudah kedengarannya. Anak-anak tidak mungkin bisa menghadapi kritik dengan baik dan oleh karena itu, tergantung pada orang tua untuk membantu anak mereka lebih mudah memproses umpan balik negatif dan mendapatkan pelajaran darinya.

    Apalagi dengan platform media sosial, anak Anda sangat rentan terhadap kritik dari teman sebayanya. Saya yakin, penting mengajarkan pada anak bahwa pendapat orang lain tentang mereka tidak ada hubungannya dia. Apa yang orang lain pikirkan tentang anak Anda adalah urusan mereka atau – dalam beberapa hal – adalah masalah mereka. Ada sajak anak yang cocok dengan hal ini: “Tongkat dan batu bisa mematahkan tulangku tapi kata-kata tidak akan pernah menyakitiku.”

    Umumnya, umpan balik yang paling mungkin terjadi, dimulai dari lingkungan sekolah. Langkah pertama adalah mendorong anak Anda agar cukup nyaman mengungkapkan perasaan dan pendapatnya di depan Anda.
    Sesuai dengan ekspresi mereka, Anda dapat berempati dengan perasaan malu atau rasa bersalahnya. Pastikan Anda memulai dengan pengakuan akan emosi mereka, dengan cara yang paling mungkin akan mereka tanggapi.

    Anda dapat memulai dengan sesuatu seperti “Saya tahu, kamu kesal” dan secara bertahap melanjutkan untuk membuat mereka mengidentifikasi apa yang salah dalam masalah tersebut. Kemampuan anak Anda untuk mendapatkan pemahaman tentang kritik yang membangun dan mengambil pelajaran darinya berkembang secara bertahap. Pastikan Anda bersikap penuh kasih dan pengertian terhadap mereka.

    Belajar menghormati dan harga diri
    Menghormati seseorang berarti memberikan cinta dan perhatian yang cukup pada orang itu. Pengasuhan positif berarti orang tua mencontohkan pada anak-anak bagaimana bersikap hormat – tidak kasar atau tidak sopan – dalam perilaku mereka terhadap anak-anaknya.

    Menghadapi tanda-tanda sikap tidak sopan pada anak harus dilakukan sejak dini, tanpa mengeluh betapa “tidak sopannya” anak Anda. Ingatlah bahwa anak-anak mencerminkan perilaku Anda di rumah dan oleh karena itu, sebagai orang tua, Anda semestinya tidak menunjukkan perilaku yang tidak pantas dan tidak patut ditolerir.

    Belajar menjadi orang baik merupakan proses yang berkelanjutan. Sebagai orang tua yang bangga terhadap si kecil, Anda harus menjaga pikiran dan membantu anak Anda memandu emosinya saat mereka berkembang menjadi manusia yang lebih ramah dan lebih berempati serta membangun kepercayaan diri dan harga diri.

    Perlu diperhatikan bahwa terkadang ada anak – yang seperti orang dewasa – sangat mandiri dan percaya diri. Mereka ingin memecahkan masalahnya sendiri. Jika anak Anda termasuk tipe ini, saya sarankan, hormati karakternya namun pada saat yang sama, sebagai orang tua yang bijak, Anda tetap perlu mengawasi dan mengamati kebahagiaan dan ketenteramannya. Anda tahu bahwa anak remaja – khususnya – sudah cukup dewasa untuk mengetahui segala hal. Ini berkaitan dengan menemukan keseimbangan. (Emmalu/visiontimes/sia/feb)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Mengapa Sering Melakukan White Lies?

    Mengapa Sering Melakukan White Lies?

    Banyak yang telah memahami bahwa kejujuran sangat penting diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya karena dibutuhkan dalam kerjasama bisnis maupun sosial, namun orang-orang juga telah menyadarinya sebagai tuntutan spiritual.


    Namun demikian, dalam beberapa hal, terkadang kita masih melonggarkannya dengan melakukan white lies atau kebohongan-kebohongan kecil. Lantas, apakah yang membuatnya begitu menarik untuk dilakukan meskipun banyak yang telah mengetahui pentingnya arti sebuah kejujuran? Secara garis besar umumnya white lies ini dilakukan karena beberapa hal berikut ini :


    Melindungi citra
    Pamela Meyer penulis buku Liespotting saat menyampaikan seminar How to spot a liar dalam TED talk mengatakan bahwa, berbohong adalah upaya untuk menjembatani kesenjangan antara keinginan kita dan fantasi kita tentang siapa diri kita dan bagaimana kita bisa menjadi apa yang kita inginkan dengan seperti apa diri kita yang sebenarnya. Umumnya hal ini dilakukan untuk menjaga citra, menghindari perasaan malu, atau tidak ingin direndahkan.


    Keuntungan
    Secara umum, kebanyakan pembeli menginginkan barang bagus dengan harga yang murah, sedangkan penjual kebanyakan menginginkan keuntungan yang lebih besar atau banyak. Maka saat tawar menawar harga, tidak sadar terkadang kita melakukannya agar mendapatkan keuntungan yang maksimal. Seperti contoh seorang pedagang mengatakan, dia tidak ada untung jika harga ditawar lagi. Di sisi lain seorang pembeli menyinggung bahwa harga di tempat lain jauh lebih murah daripada di sini.


    Menghindar
    Terkadang kita sengaja berbohong karena tidak ingin melakukan suatu pekerjaan atau aktivitas tertentu. Seorang anak terkadang beralasan sedang belajar ketika diminta ibunya berbelanja ke pasar. Atau seseorang terpaksa mengatakan telah memiliki janji dengan orang lain ketika diminta menemani rekan sekerjanya melihat pertunjukan teater. Umumnya mereka tidak berani atau enggan menolak secara langsung karena takut atau sungkan.


    Menjaga perasaan orang lain
    Umumnya, kita melakukannya karena untuk menjaga perasaan orang lain. Misalnya, saat kita ditanya, apakah masakan teman enak, atau apakah baju yang dipakai cocok, atau bahkan pertanyaan yang jelas terlihat seperti “apakah aku terlihat gemuk atau tidak?” Kita sering kali memilih berbohong untuk melindungi perasaan teman dan keluarga kita.


    Secara umum, kita menentang ketidakjujuran, namun karena beberapa alasan diatas, entah secara sadar maupun tidak sengaja, kita memilih untuk berbohong – meski kecil. Dalam seminar yang sama, Meyer menyebutkan pada hari-hari tertentu, kita melakukan kebohongan dari 10 hingga 200 kali. Bahkan dia mengklaim, orang asing cenderung berbohong tiga kali lipat dalam 10 menit pertama pertemuan mereka. Dapat studi tersebut dapat kita lihat, bahwa seseorang juga berbohong pada orang-orang yang dekat dengannya dan cenderung berbohong lebih banyak pada orang yang tidak dikenalnya.


    Jika berbicara tentang kejujuran, sebenarnya kita dapat memikirkan seberapa penting kita menginginkan orang lain untuk percaya pada diri kita. Seberapa besar kita menghargai sebuah integritas. White lies mungkin tampaknya sederhana dan hanya kebohongan kecil. Namun jika kita terlalu sering melakukan, dampaknya tentu tidak akan bagus untuk diri kita.


    Jika kita telah berkomitmen untuk menjaga integritas, maka mulailah menjalani hidup dengan komunikasi yang lebih jujur dan terbuka. Di awal mungkin akan terasa sulit. Saat keengganan melanda, ingatlah bahwa suatu saat orang akan mengetahui kebohongan kita. Ketika hal itu terjadi, citra yang kita miliki, kejujuran yang telah kita lakukan akan pupus tertutup oleh kebohongan kecil tersebut. Kita mungkin tidak sempurna, namun saat berusaha tetap melakukan komunikasi dengan lebih jujur, kita akan merasakan kedamaian di dalam hati. (ntdindonesia/averiani)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Membangun Kepercayaan pada Anak

    Membangun Kepercayaan pada Anak

    Kebanyakan orang tua pasti setuju jika kepercayaan adalah salah satu pondasi dalam membangun hubungan dekat dengan anak-anak. Saat anak telah menaruh kepercayaan pada orang tuanya maka dia menyadari sedang menyandarkan kebahagiaannya tanpa rasa takut pada orangtuanya

    Kepercayaan dapat terjalin dari berbagai bentuk dan interaksi. Semua orang tua pasti berusaha untuk membangunnya. Namun ada kalanya mereka juga merasa kesulitan, karena banyaknya interupsi dari luar baik dari internet, game, teman, atau hal-hal lainnya. Pola pengasuhan telah jauh berbeda dibandingkan masa-masa sebelum gawai mulai mengambil alih.

    Berikut beberapa tips agar orang tua tetap dapat berpegang pada bagaimana membangun hubungan dengan anak-anak generasi masa kini.

    1. Role mode

    Studi lanjutan Eksperimen Marsmallow.
    Sebuah penelitian yang mempelajari tentang gratifikasi tertunda atau delayed gratification (kemampuan menahan diri untuk mendapatkan kepuasan) pada anak-anak, menetapkan bahwa kemampuan untuk menunda kepuasan tersebut berkaitan dengan kesuksesan dalam hidup anak-anak kelak.

    Studi lanjutan lain dari The University of Rochester menemukan bahwa kelompok anak yang diberikan hadiah sesuai janji, setelah berhasil menahan diri, melakukan dengan lebih baik, dibanding kelompok anak yang tidak diberikan hadiah sesuai yang dijanjikan.

    Ini menjadi tolok ukur yang jelas bagi para orang tua, bahwa menepati janji adalah hal yang penting untuk membangun kepercayaan dan sekaligus melatih anak menjadi lebih baik. Jangan membuat janji yang sekiranya Anda akan kesulitan menepatinya. Jika terpaksa Anda tidak dapat menepati janji, jelaskan alasannya kepada anak-anak dan buatlah rencana lain untuk menebusnya.

    2. Percaya pada anak

    Salah satu cara membangun kepercayaan anak pada orang tua yakni dengan mulai percaya padanya. Semua orang tua pasti sangat ingin mempercayai anak-anak mereka, tetapi kadang-kadang anak-anak membuatnya lebih sulit dengan melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan orang tua,

    Mulailah dengan memberikan tugas-tugas sederhana pada anak dan percayakan tugas itu sepenuhnya. Sebagai contoh, menyiram tanaman. Berilah kesempatan padanya untuk melakukannya. Saat dia lupa, orang tua hanya perlu mengingatkannya, sebaiknya jangan menggantikannya. Ketika mereka telah terbiasa dalam satu tugas kecil, orang tua dapat menambahkan tugas lain yang lebih besar.

    3. Menjadi Teman dan Bersikap Responsif

    Jadilah temannya. Siapkan diri Anda untuk untuk mendengarkan, bertukar pikiran, dan berkompromi. Ini akan memberi anak Anda ruang dan kepercayaan untuk membangun kemandiriannya.

    Jangan berharap terlalu tinggi, karena mungkin akan menimbulkan kekecewaan Anda saat anak-anak tidak melakukan sesuai harapan. Kemudian hal ini akan membuat keraguan pada diri anak-anak sendiri. Alih-alih berharap terlalu tinggi, bimbing anak-anak tanpa menghakimi saat mereka belajar mengambil keputusan dan kesalahan.

    4. Mengancam Tanpa Tindak Lanjut

    Sama halnya dengan menjanjikan suatu hal yang tidak masuk akal. Memberikan ancaman tanpa menerapkannya, sama saja dengan membuat ultimatum yang  “tidak akan pernah terjadi.” Alih-alih mengatakan “tidak dperbolehkan makan snack ‘seumur hidup’” lebih baik menerapkan “tidak diperbolehkan makan snack selama belum merapikan mainannya.”

    Menerapkan sanksi setelah melakukan kesalahan mutlak dilakukan untuk menunjukkan ketepatan “janji” orang tua dalam menerapkan hukuman sekaligus mengenalkan pada anak-anak akan konsekuensi suatu perbuatan yang tidak sesuai kesepakatan.

    Memiliki sifat yang dapat dipercaya penting untuk dimiliki seorang anak karena nantinya akan membantu mereka membangun ikatan, mengajarkan mereka bagaimana bentuk bekerja sama, dan meningkatkan keterampilan komunikasi mereka. Oleh karena itu, membangun kepercayaan antara orang tua dan anak sedari kecil diharapkan dapat menjadi pondasi yang tepat. (ntdindonesia/averiani)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Campur Tangan Ilahi Pada Seorang Dokter yang Rendah Hati

    Campur Tangan Ilahi Pada Seorang Dokter yang Rendah Hati

    Pada jaman dahulu, di Tiongkok kuno, ada seorang dokter bermarga Hao. Dr. Hao memiliki keterampilan medis yang luar biasa dan rendah hati. Dia sangat terkenal dan dihormati. Suatu hari, dia menyelamatkan jiwa seorang pasien dari sebuah keluarga yang berjarak 30 mil jauhnya. Saat pulang, matahari sudah terbenam dan jalanan menjadi gelap. Dia tidak tahu bahwa dia akan mengalami peristiwa yang melibatkan campur tangan ilahi.

    Hao merasa sedikit takut. Dia memungut sebilah tongkat kayu untuk pertahanan diri untuk berjaga-jaga jika ada yang menyerangnya. Setelah berjalan beberapa langkah, tiba-tiba terdengar lolongan dari dalam kegelapan. Hao berteriak: “Siapa itu?” Kemudian, empat pria muncul dari kegelapan. Wajah mereka berlumuran abu hitam, dan batang besi di tangan mereka memancarkan pantulan yang mengerikan.

    Menyadari mereka adalah perampok, Hao memohon: “Saya adalah seorang dokter yang merawat dan menyembuhkan pasien. Bisakah kalian melepaskan saya?” Namun keempat pria itu menolak permintaannya. Mereka menggeledah dan menjarah semua barang berharga Hao. Mereka memperingatkan dia: “Enyahlah. Jangan sampai kami melihat kamu lagi!”

    Menyelamatkan seorang anak dari dua ekor serigala

    Hao selamat dan melarikan diri dengan panik. Saat dia berlari, dia mendengar seorang anak menangis. Hao bergumam pada dirinya sendiri: “Aduh, ada apa denganku. Masalah datang silih berganti. Saya tidak perlu menghiraukannya, biarkan saja dan segera pergi; semakin sedikit masalah, semakin baik.”

    Namun semakin jauh dia pergi, semakin keras tangisan anak itu. Hao tidak kuasa menggerakkan kakinya lagi. Dia berpikir dalam dirinya: “Saya adalah seorang dokter yang membantu dan menyelamatkan orang. Bagaimana saya bisa meninggalkan seseorang dalam kesusahan?” Jadi dia mengikuti arah tangisan tersebut untuk menemukan anak itu.

    Ketika Hao mencapai lokasi, dia menemukan dua ekor serigala sedang berputar-putar mengelilingi seorang anak. Hao dengan cepat menyalakan api dari beberapa rumput kering untuk mengusir serigala. Mengikuti petunjuk anak tersebut, Hao membawa anak itu pulang dengan selamat.

    Ketika mereka sampai di rumah anak tersebut, ibu anak tersebut menangis terisak-isak. Dia sangat gembira saat melihat anak itu kembali tanpa cedera. Dia menjelaskan: “Suami saya meninggalkan rumah untuk berjudi hampir setengah bulan yang lalu. Baru-baru ini, penyakit “Mountain Fever” telah menyebar di area ini, dan anakku terinfeksi. Pamannya meminta saya membuang anak itu untuk mencegah anak-anak lain terinfeksi, dan dia meninggalkan anak itu di tempat terpencil.”

    Setelah mengetahui penyakitnya, Hao berkata bahwa dia bisa menyembuhkannya. Dia menghibur ibu anak itu dan meresepkan ramuan obat yang tepat. Secara kebetulan, sang ibu memiliki tanaman herbal yang dibutuhkan di rumah. Sembari ibu anak itu menyeduh ramuan herbal di atas kompor, dia menyuguhi Hao secangkir anggur.

    Tepat pada saat itu, pintu didobrak dengan keras, dan seorang pria dengan mata merah menerobos masuk ke dalam rumah. Dia meraih kerah baju Hao dan menuduhnya: “Hei bajingan! Beraninya kamu merayu istriku di tengah malam?” Ketika suami wanita itu mencekik leher Hao, sang istri mencoba menjelaskan, tetapi didorong ke lantai.

    Bertemu perampok dan pencuri

    Saat kedua pria itu bergumul, seorang pria lain melompat dari tiang atap rumah, menunjuk ke suaminya, dan bertanya: “Pria macam apa kamu ini? Aku benar-benar tidak tahan lagi.” Suaminya terkejut dan bertanya: “Siapa kamu?” Pria itu berkata: “Saya adalah seorang pencuri. Kamu bisa memukuli saya atau membawa saya ke pihak berwenang, tapi saya ingin bersikap adil terhadap orang ini.”

    Ternyata pencuri ini sedang mencari kesempatan untuk merampok rumah tersebut dan melihat hanya ada satu wanita disana, maka dia menyelinap masuk dan bersembunyi di atap untuk menunggu saat yang tepat untuk merampok rumah tersebut. Sambil menunggu, dia mendengar percakapan antara wanita dan dokter itu, dan dia tersentuh sampai meneteskan air mata oleh sikap Hao yang tidak mementingkan diri sendiri. Membandingkan dirinya dengan dokter yang baik hati, pencuri itu merasa malu. Dia memutuskan untuk memperlihatkan dirinya. Setelah mendengarkan penjelasan pencuri tersebut, sang suami melihat lebih dekat ke wajah Hao dengan lampu dan berteriak: “Ya ampun!” Dia kemudian berlutut di lantai di depan Hao. “Kebaikanmu telah menyelamatkan beberapa nyawa. Apakah kamu ingat siapa saya? ” Tapi Hao tidak bisa mengenali pria di depannya.

    Sang suami melanjutkan: “Saya beritahu Anda. Saya adalah salah satu dari perampok yang merampok Anda di gunung tadi. Ini saya kembalikan semua uang yang saya ambil darimu. Saya kembalikan semuanya. Anda adalah penyelamat keluarga saya. Saya mohon menginaplah malam ini dirumah kami. Jika tidak, saya lebih baik bunuh diri di hadapan Anda atau laporkan saja saya ke kantor pemerintah!” Hao akhirnya terpaksa menginap.

    Malam itu, ketiga pria itu minum dan mencurahkan isi hati mereka satu sama lain. Hao mengaku sebenarnya dia enggan menyelamatkan anak itu saat pertama kali mendengar tangisannya. Saat fajar, suami dan pencuri itu bersikeras untuk mengantar Hao pulang. Kedua pria itu berseru, “Kamu tidak hanya menyelamatkan anak itu, tetapi kamu juga menyadarkan hati nurani kami berdua. Mari kita antar kamu pulang dengan selamat.” Hao tidak bisa menolak keramahan mereka, maka ketiga pria itu pergi menuju ke rumah Hao bersama-sama.

    Siapa yang menabur, dia yang akan menuai hasilnya

    Mendekati desa keluarga Hao, ketiga pria itu merasakan tiupan angin. Aroma terbakar tercium dari hembusan itu, dan mereka menemukan desa itu tinggal reruntuhan dengan mayat bergelimpangan dimana-mana.

    Hao berkata: “Tidak baik,” dan kemudian pingsan. Teman-temannya berusaha keras untuk membangunkannya. Setelah Hao pulih, mereka mencari istri dan anak Hao di seluruh desa, tetapi tidak berhasil. Mereka mengira para penjahat telah membunuh seluruh penduduk desa di malam hari.

    Pada saat itu, terdengar suara anak kecil berteriak: “Ayah!” Hao menoleh dan melihat kakak iparnya berjalan ke arahnya dengan dua keledai membawa istri dan anak-anaknya. Ternyata istri Hao sangat kesal pada malam sebelumnya saat Hao tidak pulang. Istrinya berpikir bahwa suaminya pasti sedang makan, minum, dan bersenang-senang dengan teman-temannya. Jadi dia membawa anak-anaknya pulang ke rumah orang tuanya.

    Orang tuanya sangat pengertian dan membujuknya untuk pulang keesokan harinya agar menantu mereka tidak merasa khawatir kehilangan istri dan anak-anaknya. Menjelang fajar, kakak laki-lakinya menemani mereka pulang. Setelah tiba di desa, mereka baru mengetahui bahwa para penjahat telah membantai seluruh desa kecuali keluarga Hao.

    Rangkaian peristiwa itu telah mengejutkan semua orang. Jika Hao tidak menyelamatkan anak itu pada malam sebelumnya dan pulang ke rumah, seluruh keluarganya akan dibunuh oleh para penjahat. Jika, setelah Hao membawa pulang anak itu, ayahnya tidak salah paham dan membiarkannya segera pulang, dia mungkin akan bertemu dengan para penjahat tersebut. Melihat kembali semua peristiwa itu, Hao menyadari bahwa semua peristiwa itu merupakan pengaturan Sang Pencipta. Dia menghela napas: “Kehendak Langit. Benar-benar kehendak Langit!”

    Tapi teman-temannya berkata: “Apa maksudmu dengan ‘Kehendak Langit?’ Inilah yang dinamakan ‘siapa yang menabur, dialah yang akan menuai hasilnya.’ Dr. Hao, kebaikanmu telah mendapatkan imbalannya. Seperti pepatah lama mengatakan: ‘Jika Anda melakukan perbuatan baik sepanjang waktu, Anda tidak perlu khawatir dengan masa depan Anda!’” (visiontimes/sia/feb)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

    https://youtu.be/kwu-yhT8HLk
  • Keterkaitan Pengendalian Diri dan Disiplin pada Anak

    Keterkaitan Pengendalian Diri dan Disiplin pada Anak

    Alangkah bahagianya orang tua jika melihat anaknya sukses dalam kehidupannya karena tumbuh sebagai seorang yang memiliki reliabilitas tinggi, berkualitas moral baik, dan berkarakter kuat. Namun membentuk seseorang dengan kualitas-kualitas tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pembentukan karakter seseorang dimulai sejak dini dan ini membutuhkan konsistensi, disiplin diri, dan kesabaran tidak hanya pada orang tersebut tetapi juga dari kedua orang tua.

    Eksperimen Marsmallow Stanford

    Mungkin beberapa diantara Anda pernah mendengar tentang Eksperimen Marsmallow. Sebuah penelitian yang mempelajari tentang gratifikasi tertunda atau delayed gratification (kemampuan menahan diri untuk mendapatkan kepuasan) pada anak-anak yang dilakukan oleh psikolog Walter Mischel, seorang profesor di Stanford University. Eksperimen ini kemudian menjadi salah satu studi penelitian penting dalam bidang sosio-psikologi.

    Dalam penelitian ini, seorang anak ditawari dua pilihan. Pilihan pertama, mereka akan langsung mendapat satu marsmallow (atau pretzel, tergantung preferensi anak). Sedangkan pilihan kedua, jika mereka bersedia menunggu dalam jangka waktu tertentu, akan mendapatkan dua marsmallow. Kemudian, mereka ditempatkan dalam sebuah ruangan dan peneliti meninggalkan mereka sendiri.

    Menariknya, eksperimen lanjutan yang juga dilakukan Mischel pada anak-anak yang sama beberapa tahun kemudian, menemukan bahwa anak-anak yang berhasil mendapatkan dua marsmallow cenderung lebih berhasil dalam skor SAT (tes standar untuk penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi di Amerika Serikat), pencapaian pendidikan, indeks massa tubuh (IMT), dan langkah-langkah kehidupan lainnya.

    Pengendalian diri

    Pada Eksperimen Marshmallow, Mischel mencatat bahwa anak-anak yang berhasil melalui rentang waktu yang ditentukan, menghabiskan waktunya dengan mengalihkan perhatian dari marshmallow. Daripada frustasi saat menunggu, mereka berusaha mengisi waktu dengan melakukan hampir segala hal (termasuk berusaha agar tertidur), yang membuat waktu menjadi tidak terasa lama. Dari hasil tersebut juga dapat diketahui bahwa anak-anak pun dapat mencoba mengendalikan diri dengan batas waktu yang sesuai usianya.

    Kemampuan pengendalian diri atau niat yang kuat dari diri sendiri ini adalah bekal yang diperlukan saat seseorang akan menerapkan kebiasaan berdisiplin diri dan terus konsisten. Bagi seorang anak, cenderung lebih memilih hal-hal yang menyenangkan dirinya daripada melakukan “tugas atau kewajibannya” adalah hal yang tidak mengherankan. Karena pada usia kanak-kanak, perkembangan emosi lebih dominan daripada perkembangan otak.

    Menerapkan kedisiplinan pada diri sendiri, membutuhkan upaya yang besar dan kemampuan untuk mengendalikan diri. Maka kemampuan ini perlu diasah dan dilatih terus menerus sedari kecil.

    Disiplin di usia dini

    Mengapa perlu melatih anak untuk berdisiplin sejak dini? Karena disiplin terbentuk dari kebiasaan. Suatu ketidakdisiplinan jika tidak dibenahi dari kecil akan membentuk pola dan menjadi kebiasaan hingga dewasa.

    Lantas, bagaimana cara melatih seorang anak, yang notabene kemampuan berpikirnya belum matang, untuk berdisiplin? Salah satu cara adalah membantu mengingatkannya. Jika anak memilih tetap bermain saat jadwalnya belajar, orang tua perlu mengingatkannya dengan tenang tetapi tegas. Jangan bosan. Ingat bahwa kemampuan berpikir anak masih belum sempurna.

    Orang tua juga perlu konsisten. Jika orang tua telah membuat jadwal belajar pada pukul 19.00. Usahakan setiap hari mengingatkan pada jam tersebut. Ketika aktivitas itu dilakukan secara konsisten pada jam sama setiap hari, maka semakin lama akan menjadi kebiasaan.

    Disini peran orang tua sangat penting. Oleh karena itu, orang tua harus lebih dulu berdisiplin dan konsisten agar anak tidak menyepelekan karena kadang diingatkan kadang tidak atau kebingungan dengan jadwal yang berubah-ubah,

    Sebenarnya, disiplin yang diajarkan pada anak sejak usia dini, tidak hanya bertujuan agar patuh pada Anda, namun juga mulai mengenalkannya pada tanggung jawab yang dibebankan padanya. Lebih dari itu, disiplin pada anak nantinya akan berguna saat dia bertemu dengan berbagai hal yang mengganggu tujuannya. Bagaimana dia mampu menahan diri dari godaan dan memilih hal yang tepat bagi dirinya. (ntdindonesia/averiani)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

    https://youtu.be/l7qMwDot36g
  • Ketekunan dan Kebaikan Membentuk Karakter Kuat

    Ketekunan dan Kebaikan Membentuk Karakter Kuat

    Ketekunan Leonardo da Vinci

    Leonardo da Vinci adalah pelukis besar dari Italia pada masa Renaisans Eropa. Dia suka melukis sejak kecil, dan ayahnya mengirimnya ke Florence, seorang pelukis ternama, untuk belajar seni. Sang guru mengajarinya melukis telur di awal kelas. Dia melukis terus menerus selama lebih dari 10 hari, tetapi gurunya tetap menyuruhnya melukis telur. Da Vinci tidak dapat memahaminya, jadi dia bertanya kepada gurunya: “Mengapa kamu selalu menyuruhku melukis telur?”

    Sang guru menjawab: “Meskipun nampaknya semua telur sama, namun mereka tidak sepenuhnya identik. Bahkan telur yang sama, jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, akan memiliki cahaya yang berbeda. Misalnya, dengan mendongakkan kepala lebih tinggi atau menurunkan titik pandang, maka akan membentuk garis elips yang berbeda. Oleh karena itu, melukis telur adalah keterampilan dasar, dan keterampilan dasar harus dilatih secara teratur.”

    ‘Perjamuan Terakhir’ adalah salah satu karya Leonardo Da Vinci yang paling terkenal.

    Sejak saat itu, Da Vinci bekerja keras untuk melatih keterampilan yang diperlukan, melukis telur setiap hari. Tahun demi tahun, kertas sketsa yang digunakannya untuk melukis telur semakin menumpuk. Setelah sekian lama rajin berlatih, akhirnya dia berhasil menciptakan banyak lukisan terkenal dan menjadi master.

    Hati yang Baik Mutlak Diperlukan

    Seorang mahasiswi, yang akan lulus, menyerahkan lamaran kerja ke rumah sakit setempat. Dalam perjalanan pulang, kebetulan dia melihat seorang pria berusia 80 tahun mengendarai sepeda roda tiga di jalan setapak dan mengalami kecelakaan dengan sepeda roda tiga miliknya. Jadi dia bergegas untuk mengangkat sepeda roda tiga yang jatuh dan mengeluarkan bantal dari mobilnya untuk diberikan kepada lelaki tua itu.

    Dia berkata: “Orang tua itu mengatakan jika dia pusing. Tidak ada luka serius, jadi kemungkinan disebabkan oleh tekanan darah tinggi. Karena saya pernah magang di rumah sakit dan menghadapi beberapa keadaan darurat, maka saya hanya dapat mengandalkan pengalaman untuk menentukan apa yang harus dilakukan, karena tidak ada peralatan yang tersedia.”

    Selanjutnya, semakin banyak orang datang untuk melihat. Beberapa orang menelepon nomor darurat untuk meminta bantuan, beberapa lainnya membantu menghubungi anggota keluarga lelaki tua itu. Sementara, si gadis terus berlutut di tanah untuk berkomunikasi dengan pria tua itu dan memberinya semangat. Setelah ambulans membawa pria tua itu, dia beranjak dengan lega.

    Kebetulan direktur rumah sakit tempat dia melamar kerja juga memperhatikan masalah ini. Dia berkata: “Jika gadis ini melamar pekerjaan ke rumah sakit kami, dia tidak perlu mengikuti ujian. Saya akan mempekerjakannya secara langsung.” Lanjutnya, “Dengan karakter yang begitu baik, mengapa khawatir dia tidak melakukan apapun di tempat kerja?”

    Segera setelah berita itu dimuat, sebuah surat kabar berkomentar: “Penerimaan istimewa ini luar biasa! Langsung diterima di rumah sakit untuk menyelamatkan orang mengungkapkan pentingnya “karakter”, menjunjung moralitas, dan mengokohkan kepribadian. (visiontimes/sia/feb)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

    https://youtu.be/-iqt1nnSrI4
  • Integritas: Mengajarkan Anak ‘Melakukan Hal yang Benar, Meskipun Tidak Ada yang Melihat’

    Integritas: Mengajarkan Anak ‘Melakukan Hal yang Benar, Meskipun Tidak Ada yang Melihat’

    “Cara paling singkat dan pasti untuk hidup terhormat, adalah menjadi diri kita sendiri; dan jika kita amati, akan menemukan, bahwa semua kebajikan manusia akan bertambah dan memperkuat dirinya seiring dia mempraktekkannya.” – Socrates

    Ketika anak saya, Jacob, masih kecil, dia terbiasa mengadukan dirinya sendiri.

    Tak peduli seberapa kecil kesalahan yang dilakukan, dia akan selalu mencari saya untuk mengaku. “Mama, saya menjatuhkan fotonya,” atau “Mama, saya merusak kereta saya.” Dia sepertinya perlu memberi tahu saya apa yang telah dia lakukan sehingga dia bisa meluruskan kesalahannya dan memperbaikinya. Saya selalu menganggap kepolosan dan kejujurannya sebagai suatu hal yang menyejukkan.

    Pengakuan ini berlanjut sampai sekitar kelas empat atau lima, dan kemudian saya mulai melihat adanya perubahan. Dia berhenti mengadukan dirinya sendiri dan kadang-kadang bahkan tidak ingin memberi tahu saya jika dia telah melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dia lakukan. Dan terkadang dia bahkan berusaha menutupinya. Tentu saja, pada saat itu, dia sudah mendapatkan banyak pengaruh baru dari luar, bersamaan dengan bertambahnya keinginan untuk tidak mendapat masalah.

    Sebagai seorang dokter osteopati, saya telah dilatih untuk melihat orang secara keseluruhan – pikiran, tubuh, dan jiwa – dengan pemahaman bahwa masing-masing mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan kita. Jika Anda mengabaikan satu bagian, maka secara keseluruhan tidak akan baik juga. Karakter dan nilai moral Anda memiliki peran penting di sini. Mengutip Socrates lagi: “Ada dua jenis penyakit jiwa, sifat buruk dan ketidakpedulian.” Dengan pengetahuan inilah saya berusaha membantu putra saya memahami mengapa, dan bagaimana, dia harus melakukan hal yang benar.

    Hal inilah yang membentuk diri kita seutuhnya.

    Pelajaran Hidup

    Sejak masih kecil, pagi hari di akhir pekan, Jacob biasa naik ke tempat tidur saya dan kami berbincang-bincang tentang apa yang saya sebut “pelajaran hidup.” Kami akan membahas semuanya, mulai dari apa yang terjadi di sekolah dengan teman dan gurunya, mengapa sesuatu yang buruk terjadi di dunia, hingga mengapa kami diciptakan. Dia sering menanyakan sesuatu di luar dugaan, dan saya mencoba menjawab sebaik mungkin, sambil menanyakan pemikirannya juga. Pelajaran tentang kejujuran, kebaikan, dan memikirkan orang lain terlebih dahulu hanyalah beberapa tema yang terjalin sepanjang pembicaraan kami, dan tampaknya dengan mudah dia memahaminya.

    Teladani prinsip yang kita inginkan anak-anak kita pelajari dan berdiskusi dengan mereka tentang prinsip-prinsip tersebut.

    Saya memutuskan untuk menggunakan sebagian dari waktu yang berharga ini untuk membahas pelajaran hidup yang penting, terutama mengingat perubahan yang mulai saya perhatikan – perihal “melakukan hal yang benar, meskipun tidak ada yang melihat.”

    Kami telah menyentuh topik ini sebelumnya, tetapi saya ingin putra saya memahami bahwa hanya karena tidak ada orang lain yang tahu bahwa dia telah melakukan sesuatu yang salah, bukan berarti baik-baik saja. Kita semua pada akhirnya bertanggung jawab atas keputusan kita, dan keputusan tersebut memiliki konsekuensi. Penting baginya untuk memahami ini.

    Saat kami berbicara tentang melakukan hal yang benar, saya sadar bahwa, saat pertama, bagaimanapun juga, terkadang ada beberapa pilihan sulit yang harus dibuat. Saya pasti telah ikut mengambil bagian dalam membuat kesalahan.

    Susan Alexander Yates, dalam situs parenting online Focus on the Family, membuat beberapa pengamatan yang sangat valid mengenai pentingnya integritas diantara hal lainnya.

    Kita harus berhati-hati untuk tidak membengkokkan prinsip kita, sekecil apa pun masalahnya, betapa kita merasa bersalah, betapa kita merasa benar dalam tindakan kita, atau betapa menguntungkannya hal itu bagi kita.

    Dia berkata, “Sebagai orang tua, apakah kita lebih menghargai integritas daripada kesuksesan? Jika saya menghargai integritas, saya akan bersikeras agar putra saya membuat line calls (banding terhadap keputusan hakim garis) yang jujur ??dalam pertandingan tenisnya, bahkan jika itu menyebabkan dia kalah. Saya tidak akan menuliskan esai perguruan tinggi untuk putri saya, meskipun menurut saya itu dapat meningkatkan peluangnya untuk diterima. Karena nilai-nilai budaya kita yang menyesatkan, kita harus waspada: Keinginan untuk sukses dapat secara halus mempengaruhi keputusan kita dan pada akhirnya mengikis karakter kita.”

    Menunjukkan pada anak-anak kita saat memilih untuk melakukan hal yang benar, daripada melakukan apa yang paling menguntungkan kita, dapat mengajarkan pada anak-anak bagaimana mulai berpikir hal yang sama. Dan semakin kita mempraktekkan cara berpikir dan berperilaku seperti ini, kita akan semakin mahir dalam melakukan hal yang benar.

    Membuat keputusan yang tepat

    Kita memiliki kesempatan setiap hari untuk menguji apakah kita memilih melakukan hal yang benar atau hal yang mudah, nyaman, dan pada akhirnya mementingkan diri sendiri.

    Terkadang pilihan ini tidak mudah, dan kita mendapatkan diri kita berada di tengah-tengah konflik internal yang nyata. Tapi suara mana yang pada akhirnya akan kita pilih untuk didengar?

    Sebagai anak-anak, kita lebih murni, tetapi seiring bertambahnya usia, kita dihadapkan pada contoh orang lain yang tidak melakukan hal yang benar. Contoh-contoh ini datang dari orang tua kita, anak-anak lain di sekolah, televisi, media sosial, dan sebagainya. Dengan semua pesan ini, kita mungkin mulai percaya bahwa melakukan hal yang benar sebenarnya tidak terlalu penting.

    Anak-anak bisa melihat perilaku buruk melalui anak-anak lain di sekolah, televisi, media sosial, dan lain sebagainya.

    Tetapi melakukan hal yang benar, juga dikenal sebagai integritas, adalah penting. Sangat penting untuk diri kita hari ini – dan diri kita di masa mendatang. Integritas kita akan membentuk anak-anak kita, generasi mendatang, dan masyarakat pada umumnya. Ini memengaruhi keputusan yang kita buat hari demi hari, hubungan kita, bagaimana kita menanggapi tantangan hidup, bagaimana kita memilih pemimpin kita, dan hampir setiap aspek kehidupan kita.

    Susan Alexandra Yates melanjutkan tentang integritas: “Menjadi orang yang berintegritas berarti menjadi seseorang yang benar-benar jujur, dapat dipercaya, teguh dan dapat diandalkan, entah orang lain melihatnya atau tidak. Sayangnya, budaya saat ini tidak menghargai integritas. Hal ini sering kali mengarah pada sikap yang mengatakan tidak apa-apa melakukan apa pun yang kita inginkan selama tidak ada yang tersakiti dan tidak ketahuan. ”

    Ada banyak pembicaraan di masyarakat saat ini tentang melakukan apa pun yang Anda inginkan. Ada juga banyak contoh memperlihatkan perilaku buruk karena Anda merasa dirugikan atau kecewa atas suatu masalah. Menurut saya, ini adalah pemikiran yang salah. Demi karakter moral Anda, serta orang-orang di sekitar kita dan masyarakat luas, Anda harus membuat pilihan yang baik dan bertindak dengan kebaikan dan integritas, apa pun situasinya. Lagi pula, terkecuali Anda tinggal di pulau pribadi, siapa Anda dan bagaimana Anda berperilaku pada akhirnya memengaruhi orang lain. Tidak ada yang bisa dihindari. Dan pada akhirnya, perilaku buruk tetaplah perilaku buruk, tidak peduli bagaimana Anda mencoba untuk membenarkannya.

    Tahu Dimana Anda Berpijak

    Penting untuk memikirkan dengan serius apakah itu moral dan nilai, lalu meneruskannya kepada anak-anak. Anda melakukan dengan mencontohkan prinsip-prinsip ini dan berdiskusi dengan anak-anak Anda setiap ada kesempatan, bahkan saat berjalan-jalan atau mengemudi ke sekolah. Fakta yang menyedihkan bahwa diskusi seputar moral dan nilai tidak cukup sering dilakukan dengan anak-anak kita saat ini. Dengan keadaan dunia seperti sekarang ini, diskusi-diskusi ini dibutuhkan lebih banyak dari sebelumnya.

    Merriam-Webster mendefinisikan integritas sebagai “kepatuhan yang kuat pada kode terutama nilai moral atau artistik.”

    Kepatuhan pada kode nilai moral ini berbeda dengan kepatuhan pada opini populer, terutama ketika apa yang populer menyimpang dari yang benar.

    Ini penting untuk diingat oleh kita semua, tetapi terutama untuk anak-anak Anda. Tekanan teman sebaya dapat membawa anak Anda ke jalan kehancuran hanya dengan satu pilihan yang buruk.

    Tekanan teman sebaya dapat membawa anak Anda ke jalan kehancuran hanya dengan satu pilihan yang buruk.

    Karena alasan inilah pembicaraan dengan putra saya selalu menggunakan contoh nyata. Misalnya, saya akan menanyakan hal-hal seperti: “Apa yang akan kamu lakukan jika beberapa anak di kelas meminta kamu mencuri sesuatu dari toko? Dan bagaimana jika mereka mulai mengejek kamu jika kamu tidak mau ikut? ” Setelah dia menjawab dengan: “Saya hanya akan mengatakan tidak dan pergi.” Kemudian saya akan melanjutkan dengan. “Bagaimana jika A.S. (sahabatnya) meminta kamu untuk mencuri video game Mario Bros yang kamu inginkan, dan kamu tahu tidak ada yang akan melihat kamu mengambilnya?”

    Saya telah mengajukan skenario berbeda kepadanya selama bertahun-tahun, yang melibatkan segala hal mulai dari merokok, menipu, bertanggung jawab atas tindakannya, hingga mengutamakan orang lain. Harapan saya adalah, jika dia memikirkan beberapa hal ini sebelumnya, dia akan tahu di mana dia berpijak dan akan lebih mudah untuk melakukan hal yang benar ketika saatnya tiba.

    Menanamkan Integritas

    Laura Markham memberi beberapa wawasan tentang bagaimana Anda dapat membantu anak-anak Anda belajar melakukan hal yang benar dalam sebuah artikel di Psychology Today. Dia mencantumkan empat hal untuk difokuskan saat mengajar anak-anak tentang integritas.

    Pertama, anak-anak selalu memperhatikan perilaku Anda, artinya Anda menjadi contoh dan mereka mempelajarinya. Dan menurut saya setiap orang tua tahu meskipun mereka mungkin berpikir anak mereka tidak selalu memperhatikan ? tetapi sebenarnya mereka memperhatikan.

    Katakanlah, Anda keluar dari supermarket dan melihat petugas lupa mencatat botol minum Anda. saat Anda berkata: “Lupakan saja, saya tidak punya waktu untuk masuk kembali,” atau lebih buruk lagi: “Asyik, minuman gratis,” pelajaran apa yang Anda ajarkan pada anak Anda? Kembali ke dalam dan membayar adalah hal yang benar, maka anak Anda akan belajar bagaimana menangani situasi serupa dengan integritas. Saat menjalani rutinitas, sangat penting bagi Anda untuk melakukan hal yang benar agar anak Anda tahu bagaimana mereka diharapkan untuk berperilaku.

    Saya ingin menunjukkan bahwa meskipun penting untuk menjadi teladan yang baik, bukan berarti bahwa Anda tidak boleh mengoreksi atau membimbing anak-anak Anda hanya karena Anda mungkin telah melakukan kesalahan yang sama seperti yang Anda lihat mereka lakukan. Jika Anda menggunakan cara berpikir yang salah ini, bagaimana Anda akan pernah mengajar anak-anak Anda benar dan salah?

    Tugas Anda sebagai orang tua adalah membimbing anak Anda ke jalan yang benar, mendidik mereka dengan akal sehat dan nilai-nilai yang luhur. Jika Anda merasa harus menjadi seorang yang sempurna lebih dulu untuk melakukannya, bagaimana Anda dapat menjadi orang tua yang efektif? Bagaimanapun juga, kita adalah manusia dan karenanya kita akan tersandung dan jatuh, dan tentunya masing-masing memiliki kelemahan dan kekurangan. Tetapi Anda tidak boleh menggunakan ini sebagai alasan untuk membiarkan anak Anda secara pasif menunjukkan penilaian yang buruk atau perilaku yang buruk. Pemikiran seperti itu akan mengarah pada penurunan perilaku, moral, dan nilai-nilai anak Anda, dan masyarakat secara umum.

    Selanjutnya, menunjukkan pada anak Anda bagaimana tindakannya berpengaruh pada orang lain akan sangat membantunya mempertimbangkan apakah dia bertindak dengan baik dan penuh perhatian. Itu adalah prinsip “perlakukan orang lain seperti apa yang akan Anda lakukan kepada diri Anda” sedang diterapkan. Ketika anak Anda membiarkan yang lain bermain dengan truk favoritnya, tunjukkan betapa bahagianya anak itu, dan bagaimana perasaan anak Anda jika seseorang berbagi mainan favoritnya dengannya. Kemudian tanyakan kepada anak Anda bagaimana perasaannya setelah berbagi mainan truknya. Melakukan hal yang benar terasa sama baiknya bagi si pemberi seperti halnya bagi penerima, jadi pastikan anak Anda mengetahui hal ini.

    Anda juga memiliki kesempatan untuk menggunakan perihal melakukan yang salah sebagai momen pelajaran, dan menawarkan pilihan alternatif untuk perilaku anak Anda.

    Misalnya, anak Anda memilih untuk bermain daripada mengerjakan pekerjaan rumahnya, dan kemudian mendapat nilai buruk untuk tugasnya. Ini adalah kesempatan baginya untuk merasakan akibatnya dan memikirkan tentang apa yang dapat dia lakukan dengan cara yang berbeda. Sebagai alternatif, dia bisa duduk setiap hari sepulang sekolah untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya, dan kemudian bermain setelahnya. Apakah dia berpikir itu akan terasa lebih baik daripada bermain sementara mengetahui pekerjaan rumahnya menunggu dan kemudian harus buru-buru menyelesaikan pekerjaan rumahnya setelah dia lelah bermain?

    Merasakan akibat dari memilih bermain daripada mengerjakan pekerjaan rumah dapat membuat seorang anak berpikir tentang apa yang dapat dia lakukan dengan cara yang berbeda.

    Terakhir, Markham merekomendasikan untuk mengajukan pertanyaan kepada anak-anak kita yang memungkinkan mereka untuk merefleksikan kembali perilaku dan tindakan mereka. Menggunakan contoh peran, seperti yang telah saya lakukan dengan Jacob, akan sangat efektif di sini, seperti: “Apa yang akan Anda lakukan jika situasi ini terjadi?” Menanyakan kepada anak Anda apa yang dia pelajari dari suatu situasi, dan jika sebagian dari dirinya tahu bahwa apa yang terjadi tidak benar, juga membantunya untuk melihat ke dalam dan melihat di mana dia dapat berkembang. Beberapa pelajaran hidup yang paling berharga didapatkan dengan cara ini.

    Mark Merrill, ayah dari lima anak dan juara integritas, berkata: “Bagaimana jika saya katakan bahwa ini bukanlah tindakan tunggal, tetapi pola pikir yang perlu Anda kembangkan? Integritas lahir dalam pikiran dan hati seseorang. Ia berasal dari diri Anda sebagai pria atau wanita, dan apa yang benar-benar Anda yakini tentang benar dan salah, baik dan jahat. Dan integritas diperlihatkan tidak hanya dalam satu tindakan kebaikan, tetapi dalam keseluruhan karakter Anda.”

    Merrill menyarankan untuk fokus pada beberapa dasar dalam mengembangkan integritas, seperti apa yang Anda katakan, bagaimana Anda mengatakannya, apa yang Anda lakukan, dan bagaimana Anda melakukannya. Dengan menggunakan ini sebagai panduan, Anda dapat mengevaluasi bagaimana Anda berperilaku untuk memastikan Anda sejalan dengan nilai dan prinsip yang ingin Anda jalani, dan dapat terus menanamkannya pada anak-anak. Saya juga akan memasukkan tentang memperhatikan apa yang Anda pikirkan, karena itu adalah dasar daei apa yang Anda katakan dan lakukan.

    Di situs web All Pro Dad, yang fokus pada membimbing para pria untuk menjadi teladan bagi anak-anak mereka, Merrill mengatakan mengenai memilih hal yang salah: “Ketika kita mendapat keuntungan dari tindakan yang dipertanyakan dan praktik non-etika, kita juga akan meninggalkan jejak rasa sakit yang ditimbulkan kepada orang lain. Ini adalah hukum alam bahwa orang yang lain akan menderita ketika seseorang mengambil apa yang bukan miliknya. Seseorang harus membayar tindakan ini. Suatu hal yang gelap pada akhirnya akan tersingkap. Itu pasti.”

    Memandang ke Depan

    Beberapa penulis mengaitkan kutipan dari salah satu pebisnis tersukses sepanjang masa, Warren Buffett, yang berbicara tentang pentingnya integritas.

     “Dalam mencari karyawan, carilah tiga kualitas: integritas, kecerdasan, dan energi. Dan jika mereka tidak memiliki yang pertama, dua lainnya akan membunuh Anda.”

    Sebagai orang tua, Anda memasukkan anak ke sekolah terbaik untuk memastikan mereka mendapatkan pendidikan terbaik agar sukses dalam kehidupannya. Kita menghargai kecerdasan. Namun mungkinkah Anda telah melewatkan sesuatu hal? Seperti disampaikan Buffett, kecerdasan tanpa integritas akan membunuh Anda, atau paling tidak, bisnis Anda. Meski pendidikan itu penting, namun karakter jauh lebih penting untuk kesuksesan, dan ini menjadi hal yang tidak cukup mendapatkan perhatian.

    Saat ini, putra saya berusia 14 tahun. Dan saat dia tidak lagi marangkak naik ke tempat tidur saya, saya berhasil menyisipkan beberapa pelajaran hidup saat dia telah menjalani rutinitasnya. Mengajarkannya pelajaran moral, nilai, dan prinsip dasar yang kuat untuk memberikan landasan akan menjadi siapa dia nantinya, dan membantu menentukan jalan hidupnya. Itu adalah tanggung jawab saya baik sebagai orang tua maupun anggota masyarakat, untuk memastikan dia tumbuh menjadi pria yang berintegritas. (visiontimes/sia/feb)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Karakter adalah Hal yang Paling Berharga dalam Kehidupan

    Karakter adalah Hal yang Paling Berharga dalam Kehidupan

    Karakter adalah mahkota daun emas simbol kemenangan dan kemuliaan hidup. Pertahankan karakter Anda, maka Anda akan memiliki kekayaan terbesar dalam hidup.

    Kejujuran dan integritas
    Sering kali pengakuan seseorang dimulai dengan kejujuran, memercayai karakter orang tersebut. Jika seseorang tidak bisa mendapatkan kepercayaan orang lain, maka akan sangat sulit bagi dirinya untuk lebih maju, tak peduli seberapa besar kemampuannya.

    Sebuah perusahaan terkenal sedang mencari asisten keuangan. Bagian personalia melakukan wawancara dan menyaring pelamar.

    Banyak orang datang ke perusahaan untuk wawancara setiap hari. Akhirnya, tersisa tiga orang. Namun, kemampuan ketiga orang tersebut hampir sama, yang membuat seleksi tahap akhir menjadi semakin sulit. Maka dikonsultasikan kepada pemimpin perusahaan. Pemimpin perusahaan kemudian menanyakan pertanyaan yang sama kepada ketiga orang tersebut: “Bagaimana Anda dapat membantu perusahaan menghindari pembayaran pajak atas penghasilan 500.000 yuan (US$ 75.000)?”

    Baik pelamar pertama maupun yang kedua mengatakan bahwa mereka dapat membuat akun-akun palsu untuk menghindari pajak tersebut. Pemimpin itu mengangguk, tidak mengatakan apa-apa, lalu menyuruh mereka menunggu pemberitahuan lebih lanjut.

    Baik pelamar pertama maupun yang kedua mengatakan mereka dapat membuat akun-akun palsu untuk menghindari pajak tersebut.

    Pewawancara terakhir, seorang wanita muda, terkejut sesaat, dan kemudian duduk diam lama sebelum bertanya: “Apakah bapak yakin ingin melakukan ini?” Pemimpin itu mengangguk, dan gadis itu langsung berjalan ke pintu untuk pergi meninggalkan wawancara.

    Pemimpin itu langsung berdiri dan tersenyum padanya dan berkata: “Nona, harap tunggu. Anda adalah orang paling jujur ??di antara para kandidat, seseorang dengan integritas sejati. Selamat atas kelulusan Anda dalam tes wawancara!”

    Tak lama kemudian, wanita muda ini diangkat menjadi direktur keuangan (CFO) yang dihormati.

    Rasa syukur dan kebaikan
    Aaron, yang sangat melarat, berusaha mencari pekerjaan agar dapat membesarkan anaknya yang berusia 2 tahun.

    Suatu hari, akhirnya dia mendapat panggilan wawancara dan sangat bersemangat. Dia mempersiapkannya untuk waktu yang lama. Pagi-pagi sekali di hari wawancara, Aaron naik bus ke perusahaan.

    Dalam perjalanan, bus terhalang kecelakaan lalu lintas, namun tidak ada yang bersedia turun untuk membantu. Aaron meminta pengemudi untuk membuka pintu dan menunggunya agar dia dapat membantu korban yang terluka. Sopir itu berkata: “Bus tidak menunggu siapa pun. Saya akan tetap berangkat jika Anda turun.”

    Setelah berjuang dengan pergolakan hatinya, Aaron memilih untuk turun dari bus dan mencoba menyelamatkan korban, dia melewatkan wawancara yang berharga karenanya. Akhirnya, para korban dilarikan ke rumah sakit dan berhasil ditangani karena pengobatan yang cepat.

    Aaron memilih turun dari bus untuk mencoba menyelamatkan orang, mengorbankan wawancara kerja yang berharga karenanya.

    Aaron berkata: “Saya kehilangan kesempatan kerja kali ini, namun mungkin akan ada lebih banyak kesempatan di masa datang, tetapi seseorang hanya memiliki satu kehidupan. Pagi ini, saya hanya berpikir untuk membantu orang.”

    Beruntung karena perilakunya yang baik, perbuatannya diberitakan oleh banyak media. Setelah itu, dia menerima banyak tawaran pekerjaan, termasuk salah satunya dari perusahaan tempat dia melewatkan wawancara. Tidak hanya itu, kehidupannya juga membaik karena donasi yang dia terima dari orang-orang yang baik hati.

    Kebaikan seperti lingkaran. Jika Anda tahu bagaimana bersyukur dan bersikap baik, suatu hari, semua yang Anda lakukan akan mendapat imbalan dengan berbagai macam cara. (visiontimes/sia/feb)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

    https://youtu.be/PD8ylFBF6CU