Tag: rasa sakit

  • Menerima Rasa Sakit dan Mengatasinya

    Menerima Rasa Sakit dan Mengatasinya

    Setiap orang mengalami rasa sakit atau penyesalan dari masa lalu atau yang baru saja terjadi.

    Sebagai manusia, kita memiliki keengganan dalam menghadapi rasa sakit. Baik itu fisik atau emosional, kita berusaha keras untuk menghindari rasa sakit, bahkan mengabaikan atau mencari pelarian darinya. Namun jika kita mencoba memahaminya, kita dapat menerimanya sebagai kekuatan yang mengubah hidup dan mengangkat jiwa secara spiritual, membebaskan diri dari keterikatan, yang pada akhirnya menyembuhkan rasa sakit tersebut.

    Meskipun rasa sakit bersifat subjektif dan tidak terdeteksi secara medis, sensasi ini sangat nyata bagi siapa pun yang mengalaminya. Apakah itu menyerang fisik atau psikologis, ketidaknyamanan menyebabkan respons emosional. Di sinilah kita bisa mengambil kendali. Dengan menyesuaikan perspektif kita tentang rasa sakit, kita dapat mengubah cara kita bereaksi secara emosional.

    Memahami Nilai Rasa Sakit

    Meskipun kelihatannya tidak adil, rasa sakit memiliki tujuan. Aspek paling mendasar dari pentingnya rasa sakit adalah bahwa ia berfungsi sebagai peringatan. Melangkah ke sejumlah situasi berbahaya ? seperti terkena api, pecahan kaca, atau binatang buas ? menyebabkan sensasi menyakitkan langsung yang memberitahu Anda untuk mundur darinya, sehingga mencegah cedera fisik yang serius. Tapi rasa sakit juga melayani tujuan yang lebih besar, yang beragam.

    Setiap orang mengalami rasa sakit ? itu wajar dan tidak dapat dihindari. Dari lahir sampai mati, seluruh keberadaan kita dipenuhi dengan pengalaman yang tidak menyenangkan, tetapi masing-masing memiliki alasan dan makna yang bisa dipetik. Berbagai keyakinan berpendapat bahwa rasa sakit dan penderitaan adalah kunci pertumbuhan spiritual; Dan dapat dengan mudah dilihat bahwa penderitaan sering menyebabkan orang lebih dekat dengan Tuhan, melakukan introspeksi dan menemukan kebenaran yang lebih tinggi. Tapi rasa sakit bukan hanya katalis. 

    Aliran Buddha mengajarkan bahwa seseorang menderita karena membayar karma atas kesalahannya di masa lalu, agar kembali kepada diri murni yang asli. Agama Kristen berpendapat bahwa cobaan dan kesengsaraan menguji iman seseorang dan memperkuat karakter seseorang, membawa Anda lebih dekat kepada Tuhan.

    Sebuah kutipan dari filsuf Tiongkok kuno Lao Tzu merangkum potensi besar rasa sakit: “Awal yang baru sering disamarkan sebagai akhir yang menyakitkan.”

    Bagaimana Rasa Sakit Mendorong Pertumbuhan Rohani? 

    Menahan rasa sakit dan penderitaan meningkatkan kebijaksanaan. Seseorang yang telah melalui cobaan berat akan melihat kehidupan secara berbeda, memperoleh kesadaran yang jauh melampaui dirinya sendiri, dan tidak terlalu tergerak oleh hal-hal sepele. 

    Rasa sakit tidak hanya melatih dan mendewasakan seseorang, tetapi juga menunjukkan kepada mereka bahwa mereka lebih kuat dari yang mereka sadari. Dalam menghadapi kesulitan, pikiran dan hati tumbuh mantap dan kokoh, membangun ketangguhan yang akan membantu seseorang menghadapi cobaan masa depan dengan tangguh dan bermartabat. Pada saat yang sama, hal itu membuat seseorang menjadi rendah hati, mengingatkan kita bahwa kita hanyalah manusia dan tunduk pada semua cobaan.

    Sebagai lawan dari kesenangan, rasa sakit juga memberi seseorang penghargaan untuk semua hal yang masih dapat disyukuri dalam hidup. 

    Mungkin yang paling penting, rasa sakit menumbuhkan empati. Penderitaan pribadi membantu seseorang memahami penderitaan orang lain, mengubah diri yang tadinya egois menjadi makhluk yang welas asih. Hampir semua jalan spiritual menekankan belas kasih sebagai keadaan kesadaran yang harus dicapai. 

    Memodifikasi Reaksi Kita Terhadap Rasa Sakit

    Mempertimbangkan semua manfaat ini, tampaknya seseorang akan siap menerima dan menanggung rasa sakit. Pelajaran berharga untuk diingat adalah bahwa intensitas rasa sakit bergantung pada sikap kita terhadapnya. Jika kita ingin rasa sakit melonggarkan cengkeramannya pada realitas kita, kita perlu menyesuaikan mentalitas kita terhadap rasa sakit itu.

    Ketika kita melihat rasa sakit dengan kebencian, kita memiliki keinginan untuk menyingkirkannya. Namun semakin kita berusaha menghindarinya, semakin intens rasa sakit yang dirasakan dan semakin lama berlangsung. Buddha Shakyamuni mengilustrasikan prinsip ini kepada murid-muridnya dengan sebuah analogi: 

    Misalkan Anda ditembak dengan panah. Ditembak dengan panah cukup menyakitkan, tetapi dapat diatasi seperti kemalangan lainnya. Masalah muncul ketika kita, dengan pikiran negatif dan penolakan kita terhadap rasa sakit, menembak diri kita sendiri dengan panah kedua. 

    Ini adalah reaksi psikologis kita terhadap rasa sakit yang menyebabkan penderitaan. Ketika kita diatur oleh emosi kita, mengejar hal-hal yang kita sukai dan menghindari hal-hal yang tidak kita sukai, kita tidak selaras dengan alam. Ini sendiri dapat membawa ketidaknyamanan. Jika kita dapat belajar untuk menerima rasa sakit sebagai komponen penting dari pertumbuhan rohani kita, itu menjadi jauh lebih dapat ditahan. 

    “Membalikkan pikiran tidak menyukai penderitaan adalah landasan untuk mengubah penderitaan menjadi jalan pencerahan.”

    – Guru abad kedelapan Shantideva

    Empat Kebenaran Mulia

    Dari kebijaksanaan kuno Buddhisme, Empat Kebenaran Mulia membahas penderitaan secara rinci:

    Kebenaran Mulia Pertama mengakui dukkha (sakit) sebagai fakta kehidupan. Reaksi kita terhadap rasa sakit ini adalah penderitaan, yang dibagi menjadi tiga kategori. 

    Dukkha dukkha, atau penderitaan biasa, berhubungan dengan hal-hal seperti penuaan, penyakit dan kematian. Seseorang harus memahami bahwa ini tidak dapat dihindari dan menerimanya tanpa penghakiman, penolakan, atau penolakan ketidaknyamanan. Viparinama-dukkha adalah penderitaan akibat perubahan. Penolakan terhadap perubahan yang tidak nyaman memperpanjang ketidaknyamanan, sementara menyambut perubahan membuka peluang untuk kelegaan. Sankhara-dukkha adalah penderitaan yang disebabkan oleh kurangnya pemenuhan atau ketidakpuasan. Ketika kita belajar untuk menghargai apa yang kita miliki, hidup secara alami menjadi lebih memuaskan.

    Kebenaran Mulia kedua: Samudaya (kemunculan) membahas penyebab penderitaan sebagai tanha (keinginan atau keinginan). Sekali lagi, ini dibagi menjadi tiga kategori: kamatanha, meliputi nafsu indria dan material; bhava-tanha, keinginan untuk keabadian; dan vibhava-tanha , keinginan untuk menghindari kenyataan yang tidak menyenangkan. Keserakahan, ketidaktahuan dan kebencian disebut sebagai tiga racun dan diakui sebagai akar dari semua penderitaan.

    Kebenaran Mulia Ketiga Nirodha (penghentian) menyangkut solusi penderitaan. Ini menunjukkan bahwa kita dapat menyingkirkan keinginan kita. Dengan melepaskan diri dari keinginan kita, kita menjadi bebas.

    Kebenaran Mulia Keempat mengungkapkan Magga, (jalan beruas delapan) sebagai jalan menuju pencerahan dan penghapusan penderitaan. Di jalan ini, seseorang bercita-cita untuk memperbaiki tindakan, konsentrasi, usaha, niat, perhatian, ucapan, dan pandangan. Dengan melepaskan diri dari keterikatan kita, kita dapat melenyapkan penderitaan yang ditimbulkannya.

    Melepaskan Keterikatan

    Sementara kita mungkin berpikir hal-hal yang kita terikat adalah baik, setiap keterikatan yang kuat disertai dengan rasa takut, karena kita takut kehilangan hal yang kita terikat. Hal yang sama berlaku untuk keterikatan kita pada kenyamanan. Ketakutan kita akan menambah rasa sakit dan penderitaan kita secara signifikan karena hal itu mengganggu ketenangan pikiran kita yang tidak nyaman. 

    Belajar melepaskan, dan menganggap enteng semua keterikatan manusia adalah tujuan spiritual bersama. Seseorang tidak dapat merasa puas ketika masih melekat pada masalah duniawi. Semakin kita dapat melepaskan diri dari keinginan kita dan ketakutan kita, semakin sedikit rasa sakit yang dapat menggerakkan kita menuju penderitaan. 

    Jika Anda mulai memperhatikan apa yang ada dalam pikiran Anda, Anda akan menemukan banyak sekali keterikatan yang memainkan emosi Anda, sebagian besar berkisar pada keinginan untuk mengendalikan hasil dari hal-hal yang tidak berada dalam kendali Anda. Membebaskan diri Anda dari keterikatan ini adalah langkah besar dalam perjalanan spiritual, dan langkah yang pada akhirnya akan membantu Anda mengatasi rasa sakit.

    Menghilangkan keterikatan tidak berarti melepaskan hal itu sendiri. Itu hanya berarti Anda menyadari bahwa kebahagiaan Anda tidak bergantung pada hal itu, dan hal itu juga tidak menentukan siapa Anda. Anda dapat mengambilnya atau meninggalkannya dan Anda akan tetap utuh dan lengkap. 

    Dengan melepaskan keengganan terhadap rasa sakit, rasa sakit kehilangan kendali atas Anda dan pada akhirnya Anda dapat melampauinya.

    Melampaui Rasa Sakit Melalui Perhatian Penuh

    Anda tidak perlu menjadi biksu untuk mengatasi rasa sakit, tetapi Anda perlu melatih kesabaran dan ketabahan dalam mengamati pikiran Anda untuk memeriksa motif di balik pemikiran Anda. Dengan melatih perhatian, kita secara bertahap dapat belajar mengenali pikiran dan keterikatan yang tidak bermanfaat bagi kita, dan membuat pilihan sadar untuk melenyapkannya. 

    Begitu banyak pikiran kita sehari-hari terpaku pada masa depan atau masa lalu. Perhatian penuh (mindfulness) adalah memperhatikan pikiran pada apa yang dikerjakan saat ini. Dengan menyadari niat Anda, Anda dapat mengembangkan kejernihan mental yang akan membantu Anda melepaskan berbagai keterikatan di balik ketidaknyamanan Anda

    Melampaui rasa sakit membutuhkan waktu, dan itu membutuhkan usaha yang mantap. Untuk membantu Anda bertahan, ingatlah manfaat dari rasa sakit dan ingatlah bahwa ? seperti semua hal lain dalam hidup ? rasa sakit bersifat sementara. Melalui meditasi dan perhatian penuh, kita dapat memeriksa rasa sakit kita dan belajar darinya. Ini juga merupakan kesempatan yang baik untuk menemukan semua aspek kehidupan Anda yang baik dan menemukan kepuasan dalam apa yang ada, daripada dengan sengaja mengejar kepuasan dari apa yang tidak.

    Cobalah duduk tenang dengan rasa sakit Anda. Baik itu rasa sakit fisik yang mengganggu, atau rasa sakit emosional seperti kemarahan, ketakutan, atau kesedihan. Bisakah Anda melihat akar penyebabnya? Mintalah panduan dan Anda mungkin menerima beberapa wawasan tentang cara mengatasinya dan menyeimbangkan diri Anda. 

    Sambil mengungkap keterikatan yang menyebabkan Anda menderita, cobalah untuk menerima dan menanggung ketidaknyamanan alami dari keberadaannya. Daripada melihat diri Anda sebagai korban, menolak perubahan, dan menyangkal apa yang tidak Anda sukai, rileks saja; biarkan alam mengambil jalannya dan menemukan harmoni saat Anda menjadi satu dengan alam semesta. Melalui pemahaman spiritual yang mendalam, seseorang dapat mencapai keadaan harmoni di mana semua pengalaman sama-sama mendewasakan kita dan membuat kita menjadi lebih bijaksana.

    Seperti pepatah Lao Tzu ketika menggambarkan perjalanan hidup benih menjadi pohon:

    “Alam tidak terburu-buru, namun semuanya tercapai.”

    Lao Tzu

    (visiontimes)

    Lebih banyak artikel Kesehatan, silahkan klik di sini

    Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

    VIDEO REKOMENDASI

  • Kecanduan pada Telepon Seluler Berkaitan dengan Depresi, Perundungan Maya, dan Gangguan Tidur

    Kecanduan pada Telepon Seluler Berkaitan dengan Depresi, Perundungan Maya, dan Gangguan Tidur

    Menurut beberapa penelitian dan survei, kecanduan pada ponsel dianggap berada pada titik tertinggi sepanjang masa.

    Lebih dari setengah remaja duduk untuk waktu yang lama dalam keheningan menggunakan ponsel pintar mereka saat bergaul dengan teman-teman, dan sepertiga remaja menghabiskan lebih banyak waktu untuk bersosialisasi dengan teman dekat secara online dibandingkan secara tatap muka.

    Untuk rentang usia 18 hingga 29 tahun, 22 persen responden survei dilaporkan memeriksa perangkat mereka setiap beberapa menit. Orang dewasa menghabiskan sekitar 45 menit sehari di media sosial, dan 96 persen orang Amerika memiliki ponsel pada Juni 2019.

    Sementara perangkat ini menjadi sangat diperlukan untuk komunikasi dan produktivitas, apa dampak negatifnya terhadap masyarakat? Studi penelitian menunjukkan penggunaan perangkat seluler yang berlebihan terkait dengan masalah kesehatan mental, perundungan maya (cyberbullying), dan kurang tidur.

    Prevalensi Kecanduan

    Menurut artikel ulasan tahun 2016, beberapa masalah fisik dan psikologis telah dikaitkan dengan kecanduan ponsel, termasuk nyeri otot, penglihatan kabur, iritasi mata dan kemerahan, ilusi pendengaran dan sentuhan, “sensasi mendengar dering atau merasakan getaran ponsel,” dan rasa sakit atau kelemahan pada ibu jari dan pergelangan tangan karena terlalu sering digunakan.

    Perubahan perilaku yang bermasalah juga telah dicatat, termasuk kehilangan minat pada aktivitas lain, penggunaan ponsel terus-menerus dalam situasi berbahaya atau konteks terlarang, preferensi penggunaan ponsel untuk kontak pribadi, dan gangguan tidur.

    Pengguna juga dilaporkan mengalami kecemasan dan kesepian “ketika tidak dapat mengirim pesan atau menerima tanggapan segera.”

    Dalam sebuah penelitian tahun 2006, “22,1% remaja dan 27,9% pemuda dianggap sebagai pecandu ponsel, meskipun hanya 5,35% dan 5,26% dari mereka yang menunjukkan perilaku berbahaya atau membahayakan.”

    Perbedaan geografis dan antarbudaya memerlukan penyelidikan lebih lanjut, tetapi prevalensi yang lebih tinggi terlihat pada populasi di Timur Tengah dan Asia Timur, dan mahasiswa di Korea “menunjukkan tingkat ketergantungan yang lebih besar (11,15%) daripada orang Amerika (6,36%).”

    Cyberbullying

    Para peneliti di Tiongkok meneliti cyberbullying (perundungan maya), depresi, dan kecanduan ponsel pada siswa sekolah menengah. Diterbitkan pada April 2022 di jurnal Frontiers in Psychology, penulis merekrut 1.297 siswa sekolah menengah untuk menyelesaikan tiga kuesioner.

    Smartphone Addiction Scale menanyakan tentang perilaku menarik diri, perilaku salience seperti kebutuhan menggunakan telepon untuk merasa puas, kenyamanan sosial, efek negatif, dan penggunaan aplikasi yang berlebihan. Skor yang lebih tinggi dikaitkan dengan tingkat kecanduan yang lebih tinggi.

    Kuesioner European Cyberbullying Intervention Project menanyakan tentang intimidasi dan tuduhan kriminal perundungan maya. Intimidasi mengacu pada hal-hal seperti pesan yang mengancam atau melecehkan, dan tuduhan kriminal mengacu pada aktivitas seperti menerbitkan “rumor yang menghasut yang merusak reputasi orang lain.”

    Akhirnya, Center for Epidemiological Studies Depression Scale menanyakan tentang pengaruh depresi seperti terganggu oleh sesuatu, pengaruh positif seperti merasa “tidak lebih buruk” daripada yang lain, aktivitas somatik dan terbelakang, seperti memiliki nafsu makan yang buruk, dan perasaan interpersonal seperti berpikir yang lain tidak ramah. Skor yang lebih tinggi berkorelasi dengan tingkat depresi yang lebih tinggi.

    Secara keseluruhan, kecanduan ponsel dikaitkan dengan tingkat depresi yang tinggi. Kecanduan merupakan faktor risiko untuk menjadi korban perundungan maya dan menjadi perundung maya. Selain itu, siswa yang mengalami korban kejahatan perundungan maya lebih cenderung menjadi pelaku.

    Para penulis menemukan bahwa depresi dan kecanduan secara signifikan lebih tinggi pada anak perempuan dibandingkan dengan anak laki-laki, sedangkan “tingkat korban perundungan maya dan pelaku perundungan maya” lebih tinggi pada anak laki-laki daripada anak perempuan.

    Analisis lebih lanjut juga menunjukkan anak laki-laki yang menjadi korban perundungan maya lebih mungkin menjadi perundung maya daripada anak perempuan.

    Kualitas tidur

    Peran pengaruh pada kualitas tidur dalam hubungan antara kecanduan ponsel dan depresi dipelajari dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di BMC Psychiatry pada Agustus 2022 dengan sampel 450 mahasiswa kedokteran Tiongkok.

    Peserta membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk menyelesaikan survei online, dan mereka yang membutuhkan waktu kurang dari lima menit dikeluarkan dari penelitian.

    Versi Tiongkok dari Mobile Phone Addiction Index (MPAI) untuk kecanduan, Patient Health Questionnaire 9 (PHQ-9) untuk depresi, dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk kualitas tidur digunakan dalam penelitian. Hubungan teman sebaya diukur berdasarkan skala Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA).

    Depresi berkorelasi positif dengan kecanduan, dan kualitas tidur yang buruk dikaitkan dengan hubungan teman sebaya yang lebih buruk. Kecanduan ponsel berkorelasi dengan kualitas tidur yang buruk dan hubungan teman sebaya yang lebih buruk.

    Para penulis menyimpulkan, “Kualitas tidur sebagian dipengaruhi hubungan antara kecanduan ponsel dan depresi. Selain itu, efek kualitas tidur pada depresi dipengaruhi oleh hubungan teman sebaya.” (visiontimes)

    Lebih banyak artikel Kesehatan, silahkan klik di sini

    Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

    VIDEO REKOMENDASI

  • Mengapa Kita Menangis dan Bagaimana Bisa Melegakan Kita

    Mengapa Kita Menangis dan Bagaimana Bisa Melegakan Kita

    Bagi saya, ini adalah iklan SPCA (Masyarakat untuk Pencegahan Kekejaman terhadap Hewan) atau iklan apa pun untuk penampungan hewan lokal.

    Sebelum saya dapat meraih remote dan mengganti saluran televisi, saya menahan air mata saat melihat beberapa hewan yang bernasib mengenaskan — dan kemudian air mata menetes, membuat saya menangis tersedu-sedu.

    Menangis adalah sesuatu yang hanya sedikit dari kita pikirkan sampai kita berada di tengah-tengahnya. Tetapi menangis karena sesuatu telah memengaruhi kita, menyentuh kita dalam beberapa cara yang mendalam, lebih penting daripada yang mungkin kita sadari.

    Dalam pengobatan tradisional Tiongkok (PTT), menangis adalah pelepasan yang penting. Menangis memungkinkan kita untuk mengekspresikan emosi yang jika tidak akan terjebak dalam tubuh dan, jika dibiarkan cukup lama, akan menyebabkan penyakit. Sebuah konsep yang disebut stagnasi menjelaskan hal ini dan bekerja pada dua tingkat. Stagnasi ada pada tingkat energi dan fisik.

    Stagnasi adalah penyebab penyakit yang signifikan, begitu pun stagnasi emosional tidak terkecuali.
    Menangis adalah salah satu cara kita dapat memindahkan hal-hal ini yang telah menumpuk dari tubuh dan jiwa. Menangis adalah katarsis, memungkinkan kita untuk merasakan emosi kita dengan jujur, dan merupakan jalan bagi mereka untuk meninggalkan tubuh agar tidak menumpuk (menyebabkan stagnasi).

    Ilmu Menangis
    Pemahaman tentang menangis ini telah diverifikasi dalam penelitian medis modern dalam beberapa dekade terakhir ketika menangis menjadi subjek penyelidikan ilmiah yang serius. Meskipun menangis adalah perilaku manusia yang universal dan unik, hal itu hanya mendapat sedikit perhatian serius dari para ilmuwan hingga tahun 1980-an. Bahkan dalam empat dekade riset dan penelitian, ada banyak hal yang tidak diketahui tentang tangisan, asal-usulnya, dan mengapa kita melakukannya.

    Mengapa Kita Menangis
    Jadi, mengapa kita menangis, dan apakah itu berfungsi selain sebagai katup pelepas emosi seperti kesedihan, kemarahan, ketakutan, dan kegembiraan? Seperti banyak elemen fisiologi dan alam manusia, ada banyak manfaat yang dicapai dalam satu tindakan.

    Dalam bahasa sains yang dingin, penelitian menunjukkan bahwa menangis mungkin merupakan perilaku keterikatan yang dirancang untuk mendapatkan bantuan dari orang lain. Sebuah penelitian di Universitas Tilburg di Belanda menunjukkan bahwa baik pria maupun wanita akan memberikan lebih banyak dukungan emosional kepada seseorang yang menangis, yang seharusnya datang sebagai respon yang diharapkan. Ada juga bukti bahwa menangis melepaskan endorfin yang bertanggung jawab untuk mengurangi rasa sakit.

    Penelitian yang dilakukan oleh psikolog di University of South Florida menunjukkan bahwa sensitivitas kulit meningkat dan pernapasan menjadi lebih mendalam, selama dan setelah menangis.
    “Ada kemungkinan bahwa menangis merupakan sinyal marabahaya yang membangkitkan dan sarana untuk mengembalikan keseimbangan psikologis dan fisiologis,” kata para peneliti. Ilmuwan lain menyarankan bahwa air mata emosional dapat menandakan kesusahan, mempromosikan perilaku kelompok, mendorong dukungan sosial, dan menghambat agresi.

    Manfaat Menangis Bagi Kesehatan
    Air mata emosional mengandung zat mangan, nutrisi penting—artinya tubuh membutuhkannya untuk berfungsi dengan baik. Menurunkan kadar mangan dapat menyebabkan gangguan pembekuan darah, masalah kulit, memperlambat penyembuhan luka, dan penurunan kesuburan. Terlalu banyak mangan beracun dan dapat menyebabkan gejala neurologis yang meliputi tremor, kesulitan berjalan, dan kejang wajah.

    Air mata emosional juga mengandung potasium, yang bertanggung jawab atas berfungsinya saraf, kontrol otot, dan tekanan darah. Prolaktin adalah hormon yang terlibat dalam stres, serta dalam fungsi kekebalan tubuh. Wanita umumnya memiliki kadar prolaktin yang lebih tinggi daripada pria, dan kadarnya meningkat selama kehamilan karena merupakan hormon yang menghasilkan ASI pada wanita menyusui.

    Banyak penelitian telah menemukan bahwa wanita lebih banyak menangis daripada pria (dengan faktor 5 banding 1), dan hormon ini mungkin menjadi salah satu alasannya. Ada juga bukti yang menunjukkan alasan budaya, dan studi masih dilakukan untuk mengumpulkan lebih banyak data.

    Temuan menarik lainnya menunjukkan bahwa orang yang lebih banyak menangis cenderung menderita lebih sedikit penyakit akibat stres, seperti penyakit jantung, bisul, dan radang usus besar. Studi ini dan lainnya telah menemukan bahwa orang dengan kondisi yang diinduksi stres cenderung menangis lebih sedikit daripada rekan-rekan mereka yang sehat.

    Di Barat, budayanya cenderung menghindari hal-hal yang dianggap tidak menyenangkan. Begitu banyak dari orang Barat merasa lebih mudah untuk mengubur sesuatu yang menyakitkan daripada melepaskannya dengan tangisan. Hidup akan terus menghadirkan situasi yang memunculkan emosi rumit. Belajar menavigasi mereka dan merasakannya sepenuhnya adalah salah satu cara untuk menumbuhkan kecerdasan emosional, dan menangis adalah produk sampingannya yang alami.

    Tindakan menangis memindahkan emosi kompleks ini keluar dari tubuh sambil memungkinkan kita untuk terikat dengan orang lain dengan meminta bantuan dan kenyamanan. Meneteskan air mata adalah isyarat tanpa suara bagi orang-orang di sekitar kita bahwa kita sedang dalam kesusahan. Menerima kenyamanan dan dukungan adalah salah satu cara kita terhubung, dan menyentuh sesuatu dalam diri kita semua; itu adalah pengingat bahwa kita merasa sangat dalam dan bahwa kita tidak sendirian.

    Berbagai Jenis Air Mata
    Tubuh kita sebenarnya menghasilkan tiga jenis air mata: refleks, basal, dan emosional, masing-masing memiliki tujuan penyembuhan tertentu.

    1. Air Mata Refleks
    Air mata refleks adalah 98 persen air dan diproduksi ketika mata kita bersentuhan dengan debu, asap, atau iritasi lainnya. Tujuannya adalah untuk membersihkan mata dari partikel berbahaya. Anda mungkin akrab dengan jenis air mata ini jika Anda pernah memotong bawang atau mata tertusuk sesuatu.

    2. Air Mata Basal

    Air mata basal diproduksi terus menerus untuk menjaga mata kita terhidrasi secara permanen, dan mengandung lisozim, bahan kimia yang bertindak sebagai antibakteri yang melindungi mata kita dari infeksi. Air mata basal juga mengandung air, lipid, dan protein. Air mata ini membasahi mata setiap kali Anda berkedip, menjaganya tetap lembab dan terlindungi. Air mata basal juga berjalan melalui saluran air mata ke hidung agar tetap lembab dan bebas bakteri.

    3. Air Mata emosional

    Air mata emosional adalah yang paling menarik, dan di situlah wawasan pengobatan tradisional Tiongkok menjadi sangat relevan. Hal itu dikarenakan para peneliti telah menemukan bahwa air mata yang dikeluarkan sebagai respons terhadap keadaan emosional tampaknya mengandung hormon, protein, dan racun lain yang menumpuk di dalam tubuh selama peristiwa yang membuat stres.

    Isi dari air mata emosional ditemukan oleh ahli biokimia terkenal dan “ahli air mata” Dr. William Frey pada 1980-an, yang menulis sebuah buku tentang subjek yang disebut “Crying: The Mystery of Tears”. Penelitiannya menunjukkan bahwa air mata emosional ini juga menyebabkan tubuh memproduksi endorfin, hormon perasaan baik.

    Penelitian Frey menyimpulkan bahwa tangisan emosional tidak hanya membuat kita merasa lebih baik secara emosional, tetapi juga memiliki fungsi fisiologis untuk membersihkan tubuh kita dari hormon stres yang berbahaya serta racun. Hormon stres dan racun ini menumpuk setelah kita mengalami peristiwa yang membuat stres.

    Menangis adalah eksokrin, kata Frey. Itu berarti menangis adalah sesuatu yang berhubungan dengan pengeluaran dari tubuh. Fungsi eksokrin lainnya, seperti menghembuskan napas, buang air kecil, buang air besar, dan berkeringat, semuanya merupakan jalan untuk melepaskan zat beracun dan sebaliknya mempertahankan gerakan penting melalui tubuh.

    Penelitian juga menunjukkan bahwa detak jantung dan pernapasan kita menurun setelah tangisan emosional, dan kita memasuki keadaan emosional dan fisiologis yang lebih tenang (Emma Suttie/theepochtimes/aus).

    Lebih banyak artikel Kesehatan, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Cara Keluar dari Kesulitan

    Cara Keluar dari Kesulitan

    Pada suatu hari seekor keledai milik seorang petani, karena tidak berhati-hati terjatuh kedalam sebuah sumur tua, petani telah memikirkan segala cara untuk menolong keledai tersebut, tetapi setelah beberapa jam tidak mendapat akal untuk menolong keledai tersebut, keledai didalam sumur menangis menahan rasa sakit. Terakhir, petani tersebut memutuskan akan menyerah, dia berpikir keledai ini sudah tua, tidak layak mengeluarkan tenaga dan waktu untuk menolongnya lagi, tetapi bagaimanapun, sumur ini harus ditutup, agar tidak jatuh korban lagi.

    Oleh sebab itu petani menyuruh para tetangganya membantunya menimbun tanah kedalam sumur sebagai kuburan untuk keledai tersebut, supaya dia tidak tambah menderita. Para tetangga petani semuanya membawa cangkul, mulai mencangkul tanah ditimbun kedalam sumur tua. Ketika keledai ini menyadari keadaan yang dihadapinya, pada awalnya dia menangis lebih sedih lagi. Tetapi tanpa diduga sebentar kemudian keledai ini mulai menjadi tenang, sama sekali tidak mengeluarkan suara lagi.

    Petani merasa heran lalu menjulurkan kepalanya kedalam sumur memandang, pemandangan didepan matanya membuat dia sangat terkejut; ketika tanah yang mereka timbun terjatuh diatas punggung keledai, reaksi keledai yang menakjubkan membuat orang sangat terkejut dia mengibaskan tanah dipunggungnya sehingga terjatuh disatu sisi, lalu dia berdiri diatas timbunan tanah tersebut!

    Dengan demikian, keledai terus mengibas tanah yang dilemparkan orang kedalam sumur dan terus berpijak naik ke atas. Akhirnya keledai ini sudah bisa naik keatas sumur, dihadapan kerumunan orang yang memandangnya semua bertepuk tangan atas keberhasilannya!

    Seperti keadaan keledai, didalam perjalanan hidup ini, terkadang kita juga bisa terjatuh kedalam “sumur tua”, kita akan ditimbun oleh berbagai macam tanah dan debu diatas tubuh kita, jika ingin keluar dari “sumur tua” ini kita harus mempunyai kiat yang ampuh yaitu, membuang segala kotoran dan debu diatas tubuh kita, kemudian berdiri dan berjalan keatas!

    Sebenarnya, berbagai kesulitan yang kita hadapi didalam kehidupan ini adalah “tanah-kotoran” diatas tubuh kita; Namun, dari perspektif lain, mereka juga merupakan blok batu loncatan, selama kita bertekun dan dengan tekad untuk melepaskan, kemudian berdiri, meskipun terjatuh ke dalam sumur yang terdalam, kita juga dapat menyelamatkan diri.

    Jika kita bisa menghadapi kesulitan dengan sikap tenang dan lapang dada, kekuatan tersembunyi dalam jiwa kita akan muncul membantu kita mengatasi masalah. 

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    

    VIDEO REKOMENDASI

  • Meditasi: Penghilang Rasa Sakit yang Lebih Efektif daripada Morfin

    Meditasi: Penghilang Rasa Sakit yang Lebih Efektif daripada Morfin

    Apakah anda mengenal seseorang yang sedang menderita sakit kronis? Berapa banyak orang yang meminum obat penghilang rasa sakit hanya untuk bertahan? Jika ada alternatif yang murah dan efektif, bukankah itu luar biasa? Meditasi, pada kenyataannya, tidak hanya efektif dalam menghilangkan rasa sakit, sebuah penelitian menemukan bahwa itu lebih efektif daripada morfin. Selain itu, seseorang dapat bermeditasi sesering dan selama yang diinginkan, tanpa efek samping negatif, dan dengan sedikit atau tanpa biaya.

    Sebuah artikel berdasarkan penelitian ilmiah yang diterbitkan dalam The Journal of Neuroscience menunjukkan bahwa 80 menit pelatihan meditasi dapat secara dramatis mengurangi rasa sakit, menunjukkan bahwa meditasi lebih efektif dalam menghilangkan rasa sakit daripada obat-obatan, termasuk morfin yang kuat dan adiktif.

    Penelitian dilakukan dengan 15 relawan; enam peserta laki-laki dan sembilan peserta perempuan yang diberikan paparan rangsangan panas sebelum dan sesudah mereka diberi pelatihan meditasi. Alat pemanas dipanaskan secara bertahap hingga 120 ° Fahrenheit. Setelah 5 menit, kebanyakan orang akan merasa nyeri pada suhu ini. Selama penelitian, respons mereka direkam melalui pemindaian otak.

    Subjek uji menerima empat sesi pelatihan meditasi 20 menit setelah paparan pertama. Pemaparan kedua pada alat pemanas dilakukan saat subjek bermeditasi, untuk mengukur perubahan sensasi rasa sakit. Menurut temuan, nyeri yang dirasakan rata-rata berkurang 57%, dan intensitas nyeri berkurang 40%. Sebagai perbandingan, tingkat pengurangan nyeri dengan morfin hanya 25%.

    Pemindaian otak menemukan bahwa area sensitif rasa sakit di otak menjadi lebih tenang setelah meditasi

    Peneliti mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya ditunjukkan bahwa satu jam meditasi dapat secara dramatis mengurangi rasa sakit dan aktivitas otak yang berhubungan dengan rasa sakit. Artinya, meditasi bisa benar-benar efektif, dan membantu mengurangi rasa sakit tanpa obat.

    Semua obat memiliki beberapa efek samping, dan obat penghilang rasa sakit seperti morfin dapat menyebabkan kecanduan. Meditasi, di sisi lain, tidak memiliki efek samping negatif dan dapat dilakukan tanpa biaya di rumah anda sendiri.

    Rekan peneliti F. Zeidan mengatakan, “Studi ini menunjukkan bahwa meditasi menghasilkan efek nyata di otak dan dapat memberikan cara yang efektif bagi orang-orang untuk mengurangi rasa sakit mereka secara substansial tanpa obat-obatan.” Mengingat betapa sedikitnya pelatihan yang diperlukan untuk menghasilkan efek dramatis seperti itu, meditasi harus dicoba bagi orang-orang yang menderita sakit fisik.(visiontimes)

    Lebih banyak artikel Kesehatan, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Mengenali Kecemasan pada Anak dan Cara Membantu Mereka

    Mengenali Kecemasan pada Anak dan Cara Membantu Mereka

    Anak-anak bereaksi terhadap stres dengan cara yang berbeda sesuai tingkat usia, karakter individu, dan kemampuan mereka menghadapinya.

    Anak yang lebih kecil mungkin belum dapat sepenuhnya mengutarakan kekhawatirannya, sementara anak yang lebih besar umumnya lebih dapat menjelaskan secara rinci apa yang mengganggu mereka dan mengapa mereka merasa seperti itu, namun belum tentu mereka menginformasikan apa yang dirasakannya pada orangtua mereka.

    Setiap orangtua memiliki wewenang untuk mendidik anak-anak mereka tentang bagaimana menerima serta menghadapi ketakutan dan kekhawatiran mereka.

    Dengan dukungan kasih sayang dan sikap positif dari orang tua, sering kali anak-anak lebih dapat mengatasi kecemasan mereka.

    Jika kekhawatiran anak mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, orang tua perlu menentukan apakah kecemasan mereka bersifat sementara atau telah masuk dalam kondisi yang lebih intens. Kemudian mereka dapat mencari cara bagaimana membantu anak-anak mereka menghadapi stres dan kecemasan. Kecemasan juga dapat didiagnosis oleh ahlinya.

    Tanda-tanda kecemasan pada anak-anak dan remaja

    Perubahan perilaku atau temperamen adalah tanda-tanda yang khas jika anak Anda mulai menderita stres dan kecemasan, meski perubahan ini mungkin sulit untuk dideteksi. Beberapa gejala yang paling sering muncul, umumnya lebih mudah dikenali.

    Sakit perut atau sakit kepala adalah gejala fisik yang sering muncul menyertai datangnya stres. Selain itu juga ditandai dengan munculnya gangguan tidur atau kesulitan fokus. Perubahan perilaku seperti lekas marah, atau menggigit kuku dapat mengindikasikan perkembangan masalah saraf.

    Bagi remaja, khususnya, perilaku seperti berubah menjadi sangat memberontak, emosi yang mudah meledak, konflik yang meningkat antara orang tua dan anak, atau tiba-tiba menarik diri dari semua aktivitas sosial yang biasanya dinikmati, bisa jadi tanda-tanda kecemasan. Seruan minta tolong yang serius berupa tindakan menggantikan rasa sakit dengan menyakiti diri sendiri, atau pemakaian obat-obatan.

    Penyebab stres pada anak

    Kecemasan dan ketegangan mungkin faktor bawaan, karena beberapa anak memang dilahirkan dengan gen yang membuat mereka rentan terhadap kecemasan. Namun demikian, kecemasan dapat “terbentuk” seiring tumbuh dewasa ketika anggota keluarga lainnya sedang mengalami kekhawatiran atau kecemasan.

    Faktor eksternal seperti masalah sekolah, masalah keluarga, atau konflik dengan teman sebaya juga dapat menyebabkan kecemasan. Kekhawatiran tentang tugas sekolah atau penerimaan teman sebaya adalah faktor tambahan yang dapat menyebabkan stres bagi seorang anak.

    Perubahan besar dalam keluarga seperti perceraian, kematian dalam keluarga, pindah rumah, atau bahkan kelahiran saudara baru dapat menyebabkan stres dan kecemasan. Perubahan signifikan dapat mengubah kehidupan sekolah anak Anda, menyebabkan kebingungan dan rasa tidak aman.

    Membantu anak Anda mengatasi kecemasannya

    Penting untuk memberikan anak-anak Anda lingkungan yang aman dan mendidik di mana mereka dapat tumbuh dan berkembang. Anak Anda perlu tahu bahwa dia dapat mengandalkan Anda.

    Rutinitas dan batasan merupakan faktor penting dalam membantu anak merasa aman. Waktu tidur yang teratur dan masuk akal, batasan-batasan yang ditetapkan sebelumnya, tradisi, dan tanggung jawab rutin adalah bagian dari kehidupan terstruktur yang dapat diandalkan. Kehidupan keluarga tradisional dan stabil dapat menjadi pondasi bagi kekuatan karakter.

    Memperkenalkan latihan meditasi dasar dan mudah dimengerti, atau menanamkan kecintaan pada sastra, seni, atau musik pada anak-anak Anda dapat memberi mereka sarana untuk mengurangi stres dan kecemasan.

    Memberi anak waktu tersendiri bersama Anda membantu mereka merasa lebih percaya diri dan sekaligus memberi mereka kesempatan untuk mengemukakan masalah yang ingin mereka bicarakan dengan orang tua mereka.

    Hindari menekan anak Anda lebih jauh dengan pertanyaan yang menuntut. Jaga komunikasi Anda tetap positif dan membantu, sampaikan pada mereka bahwa kehadiran Anda untuk mendukung, bukan mengkritik.

    Beri anak Anda banyak ruang dan waktu untuk bermain, beri mereka pilihan sehingga mereka dapat membuat keputusan sendiri. Memiliki rasa kontrol sangat membantu dalam mengurangi stres.

    Di atas segalanya, komunikasikan kekhawatiran mereka bersama anak-anak Anda. Menghabiskan waktu bersama mereka untuk merencanakan cara menyelesaikan masalah juga dapat membantu mengurangi rasa ketidakpastian mereka, bersamaan dengan itu sampaikan pada mereka bahwa Anda memahami kesulitan yang mereka alami dan akan senantiasa memberi mereka dukungan yang menggembirakan hati.

    Ingatlah untuk menikmati hari-hari bersama anak-anak Anda. Dengan masuk ke dunia aktivitas sehari-hari anak, Anda dapat mengawasi tingkat kecemasan dan dapat segera bertindak sebelum kecemasan semakin tinggi. Meskipun menantang, tidak diragukan lagi ini adalah salah satu pengalaman paling luar biasa yang pernah Anda miliki. (visiontimes/sia/feb)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini

    VIDEO REKOMENDASI

  • Perjalanan dari Korban Perundungan Menjadi Seseorang dengan Kehidupan Penuh Makna, Penuh Harapan, dan Kasih Sayang

    Perjalanan dari Korban Perundungan Menjadi Seseorang dengan Kehidupan Penuh Makna, Penuh Harapan, dan Kasih Sayang

    Manusia selalu dapat mencari alasan untuk optimis, kata pepatah. Harapan semacam itulah yang membawa pencerahan dalam kehidupan Kon Karapanagiotidis. Perundungan terhadap anak tidak hanya hadir di era digital. Dia telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Kon adalah korban perundungan di sekolah saat masih kanak-kanak. Dia menceritakan pengalamannya bagaimana “rasa kemenangan” berhasil mengubah hidupnya.

    Dia adalah putra kebanggaan pasangan Yunani kelas pekerja yang bermigrasi ke Australia pada tahun 1960-an. Dia lahir di Mount Beauty, di mana dia, saudara perempuannya, dan orang tuanya menjadi salah satu dari dua keluarga Yunani di kota berpenduduk 1.500 orang tersebut.

    Sungguh terasa sulit menjadi seseorang yang “berbeda” di kota sekecil itu. Kon menjadi korban perundungan selama masa sekolahnya, dia tidak pernah merasa menjadi bagian atau mempunyai tempat di komunitasnya.
    Dia mencari penghiburan dengan membaca buku, menemukan inspirasi dalam karya-karya Gandhi, Malcolm X, dan Martin Luther King saat remaja, semua pria hebat yang mengubah kehidupan jutaan orang dengan menolak menerima kondisi yang terjadi saat itu.

    Kon belajar bahwa tidak apa-apa merasa bangga karena menolak mematuhi hukum yang tidak adil dan adalah penting berjuang untuk kepentingan umum. Dalam kata-kata Malcolm X: “Seseorang yang tidak berjuang untuk sesuatu hal akan jatuh dalam segala hal.”

    Pendidikan adalah prioritas dalam keluarga: harapan akan masa depan yang lebih baik

    Pendidikan menjadi prioritas dalam keluarganya karena ayahnya harus meninggalkan sekolah ketika dia berusia 9 tahun untuk menghidupi keluarganya dan ibunya meninggalkan sekolah pada usia 12 tahun. Mereka berdua bekerja dalam bidang yang menuntut pekerjaan fisik. Pertama di pertanian tembakau di Mount Beauty dan kemudian di pabrik ketika keluarga tersebut dipindahkan ke Melbourne.

    Ibu Kon selalu mengatakan bahwa dia dapat bertahan untuk melakukan kerja keras, menghadapi diskriminasi, dan intimidasi di tempat kerja, hanya agar Kon bisa mendapatkan pendidikan. Dia berharap kelak Kon tidak menanggung penderitaan yang sama.

    Kon membalas budi pengorbanan orangtuanya. Dia tidak pernah berhenti mengasah kecakapannya, mendapatkan total enam gelar dalam pekerjaan sosial, hukum, ilmu perilaku, gelar Master dalam pendidikan dan pelatihan, Master dalam perkembangan internasional, serta seorang eksekutif senior MBA.

    Memanfaatkan rasa sakit dari perundungan dan penolakan

    Di luar keluarganya, Kon merasa sangat tidak dicintai oleh “dunia” karena perundungan dan pengucilan yang dialaminya selama masa sekolah. Dia perlu mencabut luka dan rasa sakit dari pengalaman masa kecilnya serta menemukan cara untuk mengembalikan kepada dunia karena dia tahu menyimpan kepahitan pada akhirnya akan menghancurkannya.

    Dia memutuskan untuk menjadi sukarelawan, yang dilakukannya selama total 10 tahun dari usia 18 hingga 28 tahun, terkadang dia menjadi relawan hingga di 12 tempat berbeda pada waktu yang sama.
    Tugas relawan pertama Kon di pusat persinggahan tunawisma. Dia mengatakan bahwa dia merasakan lebih banyak belas kasih dan kebaikan di sana daripada yang pernah dia alami di sekolah atau universitas, dan dia merasa seperti pulang ke rumah. Dia telah menemukan komunitasnya dan bersamaan dengan itu, dia menemukan tujuan hidup.

    Pada 2001, Kon mengajar kursus kesejahteraan di TAFE. Dia memiliki 40 siswa yang harus mencari peluang untuk penempatan kerja sebagai bagian dari syarat mendapatkan kualifikasi. Tak satu pun dari mereka berhasil mendapatkan penempatan sehingga Kon memiliki ide untuk membuat proyek kelompok bersama sebagai cara untuk menyediakan jam penempatan yang disyaratkan.

    Idenya adalah mendirikan bank makanan bagi para pencari suaka sebagai langkah sementara untuk memenuhi dua kebutuhan — pertama, untuk siswanya dan kedua untuk membantu pencari suaka lokal yang sedang berjuang.

    Salah satu teman Kon meminjamkan bagian depan sebuah toko kecil di Nicholson Street, Footscray, Melbourne. Para siswa mulai mengubah toko kosong tersebut, mengecatnya, membangun rak, dan mengumpulkan makanan gratis sebanyak yang mereka bisa temukan untuk ditata di dalam rak.
    Delapan minggu setelah percakapan awal, diadakan pesta pembukaan dan dengan itu, Pusat Sumber Daya Pencari Suaka (ASRC) lahir.

    Mengatasi konflik

    Pada awalnya, membutuhkan perjuangan untuk memiliki persediaan yang cukup dalam memenuhi kebutuhan komunitas — Kon mengatakan persediaan hanya bertahan beberapa jam pada waktu-waktu tertentu. Tetapi beberapa bulan setelah pembukaan, ada sebuah peristiwa yang menyoroti ketegangan yang meningkat antara kesepakatan lama untuk menyelamatkan mereka yang bermasalah di laut, hak-hak mereka yang melarikan diri dari penganiayaan untuk mencari suaka, dan tekad pemerintah Australia untuk menghentikan para pencari suaka datang ke pantai Australia.

    Pemerintahan Howard memperkuat undang-undang perbatasannya dan mempersulit mereka yang melarikan diri dari penganiayaan untuk diberikan suaka di Australia. Aturan ini menstimulasi publik, yang menghasilkan penambahan besar jumlah sumbangan dan sukarelawan di organisasi yang masih baru tersebut.

    Selain sumbangan makanan, orang-orang mulai menawarkan untuk mengajar bahasa Inggris secara gratis, sehingga kelas-kelas ini menjadi bagian dari organisasi. Kemudian, beberapa pencari suaka mulai meminta bantuan untuk membantu anak-anak mereka yang sakit, karena tergantung pada pembatasan visa, beberapa tidak dapat mengakses Medicare.

    Pusat kesehatan pertama bagi pencari suaka di Victoria

    Keputusan dibuat untuk memulai pusat kesehatan pertama bagi pencari suaka di Victoria. Dari keputusan awal tersebut, pekerjaan ASRC terus berkembang, hingga saat ini memiliki program-program seperti Layanan Garis Depan, Advokasi, dan Pemberdayaan (Frontline Services, Advocacy, and Empowerment).

    “Definisi saya tentang kesuksesan program ini adalah, ketika seorang pencari suaka di negara ini diberi kesempatan, setara dengan orang lain, untuk berpartisipasi dan berhasil serta memenuhi potensi mereka.”
    Layanan Garis Depan mencakup bantuan makanan dan materiil, layanan pendukung, dan perawatan kesehatan. Layanan Advokasi menawarkan bantuan hukum, advokasi penahanan, dan advokasi dari pengalaman hidup, sedangkan bagian Pemberdayaan organisasi mencakup pendidikan dan pelatihan, jalur pekerjaan, dan jalur pemberdayaan.

    Ini juga termasuk Program LEEP, yang menawarkan magang berbayar yang bertujuan untuk mendukung pencari suaka dalam membangun kembali karir profesional mereka di Australia.

    ASRC bukan hanya tempat untuk menerima dukungan; ia telah menjadi gerakan keadilan sosial dalam dirinya sendiri. Mereka menjalankan penggalangan dana dan kampanye kesadaran publik yang mengadvokasi hak-hak pencari suaka. ASRC juga terus-menerus melobi pemerintah dalam upaya untuk melindungi dan meningkatkan kemampuan pencari suaka untuk mengakses layanan dan berpartisipasi penuh dalam masyarakat.

    Penyintas perundungan, saat ini menjadi advokat pantang menyerah bagi mereka yang berada dalam kesulitan

    Kon adalah seorang advokat yang pantang menyerah, bersemangat, dan gigih bagi mereka yang telah begitu menderita.

    Misinya untuk melindungi mereka dari penderitaan lebih dalam yang tidak perlu dan membantu mereka mengamankan kehidupan dan masa depan yang mereka impikan untuk diri mereka sendiri dan anak-anak mereka.

    Pengorbanan orangtua Kon telah memberinya pemahaman mendalam tentang orang-orang ini — dia memahami harapan mereka untuk masa depan dan dia sekarang melakukan semua yang dia bisa untuk memberi mereka kesempatan yang pantas mereka dapatkan. Dia adalah contoh yang sangat antusias untuk membayarnya dengan cara terbaik.

    Jika Anda adalah seorang anak yang dirundung baik secara daring maupun fisik, tolong jangan biarkan Anda menderita sendirian. Sampaikan pada orangtua Anda, guru sekolah yang dipercaya, bahkan kakak laki-laki atau perempuan.

    Anda tidak akan pernah bisa mengubah perundung, jadi abaikan saja mereka. Abaikan ejekan, bisik-bisik, desas-desus, lelucon buruk, pengasingan … Perundung adalah orang lemah yang cemburu. Anda dapat belajar memanfaatkan kekuatan dari dalam diri Anda (inner power), dan Anda akan mengatasi setiap perundung.(Kathy McWilliams/visiontimes/sia/feb)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Manfaat dari Merasa Nyaman dengan Ketidaknyamanan

    Manfaat dari Merasa Nyaman dengan Ketidaknyamanan

    Hidup bisa menjadi tidak nyaman di saat-saat terbaik, tetapi setelah melewati rasa sakit dapat memperoleh manfaat yang tidak terduga.

    Saya terbangun di tenda, sedikit bingung, dan perhatian saya langsung tertuju pada kaki saya. Itu adalah pagi hari kedua dari pendakian selama empat hari, sepanjang 43 mil melintasi Taman Nasional Pictured Rocks National Lakeshore.

    Tiga teman dan saya telah merencanakan perjalanan ini dengan cermat. Kami memiliki cukup makanan, pakaian, tenda, dan perbekalan.

    Namun keputusan saya mengganti sepatu di saat-saat terakhir akan berangkat berujung penyesalan. Sepatu yang saya pakai menimbulkan memar di kaki, namun saya tetap melanjutkan perjalanan.

    Akhirnya kami mencapai perkemahan kedua dan segera mendirikan tenda. Selama pendakian hari itu, kami berkesempatan untuk menikmati tebing, pemandangan danau yang indah, air terjun, dan keajaiban alam lainnya yang terkenal dengan Pictured Rocks. Ini benar-benar adalah salah satu tempat paling indah di bumi.

    Sangat mudah untuk terjebak dalam rutinitas sehari-hari. Seiring bertambahnya usia, hidup kita mulai jatuh ke dalam pola yang sudah dikenal.

    Spontanitas dan petualangan masa muda kita tergeser oleh kegiatan monoton. Sementara hari-hari mungkin berjalan lambat, kehidupan tampaknya berjalan cepat.

    Biasanya saya terlalu sering memeriksa email kantor baru di ponsel saya. Dengan pergi mendaki, di mana kami kehilangan sinyal selama tiga hari, saya terpaksa menghentikan rutinitas ini.

    Pada awalnya, meskipun tahu itu sia-sia, saya masih mendapati diri saya mengeluarkan ponsel saya karena kebiasaan.

    Dalam beberapa jam, saya beradaptasi dengan kenyataan baru (kehidupan tanpa internet) dan sebagai hasilnya, saya menjadi lebih plong pada saat itu.

    Meskipun awalnya tidak nyaman, saya menyadari kegilaan membiarkan teknologi mencuri perhatian saya dari keindahan alam disekitar saya. Setelah memasuki kembali dunia sinyal data “lima bar”, saya menemukan bahwa detoks digital saya bertahan. Saya tidak pernah sempurna, tetapi perasaan positif dari akhir pekan saya yang bebas teknologi membuat saya cenderung tidak meraih ponsel saya.

    Di akhir pekan Pictured Rocks membantu memecahkan rutinitas. Pendakian itu tentu saja merupakan tantangan fisik. Meliputi 43 mil dalam tiga hari medan berbukit dengan banyak jalan basah, berlumpur, dan rintangan, sangat melelahkan, kaki saya pun sempat memar dan lecet.

    Namun, saya menemukan bahwa, pendakian menjadi lebih mudah seiring berjalannya waktu. Sementara beberapa hari pertama tantangan mungkin tampak sangat sulit dan sakit, pada hari ketiga setelah beradaptasi, seolah-olah tubuh berkata pada dirinya sendiri, “Oke, ini yang sedang kita lakukan sekarang,” dan memanfaatkan cadangan energi yang jarang digunakan.

    Semua ini menjelaskan, meskipun tidak mudah untuk melepaskan diri dari rutinitas lama, salah satu cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan mendorong diri Anda ke dalam situasi dan pengalaman baru (seringkali tidak nyaman). Anda tidak dapat memikirkan jalan keluar dari kebiasaan yang tidak diinginkan.

    Tidak ada artikel atau video online yang akan memberikan dopamin atau hiburan hanya dengan sentuhan jari, tetapi ternyata rasanya jauh lebih baik.

    Hampir selalu perlu untuk mengalami sesuatu yang baru?bahkan jika itu tidak menyenangkan pada saat itu?untuk melihat sesuatu secara berbeda. Ketidaknyamanan adalah katalis untuk pertumbuhan. (epochtimes/yud)

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Lemak pada Ikan dapat Membantu Penderita Migrain

    Lemak pada Ikan dapat Membantu Penderita Migrain

    Bagi mereka yang menderita sakit kepala, perubahan menu makan dapat membantu mengurangi frekuensi kambuhnya migrain. 

    Sebuah studi baru, yang didanai oleh National Institutes of Health dan diterbitkan dalam British Medical Journal, menunjukkan bahwa asupan tinggi lemak ikan dapat membantu penderita migrain mengurangi sakit kepala dan intensitas nyeri.

    Studi ini melibatkan sebanyak 182 orang yang sering mengalami migrain, semuanya mengikuti intervensi asupan ini selama 16 minggu. Mereka secara acak ditugaskan ke salah satu dari tiga rencana asupan sehat dan menerima makanan yang mencakup ikan, sayuran, dan salad.

    Satu kelompok menerima makanan yang mengandung ikan berlemak atau minyak ikan tingkat tinggi dan asam linoleat yang rendah.

    Asam linoleat adalah asam lemak tak jenuh ganda yang umum ditemukan pada jagung, kedelai, dan minyak olahan lainnya, sedangkan kelompok lain menerima makanan dengan asam linoleat tinggi dan ikan berlemak rendah, yang meniru pola makan rata-rata orang Amerika.

    Selama studi 16 minggu, peserta diminta untuk memantau jumlah sakit kepala migrain mereka dalam hal hari, durasi, dan intensitas. Mereka juga mencatat bagaimana sakit kepala mereka memengaruhi kemampuan mereka untuk berfungsi di tempat kerja dan dalam kehidupan sosial mereka, serta seberapa sering mereka perlu minum obat.

    Ditemukan bahwa asupan tinggi lemak pada ikan dikaitkan dengan pengurangan 30 persen hingga 40 persen total jam sakit kepala per hari pada kelompok pertama, dibandingkan dengan kelompok kontrol. Sampel darah dari kelompok ini menunjukkan tingkat lipid terkait rasa sakit yang lebih rendah.

    Penelitian menyimpulkan dengan mengatakan: “Perubahan dalam menu asupan dapat memberikan sedikit kabar baik bagi penderita migrain. Ini bukti lebih lanjut bahwa makanan yang kita konsumsi dapat memengaruhi jalur rasa sakit.” (epochtimes)

    Lebih banyak artikel Kesehatan, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI