Tag: ntdindo

  • Ulasan Tiga Bulan: Penyebaran Virus Korona dari Wuhan ke Seluruh Tiongkok dan Negara Lain

    Ulasan Tiga Bulan: Penyebaran Virus Korona dari Wuhan ke Seluruh Tiongkok dan Negara Lain

    Infeksi virus corona ditemukan pertama kali pada Desember 2019. Sebagai pusat epidemi, Wuhan mulai diisolasi pada tanggal 23 Januari 2020, dua hari sebelum Tahun Baru Imlek, namun virus tersebut telah terlanjur menyebar ke wilayah lain.

    Sebagai ibu kota Provinsi Hubei dan pusat lalu lintas darat maupun udara yang terletak di tepi Sungai Yangtze, Wuhan memiliki populasi perkotaan 9 juta jiwa, ditambah 5 juta penduduk sementara. Menurut pernyataan walikota Wuhan, Zhou Xianwang pada 26 Januari lalu, sekitar 5 juta orang berhasil lolos dari kota itu setelah perintah penutupan dikeluarkan.

    Pada 6 Maret, virus corona telah menyebar ke hampir 100 negara dan wilayah dengan menginfeksi lebih dari 100 ribu orang. Jumlah kematian mendekati 3500 jiwa di seluruh dunia.

    Sejak merebaknya virus corona tiga bulan lalu, pejabat maupun media yang dikendalikan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah mengecilkan epidemi tersebut. Langkah yang diambil di setiap jenjang pemerintahan adalah untuk melaporkan berkurangnya jumlah infeksi. Pada tanggal 6 Maret 2020, pejabat Tiongkok mengklaim terjadi 80.813 kasus, termasuk 67.592 kasus di Wuhan. Jumlah kematian di Tiongkok dilaporkan ada 3073 kasus.

    Seperti yang dijelaskan dalam laporan singkat tiga bulan ini, kemungkinan jumlah infeksi dan angka kematian sekarang ini bisa lebih tinggi, karena banyaknya kasus yang tidak dilaporkan atau sengaja ditutupi oleh PKT.

    Awal Wabah (Desember 2019 sampai 20 Januari 2020)

    “Ada bukti bahwa penularan antarmanusia terjadi melalui kontak dekat sejak pertengahan Desember 2019,” lapor sebuah artikel tertanggal 29 Januari 2020 dari New England Journal of Medicine.

    Artikel yang berjudul, “Dinamika Transmisi Awal dari Novel Coronavirus-Infeksi Pneumonia di Wuhan, Tiongkok,” ditulis oleh sekelompok ilmuwan di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular Tiongkok (CCDC).

    Namun CCDC tidak mengatakan bahwa penyakit tersebut dapat menulari sesama manusia sampai 20 Januari, sebulan setelah terjadinya epidemi. Selama bulan itu, pejabat Wuhan berulang kali mengatakan bahwa virus tersebut dapat “dikendalikan dan dicegah,” dan mereka tidak mengambil langkah yang diperlukan dalam mencegah penyebaran virus.

    Pada tanggal 31 Desember 2019, Komisi Kesehatan Kotamadya Wuhan mengeluarkan “Pemberitahuan mendesak mengenai perawatan pneumonia yang tidak dikenal” ke fasilitas medis setempat, memperingatkan bahwa sejumlah pembeli di Pasar Makanan Laut Huanan telah menunjukkan gejala pneumonia. Pemberitahuan ini mendesak agar setiap institusi mendata pasien mereka dengan gejala yang sama. Penduduk Wuhan mengira bahwa mereka akan menghadapi kambuhnya sindrom pernapasan akut parah yang disebut SARS di tahun 2003 lalu.

    Pada tanggal yang sama dengan pemberitahuan itu, para ahli medis dari Beijing tiba di Wuhan dan mengeluarkan tiga kategori bagi pasien yang dianggap telah terkonfirmasi kasusnya, yakni: a) pernah berkunjung ke Pasar Makanan Laut Huanan, b) mengalami demam, c) verifikasi dari seluruh komposisi genom. Sebuah artikel dari media berita keuangan Caixin Weekly mengatakan bahwa kategori semacam itu terlalu ketat untuk diterapkan dalam mengidentifikasi kasus tanpa gejala, hasilnya membuat penyebaran terus berlanjut.

    Pada 1 Januari 2020, delapan dokter mendapat sanksi dari kepolisian Wuhan karena berbicara mengenai wabah yang merebak pada sejumlah orang. Polisi mengatakan bahwa penyakit ini telah terkendali dan tidak akan menular antarmanusia. Kedelapan dokter tadi didakwa dengan “tindakan ilegal memalsukan dan menyebarkan desas-desus dan mengganggu tatanan sosial.” Salah satu dokter bernama Li Wenliang dari Rumah Sakit Pusat Wuhan, terinfeksi virus dan akhirnya meninggal dunia pada tanggal 6 Februari 2020.

    Pada tanggal 1 Januari 2020, Pasar Makanan Laut Huanan ditutup untuk pembersihan. Keesokan harinya, Naval University of Engineering milik Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) yang berada di Wuhan, mengeluarkan pemberitahuan yang melarang personil eksternal memasuki kampusnya. Ini menunjukkan bahwa angkatan laut Tiongkok telah mengetahui infeksi tersebut pada tahun 2019 dan mengeluarkan kebijakan (2019-298) untuk mengendalikannya. Demikian pula Rumah Sakit Umum Teater Pusat Tentara Pembebasan Rakyat mengetahui situasi penyebaran virus.

    Pada tanggal 3 Januari 2020, para pejabat di Wuhan melaporkan 44 kasus infeksi, meski sedikit fakta yang diketahui terkait sumber, rute penyebaran, dan mutasi virus, media berita di Tiongkok mengatakan penyakit ini “dapat dicegah dan dikendalikan.” Pada 10 Januari, Kantor Berita Xinhua mewawancarai Wang Hailong, seorang dokter yang terlibat dalam upaya penanggulangan penyebaran SARS pada tahun 2003. Wang berkata bahwa tidak ada kematian, infeksi terhadap petugas kesehatan atau penularan antarmanusia. Dia meyakinkan masyarakat agar tidak perlu khawatir.

    Pada tanggal 5 Januari 2020, Pusat Klinik Kesehatan Masyarakat Shanghai (berafiliasi dengan Universitas Shanghai Fudan) menyerahkan laporan internal kepada Komisi Kesehatan Nasional. Pusat klinik mengklaim bahwa virus corona terdeteksi melalui cairan lavage dari saluran pernapasan seorang pasien dengan gejala pneumonia yang berhubungan dengan Pasar Makanan Laut Huanan. Komposisi genom keseluruhan menunjukkan materi genetik virus sebesar 89,11% serupa dengan SARS, dan virus baru ini disebut Wuhan-Hu-1.

    Pada tanggal 8 Januari, virus ini ditetapkan menjadi coronavirus baru dan dinamakan 2019-nCoV.

    Wang Guangfa, kepala ahli bedah paru-paru dari Rumah Sakit Universitas Peking Pertama dan departemen medis gawat darurat, mengumumkan pada tanggal 11 Januari melalui People Daily bahwa virus tersebut lemah dalam menyebabkan penyakit. Dia juga berkata bahwa para pasien dan situasi penyebaran virus secara keseluruhan dalam kondisi “terkendali.”

    Pada 14 Januari 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan infeksi terbatas coronavirus baru antarmanusia telah diamati, terutama dalam kelompok kecil seperti keluarga. Maria Van Kerkhove, yang menjabat sebagai kepala unit penyakit menular WHO, mengatakan bahwa lembaga tersebut telah memberikan panduan pada setiap rumah sakit di seluruh dunia mengenai pengendalian infeksi dalam kasus penyebarannya, termasuk melalui kegiatan “penyebaran luar biasa” dalam rangka mencegah epidemi.

    Namun tak lama setelah itu, WHO mengutip pernyataan pejabat Tiongkok yang mengatakan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan virus itu menular antarmanusia. Pagi hari, tanggal 15 Januari 2020, Komisi Kesehatan Kotamadya Wuhan mengatakan bahwa meski tidak ada bukti ditemukan penularan antarmanusia, tetapi tidak dapat mengesampingkan kemungkinan penularan terbatas antarmanusia.

    Pada 17 Januari 2020, sebuah laporan dari MRC Center untuk Analisis Penyakit Menular Global dari London Imperial Collage mengatakan bahwa, ada kemungkinan “kasusnya jauh lebih banyak.” Laporan ini memperkirakan ada 1723 kasus di Wuhan, pada tanggal 12 Januari.

    Meski pada Desember 2019, para pejabat sudah mengetahui bahwa virus ini dapat menyebar antarmanusia, warga Baibuting di Wuhan diminta menghadiri pesta tahunan pada tanggal 18 Januari 2020. Diselenggarakan oleh pemerintah Wuhan, lebih dari 40 ribu keluarga mempersiapkan 14 ribu hidangan untuk disajikan. Beberapa hari kemudian, komunitas tersebut mulai menunjukkan gejala infeksi virus corona. Lima hari kemudian tepatnya tanggal 23 Januari, Kota Wuhan ditutup.

    Seorang sukarelawan yang bekerja di acara itu mengungkapkan bahwa ia bersama sejumlah staf komunitas menerima informasi dari orang dalam bahwa Wuhan akan ditutup, tapi mereka diberitahu bahwa pesta harus tetap dilanjutkan. Salah satu anggota komite lingkungan berkata bahwa mereka telah mendengar tentang virus ini sejak awal Januari. Setelah mendapat pemberitahuan pada tanggal 15 Januari bahwa penyakit ini dapat berjangkit dari orang ke orang, dia dan koleganya menyarankan agar perjamuan dibatalkan, namun permintaan tersebut ditolak.

    Pada 19 Januari 2020, Chutian Metropolis Daily melaporkan bahwa sebuah acara berskala besar akan diselenggarakan oleh Biro Wisatawan dan Budaya Wuhan esok harinya dengan estimasi pengunjung sekitar 200 ribu orang.

    Menurut Pembela Hak Asasi Manusia Tiongkok, sebuah organisasi nirlaba yang berbasis di Washington, D.C., polisi Tiongkok telah menangkap setidaknya 325 warga hanya dalam kurun 22 – 28 Januari. Kebanyakan dari mereka didakwa dengan pasal “menyebarkan desas-desus,” “menciptakan kepanikan,” atau “mengganggu tatanan sosial.” Mereka dihukum dengan penahanan, denda, atau pendidikan kedisiplinan.

    Kronologi Setelah PKT Mengumumkan Penularan Antarmanusia

    Pada malam 20 Januari 2020, Zhong Nanshan, kepala Satuan Tugas Coronavirus Komite Kesehatan Nasional, mengatakan dalam konferensi pers bahwa bukti menunjukkan coronavirus baru dapat menular antarmanusia.

    Pada pagi tanggal 21 Januari 2020, Komisi Kesehatan Kota Wuhan mengatakan bahwa 15 anggota staf medis di kota itu telah didiagnosis terinfeksi virus corona, dengan dugaan tambahan kasus. Di antara 16 kasus, satu dalam kondisi kritis. Berita ini memicu kemarahan masyarakat karena pemerintah menutupi epidemi ini sebelumnya.

    Sore harinya masih di tanggal yang sama, Pusat Pengendalian Penyakit Menular (CDC) Amerika mengumumkan bahwa seorang warga AS yang pernah ke Wuhan telah terinfeksi corona. Ini merupakan kasus pertama di Amerika.

    Pada tanggal 23 Januari 2020, Wuhan ditutup dan seluruh transportasi umum termasuk bus, kereta api, kapal feri, dan penerbangan tidak beroperasi. Kemudian penutupan ini diikuti 15 kota di Provinsi Hebei. Beijing dan 12 provinsi lainnya termasuk sejumlah kota di tingkat provinsi juga mengaktifkan sistem Manajemen Darurat Kesehatan Masyarakat. Namun saat itu epidemi telah menyebar ke lebih 26 provinsi.

    Pada tanggal 24 Januari 2020, menjelang Tahun Baru Imlek, Presiden Xi Jinping berpidato yang disiarkan ke seluruh negeri, dan tak sedikit pun menyinggung virus corona.

    Pada tanggal 25 Januari 2020, Eric Feigl-Ding, seorang peneliti kesehatan masyarakat di Universitas Harvard selama 15 tahun berkomentar di Twitter, “Ini merupakan pandemi buruk tingkat termonuklir…saya tidak melebih-lebihkan.” Dia berkata bahwa virus ini akan lebih buruk dari epidemi sebelumnya. Covid-19 dilaporkan memiliki tingkat infeksi, R0 (dieja “R naught”) 3,8 yang artinya satu orang terinfeksi dapat menularkan virus kepada rata-rata 3,8 orang lainnya. Sebagai perbandingan pandemi flu 2009 (atau dikenal sebagai flu babi telah menyebabkan ratusan ribu korban jiwa) memiliki Ro 1,48 dan flu Spanyol tahun 1918 (menyebabkan kematian 50-100 juta jiwa) memiliki Ro 1,80.

    Pada tanggal 27 Januari 2020, Walikota Wuhan Zhou Xianwang mengakui terlambat mengetahui status virus corona dan menjelaskan dia tidak berwenang mengungkapkan informasi lebih awal. “Pemerintah pusat sebagian bertanggung jawab atas kurangnya transparansi yang melemahkan respon terhadap krisis kesehatan yang berkembang cepat,” ucapnya.

    Pada tanggal 28 Januari 2020, Beijing menon-aktifkan sejumlah transportasi kereta api dan Tianjin mengaktifkan sistem penanganan darurat perang.

    Pada tanggal 28 Januari 2020, pejabat senior AS berkata bahwa Beijing menolak tawaran mereka untuk membantu memerangi epidemi. Sekretaris Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Alex Azar berkata bahwa Beijing telah menolak permintaan akses CDC ke Tiongkok sejak tanggal 6 Januari.

    Pada tanggal 29 Januari 2020, sebuah artikel dipublikasikan di New England Journal of Medicine menyatakan, “Terdapat bukti bahwa penularan antarmanusia telah terjadi melalui kontak dekat sejak pertengahan Desember 2019.” (“Dinamika Transmisi Awal dari Novel Coronavirus-Infeksi Pneumonia di Wuhan, Tiongkok”) Penulis berasal dari CCDC dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular Provinsi Hubei, dan mereka telah mempelajari 425 kasus yang terkonfirmasi di Wuhan sejak Desember 2019 dan Januari 2020.

    Pada tanggal 30 Januari 2020, mantan pejabat kementerian kesehatan Tiongkok, Chen Bingzhong mengatakan pada The Epoch Times bahwa epidemi tersebut berada di luar kendali dan Wuhan dalam situasi yang sangat berbahaya. Angka kasus sebenarnya jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan secara resmi.

    Pada tanggal 30 Januari 2020, Italia mengkonfirmasi dua kasus pertamanya melalui konferensi pers oleh Perdana Menteri Giuseppe Conte. Mereka adalah dua turis Tiongkok yang baru-baru ini bepergian ke Italia.

    Pada tanggal 31 Januari 2020, Sekretaris Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS, Alex Azar menyatakanan bahwa virus corona menjadi masalah darurat kesehatan masyarakat dan perlunya penerapan tindakan sementara untuk melindungi warga AS. Dia berkata setiap warga AS yang kembali dari daerah di Provinsi Hubei, wajib dikarantina selama 14 hari. Selain itu setiap warga negara AS yang kembali dari daerah lain di Tiongkok akan menjalani pemeriksaan kesehatan di beberapa pelabuhan masuk dan dikarantina selama 14 hari.

    Selain itu Presiden Trump menandatangani proklamasi yang sementara waktu menangguhkan masuknya warga negara asing mana pun ke AS yang membawa resiko terinfeksi virus. Kebijakan ini termasuk warga negara asing selain keluarga dekat warga negara atau penduduk tetap AS yang melakukan perjalanan ke Tiongkok selama 14 hari sebelumnya.

    Juga efektif mulai tanggal 2 Februari, semua penerbangan menuju AS yang mengangkut para penumpang yang belum lama ini berada di Tiongkok, diarahkan mendarat di salah satu dari tujuh bandara dengan sumber daya kesehatan yang mampu menerapkan peningkatan prosedur deteksi virus corona. Tujuh bandara ini dirancang oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) yakni Bandara Internasional John F. Kennedy di New York, Bandara Internasional Chicago O’Hare, Bandara Internasional San Francisco, Bandara Internasional Seattle-Tacoma, Bandara Internasional Daniel K. Inouye di Honolulu, Bandara Internasional Los Angeles, dan Bandara Internasional Hartsfield-Jackson Atlanta.

    Kebanyakan maskapai telah membatalkan jadwal penerbangan keberangkatan maupun tiba dari Tiongkok. American Airlines menangguhkan penerbangan ke Tiongkok mulai tanggal 2 Februari – 27 Maret. Delta menangguhkan semua penerbangan dari AS ke Tiongkok mulai tanggal 6 Februari – 30 April, sementara United memperpanjang penangguhan penerbangan antara AS dengan Beijing, Chengdu, Shanghai, dan Hong Kong sampai tanggal 24 April.

    Keputusan ini dibuat setelah Departemen Luar Negeri AS, meningkatkan peringatan perjalanan ke level tertinggi yakni Level 4, pada tanggal 30 Januari 2020: “Jangan berpergian ke Tiongkok karena novel coronavirus pertama kali ditemukan di Wuhan, Tiongkok. Pada tanggal 30 Januari, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah epidemi yang menyebar cepat sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (PHEIC).”

    Pada tanggal 3 Februari, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hua Chunying mengatakan dalam konferesi pers bahwa, “Sejak tanggal 3 Januari, kami telah memberi tahu AS tentang epidemi dan upaya pengendalian kami sebanyak 30 kali.” Seperti yang dibahas sebelumnya, beberapa institusi Tiongkok seperti kemiliteran dan Komite Kesehatan Nasional telah mengetahui wabah ini pada akhir 2019, namun masyarakat umum telah diberikan informasi yang keliru tentang skala dan tingkat keparahan epidemi selama ini.

    Pada tanggal 5 Februari, Neil Ferguson, direktur Pusat MRC untuk Analisis Penyakit Menular Global di Imperial Collage London, mengatakan bahwa angka kasus “terus meningkat.” Dia memperkirakan bahwa hanya 10 persen dari semua infeksi di Tiongkok yang terdeteksi saat itu.

    Pada tanggal 6 Februari 2020, sejumlah kantor berita melaporkan bahwa banyak negara termasuk AS, Inggris, Jepang, Australia, dan Indonesia, melakukan evakuasi warganya dengan maskapai sewaan.

    Pada tanggal 7 Februari 2020, Li Wenliang, salah satu dari 8 dokter yang dihukum karena memberi tahu adanya wabah coronavirus, meninggal dunia setelah terinfeksi. Berita ini menjadi trending nomor satu di Weibo, salah satu situs microblogging paling populer di Tiongkok dengan jangkauan 540 juta. Namun postingan berita ini dengan cepat dihapus dari situs.

    Pada tanggal 8 Februari, Kedubes AS di Tiongkok mengatakan warga negara AS yang pertama terinfeksi virus corona telah meninggal dunia. Pasien ini berusia 60 tahun dan meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Wuhan.

    Pada tanggal 9 Februari, WHO mengatakan Tiongkok telah mengkonfirmasi 40.213 jumlah kasus dan 811 kematian. Jumlah ini melampaui angka kematian SARS pada tahun 2003. Kasus lain banyak ditemukan di luar Tiongkok seperti Hong Kong (10 kasus lagi, dengan jumlah 36 kasus), Singapura (tiga kasus, dengan total 43 kasus), dan Korea Selatan (tiga kasus lagi, total menjadi 27 kasus). Enam kasus baru dikonfirmasi di kapal pesiar Diamond Princess, sehingga jumlah kasus di kapal menjadi 70, dan Jepang memiliki 96 kasus.

    Pada tanggal 11 Februari, Dewan Negara Tiongkok mendesak warga Tionghoa kembali bekerja pada tanggal 18 Februari, kecuali bagi mereka yang berada di Provinsi Hubei. Pada saat itu, WHO memberi nama baru bagi virus corona yakni, COVID-19.

    Pada tanggal 24 Februari, Beijing mengumumkan penundaan Kongres Rakyat Nasional (NPC) dan Komite Nasional Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok (CPPCC), dua konferensi politik paling penting yang biasa diadakan pada tanggal 5 Maret. Perintah untuk kembali bekerja yang dikeluarkan secara bersamaan dengan penundaan konferensi telah memicu kemarahan rakyat Tiongkok. “Apa hidup saya tidak berharga?” tulis seorang netizen di kolom komentar.

    Jumlah Kasus yang Tidak Dilaporkan

    Sejumlah besar bukti menunjukkan bahwa kasus virus corona telah ditutupi atau tidak dilaporkan oleh para pejabat PKT.

    Salah satu contoh adalah panti jompo di Distrik Jiahua, Kota Qiqihar, Provinsi Heilongjiang, pada akhir 2019, 23 dari 48 penghuni di panti jompo tersebut telah terinfeksi oleh pengunjung yang terinfeksi virus corona. Kasus ini dikonfirmasi pada pertengahan Februari, tapi tidak dimasukkan dalam kasus yang dilaporkan.

    Menurut artikel yang diterbitkan oleh CCDC di Chinese Journal of Epodemiology, sekitar 104 kasus virus corona telah diamati di Wuhan dan daerah lain di Provinsi Hubei sebelum tanggal 31 Desember 2019, namun sebuah laporan dari Komisi Kesehatan Kota Wuhan pada hari itu menyatakan hanya memiliki 27 kasus.

    Perbedaan ini terus berlanjut. Artikel di atas juga melaporkan adanya peningkatan sebanyak 653 kasus di Tiongkok dari tanggal 1 – 10 Januari 2020, 88,5 persen diantaranya terjadi di Provinsi Hubei. Namun sebuah laporan dari Komisi Kesehatan Kotamadya Wuhan pada tanggal 11 Januari mengindikasi hanya ada 41 kasus selama masa itu.

    Menurut laporan internal yang dipublikasikan, setidaknya 49 kasus teridentifikasi di Provinsi Shandong pada tanggal 19 Januari 2020, namun pada hari itu hanya dua kasus yang muncul dalam laporan resmi.

    Pada tanggal 23 Februari 2020, Wuhan sudah memasuki bulan kedua sejak diisolasi. Korea Selatan telah mengkonfirmasi 169 kasus baru sehingga jumlah seluruhnya meningkat menjadi 602 kasus. Peningkatan ini mendorong negara tersebut meningkatkan kewaspadaan wabah coronavirus sampai ke tingkat darurat. Pada hari yang sama, 57 kasus lain terindentifikasi di kapal pesiar Diamond Princess, sehinggal total menjadi 691 kasus.

    Pada tanggal 24 Februari 2020, pukul 11 siang pemerintah Wuhan mengumumkan akan membuka kembali kota tersebut, namun dalam waktu tiga jam, pemberitahuan itu ditarik kembali.

    Menurut informasi dari Departemen Kepolisian Hubei, pada tanggal 25 Februari, 293 polisi dan 111 polisi paramiliter telah terinfeksi virus corona, empat diantaranya meninggal dunia. Hampir separuh dari kasus ini atau 47,4 persen berasal dari para petugas di berbagai kantor kepolisian.

    Pada tanggal 26 Februari, COVID-19 telah ditemukan di semua benua kecuali Antartika. Jumlah kasus yang terjadi di Korea Selatan, Iran, maupun Italia meningkat drastis.

    Pada tanggal 27 Februari, CDC AS memperbarui kriteria untuk memandu pemeriksaan orang-orang yang kemungkinan terjangkit COVID-19. Esok harinya, CDC mengeluarkan Jaringan Waspada Kesehatan (HAN): Situasi Terkeni dan Panduan Sementara tentang Wabah COVID-19.

    Jumlah penularan COVID-19 meningkat tajam di Italia. Beatrice Lorenzin, mantan menteri kesehatan Italia berkata bahwa kemungkinan ini disebabkan oleh orang-orang yang terinfeksi yang melakukan perjalanan dari Tiongkok ke Italia, yang menggunakan penerbangan tidak langsung tanpa memberi tahu titik keberangkatan asli mereka atau menempatkan diri untuk dikarantina secara sukarela selama masa inkubasi virus.

    Pada tanggal 29 Februari, Italia melaporkan munculnya 239 kasus baru dan 8 kasus kematian baru, sehingga jumlah keseluruhan infeksi naik menjadi 1128 kasus dan jumlah kematian 29 jiwa. Amerika meningkatkan waspada perjalanan ke Italia dari Level 3 (pertimbangkan kembali perjalanan) menjadi Level 4 (Jangan bepergian).

    Pada tanggal 29 Februari 2020, sebuah sumber melaporkan bahwa departemen CT Scan dari Rumah Sakit Pertama Qiqihar, Provinsi Heilongjiang, terdapat lebih dari 100 orang terinfeksi virus corona, termasuk para petugas kesehatan. Namun angka ini tidak dilaporkan untuk menghindari pertentangan dengan angka yang dipublikasikan secara resmi.

    Da Guo Zhan Yi (Bagaimana Bangsa Besar Melawan Epidemi) sebuah buku yang disusun oleh Departemen Publikasi dan Kantor Informasi Dewan Negara, diterbitkan pada Februari 2020, yang menggambarkan para pejabat PKT sebagai pahlawan yang menaklukan infeksi virus corona. Buku ini tiba-tiba lenyap dari seluruh toko buku di Tiongkok, pada tanggal 1 Maret 2020.

    Masyarakat Menjadi Korban Propaganda

    Seperti kejadian lain dalam beberapa dekade terakhir, pemerintah PKT secara rutin mengecilkan bencana dan berusaha mengendalikan opini publik demi mendapatkan kredit bagi diri mereka sendiri. Namun setiap kali ini terjadi, rakyat biasa selalu menjadi korban dan masyarakat luar Tiongkok diberi informasi yang keliru.

    Meski pejabat Wuhan dan Hubei mengetahui epidemi ini pada awal Januari, mereka tidak mengambil tindakan sampai tanggal 20 Januari dan baru bergegas membentuk satuan tugas penanganan penyakit menular pada tanggal 26 Januari. Namun sebagian anggota gugus tugas tersebut mewakili lembaga pemerintahan yang bertanggung jawab atas kontrol media dan “menjaga stabilitas.” Ini menyiratkan bahwa fungsi utama satuan tugas tersebut adalah untuk mengendalikan informasi daripada menangani penyebaran epidemi.

    Demi mengurangi jumlah kasus yang dilaporkan, pemerintah PKT kini meninggalkan Baibuting, di mana pesta 40 ribu keluarga pernah diadakan. “Banyak orang terinfeksi virus ini. Namun para pejabat Wuhan memberi kami satu alat uji per hari untuk satu kompleks, yang terdiri 4000 keluarga,” tulis seorang warga Baibuting di situs blogging. Postingan tersebut segera dihapus.

    Sementara walikota Wuhan Zhou Xianwang mengatakan upaya pengendalian epidemi tertunda karena dia tidak berwenang untuk bertindak, sedangkan presiden PKT Xi Jinping berkata telah memberikan instruksi mengenai pengendalian dan pencegahan epidemi pada tanggal 7 Januari.

    Komisi Kesehatan Nasional dan CCDC Wuhan juga saling menyalahkan. Mereka mempublikasi banyak makalah di sejumlah jurnal baik di Tiongkok maupun internasional bahwa wabah itu sudah diketahui sejak dini namun menyebar luas karena tidak adanya tindakan dari pemerintah PKT.

    Saat layanan medis, pemerintah lokal, dan pejabat tinggi di pusat pemerintahan saling menyalahkan atas epidemi ini, masalah sebenarnya muncul dari pemblokiran informasi dan opini publik yang dikendalikan PKT secara sistematis.

    “Barron’s,” sebuah majalah Amerika tentang keuangan dan statistik, belum lama ini memuat sebuah artikel berjudul “Angka Virus Corona Tiongkok Jangan Bertambah.” “Jumlah angka kematian kumulatif yang dilaporkan – diperoleh dari rumus matematika sederhana – dengan tingkat akurasi sangat tinggi,” tulis Lisa Beilfuss, “Varian mendekati sempurna yakni 99,99 persen yang dapat dijelaskan melalui persamaan.” Analis data berkata model prediksi yang hampir sempurna ini hampir tidak mungkin terjadi secara alamiah, dan ini menimbulkan keraguan terhadap kebenaran angka kasus yang dilaporkan Tiongkok kepada WHO.

    Artikel “Barron’s” mengutip pernyataan Melody Goodman, profesor biostatistik di Sekolah Kesehatan Masyarakat Global di Universitas New York mengatakan bahwa, “Sebelum ini saya belum pernah melihat Koefisien Determinasi (r-squared) 0,99. Sebagai ahli statistik, ini membuat saya meragukan data.” Dia berkata data manusia nyata tidak pernah dapat diprediksi secara sempurna ketika muncul sesuatu seperti epidemi, karena ada banyak cara seseorang melakukan kontak dengan virus. Misalnya Koefisien Determinasi “sangat baik”, dalam data kesehatan masyarakat, akan menjadi 0,7. “Apa pun yang menjadi 0,99 akan membuat saya berpikir bahwa seseorang sedang mensimulasikan data. Ini berarti anda sudah tahu apa yang akan terjadi,” katanya.

    Pada tanggal 25 Februari, menlu AS Mike Pompeo mengatakan pada wartawan, “Seandainya Tiongkok mengizinkan para jurnalis dan tenaga medis dari negara lain untuk berbicara dan melakukan penyelidikan secara bebas, pemerintah Tiongkok dan negara lain akan memiliki persiapan yang jauh lebih matang dalam menghadapi tantangan ini.” Pada tanggal 6 Maret, dia mengungkapkan kekesalannya dalam wawancara CNBC bahwa penolakan Tiongkok untuk berbagi data telah menempatkan AS “tertinggal” dalam upaya memerangi epidemi.

    Zeng Guang, kepala ahli epidemiologi untuk CCDC, mengungkapkan metodologi pengambilan keputusan PKT dalam sebuah wawancara dengan Global Times pada tanggal 30 Januari 2020. Dia berkata bahwa pemerintah PKT perlu mempertimbangkan segi politik, stabilitas sosial, dan masalah ekonomi dan pendapat para ilmuan hanyalah “sebagian dari dasar pengambilan keputusan mereka.” Dengan kata lain, politik berada di prioritas tertinggi, diikuti oleh stabilitas dan ekonomi. Sebagai perbandingan, kehidupan manusia tampaknya tidaklah penting.

    Stephen Bannon, mantan Kepala Strategi Gedung Putih, mengatakan dalam sebuah acara “Zoom in with Simone Gao,” sebuah program pelaporan investigasi mingguan, bahwa PKT tidak mempedulikan seberapa banyak korban yang jatuh akibat terinfeksi virus karena mereka hanya khawatir terhadap kelanggengan kekuasaan mereka. Dia menyerukan agar firewall Tiongkok diturunkan sehingga warga Tiongkok dapat berkomunikasi dengan seluruh dunia. (id.minghui.org)

    Lebih banyak berita tentang wabah pneumonia akibat infeksi Covid-19 dari Wuhan, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

    https://youtu.be/XD0LCUwHZSk
  • Tujuan Terakhir dari Paham Komunis (1): Apa Tujuan Komunis?

    Tujuan Terakhir dari Paham Komunis (1): Apa Tujuan Komunis?

    https://youtu.be/KzL63Qa0leM

    “Tujuan Terakhir dari Paham Komunis” (1)

    Dari rezim politik komunis Soviet Rusia pertama kali muncul sampai hari ini, telah genap seratus tahun berlalu. Dalam waktu singkat satu abad ini, paham komunis telah menimbulkan kematian bagi ratusan juta orang. Partai komunis dari sejak didirikan telah mengibarkan bendera ‘umat manusia melawan Tuhan’, meneriakkan “tidak ada maha Juru Selamat”, “mari kita hapuskan masa lalu”*

    *“tidak ada maha Juru Selamat”, “mari kita hapuskan masa lalu”, merupakan bagian dari lirik Internasionale, yang merupakan lagu khas kaum sayap kiri, dan pernah menjadi lagu kebangsaan Uni Soviet.

    Paham komunis asalnya dari mana? Mengapa di tengah alam semesta bisa muncul partai komunis ini? Esensi dari paham komunis adalah apa? Bagian akhirnya akan seperti apa? Terhadap jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar ini, orang-orang mempunyai pendapat yang berbeda-beda, dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengungkap teka-teki ini.

    Esensi dari paham komunis adalah sesosok “roh jahat”, ia terbentuk dari “Kebencian” dan materi sampah tingkat rendah dari alam semesta, ia penuh benci dendam dan ingin memusnahkan umat manusia. Ia sama sekali tidak akan puas hanya dengan membunuh tubuh fisik manusia, karena kematian dari tubuh fisik manusia bukanlah kematian yang sebenarnya dari sebuah kehidupan, Jiwa (roh) masih akan bereinkarnasi; tetapi saat moral seorang manusia rusak sampai kondisi tidak ada obatnya, maka Jiwanya di tengah penderitaan tanpa batas, akan dihancurkan seluruhnya. Itu barulah hal yang paling menakutkan juga kematian sebenarnya dari sebuah kehidupan. “Roh jahat komunis” justru ingin membuat seluruh umat manusia terjatuh dalam lubang neraka dengan hukuman tanpa akhir.

    Pada tahun 1989, tembok Berlin runtuh, tidak lama setelahnya kelompok komunis Uni Soviet dan Eropa timur dengan cepat tercerai berai, seakan-akan seluruh dunia menganggap “Perang Dingin” sudah berakhir, dan ideologi paham komunis telah kalah tanpa sisa; bahkan negara sisa komunis itu sendiri merasa bagai telur di ujung tanduk.

    Namun situasi yang sebenarnya adalah, ideologi dan unsur dari paham komunis fundamentalis yang sudah berganti wajah, masih merusak seluruh dunia. Di sini ada negara-negara yang secara terbuka mengakui paham sosialis, seperti Tiongkok, Korea Utara, Kuba, Vietnam. Juga ada negara-negara yang mengibarkan bendera demokrasi dan republik, sambil mempraktikkan sosialisme, seperti di Afrika dan di Amerika Selatan. Bahkan masih ada negara yang dirusak sangat parah oleh unsur paham komunis namun negara itu sendiri tidak menyadari, seperti negara-negara di Eropa dan di Amerika Utara.

    Tidak peduli itu adalah menyebar luas dengan kekerasan ataupun menyusup secara diam-diam, cara “roh jahat komunis” memusnahkan manusia secara total adalah dengan merusak kebudayaan yang dibangun oleh Sang Pencipta demi menyelamatkan manusia di saat terakhir. Umat manusia bila telah kehilangan kebudayaan semacam ini, maka berarti telah kehilangan kriteria sebagai manusia, di mata Tuhan, ini tidak lebih hanyalah hewan yang berwujud manusia, bukan saja dalam hal moralitas telah kehilangan kekangan serta jatuh terdegradasi dengan cepat, tetapi juga tidak akan dapat memahami rahasia langit yang diungkap oleh Sang Pencipta saat turun ke dunia untuk menyelamatkan manusia, juga berarti telah kehilangan kesempatan untuk diselamatkan saat bencana besar tiba. Ini adalah bencana kalpa paling besar bagi kehidupan —- yaitu dimusnahkan selamanya, yang juga merupakan tujuan terakhir dari “roh jahat komunis”

    Sejalan dengan kasih tiada banding dari Tuhan dalam menciptakan kehidupan, sejalan pula dengan kepedulian yang mendalam terhadap umat manusia, buku “Tujuan Terakhir dari Paham Komunis” ini, secara sistematis menganalisa dan mengungkap kepada manusia di dunia, konspirasi busuk “roh jahat komunis” dalam merusak kebudayaan dan menghancurkan moralitas, demi memusnahkan seluruh umat manusia.

    Dalam etnis bangsa yang berbeda, juga beredar legenda tentang Tuhan di saat terakhir akan datang menyelamatkan manusia. Umat manusia sudah tiba di masa pergantian arah dari sejarah alam semesta, sebaliknya ajaran sesat komunis justru merupakan halangan terbesar bagi umat manusia di masa ini untuk memperoleh penyelamatan.

    Oleh karenanya, kami secara mendesak percaya bahwa, harus secara total mengungkap tujuan dan muslihat terakhir dari kejahatan, agar umat manusia dapat menggunakan hati nurani dan secara hakiki memutuskan untuk meninggalkan ajaran sesat komunis, secara damai mencerai-beraikan organisasi komunis, sekaligus secara sistematis membersihkan unsur kejahatan paham komunis untuk menyambut — Era Baru dari Umat Manusia.

    Dengan hormat mempersembahkan buku ini kepada seluruh manusia yang tulus mengharapkan peradaban Tionghoa menjadi bangsa yang berhati bajik, makmur sejahtera!

    Dengan hormat mempersembahkan buku ini kepada seluruh manusia yang peduli dengan nasib umat manusia!

    Editorial “Sembilan Komentar” – 18 November 2017

    “TUJUAN TERAKHIR DARI PAHAM KOMUNIS”
    Catatan: Dimuat secara berseri, bila sudah ada link pada judul seri dibawah ini, berarti sudah dapat ditonton film pendeknya :

    1. Apa Tujuan Komunis
    2. Negara Pusat Kebudayaan Warisan Dewa
    3 Rahasia Karl Marx yang Tidak Diketahui Orang-orang
    4. Peta Langkah Roh Jahat dalam Memusnahkan Umat Manusia
    5. Partai Komunis Tiongkok: Tetap Jahat Walau Berubah Ribuan Kali 
    6. Memberi Rasa Manis Dulu, Kemudian Dibuat Menelan Kepahitan
    7. Terungkapnya Fakta “Buruh dan Petani Tetap Saja Menderita”
    8. Menghancurkan Seluruh Umat Manusia
    9. Roh Jahat Komunis Membunuh Sepanjang Jalan
    10. Soviet Rusia sebagai Bahan Uji Coba
    11. Membantai Habis Kaum Elit
    12. Merusak Alam
    13. Memusnahkan Kebudayaan
    14. Kejahatan Paling Biadab
    15. Tanpa Letih Mengubah Jurus untuk Menghancurkan Manusia
    16. Memimpin Gerakan Anti Tuhan dan Mencaci Leluhur
    17. Sekuat Tenaga Cuci Otak, Memutar-balik Baik dan Jahat
    18. “Restorasi Tradisional”: Cuci Otak Secara Fleksibel
    19. Menutup Rapat Jalan Surga, Membuka Lebar Pintu Neraka
    20. Roh Jahat Merebut Takhta Tuhan
    21. Sistem Aksara Mandarin yang Cacat
    22. Perusakan Partai Komunis Tiongkok Terhadap Kebudayaan Kultivasi 
    23. Kebudayaan Runtuh Tenggelam
    24. Teladan Manusia vs Penyembah Kejahatan
    25. Kesenian Tradisional vs Kesenian Iblis
    26. PKT Menentang Nilai Universal: “Sejati – Baik – Sabar” 
    27. Menggunakan “Kebencian” untuk Mendirikan Negara
    28. PKT Mengubah Manusia Menjadi Bukan Manusia
    29. Meracuni dengan Bahasa dan Perilaku Partai
    30. Negara Komunis Pasti Menjadi Dunia Serigala
    31. Pemandangan Akhir Zaman
    32. Babak Akhir Pertunjukkan 5000 Tahun

    Tonton di Youtube, silahkan klik di sini.

  • 5 Hal yang Dapat Dilakukan Orang Tua untuk Menghadapi Coronavirus

    5 Hal yang Dapat Dilakukan Orang Tua untuk Menghadapi Coronavirus

    Novel Coronavirus atau 2019-nCoV (dan penyakit yang disebabkannya, yakni COVID-19) telah membuat seluruh dunia gelisah. Namun, mungkin tidak ada orang yang lebih prihatin daripada para orang tua. Tampaknya mustahil melindungi anak-anak dari segala jenis penyakit mengingat kuman dan bakteri tidak dapat diprediksi berada dimana. Dengan fakta bahwa coronavirus telah masuk ke Indonesia ? dan selasa 10/03/20 dikonfirmasi ada 27 kasus positif Covid-19 ? tidak membantu menurunkan kecemasan orang tua. Namun beberapa hal di bawah ini mungkin dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan.

    Edukasi Diri

    Pertama-tama yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah “tetap waspada, namun jangan panik.” Dengan segala kemudahan informasi yang dibagikan melalui media sosial saat ini, terkadang ditemukan informasi keliru yang justru dapat menimbulkan ketakutan, stigma, dan cara-cara yang salah untuk melindungi diri.

    Jika Anda mendapatkan konten atau informasi yang membuat Anda bertambah resah, silakan kunjungi situs-situs resmi untuk melakukan verifikasi, terutama jika Anda ingin membagikan pada orang lain.

    Beberapa situs resmi yang dapat Anda kunjungi antara lain :

    Halo Kemenkes : 1500567

    Hotline Emergency Operation Center (EOC): 119

    Twitter : @KemenkesRI

    Facebook : @KementerianKesehatanRI

    Instagram: @kemenkes_ri

    Website : https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019,  www.infeksiemerging.kemkes.go.id, www.sehatnegeriku.kemkes.go.id

    Saat orang tua telah teredukasi dengan baik, setidaknya kecemasan akan berkurang. Kecemasan yang berlebihan, justru akan berdampak pada anak. Umumnya anak akan merasakan keresahan orang tua meskipun tidak disampaikan secara verbal.

    Selain itu, orang tua juga perlu mengetahui protokol penyakit menular di sekolah anak. Jika sekolah belum melakukan tindakan preventif apapun, mungkin orang tua dapat memberikan usulan pada pihak sekolah. Terutama jika di sekolah tersebut banyak siswa yang sering melakukan perjalanan keluar negeri. Protokol seperti wajib lapor bagi siswa yang pulang dari atau akan melakukan perjalanan keluar negeri, perlu dilakukan. Atau jika diketahui ada siswa yang baru pulang dari negara-negara terinfeksi corona virus, sebaiknya tetap di rumah setidaknya 14 hari, untuk mencegah penyebaran yang lebih luas.

    Bicara pada Anak

    Anak Anda mungkin telah mendengar coronavirus dari teman-temannya, namun tidak ada salahnya Anda tetap perlu memberikan edukasi yang benar (sesuai dengan usia anak). Bicarakan pada anak tindakan preventif seperti yang dilansir dalam laman cdc.gov, agar anak lebih informatif terhadap coronavirus. Beberapa tindakan preventif, antara lain:

    • Hindari kontak dengan orang yang sakit
    • Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut
    • Tetap di rumah saat sakit
    • Saat batuk atau bersin, tutup mulut atau hidung dengan tisu, lalu buang tisu ke tempat sampah. Jika tidak ada tisu, tutup hidung atau mulut dengan lengan bagian dalam.
    • Bersihkan benda dan permukaan yang sering disentuh menggunakan semprotan pembersih rumah biasa.
    • Gunakan facemask jika sakit, untuk mencegah penyebaran virus pada orang lain
    • Sering-seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air, terutama setelah dari kamar mandi; sebelum makan; dan setelah batuk atau bersin.
    • Jika sabun dan air tidak tersedia, gunakan pembersih tangan berbasis alkohol setidaknya 60%. Selalu cuci tangan dengan sabun dan air jika tangan tampak kotor.

    Namun demikian cairan antiseptik sebenarnya bukan pengganti sabun dan air. Jika memungkinkan, pilihan utama tetap pada sabun dan air. Salah satu proyek sains sederhana, yakni membandingkan seberapa banyak jamur yang berkembang pada roti tawar setelah terpapar tangan, dilakukan oleh seorang guru sains, Jaralee Annice Metcalf dan guru pendidikan khusus, Dayna Robertson, di kelas mereka. Setelah 2-3 minggu kemudian, hasilnya roti yang disentuh tangan dengan hand sanitizer masih terpapar oleh jamur, sedangkan roti yang terpapar tangan yang dicuci dengan sabun dan air tetap bersih dari jamur. (Selengkapnya, Anda dapat mengunjungi facebooknya

    https://www.facebook.com/jaraleer/posts/10212869900302799). Pada Parents.com Metcalf menyampaikan, “Jika roti terpapar udara dan kelembaban, proses berjamur mungkin akan lebih cepat,”

    Mencuci tangan

    Mengapa pembahasan ini dimasukkan dalam satu sub tersendiri? Karena mencuci tangan adalah salah satu tindakan preventif termudah yang harus dipraktikkan dengan benar. Seperti dikutip dari laman Parents.com, Miryam Wahrman, Ph.D., seorang profesor biologi dan direktur laboratorium penelitian mikrobiologi di Universitas William Paterson dan penulis The Hand Book: Surviving in a Germ-Filled World menyampaikan, “Coronavirus adalah penyakit pernapasan seperti pilek atau flu. Jika tetesan itu masuk ke hidung atau mulut anak, ia dapat tertular. Pastikan mereka membersihkan sebelum makan dan sebelum menyentuh mata, hidung, dan mulut mereka.”

    Anda dapat mencari informasi dari situs yang terpercaya bagaimana cara mencuci tangan dengan benar, berapa lama mencuci tangan, atau bagaimana teknik menggosokkan sabun pada telapak tangan.

    Mengapa harus menggunakan sabun dan air mengalir? Menurut laman promkes.kemkes.go.id, kulit tangan manusia bersifat lembab, karena secara alami mengandung lemak. Sedangkan hampir semua aktivitas kita, dilakukan dengan kedua tangan, sehingga cenderung terpapar oleh kuman dan bakteri. Menggosok tangan dengan sabun dan menggunakan air mengalir, akan membersihkan dan membunuh kuman yang menempel di tangan. Mempertimbangkan kiat-kiat dari para ahli ini penting untuk menjaga kesehatan keluarga Anda. Unicef juga mengingatkan bahwa membilas jari-jari dengan air saja tidak cukup ?kedua tangan harus digosok dengan sabun setidaknya 20 detik dan dibilas dengan air mengalir. Ini membantu menghentikan kuman dan kotoran agar tidak masuk ke makanan atau ke dalam mulut

    Sebenarnya, praktik mencuci tangan ini telah diajarkan sedari kita kecil dulu. Karena pada jaman dahulu masih banyak tanah lapang yang digunakan untuk bermain dan belum ada ponsel pintar, sehingga banyak anak yang terpapar dengan tanah, hewan atau serangga, dan benda kotor lainnya saat bermain. Pada saat itu cuci tangan dimaksudkan untuk menghindarkan anak dari diare atau kecacingan. Ternyata dilansir dari promkes.kemkes.go.id, mencuci tangan dengan sabun dan air dapat mencegah diare, infeksi saluran pernafasan atas hingga 50%, menurunkan 50% insiden Avian Influenza, hepatitis A, kecacingan, penyakit kulit dan mata.

    Hindari Bepergian

    Sebaiknya menunda atau membatalkan bepergian bersama keluarga ke manca negara. Beberapa negara telah mengeluarkan travel warning bagi warganya. Di Indonesia sendiri, larangan penerbangan dari dan ke China mulai diberlakukan pada 5 Februari 2020.

    “Anda harus mempertimbangkan apakah manfaat yang didapatkan lebih besar daripada risikonya”, kata Dr. Wahrman, “karena wabah dapat terjadi kapan saja”. Namun jika Anda tetap akan melakukan perjalanan, terutama dengan pesawat terbang, sebisa mungkin menghindari orang-orang yang terlihat sakit, sering-seringlah mencuci tangan, dan desinfektan barang-barang yang banyak disentuh orang seperti meja di pesawat, pungkas Dr. Wahrman.

    Selain bepergian keluar negeri, akan lebih baik jika Anda mulai mengurangi jalan-jalan di tempat keramaian yang terkungkung AC, seperti di mal misalnya. Profesor Wang Linfa, direktur untuk program dalam penyakit menular NUS, dalam laman straitstimes.com menyebutkan dalam studi pendahuluan, 2019-nCoV memiliki sifat yang kurang lebih sama dengan virus lain, dia tampaknya lebih menyukai iklim yang sejuk dan kering. Oleh karena itu dia menyarankan agar orang-orang lebih baik memilih ruangan non-AC atau ruang terbuka. Pada dasarnya permukaan virus terbuat dari protein, yang rentan oleh panas atau sinar ultra-violet matahari. Mengajak keluarga Anda kembali ke alam mungkin lebih tepat dilakukan untuk saat ini. Pilih waktu di pagi atau sore hari, agar tidak terlalu panas. Sedikit terpapar matahari, menambah vitamin D yang juga diperlukan untuk kekebalan tubuh

    Tingkatkan Imunitas Tubuh

    Bagaimanapun juga 2019-nCoV adalah virus. Cara terbaik untuk menangkalnya dengan meningkatkan kekebalan tubuh. Karena sistem ketahanan tubuh ini merupakan mekanisme yang efektif untuk menjaga tubuh dari serangan penyakit.

    Menerapkan pola hidup sehat sangat penting dalam mengoptimalkan ketahanan tubuh. Ajarkan dan berilah contoh pada anak Anda bagaimana menerapkan pola hidup sehat. Mulailah mengenalkan anak konsumsi sayur dan buah sedari kecil agar tercapai nutrisi seimbang, rutin melakukan olahraga setidaknya 30 menit sehari, istirahat yang cukup sesuai usia, mengelola stres dengan baik, menghindari rokok dan alkohol, minum air putih 8 gelas sehari, dan makan makanan yang dimasak sempurna. (ntdindonesia/averiani)

    Lebih banyak artikel Kesehatan, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • Seberapa Berbahayakah Virus Corona COVID-19?

    Seberapa Berbahayakah Virus Corona COVID-19?

    Seiring virus korona terus menyebar di seluruh dunia, penting bagi kita untuk memiliki pemahaman dasar tentang virus sehingga dapat melindungi diri kita dari virus dengan lebih baik.

    Bagaimana Penyebarannya?

    Virus Corona COVID-19 dapat menyebar di hampir semua rute penularan virus yang diketahui, termasuk:

    1) Kontak fisik langsung antara orang atau kontak dengan permukaan atau benda yang terinfeksi. Dilaporkan bahwa virus dapat ada di permukaan objek mulai dari beberapa jam hingga beberapa hari.

    2) Rute feses-mulut, yang biasanya terjadi ketika orang yang terinfeksi tidak mencuci tangan dengan benar setelah menggunakan kamar mandi. Hepatitis dan TBC biasanya ditularkan dengan cara ini.

    3) Seseorang juga dapat terinfeksi jika menghirup tetesan yang dihasilkan ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin. Flu musiman biasanya ditularkan melalui tetesan pernapasan.

    4) Infeksi aerosol, yang terjadi ketika orang terinfeksi dengan menghirup partikel kecil yang mengandung virus yang mengambang di udara.

    5) Telah dipastikan bahwa virus dapat menyebar melalui darah, seperti penularan vertikal intrauterin dari ibu ke bayi.

    Masa inkubasi

    Dibandingkan dengan 2-7 hari inkubasi SARS, periode inkubasi COVID-19 biasanya sekitar 10-14 hari. Masa inkubasi yang lebih lama hingga 24 hari juga telah dilaporkan.

    Infeksi Tanpa Gejala

    Aspek berbahaya lain dari COVID-19 adalah bahwa pasien dalam masa inkubasi mungkin tanpa gejala dan pemeriksaan suhu tidak dapat mendeteksi infeksi. Jika jumlah virus sedikit, mereka mungkin juga memiliki hasil tes asam nukleat negatif.

    Pasien tanpa gejala, dibiarkan tidak dikarantina, pada gilirannya dapat menginfeksi orang lain.

    Kegagalan Multi Organ

    Sementara SARS biasanya menyerang paru-paru dan sistem pernapasan pasien, COVID-19 juga menimbulkan respons berlebih dari sistem kekebalan tubuh yang dikenal sebagai “badai sitokin,” yang memengaruhi jantung, ginjal, dan organ-organ lain. Ini mungkin menjelaskan mengapa beberapa pasien tiba-tiba jatuh sakit dan meninggal, karena “badai sitokin” dapat menyebabkan gagal jantung akut.

    Sejauh ini, virus novel korona diketahui sangat menular dan para ilmuwan masih berlomba untuk mengembangkan vaksin dan obat terapeutik yang efektif. Meskipun dengan bantuan medis, tetap masih tergantung pada apakah sistem kekebalan tubuh pasien cukup kuat untuk melawan virus.

    Pengobatan tradisional Tiongkok percaya bahwa penyakit adalah akibat dari kurangnya keseimbangan dalam tubuh dan invasi energi negatif. Karena itu, penting untuk menjaga pikiran positif dan tenang dan tidak membiarkan kecemasan atau kepanikan menguras energi seseorang.

    Banyak praktisi Falun Dafa telah berbagi pengalaman mereka tentang bagaimana melakukan latihan dan meditasi ini dapat meningkatkan energi mereka dan membantu mereka tetap bugar.

    Sementara mekanisme bagaimana meditasi dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh seseorang belum dipelajari oleh para ilmuwan, anda mungkin ingin mencoba Falun Dafa. (id.minghui.org)

    Lebih banyak berita tentang wabah pneumonia akibat infeksi Covid-19 dari Wuhan, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Lebih banyak artikel Kesehatan silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI