Tag: berbakti

  • Bagaimana Bakti Dua Anak Mengubah Nasib Keluarga Mereka

    Bagaimana Bakti Dua Anak Mengubah Nasib Keluarga Mereka

    Berbakti, adalah sikap hormat kepada orang tua dan leluhur dalam masyarakat yang dipengaruhi oleh pemikiran Konfusianisme.

    Berbakti ditunjukkan, sebagian, melalui pelayanan kepada orang tua. Dua cerita berikut adalah tentang berbakti.

    Kesempatan Kedua Seorang Putra

    Wu Er adalah orang biasa yang tinggal di Kabupaten Linchuan bersama ibunya yang sudah lanjut usia. Dia terus-menerus berusaha melakukan yang terbaik untuk membantu ibunya dan membuatnya bahagia.

    Suatu malam, ketika dalam keadaan mimpi, seorang dewa memberi tahu dia: “Besok siang, kamu akan disambar petir dan akan mati.”

    Khawatir ibunya akan ketakutan dengan apa yang akan terjadi, Wu Er bangun pagi-pagi keesokan harinya. Saat menyiapkan sarapan, dia memberi tahu ibunya, ”Saya memiliki pekerjaan khusus yang harus dilakukan, dan saya harus pergi selama beberapa waktu. Bisakah ibu saya antar ke rumah kakak sampai saya kembali?” Namun, ibunya menolak untuk pergi.

    Tiba-tiba ruangan menjadi gelap. Mereka mengintip melalui jendela dan melihat langit berawan gelap dengan guntur keras di atas kepala. Wu Er menjadi lebih khawatir bahwa ibunya akan ketakutan. Dia diam-diam menutup pintu dan berjalan ke lapangan untuk menunggu nasib.

    Namun, awan gelap berangsur-angsur menyebar, dan peristiwa yang diramalkan tidak terjadi.

    Wu Er bergegas pulang dan memeluk ibunya. Dia masih khawatir bahwa bahaya belum sepenuhnya teratasi dan tidak berani mengatakan yang sebenarnya.

    Malam itu, Wu Er kembali bertemu dengan dewa, yang memberitahunya: “Kesalehan berbakti anda menyentuh langit, dan dosa-dosa dari kehidupan anda sebelumnya diampuni. Kamu harus melayani ibumu lebih rajin lagi.” Setelah kesempatan kedua ini, Wu Er merawat ibunya dengan lebih tulus sampai ibunya meninggal.

    Seorang Putra Menggerakkan Seekor Harimau

    Xu Yipeng, juga dikenal sebagai Jixiang, lahir di Kabupaten Yindi (terletak di bagian timur Provinsi Zhejiang). Dia melayani orang tuanya dengan sangat berbakti.

    Namun, karena keluarganya miskin, Jixiang harus meninggalkan rumah dan pergi ke pantai untuk mengajar. Suatu malam, dia bermimpi aneh. Dalam mimpinya, dia memberi tahu majikannya: “Saya khawatir ayah saya sakit.”

    Setelah bangun, Jixiang merasa mimpi ini adalah pertanda buruk, jadi dia memutuskan untuk pulang sesegera mungkin. Dia memaksa dirinya siang dan malam dengan sedikit istirahat. Saat malam tiba, dia sedang mendaki gunung ketika seekor harimau tiba-tiba menghalangi jalannya.

    Dia secara naluriah memohon kepada harimau untuk membiarkannya lewat dan menjelaskan ketergesaannya: “Saya terburu-buru untuk pulang karena ayah saya sakit.”

    Harimau itu tampaknya memahami dan merasakan kejujuran dan urgensi Jixiang, jadi dia diam-diam berbalik dan pergi. Setibanya di rumah, keluarga memberi tahu Jixiang bahwa ayahnya sakit parah dan mengigau.

    Ketika Jixiang berdiri di samping tempat tidur ayahnya, ayahnya tiba-tiba terbangun dan berkata kepadanya:

     “Saya baru saja bermimpi di mana saya bertemu dengan seseorang yang berkata kepada saya: ‘Hidupmu seharusnya berakhir.

    Namun, kesalehan berbakti putra anda menggerakkan seekor harimau yang memungkinkannya lewat tanpa cedera. Oleh karena itu, saya telah memutuskan untuk memperpanjang hidup anda karena putra anda yang berbakti.’”

    Dua cerita ini menunjukkan anak-anak yang memahami dan mempraktikkan berbakti kepada orang tua membawa berkah bagi orang tua dan diri mereka sendiri. (nspirement)

    Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

    VIDEO REKOMENDASI

  • Berbakti Pada Orang Tua Berbuah Keajaiban

    Berbakti Pada Orang Tua Berbuah Keajaiban

    Meng Zong adalah seorang anak laki-laki yang berbakti kepada ibunya.

    Suatu hari di musim dingin, ibu Meng Zong sakit. Dia kehilangan nafsu makan dan tidak ingin makan selama beberapa hari.

    Setelah melihatnya, Meng Zong sangat khawatir. Dia berkata kepada ibunya, “Apa yang ingin ibu makan, aku akan memasaknya untukmu.”

    Dengan suara lemah, ibunya berkata, “Saya ingin makan rebung dari bukit di belakang rumah kita, rebungnya sangat segar dan lezat.”

    Meng Zong tercengang karena saat itu musim dingin dan tidak ada rebung sama sekali. “Apa yang harus saya lakukan?” dia bertanya-tanya dalam hati.

    Meng Zong kehabisan ide dan pergi ke bukit di belakang rumah. Dia berdiri di sana dan menghela nafas. Sambil memikirkan bagaimana ibunya terbaring di tempat tidur, dia berpegangan pada pohon bambu dan menangis keras.

    Rasa berbaktinya menggugah Langit dan Bumi. Tak lama kemudian, matahari terbit dan sinar matahari yang hangat dan cerah mencairkan salju.

    Terdengar suara retakan tanah, dan beberapa rebung lembut tersingkap di antara celah. Meng Zong jadi bersemangat, ia segera mengambil beberapa rebung, dan berlari pulang.

    Dia memasak semangkuk rebung dan menyuapi ibunya dengan sendok. Setelah memakan rebung, ibunya secara ajaib sembuh.

    Pada saat itu, orang mengira bahwa rebung hanya tumbuh di musim semi karena terlihat di atas tanah dan dapat dengan mudah digali.

    Setelah mendengar cerita Meng Zong, orang-orang menemukan bahwa rebung juga dapat ditemukan di musim dingin, tumbuh jauh di dalam tanah. (eva/shenyunshop)

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini

    VIDEO REKOMENDASI

  • Berbakti: Kebaikan yang Dihargai Di atas Segalanya

    Berbakti: Kebaikan yang Dihargai Di atas Segalanya

    Dalam budaya tradisional Tiongkok, berbakti adalah: mencintai, menghormati, dan merawat orang tua adalah sikap baik yang dihargai di atas segalanya. Berikut ini adalah kisah zaman moderen tentang bagaimana anak-anak harus mempraktikkan kesalehan berbakti.

    Xiao Li berasal dari keluarga yang kurang mampu di desanya, tetapi orangtuanya banting tulang agar dia bisa kuliah. Setelah lulus, ia menjadi PNS dan membuat iri penduduk desa lainnya.

    Kemudian dia menetap di kota dan bertemu dengan seorang gadis, Ah Xiu yang juga berasal dari desa. Mereka menikah setelah berpacaran selama dua tahun. Suatu hari ayah Xiao Li datang ke kota untuk mengunjungi mereka dan dia memberi tahu Ah Xiu:

    “Ini musim tanam, Ayah butuh uang untuk membeli benih dan pupuk.”

    Begitu Xiao Li sampai di rumah, Ah Xiu membawanya ke kamar tidur dan berkata:

    “Ayahmu butuh uang untuk membeli benih dan pupuk, menurutmu 50 yuan cukup? Xiao Li yang telah memberikan semua gajinya kepada istrinya hampir bersuara, tetapi istrinya berkata, “Jika itu tidak cukup, ayah harus memikirkan cara lain, kebutuhan kita akan banyak sekali, karena saya lagi hamil.” Ah Xiu memberi ayah mertuanya 50 yuan dan memasakkan dia makan malam sederhana.

    Beberapa hari kemudian, ibu Ah Xiu datang berkunjung. Ah Xiu sangat bersemangat dan bertanya setelah dia masuk: “Bu, kamu butuh uang, kan?” Dia menyuruh ibunya menunggu sementara dia pergi ke pasar untuk membeli ikan, daging babi, dan telur untuk membuat makan malam spesial.

    Ibu Ah Xiu sangat senang dengan makan malam yang istimewa dan Ah Xiu memberi dia uang 500 yuan.

    Menjelang kelahiran anaknya, Ah Xiu bertanya kepada Xiao Li apakah dia menginginkan anak laki-laki atau perempuan, Xiao Li berkata: “Lebih baik memiliki anak perempuan.” Dia bertanya kepadanya: “Ada apa dengan memiliki anak laki-laki?” Xiao Li tidak mengatakan sepatah kata pun.

    Bulan ketika Ah Xiu akan melahirkan, dia kembali ke rumah ibunya untuk beristirahat. Saat dia pergi, Xiao Li berkata:

    “Jika kamu melahirkan seorang anak perempuan, beritahu saya segera dan saya akan ke sana secepat mungkin. Jika kamu melahirkan anak laki-laki, tidak usah beritahu saya dan berikan saja anak itu kepada orang lain.”

    Suatu hari tidak lama setelah ini, Xiao Li mengetahui dari ibu mertuanya bahwa istrinya melahirkan bayi perempuan. Xiao Li sangat bersemangat dan menemui bosnya untuk cuti. Dia kemudian membawa banyak perbekalan untuk persiapan kunjungannya bersama putri barunya dan keluarga istrinya. Begitu dia tiba di rumah mertuanya, dia meletakkan semuanya di meja dapur dan berjalan langsung ke kamar tidur.

    Ternyata istrinya melahirkan anak laki-laki, seketika Xiao Li berteriak: “Aku menyuruhmu memberitahuku ketika kamu melahirkan seorang anak perempuan, tapi ternyata anak ini laki-laki, kamu telah membohongi saya. Terserah, kamu dapat melakukan apa yang kamu inginkan dengan anak laki-laki ini.”

    Dia mengambil semua barang bawaannya dari dapur dan siap untuk pergi, namun ibu mertuanya memegang tangannya dan berkata, “Kamu tidak boleh pergi dari sini sebelum kamu memberi tahu kami mengapa kamu tidak menyukai putramu.”

    Xiao Li berkata:

    “Sejak saya lahir, orang tua saya menghabiskan semua tabungan mereka untuk membesarkan saya dan mengirim saya ke perguruan tinggi. Saya akhirnya lulus kuliah dan memiliki pekerjaan yang baik. Sejak saya menikah, kami sering mengunjungi orang tua saya dengan tidak membawa apa-apa, bahkan di hari ulang tahun mereka.

    “Belum lama ini ayah saya datang meminta uang untuk membeli benih dan pupuk, tetapi putrimu hanya memberinya 50 yuan. Tolong katakan kepada saya, apa yang bisa dibeli dengan uang 50 yuan? Ketika ayah saya meninggalkan rumah kami, dia meneteskan air mata dan berkata, ’Apa gunanya memiliki seorang putra?’ Hati saya berdarah mendengar kata-katanya.”

    “Maaf, saya tidak tahu putri saya begitu tidak sopan terhadap orang tuamu. Maafkan kami karena tidak membesarkannya dengan benar,” kata ibu Ah Xiu, yang sangat malu atas kelakuan putrinya.

    Ibu Ah Xiu kemudian berjalan ke kamarnya dan berteriak: “Turun dari tempat tidur itu dengan bayimu dan pergi dari sini, aku tidak ingin anak perempuan sepertimu.” Ah Xiu yang telah mendengar pembicaraan antara suami dan ibunya sangat menyesal dan memohon sambil berlinang air mata: “Maafkan aku bu, aku berjanji untuk berubah dan bersikap baik kepada mertuaku. Tolong izinkan saya tinggal di sini bersama bayiku selama sebulan. ”

    Xiao Li menyadari bahwa Ah Xiu mengerti bagaimana perasaannya dan masuk ke kamar dan berkata:

    “Bu, dia telah mengakui kesalahannya, saya akan memberinya kesempatan lagi.”

    Untuk semua anak di dunia, bersyukurlah karena orang tuamu masih hidup. Berbaik hatilah kepada mereka, beri mereka waktu anda, sokonglah mereka dalam kehidupan mereka.(nspirement)

    Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Kisah Sang Menantu Berbakti

    Kisah Sang Menantu Berbakti

    Pada dinasti Qing, Di bagian timur Hubei ada seorang wanita bermarga Shi yang suaminya telah meninggal sangat berbakti kepada ibu mertuanya, setiap pagi bangun tidur memasak sarapan, menyapu dan mengepel. Setelah itu dia akan ke kamar mertuanya mengucapakan selamat pagi dengan membawa sebuah baskom berisi air untuk mertuanya mencuci muka dan dua butir telur rebus diletakkan di atas meja kamar mertuanya, semua ini sudah merupakan kebiasaannya.

    Suatu pagi, dia membuka pintu kamar mertuanya masuk kedalam kamar, dia melihat dibawah tempat tidur mertuanya ada sepasang sepatu pria, dia sangat terkejut, maka dengan diam-diam keluar dari kamar dan menutup pintu kamar. Tetapi mertuanya sudah melihat dia, karena malu untuk bertatap wajah dengan menantunya, lalu menggantung diri bunuh diri.

    Tewasnya ibu mertua ini sangat menghebohkan desa, kepala desa menuduh menantu ini membunuh mertuanya sampai mati guna mendapatkan warisan melapornya ke polisi. Menantu yang berbakti ini khawatir skandal mertuanya terbongkar, sehingga tidak mau membela diri. Setelah masalah sampai di pengadilan dan akhirnya menantu tersebut dijatuhi hukuman mati, sementara menunggu dijebloskan ke penjara, ini adalah kasus yang diadili oleh hakim Wang.

    Hakim Wang sudah tua dan sakit-sakitan, akhirnya pensiun dini. Penggantinya adalah hakim Zhang yang meskipun muda namun bijaksana. Hakim Zhang melihat para tahanan yang menunggu eksekusi mati, ia melihat wanita tersebut terlihat sangat tenang dan anggun, bertutur kata sangat sopan dan begitu penolong, merasa yakin dia bukan wanita yang dapat menyiksa mertuanya sampai mati, curiga dia mungkin difitnah. Ia membuka dan mempelajari lagi kasus wanita ini dari arsip hakim Wang.

    Hakim Zhang mengatakan: “Anda pasti difitnah, saya bisa membantu Anda mencari fakta yang sebenarnya. Tetapi jika Anda tidak mau menyatakan kebenarannya, maka nyawamu tidak akan bisa bertahan. ..” namun menantu ini tidak mau berucap sepatah kata pun.

    Hakim Zhang sangat curiga kasus ini, selama beberapa hari dia terus memikirkan kasus tersebut, dalam hati kecil merasa pasti wanita ini tidak bersalah. Semalaman ia berpikir, keesokan harinya mendapatkan akal.

    Di pengadilan ada seorang petugas, istrinya adalah seorang yang sangat cerewet dan galak, hal tersebut telah diketahui oleh semua orang.

    Hakim Zhang tiba-tiba memanggil petugas tersebut dan mengatakan: “Saya akan menugaskan Anda pergi ke kabupaten melakukan suatu hal, Anda sekarang pulang ke rumah untuk berkemas, lalu segera kembali ke kantor mengambil dokumen untuk dibawa ke kabupaten.” Kira kira dua jam kemudian, petugas tersebut kembali ke kantor. Hakim Zhang tiba-tiba marah berkata: “Mengapa lama sekali anda berkemas, sehingga pekerjaanmu tertunda. Pasti istrimu yang membuat Anda tertunda, ia tidak tahu pentingnya tugas negara, saya harus menghukumnya di penjara selama seminggu.”

    Hakim Zhang segera menghukum istri pegawai itu, ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara, dipenjarakan satu sel dengan wanita Shi yang dituduh membunuh mertuanya.

    Istri petugas tersebut sepanjang malam memaki dan mengutuk hakim Zhang, bagaimana orang bisa menghormati hakim seperti itu, memenjarakan dia yang tidak bersalah. Wanita Shi tersebut tidak tahan mendengar dia memaki terus, tiba-tiba berkata: “Dunia ini mana ada keadilan? seperti saya ini yang menanggung ketidakadilan sampai mati, dan tidak berani mengatakannya, di penjara lima hari hanyalah masalah kecil, mengapa tidak menutup mulut dan diam saja?”

    Hakim Zhang diam-diam mengutus orang bersembunyi di jendela menguping. Orang tersebut setelah mendengar perkataan tersebut, lalu melaporkan kepada hakim Zhang, Hakim Zhang sangat gembira.

    Keesokan paginya dia menyuruh wanita Shi dan istri petugas bersama-sama ke pengadilan, mempertanyakan perkataan yang didengar tadi malam. Didengar dua orang, wanita Shi tidak bisa lagi menyembunyikan, Hakim Zhang akhirnya memahami kebenaran, maka merehabilitasi kasus ini dan melepaskan wanita Shi.

    Hakim Zhang dengan diam-diam memberi hadiah kecil kepada istri petugas dan meminta maaf kepadanya. Setelah peristiwa tersebut terbongkar hakim Zhang dan wanita Shi itu dikagumi oleh seluruh rakyat atas kebijaksanaan mereka.

    Jika hakim Zhang mengikuti keputusan mantan hakim terdahulu dan langsung mengeksekusi, maka wanita ini mati dengan sia-sia, tentu tidak diragukan lagi maka mertuanya di neraka mendapat hukuman atas kejahatan yang semakin serius. (Minghui School)

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini

    VIDEO REKOMENDASI

  • Kisah Wang Xiang, Cerita Klasik Abadi tentang Bakti Seorang Anak

    Kisah Wang Xiang, Cerita Klasik Abadi tentang Bakti Seorang Anak

    Banyak cerita, mitos, dan tradisi yang telah diturunkan dari Tiongkok kuno. Kisah terkenal ini melibatkan kesalehan anak. Dalam budaya Tiongkok kuno, kesalehan anak dianggap sebagai prinsip dasar etika Konfusianisme. Itu diakui sebagai sumber dari semua kebajikan.

    Prinsip-prinsip moral tradisional ini sebagian besar terdegradasi ketika Revolusi Kebudayaan membentuk kembali nilai-nilai Tiongkok. Partai Komunis Tiongkok menuntut kesetiaan kepada otoritas pusat dan mengutuk nilai-nilai tradisional sebagai peninggalan feodal untuk dimusnahkan. Seseorang diharapkan untuk setia kepada Partai, daripada kepada keluarganya.

    Menjelang akhir Dinasti Han Timur, seorang bayi laki-laki bernama Wang Xiang lahir dari pasangan Wang Rong dan Nyonya Xue. Ini adalah periode kacau balau ketika banyak panglima perang berlomba-lomba untuk menguasai sumber daya negara.

    Nyonya Xue terserang penyakit dan meninggal ketika anak laki-laki itu masih muda, dan Wang Rong menikahi Nyonya Zhu yang melahirkan seorang putra bernama Wang Lan. Nyonya Zhu tidak suka kepada Wang Xiang. Bukannya menyayangi Wang Xiang, ibu tirinya itu malah membencinya dan memperlakukannya dengan tidak baik. Ia sering marah-marah dan menyalahkan Wang Xiang untuk hal-hal kecil. Karena jarang di rumah akibat bekerja, ayahnya terpengaruh olehnya dan ikut memarahinya.

    Ibu tirinya terus memperlakukan Wang Xiang dengan buruk. Dia dipaksa menyapu kandang sapi setiap hari, dan harus mengerjakan semua tugas rumah tangga yang berat. Wang Xiang selalu mematuhi instruksi ibu tirinya tanpa mengeluh sedikitpun. Semua yang dia kerjakan dilakukan dengan sungguh-sungguh dengan penuh ketulusan. Pengabdian berbakti untuk kedua orang tuanya ditunjukkan meskipun dia diperlakukan dengan buruk.

    Suatu kali pada musim dingin, Nyonya Zhu jatuh sakit sehingga dia terbaring di tempat tidurnya, tubuhnya menggigil, dan dia menginginkan sup ikan mas yang hangat untuk makan malamnya. Karena saat itu musim dingin, semua sungai membeku. Namun Wang Xiang tetap berusaha dan berpikir keras supaya bisa mendapatkan sup ikan untuk ibunya.

    Dia berjalan ke sungai, menanggalkan pakaiannya dan berbaring di atas es sehingga panas tubuhnya akan melelehkan es. Biru dan menggigil kedinginan, Wang Xiang berdoa kepada Tuhan untuk membantunya memenuhi keinginannya untuk berbakti. Setelah beberapa saat, es di bawahnya tiba-tiba mencair, dan dari kedalamannya yang beku, meloncatlah seekor ikan mas!

    Dedikasi Wang untuk berbakti menjadi terkenal dan dijadikan pepatahTiongkok “Berbaring di Es untuk Ikan Mas.”

    Seiring pertumbuhan Wang Xiang, Dinasti Han akhirnya terkoyak oleh pemberontakan dan perang saudara. Wang Rong tewas dalam perang, dan Wang muda membawa ibu tiri dan adiknya melarikan diri jauh dari kota mereka. Dia merawat mereka selama 30 tahun.

    Seorang gubernur setempat sangat tersentuh oleh pengabdian Wang Xiang sehingga dia mengangkatnya sebagai pejabat negara. Inisiatifnya membuatnya mendapatkan banyak rasa hormat dan kekaguman dari publik. Ia juga menjadi menteri seremoni dan penasihat Kaisar muda Cao Mao.

    Wang Xiang meninggal pada tahun 269 pada usia 85 tahun, setelah mengabdi selama beberapa dekade sebagai negarawan yang setia. Dia dianugerahi gelar “Adipati Yuan.” Wang Xiang dihargai sebagai contoh teladan sempurna dari semua kebajikan berbakti. Kisahnya secara luas masih diwariskan sampai sekarang.

    Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Kisah Tiongkok yang Berpengaruh: Sikap Berbakti Kaisar Wen dari Han

    Kisah Tiongkok yang Berpengaruh: Sikap Berbakti Kaisar Wen dari Han

    Buku ini penuh dengan cerita sejarah dan legenda yang menumbuhkan moralitas dan kebajikan. Cerita pendek membawa kita kembali ke zaman kuno di Tiongkok dan buku ini berkilau dengan kebijaksanaan. Buku ini diterjemahkan oleh Dora Li dan diedit oleh Evan Mantyk dan Connie Phillips. Di sini, kami akan membagikan satu cerita dari bab Sikap Berbakti.

    Istilah berbakti biasanya digunakan di zaman kuno dan mengacu pada kebajikan menghormati orangtua, orang yang lebih tua, dan leluhur. Latar belakang dasar dari bagaimana membentuk budaya masyarakat yang baik adalah berasal dari pemikiran Konfusianisme serta etika Buddha dan Tao Tiongkok.

    Budaya baik ini tidak hanya berlaku di dalam lingkungan keluarga saja. Ini juga diimplementasi di masyarakat luas untuk membawa nama baik bagi orangtua dan leluhur. Ini tentang mendukung, menghargai, merawat, dan menghormati orangtua anda melalui penyakit dan kematian mereka, membuat pengorbanan apa pun yang diperlukan untuk menghormati sumpah terhadap langit.

    Kisah Tiongkok kuno tentang sikap berbakti

    Kaisar Wen, yang juga dikenal sebagai Liu Heng, adalah putra keempat dari Kaisar Han pertama. Dia sangat cerdas ketika dia masih kecil dan menunjukkan kesalehan berbakti kepada Ibu Suri Bo. Setiap pagi, hal pertama yang dia lakukan adalah menyapa ibunya, dan dia melakukan hal yang sama sebelum dia pergi tidur.

    Kaisar Wen dari Han di Dinasti Song ? lukisan dari Museum Istana Nasional Taipei.
    (Kredit: Domain Publik)

    Setelah Kaisar Wen naik takhta, Ibunya sakit parah dan Kaisar Wen menemaninya sepanjang waktu, bahkan jika itu berarti dia tidak bisa tidur nyenyak. Terkadang, dia tidak melepas pakaiannya di malam hari untuk berjaga-jaga jika dia memanggilnya. Setiap kali jamu obat dimasak, ia akan mencicipinya terlebih dahulu untuk memastikan tidak terlalu pahit atau terlalu panas sebelum membiarkan ibunya meminumnya.

    Ibunya melihat semua ini, dan hatinya sangat tersentuh. Dia berkata kepadanya: “Penyakit saya tidak akan hilang dalam waktu dekat. Kita memiliki banyak pelayan di istana kerajaan yang bisa menjagaku; kamu tidak perlu membebani dirimu sendiri.”

    Setelah mendengar ini, Kaisar Wen berlutut di depan ibunya dan berkata: “Jika saya tidak secara pribadi merawat anda saat anda masih hidup dalam kehidupan ini, kapan akan ada kesempatan bagi saya untuk membalas anda atas rahmat pengasuhan anda?”

    Tiga tahun kemudian, ibunya berangsur pulih. Semua orang mengatakan bahwa itu karena perawatan sepenuh hati Kaisar Wen. Setelah itu, orang-orang baik di dalam maupun di luar istana kerajaan semakin menghormati Kaisar Wen. Semua orang menganggapnya sebagai teladan. Selama waktu itu dalam sejarah, semua orang menganggap berbakti kepada orangtua sebagai kebajikan yang paling terhormat.(nspirement)

    Kisah Tiongkok kuno ini Sikap Berbakti Kaisar Wen dari Han, berasal dari Treasured Tales of China Vol. 1

    Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Mengapa Harus Mempelajari Tata Krama? (Bagian 2)

    Mengapa Harus Mempelajari Tata Krama? (Bagian 2)

    The Book of Rites menguraikan harapan untuk hubungan manusia sebagai berikut: orangtua harus memperlakukan anak-anak dengan belas kasih, sementara anak-anak harus menunjukkan bakti terhadap orangtua mereka. Kakak yang lebih tua harus bersikap baik kepada yang lebih muda, sedangkan yang lebih muda harus rendah hati terhadap yang lebih tua.

    Seorang suami harus memperlakukan istrinya dengan bermartabat, sedangkan istri harus ramah terhadap suaminya. Generasi yang lebih tua harus melindungi dan merawat yang lebih muda, sedangkan yang lebih muda harus menghormati dan mengikuti keinginan yang lebih tua.

    Di bawah ini beberapa contoh hubungan tradisional tersebut.

    Seorang Putra yang Dikenal Karena Berbakti kepada OrangTua

    Selama akhir Dinasti Shang, Raja Tai dari Zhou memiliki tiga putra — putra tertua Taibo, putra kedua Zhongyong, dan putra ketiga Jili. Jili memiliki seorang putra bernama Jichang, yang kemudian menjadi Raja Wen dari Zhou.

    Ketika Jichang lahir, seekor burung pipit merah berhenti di pintu depan dengan huruf merah di mulutnya. Melihat tanda keberuntungan ini, Raja Tai berencana untuk menyerahkan tahta kepada Jili, yang kemudian meneruskannya kepada Jichang. Ini tidak khas di zaman kuno, karena takhta biasanya diberikan kepada putra tertua.

    Mengetahui rencana ayahnya, Taibo membawa saudaranya Zhongyong dan mengasingkan diri ke daerah terpencil untuk mendukung keputusan ayahnya. Dia juga memotong rambutnya dan membuat tato sebagai tanda keputusannya untuk menjauh dari peradaban. Dengan cara ini, Raja Tai menyerahkan takhta kepada Jili dan kemudian ke Jichang tanpa gangguan apapun.

    Taibo segera menamai wilayah tempat dia mengasingkan diri negara bagian Wu, yang sekarang menjadi Provinsi Jiangsu. Sekitar 1.000 keluarga setempat mengangkatnya sebagai raja di wilayah tersebut.

    Delapan generasi kemudian, takhta Wu diserahkan kepada Shoumeng, raja Wu ke-19. Shoumeng berencana untuk memberikan takhta kepada putra keempatnya Jizha karena reputasi baik Jizha. Tetapi Jizha menolak takhta karena itu akan menjadi pelanggaran terhadap aturan masyarakat yang selayaknya. Shoumeng meminta Jizha tiga kali, tetapi dia selalu menolak. Rakyat Wu juga ingin Jizha menjadi raja. Pada akhirnya, Jizha pergi dan menjadi petani.

    Konfusius sangat memuji Taibo, memuji karakter dan kerendahan hatinya.

    Kisah Sepasang Saudara

    Di Dinasti Jin, ada sepasang saudara: Wang Xiang dan Wang Lan. Ibu Lan adalah ibu tiri Xiang. Tentu saja, dia lebih menyayangi anaknya sendiri, daripada Xiang.

    Ketika Lan berusia beberapa tahun, dia sering melihat ibunya Zhu mencambuk kakak tirinya Xiang dengan ranting pohon. Setiap kali itu terjadi, dia akan memeluk Xiang untuk melindunginya dari cambukan Zhu.

    Saat kakak beradik itu tumbuh dewasa, Lan sering meminta ibunya untuk tidak memukuli Xiang, dan keadaan sedikit membaik. Kemudian, kedua saudara laki-laki itu menikah, dan Zhu selalu menuntut agar Xiang dan istrinya melakukan sesuatu untuknya. Dan Lan akan membantu pasangan itu kapan pun dia bisa.

    Setelah ayah mereka meninggal, Xiang menjadi terkenal karena kebajikan dan karakternya yang baik. Zhu menjadi iri dan berencana untuk membunuh anak tirinya dengan anggur beracun.

    Lan mengetahui rencana ini dan meraih cangkir anggur itu. Xiang juga menyadari ada yang tidak beres dan tidak ingin adiknya mati. Melihat kedua saudara berebut anggur beracun, sang ibu takut Lan akan meminumnya, jadi dia membuang anggur itu.

    Kemudian, setiap kali Zhu menyajikan makanan Xiang, Lan selalu mencicipinya terlebih dahulu. Dengan demikian, sang ibu berhenti mencoba menyakiti Xiang.

    Jenderal Lu Qin mengagumi karakter Xiang dan memberinya sebilah pedang, mengatakan bahwa hanya pejabat tinggi yang diizinkan menggunakan pedang seperti itu. Setelah kematiannya, Xiang mewariskan pedang itu kepada Lan, berharap dia dan keturunannya mendapatkan keberuntungan.

    Benar saja, beberapa anak Lan menjadi pejabat tinggi. Cicitnya, Wang Xizhi, menjadi salah satu kaligrafer paling terkenal dalam sejarah Tiongkok.

    Dua Pir untuk Lebih dari 1.000 Orang

    Zheng Lian di dinasti Ming memiliki keluarga besar. Setelah lebih dari 300 tahun, keluarganya telah berkembang menjadi lebih dari 1.000 anggota, dan gubernur menghormatinya dengan medali “Keluarga Terbaik di Dunia”.

    Suatu ketika, Kaisar Taizu bertanya kepada Zheng bagaimana cara mengatur keluarga besar agar semua orang memperlakukan satu sama lain dengan baik. Zheng menjawab, “Ketat menjalani perintah Leluhur, hindari larangan orang suci.”Kaisar terkesan dan memberi Zheng dua buah pir. Dia kemudian diam-diam mengirim seseorang mengikuti Zheng untuk melihat bagaimana dia menangani kedua buah pir ini.

    Setelah kembali ke rumah, Zheng memanggil semua anggota keluarganya, dan lebih dari 1.000 dari mereka berdiri di kedua sisi halaman. Setelah mereka berterima kasih kepada kaisar atas rasa terima kasihnya, Zheng meminta dua tong besar berisi air. Dia kemudian menghancurkan dua buah pir dan menempatkan satu di setiap tong. Setiap orang kemudian diberi semangkuk air pir untuk diminum.

    Terkejut dan senang mendengar ini, kaisar menawarkan gelar kepada Zheng. Tapi Zheng menolak, dengan alasan usianya yang sudah lanjut. (minghui) (Bersambung)

    Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Mengapa Harus Mempelajari Tata Krama

    Mengapa Harus Mempelajari Tata Krama

    Awal Dinasti Zhou Barat, Boqin, putra Zhou Gong tidak memberikan hormat saat menemui sang ayah, bertemu tiga kali, dipukuli tiga kali oleh ayahnya.

    Lalu Boqin meminta nasihat kepada Shang Zi. Saat menemui ayahnya lagi, ia langsung berlutut begitu masuk ke aula, Zhou Gong memuji Boqin telah mendapat didikan dari seorang cendekiawan.

    Mengapa orang dahulu begitu mementingkan tata krama? Konfusius berkata: “Ritual tata susila dijalankan raja leluhur sesuai kehendak Langit, demi mengatur perasaan orang. Oleh karenanya, barang siapa yang kehilangan tata krama sama dengan kehilangan kehidupan, barang siapa yang memperolehnya dapat bertahan hidup.” “Sutra” mengatakan: Tikus sekalipun memiliki fisik, manusia tak boleh tanpa etika, sebagai manusia jika tidak menjaga tata susila dan etika, maka akan segera mati.

    Barang siapa yang beretika maka akan selamat, yang tidak beretika maka dalam bahaya. Moralitas, kebajikan, kemanusiaan, keadilan, tanpa etika tidak ada pencapaian. Oleh karenanya, jika bertindak sesuai etika, korelasi antara raja-menteri, tua-muda, atasan-bawahan akan tertib, masyarakat akan damai, dan negara akan makmur; sebaliknya jika hukum negara dan ketertiban masyarakat diabaikan, maka korelasi antarmanusia akan kacau, berbagai kekacauan akan muncul di masyarakat.

    Tata krama dalam hubungan antarmanusia disebut juga keadilan dalam hubungan manusia, yaitu, ayah baik menyayangi, anak berbakti, adik menurut serta hormat ke yang lebih tua, suami menjaga keadilan, istri patuh, yang tua menyayangi yang muda, yang muda menurut ke yang sepuh, sang raja adil dan baik, sang abdi setia.

    Zhou Gong Mendidik Keponakan

    Zhou Gong, putra keempat Jichang Zhouwen Wang, marga Ji nama Dan. Ia membantu adiknya Zhou Wu Wang berperang menaklukkan Zhou Wang, merumuskan tata krama dan ritual musik, ia dianggap pelopor ajaran Konfusius, dan dihormati dengan sebutan “Yang Dimuliakan”.

    Aturan keluarga dari Zhou Gong untuk keponakannya tertuang dalam “Aturan Keluarga Ji Dan”, termasuk “Nasihat untuk putra Bo Qin” dan “Petuah bagi keponakan Cheng Wang”. Cao Cao memuji kebijakan Zhou Gong mengatur keluarga “Zhou Gong mengeluarkan makan, semua hati bermuara” (Zhou Gong langsung memuntahkan makanan sekalipun sedang makan agar ksatria tidak lama menunggu, Zhou Gong amat sangat menghargai para ksatria).

    Suatu ketika, Zhou Cheng Wang berdiri di bawah pohon bersama adiknya. Ia mengambil selembar daun fortune paulownia diberikan ke adiknya dan berkata, “Aku menobatkanmu.” Terdengar oleh Zhou Gong, ia bertemu dan memuji Raja, “Paduka menobatkan adik laki-laki, itu sangat baik.” Cheng Wang berkata: “Saya hanya bergurau dengannya.” Zhou Gong berkata dengan serius: “Paduka raja tidak boleh salah dalam bertindak, tidak sepatutnya bergurau, yang terucap harus dijalani.” Artinya, kata-kata dan perbuatan raja tidak boleh salah, dan tidak boleh ada gurauan (lelucon), Anda harus melakukan apa yang telah Anda katakan. Maka, Cheng Wang menobatkan adik laki-lakinya sebagai Ying Hou (sebutan bangsawan). Ini asal usul kisah “Menobatkan adik dengan daun paulownia”.

    Cheng Wang menobatkan Bo Qin sebagai Lu Gong (Sebutan bangsawan). Zhou Gong menuliskan “Kitab Ajaran bagi Bo Qin”, mengingatkan putranya menjaga tata krama: Jangan meremehkan bakat karena dinobatkan sebagai bangsawan Lu, saat saya mandi dan makan pun, saya harus merefleksi diri kehilangan orang-orang berbakat akibat kelalaian (saya), berbudi tinggi menghormati orang akan mendapatkan kemuliaan; orang yang memiliki kekayaan besar namun hemat, maka tidak akan menimbulkan bahaya; orang yang dijunjung namun sangat rendah hati, selalu dapat mempertahankan kekayaan dan kehormatan; yang memiliki banyak orang dan tentara yang kuat namun hati penuh rasa hormat, maka akan berpijak pada posisi tak terkalahkan; pintar, bijaksana namun tidak sombong, adalah orang yang punya filosofi dan wawasan jauh; Berwawasan luas ingatan kuat namun tidak pamer, barulah orang yang sungguh-sungguh pandai.

    Bo Qin mengingat ajaran ayahnya, negara Lu dalam penanganan Bo Qin, menjadi bangsa yang menjunjung tinggi tata krama, rakyat hidup sederhana dan saling hormat.

    Seorang Putra yang Dikenal Karena Berbakti kepada OrangTua

    Selama akhir Dinasti Shang, Raja Tai dari Zhou memiliki tiga putra — putra tertua Taibo, putra kedua Zhongyong, dan putra ketiga Jili. Jili memiliki seorang putra bernama Jichang, yang kemudian menjadi Raja Wen dari Zhou.

    Ketika Jichang lahir, seekor burung pipit merah berhenti di pintu depan dengan huruf merah di mulutnya. Melihat tanda keberuntungan ini, Raja Tai berencana untuk menyerahkan tahta kepada Jili, yang kemudian meneruskannya kepada Jichang. Ini tidak khas di zaman kuno, karena takhta biasanya diberikan kepada putra tertua.

    Mengetahui rencana ayahnya, Taibo membawa saudaranya Zhongyong dan mengasingkan diri ke daerah terpencil untuk mendukung keputusan ayahnya. Dia juga memotong rambutnya dan membuat tato sebagai tanda keputusannya untuk menjauh dari peradaban. Dengan cara ini, Raja Tai menyerahkan takhta kepada Jili dan kemudian ke Jichang tanpa gangguan apapun.

    Taibo segera menamai wilayah tempat dia mengasingkan diri negara bagian Wu, yang sekarang menjadi Provinsi Jiangsu. Sekitar 1.000 keluarga setempat mengangkatnya sebagai raja di wilayah tersebut.

    Delapan generasi kemudian, takhta Wu diserahkan kepada Shoumeng, raja Wu ke-19. Shoumeng berencana untuk memberikan takhta kepada putra keempatnya Jizha karena reputasi baik Jizha. Tetapi Jizha menolak takhta karena itu akan menjadi pelanggaran terhadap aturan masyarakat yang selayaknya. Shoumeng meminta Jizha tiga kali, tetapi dia selalu menolak. Rakyat Wu juga ingin Jizha menjadi raja. Pada akhirnya, Jizha pergi dan menjadi petani.

    Konfusius sangat memuji Taibo, memuji karakter dan kerendahan hatinya.

    Kebaikan Seorang Kakak

    Menurut Jia Fan (Pengajaran Keluarga) oleh Sima Guang, orang bijak kuno Shun selalu memperlakukan orang lain dengan baik bahkan ketika dia menghadapi permusuhan dari mereka.

    Ayah, ibu tiri, dan adik laki-laki Shun, Xiang, sering menganiaya Shun. Setelah Raja Yao menunjuk Shun sebagai penggantinya, kecemburuan mereka meningkat dan mereka berencana untuk membunuh Shun dan mengambil hartanya.

    Suatu kali, mereka meminta Shun untuk memperbaiki gudang. Namun, setelah dia naik ke atap, mereka memindahkan tangga dan membakar gudang. Untungnya, Shun bisa melarikan diri dengan selamat.

    Di lain waktu, mereka meminta Shun untuk menggali sumur. Ketika dia berada di dalam sumur, keluarganya mulai menguburnya. Setelah sumur itu penuh dengan tanah, Xiang berencana untuk memberikan ternak dan biji-bijian Shun kepada orang tuanya, sambil menyimpan sisa harta Shun untuk dirinya sendiri. Dia juga ingin mengambil istri Shun.

    Ajaibnya, Shun dapat melarikan diri melalui terowongan di samping sumur. Ketika dia kembali ke rumah, Xiang terkejut. Tetapi dia tetap memasang wajah datar dan berkata, “Aku sangat merindukanmu!”

    Shun memaafkannya dan memintanya untuk membantu mengelola negara.

    Warisan Shun dihormati sepanjang sejarah Tiongkok. Meskipun dia tinggal di lingkungan yang buruk, dia mampu memperlakukan semua orang dengan hormat dan kebaikan. Shang Shu (Kitab Dokumen) menyatakan, “Shun naik ke tempat yang sangat tinggi tanpa memanjat, dan [reputasinya] pergi jauh tanpa dia harus bepergian.”

    Karena kebajikannya, orang-orang secara alami mencarinya. Ke mana pun Shun pergi, legenda mengatakan bahwa tempat itu akan menjadi desa dalam satu tahun, kabupaten dalam dua tahun, dan kota dalam tiga tahun.

    Adik yang Rendah Hati

    Di Dinasti Jin, ada sepasang saudara: Wang Xiang dan Wang Lan. Ibu Lan adalah ibu tiri Xiang. Akibatnya, dia lebih menyukai Lan daripada Xiang.

    Ketika Lan berusia beberapa tahun, dia sering melihat ibunya Zhu mencambuk kakak tirinya Xiang dengan ranting pohon. Setiap kali itu terjadi, dia akan memeluk Xiang untuk melindunginya dari cambukan Zhu.

    Saat kakak beradik itu tumbuh dewasa, Lan sering meminta ibunya untuk tidak memukuli Xiang, dan keadaan sedikit membaik. Kemudian, kedua saudara laki-laki itu menikah, dan Zhu selalu menuntut agar Xiang dan istrinya melakukan sesuatu untuknya. Dan Lan akan membantu pasangan itu kapan pun dia bisa.

    Setelah ayah mereka meninggal, Xiang menjadi terkenal karena kebajikan dan karakternya yang baik. Zhu menjadi iri dan berencana untuk membunuh anak tirinya dengan anggur beracun.

    Lan mengetahui rencana ini dan meraih cangkir anggur itu. Xiang juga menyadari ada yang tidak beres dan tidak ingin adiknya mati. Melihat kedua saudara berebut anggur beracun, sang ibu takut Lan akan meminumnya, jadi dia membuang anggur itu.

    Kemudian, setiap kali Zhu menyajikan makanan Xiang, Lan selalu mencicipinya terlebih dahulu. Dengan demikian, sang ibu berhenti mencoba menyakiti Xiang.

    Jenderal Lu Qin mengagumi karakter Xiang dan memberinya sebilah pedang, mengatakan bahwa hanya pejabat tinggi yang diizinkan menggunakan pedang seperti itu. Setelah kematiannya, Xiang mewariskan pedang itu kepada Lan, berharap dia dan keturunannya mendapatkan keberuntungan.

    Benar saja, beberapa anak Lan menjadi pejabat tinggi. Cicitnya, Wang Xizhi, menjadi salah satu kaligrafer paling terkenal dalam sejarah Tiongkok. (id.minghui.org)

    Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Uang: Dalam Hidup, Anda akan Mendapatkan Apa yang Anda Berikan

    Uang: Dalam Hidup, Anda akan Mendapatkan Apa yang Anda Berikan

    Orang terkaya di Asia, Li Ka-shing, mengatakan bahwa dalam tiga bidang ini tentang uang, semakin banyak anda memberikan, semakin banyak penghasilan anda. Mari kita lihat tiga prinsip di balik pernyataan ini:

    Investasikan uang untuk ilmu pengetahuan

    Tidak peduli apa keadaan keuangan anda, mendidik diri sendiri selalu merupakan keputusan yang bijaksana. Li percaya bahwa tantangan/kesulitan saat ini berasal dari pelajaran yang tidak dipelajari di kehidupan sebelumnya, jadi bahkan jika anda harus meminjam uang untuk melakukannya, berinvestasi untuk diri anda dengan cara ini akan memberi anda sarana untuk membayar kembali pinjaman anda di kemudian hari.

    Uang untuk Orangtuamu

    Terlepas dari situasi keuangan orangtua anda, anda tetap harus memberi mereka uang secara teratur. Ini adalah cara untuk menunjukkan cinta, rasa hormat, dan penghargaan kepada orangtua anda. Li berkata bahwa orangtuamu tidak menjualmu karena mereka miskin atau mungkin mereka meminjam uang untuk membesarkanmu, jadi kamu harus membayar mereka tidak peduli apa keadaan mereka saat ini. 500 pengusaha global teratas semuanya mencintai dan menghormati orangtua mereka. Bandingkan ini dengan kehidupan anak-anak yang tidak menghormati orangtua mereka dan memiliki masalah dengan pekerjaan, uang, hubungan, dll, apakah ini kebetulan?

    Uang untuk Masyarakat

    Li mengatakan bahwa tidak peduli seberapa buruk keadaan anda sendiri, selalu ada seseorang dalam situasi yang lebih buruk. Jadi ketika anda melihat seseorang yang benar-benar kesusahan, anda harus memberikan apa yang anda bisa untuk membantunya. Kedermawanan anda sebesar seratus-dua ratus ribu rupiah kepada orang yang membutuhkan, sama berharganya dengan hadiah sebesar seratus juta bagi mereka. Jika anda seorang pengusaha sukses, jangan lupa untuk memberi penghargaan kepada karyawan anda dengan murah hati ketika perusahaan anda berjalan dengan baik.

    Jika anda tidak memiliki sarana untuk memberikan kontribusi keuangan, maka berikan apa yang anda bisa. Lakukan pekerjaan anda dengan kemampuan terbaik anda, rukun dengan atasan dan rekan kerja anda, dan syukuri apa yang anda miliki: pekerjaan anda.

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini

    VIDEO REKOMENDASI

  • Pendidikan Keluarga Tekankan Moralitas dan Pembangunan Karakter Anak-Anak Mereka

    Pendidikan Keluarga Tekankan Moralitas dan Pembangunan Karakter Anak-Anak Mereka

    PUISI TIONGKOK KUNO: PENDIDIKAN KELUARGA TEKANKAN MORALITAS DAN PEMBANGUNAN KARAKTER ANAK-ANAK MEREKA

    Tiongkok memiliki peradaban dengan sejarah yang membentang lebih dari 5.000 tahun yang lalu, dan selalu terkenal dengan penekanannya pada “pendidikan keluarga” dan membangun karakter moral anak-anak.

    Pengalaman dan tradisi pendidikan keluarga yang berharga ini telah diturunkan ke generasi-generasi berikutnya. Ketika Kou Zhun (961-1023), seorang pejabat Dinasti Song Utara, masih muda, dia manja, acuh tak acuh, dan malas. Jadi bagaimana ibunya mengatasi dan mendidiknya sehingga akhirnya dia menjadi perdana menteri yang bijaksana dan banyak dipuji pada generasinya?

    Ibu Kou Mengajari Putranya “Pengembangan Diri untuk Masyarakat”

    Kou Zhun kehilangan ayahnya ketika dia masih kecil. Dia berasal dari keluarga miskin. Ibunya mengandalkan hasil tenun untuk nafkah keluarga. Dia sering mengawasi Kou Zhun dalam studinya bahkan sampai tengah malam sambil dia memintal benang.

    Kou Zhun pergi ke ibu kota untuk mengikuti ujian kekaisaran. Dia lulus ujian dengan gemilang dan dianugerahi “Jinshi” yang merupakan gelar tertinggi dan terakhir dalam ujian kekaisaran. Kabar baik segera menyebar ke kampung halamannya.

    Ibu Kou saat itu sedang sakit parah. Sebelum dia meninggal, dia menyerahkan sebuah lukisan kepada seorang kerabat bernama Bibi Liu Ma. Ibu Kou memberi tahu Liu Ma: “Kou Zhun akan menjadi pejabat di masa depan. Jika dia melakukan kesalahan, serahkan lukisan ini padanya!”

    Tak lama setelah ibunya mangkat, Kou Zhun diangkat menjadi perdana menteri. Pelan tapi pasti, Kou Zhun terlena dalam kehidupan mewahnya sebagai pejabat tinggi kekaisaran. Untuk merayakan ulang tahunnya, ia mengundang dua rombongan teater dan menyiapkan jamuan untuk para pejabat. Bibi Liu Ma berpikir bahwa waktunya telah tiba, jadi dia menyerahkan lukisan Ibu Kou kepadanya.

     Kou Zhun membuka gulungan itu dan melihat bahwa itu adalah lukisan tenun sang Ibu dengan sebuah syair tertulis diatasnya;

    “Dengan bantuan lentera kecil, sulit untuk belajar.
    Dia mengolah dirinya sendiri demi rakyat.
    Rajin dan hemat adalah tradisi keluarga.
    Dengan didikan ibu,
    Menjadi sukses dan makmur pada masanya.
    Dia tidak pernah lupa bahwa dia pernah begitu miskin”.

    Ini adalah warisan Ibu Kou untuk anaknya. Kou Zhun membaca puisi itu berulang kali didepan Bibi Liu Ma dan menangis. Dia segera membatalkan perjamuan untuk ulang tahunnya dan mengembalikan semua hadiah dan gratifikasi yang dia terima.

    Sejak Kou Zhun menjadi pejabat dan setiap kali dia menerima gajinya, dia hanya mengambil secukupnya dan selebihnya diletakkan di aula istana untuk disumbangkan bagi masyarakat yang tak mampu.

    Seorang pelayan tua melihat ini dan sangat tersentuh sehingga dia berkata kepada Kou Zhun: “Ketika ibumu meninggal, ia sangat miskin sehingga dia bahkan tidak memiliki sehelai sutra untuk gaun pemakamannya. Sangat menyedihkan bahwa ibumu tidak akan pernah bisa melihat dirimu yang sekarang”. Ketika Kou Zhun mendengar ini, dia sangat sedih. Dia mengingat hal ini, dan menjalani kehidupan yang hemat dan sederhana.

    Kou Zhun memiliki selimut kain biru yang tidak pernah diganti selama 20 tahun. Selama waktu itu, beberapa orang menertawakannya dengan mengatakan bahwa dia seperti Gongsun Hong dari Dinasti Han dimasa Kaisar Wu.

    Gongsun adalah seorang filsuf dan politisi Tiongkok, dan dikatakan telah mengajarkan kebajikan berhemat dan kesederhanaan. Sebagai seorang bangsawan dengan banyak pendapatan, Gongsun tampaknya selalu menggunakan satu selimut kain, yang dianggap untuk menunjukkan kesederhanaannya.

    Mendengar ini, Kou Zhun tersenyum tipis dan memberi tahu orang-orang: “Gongsun melakukan ini untuk reputasinya sendiri. Adapun saya, saya dengan tulus ingin berhemat karena selimut ini masih bagus, jadi apa yang membuat malu?”

    Meskipun Kou Zhun kaya, dia menolak membangun rumah besar untuk dirinya sendiri. Seorang pertapa, Wei Ye, secara khusus memberinya dua puisi untuk hal ini dimana ada kalimat: “Ada pejabat tinggi tetapi tidak ada tanah untuk membangun rumah besar”. Ini untuk memuji Kou Zhun.

    Pendidikan keluarga pada zaman dahulu berfokus pada etika dan moralitas dan ini dianggap sebagai nilai tertinggi. Ada pepatah lama:

    “Rumah yang baik memiliki kemakmuran dan kebahagiaan, rumah yang buruk memiliki bencana”.

    Kata “Rumah” disini bukan dimaksudkan pada penampilan rumah fisik, tetapi isi rumah dimana orangtua dan anak-anaknya senantiasa memperbaiki watak dan moralitasnya ke arah yang lebih baik.

     “Lebih baik mengajar tulisan suci kepada anak-anak dan cucu-cucu daripada meninggalkan keranjang emas untuk mereka”.

    Pendidikan moral bagi anak-anak adalah untuk kebaikan mereka di masa depan. Kenyataannya, akhlak adalah hal yang paling mendasar, hakiki, indah dan sumber berkah bagi seorang manusia, sehingga harta yang paling berharga untuk diturunkan kepada anak adalah akhlak.

    Pendidikan keluarga dicirikan oleh peraturan dan perbuatan. Karena fleksibilitas yang besar dari anak-anak, pendidikan untuk meningkatkan perilaku mereka sangat penting. Mereka secara bertahap akan bersentuhan dengan kebenaran, sesuatu yang tidak dapat mereka sadari pada saat kecil. Oleh karena itu, hanya dengan bimbingan yang benar segala sesuatu dalam hidup akan berjalan dengan baik.

    Orangtua selalu ingin mewariskan yang terbaik untuk anak-anaknya. Faktanya, tidak peduli berapa banyak uang yang diberikan kepada mereka, harta hanya eksternal dan bisa dengan cepat habis apabila anak tidak dididik dengan baik.

    Hanya dengan mengajarkan kebajikan dan kebaikan kepada anak-anak melalui pendidikan keluarga, mereka benar-benar dapat memperoleh manfaat dalam jangka panjang. Melalui nilai-nilai moral dan kebajikan, mereka dapat menjaga pikiran yang jernih setiap saat, membedakan antara yang benar dan yang salah, dan memilih jalan hidup yang benar.(nspirement.com)

    Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI